Always Remember

Always Remember
Impian Nyata



Setelah perjalanan panjang yang memakan waktu hampir tujuh jam, akhirnya, kami sampai juga di sebuah halaman rumah yang tidak asing bagiku.


Ingatan ku de javu pada kenangan bodoh masa lalu. Kenangan saat beberapa bulan lalu aku telah salah paham padanya. Menganggap bahwa orang yang sedang di sampingku kini sudah menikah dengan orang lain. Ahh! Bodohnya aku.


"Gak mau turun nih?" Khafa membuyarkan lamunanku. Lalu, ia membukakan seat belt yang masih mengungkung tubuhku. Tidak menunggu waktu lama, kami berdua langsung turun dan berjalan menuju halaman depan rumah.


Butuh waktu yang lama untuk aku berdiri memaku tatapan pada rumah bercat coklat muda itu. Bangunan minimalis yang memiliki dua lantai dan halaman depannya begitu hijau dan asri.


"Malah melongo disini, ayo masuk!" Ajaknya ketika mendapatiku tertinggal dibelakangnya.


"Kayak mimpi aku Kha," ucapku sambil menatap takjub rumah itu. Lantas, Khafa berjalan mendekati ku dan memandang ku dengan tatapan dalam. "Rahasia Allah begitu indah buatku," lanjutku sambil membalas tatapannya.


"Gak cuma buatmu, tapi buatku juga. Karena aku juga begitu, masih seperti mimpi menjalani hari-hari sama kamu," balasnya. Kemudian Khafa menghela. "Kamu tahu? Delapan bulan lalu, kamu aku ajak kesini, saat itu kamu salah paham sama aku. Aku tahu, kamu itu ceroboh. Hobi sekali menyela pembicaraanku. Aku belum selesai bicara, sudah kamu potong. Saya sudah tau! Kamu bilang gitu kan saat aku mau jelasin siapa Fatur?"


Aku menurunkan pandanganku darinya. Malu. Karena apa yang dia katakan semua benar.


"Tujuh bulan lalu, qodarullah tabungan aku cukup untuk bangun rumah. Nggak tau kenapa, ngeliat kamu semalam bermalam disini bikin aku punya impian untuk tinggal disini sama kamu. Makanya aku putuskan untuk bangun rumah disini karena lahannya memang sudah ada. Bersamaan dengan itu aku bangun Al Firdaus di kolong langit. Jadi, aku punya alasan untuk bisa tahu semua tentang dirimu."


Aku memberanikan diri untuk kembali menatap Khafa yang sedang bercerita.


"Tiga bulan berselang rumahku sudah berdiri. Tinggal finishing aja sih, tapi saat itu juga, aku dapat kabar dari kamu bahwa kamu mau nikah. Inget kan kamu pernah kirim gambar apa ke aku?"


Aku membuang napas sambil mengatupkan kedua kelopak mata, mengiyakan pertanyaannya. Iya, aku pernah mengirim gambar cincin lamaranku bersama Andra. Aku masih diam, belum mau membuka suara. Jujur saja. Aku hanya ingin mendengar semua yang Khafa katakan saat ini.


Khafa tersenyum, "aku cuma manusia biasa, nggak luput juga dari rasa sedih. Malah saking sedih, aku menghentikan tahap finishing rumah. Gak ada semangat lagi."


Khafa terdiam sejenak. Lalu ia menatap rumahnya dengan bangga. "Sampai akhirnya, aku dengar kabar kalau ibu sakit dan aku punya kesempatan untuk bertemu. Alhamdulillah, aku kayak punya semangat baru. Ku lanjutkan pembangunan rumah disini. Allah ternyata benar-benar menjawab segala doaku tentang kamu."


Khafa tersenyum dan kembali memandangku dengan teduh. Kalau tidak malu, aku ingin sekali menghadiahi sebuah pelukan kepadanya. Ahh, tapi masa iya. Aku takut disangka nyosor duluan.


Aku membalas senyumannya lalu berkata, "ya sudah yuk masuk. Aku gak sabar mau liat rumah...,"


"Rumah kita." Khafa melanjutkan kalimat yang sengaja aku gantung.


Aku tersenyum bahagia karena kalimat yang ku gantung memang berharap jawaban dari Khafa. Dan jawabannya, Sempurna.


"Kha, kenapa rumput itu dibiarkan tinggi? Kamu gak urus ya!" tuduhku saat aku melihat rumput di pekarangan rumah yang terlihat tinggi dan tidak mengenal gunting rumput agar rapi. Bagian sisi-sisinya ada beberapa pohon bunga yang menghiasi.


"Sengaja," jawab Khafa sambil meraih tanganku lalu berjalan menuju teras rumahnya. "Sejak aku tanam memang belum pernah aku potong," lanjutnya.


"Kenapa?" tanyaku heran.


"Kalau cuaca bagus, di pagi hari bagian ujung-ujung daunnya menggantung embun pagi. Aku suka sekali. Kalo daunnya aku gunting, nanti embunnya hilang. Atau, ia ada tapi tidak terlihat beningnya. Makanya aku biarin aja tuh rumputnya tinggi dan liar." Ia beralasan.


"Ini bukan lagi gombalin aku kan?"


Ia tersenyum nyengir sambil mengeratkan genggamannya.


"Kalo iya kenapa?" Dia balik bertanya.


"Halah, Bilang aja malas!" Aku mencebik.


Khafa tersenyum sambil mencubit hidungku pelan.


"Aww!" Aku mengaduh manja.


