
Flashback
Author
"Assalamualaikum," ucap Khafa saat selangkah kakinya memasuki ruang Flamboyan II.
"Waalaikumussalam," jawab Syarifah.
"Khafa ya?" Terka wanita paruh baya itu. Alisnya sedikit bertaut. Ternyata ingatannya masih bagus.
Ya, jelas saja Syarifah masih mengenali Khafa. Penampilannya memang tidak banyak berubah. Ia senang menggunakan kaos berwarna gelap dengan Hoodie berwarna abu. Persis Hoodie yang ia berikan pada Embun. Hanya saja, tubuhnya memang sudah lebih tinggi dan besar dari sebelumnya.
Khafa tersenyum tipis lalu mengangguk, dalam hatinya ia memanjatkan doa memohon kesembuhan untuk Syarifah.
"Tadi kita kesini sama Khafa wak," tutur Irgi.
Setelah mendapat pertolongan dari dokter kondisi Syarifah sudah lebih baik. Wajahnya terlihat lebih segar. Tensi darahnya sudah berlangsur turun, meski masih dalam kategori tinggi.
"Masya Allah. Makasih ya, kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah baik Bu," jawab Khafa. "Ibu gimana sudah lebih baik?" Khafa yang tadinya berdiri, kini sudah duduk di kursi stanless samping ranjang pasien.
"Berkat kalian, alhamdulillah," tatapan Syarifah pindah kepada Irgi, "Gi, udah kabarin Embun?"
"Belum wak, Irgi nunggu izin dari uwak."
"Syukurlah, sekarang telpon Embun boleh Gi, tapi jangan bilang dulu uwak ada di rumah sakit. Takut dia khawatir berlebihan. Maklum jauh, takut dia kenapa-kenapa dijalan." Tatapan Syarifah berubah sendu, seolah ia tengah merasakan kesulitan yang sedang dialami putrinya.
Irgi mengangguk lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana.
"Gi, jangan kasih tau saya ada disini juga ya," pinta Khafa.
"Siap! Tadi kan antum udah bilang."
"Iya, takutnya antum lupa,"
Irgi lekas menelpon Embun, kemudian Embun sempat bicara sebentar dengan Syarifah untuk meyakinkan kalau kondisinya baik-baik saja.
Melihat Syarifah dan Irgi bicara dengan Embun tiba-tiba hati Khafa kembali di dera rasa rindu. Ingin sekali ia mendengar suara gadis itu menyapanya. Namun, mustahil untuk saat ini.
Khafa membuka tutup botol air mineral yang sedari tadi ia genggam. Lalu meneguk sedikit air di dalamnya untuk membasahi tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering.
🌸🌸🌸
Malam sudah semakin larut, Syarifah terbangun karena ia merasa haus. Ia lihat, Irgi sudah tertidur di ranjang pasien yang kosong sebelah ranjang Syarifah. Begitu juga Dadang, ia tertidur di karpet busa tepat di bawah ranjang Irgi.
Sebenarnya ada satu sofa panjang yang kosong. Tapi, sengaja tidak mereka tempati karena menyediakannya untuk Khafa.
Perlahan ia berusaha menggapai gelas di nakas dengan tangan kanannya. Tapi, kepalanya masih terasa berat.
Krek pintu terbuka.
Khafa muncul dibalik pintu. Ia tidak kembali setelah melaksanakan sholat isya. Lelaki itu, tidak sengaja tertidur beberapa menit di masjid seberang rumah sakit. Lalu ia berbincang dengan pengurus masjid. Dan kembali setelah ia melaksanakan sholat Sunnah tahajud.
"Bu," Khafa segera menghampiri Syarifah. "Ibu mau minum?" Tanyanya.
"Iya," jawab ibu lemah.
Khafa bergerak cepat mengambilkan minum dan membantu Syarifah untuk bisa minum dengan benar.
"Alhamdulillah, terima kasih nak," ucap Syarifah.
Khafa menyunggingkan senyuman tipis. "Istirahat lagi ya Bu. Ini sudah larut," titahnya.
Syarifah hanya mengangguk kecil. Ia tersenyum mendapat perlakuan Khafa yang begitu menantuable. Setelah ia kembali berbaring, Syarifah lantas memejamkan mata.
Khafa lekas merebahkan tubuhnya pada sofa kosong di depan ranjang pasien, tak lama kemudian ia tertidur dengan pulas.
Syarifah membuka perlahan matanya. Ia melirik jam dinding sesaat, ternyata baru satu jam berlalu. Kini matanya lebih terasa segar. Ia menatap satu persatu orang yang menjaganya. Lalu memaku tatapannya pada lelaki yang sangat mencintai putrinya.
Ketika Khafa di masjid, Irgi menceritakan apa yang ia tahu tentang Khafa. Terutama, soal kesalahpahaman Embun. Khafa belum menikah. Ia masih menggapai mimpi-mimpinya. Mendengar penuturan Irgi, rasa kagum Syarifah terhadap Khafa muncul kembali.
