Always Remember

Always Remember
Kebetulan atau di rencanakan?



.


.


.


.


Hari-hariku semakin sepi belakangan ini. Apalagi setelah dua hari yang lalu ibu dibawa oleh Eliana ke rumah barunya di kota ini. Iya, Eliana sudah pindah mendekati kami setelah suaminya bisa pindah tugas kesini. Eliana telah banyak membuang waktunya bersama ibu. Maka, ia minta padaku untuk membawa ibu ke rumahnya untuk mendapatkan perawatan darinya.


Aku tidak bisa mencegahnya. Karena hak Eliana juga merawat ibu di sisa usia senjanya. Eliana bilang, takut tak ada waktu lagi.


Tinggallah aku sendiri di rumah ini, terkadang aku di temani bi Imah yang waktu itu menemani ibu di rumah ketika sakit. Irgi dan Jali masih menjalani usaha sepatu di samping rumahku. Meski mereka sibuk, terkadang sekali dua kali mereka menyapaku di rumah.


"Neng, itu di depan udah pada dateng," kata Bi Imah di depan pintu kamarku yang tidak aku tutup. Aku beranjak mengambil beberapa amplop yang telah ku sediakan di nakas.


Ketika aku tiba di ruang tamu, benar saja. Orang-orang yang sudah ku undang untuk datang telah berkumpul dan memberikan senyum terbaiknya kepadaku. Mereka adalah janda tua dan beberapa anak yatim-piatu. Ini memang bukan pertama kali, aku beberapa kali melakukan ini jika ada rezeki lebih. Namun sekarang beda, aku memperbesar jumlahnya dan memperbanyak penerimanya.


Harapan dan doa ku panjatkan seiring sedekah ku berikan. Lega sekali rasanya. Melihat senyum mereka mengembang dan doa doa tak henti mereka utarakan.


Cara ini, benar-benar ampuh menyembuhkan luka.


Jum'at, tiba juga hari ini. Perasaan ku sudah jauh lebih baik. Sejak habis subuh tadi aku telah berkemas. Tidak banyak yang aku bawa. Hanya satu pasang baju ganti dan baju tidur. Sisanya aku hanya membawa laptop dan berkas yang ku butuhkan.


Beberapa jam kemudian aku sampai di Bandara Adisucipto. Kali ini, pak Wisnu membuat janji untuk menjemput ku di Bandara. Karena agendaku hari ini langsung menuju titik lokasi tujuan. Aku tidak mau membuang waktu menunggu. Jadi biar saja dia yang menunggu, aku tidak mau ada alasan lagi dia kecelakaan seperti waktu itu.


"Assalamualaikum, Mbak Embun?" Sapa seseorang ketika aku tiba lobi Bandara.


"Waalaikumsalam," jawabku sambil mengerutkan dahi.


Ia menangkap tanda tanya di kepalaku. "Saya Wisnu mbak," ucapnya tersenyum seraya menyatukan kedua telapak tangannya di dada.


"Oh, pak Wisnu." Aku tersenyum tipis.


Aku kira, pak Wisnu sosok paruh baya atau bahkan sudah tua. Karena selama ini aku berhubungan dengannya hanya melalui sambungan telepon. Ternyata.. dia kelihatan masih muda. Umurnya kira-kira tiga puluhan lah. Sorot matanya teduh, alisnya tebal kulitnya khas orang Jawa.


"Mbak," ucapnya menyadarkan lamunanku.


"Eh iya pak, maaf."


"Kendaraan saya disana mbak, mari!" Kini pak Wisnu berjalan duluan membawa ku menghampiri mobilnya.


"Maaf ya mbak, tapi saya gak sendiri. Di dalam ada istri saya. Lokasinya agak jauh, mungkin istri saya bisa jadi teman ngobrol mbak selama di perjalanan. Maaf ya mbak. Kita cuma survey lokasi kan ya untuk menentukan harga. Gak apa-apa kan?"


Mau kerja ngapain bawa-bawa istri sih? Mau pamer?


