
Gengaman tangannya adalah bahasa cinta yang tidak mampu di ungkapkannya.
.
.
.
.
.
.
Hari bergulir, pagi menjelang. Terik matahari ibu kota telah mengubah hati yang kecewa bertransformasi menjadi rasa yang lebih egois.
Tak banyak kata yang keluar dari mulutku sejak bangun subuh tadi. Hening, saling berdiam. Aku tidak bicara jika tidak benar-benar penting dan harus bicara. Atau aku hanya menjawab apa yang harus aku jawab. Padahal Khafa, sudah berusaha memohon maaf dariku. Ia menjelaskan bahwa di Rocio ada teman-teman komunitasnya berdatangan. Mungkin, itu satu bentuk care dari mereka karena tidak bisa datang juga di hari pernikahan kami. Atau mungkin itu memang acara rutin mereka berkumpul. Entahlah. Yang pasti, aku tidak bisa mengerti, kenapa ia tidak sama sekali sempat untuk mengabariku bahwa ia akan pulang telat. Apa susahnya?
Sebuah rasa yang lain sempat masuk ke dalam hati. Ingin kembali, pada masa dimana aku sebelum ambil keputusan besar ini. Habis, ini bukan yang pertama kali. Tapi, buru-buru aku tepis. Dan kembali membawa kesadaran sepenuhnya bahwa hidupku sekarang bukanlah milikku sendiri. Baktiku kini ya hanya satu. Untuk suamiku.
"Pahami Khafa pelan-pelan ya nduk, sabar, Khafa sayang, cinta sama kamu nduk. Kamu, adalah jawaban istikharahnya selama ini." Mama memelukku erat sekali. Perasaan seorang ibu memang kuat. Sepertinya, ia tahu apa yang sedang terjadi antara aku dengan putranya.
"Inget ya nduk, selalu ingat pesan mama, siapapun pendamping hidup kita. Kita tidak akan pernah bahagia kalau kita tidak bersyukur," nasihat mama terulang.
Aku mengangguk dalam pelukan mama. Perlahan, keegoisan ku terkikis sedikit demi sedikit mendengar nasihat mama yang sudah seharusnya selalu ku ingat dan mulai ku terapkan.
Kami sudah bersiap untuk bertolak menuju Jogja melalui jalan darat. Ini pasti akan menjadi hal yang paling menjemukan sepanjang jalan saling berdiam.
Khafa bergumam membaca doa agar kami selamat sampai tujuan. Begitupun aku. Aku lekas mengamini juga doa keselamatan yang dibacakan Khafa begitu pelan. Tidak hanya doa keselamatan perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta saja yang ku minta. Tentunya, keselamatan pada perjalanan kami juga menapaki hidup baru sebagai pasangan suami-istri.
Sesaat sebelum memasuki tol, Khafa menepikan mobilnya. Kemudian dia masuki area parkir mini market.
Khafa berdeham, aku menoleh kepadanya sambil menatapnya dengan tanda tanya. Lantas, Khafa memiringkan tubuhnya kepadaku dan membiarkan matanya dengan leluasa membalas tatapanku.
"Masih ngambek nih sama aku?" tanyanya dengan rasa bersalah.
Aku mengakhiri pandanganku pada Khafa dan memilih melihat aktifitas gerobak tukang gorengan di samping mobil Khafa terparkir.
"La taghdob wa lakal Jannah, janganlah kamu marah marah maka bagimu surga. Aish! Meraih surga yuk sama aku yuk!" cerocosnya membacakan sebuah hadits.
Surga, surga... Surga semalem aja kamu tinggalkan!
Aku hanya mendelik sebentar kepadanya kemudian kembali melihat tukang gorengan.
"Kamu mau bala-bala?" tanyanya serius.
Aku mendelik lagi kepadanya. "Apa sih Kha?" gerutuku.
"Abis, serius banget liatin gorengan," rajuknya.
Aku semakin membuang muka darinya. Sebal!
Khafa memberanikan diri menggenggam tanganku, lalu membawanya ke atas paha sebelah kirinya.
"Kalau mau marah, marah aja. Marahin aku sesuka hatimu. Jangan diamin aku gitu." Ia mulai mengiba.
Ibu jari Khafa mulai bergerak ke kanan dan ke kiri di atas punggung tanganku.
"Maafin aku ya," ucapnya. Khafa mengangkat tanganku, lantas membawa punggung tanganku menuju ke arah bibirnya. Lalu, ia mendaratkan sebuah kecupan ringan di atas sana.
Nyess.
Tidak ada alasan untuk aku tidak meleleh.
Tidak menyangka Khafa bisa semanis itu. Tanpa ku sadari, lengkungan senyum tipis bersinar di wajahku dengan di sertai anggukkan kepala pelan. Tanda bahwa aku telah memaafkan perbuatannya semalam.
Aihh, semudah ini aku.
"Ya udah yuk, kita beli cemilan dulu, buat di jalan," ajaknya kemudian.
Setelah selesai membeli beberapa cemilan dan minuman, Khafa kembali melanjutkan perjalanan. Aku membuka satu Snack kentang yang ia pilihkan untukku. Lalu sesekali aku menyuapinya yang sedang berkendara. Hal itu terjadi karena Khafa paling anti memasukkan makanan atau minuman ke mulutnya dengan tangan kiri. Maka, terjadilah sejarah pertama aku menyuapinya dengan tanganku. Hemm, menang banyak dia!
