
"Kamu sadar gak sih kalau aku sama kamu tuh punya banyak kesamaan?" Celetuk Khafa mencairkan kebekuan.
Aku yang sedari tadi sibuk menatap jalanan dari kaca jendela, langsung memandang Khafa yang sesekali juga melirik ke arahku.
"Kesamaan apa?" jawabku balik bertanya.
Khafa memberikan seulas senyuman tulusnya. "Banyak. Sama-sama suka pedes, sama-sama suka kecap, sama-sama suka alam, dan sama-sama selalu gagal move on," ujarnya.
"Memang kamu pernah gagal move on?" Aku bertanya heran. Tidak percaya saja orang macam dia bisa gagal move on. Secara, keimanannya tebal dan tidak mudah putus asa sepertiku.
Khafa mengangguk. "Lebih parah dari kamu malahan," jawabnya begitu serius. Seolah-olah ia sudah melewati fase gagal move on yang paling akut.
"Hah, masa sih. Sama siapa? Gak percaya aku." Aku semakin penasaran.
Khafa tersenyum. "Sama kamu!"
Heleh, kena deh di gombalin!
"Gak lucu." Aku cemberut, lalu, membuang muka darinya. Dia, malah memperbanyak intensitas melirikku sambil mengulum senyum.
Beberapa menit kemudian mobil berhenti di depan ruko milik mama Khafa. Kedatangan kami sudah di sambut senyuman oleh mama yang berdiri di depan resto miliknya yang terlihat dari dalam mobil. Aku segera membuka diri dalam jeratan seat belt.
Baru saja aku mau membuka pintu mobil, Khafa menarik tangan kananku. Hal itu membuat aku sontak menoleh kepadanya.
"Jangan turun sebelum aku bukakan pintunya," pintanya sambil mencondongkan badannya mendekatiku. Dan semakin mengikis jarak wajahnya denganku. Pastinya, jantung ini mulai berdebar-debar. "Masih ingat kan caranya tersenyum?"
Masih Kha, aku cuma lupa bagaimana cara bernapas saat ini.
"Jangan melongo gitu! Ayo senyum!"
Aku menarik napas dalam-dalam, lantas membuangnya perlahan. Telunjuk kanannya menusuk pipi kiri ku kemudian pindah ke kanan.
"Ayyo senyum!" Ucapnya lagi.
Aku mencoba menarik kedua sudut bibirku kemudian membentuknya menjadi seulas senyuman.
"Nah, gitu kan cantik. Gak baik tau sedih lama-lama," ucapnya lagi tepat di hadapanku. Terlalu dekat hingga hembusan napas Khafa terasa hangat di wajahku.
"Ya udah Ayo, mau turun gak sih?" Tanyaku pada akhirnya. Gantian, sekarang malah dia yang terpaku memandang ku.
"Gak mau. Mau disini terus liat senyum kamu," eyelnya. Bahkan dia tidak bergerak sama sekali.
"Kha, nanaonan sih?"
"Wah ngomong apaan tuh?" Dia heran mendengarku berbahasa Sunda. "Jangan ngomong bahasa planet lah!" candanya.
"Makanya ayo cepet turun!" gerutuku.
"Iya deh iya." Akhirnya ia menurut juga. Lalu, Khafa keluar dan membukakan pintu mobil untuk ku.
"Ayo, ndoro putri!" Ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Gak perlu pake sarung tangan nih?" ejekku yang masih membiarkan tangannya terulur.
"Yah nggak lah, buat apa? Ayo!" Elaknya tak sabar.
Aku tersenyum dan menjatuhkan telapak tanganku diatas telapak tangannya. Dalam genggamannya aku merasa jauh lebih kuat. Meski ini bukan yang pertama kali, tapi getaran kasih sayangnya selalu sampai ke dalam hati. Rasanya, nyaman sekali.
"Waktu itu, kamu kenapa sih selalu pake sarung tangan kalo mau megang aku? Memang aku penyakitan apa?" Akhirnya setelah sekian lama aku memendam, aku berani juga menanyakan rasa penasaranku terhadap kelakuannya selama ini padaku.
