
"Ketua, apa yang terjadi pada anda?" Tanya wakil ketua yang melihat kondisi ketuanya terlihat tidak baik-baik saja ketika melihat bulu burung berwarna hitam. Terlihat bahwa ketua mereka merasa trauma dan stres melihat hal itu.
"Mati. Kita bisa mati jika terus menyelusuri lorong ini." Jawak ketua mereka terlihat panik.
"Ada apa sebenarnya ketua? Kenapa kita tidak bisa menelusuri lorong ini. Dan bulu apa itu?" Tanya wakil ketua mendekati ketuanya. Sedangkan anggota yang hanya berjaga di sekitaran sambil melihat ketua mereka yang shok.
"Kalian... Kalian mungkin tidak tahu ini bulu apa. Tapi aku masih mengingatnya dengan jelas. Saat itu..." Laki-laki paruh baya itu menghentikan suaranya dan mengambil nafas beberapa kali.
"Bulu ini adalah bulu dari Gagak Penguasa Alam Baka." Ucap ketua mereka itu singkat. Tidak menceritakan detail mengenai dia bisa mengenal bulu itu.
"Apa? Itu tidak mungkin ketua. Gagak Penguasa Alam Baka berada di Peach Blossom Woods mustahil bisa berada di sini." Balas wakil ketua itu mencoba mengangkat ketuanya agar bisa berdiri.
"Awalnya aku berpikir begitu. Tapi tidak kah kamu lihat Mythical Beast tingkat sembilan yang telah menjadi udead ini bisa mati dengan bekas luka yang mengerikan. Siapa lagi yang mampu membunuh Mythical Beast tingkat sembilan puncak dan hanya meninggalkan satu bulunya selain Gagak Penguasa Alam Baka." Balas laki-laki paruh baya dan perlahan berdiri dibantu wakil ketua.
Wakil ketua itu tampak berpikir menganilisis keadaan yang sedang terjadi.
"Jika begitu, berarti ada sesuatu yang mrmbuatnya tertari di gurun ini sehingga dia meninggalkan sarangnya." Gumam wakil ketua itu kemudian sambil membopong ketuanya yang berjalan lemah menjauhi mayat singa yang telah mati.
"Jika begitu, seharusnya Gagak Penguasa Alam baka itu sedang dalam masa pemulihan diri dan dalam keadaan lemah setelah melawat singa undead itu." Ucap wakil ketua itu lalu mendudukan ketuanya ke dinding lorong agar mempermudah mengalirkan energinya ke ketuanya.
"Tetap saja kita bukan tandingannya sekalipun itu adalah aku. Saat itu Gagak itu baru saja menjadi Mythical Holy Beast Half Saint tingkat sembilan awal, ketika sekitar lima orang kultivator ranah Holy Ancestor bintang satu dan dua, salah satunya adalah aku serta lima kultivator ranah Saint Expert mendatangi Gagak itu di sarangnya dan menantangnya berduel. Awalnya kami pikir Gagak itu sedang dalam kondisi lemah karena baru saja menerima cobaan Petir Surgawi sewaktu menjadi Half Saint, namun perkiraan kami salah. Kekuatannya benar-benar dahsyat. Di sudah mampu menguasai alam sekitarnya sampai tahap tertentu. Seluruh kultivator yang datang waktu itu mati di tangan Gagak Penguasa Alam Baka kecuali aku. Gagak itu membiarkanku hidup setelah melihatku berhasil melewati sekarat. Gagak itu dengan suara yang menggelagar bak guntur berkata padaku "katakan pada manusia serakah sepertimu bahwa tidak ada jalan bagi mereka untuk membunuhku." Dengan suara yang menggelegar dan mekutkan itu, aku menjadi tidak sadarkan diri dan ketika aku membuka mata aku sudah berada di jalan raya dekat dari hutan tempat aku melawan Gagak itu." Cerita laki-laki paruh baya itu sambil memejamkan matanya menikmati energi yang ditransfer oleh wakilnya.
