Always Remember

Always Remember
Hujan yang di butuhkan



Pagi ini burung-burung berisik sekali. Mereka semua serempak menyambut pagiku dengan kicauan merdunya. Mendendangkan lagu-lagu cinta bahagia yang tengah ku rasakan. Ah, lebay nya. Tapi memang seperti itu kenyataannya.


Waktu cepat sekali berlalu seminggu terasa sehari. Aku sudah resmi mengundurkan diri dari kantor tempat ku bekerja. Seluruh kontrak kerja dengan atas namaku. Semua aku serahkan pada mas Rudy. Ku kira semua akan sulit. Ternyata ini lebih mudah dari yang seharusnya. Benar juga katanya, kalau kita sudah niat baik semua akan di mudahkan. Asalkan kita jangan pernah lelah meminta pada Al hayyu. Sang pemilik hidup.


Sekarang, aku sibuk dengan berbagai persiapan resepsi pernikahan sederhana yang akan segera terlaksana. Khafa menyerahkan semua persiapan pernikahan pada ustadz Ammar untuk membantuku. Tidak menyangka, mereka ternyata sahabat dekat. Bahkan ternyata ustadz Ammar partner Khafa mengelola outletnya di Bogor.


Khafa hanya sesekali menelpon. Untuk bertukar kabar denganku. Karena banyak juga yang harus ia persiapkan disana.


Seperti semalam, Khafa bercerita sedikit soal ayah dalam sambungan telepon. Aku jadi terpikir untuk mengunjungi rumahnya sebelum waktu pernikahan tiba. Ya, memang itu seharusnya sih.


Rumah abadi ayah ada di sudut ibu kota yang berukuran tidak lebih dari 1x2 m². Berapa lama aku tak pernah mendatanginya. Anak macam apa aku ini? Walaupun datang aku terkadang hanya bisa menangis dan berdoa semampuku. Aku yakin. Padahal ternyata dengan cara itu saja sudah mampu membuat ayah bahagia disana. Tapi, malah jarang ku lakukan.


Dan disini lah sekarang aku berada. Berdiri Di gerbang pintu masuk sebuah TPU terbesar di Jakarta sambil menenteng satu keranjang bunga mawar. Kenapa makam ayah disini? Ya karena semua keluarga besarnya disini. Kakek nenek dari ayahku juga disini.


Perlahan, aku berjalan gontai mendekati makam itu. Sebuah memory menyedihkan berputar kembali di benakku. Saat ayah....


Aku menghela napas panjang.


Ayah, aku tak mampu mendeskripsikan lagi rasa rindu dan terimakasih ku padamu saat ini.


Aku menangis dalam doaku di hadapan makam ayah. Setelah merasa lega, aku menabur sedikit demi sedikit bunga yang ku bawa.


"Assalamualaikum." Suara salam yang tak asing lagi ku dengar dari belakangku.


"Khafa? Waalaikumussalam, kok bisa ada disini?" Tanyaku heran. Ah, dia memang selalu membuatku heran. Semalam telepon bilang ada di Jogja. Sekarang malah muncul di hadapanku.


"Bisa lah. Saya habis ziarah kubur juga ke ayah saya," jawabnya sambil melemparkan pandangan ke nisan ayah.


"Ayah saya! Bukan ayah kamu!"


Aku mengusap rumput pada makam ayah seraya bergumam pamit kepadanya.


"Sama saja. Kamu yang kenapa gak bilang mau kesini?" Tanyanya.


Aku sengaja tidak bilang kepadanya di telepon semalam. Karena kita tidak mungkin janjian mendadak dengan jarak yang lumayan jauh. Selain itu, aku juga masih canggung kepadanya. Tapi, ternyata, lagi lagi Allah menggerakkan langkah kita untuk bertemu disini.


"Mau ngapain bilang? Kamu bukan suami saya," jawabku ketus untuk menyembunyikan alasan aslinya. Lalu, aku beranjak meninggalkan makam ayah.


"Eh, kamu pikir selama ini kita siapain pesta pernikahan itu kamu mau nikah sama siapa?"


"Sama ustadz Ammar," ejekku datar tanpa menoleh kepadanya.


"Enak saja!" Khafa menaikkan volume suaranya.


Ya, memang yang membantuku selama ini mempersiapkan segala sesuatunya itu ustadz Ammar kok.


"Kamu kenapa sih selalu ada dimana-mana? Semalam kan kamu bilang kamu masih di Jogja,"


"Iya, ini saya baru sampai langsung kesini. Baru saja mau pulang. Tapi saya liat kamu. Kenapa kita gak pergi barengan saja sih?"