Selesai bercemil ria sambil bernostalgia zaman remaja, Aku mulai di dera rasa bosan. Perjalanan baru setengahnya terlewati. Ini alasanku kenapa selalu lebih memilih naik pesawat kalau bepergian. Menghindari rasa bosan. Lalu, aku terpikir untuk mendengarkan musik.
"Kha, aku boleh denger musik gak? Bosan nih," pintaku. Aku izin karena mengingat peristiwa di Jogja waktu itu headset ku di tarik paksa olehnya karena tidak boleh mendengarkan musik. Cuma nambah kegalauan saja. Padahal sebenarnya, aku tahu itu modus dia karena tidak mau aku cueki.
"Boleh, tapi dari handphone kamu aja ya," jawabnya sambil melirikku sebentar.
Yess!
Aku segera meraih dan mengaduk-ngaduk isi tas mencari dimana handphone dan headset ku tersimpan. Setelah ketemu, aku langsung memasangkannya ke telingaku.
Tanganku sibuk menggeser-geser layar handphone mencari file musik favoritku. Nihil. Semua tidak ada. Masih ada sih, beberapa lagu yang berirama motivasi tersisa. Tapi aku tidak begitu suka. Aku lebih suka lagu-lagu bertema galau meski aku tidak sedang galau. Aku menautkan kedua alisku heran ketika menemukan satu file baru yang berisikan file murotal dan lagu-lagu nasyid islami.
"Mau move on tuh berawal dari situ," celetuknya tiba-tiba.
Aku meliriknya dengan tatapan curiga. "Kerjaan kamu ya?" Aku menuduhnya tanpa pikir lagi.
Khafa tertawa nyengir dengan arti bahwa tuduhanku benar adanya.
"Hapus semua lagu galau yang buat kamu ingat tentang dia, buang semua barang pemberian darinya, hapus semua foto kamu sama dia, tutup akun media---"
"Cukup Kha!" sela ku memotong saran-sarannya.
Khafa membatu seketika.
"Gak betah ya, sehari aja gak bikin kesel aku?" ketusku. Aku segera membawa jempolku mencari file galery dalam handphoneku. Benar saja, satu file khusus foto-foto ku bersama Andra semua hilang tak tersisa. Itu berarti ia juga melihat semua isinya.
Good job!
Aku membuang tatapanku keluar jendela. Menyimpan sembarangan handphone dan headset nya tergeletak begitu saja pada bagian atas dashboard mobil. Aku sudah tidak minat lagi untuk menyentuhnya.
Sedih, kecewa, sebal, kesal, sekaligus syukur hadir satu persatu menempatkan diri pada ruang hati. Sebenarnya, memang sudah ada sih niatan sebelumnya pada diriku sendiri untuk melakukan apa yang Khafa lakukan kepadaku. Tapi entah kenapa, aku masih selalu kalah dengan perasaanku yang masih sayang untuk membuang semuanya.
Masih sayang?
"Neng," panggil Khafa lembut.
Aku tidak menggubrisnya.
"Ndoro putri," cobanya lagi.
Aku masih diam menatap kosong jalanan.
"Ay!" Khafaa menyebut 'ay' dengan penekanan, rupanya dia tidak menyerah juga.
Omong-omong, dia dapat ide dari mana coba memanggilku dengan sebutan 'ay'.
"Ayo dong ay, jangan marah lagi. Gak kasian apa sama aku?" Dia mengiba.
"Ay, ay, apa? Ayam?!" Aku membuka suara sambil meninggikan suara.
"Ayang dong cinta, masa ayam sih," ralatnya.
Ish!
"Ay, kamu sebenarnya tau gak? Kenapa aku bangun rumah dan ajak kamu tinggal di Jogja?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Gak!"
"Berarti kamu juga gak ingat ya, dulu kamu pernah bilang sama aku kalau Jogjakarta adalah kota impianmu?"
Tadinya aku pikir pertanyaan awal Khafa adalah bentuk pengalihan pembicaraan saja. Makanya aku jawab ketus. Tapi ternyata ia serius. Aku memandang serius Khafa yang tengah serius berkendara.
"Jadi, rumah itu adalah salah satu usahamu mewujudkan impianku?" pede-ku.
Aku memandangnya dengan air mata haru yang mulai menggenang di pelupuk mata. Sungguh penantianku tidak ada apa-apanya di banding pengorbanannya selama ini untukku.
"Ihh, siapa bilang. Kepedean kamu!"
Tuk!
Sebuah gumpalan tissue hinggap di pipi kirinya sebagai pelajaran karena telah mengejek dan mematahkan anggapanku barusan.
Ia membiarkan gumpalan tissue itu terjatuh begitu saja.
"Terus apa dong hubungannya antara kota impianku sama rumah yang kamu bangun?!" tanyaku lagi tak sabaran.
"Gak ada. Itu cuma kebetulan aja,"
Huh! Dasar! Udah siap meleleh lagi aja aku.
"Ya udah sana yang bener nyetirnya!"
Khafa tersenyum bahagia karena sukses menjahili ku lagi.
----------------------------------------------------------
catatan :
bala-bala \= bakwan.
Enjoy Embun 'n Khafa ya gaes.