
Sebelum membaca, β₯οΈ dulu cerita ini...
Selanjutnya beri like, vote and koment terbaik kalian yaaa...
Itu berarti banget loh buat author. Iya kaaaannnnn???
Terima kasih π Happy reading!
πΈπΈπΈ
Aku berlari kecil di lorong rumah sakit. Mencari dimana letak ruang Flamboyan berada. Ruang dimana ibuku mendapatkan perawatan.
Saat aku masih di Bandung Irgi tidak buru-buru memberiku kabar bahwa ibu di larikan ke rumah sakit. Aku tahu, ia pasti takut aku panik.
"Embun!" Suara Irgi memanggilku. Di samping pintu yang bertuliskan Flamboyan II Irgi berdiri melambaikan tangannya padaku.
Aku mempercepat langkah untuk menghampiri Irgi.
"Ibuuu..," panggilku lirih ketika melihat ibuku tertidur di ranjang rumah sakit. Air mata yang aku tahan sejak dalam perjalanan kini mengalir deras di pipiku. Rasanya tidak ada rasa sedih yang menandingi sedih yang ku rasakan ketika melihat ibu seperti ini.
"Jangan di ganggu dulu. Baru aja tidur Embun," ujar Irgi.
Krek.
Suara pintu di buka.
"Eh Embun udah datang," sapanya.
Aku segera menyeka air mataku.
"Dadang? Koq kamu bisa ada disini?" Tanyaku.
"Semalam, Dadang yang bawa ibu kesini." Irgi menjawab kebingungan ku.
"Kok bisa?" Aku bertanya lagi, tak puas dengan jawaban Irgi.
"Iya semalem tuh anak-anak lagi pada kerja. Terus nyokap jatoh ga sadarin diri. Gue bingung mau minta tolong siapa? Pas gue keluar ada Dadang di depan. Dia pake mobil temennya terus bawa nyokap ke rumah sakit," jelas Irgi.
"Ohh.. makasih ya Dang. Maaf udah ngerepotin."
Dadang mengangguk. "Gak apa-apa Embun. Gak repot kok."
"Eh iya, sampein juga terima kasih buat temennya yah udah minjemin mobil,"
"Iya Embun, nanti saya sampein. Berhubung udah ada Embun, saya pulang ya Gi," pamit Dadang.
"Iya, sekali lagi makasih ya Dang," tukas ku.
Dadang mengangguk lalu pergi keluar ruangan Flamboyan. Diikuti oleh Irgi di belakang nya.
"Dadang!"
Mendengar aku memanggilnya, Dadang otomatis menghentikan langkahnya. Di ambang pintu ia menoleh.
"Boleh liat itu?" Aku menunjuk pada tangan Dadang yang menggenggam gantungan kunci. Aku seperti mengenalinya.
"Ah, apa atuh Embun, ini mah cuma kunci mobil orang," ujarnya. Ia lantas memasukkan kunci itu dengan cepat ke dalam saku celananya.
Sepertinya aku tidak boleh lihat. Baiklah aku tidak akan memaksa.
"Mmm, yaudah,"
Satu jam kemudian Irgi kembali ke ruangan rawat inap. Tangannya menenteng banyak makanan dan beberapa baju ganti untukku. Kemudian ia letakkan di nakas samping ranjang.
"Gue balik dulu ya, Lo makan dulu aja. Banyak kerjaan yang mesti gue beresin."
"Iya Gi, Lo balik aja. Biar gue disini sendiri jaga nyokap."
Kini tinggallah aku berdua dengan ibu di ruang rawat inap kelas 2. Ada dua ranjang pasien didalamnya. Namun pasien di ruangan ini hanya ibu.
"Embun," bisik ibu lemah. Ia mengerjapkan mata lalu melihat kepadaku.
