The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 55. SENYUMAN DENAS



"Anak muda jangan coba-coba menipu kami. Sekalipun kamu adalah tuan muda keluarga besar Kekaisaran Maurya kami tidak sega-segan membunuhmu." Ancam salah seorang pria bertopeng hitam sambil menodongkan senjatanya ke leher Hendra. Hendra sudah sangat ketakutan melihat pisau perak itu melukai lehernya sedikit, darah sedikit mengalir dari luka itu.


"Be..benar tuan. Asalkan tuan melepas saya dan anggota, akan kami berikan harta dan wanita muda itu." Jawab Hendra menggigil sambil melepaskan cincin ruang dari jarinya. Keseluruh pengawalnya sudah tumbang dan tak berdaya.


"Cincin berisi mantra yang hanya bisa saya aktifkan. Tuan tidak akan mendapat apa-apa jika membunuh saya." Ucap Hendra sambil menyerahkan cincinnya ke tangan pria bertopeng hitam di depannya.


Pria itu menerima dan memeriksa cincin pemberian Hendra dan menemukan bahwa cincin itu memang memiliki mantra jiwa yang khusus dibuat untuk mengenal jiwa sang pemiliki cincin.


"Cincin ini pasti memiliki sesuatu yang sangat berharga di dalamnya. Bahkan ranah Holy Ancestor tidak dapat mengurai mantra di cincin ini kecuali pemiliknya." Gumam pria bertopeng itu takjub.


"Baiklah sekarang lepaskan mantra ini dan kalian bisa pergi kecuali gadis muda itu." Ucap dingin pria bertopeng itu sambil memandang Silvie penuh nafsu.


"Ba..baik.. Tapi berjanjilah akan melepaskan nyawa kami." Ucap Hendra takut-takut.


"Cih... Nyawa rendah kalian tidak pantas mengotori pedang kami. Tidak mungkin kalian masih hidup jika kami ingin membunuh kalian." Ucap pria bertopeng itu mengancam dan mengeluarkan aura membunuhnya.


"Ba.. baik tuan..." Ucap Denas lalu mengambil darah yang keluar dari luka di lehernya kemudian mengoleskannya ke permukaan cincin yang dipegang pria bertopeng.


Mantra pemgenal itupun terurai sedikit demi sedikit dan menghilang tanpa tersisa. Setelah itu Hendra dan para pengawalnya pergi kecuali Silvie dan kakeknya.


"Hoo.. Kakek tua. Sepertinya kamu tidak rela jika cucumu pergi dengan kami. Apa kamu mau mati?" Ancam pria bertopeng di ranah Ancestor sambil mengeluarkan aura membunuhnya mencoba menekan kakek Lao.


Kakek Lao yang dari tadi diam dan tidak bertindak apa-apa tiba-tiba melebarkan matanya da tersenyum mengejek.


"Hoo.. Organisasi Black Assasin tidak tahu sedang berurusan dengan siapa." Suara dingin kakek Lao ibarat seperti badai angin yang menghepas apa saja.


Hanya dengan menggunakan tekanan dari suaranya sudah membunuh orang-orang bertopeng di ranah Saint ke bawah dan menyisakan pria bertopeng ranah Ancestor yang terduduk dan ketakutan itu.


"Apa?.. Apa ini. Apa yang terjadi? Siapa kamu? Bagaimana kamu tahu organisasi kami? Tidak mungkin, ini tidak mungkin." Teriak orang bertopeng itu menggigil ketakutan saat melihat seluruh anak buahnya telah mati tanpa terlihat terluka sama sekali.


"Ammpuunn.. Ammpuunn... Tolong.. Tolong.. jangan bunuh saya." Pria bertopeng itu bersujud-sujud meminta tolong kepada laki-laki di depannya. Laki-laki tua itu melihat pria bertopeng dengan tatapan hina.


"Apakah kamu pernah melepaskan orang meminta tolong sambil bersujud kepadamu dan tidak membunuhnya?" Kakek Lao mencengkram kerah baju pria bertopeng itu lalu mengangkatnya ke atas.


Pria itu pucat pasi. Dia tidak dapat melakukan apa-apa. Kini dia mengerti ketakutan orang-orang yang pernah dibunuhnya dulu. Ketakutan akan kematian yang datang. Lakk-laki terkencing di celana saking takutnya.