Istighfar Embun, istighfar!


Sejak kapan sih aku jadi nyinyir seperti ini?


"Ngga apa-apa sih," kataku sedikit ragu. Ah tidak enak juga rasanya satu mobil dengan orang yang baru aku kenal.


"Tenang mbak, istri saya baik kok," ujarnya sambil tersenyum.


Pak Wisnu membukakan pintu belakang untukku. Seorang wanita berhijab tersenyum menyapaku. Wajahnya tidak asing.


"Assalamualaikum," ucapnya dari dalam.


Bukannya yang seharusnya mengucapkan salam duluan itu aku ya?


Ah biarlah.


"Waalaikumsalam," jawabku. Lantas aku duduk di sampingnya. Namun dia terus menatapku seperti sedang mengingat-ngingat. Membuatku sedikit merasa canggung.


"Embun ya?" Tebaknya.


Sontak aku menoleh. Wajarlah dia tau namaku. Mungkin suaminya yang bilang. Aku terpaksa senyum lagi.


"Mas, kenapa nggak bilang? Ini Embun?" Tanya perempuan itu pada suaminya yang sudah siap dalam kemudi.


"Iya, mbaknya namanya Embun. Kok tau?" Pak Wisnu menoleh ke arah kami berdua.


"Embun Lo lupa Ama gue?" Tanyanya lagi. Ia sempat menepuk pundak ku. Aku sontak membulatkan mata. "Ini gue Fitri temen SMP Lo, Lo lupa? Ya Allah Embun kangeeeeennn,"


"Fitri?" Aku berpikir sejenak. "Fitrilia Chuba Chuba?" tanyaku sambil menahan tawa. Nama itu, dulu adalah nama ejekan pemberianku untuknya.


"Iya Embun, ini gue! temen sebangku Lo yang doyan jajan kripik singkong merk Chuba. Puas Lo?"


Aku tergelak sejenak. "Ya ampun Fit, ini beneran Lo?"


Wajar saja aku lupa, Fitri sekarang berhijab. Dulu tidak. Dan setahuku dia pindah ke Wonosobo setelah lulus SMP. Jadi entah berapa tahun yang lalu aku tidak bertemu dengannya.


"Iya Embun, ini gue!" Fitri memelukku dengan hangat.


Setelah yakin dengan ingatanku, kami berbincang tanpa henti. Terkadang pak Wisnu ikut menimpali kami bercerita. Walaupun ia lebih banyak diam dan serius berkendara.


"Jadi, Lo ga usah lah manggil laki gue pak lah. Terlalu formal. Panggil aja mas,"


"Eimm, okey," jawabku dengan senyum yang mengembang.


Tapi sekarang yang ada dalam benakku adalah apa hubungan mas Wisnu dengan Khafa?


Tak terasa perjalanan yang harusnya panjang dan lama kini malah terasa begitu singkat. Mas Wisnu membelokkan mobilnya ke sebuah rumah sederhana bergaya semi tradisional Jawa. Halamannya asri. Dan kalau ku tebak ini adalah lokasi dekat pantai Indrayanti.


"Mas, ini bukannya sekitar pantai Indrayanti ya?" Tanyaku ketika baru saja turun dari mobil.


"Betul," jawabnya singkat. "Kamu tau toh?"


"Masa iya pegawai perusahaan cargo gak tahu lokasi. Dikit dikit aku tahu lah, walaupun nggak lebih pinter dari GPS," jelasku sambil berkelakar.


Mas Wisnu tertawa mendengar candaanku.


"Kalau daerah sini sih supir ku tahu semua. Gak perlu ada survei tempat seperti ini," lanjutku pelan. Aku tak berharap mas Wisnu mendengar kata-kataku.


"Yaudah, masuk dulu yuk! Nanti kita ajak kamu ke lokasi sesungguhnya," ajak mas Wisnu padaku. Sementara Fitri sudah lebih dulu masuk ke rumah dan menyiapkan sesuatu untukku.