Wakil ketua itu terdiam. Dia tidak habis pikir bahwa ketuanya itu pernah berhadapan langsung dengan Mythical Beast paling mengerikan di benua Land Of Dead. Dia merasa kagum pada ketuanya karena menantang orang yang jauh lebih kuat darinya meskipun taruhannya nyawa.
"Kejadian yang sudah berlalu puluhan tahun itu seolah baru-baru saja semua itu berlalu. Seolah seluruh hidupku adalah pemberian Gagak itu dan bisa diambilnya kapan saja. Selama itu pula aku telah berlatih keras agar bisa menjadi sangat kuat dan menundukan Gagak itu suatu hari nanti.
Namun ketika merasakan energi yang ada di bulu Gagak tadi, aku merasa dia sudah naik ketahap akhir tingkat sembilan dan hanya menunggu hari saja Gagak itu naik ke tingkat sepuluh dan menjadi Mythical Holy Beast." Gumam laki-laki paruh baya itu membuka matanya.
"Memang benar-benar mengerikan jika ada Mythical Holy Beast yang masih berada di tingkat sepuluh." Gumam wakil ketua itu. Semua kultivator di dunia ini tahu bahwa Mythical Beast pada umumnya haruslah berada di tingkat sepuluh untuk menjadi Mythical Beast Half Saint. Jika Mythical Beast Half Saint hendak naik menjadi Mythical Holy Beast, mereka harus menerima cobaan Petir Surgawi sepuluh tingkat.
Namun ada beberapa Mythical Beast yang tidak mengikuti aturan itu karena keturunan darah mereka yang benar-benar kuat atau karena takdir mereka sendiri. Salah satunya adalah Gagak Penguasa Alam Baka. Namun orang-orang tidak bahwa Gagak itu bisa menjadi Mythical Beast Half Saint tingkat sembilan awal karena keturunan darahnya yang murni. Bahkan Gagak itu sendiri tidak tahu bahwa darah ditubuhnya adalah sesuatu yang sangat kuat dan merupakan darah para Penguasa Surga.
"Ketua, apa selanjutnya yang akan kita lakukan?" Tanya wakil ketua yang sudah melihat ketuanya dalam keadaan telah dalam kondisi sebelumnya.
Laki-laki paruh baya itu melihat wakil ketua yang selalu setia padanya. Dia juga memandang para anggotanya yang sedang melihatnya dalam keadaan cemas.
"Sudah sejauh ini kita melangkah dan kita belum mendapat apa-apa selain Kristal energi tingkat lima yang lumayan. Namun itu masih belum cukup untuk apa yang telah terjadi sejak kita melangkah ke gurun ini. Jadi kita akan terus melanjutkan perjalanan kita menelusuri lorong ini." Ucap mantap laki-laki paruh baya itu bangkit dari duduknya memandang seluruh anggotanya yang tersisa.
"Kalian tidak perlu takut akan bertemu dengan Gagak itu. Aku pernah bertemu dengannya sekali, dan kali ini aku yakin akan bisa berbicara dengannya baik-baik." Ucap yakin laki-laki paruh baya itu sedangkan dia sendiri tidak yakin.
Laki-laki paruh baya itu mendekati mayat singa sepanjang enam meter dan lebar empat meter itu lalu menyedotnya ke dalam cincin ruang miliknya.
Para anggota lainnya melihat hal itu menjadi semangat. Setidaknya saat ini mereka memiliki mayat seeokor Mythical Beast tingkat sembilan puncak. Tentu saja harganya tidak dapat dibandingkan dengan kristal energi tingkat lima yang mereka ambil kecuali kristal energi itu sebanyak gunung kecil.
Dengan langkah pasti dan jantung penuh debaran, laki-laki paruh baya itu melangkahkan kakinya menelusuri lorong panjang di depannya. Di belakang telah mengikuti para anggotanya.