"Lho, memang kamu bilang mau kesini?" Tanyaku sambil terus berjalan menjauhi gerbang TPU. Tapi, kemudian aku berhenti setelah terpikir sesuatu. Aku menoleh pada Khafa. "Eh iya, kamu sudah tahu makam ayah disini?"


Khafa mengangguk sambil tersenyum. "Tahu lah, apa sih yang saya gak tahu soal kamu?"


"Dasar penguntit!" Cercaku kepadanya. Kemudian aku melangkah lagi meninggalkannya.


"Embun! Tunggu!"


"Nggak ada orang yang suka menunggu Khafa!" teriakku.


"Termasuk kamu?"


"Iya, saya bosan menunggu kamu!" Jawabku tanpa menoleh lagi kepadanya. Malah, aku mempercepat langkahku meninggalkannya.


"Jadi, selama ini, kamu nunggu saya?"


Dasar mahkluk tidak peka!


"Nggak!" Teriakku lagi.


"Terus kenapa kamu bosan?" aku tak memperdulikan pertanyaannya. "Kamu tahu nggak? Nggak ada orang juga yang pantas di tunggu," ujarnya.


Mendengar itu, aku sontak menghentikan langkah, Lalu, membalikkan badan menghadap kepadanya dengan cepat.


Namun sepertinya, ia mempercepat langkahnya juga. Sehingga Khafa sedikit terperanjat melihatku tiba tiba menghadap padanya. Kemudian, ia otomatis menghentikan langkahnya juga.


Untung saja, tidak tabrakan.


"Termasuk kamu?" tanyaku mengikuti pertanyaan Khafa sebelumnya.


"Iya, makanya saya gak pernah memintamu buat nunggu saya," jawabnya pelan.


Ia menjeda kalimatnya Namun, aku malah menikmati tatapan matanya yang tak pernah berkurang kadar kenyamanannya.


"Saya tau nunggu itu gak enak," lanjutnya. Kemudian ia semakin mendekatiku. "Jaga pandangan kamu! Jangan liatin saya kayak gitu! Nanti saya khilaf!" Ia menaruh selembar kertas menutupi wajahku agar tak lagi memandangnya.


Astagfirullah!


Kertas itu, adalah kertas brosur mini market yang ia pegang entah sejak kapan.


Aku mendengus sambil membuka dengan kasar kertas itu.


"Nggak!"


"Harus mau!"


"Nggak mau!"


"Masa gak mau ketemu sama calon mama mertua?"


"Iya deh mau."


"Gitu dong,"


Aku mengikutinya berjalan menghampiri mobilnya. Mobil itu adalah sedan silver yang pernah aku lihat saat aku melihatnya di nikahannya teh Nisa.


"Pertama kali aku lihat kamu lagi, kamu pake mobil ini bawa Fatur," tuturku ketika sudah duduk di dalam mobil.


"Di nikahannya teh Nisa ya?"


"Iya,"


"Terus kamu nangis patah hati sama saya ya?"


"Nggak,"


"Nggak sebentar nangisnya. Tapi lamaaaa banget. iya kan?" Ejeknya sambil tertawa.


"Gak penting! Diem! Jangan bahas lagi!" Aku menyentaknya sambil melemparkan tatapanku keluar jendela. Sebenarnya, aku hanya menyembunyikan wajahku yang mungkin sudah memerah karena menahan malu. Kenapa sih dia bisa tahu semuanya?


Sedangkan dia hanya mengulum senyum tipis sambil fokus berkendara.


Tak lama kemudian kita sampai di parkiran sebuah ruko berukuran lumayan besar. Sekitar tiga ruko ukuran biasa kemudian di jadikan satu. Bagian bawahnya adalah sebuah restoran berarsitektur khas Jawa. Sedangkan bagian atasnya adalah rumah. Rumah bergaya minimalis tempat tinggal mamanya Khafa. Sebenarnya lebih mirip sebuah apartemen sih.


"Assalamualaikum ma," Khafa mencari sang mama sambil berjalan menuju satu kamar.


Jantungku mulai berdegup tidak konstan membayangkan bertemu dengan mama Khafa secepat ini. Namun aroma Terapy yang menguar di seluruh ruangan sedikitnya mampu menenangkan perasaanku.


"Masya Allah ada tamu toh?" Seorang wanita yang ku duga mama Khafa muncul dari tangga.


Khafa menoleh ke arahnya kemudian mencium takzim punggung tangannya. Aku otomatis mengikuti Khafa sambil memberikan senyum tipis.


