
"Jadi, gimana ceritanya lo bisa menikah sama mas Wisnu Fit?" Tanyaku pada Fitri di teras rumahnya.
Mas Wisnu pamit entah kemana sejak menjelang waktu Dzuhur tadi. Mentang-mentang aku berteman dengan Fitri mas Wisnu enteng sekali meninggalkanku. Kini rasanya ia bukan lagi seperti seorang klien di depanku. Tapi seperti saudara yang sedang ku kunjungi keberadaannya.
"Wisnu itu, ustadz pembimbing keponakan gue yang yatim piatu di Wonosobo. Dulu dia pernah antar pulang keponakan gue itu waktu sakit. Terus kita ketemu dan dia ngajak ta'aruf, nggak lama setelah itu, dia lamar gue. Terus kita nikah," jelasnya.
"Gitu doang?" Aku bertanya tak percaya.
Fitri tersenyum. "Allah itu selalu punya cara indah mempertemukan jodoh kita Embun," jawabnya. Dia sungguh jauh lebih dewasa sekarang.
Aku menghela sejenak lalu menunduk. Kenapa jodohku terasa begitu rumit? Sudut hatiku kembali nyeri.
"Kenapa?" Telisik Fitri.
"Gak apa-apa,"
"Lo belum ada rencana nikah? Kenalin gue dong calonnya. Gak mungkin lo ga punya calon kan? Secara Embun itu bucin kan dari dulu,"
Aku tersenyum kecut. "Bucin Ama siapa?"
"Anak santri yang dulu itu? Yang suka Lo bikinin puisi? Ciyeee.. Lo masih suka bikin puisi?"
Pertanyaan Fitri membuatku ingat soal puisi-puisi norak yang pernah aku buat untuk Khafa. Dan memberikan efek malu pada diriku sendiri.
"Udah gak pernah, lagian apa cuma dia yang Lo tau?"
"Tau dari mana? Gue tau juga nggak namanya," protesnya sambil mencucu.
"Yaudah lah udah, udah kemana tau juga orangnya. Udah banyak cerita baru dalam hidup gue,"
"Huuu sombong Lo, ngga jadi player kan temen gue ini?"
"Huzz sembarangan! Ya nggak lah!" Sergahku.
"Eh kita makan siang dulu yuk! Gue bikin sambel khas nyokap gue dulu loh, tapi sayang, gak pake Pete disini agak susah nyarinya,"
"Eh lagian gak usah repot-repot fit, nanti gue cari makan di luar aja sekalian gue cari penginapan,"
Fitri yang sedang berjalan menuju dapur langsung menoleh ke arahku.
"Mau ngapain cari penginapan? Nginep disini aja! Gak usah ngerasa ngerepotin gue. Dari dulu juga Lo sering bikin repot gue!"
Fitri menarik tanganku kemudian mempersilahkanku duduk di kursi meja makan. Sementara di meja sudah tersedia berbagai menu makanan yang membuat cacing dalam perutku berdemo minta di beri makan.
"Oh jadi Lo udah ngerasa di repotin dari dulu ya sama gue?" Tanyaku tanpa rasa bersalah.
"Iya, dan Lo seneng kan?"
"Hehee.. iya,"
"Makanya. Yang penting Lo seneng. Udah deh. Lo itu kan kesini sendirian Embun, ga baik juga nginep sendiri. Seharusnya ada mahrom,"
"Gue udah biasa kemanapun sendirian," kilahku.
"Ya mulai saat ini jangan," ucapnya seraya mempersiapkan piring dan sendok untukku.
"Emang Mahrom tuh apasih maksudnya?" Aku melontarkan pertanyaan seperti itu sambil menatap serius pada Fitri.
Jujur, ilmu agamaku memang minim. Tapi aku tidak segan untuk bertanya pada Fitri.
Suami? Semua sudah tau kan kalau aku batal...
Sudahlah! berhenti membahasnya!
"Ya kan gue kerja Fit, bukan piknik. Masa iya bawa keluarga," jawabku perihal Mahrom yang telah di jelaskan Fitri.
"Cukup!" kataku ketika aku melihat terlalu banyak lauk yang ia simpan di piringku. Lalu Fitri beralih mengambilkan sayur. Disini kata tamu adalah raja benar-benar berlaku. Benar kata mas Wisnu Fitri memang baik. Dan itu aku merasakannya sejak dulu.
Kemudian aku mulai menyuap suapan pertama makanan yang telah tersaji di piringku.
"Assalamualaikum." Terdengar salam dari mas Wisnu di teras depan.
"Waalaikumussalam," jawab kami berdua.
"Sini mas makan siang dulu," ajak Fitri pada suaminya itu. "Ehh sama Fatur? Sini nak!" lanjutnya sambil bergegas menghampiri mereka.
Aku menoleh ke arah mereka berdua. Melihat siapa anak laki-laki yang datang bersama mas Wisnu.
"Yaaaah, koq gak ada ayah," keluh anak lelaki yang di panggil Fatur itu sambil mengedarkan pandangannya. Wajah polosnya terlihat sedih namun menggemaskan. Lalu ia melihat sekilas ke arahku.
Ayah? Ayah dari anak ini? Anak ini kan....
"Ayahnya sudah tiga hari mendaki le, mungkin malam ini pulang," jelas mas Wisnu sambil mendudukkan Fatur di kursi makan sebelahku. "Sekarang kita makan dulu ya,"
Fitri bergegas menyendokkan makanan pada piring suaminya. Juga pada Fatur. Sedangkan dia sendiri, belum ada makanan sedikitpun masuk ke dalam mulutnya.
"Memang dia mendaki kemana mas?" Tanya Fitri pada mas Wisnu.
"Merbabu."
"Sejak kapan?" Tanya Fitri lagi.
Satu sendok makanan masuk lagi ke mulutku. Sambil berusaha menutupi rasa penasaran ku pada anak itu. Sedangkan tatapanku, sibuk terus menerus menelisik anak laki-laki yang sudah mulai makan dengan lahapnya. Aku sedang meyakinkan diri bahwa aku pernah bertemu anak ini sebelumnya.
"Ya sejak kemarin dia di todong nikah sama Abah. Bukannya cari calon malah lari ke gunung dia," jawab mas Wisnu.
"Khafa tuh maunya calon kaya gimana sih mas? Belum lama Alya ngasih proposal ta'aruf kan? Kurang apa coba Alya? Cantik, Sholehah, pinter.. Eeh malah di gantungin udah kaya pakaian kotor."
Kunyahan di mulutku tiba tiba menjadi sulit sekali di telan mendengar nama Khafa keluar dari mulut Fitri. Aku lekas mengambil air minum sebelum tersedak.
"Cari cinta sejati dia tuh, dan belum mau menikah sebelum mimpi-mimpi pembangunan rumah tahfidznya tergapai,"
Glek!
Entah kenapa mendengar jawaban mas Wisnu tegukan terakhir terasa sakit di tenggorokanku.
Fitri hanya menggeleng sambil tersenyum. Lantas ia menatapku. "Yuk dimakan yang bener makanannya!"
"Iii.. ya.. Fit," jawabku tergagap sambil menyimpan kembali gelas minumku.
Dengan berbagai pertanyaan yang masih berada di kepalaku perihal anak laki-laki yang kini di sampingku, perihal hubungan Khafa dengan mas Wisnu juga kenapa aku bisa-bisanya berada disini?
Ahh! Semuanya terlihat seperti kebetulan yang telah di rencanakan.
Perlahan aku menghabiskan suap demi suap makanan yang telah Fitri ambilkan hingga tidak ada lagi sisa makanan yang tersisa.