"Ammpuunn.. tuan.. Tolong.. Jangan bunuh saya..." Orang bertopeng itu meggerak-gerakkan kakinya yang tidak bisa menyentuh permukaan. tanah.


Kakek Lao ibarat seekor singa jantan kelaparan yang hendak menerkam mangsanya sampai-sampai hal itu membuat Silvie sedikit ketakutan. Kakek Lao melepas topeng orang itu. Wajah agak tua dengan bekas luka terlihat begitu pucat. Matanya memancarkan ketakutan yang mendalam. Entah apa yang telah dilakukakan Kakek Lao sehingga membuat pria itu begitu pucat.


"Katakan siapa ketua Black Assasin sekarang ini?" Tetua Lao bertanya dengan menekan suaranya.


"Kami adalah organisasi..baru.. Belum banyak... yang mengetahui organisasi ini... Kecuali sang ketua.. dan wakil...ketua... Aku.. hanyalah pesuruh di dalam organisasi." Jawab pria bertopeng itu ketakutan.


"Berapa jumlah kalian?"


"Kami.. sekitar seribu orang... lebih..sedikit"


"Katakan siapa namamu dan apa misimu ke sini?" Kakek Lao menurunkan orang itu ke tanah agar bisa berbicara dengan jelas.


"Nama saya Adit misi saya kesini adalah untuk merampok orang lewat jalan ini. Tidak peduli siapapun itu." Jawab Adit sambil mengelus lehernya yang sakit. Ketakutannya sedikit hilang begitu tubuhnya menyentuh tanah.


"Siapa nama ketua dan wakil ketua kalian?" Kakek Lao kembali bertanya dengan nada yang mengancam.


"Ketua bernama Arifansyah dan wakil ketua bernama Permana." Jawab Adit lancar.


Kakek Lao terdiam sejenak terlihat berpikir.


"Bawa aku ke markas kalian maka nyawamu akan selamat." Ucap Kakek Lao mengeluarkan aura membunuhnya.


"Baik, baik senior.. Baik.. Mari ikut saya." Ucap Adit ketakutan dan dengan cepat bangkit.


"Kakek kita mau kemana?" Silvie bertanya arah mereka menunu sambil mengeluarkan peta.


"Simpan kembali peta itu. Pria itu akan memuntun kita ke tempat banyak ikan teri berada." Jawab Kakek Lao singkat.


......................


Ggrrooaaarrr......


Wuushhhhss.....


Auman yang memekakkan telinga terdengar dari dalam lorong luas diiringi angin kencang yang menghempaskan beberapa orang anggota sekte Azure Dragon.


"Ughh.. Apa ini.. Mythical Beast tingkat sembilan? Tamatlah riwayat kita." Gumam salah seorang anggota Sekte Azure Dragon.


"Dasar penakut. Sekte Azure Dragon tidak pernah takut pada kematian. Berhentilah merengek di depan orang asing hanya akan membuat malu sekte." Ucap seorang yang lebih dari anggota yang lain.


Boommm...


Mythical Beast tingkat sembilan muncul di depan mereka. Seekor Singa merah memiliki dua ekor dan surai emas menghiasi lehernya. Singa itu telah menjadi undead yang artinya dia lebih lemah dari masa hidupnya namun dia tidak akan mati-mati selama tidak ada mantra untuk mengemhentikannya. Matanya yang garang menatap para manusia di depannya.


Tang Xiao tersenyum lebar. "Sepertinya undead ini cocok untuk latihan Gagak kecil" Ucap Tang Xiao dalam hati.


"Semuanya tidak usah takut. Aku memiliki peliharaan yang mampu bermain dengan hewan itu." Seru Tang Xiao menenangkan anggota Sekte Azure Dragon yang mulai terlihat ketakutan.


"Keluarlah Pipit kecil." Gumam Tang Xiao.


"Baik Master."


Tiba-tiba muncul portal kecil di atas kepala Tang Xiao. Dari portal kecil itu muncul burung pipit sembilan warna yang sangat indah.


Denas dan anggota sekte Azure Dragon terbelalak melihat itu.


"Kakak ketiga, kamu ingin membiarkan pipit kecil ini melawan sing setinggi tiga meter itu?" Tanya Denas tidak percaya.