"Alhamdulillah," gumamku. Lega melihat ibu sudah bangun. Aku segera mendekatkan wajah kepadanya. "ibu maafin aku ya,"
Ibu sedikit meringis merasakan sakitnya tapi kemudian tersenyum kepadaku. "Iya gak apa-apa. Kapan kakak sampai sini?"
"Baru aja."
"Gimana Andra? sudah selesai urusannya?"
Aku mengangguk. Tapi kini ada masalah baru, keluhku dalam hati.
Sebelumnya aku hanya menceritakan bahwa tujuanku ke Bandung adalah menghadiri sidang putusan terakhir kasus Andra. Belum sempat aku mengabari masalah terbaru ku di Bandung, Irgi telah lebih dulu memberitahuku kabar ibu.
Akhir-akhir ini ibu sudah tidak lagi antusias ketika mendengar kabar Andra, aku tau hati kecilnya kecewa saat aku dan Andra justru malah mengundur rencana pernikahan. Ibu juga kecewa ketika mendengar Andra melamarku seorang diri. Tanpa keluarganya menyertai.
Ibu memang tidak mengungkapkan kekecewaannya secara langsung. Tapi aku tau, beberapa kali ia berkata mengisyaratkan bahwa perbedaan status sosial akan mempengaruhi kehidupan rumah tanggaku kelak.
Aku akui setinggi apapun aku mendongakkan kepala, aku tidak akan pernah bisa mensejajarkan derajat keluarga ku dengan keluarga Andra.
Ibu tidak mau, suatu saat aku hidup menjalani rumah tangga tidak kekurangan satu materi apapun tapi tidak merasakan kebahagian yang sebenarnya.
Toh materi tidak bisa menjamin kebahagiaan seseorang.
Selama ini Andra selalu berjalan sendiri ketika aku berada di sampingnya. Mama dan adiknya memang baik, tapi tidak serta merta membuat keluarganya dekat denganku.
Disaat aku telah yakin bahwa Andra lah pelabuhan terakhir ku, ibu malah menampakan keraguannya padaku.
Tapi bukankah biasanya feeling seorang ibu terhadap anaknya selalu benar?
"Jadi kapan rencana pernikahan di selenggarakan? Sudah diskusikan tanggalnya?"
"Belum Bu,"
Ibu menghela nafas pelan. "Kak, semahal apapun cincin yang melingkar di jarimu bukanlah pertanda kamu sudah pasti miliknya. Itu cuma cara Andra mengikatmu tanpa komitmen yang halal. Ibu Sebenarnya tidak setuju hal itu. Jangan sampai kamu kecewakan almarhum ayahmu."
Aku menunduk dalam.
"Ibu sudah mulai sakit-sakitan. Kamu juga harus segera menikah, kalau ibu sudah nggak ada. Kamu sama siapa?"
Aku menggeleng lantas berkata, "Jangan ngomong kaya gitu Bu." Air mataku menetes. Tidak, aku belum siap kehilangan ibu.
"Meskipun kita menolak, tapi kematian itu pasti terjadi kak. Bukan hanya pada ibu, tapi pada semua mahkluk yang bernyawa."
Terbayang lagi di benakku peristiwa kecelakaan kemarin yang merenggut nyawa Raihan. Betapa mudahnya ketika malaikat maut menjemput. Bahkan terkadang, Sang pemilik kehidupan tak memberi dulu pertandanya.
"Jam berapa sekarang? Kamu sudah sholat Dzuhur?"
Aku menggeleng.
"Sholatlah, tapi bantu ibu untuk sholat lebih dulu."
Aku bergegas membantu ibu menyucikan diri kemudian sholat di ranjang tempat ia berbaring. Setelah selesai, aku pamit padanya untuk membersihkan tubuh sebelum aku melaksanakan sholat.
"Kak," panggil ibu ketika aku baru saja membuka mukena.
"Iya Bu," jawabku.
Kini aku duduk di sisi ranjang sambil memijat perlahan kaki ibu.
"Kamu nggak kangen Khafa?"