"Bukan masalah penyakitan, aku cuma takut kena sengatan listrik. Itu lebih membahayakan dari sekedar penyakit yang menular," terangnya.
"Sengatan listrik?" Tanyaku masih belum nyambung dengan maksud Khafa yang sebenarnya.
"Iya, sengatan listrik yang membahayakan tapi tidak mematikan. Malah, bisa buat kita ketergantungan. Dan tanggung jawabnya sampai ke akhirat sana. Paham gak?"
Penjelasan Khafa akhirnya sampai juga di otakku yang semakin hari semakin mumet saja rasanya. Seiring pahamnya aku soal maksud Khafa, aku jadi ingat lagi pada hal-hal apa saja yang telah terlanjur ku lakukan dengan Andra.
Habis gimana? Memang kenyataannya aku pernah melakukan kesalahan dengannya. Dan itu salahku juga yang tidak bisa menjaga kesucian jiwa dan ragaku untuk suamiku kini. Ah, dulu, aku memang terlalu percaya diri dan yakin bahwa Andra yang akan jadi suamiku. Tapi ternyata, begini akhirnya. Penyesalanku tidak berguna.
Aku menghentikan langkahku sejenak. Ada pertanyaan yang ingin sekali aku lontarkan kepadanya soal tanggung jawab itu. Tapi, mengingat jarak kami sudah terlalu dekat dengan ruko aku mengurungkan niatku.
Khafa menghentikan juga langkahnya. Lalu, ia menoleh kepadaku. "Kenapa? Kok berhenti?" Ia bertanya heran namun tetap tenang.
"Gak apa-apa, terus kenapa kamu nggak takut kena sengatan listrik sekarang?" Aku mengelak sekaligus mengalihkan pertanyaan yang ada di kepalaku ke arah yang lain.
"Gak takut lah, malah aku mau mengalirkan sengatan listrik yang lebih dahsyat nanti malam," jawabnya ringan sambil tersenyum jahil.
Aduduh!
Tiba-tiba aku bergidik ngeri mendengar jawabannya barusan. Dan secepatnya menarik tanganku dari genggamannya. Tapi ternyata, kelima jemarinya begitu kuat mengaitkan pada lima jariku. Hingga tak semudah itu bisa terlepas.
"Gak boleh kabur lagi," bisiknya kepadaku. Namun, terdengar seperti sebuah nada peringatan. Tentu saja semakin membuat ku takut dan deg-degan.
Setelah berjalan melewati beberapa table yang berjejer di restoran bergaya tradisioal itu, kami berjalan menaiki tangga. Karena, sibuk dengan obrolan aku dengan Khafa. Mama tiba-tiba hilang dari penglihatan kami. Jadi Khafa memutuskan untuk langsung ke lantai atas menuju rumah tinggal mamanya.
"Assalamualaikum," ucapan Khafa saat menaiki tangga terakhir.
"Waalaikumussalam," jawab mama yang sedang menata minuman untuk kami berdua. Lalu, ia menghampiri kami berdua.
"Jangan repot-repot ma, biasanya aku ambil sendiri kok kalau mau minum," ujar Khafa sambil mencium takzim tangan mamanya. Kemudian setelah itu gantian aku yang Salim. Tapi padaku, mama menghadiahi sebuah pelukan yang begitu hangat.
"Sehat nduk?" tanya mama sambil mengelus lembut punggungku.
Khafa tiba-tiba melirikku dengan tajam. Lho, Kenapa sih?
"Alhamdulillah ma, aku sehat," jawabku. Mama melepaskan pelukannya. "Mama sendiri gimana?" Aku bertanya balik. Kemudian, membawaku duduk di sofa.
