
Wusshhh...
Tang Xiao muncul di langit malam Kota Paviliun Bintang. Tang Xiao menatap dari atas Kota Paviliun Bintang cukup besar.
Memang, kota Paviliun Bintang salah satu kota paling besar dan maju di dunia. Tidak heran kota ini memiliki sumber daya cukup melimpah serta dilindungi empat orang terkuat di dunia sekaligus mengesampingkan Rangga dan Kakek Lao.
"Keluar..." Perintah Tang Xiao.
Wuushh..
Seorang pria berumur tiga puluhan lebih muncul dan berlutut di depan Tang Xiao.
"Saya akan melakukan seperti yang anda perintahkan tuan besar." Ucap pria itu masih berlutut.
"Yah baiklah. Aku akan berterima kasih jika kamu berhasil." Ucap Tang Xiao perlahan turun diikuti pria itu.
Tap
Tap
Kedua orang itu berjalan dengan tenang diantara orang-orang tanpa ada yang menyadari bahwa ada dua orang yang tiba-tiba turun dari langit dan berbaur dengan mereka.
Tang Xiao dan pria itu berjalan ke pusat kota yang lebih ramai dan melewati alun-alun kota menuju Pendopo Kota Paviliun Bintang. Langkah mereka berhenti di depan gerbang pendopo yang cukup besar. Meskipun sudah malam, gerbang pendopo masih terbuka lebar. Beberapa orang lalu lalang keluar masuk pendopo. Dua orang berseragam petugas berdiri tegap di depan gerbang memegang tombak sebagai senjata.
Salah satu petugas yang melihat Tang Xiao segera menghampiri dan memberi hormat.
"Apa anda ingin masuk? Saya bisa mengantarkan tuan ke dalam." Ucap petugas itu kepada Tang Xiao menawarkan diri.
Mendengar itu Tang Xiao tersenyum lalu mengangguk.
Penjaga itu terlihat senang lalu berjalan masuk gerbang dengan langkah tegap diikuti Tang Xiao dan pria di sampingnya.
"Tuan besar, anda cukup terkenal ternyata." Ucap pria itu berbisik. Tang Xiao mengangguk pelan. Dia juga cukup kaget bahkan penjaga gerbang saja mengenalnya.
Penjaga gerbang itu membawa Tang Xiao melewati beberapa pintu dan ruangan hingga tiba di sebuah pintu yang cukup lebar. Pintu itu dijaga oleh empat orang di ranah Legend. Sepertinya orang di ruangan itu sangat penting hingga penjaganya saja empat kultivator tingkat tinggi.
Penjaga itu berbicara dengan salah satu dari mereka sambil menunjuk Tang Xiao dan pria di sampingnya. Setelah itu, salah satu dari empat penjaga itu masuk ruangan dan tak lama kemudian keluar lalu berbicara dengan penjaga sebelumnya.
Penjaga sebelumnya mendekati Tang Xiao memberi hormat.
"Tuan, hanya sampai di sini saya mengantar anda. Di dalam para tetua telah menunggu anda, saya harus kembali ke tempat saya." Ucap penjaga itu.
"Baiklah terima kasih." Jawab Tang Xiao sambil memberi satu botol giok. Penjaga itu menerima dengan tangan gemetar. Meskipun tidak tahu isinya, dia yakin bahwa itu adalah sesuatu yang berharga.
Tang Xiao dan pria itu berjalan masuk ruangan yang pintunya telah terbuka. Setelah Tang Xiao masuk, pintu ditutup oleh empat penjaga tadi.
Sebuah ruangan yang luas. Beberapa kursi tertata rapi dilengkapi dengan aksesorisnya. Di sana telah berdiri delapan orang pria dan wanita. Mereka adalah Empat Ketua Paviliun Bintang, utusan Sekte Bintang Kejora, Sekte Rembulan Emas serta Raja dan Ratu Kerjaan Nusantara.
Kedelapan orang itu terkejut saat melihat Tang Xiao dan seorang pria yang mereka kenali namun tidak tahu namanya.
Kedelapan orang itu segera berjalan buru-buru menghampiri Tang Xiao dan pria itu. Setelah dekat, kedelapan orang itu itu menunduk setengah badan ke pria di samping Tang Xiao.
"Selamat datang tuan penyelamat di tempat kami." Ucap kedelapan orang itu bersamaan.
"Namaku Ryu, dan ini murid istimewaku, tentu kalian telah mengenalnya." Ucap pria itu bersandiwara.
Kedelapan orang itu terkejut mendengar ucapan Ryu yang tidak mereka sangka. Kedelapan orang itu mengangguk paham.
Lalu Ketua Victor mempersilahkan Tang Xiao dan Ryu untuk duduk di kursi empuk yang telah tersedia. Kedua orang itu di persilahkan duduk di kursi utama.
"Maafkan kami tuan Ryu tidak bisa menyambut dengan semestinya. Kami tidak menyangka anda sendiri yang mendatangi kami." Ucap Victor memulai basa-basi. Ketua Han mengisyaratkan para pelayan membawa hidangan.
