
Bahkan, jika aku mendonggakkan kepalaku setinggi mungkin pun tidak akan membuat level tinggi ku sederajat denganmu.
πΈπΈπΈ
Andra menghubungi Andrea untuk meminta pertolongan. Tak lama, Andrea datang membawa kami kembali ke villa agar Andra segera mendapatkan pertolongan pertama.
Sesampai di villa, Andra ku tuntun memasuki kamar yang berada tepat di samping kamar utama. Ukurannya lebih kecil dari kamar yang ku tempati. Perlahan aku bantu Andra untuk merebahkan diri. Namun ia menolak dan memilih untuk duduk di sofa yang berada di samping tempat tidur.
"Kak, aku manggil dr. Dadi dulu ya biar datang kesini." Pamit Andrea kepadaku. Namun ternyata Andra mendengarnya.
"Jangan!" Teriak Andra.
"Kenapa? Lo mesti di periksa dia dulu. Biar kita semua bisa pastiin kondisi Lo." Jelas Andrea.
"Gak usah! Gue gak apa-apa. Nanti gue pake obat yang ada di kotak p3k aja. Udah Lo balik aja sana! Jaga rahasia. Jangan sampe ada yang tau gue kayak gini."
Rahasia? Fikirku.
Tidak ingin ikut campur obrolan kakak beradik itu, aku memutuskan pergi ke dapur untuk mengambil keperluan untuk mengompres luka Andra.
"Lo yakin?" Tanya Andrea kepada kakaknya. Aku masih bisa mendengarnya.
"Iya. Udah sana! Sampe jumpa besok." Jawab Andra.
Aku terdiam di ambang pintu dapur yang benar-benar baru pertama kali aku jejaki. Sambil mengedarkan pandangan mencari letak perabot yang bisa aku jadikan bak kompres sementara.
Aku mengigit bibir bawah. Mencoba mengusir resah. Mengingat ketika Andra beranjak hendak memasuki mobil Andrea Ada sebilah pisau terjatuh dari saku celananya. Terdapat bercak darah pada lempengan baja runcing tersebut. Sebenarnya aku berusaha tidak memperdulikan benda itu. Aku yakin itu bukan milik Andra.
"Kak Embun," Andrea memanggilku. Aku menoleh kepadanya yang berada tepat di belakangku. "Aku nitip Andra dulu ya. Nanti malem aku balik lagi."
"Iya." Aku mengangguk berusaha untuk tetap tenang. "Jangan khawatir. Aku akan rawat kakak kamu sampe sembuh."
"Makasih ya kak." Ucap gadis cantik yang merupakan adik Andra itu. Usia mereka hanya terpaut 3 tahun. Itu berarti Andrea dan aku sebenarnya seusia. Tapi aku tak seberuntung Andrea yang terlahir dari keluarga yang berkecukupan.
"Awww....!" Teriak Andra saat aku mulai mengompres memar dan goresan kecil di kening Andra.
"Sakit?"
"Iya lah." Jawabnya sambil meringis.
"Tadi katanya ngga apa-apa."
"Sekarang ngga."
"Kenapa?"
"Air mata kamu yang buat luka ku sakit semua."
"Nyalahin aku."
Hening.
.
.
.
.
.
.
"Embun,"
"Hemm..." Jawabku sambil masih mengompres satu persatu luka di wajah Andra.
"Kamu mau janji sama aku?"
"Aku gak mau sembarangan buat janji. Takut gak bisa tepatin."
Andra tersenyum kecut.
"Janji ya, apapun yang terjadi ga akan pernah ninggalin aku?" Ucapnya dengan raut yang sulit ditebak.
Kenapa Andra tiba-tiba mau aku membuat janji seperti itu? Tanyaku dalam hati.
"Hah? Atas dasar apa aku harus bikin janji kaya gitu sama kamu?"
"Yaudah ganti janjinya. Apapun yang terjadi janji ya, jangan pernah nangisin aku lagi. Aku gak mau kamu sedih."
"Kalau bisa ku tahan juga aku gak akan nangis."
Andra menarik sebelah sudut bibirnya. "Cengeng."
"Apa kamu bilang!?" Kataku sambil meletakkan handuk kecil sembarangan. "Coba kamu fikir! Kalo kamu mati gimana?" Aku menatapnya nanar.
"Hhh.... Makasih udah khawatirin aku."
"Siapa yang lagi khawatirin kamu? Aku lagi khawatirin diriku sendiri tau! Aku gak mau ya tiba-tiba kamu mati di hadapanku terus aku gak bisa berbuat apa-apa. Kalo aku yang disangka bunuh kamu giman----------"
Kalimatku terpotong saat secepat kilat tangan Andra meraih wajahku kemudian mencium bibirku dengan lembut. Membuat aliran darahku seolah-olah lebih cepat mengalir. Denyut jantung berdebar-debar seakan tak mau berhenti. Aku merasakan tubuhku panas dingin sendiri.