"Alhamdulillah, apapun kondisinya mama, ya mama syukuri saja. Namanya orang tua ya, sudah ada saja yang di rasa. Tapi Alhamdulillah. Mama sehat seperti yang kamu liat sekarang," syukur mama. Pribadi dan kata-katanya selalu mampu membuatku tersenyum syukur karena memiliki mama mertua sebaik dirinya.
"Ma, kamarku aman kan? Aku mau nginap ya disini semalam. Besok pagi aku balik ke Jogja sama mantu mama itu, boleh kan?" Khafa meminta izin pada mamanya. Lalu ia mengambil segelas air putih yang telah di sediakan oleh mamanya.
"Sontoloyo, kamar yo aman. Kamu mau tinggal disini juga boleh. Siapa yang mau ngisi kalau bukan kamu le? Sana lihat! Mama sudah minta tolong mbak Yeye tadi pagi untuk beresin," ungkap mama gemas pada putranya.
Setelah berbincang-bincang ringan dengan mama sekitar satu jam Khafa berdiri meraih tanganku. "Istirahat dulu yuk, aku pengen rebahan cape dari tadi nyetir terus." Tumben dia bisa mengeluh.
Aku mengernyitkan dahi tanda memprotes aksi Khafa. Tapi usahaku sia-sia saat mamanya malah mendukung.
"Halah halaaahhh, ya sudah sana nduk temani dulu suamimu itu, jangan lupa sholat Ashar dulu ya," perintah mama.
Di hadapan mama tidak boleh ada aksi brutal sama sekali. Aku harus kemayu dan bertutur kata santun. "Baik, ma, aku ke kamar dulu."
Khafa tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan aku, mulai berpikiran yang tidak-tidak soal aksi Khafa yang meminta istirahat di kamar. Kalau cuma rebahan, kan sebenarnya bisa di sofa juga.
Huh! Dasar modus.
Beruntungnya punya suami Sholeh, begitu beranjak bukannya masuk kamar untuk segera beristirahat, aku malah diminta mensucikan diri dahulu sebelum sholat berjamaah dengannya di mushola kecil yang ada di sudut ruangan rumah mama. Aku menurut saja permintaannya. Toh, ini kewajiban ibadah yang terpenting yang tidak boleh sama sekali di lewatkan. Padahal dulu sebelum menikah dengannya, jujur saja, untuk sholat wajib saja aku masih belang-belang mengerjakannya.
Selesai sholat Khafa kembali pada niat awalnya. Membawaku ke kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan mama kembali ke kesibukannya di bawah mengelola restoran yang pengunjungnya tidak pernah sepi.
Saat Khafa membuka pintu kamar, Indra penciumanku disapa oleh aroma bunga mawar dan sedap malam yang terasa begitu lembut. Cahaya kamar remang dengan hanya menyisakan lampu tidur yang menyala. Gorden yang menjuntai tertutup rapi menyembunyikan cahaya matahari sore yang bersinar menyinari jendela kamar. Sejuknya Air Conditioner juga terasa pas dan nyaman berbanding terbalik dengan suhu di luar sana.
"Apa'an sih mbak Yeye pake di pakein balon-balon begini segala. Emang mau ulang tahun apa?" Gumam Khafa sambil mencari sesuatu di laci. Tidak lama kemudian ia menggunting seluruh balon putih yang menghiasi sisi-sisi ranjang hingga balon itu kini terbang dan menempel di langit-langit kamar. Menurut ku itu malah menjadi pemandangan yang lebih baik dari sebelumnya.
Khafa menghempaskan tubuhnya ke atas kasur setelah menyingkirkan selimut tebal yang menutupi tempat tidurnya. Sedangkan aku masih meraba satu demi satu sudut kamar yang begitu rapi, jauh jika dibandingkan dengan kondisi kamarku. Setelah puas melihat-lihat. Aku kembali menghampiri Khafa di tempat tidur. Dan ternyata dia sudah tertidur. Lelap sekali.
Aihhh! Ternyata dia *****, kawan!
Atau jangan-jangan dia sengaja, tidur sore-sore agar nanti malam dia bisa terjaga lebih lama. Wah, Ancaman!