Always Remember

Always Remember
Kisah yang tertinggal



(author)


I'll fight, babe I'll fight


To win back your love again


I will be there, I will be there


Love, only love


Can break down the wall someday


I will be there, I will be there


If we'd go again


All the way from the start


I would try to change


The things that killed our love


Your pride has built a wall, so strong


That I can't get through


Is there really no chance


To start once again


I'm still loving you


Lagu Scorpion-i still loving you mengalun di Indra pendengaran Andra. Lagu yang seolah mewakili Perasaannya saat itu. Sudah beberapa kali ia mencoba memejamkan matanya untuk tidur, namun bayangan kejadian sore tadi kembali berputar di memory otaknya.


Saat Andra terpaksa menaiki kereta ekonomi jurusan Jakarta-Kota. Ia melihat sosok gadis bernama Embun berdiri di peron stasiun. Namun ia hanya berteriak memanggilnya, tak sempat menemuinya karena kereta yang ia tumpangi telah terlanjur membawa ia pergi.


Apakah Embun kerja? Atau kuliah? Embun setiap hari naik kereta?


Pertanyaan pertanyaan itu terus terulang dalan benak Andra.


Ahh seandainya keretaku gak buru-buru jalan. Runtuknya dalam hati.


"Aaarrrggghh..!"


Andra mengacak rambutnya frustasi. Kemudian ia mengambil ponselnya dan membuka sebuah aplikasi chat. Ada satu pesan masuk.


Kaylila.


[Aku didepan kamarmu.]


Andra meletakkan ponselnya begitu saja di ranjang, lalu membuka pintu kamarnya.


"Malam,"


Ia sedikit tersentak saat Kayla berhamburan memeluk tangan Andra.


"Malam juga," jawabnya malas. "Sejak kapan kamu di Bogor?"


"Baru aja. Langsung kesini. Kangen," ucap Kayla menggelayut manja pada Andra.


Andra melepaskan pelukan Kayla kemudian berlari kecil menuruni tangga menuju dapur yang ada di lantai satu rumahnya.


Hampir saja Andra tersedak saat minum segelas air putih sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Tubuh Kayla memeluk erat punggung Andra.


Bi Eeng yang kebetulan sedang menginap di rumah majikannya menatap risih adegan itu.


"Lepas."


Kayla bergeming.


"Kay, lepppasss," ucapnya lagi dengan sedikit penekanan. Sebenarnya Andra bisa saja marah. Tapi, bagaimanapun ia tidak mau melukai perasaan Kayla dengan sikap kasarnya.


Kayla melepaskan pelukannya.


"Kamu kenapa sih berubah gini? Aku kangen tau!" Kayla mengerucutkan bibirnya.


Sebenarnya, sebelumnya Andra pernah merasakan ketertarikan pada Kayla. Tapi ia tidak buru-buru mengungkapkan perasaannya. Ia tidak mau menyakiti hati Kayla karena salah mengartikan perasaannya yang mungkin hanya sesaat. Benar saja, beberapa waktu berlalu ia meninggalkan Bandung dan tidak bertemu Kayla lagi. Perasaannya sudah biasa-biasa saja.


Lambat laun ia menyadari bahwa sebenarnya bagi Andra, Kayla adalah adik kecil yang ia lindungi seperti ia melindungi Andrea. Namun sayangnya, bagi Kayla Andra adalah dewa. Dewa pelindung yang membuat hatinya terjatuh untuk pertama kalinya.


Sampai akhirnya rencana perjodohan itu terdengar di telinga Andra. Perjodohan memang bukanlah hal yang baru terjadi dalam hidup Andra. Sebelumnya ia juga pernah di kenalkan pada seorang wanita pilihan neneknya, tapi ia menolak keras perjodohan itu. Sampai pada akhirnya Kayla menjadi pilihan terakhir yang di ajukan sang nenek dan kemudian di dukung penuh oleh Papanya.


Kayla adalah anak tunggal dari Ayah yang bernama Edy Wiguna, seorang pengusaha kerabat dekat Surya Dinata, Papa Andra.


Lagi lagi Andra menolak. Ia tak mau mengorbankan hidupnya demi mempertahankan harta yang diwariskan kakeknya. Meskipun Andra adalah pewaris tunggal dari keturunan ayahnya.


Perjodohan Andra dengan Kayla juga menjadi salah satu alasan ia bertahan di Bogor dan meninggalkan kehidupannya yang serba berkecukupan di Bandung.