Ciuman pertama dalam hidupku telah benar benar terjadi. Air mataku menetes. Tak mampu menolak juga tak bisa menikmatinya. Kemudian Andra menyadari dan melepaskan bibirnya.
Ia menepis tetes air mataku dengan ujung ibu jarinya. Aku mendadak kikuk. Ia menatapku dengan tatapan sangat lembut. Aku hanya bisa menunduk dalam-dalam. Ingin berteriak tapi tak sanggup. Aku menggigit bibir dalam. Menahan untuk tidak menangis berlebihan.
Diam diam perasaan kecewa menyelesup masuk pada sukmaku sendiri. Saat itu, setelah peristiwa nafas buatan dengan Khafa terjadi. Aku berjanji pada diriku sendiri. Bahwa setelah tragedi itu tidak akan pernah ada yang menyentuh bibirku lagi selain suamiku kelak. Tidak akan.
Tapi saat ini aku benar-benar telah mengingkari janjiku sendiri. Apakah aku harus membuat janji yang baru? Ataukah aku harus memaksa takdir untuk menjadikan Andra yang terakhir?
Aku menghela berat. Mengatur nafas perlahan yang mulai terasa sesak.
"I---ni.. minum obatnya sendiri. Aku ke depan dulu." Kataku gugup sambil masih menunduk memberikan satu tablet pereda nyeri. Tak berani membalas tatapan Andra.
Aku beranjak dari samping Andra. Namun tangannya memegang tanganku, menahan ku untuk pergi. "Jangan jauh-jauh. Ini tempat asing buatmu."
Aku memberanikan diri menatapnya sejenak kemudian mengatupkan kelopak mataku tanda mengiyakan pesan Andra. Kemudian berlalu meninggalkannya.
Ku urungkan niatku untuk pergi keluar setelah sayup ku dengar suara adzan Magrib di kejauhan. Aku pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamar. Membasuh seluruh tubuhku dengan kucuran air hangat yang keluar dari kran shower. Setelah itu aku menunaikan kewajibanku.
Tok tok tok...
"Kak, ini aku. Dea." Sayup ku dengar suara Andrea.
Krek!
Aku membuka pintu.
"Aku boleh masuk?" Tanyanya.
Ku buka lebar pintu kamar mempersilahkan Andrea masuk.
Tring..!
Bunyi notifikasi pesan singkat dari handphone ku. Aku lekas mengambilnya.
"Sebentar ya De." Kataku pada Andrea. Lalu mengambil handphone di nakas.
[Kak, koq belum kabarin? Sudah sampai Bandung?] Satu pesan dari ibu.
Astagfirullah aku sampai lupa mengabari ibu. Batinku.
Lalu segera ku ketik balasan pesan ibu.
[Sudah Bu Alhamdulillah. Maaf kakak baru sempat pegang handphone.]
Kemudian aku meletakkan kembali handphone ku.
"Kak, ini dari Andra." Andrea memberikan paper bag berwarna coklat.
Aku menaikan alis. "Andra-nya kan ada. Kenapa ga ngasih langsung?"
Andrea tersenyum. "Ini namanya kerjasama yang baik antara kakak dan adik. Udah kak jangan banyak tanya cepet buka."
Aku menuruti kata-kata gadis cantik itu. Membuka paper bag yang di dalamnya terdapat sebuah gaun hitam nan elegan lengkap dengan sepasang hills bermerk butik ternama di kota Bandung.
"Hemmn.. sudah ku duga. Itu buat acara besok kak. Pake yah. Nanti aku kesini lagi buat kasih kakak make up dikit."
"Ini pasti mahal. Aku gak biasa pake baju ginian."
Andrea membungkuk mengambil sesuatu. "Ini kak, jatuh." Ia memberikan sebuah kartu ucapan. Kemudian aku membukanya.
Aku ingin selalu ada di sampingmu. Ingin selalu menjadi seseorang yang selalu bisa kau andalkan, seseorang yang selalu menjadi alasan dibalik senyuman manismu.
Terima kasih telah mau.
Aku mencintaimu dan itu selalu.
Aku terpejam sejenak kemudian tersenyum miris membaca tulisan tangan Andra yang tertulis pada greeting card. Bahkan tak terasa sudut mataku telah basah.
"Andra apaan sihh... Sweet banget kayak gitu." gumam Andrea sambil melirik tulisan yang aku baca. Lalu ia membuang nafas kasar. "sama aku aja nge-gas Mulu." sambungnya.
πΈπΈπΈ
catatan author : fix Andra bandel ππͺ
maaf ada revisi dikit π
Jangan lupa like, rate and komen terbaik kalian π biar author SEMANGAT. πππ