"Embun?" Tebak mama. Ia tak melepaskan tanganku setelah aku bersalaman dengannya. Sikapnya begitu hangat. Aku seperti sedang bertemu dengan seorang ibu yang telah lama aku kenali sebelumnya.


Pantas saja Khafa sayang sekali pada ibuku. Ternyata sifatnya menurun persis dari mamanya. Penyayang.


Aku tersenyum tulus. "Iya...."


"Mama, panggil aja mama ya. Kamu anak mama juga. Ngga cuma Khafa," jelasnya sambil melemparkan tatapannya pada Khafa.


"Baik ma," jawabku. Mama membawaku duduk pada sofa minimalis berwarna maroon.


"Ini toh gadis yang buat anak mama tiba-tiba memutuskan untuk cepat nikah?" Tanyanya kemudian.


"Nggak tiba-tiba ma, aku udah rencana lama kok, cuma Embun-nya saja yang masih di pinjam orang." Dengan entengnya Khafa berbicara sambil membawa dua gelas orange jus ke arah kami.


Denyut jantungku seolah berhenti sejenak mendengar kata-katanya. Khafa kalau bicara selalu tepat sasaran.


"Khafa, yang baik toh kalo bicara. Moso anak gadis mama di pinjamkan orang, maaf ya nduk," ujar mama sambil mengelus-elus punggung tangan ku.


"Gak apa-apa,... Ma," jawabku berusaha untuk tenang.


"Sabar ya nduk, Khafa memang gitu aslinya. Kalau kamu tahu dia seperti itu, berarti ya kamu itu spesial nduk. Dia sayang sama kamu. Makanya tidak ada yang dia sembunyikan. Tidak ada jaga image," jelas mama. "Jadi, sudah sampai mana persiapan acara akad dan walimah kalian?"


"Sudah siap semuanya ma, undangan besok insya Allah di sebar cuma keluarga dan kerabat dekat saja," jawabku.


"Alhamdulillah, mama mohon maaf ya. Mama nanti cuma datang pas kalian akad saja. Mama Ndak bisa bantu kalian mempersiapkan segala sesuatunya. Khafa tau kan sebabnya? Mama tidak mau ada kecanggungan di hari bahagia kalian,"


Mama menghela napasnya sejenak. Khafa dan aku serius mendengarkan mama.


"Kamu tahu kan nduk, posisinya mama? Kondisi mama seperti apa?"


Aku mengangguk. Ya, aku tahu status mama sekarang dari CV ta'aruf Khafa saat itu. Disana sudah jelas tertera bagaimana latar belakang keluarga Khafa tanpa ia menjelaskannya.


"Alhamdulillah kalau kamu sudah paham. Jadikan pengalaman hidup mama sebagai pelajaran penting dalam rumah tangga kalian. Jangan seperti mama. Rumah tangga itu, tidak cukup hanya di dasari cinta. Prinsip hidup, visi misi kalian menikah harus sama. Langkah kalian harus satu arah dan tujuan. Karena kalau tujuan kalian sama tapi arah yang kalian ambil itu berbeda. Percuma. Kalian bisa bersama nantinya tapi tidak terus bisa sama-sama. Paham maksud mama Kha?"


Khafa mengangguk sambil memandang mamanya dengan arti yang menguatkan. Sepertinya, Khafa tahu persis perasaan mamanya saat ini.


"Kamu nduk, berikan yang terbaik untuk suamimu yo. Ikuti apa kata suamimu selama itu benar. Tinggalkan masalalu yang memberatkan langkahmu kedepan. Mama yakin Khafa sudah yang terbaik buatmu nduk. Begitu juga kamu, kamu sudah yang terbaik untuk Khafa. Mama belum pernah mendengar ada nama lain selain kamu yang Khafa sebut di hadapan mama nduk,"


Sampai seperti itu kah? Sejenak, aku menatap Khafa. Lagi lagi, aku merasa kagum padanya karena telah menjaga perasaannya selama ini kepadaku.


"Tapi kalian juga harus ingat, bahwa, menikah dengan siapapun tidak menjamin kita akan bahagia kalau kita sendiri tidak pernah bersyukur,"


Nasehat nasehat mama bagaikan hujan yang membasahi kepalaku ketika aku di dera panas berkepanjangan. Hujan yang aku butuhkan.


Mama memandangku yang sedang menunduk memaknai setiap kata-katanya. Lalu meraih tubuhku ke dalam pelukannya.


"Mama titip Khafa ya nduk." Mama terisak dalam bisikannya. Jangan tanya aku. Karena aku, juga sedang menangis haru dalam pelukan mama. Entah kenapa aku seperti sedang saling menguatkan perihal masalalu.