Namun ia akan buktikan suatu hari ia bisa mempertahankan sekaligus mengembangkan bisnis keluarganya tanpa mengikuti kemauan-kemauan mereka.


Andra tetap bersikap baik pada Kayla. Meskipun ia memegang teguh prinsipnya menolak perjodohan. Apalagi saat ini di hatinya sudah terukir satu nama.


Bagaimanapun pernikahan adalah Komitmen seumur hidup. Wanita yang telah tertulis di hati seharusnya juga tertulis di buku nikah suatu saat nanti sampai akhir fase hidupnya berhenti.


"Kamu mau?" Tawar Andra saat Kayla memperhatikan lekat-lekat Andra yang sedang duduk di sofa sambil makan mie instan. Menu favorit yang tak pernah Andra lewatkan setiap malam ketika rasa lapar menyerang.


Kayla menggeleng. Ia sudah menggunakan piyama merah hati dengan belahan dada rendah. Namun hal itu tidak berpengaruh apa-apa untuk Andra. Bagaimanapun, Kayla tidak pernah membuat perasaan Andra berdesir.


Setiap kali Kayla di Bogor ia selalu menginap di rumah orang tua Andra. Tidak pernah ada larangan. Justru, ini adalah sebuah usaha keluarga mendekatkan kembali hubungan Andra dan Kayla.


Sayang, usaha mereka tidak akan pernah berhasil.


Di tengah tatapan Kayla pada Andra, sebuah kejadian berputar begitu saja dalam ingatannya.


Brakk!


"Awwww!" Teriak Kaylila.


Andra berhenti menggoes dan meninggalkan sepedanya begitu saja.


"Kamu gak apa-apa?" Tanya Andra sambil membangunkan Kayla yang terjatuh dari sepeda.


Dengan rasa khawatir Andra mencari bagian mana yang mungkin terluka. Benar saja, satu goresan luka terdapat pada lutut Kaylila.


"Sini aku obatin dulu," ujar Andra.


Kayla menarik kakinya dari genggaman Andra.


"Gak sakit kok. Yuk kita balapan sepeda lagi!" Ajak Kayla. Ia kembali menggoes sepedanya dengan semangat. "Ayok kejar akuu!" Teriaknya sambil berlalu meninggalkan Andra. Rambutnya yang hitam dan panjang, menguar di terpa angin.


"Kay, curang kamu! Oke. Jangan nangis ya kalo kalah!" Andra lekas mengejar Kayla.


Mata Kayla memanas. Ia rindu sekali Andra yang dulu. Saat Andra penuh perhatian padanya, saat Andra mengacak rambutnya, dan banyak lagi saat saat Andra memberikan kehangatan dalam hidup Kayla.


Saking lelahnya Kayla akhirnya tertidur pada posisinya. Andra yang tadinya cuek menonton film favoritnya di televisi kini tatapannya pindah ke wanita itu.


Sejak kecil Andra sudah dekat dengan Kayla. Gadis dengan nama lengkap Kaylila Lizie Wiguna itu selalu menemani hari-harinya selama tinggal di Bandung. Kayla gadis yang selalu ceria. Sampai akhirnya keceriannya hilang setelah kedua orang tuanya bercerai saat ia berusia dua belas tahun.


Andra tersenyum kecil, Sebenarnya ia juga rindu Kayla yang dulu. Ceria, polos dan baik hati.


Namun sekarang sikapnya sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Sikapnya yang agresif membuat Andra risih dan selalu ingin jauh jauh darinya.


Andra bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke dapur membawa mangkok kosong di tangannya.


Meski ada bi Eeng, Andra selalu merapikan sendiri bekas makannya.


"Bi, tolong ambilkan selimut di kamar tamu ya. Selimutin Kayla tuh dia ketiduran di sofa," titah Andra pada Bi Eeng.


"Iya a siap," jawab bi Eeng kemudian ia langsung melakukan perintah Andra. Sedangkan Andra, ia kembali pergi ke kamarnya.


Kayla membuka matanya saat selimut mendarat menutupi tubuhnya.


Ya ampun Andra, kamu mau nyelimutin aku sampe nyuruh Bi Eeng? Segitunya kamu sama aku. Batin Kayla.


Ternyata Kayla hanya pura-pura tertidur untuk mendapatkan perhatian Andra.


Tik.


Setetes air mata lolos begitu saja membasahi pipi mulus Kayla.