Setelah berjalan sekitar satu kilo meter, tiba-tiba pria paruh baya itu merasakan sebuah aura yang sangat kuat terpancar dari dalam lorong. Dia menghentikan langkah anak buahnya dan menuyuruh mereka mundur secara perlahan. Laki-laki itu memandang ke depan namun dia tidak melihat apa-apa selain lorong yang gelap yang hanya di terangi sedikit cahaya.
Pria paruh baya itu menjadi kaget saat melihat satu cahaya bersinar terang menerangi lorong hingga ke tempatnya berdiri. Cahaya mencorong itu memperlihatkan beberapa tenda dengan ukuran cukup besar serta dua orang pemuda yang sedang berdiri. Salah satu dari pemuda itu sedang memegang kipas yang tidak terlalu jelas warnanya. Namun Pria paruh baya itu tahu, bahwa sinar yang mencorong tadi keluar dari kipas yang ada di tangan pemuda berambut biru yang lebih tinggi dari pemuda di depannya.
Pria paruh baya itu tidak bisa melihat orang-orang yang ada di lorong jauh di depannya begitu cahaya mencorong itu redup kembali. Dia lalu menoleh ke arah anggotanya yang juga melihat apa yang dilihatnya.
"Sepertinya mereka adalah kelompok pertama yang masuk ke sini." Gumam wakil ketua sambil memegang dagunya.
"Apa mereka tidak bertemu dengan Gagak Penguasa Alam Baka? Atau Gagak itu tidak tertarik dengan mereka?" Gumam ketua mereka manggut-manggut.
Laki-laki paruh baya itu mencoba mempertajam pendengarannya, namun sayangnya semua itu tidak berarti sama sekali. Seolah pembicaran orang-orang kelompok pertama itu memblokir semu berbagai macam bentuk pengupingan.
"Apa rencana kita selanjutnya ketua?" Tanya wakil ketua.
"Sebaiknya kita menyusul mereka dan mengikuti rombongan mereka." Jawab laki-laki paruh baya itu tegas.
"Bagaimana jika mereka bukan orang baik?" Tanya wakil ketua itu lagi.
"Aku tidak merasakan mereka adalah orang jahat, bahkan sebaliknya energi yang mereka keluarkan begitu elegan dan murni. Terlihat mereka adalah keluarga Kekaisaran atau Kerajaan besar dari benua lain." Jawab laki-laki paruh baya itu.
"Bagaimana jika mereka menolak kita?" Tanya wakil ketua itu lagi.
"Kita bisa berjalan sendiri." Jawab singkat laki-laki paruh baya itu yang terlihat jengkel kepada wakil ketuanya karena terlalu khawatir.
"Baik ketua." Jawa wakil ketua diikuti anak buahnya.
......................
"Sekarang kembalilah ke dalam kipas." Ucap Denas kepada Wulan yang langsung berubah menjadi asap putih lalu masuk ke dalam kipas.
Kipas yang semula terasa berat seperti gunung, kini terasa ringan seperti kapas. Jauh lebih ringan dari kipasnya sebelumnya.
Denas mengayun-ayunkan kipas barunya dan dia terlihat jauh lebih cocok mengenakan kipas itu. Dia menghentikan permainan kipasnya saat melihat sekelompok orang sedang berjalan ke arah mereka.
Kelompok itu dipimpin oleh seorang laki-laki paruh baya yang berada di ranah Holy Ancestor bintang tiga. Kelompok yang cukup kuat, pikir Denas.
"Permisi tuan-tuan." Ucap ramah laki-laki paruh baya itu lalu menyalami Tang Xiao dan Denas.
"Ternyata sudah ada kelompok yang menyusul." Gumam Tang Xiao pura-pura kaget.
Laki-laki paruh baya itu mengangguk sopan. "Ya tuan. Bahkan mungkin ada beberapa kelompok lagi yang akan menyusul." Balas laki-laki paruh baya. Tang Xiao hanya mengangguk seakan telah mengerti maksud laki-laki paruh baya.