"Berhentilah bermain-main pipit kecil Lihatlah singa di depanmu itu. Bunuh singa itu sementara kami masuk ke dalam lorong." Ucap Tang Xiao dengan nada memerintahkan kepada pipit kecil yang terbang di depannya.


Wuushhh...


Pipit kecil itu berubah menjadi gagak besar hitam dengan kultivasi tingkat sembilan tahap akhir Half Saint.


Tak ayal, semua orang terkaget melihat itu gagak perkasa itu yang tanpa mengepakkan sayapnya telah melayang di udara.


"Gila, Mythical Beast apaan itu? Baru tingkat sembilan sudah berada di tahap Half Saint?" Gumam orang-orang di sekitar tak percaya.


Lain halnya dengan Denas yang melihat gagak itu. Dia sepertinya mengenal gagak itu.


"Kakak ketiga, betulkah gagak itu peliharaanmu?" Tanya Denas tidak percaya.


"Ya tentu saja. Tanyakan aja jika tidak percaya. Oh sepertinya kamu mengetahui Gagak itu?" Tanya Tang Xiao penasaran.


Denas mengangguk. "Cobalah kakak ketiga tidak usah menebak hal yang harus aku katakan." Ucap Denas sedikit cemberut.


"Haha.. Sayangnya matamu itu tidak bisa menutupinya." Ucap Tang Xiao.


"Master bagaimana penampilanku keren kan?" Suara Gagak Penguasa dapat di dengar oleh semua orang. Suara yang besar dan menggelegar itu terdengar begitu mengerikan di telinga anggota Sekte Azure Dragon. Namun yang membuat mereka kaget adalah Gagak Half Saint di depan mereka ini memanggil Tang Xiao sebagai master. Entah apa yang dilakukan pemuda ini sehingga Gagak Half Saint mau menurutinya, pikir orang-orang itu.


"Hoo... Ya ya keren. Cepat hadapi singa itu sebelum aku memanggangmu." Ancam Tang Xiao.


"Baik master. Tapi mungkin akan sedikit lama." Ucap Gagak itu yang langsung meluncur menuju singa yang sudah terlihat jengkel itu.


Pertarungan diantara dua Mythical Beast tingkat tinggi terjadi. Lorong yang besar dan luas itu bergetar. Adu ketangkasan dan kecepatan diantara dua Mythical beast itu tidak dapat terelakkan.


"Kakak ketiga, Gagak peliharaanmu itu sedikit narsis. Lihatlah gaya bertarungnya yang merendahkan musuh itu. Aku curiga mungkin dia menirunya dari kakak ketiga." Ucap Denas sambil memperhatikan pertarungan itu.


"Dari awal aku bertemu Gagak itu memang sudah narsis. Mungkin karena garis keturunannya membuatnya seperti itu." Balas Tang Xiao sambil melipat kedua tangannya.


"Tidak mungkin garis keturunannya yang terhormat membuatnya seperti itu. Aku masih penasaran bagaimana kakak ketiga bisa menundukan Mythical Beast Half Saint tingkat sembilan bahkan ranah Holy Ancestor bintang tiga aja belum tentu mampu" Ucap Denas sambil memandang Tang Xiao dari samping tanpa diketahuinya.


"Mudah saja. Aku memberikan apa yang dia mau asalkan dia mau menjalin kontrak denganku." Jawab Tang Xiao santai tanpa mengetahui Denas sedang memperhatikannya dengan lekat.


"Tidak mungkin sesederhana itu. Mythical Beast Half Saint bukanlah sesuatu yang dapat ditawar seseorang di ranah Saint bintang lima. Gagak itu bisa saja membunuh kakak ketiga tanpa harus menjalin kontrak dengan kultivator lemah." Balas Denas masih memperhatikan Tang Xiao.


"Entahlah mungkin aku sedang beruntung saja bisa menjalin kontrak dengannya. Aku kira dia sedikit bodoh." Ucap Tang Xiao santai.


Denas mengernyitkan dahi lalu menoleh ke arah pertarungan Gagak dan Harimau yang terlihat berat sebelah dan terkesan Gagak itu sedang bermain-main dengan Singa yang menyerang mati-matian.


"Seekor Mythical Beast Half Saint tingkat sembilan dibodohi oleh kultivator ranah Saint bintang lima, orang bodoh mana yang mempercayai itu?" Gumam Denas kembali memandang Tang Xiao dari samping.


