Always Remember

Always Remember
Pertemuan tak terduga



Pagi yang cerah. Kicau burung dari pepohonan dekat rumah ramai menyambut pagi ku. Ia berkicauan seolah bernyanyi bersahutan. Aku berjalan menuju angkutan umum yang biasa menarik penumpang di daerah tempat ku tinggal.


Ini sudah hampir tiga bulan aku bekerja di tempat yang baru. Cukup menyenangkan. Aku memilih pulang pergi setiap hari. Jakarta - Bogor. Selain akses yang lebih mudah teman sekantor juga banyak yang PP (Pergi - Pulang) naik kereta. Dan alasan yang paling penting adalah membuat hati ibu tenang. Karena anak perempuan nya tidak tinggal jauh-jauh dengannya. Apalagi tinggal di ibukota. Bukan di mess seperti di kantor sebelumnya.


Sampai di stasiun aku tak lagi mengantri panjang untuk membeli tiket. Karena aku sudah memakai kartu abudemen kereta express untuk sebulan penuh. Dengan biaya setiap bulan yang di jamin kantor tentunya.


Seperti biasa, indah pagi ku terenggut oleh suasana pagi di stasiun Bogor. Saat itu stasiun tak senyaman sekarang. Setiap hari selalu di padati penumpang, pedagang asongan bahkan pengamen jalanan. Belum lagi penumpang yang datang dari berbagai penjuru kota dan kabupaten Bogor. Ada juga penumpang yang transit dari kereta Sukabumi.


Tak lama kemudian kereta ekspres yang aku tunggu-tunggu datang. Segera aku bersiap. Memeluk erat ransel yang aku gendong di depan. Saat itu, stasiun masih sangat rawan pencopet. Bukannya takut tapi aku hanya waspada.


Aku bergegas bersama penumpang lain. Menunggu pintu otomatis kereta terbuka. Sudah terbuka aku bergegas masuk mencari kursi kosong. Ternyata kursi sudah banyak terisi sejak ia singgah di stasiun cilebut. Aku berjalan ke arah kanan. Ke gerbong tiga dari belakang. Beruntung aku masih dapat kursi kosong meski hanya untuk satu orang. Segera ku hampiri.


Hanya menunggu sekitar lima belas menit pengumuman di dalam kereta menggema. Bahwa kereta akan segera berangkat. Pintu otomatis akan segera di tutup.


Ku ambil headset dari tas ku. Kemudian ku sambungkan ke ipod ku yang berwarna biru. Kusandarkan tubuhku. Kuputar lagu yang tak pernah bosan aku dengarkan.


Look, why don't you play that song you played for me yesterday?


Oh okay yeah, that song because of you, cool


This is a song called because of you...written because of you...here we go


Oh yeah, oh yeah


If ever you wondered if you touched my soul yes you do


Since I met you I'm not the same


You bring life to everything I do


Just the way you say hello


With one touch I can't let go


Never thought I'd fall in love with you


Because of you, my life has changed, thank you for the love and joy you bring


Because of you, I feel no shame, I'll tell the world it's because of you


Sometimes I get lonely and all I gotta do is think of you


You captured something inside of me


You make all of my dreams come truIt's not enough that you love me for me


You reached inside....


Aku larut dalam alunan lagu. Sampai aku tak sadar kalau aku tertidur. Maklum, malam sebelumnya aku tiba di rumah jam sepuluh. Baru bisa tidur dua jam setelahnya. Sedangkan subuh aku harus kembali terbangun untuk kembali beraktivitas.


Aku terkesiap. Begitu aku buka mata ini ternyata sudah sampai stasiun Manggarai. Lumayan. Aku beristirahat hampir tiga puluh menit.


Aku membenahi posisi tidurku. Ingin sekali rasanya aku menggeliatkan badan. Tapi tak mungkin. Malu.


Sosok lelaki yang tak asing terlihat di hadapanku. Ia menggunakan celana blue jeans dan kemeja berwarna soft blue di gulung sampai setengah lengannya. Ia berjalan melewati ku. Tanpa melihat jalan Ia tengah sibuk mengetik sesuatu pada handphone nya. Tak lama ia memasukan handphone nya ke dalam ransel yang di peluknya.


Badannya masih terlihat sama. Tinggi dengan perawakan tidak terlalu kurus juga tidak besar. Masih seperti dulu. Hanya saja penampilannya yang sudah sangat berbeda. Wajahnya lebih dewasa.


Kereta mulai melaju ke arah stasiun Sudirman.


Aku bimbang untuk menyapanya. Laju kereta makin cepat. Dengan sudut mataku aku melihat Andra berdiri di depan pintu otomatis kereta. Ia menghadap ke arahku. Jarak kami sekitar dua meter.


Aku membuka handphone untuk mengalihkan kebimbangan ku. Ingatanku terseret ke beberapa tahun lalu..


Saat itu sudah jam lima sore. Sebagian karyawan sudah pulang.


"Bun.. balik bareng aku yuk!" Andra tiba-tiba muncul di pantry. Aku tengah memegang gelas berisi air minum. Aku terlonjak kaget. Karena di pantry sepi tak ada orang.


Aku menatap nya sebentar.


"Kalo manggil orang tuh yang lengkap." mataku membulat.


"Iya Embun Puspa Julie."


Hatiku berdesir ia menyebut nama lengkapku. Padahal mau ku ia memanggil namaku Embun saja. Bukan nama lengkap seperti itu.


"Yuk mau ya?" Ajaknya lagi.


"Kenapa mau ya? Bukan mau ngga?"


"Biar kamu ga ada pilihan lain selain ya."


Aku mendengus pelan.


"Rumahku kan ga searah sama kamu. Mana bisa bareng?" Aku menaruh gelas yang airnya sudah tandas ku minum.


"Yaudah ga jadi bareng deh. Pulangnya aku anter aja boleh ya?" Ada harapan besar pada tatapannya. Aku tak mampu lagi memberikan alasan untuk menolak.


"Yaudah. Iya."


Akhirnya aku mengiyakan. Karena ini bukan kali pertama Andra mengajakku pulang bareng.


"Embun..." Katanya pelan. Namun aku dapat mendengar dengan jelas. Memecah lamunanku.


Aku menoleh. Menaikkan alis. Mataku sedikit membulat. Pura-pura kaget. Karena sebenarnya aku sudah melihatnya duluan.


Ia berjalan mendekati ku. Sedikit ragu. Karena pengumuman di dalam kereta sudah terdengar bahwa kereta segera berhenti di stasiun Sudirman.


"Aku turun disini. Kamu cek Facebook ya." Ia kembali mendekati pintu otomatis kereta yang siap terbuka. Di stasiun ini pintu hanya sekitar satu menit terbuka. Setelah itu pintu akan tertutup kembali tak perduli penumpang sudah turun semua atau belum. Oleh karena itu penumpang harus sigap dan berhati-hati. Karena kereta akan segera melanjutkan perjalanan ke stasiun karet. Stasiun tujuanku.


Aku cepat mengangguk. Andra terbawa arus penumpang lain yang hendak turun juga.


Aku dapat melihat jelas raut wajah Andra saat itu. Tak ada yang berubah. Masih sehangat dulu. Sekitar empat tahun lalu.


Sepertinya Andra bukan lagi seorang mahasiswa. Ia terlihat lebih dewasa. Namun hatiku masih sama. Masih belum bisa menerima bentuk apapun yang Andra coba berikan padaku.


Kereta berlalu meninggalkan Andra di stasiun Sudirman. Aku beranjak dari tempat dudukku. Mendekati pintu otomatis. Bersiap untuk turun.