"Tidak masalah, aku tidak perlu penyambutan seperti itu. Tujuanku ke sini adalah untuk berbicara mengenai tiga orang muridku." Ucap Ryu santai. Dia sebelumnya telah diberi instruksi oleh Tang Xiao untuk berbicara santai dan menganggap Tang Xiao adalah benar-benar muridnya.
Beberapa pelayan datang membawa hidangan yang cukup mewah dan beraroma lezat lalu dengan sopan meletakkannya di atas meja di depan mereka.
Ketua Victor dan lainnya terdiam sejenak mendengar ucapan Ryu. Mereka tidak berani menyela ucapannya.
"Kalian tentu sudah bisa menebak siapa mereka. Namun lebih baik aku beritahu secara langsung agar kalian yakin. Muridku yang pertama adalah Tang Xiao. Meskipun yang paling muda, namun kekuatannya jauh melebihi yang lain. Yang kedua adalah Andri dan yang terakhir adalah Jessika. Mereka semua adalah satu-satunya muridku." Ucap Ryu mencoba menjelaskan siapa dirinya di hadapan Victor dan yang lainnya.
Victor dan lainnya sedikit terkejut mendengar penjelasan Ryu. Mereka kini dapat memahami bagaimana kekuatan ketiga orang yang disebut tadi cukup mengerikan di usia mereka yang terbilang masih remaja.
"Silahkan dinikmati tuan Ryu. Maaf hanya ini yang bisa kami suguhkan ala kadarnya." Victor mempersilahkan Ryu dan Tang Xiao mencicipi hidangan di depan mereka kemudian mendahului mengambil hidangan.
Mereka pun berbincang-bincang sesaat sambil menikmati hidangan yang disajikan.
"Sebenarnya tujuan saya ke sini berhubungan dengan ketiga murid saya yang akan pergi ke akademi sekte atau kerajaan yang telah ditentukan...." Ryu menghentikan ucapannya.
Ketua Victor dan yang lainnya menahan nafas dan penuh penasaran. Di benak mereka apakah ketiga orang itu dijadikan satu akademi atau dijadikan tetua yang lebih tinggi di akademi. Berbagai macam perkiraan terlintas di benak mereka mengenai apa yang hendak dikatakan pria di depannya ini.
"Mohon maaf sebelumnya.." Ucap Ryu..
"Saya tidak bisa mengikutkan ketiga murid saya ke akademi sekte atau Kerajaan yang telah ditentukan. Saya sendirilah yang akan melatih ketiga murid saya. Bagaimana?" Lanjut Ryu..
Namun jika dipikirkan lagi, ketiga jenius tersebut memiliki seorang guru yang jauh lebih hebat dari siapapun yang mereka temui di dunia ini. Tentu saja dengan adanya guru itu, masa depan mereka tidak terbatas. Toh mereka bertiga adalah penduduk dunia ini. Dan jika dipikirkan lagi, mereka berdelapan memiliki hutang budi dan hutang nyawa terhadap pria di depan mereka sehingga mereka tidak bisa membantah perkataan penyelamat mereka. Toh mereka masih bisa berdiri dan bernafas sebab pertolongan pria bernama Ryu ini.
Dan jika dipikirkan lagi, siapa juga yang mau menolak permintaan seseorang yang bisa menghajar sepuluh orang Demi God hingga tak mampu bergerak hanya dalam beberapa tarikan nafas saja.
Dengan pemikiran seperti itu, akhirnya mereka berdelapan memutuskan menerima permintaan penyelamat mereka ini dengan senang hati.
"Oh tenang saja aku tidak meminta secara gratis, aku akan memberikan hadiah yang cukup bermanfaat untuk kalian." Ucap Ryu lalu memberi isyarat untuk membersihkan meja di depan mereka dari peralatan makan.
Wusshh..
Ryu mengibaskan tangannya ke atas meja yang telah dibersihkan. Muncullah berbagai macam barang yang memenuhi meja di depan mereka.
Mulai dari botol-botol giok, senjata-senjata tingkat Dewa, permata energi, tumbuhan-tumbuhan langka, dan perkamen-perkamen jurus-jurus tingkat dewa.
Ketua Victor dan lainnya terbelalak hingga terbangkit dari duduknya saat melihat benda-benda di depan mereka. Bagaimana tidak, aura yang keluar dari benda-benda tersebut membuat mereka sesak nafas. Belum pernah mereka melihat benda-benda itu apalagi memilikinya.
"Ehem bagaimana kopensasinya ini, apakah masih kurang?" Ucap Ryu menyadarkan delapan orang yang masih berdiri di depannya ini.
"Oh..." Seloroh kedelapan orang itu begitu sadar dari keterkejutannya. Mereka salah tingkah dan segera duduk sambil menata sikap serta pakaian mereka lalu mencoba bertingkah elegan seperti sebelumnya.
"Eheem... Jika begini, tidak mungkin kami menolaknya, tuan Ryu." Ucap ketua Victor sambil tersenyum lebar menutupi kecanggungan suasana. Yang lainnya mengangguk membenarkan ucapan Victor.
