Always Remember

Always Remember
Menebus Kesalahan



Author


.


.


.


.


.


.


.


"Kaylila," sapa Hera. Perempuan yang masih cantik pada usianya yang sudah tidak muda lagi itu datang memeluk Kayla. Ia menguatkan Kayla yang nampak lemah dan tak berdaya.


"Kenapa harus Andra Tante? Dari sekian banyak orang kenapa harus Andra yang nabrak Raihan sampe dia meninggal Tante, Kenapa tante?" Suara Kayla terdengar parau dalam pelukan Hera.


Ia masih sangat terpukul, bahkan tak mampu berbicara langsung pada Andra.


Hera membelai punggung Kayla dengan lembut, berharap bisa sedikit mengurangi kesedihannya.


"Ini semua takdir, sayang. Kamu harus ikhlas ya," pinta Hera menenangkan.


Namun Kayla malah melepaskan pelukan Hera.


"Apa Tante bilang? Ikhlas? Menurut tante aku bisa ikhlas disaat hidup aku harus hancur kehilangan calon suami aku?!"


Suara Kayla yang mulai meninggi terdengar oleh Andra yang baru saja melihat kepergian Embun dari teras rumah Raihan. Ia berbalik badan kemudian menghampiri Kayla.


"Kay, aku mohon jangan begini. Aku minta maaf," ucap Andra dengan sorot memohon.


Mendengar permintaan maaf Andra, Kayla seketika membuang muka.


"Aku tau ini ga gampang buat kamu Kay, aku benar-benar merasa bersalah." Andra kembali melanjutkan kalimatnya yang sudah mulai putus asa. "Aku minta maaf Kay,"


Akhirnya Kayla berani menatap Andra dengan tatapan yang tak terdefinisikan. Sedih, kalut, kecewa, semua terpancar di manik mata perempuan itu. Wajahnya pucat pasi. Genangan air mata kembali berjatuhan membasahi pipinya.


"Kamu puas?! Kamu puas nyakitin aku dari dulu sampe sekarang? Kenapa harus kamu Andra? Setelah selama ini kamu nyakitin aku dengan memilih Embun, sekarang kamu buat Raihan meninggal!?" Suara Kayla semakin lama semakin meninggi. Ia mulai meluapkan emosinya.


Mendengar pertanyaan-pertanyaan dari Kayla, Andra bungkam seketika.


"Kamu ga tau apa-apa tentang aku. Kamu nggak tau gimana sakitnya hati aku. Kamu nggak tahu gimana sedihnya kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup kamu! Kamu gak tau apa-apa."


"Iya Kay, kamu benar. Aku emang gak tau apa-apa." Air mata Andra lolos begitu saja. "Tapi aku mohon kasih aku cara buat menebus semua kesalahanku sama kamu Kay,"


Perasaan Andra semakin memburuk. Ia merasa bukan hanya telah menabrak Raihan tapi ia juga telah menghancurkan hidup seorang perempuan yang telah lama ia kenal. Sudah tidak ada lagi tatapan hangat Kayla pada Andra saat ini.


Kayla beranjak dari posisinya, kemudian berjalan hendak pergi kembali menuju pemakaman Raihan yang hanya berjarak sekitar satu kilo meter dari rumah orang tua Raihan.


"Kay, kamu mau kemana Kay?" Ia tak menggubris pertanyaan sang Papa. Lalu melanjutkan langkahnya yang mulai sempoyongan. Sampai di depan gerbang rumah Raihan, Kayla kembali terjatuh tak sadarkan diri.


"Kayla! Bangun Kayla!" Edy nyaris berteriak memanggil anaknya. Menepuk-nepuk pipi anaknya pelan. Namun Kayla masih bergeming.


Andra berlari mengambil kunci mobil kemudian membawa Kayla yang di bopong oleh Edy. Membawa Kayla ke rumah sakit, karena ia sudah jatuh tak sadarkan diri untuk ketigakalinya.


Mobil Andra bergerak memasuki rumah sakit dengan diikuti oleh keluarga Raihan dan Hera. Sedangkan Surya Dinata dan Andrea memutuskan untuk kembali pulang.


Kayla langsung di tangani di ruang IGD kemudian dokter menyarankan ia di mendapatkan perawatan intensif. Kondisi Kayla semakin lemah. Sejak mendengar kabar bahwa Raihan kecelakaan, tak sedikitpun makanan ataupun minuman masuk kedalam mulutnya.


Ternyata suster tersebut mengira kalau Andra adalah suami Kayla.


Seketika para orang tua menggelengkan kepalanya. Tak menyangka kalau anak-anak mereka telah melakukan hal yang melewati batas sebelum menikah.


"Usia kandungan nya sudah memasuki 8 Minggu. Kondisi pasien sedang depresi berat, beruntung kondisi janinnya kuat. Tolong dijaga emosional pasien agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan."


Edy yang sebelumnya berdiri kini duduk di kursi tunggu. Tubuhnya seolah tak bertenaga mendengar penuturan suster. Begitu juga dengan Andra ia merasakan lututnya kian lemas sampai terhuyung jatuh bersandar pada tembok. Ternyata ini alasan Kayla sulit sekali menerima kematian Raihan.


Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang perawatan Kayla dan mengizinkan Kayla untuk di jenguk. Orang tua Raihan masuk ke dalam ruangan Kayla untuk melihat kondisi Kayla. Namun melihat Kayla sedang tertidur mereka memutuskan untuk kembali pulang karena masih banyaknya tamu yang berdatangan ke rumahnya.


"Andra," panggil Edy lemah. Andra menoleh dan berjalan gontai menghampirinya. Kini mereka ada di dalam ruang perawatan VIP tempat Kayla terbaring.


"Kamu tahu kan? Kayla itu dulu gadis yang manis?" Kenang Edy dengan raut perih.


Andra menunduk dalam.


"Ia gadis yang baik, murah senyum, ceria. Hingga akhirnya ia berubah ketika ketika saya bercerai dengan mamanya." Edy menghela nafas panjang menjeda sejenak kalimatnya. Matanya menerawang sudut-sudut ruangan dengan sorot mata kosong. "Tapi Kayla kembali ceria saat waktunya ia habiskan denganmu. Kayla senang sekali mendengar bahwa kalian akan di jodohkan. Tapi pada akhirnya Kayla tahu bahwa bukan dia perempuan yang kamu cinta. Kayla berubah lagi. Saya merasa gagal mendidik Kayla," suara Edy tercekat.


Tanpa mereka sadari ternyata Kayla di ranjangnya mendengarkan perbincangan Andra dengan papanya. Air matanya kembali berjatuhan mengingat kembali kondisinya yang sudah mengandung janin Raihan.


"Saya lega begitu Raihan datang di kehidupan Kayla. Saya melihat kembali rona bahagia di mata Kayla yang telah lama hilang. Apalagi ketika mereka memutuskan untuk segera menikah. Kayla berangsur membaik, ia mau mulai menutup auratnya. Namun tanpa saya sadari mereka memutuskan segera menikah juga karena satu alasan."


Mendengar perkataan Edy air mata Hera lolos membasahi pipinya namun buru-buru ia tepis. Ia menyesal di hatinya karena sempat menyetujui perjodohan yang pernah di rencanakan suaminya dengan Edy Wiguna.


Bagaimanapun Andra, anak laki-laki satu-satunya itu berhak memilih yang terbaik yang akan jadi pendamping hidupnya.


"Cukup pah!" Kayla berteriak dari posisinya. Penampilannya semakin buruk. Kerudungnya sudah tidak tahu ada dimana. Rambutnya berantakan. Matanya bengkak karena tak berhenti menangis.


Membuat Andra, Hera dan papanya terperanjat menatapnya.


"Andra gak bakalan ngerti penderitaan aku selama ini. Aku hamil pah aku hamil! Hidup aku sudah hancur. Aku sudah kehilangan Raihan, aku sudah kehilangan kesucian ku. Aku sudah kehilangan masa depan aku. Hidupku sudah hancur!"


Kayla bergerak melepas infusan ditanganmya dengan kasar. Hingga selang dan jarum yang tadinya menempel kini tergeletak begitu saja di lantai. Ia turun dari ranjangnya kemudian mencari sesuatu yang bisa melukai dirinya.


Andra berjalan cepat menghampiri Kayla. Menahan langkah Kayla dengan meraih tangannya. Namun air mata Kayla semakin deras dan memberontak. Ia memukul-mukul bahu Andra sekuat tenaga.


Hera dan Edy terpaku di tempatnya ia tak berani berbuat apapun karena takut terjadi hal yg lebih buruk pada Kayla.


"Kamu jahat Andra. Kamu tega membunuh ayah dari anakku. Sekarang aku udah gak tau gimana caranya memulai hidup." Suara Kayla kian parau. Namun tangannya masih terus menerus memukul Andra.


Hatinya hancur membayangkan bagaimana ia melanjutkan hidup dengan perut yang semakin membesar tanpa hadirnya seorang suami disisinya.


Andra membiarkan dadanya di pukuli Kayla. "Aku harus bagaimana menebus kesalahanku sama kamu Kay?" Lirih Andra.


Kayla menghentikan pukulannya, sorot matanya memandang tajam pada Andra. "Nikahi aku tepat di waktu pernikahan ku dengan Raihan!"


Akhirnya yang Andra takutkan terjadi juga. Kata-kata itu keluar dari mulut Kayla.


Andra menelan salivanya dengan susah payah. Rasanya begitu sesak ia rasakan. Saat ini, sudut hatinya tak kalah terluka dari Kayla. Terbayang olehnya rencana-rencana indah bersama Embun. Ia tak mau itu semua hancur begitu saja. Ia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan seperti ini.


Sebagai ibu, Hera tahu persis perasaan anaknya. Air matanya jatuh tak terbendung. Ia tak bisa membayangkan jika harus menyaksikan Andra mengorbankan kebahagiaannya demi Kayla. Demi janin yang ada dalam kandungannya.


----------------------------------------------------------------------


Jangan lupa like, rate and votenya yaaa.. gpp sikid-sikid juga koq, author pasti senang syekali...


💕💕💕