"Pffttt... Adik keempat tidak perlu seserius itu. Lebih baik kita menulusuri kembali lorong ini. Siapa tahu ada sesuatu yang menarik." Ucap Tang Xiao sambil tersenyum ke arah Denas yang telah memalingkan wajahnya sebelum Tang Xiao menoleh ke arahnya.


"Yah tidak masalah sih kalo kakak keempat tidak mau memberitahu rahasianya." Gumam Denas beranjak mengikuti Tang Xiao dari belakang.


"Tidak usah cemberut begitu nanti gantengnya hilang. Kakak janji suatu hari akan kakak ceritakan bagaimana cara mendapatkannya. Untuk sementara biarkan Gagak kecil itu bermain-main nanti kalo sudah bosan dia bisa menyusul sendiri." Ucap Denas sambil mengelus kepala Denas.


"Adik keempat rambutmu benar-benar lembut jauh lebih lembut dari rambutku. Shampo apa yang adik keempat gunakan?" Ucap Tang Xiao kembali mengelus rambut Tang Xiao.


Denas menyingkirkan tangan Tang Xiao dari kepalanya.


"Aku kasih tahu rahasianya jika kakak ketiga mau memberitahu cara kakak menundukan gagak itu." Jawab Denas sambil berlalu.


"Pfftt... Adik keempat masih belum menyerah ternyata." Balas Tang Xiao menyusul Denas.


Tang Xiao kembali menyelusuri lorong yang luas dan panjang itu. Kini mereka berhenti di lorong yang terdapat tiga pintu. Di masing-masing pintu terdapat tanda yang berbeda. Pintu sebelah kanan terdapat kepala tengkorak dengan mata menyala. Pintu tengah terdapat tanda Ular melingkar dengan kepala yang terangkat dan lidah terjulur. Pintu sebelah kiri terdapat gambar orang duduk di atas tumpukan mayat dengan memegang dua pedang yang berlumuran darah.


Setiap pintu mengarah ke lorong selanjutnya namun harus melewati salah satu pintu dengan bahaya tingkat tinggi. Tang Xiao dan yang lainnya berembuk dalam memikirkan pintu mana yang harus dilewati.


"Pintu sebelah kanan mesti kita harus melewati undead skeleton tak terhitung jumlahnya. Pintu yang tengah pasti kita melewati ular-ular bahaya yang memiliki racun mematikan. Sedangkan yang sebelah kiri pasti ada beberapa psikopat gila yang menunggu dan membantai siapa saja yang lewat." Gumam Denas sambil mengelus dagunya tanda dia sedang berfikir.


"Kalo begitu kita lewati saja pintu sebelah kiri itu. Siapa tahu manusia itu sudah lama mati karena waktu yang lama telah berlalu dan tidak ada satupun yang masuk ke sini selain kita setelah puluhan abad berlalu." Ucap Denas mantap penuh keyakinan.


"Ya bisa jadi begitu. Tidak mungkin ada manusia yang mampu hidup lebih dari tiga ratus ribu tahun. Pasti manusia itu sudah mati." Timpal yang lain.


"Bagaimana kalo dia belum mati?" Tanya Denas mengambang.


"Kalo begitu kita hanya perlu menyogoknya dengan sesuatu yang tidak akan bisa ditolaknya." Jawab Tang Xiao santai.


"Bagaimana kalo dia menolak?" Tanya Denas lagi.


"Berarti dia bukan manusia. Tidak ada manusia yang mampu menolak tawaran sesuatu yang tidak bisa ditolaknya." Jawab Tang Xiao enteng.


Denas diam memikirkan maksud ucapan Tang Xiao yang njlimet itu.


"Baiklah kita mengikuti usul kakak ketiga." Ucap Denas akhirnya mengalah. Sebenarnya ada banyak keraguan yang dipikirkannya. Namun jika terus mendebatnya dengan Kakak ketiganya hanya akan membuatnya semakin tidak setuju.


Tang Xiao tersenyum. "Tenang saja ada aku yang akan melindungi kalian." Ucap Tang Xiao lalu berjalan mendekati pintu sebelah kiri yang terdapat tanda manusia menggenggam dua pedang di atas tumpukan mayat.