"Besok bakalan aku potong deh, takut ada binatang liar," janjinya.


"Kenapa baru besok? Nggak dari kemaren-kemaren?"


"Ya karena sekarang aku udah punya Embun beneran yang nggak cuma sekedar bening. Tapi juga..."


Cantik?


"Bawel dan tukang ngambek," lanjutnya menyebalkan.


Ish!


"Ya sudah, buka pintunya!" titahnya kepadaku.


"Lho kok aku?"


"Tadi kan di rumah mama aku kasih kamu kunci rumahnya, mana?"


"Hah? Iya ya?"


Pelupaku, kumat.


Aku segera membuka sleting tas yang menggantung di bahuku. Kemudian mengaduk isinya. Parasaan senang dan haru, kini berubah menjadi rasa panik dan khawatir karena belum menemukan juga kunci itu.


"Dimana ya Kha, kok gak ada di tas," keluhku masih meraba semua sudut di dalam tas.


"Ya sudah, aku ambil kunci lainnya di mbok Sum aja deh, kalau memang gak ada,"


Khafa membalikkan badannya hendak pergi ke rumah mbok Sum tapi,


"Ini Kha, ada!" Khafa berhenti kemudian kembali kepadaku.


"Alhamdulillah," syukurnya.


"Ternyata aku kantongi di saku gamis," aku ku sambil tersenyum kaku. Malu.


"Hemn, masih saja suka lupa," ejeknya.


"Aku nggak lupa Kha," eyelku.


"Cuma nggak inget?" sindirnya.


"He-he iya." Akhirnya aku mengakuinya dengan nada bersalah.


"Pinter,"


Ceklek.


Aku berhasil membuka pintu.


Ketika aku masuk, aku di sambut dengan ruang utama yang dihiasi sofa berwarna coklat tua tanpa kaki. Di bawahnya ada karpet berwarna abu sebagai alas. Jadi, sofa itu kalau kita duduki ya kita lesehan.


"Kha, kamu milih sendiri sofa ini?"


"Iya,"


"Kenapa kamu milih sofa jenis kayak gini?"


"Gak apa-apa, aku suka aja. Jadi kalau ada tamu kita sejajar dengan bumi. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Tidak ada yang membedakan antara posisi tuan rumah dan tamu. Kita semua sama rendah. Karena Yang Maha Tinggi itu cuma satu," jelasnya panjang lebar.


"Gak nyangka aku, ternyata kamu filosofis juga," pujiku.


"Ah, biasa aja kok, nanti kamu kaget kalo teman-teman ku datang pake sofa biasa tuh gak akan muat. Jadi, itu alasan kedua aku pilih sofa kayak gini, Kamu nggak suka?"


"Suka kok,"


"Syukurlah kalo gitu,"


Setelah melihat seluruh isi rumah yang belum begitu banyak perabotan ini, aku merasa lelah dan pergi ke kamar utama. Disana terdapat satu ranjang king size dengan meja dan lampu tidur di kanan dan kirinya, satu lemari empat pintu dan satu meja rias.


"Kha, spreinya kenapa warna putih?"


"Biar kalau kamu ileran kelihatan," jawabnya enteng.


Ish!


"Kha, aku mau mandi dulu ya, gerah. Udah sore juga," izinku pada Khafa yang sedang sibuk membenahi seluruh barang bawaan kami.


"Iya, kamar mandinya disana," jawabnya sambil menunjuk satu pintu warna coklat di dalam kamar.


Khafa sibuk melanjutkan kegiatannya dengan di bantu Pakde Marto, sedangkan aku langsung menghampiri pintu kamar mandi. Karena hari yang semakin menjelang senja aku memutuskan mandi lebih dulu untuk bersiap sholat magrib.


Aku masuk ke kamar mandi di dalam kamar yang berukuran hanya 2 x 3 meter. Kesan pertama saat memasukinya adalah bersih karena dominan warnanya adalah putih. Aku selalu tergiur saat melihat kran shower yang menggantung. Segera aku membuka pakaian satu demi satu dan menyimpannya di keranjang yang telah tersedia untuk baju kotor. Tapi ternyata, bathtub sederhana lebih menggodaku untuk berendam, ketimbang berada di bawah guyuran kran shower.


Entah sampai berapa lama aku berendam akhirnya aku beranjak membilas diri dengan guyuran air kran shower. Ku tutup tirai putih yang memisahkan antara wastafel dengan kran shower. Lalu tenggelam lagi di baliknya.


Setelah merasa puas, aku hendak mengambil handuk yang berada di samping pintu kamar mandi. Tapi, ketika aku membuka tirai itu,


Astagfirullah!


Khafa berdiri di balik pintu kamar mandi yang sudah terbuka. Sepersekian detik bola matanya membulat bertemu dengan bola mataku ketika aku membuka tirai itu dengan tubuh yang polos. Tidak sehelai benangpun menutupi.


Segera ku tarik kembali tirai dengan cepat. Lalu berjongkok meruntuki perbuatanku.


Ah, ngapain Khafa tiba-tiba ada di dalam kamar mandi sih? Dia gak ketuk pintu? Dia lihat aku aku tidak yah. Ya Allah.


Aku ingin sekali menangis saat ini.


Malu... Malu.. maluuu, ya Allah..


Aku harus bagaimana?


"M-maaf, a-aku udah berapa kali ketuk pintu, tapi kamu gak dengar," ucapnya gugup. Setelah itu suara gebrakkan pintu terdengar agak kencang.


Ya Allah.