"Baiklah.. Setiap botol giok ini terdapat sepuluh buah pil tingkat rendah, namun jika kalian meminumnya satu biji pil, maka itu sudah cukup untuk meningkatkan kultivasi kalian hingga ranah Immortal tahap awal. Satu lagi, meningkatkan hingga tahap dua, satu lagi meningkatkan tahap akhir. Namun ketika sudah mencapai tahap akhir, pil-pil ini sudah tidak berharga dan berilah ke orang yang membutuhkan di tempat kalian masing-masing. Ingat jangan serakah." Ucap Ryu santai seolah hal itu sudah biasa. Namun tidak dengan ketua Victor dan lainnya. Hampir-hampir saja mereka muntah darah mendengar penjelasan pria penyelamat mereka ini.
Ryu kembali menjelaskan barang-barang yang dikeluarkannya satu persatu dengan gampang seolah barang-barang itu tidak berharga sama sekali untuknya.
Beda dengan ketua Victor dan lainnya, mereka tidak dapat lagi berkata. Mulut mereka telah jatuh ternganga terbuka lebar. Ingin sekali mereka menangis muntah darah berkali-kali mendengar setiap penjelasan Ryu yang sebentar lagi barang-barang itu akan menjadi milik mereka.
Akhirnya Ryu sampai pada penjelasan terakhirnya yaitu tanaman-tanaman herbal yang berusia lebih dari ratusan tahun.
......................
Kedelapan orang itu terduduk lemas di kursi mereka masing-masing, terkejut dengan apa yang ada di depan mereka. Bahkan dalam mimpi pun, mereka tak pernah berharap mendapat barang-barang itu.
Namun kini, mereka mendapat barang-barang dengan percuma tanpa susah payah. Terlebih setiap dari jenis barang itu, setiap dari mereka mendapatkan sepuluh barang.
Perasaan mereka bercampur aduk, antara bahagia maupun takut. Satu jenis harta yang ada di depan mereka saja, sudah mewakili kekayaan sekte yang saat ini mereka miliki. Takut jika harta-harta itu terdengar ke telinga orang lain, bisa jadi akan ada pertumpahan darah besar-besaran untuk memperebutkannya.
Wusshh..
Kedelapan orang itu menyimpan barang-barang jatah mereka ke dalam cincin ruang masing-masing. Dengan adanya barang-barang itu, kerja sama mereka semakin dipererat. Mereka juga bersyukur dan tak henti-hentinya berterima kasih telah memberikan barang-barang tak ternilai harganya itu.
Victor dan lainnya duduk dengan tenang di kursi mereka setelah mengantar Ryu ke depan gerbang. Mereka berdelapan berbincang-bincang hangat dan semakin akrab. Setiap orang berseri-seri wajahnya.
"Yang paling beruntung tentu saja Yang Mulia Raja dan Ratu." Sela tetua Zumen di tengah-tengah percakapan mereka.
"Ahahaha mungkin sebagai ganti dari Putriku tidak bisa mendapat nak Tang Xiao." Balas Raja sambil terkekeh. Yang lain pun ikut terkekeh.
"Tapi sebentar..." Sela Victor.
"Apa ada diantara kalian yang melihat tuan Ryu mengenakan cincin ruang?" Tanya Victor kemudian. Mendengar itu, yang lainnya terdiam.
"Apa itu berarti tuan Ryu menggunakan penyimpanan jiwa?" Gumam tetua Chu diikuti anggukan kepala yang lain.
"jadi apa identitas tuan Ryu, dan kenapa kita tidak pernah mendengar beritanya sebelumnya?" Pertanyaan itu membuat mereka terdiam dan sekaligus menjadi kata-kata penutup pertemuan mereka kali ini lalu kembali ke kamar mereka masing-masing untuk istirahat. Seharian ini dari pagi hingga malam, mereka benar-benar dibuat capek. Capek terkejut.
......................
Sementara itu Tang Xiao dan Ryu keluar dari Pendopo Paviliun Bintang sambil bercakap-cakap.
"Tuan, sepertinya barang-barang rongsokan anda akhirnya bisa bermanfaat buat orang lain." Ucap Ryu.
"Yap betul. Kapan-kapan akan aku cari orang lain yang mau menerima barang rongsokanku. Baiklah tugasmu sudah selesai, kamu boleh pergi. Terima kasih sebelumnya" Ucap Tang Xiao.
"Baik tuan besar, saya senang bisa membantu tuan besar. Saya pamit dulu." Balas Ryu sambil berlutut lalu menghilang.
Tang Xiao hanya geleng-geleng melihat sikap Ryu. Dan diapun menghilang dari tempatnya.
Wusshh...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Guyss...
Hari ini tepatnya malam ini adalah sepuluh syuro, saya kebanjiran jajan dari adek-adek di asrama. Belum lagi mayoran barusan, benar2 membuat saya tak bisa berdiri karena kenyang.
Ah author mau istirahat dulu🤗🤗
Sedikit quotes malam ini "Nggak ada laki-laki miskin di mata perempuan yang tulus dan nggak ada perempuan jelek di mata laki-laki yang serius"