Always Remember

Always Remember
Sesal



Setelah beberapa saat berbaur dengan keluarga besar Khafa, aku kembali ke kamarku. Ibu, Eliana dan keluarga besar ku juga sudah berpamitan pulang sebelum tiba waktu Maghrib. Karena jarak hotel dengan rumahku tidak begitu jauh, aku meminta Irgi untuk membawakan notebook kesayanganku di rumah. Rasanya beberapa saat saja tanpa benda itu, aku merasa gundah.


Aku masih dalam rasa percaya dan tidak percaya. Secepat ini hidupku? Rasanya aku baru kemarin menunggu waktu lambat sekali berjalan. Apalagi, saat hari-hariku di penuhi teka-teki dari Khafa. Kalau tahu bahwa ujungnya akan seperti ini. Mana mungkin aku berani membuka diri untuk Andra. Tapi aku bersyukur telah di pertemukan dengan Andra. Lelaki tulus yang mencintaiku.


Mengingat kata-kata Dela, membuat aku terus di hantui rasa bersalah. Aku memang tidak menyanggupi untuk menunggunya selama dua tahun. Aku jahat ya? Tapi tentangnya, bukankah hanya tinggal kata percuma? Untuk apa juga aku menunggu hal yang tidak pasti. Membuang waktu saja.


"Mbun!" Teriakkan Irgi membuat lamunanku pecah. "Nih," ia memberikan tas berisi notebook kepadaku.


"Makasih ya Gi," ucapku.


Setelah itu Irgi kembali pulang. Aku melanjutkan langkahku menuju kamar untuk menginap semalam. Begitu permintaan Khafa, ia mau agar aku bisa menemani keluarganya sebelum besok pagi mereka kembali ke Jogja.


Tapi, langkah kakiku berhenti di depan pintu kamar. Dua orang dari Wedding Organizer keluar dari sana. Pikirku, mungkin, mereka telah membereskan sisa barang-barang mereka. Kostum, make up. Mereka terlihat menenteng tas dan koper keluar dari sana.


"Mbak, terima kasih ya," ucap salah satunya.


Aku mengangguk seraya memberikan seulas senyuman. "Sama-sama," jawabku. Lalu, aku melanjutkan langkahku menuju kamar.


Kondisi kamar sudah jauh lebih baik. Bahkan lebih baik daripada ketika aku masuk untuk pertama kalinya. Tempat tidur berukuran king size juga telah berganti spreinya. Sebelumnya berwarna coklat susu. Namun sekarang sudah berganti menjadi sprei berwarna putih berbahan katun Jepang. Lembut.


Kosong. Tidak ada siapa pun di kamarku kecuali aku. Ku tutup kembali pintu kamar tanpa ku kunci. Satu kotak berwarna merah dan satu buket bunga mawar menarik perhatianku. Tertata rapi di bagian tengah tempat tidur. Aku penasaran, lalu aku membuka kotak itu.


Mataku terbelalak ketika mendapati isinya adalah sebuah lingerie berwarna soft pink. Aku bergidik ngeri dan segera melemparkan baju itu sembarangan. Lalu pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian yang telah aku bawa.


Setelah masuk ke kamar mandi, aku terpikir untuk menyimpan kembali lingerie ke tempat asalnya. Bahkan kini aku sembunyikan di laci lemari yang ada disana. Bunga mawarnya ku hidu sebentar menikmati aromanya, lalu, ku simpan di atas nakas.


Aku kembali ke kamar mandi untuk membersihkan diri untuk kedua kalinya setelah ashar tadi. Kemudian aku keluar dengan menggunakan pakaian yang aku bawa. Seperti biasa, aku selalu memakai hotpants dan kaos putih oversize yang sudah hampir belel kerahnya. Tapi percayalah hanya dengan kostum ini aku bisa tertidur. Adem.


Ceklek.


Suara pintu terbuka.


"Assalamualaikum," sang pelaku masuk begitu saja. Mendengar suara salam itu. Jantungku mulai deg-degan.


"Waalaikumussalam," jawabku nyaris tak terdengar.


Melihat siapa yang datang, aku sontak menyembunyikan diriku di balik pintu lemari. Malu. Namun aku masih bisa mengintipnya.


Dengan cuek, Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Lalu mengangkat sebelah alisnya dan bertanya, "Sudah rapi?"


Jantungku terasa mau copot mendengar suaranya.


"A-apanya?" Kalau sedang gugup, aku jadi tiba tiba bodoh.


