Always Remember

Always Remember
Dilema



Sudut hatiku kembali nyeri melihat pemandangan itu. Mereka saling berpelukan. Beradu tosan. Khas anak dengan ayahnya. Tiba tiba aku ingat perempuan itu. Beruntungnya.


Ku lihat dengan ekor mataku Khafa dihampiri beberapa orang di halaman masjid. Mereka bertegur sapa dengan akrab. Sepertinya, ini memang lingkungannya. Aku berlalu meninggalkan mereka. Pura-pura tidak menyaksikannya.


Tak lama Khafa berlari mengejar ku. Membukakan pintu mobil di samping kemudi. "Bener nih?" tanyaku meyakinkan.


Ia menaikan alis.


"Aku gak mau ya di jalan tiba tiba suruh pindah ke belakang."


"Ya nggak lah," jawabnya sambil berjalan membuka pintu kemudi.


Aku mencari tas dan mengambil handphone. Sudah ada lima panggilan tak terjawab dari Andra. Ah iya, aku harus sadar. Ada lelaki yang sudah tiga tahun terakhir menemani hari-hari ku. Mengisi kekosongan hatiku. Tidak! jangan sampai aku tiba tiba meragu karena kehadiran Khafa saat ini di hadapanku.


Aku segera mengirim pesan kepadanya.


[Maaf. Tadi aku lagi sholat.] Ku simpan kembali handphone ku.


"Kha, kamu beneran mau jadi supir saya hari ini?" Tanyaku tanpa melihatnya. Pandanganku keluar jendela. Mencari sosok anak laki-laki itu. Tapi tidak ada. Khafa menjalankan mobilnya keluar pintu parkiran.


"Iya," jawabnya singkat. Khafa membuka kaca mobil. Melambai-lambai kan tangannya keluar. Di sebuah gerbang sekolah anak laki-laki itu juga melambaikan tangannya. "Nanti pulang di jemput ummi ya." Teriak Khafa. Anak itu hanya mengangguk sambil melempar senyum.


"Anak laki-laki itu-------,"


"Saya udah tau!" Potongku. Rasanya aku tak perlu menunggu keterangannya. Dari kejadian tadi sudah jelas memberitahu apa statusnya sekarang.


Khafa hanya menghela nafas berat. Aku menundukkan kepala. Menghalau sesak yang mulai terasa di dada.


Aku tak nyaman. Tak habis berfikir. Bagaimana mungkin anaknya di jemput oleh ummi nya sedangkan dia sedang bersamaku.


Hhhh... Khafa semakin aku dekat denganmu ternyata semakin jelas aku tahu siapa dirimu.


Aku tak mau serendah itu. Kamu mau menjadikan aku madu untuk istrimu? Cukup. Cukup hubungan kita sekedar hubungan kerja.


"Tolong antar saya ke hotel terdekat dari bandara. Saya mau istirahat," pintaku.


"Lho gak mau jalan-jalan dulu?" Ia melirikku sebentar.


"Gak perlu. Lagian kayaknya mau hujan."


"Hujan kan berkah Embun. Jarang-jarang lho kamu disini," tawarnya lagi.


Mendengar kata-kata itu, ingin sekali aku menutup telinga. Menarik Sukma ku untuk tidak berlari ke masa lalu.


"Ya terus? Kalo tiba-tiba hujan, Aku harus jalan-jalan sambil mandi hujan gitu?"


Ia tak menjawab.


"Khafa! Sekarang usia saya sudah 24 tahun. Bukan Embun anak SMP lagi seperti yang kamu kenal dulu!"


"Sudah dewasa ya?" Ia menatapku sejenak. "Jadi sudah siap aku khitbah?"


Aku terhenyak seketika. Bisa-bisanya Khafa bilang seperti itu. Bagaimana perasaan istrinya kalau tahu suaminya baru saja mengucapkan kata-kata itu padaku. Dia mau poligami? Ish jijik aku membayangkan nya.