"Oh iya tuan. Nama saya Kevin ketua kelompok ini dan ini wakil saya, Putra. Kami berasal dari Benua Land Of Soul." Ucap laki-laki paruh baya itu memperkenalkan dirinya dan anggotanya yang lain.
"Nama saya Tang Xiao dan ini adik keempat saya Denas kami berasal dari benua ini. Seperti yang paman lihat, kelompok yang lain sedang berada di dalam tenda." Balas Tang Xiao ramah sambil menunjuk tiga tenda yang berdiri berjejer.
Laki-laki paruh baya yang bernama Kevin itu mengangguk pelan. Dia mencoba memeriksa tingkat kultivasi orang-orang yang ada di dalam tenda namun tidak ada yang lebih tinggi dari dua pemuda ini.
"Tidak kah tuan-tuan bertemu seekor Gagak hitam besar ketika masuk ke sini?" Tanya Kevin yang mulai mencari kebenaran tentang bulu Gagak yang berada di samping Singa yang telah mati.
"Tidak tuan. Ketika kami ke sini, kami hanya bertemu dengan seekor singa bersurai emas dan berhasil kabur darinya." Jawab Tang Xiao polos.
"Hemm... Begitu ya. Apa mungkin kalian merasakan adanya pertarungan setelah kalian melewati singa itu?" Tanya Kevin lagi.
"Ada tuan. Pertarungan itu terasa dahsyat sampai-sampai getarannya dapat kami rasakan." Jawab Tang Xiao lagi pura-pura merinding.
"Hemm... Kalo begitu sudah jelas." Gumam Kevin kemudian.
"Jelas apa tuan?" Tanya Tang Xiao pura-pura polos.
"Oh tidak-tidak." Kevin tergagap. "Kami akan melanjutkan menelusuri lorong ini lagi." Lanjutkan Kevin. Kemudian dia menyalami Tang Xiao dan Denas diikuti sekuruh Aanggotan baru kemudian melewati Tang Xiao dan Denas masuk ke lorong lebih dalam.
"Ketua, apa anda percaya dengan yang dikatakan pemuda tadi?" Tanya Putra di perjalanan.
"Mau tidak percaya kita tidak punya alasan." Jawab Kevin santai.
"Kita tidak jadi mengikuti kelompok mereka ketua?" Tanya Putra lagi.
"Apa kamu tidak sadar percakapan tadi terasa membosankan mereka berdua?" Jawab Kevin yang dibalas dengan pertanyaan balik. Putra terdiam.
"Terlebih pemuda yang bernama Denas. Dia seolah tidak suka kita mengganggu perbincangan mereka berdua." Lanjut Kevin sambil melihat-lihat relief yang baru dilihatnya terukir di dinding lorong.
Sementara itu Tang Xiao berbicara dengan Gagak yang ada di atas kepalanya.
"Gagak kecil, pergilah temani kelompok tadi. Lindungi mereka semampu yang kamu bisa. Jika tidak bisa segera beritahu aku. Kelompok selemah itu hanya akan menghantarkan nyawanya ke sini." Ucap Tang Xiao.
"Baik master dengan senang hati." Ucap Pipit kecil itu lalu terbang dari kepala Tang Xiao tanpa perlu mengepakkan sayapnya.
"Kakak keempat, gagakmu itu terlalu malas ya." Ucap Denas yang melihat pipit kecil itu terbang tanpa mengepakkan sayapnya.
"Hahaha.. Mungkin dia sudah tua dan bulu-buku sayapnya sudah kendor." Ucap Tang Xiao.
"Master, saya masih mendengar pembicaraan kalian berdua." Ucap pipit kecil itu dari jauh.
"Pfftt.. Kakak ketiga, biarkan aku goreng saja gagak itu." Celoteh Denas membuat wajah seram. Pipit kecil yang terbang malas-malasan itu langsung melesat sambil mengepakkan sayapnya saat mendengar ucapan Denas.