"Kamarnya lah,"


"Udah tau nanya! Memang kamu gak bisa lihat apa?" Ketusku masih di balik pintu.


Aku mengintip lagi dia sebentar. Dia sedang berdiri menyisir ruangan dengan kedua matanya. Seperti aku yang sudah berganti pakaian, dia juga begitu. Dia telah menggunakan Koko pendek putih dengan paduan celana bahan hitam.


"Kamu mau ngapain kesini? Saya gak pake kerudung tau!" Kali ini aku sedikit menaikan volume suara.


"Biasanya juga aku lihat kamu gak pake kerudung kamu biasa-biasa saja,"


"Kali ini beda." Aku mulai beralasan. Jujur saja, sebenarnya aku takut Khafa macam-macam setelah melihat kotak lingerie tadi. Jangan-jangan, itu memang sudah dia persiapkan.


"Beda apanya? Ayo cepet keluar! Mau sampai kamu kapan ngumpet terus?"


"Sampai kamu pergi," jawabku ringan.


"Tapi kamar aku di sebelah, di kuasai Aisyah sama Annisa. Jadi, aku gak bisa tidur disana. aku numpang disini saja ya," jawabnya sambil membanting tubuh ke kasur dihadapannya yang juga ada di hadapanku.


Karena kegugupanku, aku jadi bodoh dan lupa betapa indahnya moment yang telah terjadi diantara kami tadi siang.


"Hah?" Bodohku. Kenapa otakku semakin ngeri melihatnya dia terlentang bersandar pada tumpukan bantal?


Melihat kebodohanku, lelaki yang sudah sah menjadi suamiku itu mengurungkan niatnya untuk beristirahat. Khafa beranjak dari tempat tidur, lalu mengambil sesuatu dari nakas. Perlahan, dia mendekatiku. Jantungku seakan mau lompat keluar.


Tangannya melayang membuka lilitan handuk yang ada di kepalaku. Kemudian untuk pertama kalinya ia memegang kedua pundakku dan memutar badanku jadi membelakanginya. Tubuh ini, kehilangan tenaga untuk menolaknya.


"Rambut sudah kering koq masih di handukin aja, nanti kepala kamu pusing lho," katanya sambil menyisir sedikit demi sedikit rambutku yang sudah terurai.


"Kamu gak lupa kan kalau kita sudah menikah?" Tanyanya. Dia tahu dari dulu, kalau aku ini memang seseorang yang pelupa. Tapi masa, hal sebesar ini aku lupa juga. Tidak mungkinlah.


Aku mengangguk pelan sambil merasakan lembut tangannya menyisir rambutku. Biasanya, kalau rambut di sisir oleh orang lain akan terasa sakit karena akan ada saja yang terjambak. Tapi ini, tidak sama sekali.


"Kamu sudah biasa ya, nyisirin rambut perempuan?"


Ia berhenti menyisiri rambutku.


"Maksud kamu?"


"Suudzon aja." Ia meraih tanganku lalu memberikan sisir dan handuk kepadaku. "Tidak perlu berlatih pada perempuan manapun untuk sekedar menyisiri rambutmu dengan lembut. Karena yang aku tahu, Perempuan itu terbuat dari tulang rusuk, jadi memang harus diperlakukan lembut. Kalau kasar nanti ia bisa patah. Begitupun kamu," jelasnya sambil menekan ujung hidungku di akhir kata-katanya.


Perkataan dan tatapannya sudah seperti cahaya matahari yang mengalirkan pancaran hangat dan menenangkan ke seluruh tubuhku. Tak ubahnya es krim yang meleleh, aku tak berdaya menerima semua itu.


Dari kejauhan aku mendengar sayup suara adzan isya berkumandang. "Rapihin gih, ambil air wudhu kita sholat isya bareng," lanjutnya.


Aku tersenyum tipis dan mengangguk.


Selepas sholat isya, kami sibuk dengan dunia masing-masing. Khafa, sibuk membuka handphonenya. Begitu juga aku, aku mulai tenggelam membuka notebook dan handphone sekaligus.


"Aku ke bawah dulu ya, ada beberapa teman di bawah yang baru bisa datang."


Karena sibuk membalas satu persatu pesan yang masuk dari teman-temanku yang tidak bisa datang. Aku hanya mengangguk mengiyakan tanpa menoleh lagi kepadanya.