Syarifah masih menatap lamat-lamat Khafa yang sedang terlelap. Lalu ia teringat kejadian yang pernah terjadi dahulu.
"Assalamualaikum Bu ada Embun?"
"Waalaikumussalam. Khafa? Tumben sendiri? Embunnya belum pulang. Masuk dulu atuh, bentar lagi juga pulang."
Khafa melirik sejenak jam tangan G-shock di pergelangan tangannya. "Yaudah deh," jawabnya.
"Sudah Bu."
"Sama apa?"
"Sama potongan triplek. hehehe," candanya.
Syarifah tahu persis menu makanan di pondok. Karena juru masaknya masih tetangga satu kampung. Menu potongan triplek adalah tempe yang di iris tipis kemudian di goreng dengan sedikit lumuran tepung terigu.
"Ibu belikan bakso ya," tawar Syarifah.
"Jangan Bu!"
"Gak apa-apa. Rezeki jangan ditolak."
"Jangan ragu maksudnya aku Bu..hehehehe.."
"Dasarrr!" Syarifah melangkah menuju dapur untuk mengambil mangkuk.
Lima belas menit kemudian Syarifah kembali dengan satu mangkok bakso di tangannya dan satu mangkok bakso di tangan putrinya.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Sepulang sekolah perut Embun sudah sangat lapar, karena sudah jauh melewati jam makan siang. Ia sudah tak sabar menyantap bakso yang ada di tangannya.
"Lho? Ada kamu?" Mata Embun membulat melihat Khafa duduk di kursi tamu rumahnya.
Khafa menyeringai lebar. "Mau kasihin ini." Ia menunjukan buku putih.
"Kak, kasihin baksonya ke Khafa. Kamu pesen lagi gih! Mumpung abangnya belum pergi tuh."
Mendengar perintah Syarifah, harapan embun untuk makan bakso secepatnya tiba tiba patah.
"Jadi ini bukan buat aku?!"
"Bukan, itu punya Khafa, ini punya adik. Kakak kan tadi belum pulang, yaudah gih sana pesen lagi. Nanti abangnya keburu pergi." Syarifah mengulang perintahnya.
Kemudian ibu pergi menghampiri Eliana di ruang televisi untuk segera menyuapinya.
"Iihhh! Yaudah nih! Awas ya kamu makan duluan!" Ancam Embun pada Khafa. Kemudian ia menaruh ranselnya sembarangan.
Sambil menunggu Embun, Syarifah ke dapur menyiapkan sambel, saus cabai dan kecap secara terpisah. Ia tahu persis selera anak gadisnya. Lalu ia kembali menemani Eliana makan.
"Yeay! Mari makannnn!" Seru Embun sambil mengaduk bakso dengan sendok di tangan kanannya. Lalu mulai menyeruput kuah bening di sendoknya.
"Baca doa dulu!" omel Khafa.
"Eh iya lupa." Dengan cepat bibirnya berkomat-kamit membaca doa.
Khafa menggelengkan kepalanya. Setelah itu tangannya bergerak mengambil botol kecap yang telah di sediakan Syarifah.
"Aku dulu!" Ucap Embun seraya merebut botol kecap dari genggaman Khafa.
Namun Khafa berhasil menahannya. "Enak aja, aku dulu," sergahnya.
Embun memutar bola matanya. Kemudian beralih mengambil sambal cabai dan menumpahkan ke mangkuk baksonya.
"Jangan di abisin sambelnya, aku mau juga!" Larang Khafa sambil mengerutkan dahi. Padahal itu hanya cara ia memperingatkan agar Embun tidak makan bakso terlalu pedas.
"Iya ih, sini kecapnya."
Selera Embun dan Khafa nyaris sama, mangkuk bakso yang siap mereka santap sudah mirip kuah semur yang pedas.
Senyum Syarifah mengembang menyaksikan adegan mereka. Sudah lama ia mendambakan anak laki-laki dalam rumah tangganya, namun rezekinya hanya Embun dan Eliana.
Ketika melihat Khafa dekat dengan Embun, timbul harapan Syarifah jika kelak Khafa bisa menjadi anaknya juga, lebih tepatnya... menantu.
Senyuman hampa terulas di bibir kering Syarifah. Menatap kosong wajah Khafa yang masih terlelap. Lelaki yang tengah memperjuangkan putrinya, namun sayang sang putri justru sedang memperjuangkan laki-laki lain.
Hei Khafa! kalau ini semua adalah usahamu mengambil hati calon mertua, sepertinya kamu sukses.
🌸🌸🌸
Kasih vote buat Khafa ya readerss...
cast Andra menyusul.
Jangan lupa untuk like, rate and favorit kan novel ini yaa. ♥️