"Kakak ketiga, mau menemaniku untuk mencoba kipas baru ini?" Tanya Denas sambil memandang Tang Xiao penuh harap.
"Huff.... Adik keempat ekspreksimu tidak seperti orang yang sedang mengajak." Jawab Tang Xiao agak geli dengan ekspreksi Denas.
"Hehe" Denas tersenyum lebar. "Bukanlah ajakan tapi sebuah permohonan." Balas Denas.
"Oke tidak masalah. Bagaimana cara bermainnya?" Tanya Tang Xiao setelab berpikir sesaat.
"Begini kak, kku akan menggunakan kekuatan maksimal dari kapas ini sedangkan kakak harus melawan dengan maksimal juga. Anggap saja jika kakak tidak melawan maka nyawa adalah melayang." Jawab Denas santai.
"Setuju aja. Tapi kakak hanya akan menggunakan sedikit kekuatan namun akan melawan dengan maksimal." Ucap Denas lalu menyegel kultivasinya hingga ke ranah Warrior bintang satu.
Denas tampak terkejut. "Tidak masalah kak sampai segitunya. Ini taruhamnya nyawa loh." Ucap Denas yang tidak tega.
"Tenang saja. Bahkan jika aku menyegel semua kultivasiku kamu masih tidak akan memapu menyentuh sehelai rambut. Kemenangan seseorang bukan dilihat dari tingkat kultivasinya." Balas Tang Xiao santai.
"Oke kata-kata yang menarik. Mari kita buktikan apakah benar." Balas Denas yang sudah mempersiapkan dirinya.
Wushhh..
Sekejap mata Denas telah berada di depan Tang Xiao dan mengayunkan kipasnya ke leher Tang Xiao yang langsung dihindarinya dengan cepat pula. Namun sayangya itu hanya serangan tipuan. Saat masih di udara dan melayang di depan Tang Xiao, Denas mengeluarkan tenaga dalamnya ke kipas yang langsung mengeluarkan api dan hendak melalap wajah tampan Tang Xiao.
Sebelum api yang keluar dari kipas itu mengenai muka tampan Tang Xiao, dia sudah memutar badannya di udara dan kakinya dengan kuat menendang pergelangan tangan Denas.
Wushh...
Tendangan kaki itu mengenai udara kosong saat Denas terlebih dahulu menarik tangannya dan melompat mundur.
"Hem... Seperti yang diharapkan dari kakak ketiga. Tapi ini belum dimulai." Ucap Denas tersenyum.
"Sebentar." Ucap Tang Xiao menghentikan Denas yang hendak menyerangnya lagi.
"Sebaiknya jangan di sini kita latihan akan mengganggu anggota yang sedang istirahat." Lanjut Tang Xiao sambil menunjuk tiga tenda di dekat mereka.
"Oh iya kak hampir lupa. Lalu dimana seharusnya?" Tanya Denas meminta pendapat Tang Xiao.
"Ke lorong sebelumnya aja. Di sana sudah kosong." Jawab Tang Xiao yang langsung melompat ke lorong sebelumnya. Dengan cepat Denas mengikuti Tang Xiao dari belakang.
Tap Tap
Kini Denas dan Tang Xiao kembali berhadap-hadapan. Tatapan mereka tajam saling menatap yang lain, seolah seperti seekor Rajawali langit yang sedang mengintai mangsanya di bawah.
Wusshhh...
Denas kembali menyerang Tang Xiao dengan cepat dan gesit. Kali ini dia benar-benar menampakan kecepatannya yang luar biasa dan kekuatannya yang tidak dapat diremehkan.
Tang Xiao lebih banyak menghindar dari pada menyerang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hemm... Ngantuk bngt... Cuman bisa segini😪😪😪😪😪😪😪😪😪😪😪😪😪😪😪😪😪😪😪😪😪😪😪😪😪