Kini, aku mulai membuka notebook. Memindahkan satu persatu Poto dari galery handphone. Setelah selesai aku terketuk untuk membuka seluruh media sosial yang ku punya. Sosial media yang hanya ku tengok saja. Tidak ada yang menarik. Lalu, aku memeriksa e-mail masuk saja. Awalnya aku berpikir bahwa mungkin ada e-mail dari ex relasi ku saat bekerja. Karena masih banyak yang belum tahu kalau aku sudah resign. Jika ada, biasanya aku meneruskannya ke mas Rudy.


Tapi aku menemukan satu e-mail dari nama yang tidak asing lagi buatku.


1 message received from Andra Dewanata.


Aku memberanikan diri untuk membukanya. Dan dengan pelan mulai membacanya.


.


.


.


.


.


Dear Embunku.


Kamu lagi apa?


Aku kangen nanya kayak gitu sama kamu. Tapi kali ini kamu tidak perlu jawab. Aku tidak mau tahu. Terserah, kamu sedang apa. Aku merasa lebih baik ketika aku tidak tahu apa-apa tentang kamu saat ini. Meskipun kenyataannya itu semua, bohong. Karena sebenarnya aku tidak pernah baik-baik saja tanpamu.


Seringkali aku bertanya-tanya, kenapa sih aku harus sayang sama kamu? Kenapa bukan orang lain saja? Kenapa tidak orang yang paling mudah saja aku dapatkan?


Aku telah berkali-kali juga mencoba mencari jawabannya, tapi aku malah tersesat. Lebih parahnya aku malah terjebak pada perasaanku sendiri.


Kamu tahu kan sayang, sudah banyak sekali yang kita lewati, dan itu semakin membuatku sesak. Tapi, aku tidak pernah menyesali seluruh waktumu yang terbuang bersamaku. Terbuang? Mungkin bagimu itu terbuang. Tapi bagiku itu semua tersimpan. Semua waktuku denganmu tersimpan rapi pada ingatanku.


Sayang,


Malam-malam disini terasa berat. Waktu terasa berjalan dengan lambat. Padahal kota ini menyajikan keindahan yang luar biasa. Tapi tetap, disini pekat. Dan yang paling berat adalah, ketika aku menyadari bahwa, tidak adanya lagi senyuman termanis mu dalam hidupku. Mimpi mimpiku, semua semu.


Sayang,


Jangan merasa sia-sia terhadap perasaan yang susah payah kamu bangun untukku ya. Karena itu sebuah anugerah buat ku. Jika boleh meminta, jangan pernah di robohkan lagi. Biarkan rasa itu menjadi bukti bahwa masih ada yang tertinggal dalam kisah kita.


Dan malam ini, aku merindukan mu lagi. Entah keberapa kali. Seberapa keras aku mencoba berhenti. Menyibukkan diri dengan segala aktivitasku. Ku kira ini bisa jadi solusi. Tapi tetap saja rasa itu tak mau pergi. Rindu ini cuma butuh kamu untuk kembali.


Kehilanganmu, bukan hal yang mudah untukku. Kalau bisa, aku ingin sekali berhenti beranggapan bahwa kamu adalah perempuan yang hanya hadir sementara dan meninggalkan sepenggal cerita dalam hidupku.


Tapi aku gagal, semakin aku mencoba melepas mu, semakin aku mau cuma kamu. Cuma kamu yang melengkapi sisa hidupku.


 


Hari ke 57 tanpa dirimu,


At St. Louis, USA


 


Andra Dewanata


 


 


Air mataku berlomba-lomba keluar dari pelupuknya saat kata demi kata aku baca. Bersamaan dengan itu seluruh kenangan berputar kembali di benakku. Terutama saat itu, saat terakhir ku bersamanya.


Sesakmu, sesakku juga Andra. Bahkan tanpa ku sadari, aku telah mengambil keputusan besar dalam hidupku. Secepat ini. Maafkan aku.


Tangisku pecah saat menyadari langkah kaki yang semakin menjauh meninggalkan Andra dalam waktu secepat ini. Aku tergugu menyuarakan isi hati yang terus menerus didera rasa bersalah dan penyesalan. Bukan hanya pada Andra, tapi juga pada Khafa mengingat dosa apa saja yang telah ku lakukan dengan Andra.


Aku larut dalam tangis. Menelungkupkan kepala pada kedua tangan yang melipat dimeja. Tanpa memperdulikan lagi layar notebook yang masih memperlihatkan email dari Andra. Hingga lelah menangis dan perlahan kesadaranku memudar terseret jauh ke alam mimpi.