Setelah itu kau bisa pulang Khafa. Terimakasih tidak usah mendampingi ku selama Jogja. Aku bukan Embun yang cengeng lagi. Aku sudah mandiri. Aku sudah hebat seperti katamu pada surat itu kan? Temui sana istrimu! Jemput sana anakmu!


Aku membuang muka. Menahan kesal.


"Mukanya jangan di buang-buang. Mubazir. Saya masih sayang tau!"


Deg.


Hatiku berdesir.


Tidak. Jangan Ge eR Embun. Jangan!


Tiba-tiba hujan turun deras di langit Jogja. Kaca mobil seketika berembun. Jalanan samar tak terlihat. Khafa membelokkan mobilnya ke parkiran sebuah homestay.


Aku berdecak. Hujan sederas ini kenapa tidak membawa aku ke hotel aja sih. Sebenarnya aku bisa saja protes tapi seperti ada yang tercekat di lisan. Khafa menghentikan mobilnya. Hujan semakin deras berjatuhan.


"Saya gak ada payung. Kamu sabar ya tunggu disini sampai hujan agak reda." Ia menatapku sejenak. Aku tak sanggup mengelak. Tatapan yang ia lemparkan sungguh bagaikan anak panah, melesat tepat pada sasaran. Aku tak menjawab. Entahlah perasaan ini mulai melanggar aturan. Tak mampu aku di definisikan.


Aku dan Khafa sama-sama tak bersuara. Lalu ia menundukan pandangannya.


Ya Allah. Sadar Embun sadar... Suami orang!


Hawa dingin mulai menusuk kulitku. Aku hanya bisa mengusap-usap kedua tanganku. Di luar hanya terdengar suara gemuruh hujan. Entah berapa lama lagi akan reda. Belum terlihat tanda-tandanya.


Aku menggigil. Kepala tiba-tiba terasa pusing. Blazer penutup kaos pendek tipis yang ku kenakan tak mampu melindungi ku dari hawa dingin.


Khafa bergerak mengambil jaket yang menggantung di jok belakang.


"Pake nih!" Ia memberikan nya kepadaku.


Aku meliriknya sinis. "Gak usah!"


Enak aja maen pake pake. Kalo aku pake jaket milik Khafa bagaimana nanti kalau bau parfum ku tercium istrinya saat mencuci. Khafa sengaja memantik api dalam rumah tangganya? Gila, Khafa mau jadikan aku pelakor dalam rumah tangganya? Hissshhh... Sudah pernah menyakiti hatiku dulu, sekarang mau mengiris hati istrinya. Dimana perasaanmu Khafa? batinku.


Ingin sekali aku berteriak soal itu kepada Khafa tapi lagi-lagi lisanku Kelu. Dan pada akhirnya, aku hanya bisa berbicara dalam hati. Mengurai rasa demi rasa ku sendiri.


Setelah aku menolak ia tak memaksaku sama sekali untuk memakai jaketnya. Syukurlah. Kemudian ia menyimpan jaket di pangkuannya.


Aku membuka handphone di saku blazer. Sial, tak ada signal sama sekali. Lagi lagi aku berdecak.


"Kamu kenapa sih bawa saya kesini? Kalo kamu bawa saya ke hotel kan bisa masuk langsung ke lobby hotel dan saya ga repot-repot nunggu ujan kayak gini di dalam mobil!" Sama kamu pula. Lanjut ku dalam hati.


Khafa mencondongkan badannya ke arahku. Menatap wajahku penuh makna. Aku mulai menghidu aroma tubuhnya. Semakin dekat semakin mengikis jarak. Jantungku berdetak hebat.


"Berhenti marah-marah." Suara teduh itu kembali meluluhkan perasaan ku. Ia semakin mendekatkan wajahnya. Sampai-sampai embusan nafasnya bisa aku rasakan.


Tolong Kha, jangan buat jantungku terasa mau copot. Jangan buat aku kembali jatuh cinta. Walaupun aku tahu, sedekat ini Khafa denganku ia tetap tak bisa aku rengkuh. Hanya seolah membawaku ke masalalu.


Dejavu.


"Berani maju lagi, saya colok mata kamu!"