Daun pintu besar itu terdapat beberapa ukiran-ukiran aneh seperti upacara ritual penyembahan, ritual pengorbanan dan beberapa ritual misterius lainnya. Gambar-gambar aneh itu terukir langsung di daun pintu menggunakan sesuatu yang sangat tajam.


Di daun pintu terdapat tulisan "Jika anda ingin masuk pintu diwajibkan menyembah leluhur tiga kali lalu meneskan darah setiap orang di daun pintu maka pintu akan mengenal pemiliknya."


"Cih angkuh sekali tulisan ini. Pembodohan apa ini. Nih terima sujudku." Ucap Tang Xiao tidak terima lalu menendang daun pintu.


Boommm...


Pintu besar itu hancur berkeping-keping dan terbukalah satu lorong yang sangat gelap dan bau busuk menyengat keluar dari lorong. Anggota sekte Azure Dragon yang tidak tahan dengan bau itu langsung muntah.


Wusshh..


Tang Xiao melambaikan tangannya ke lorong itu dan seketika keluar angin yang sangat kencang yang mampu menghempaskan semua bau busuk itu. Lorong yang gelap dan bau itu seketika terang disebabkan obor api yang tiba-tiba menyala di setiap dinding lorong.


Tang Xiao, Denas dan yang lainnya segera memasuki lorong yang sudah tidak berpintu itu.


"Hati-hati lorong ini terdapat banyak jebakan." Seru Denas pada orang di belakangnya.


Sruutt...


Belum selesai Denas bicara, sebuah panah besi telah mengenai salah seorang anggota mereka. Untung saja panah itu tidak mengenai titik vitalnya dan masih bisa disembuhkan dengan mudah.


Tak lama kemudian, puluhan panah meluncur ke arah kelompok Tang Xiao. Semakin lama panah itu semakin kuat. Tang Xiao melambaikan tangannya seketika muncullah prisai energi berwarna emas yang melindungi kelomponya dari incaran panah-panah itu.


Tak lama berselang panah-panah itu berhenti, Tang Xiao dan kelompoknya kembali melanjutkan perjalanan mereka tanpa ada yang terluka parah.


Setelah setengah dupa pembakaran, Tang Xiao dan kelompoknya kembali dihadapakan pada ratusan golem batu seukuran tiga meter. Golem-golem itu menyerang kelompok Tang Xiao dengan ganas. Kali ini Denas maju mengeluarkan kipasnya dan melawan ratusan golem itu seorang diri.


"Biarkan aku kali ini yang bersinar." Ucap Denas sambil terus mengincar kepala para golem batu yang berkulit keras.


Denas melompat dari satu golem ke golem lainnya dengan indah. Denas hanya mencincar kepalanya.


"Walaupun kulit mereka keras, tapi gerakan mereka sangat lambat." Gumam Denas dari atas Golem.


Sayangnya, kesenangan Denas itu hanya berlangsung sementara. Begitu Denas melompat di atas golem yang kedua puluh, tiba-tiba seluruh golem yang tersisa bertransformasi.


Ukuran mereka yang semula setinggi tiga meter berubah menjadi seukuran manusia normal. Golem yang awalnya bertubuh batu, berubah Golem besi hitam. Jauh lebih keras dari golem besi batu.


Bommm...


Kecepatan para golem itu meningkat dengan drastis. Denas hampir saja tidak dapat mengindari serangan dari para golem yang berbalik mengincarnya.


Hup..


Denas melompat beberapa meter ke belakang untuk melihat situasi yang telah berubah. Namun sayangnya para golem besi itu tidak memberi kesempatan pada Denas untuk istirahat. Mereka segera memburu Denas yang melompat mundur.


"Ho jadi kalian ingin serius? Baiklah." Ucap Denas menyeringai lebar. Denas meningkatkan kekuatan serangan dan kecepatannya.


Denas sangat lihat memainkan kapasnya. Sekali ayun, dua kepala Golem besi terlepas dari badannya. Sekali ayun lagi, dua kepala golem besi terlepas dari badannya.


Para anggota Sekte Azure Dragon begitu kagum melihat Denas yang menghadapi para golem iti dengan lincah dan penuh kekuatan.


"Tuan muda Denas jelas lebih kuat dari tetua muda." Gumam salah seorang dari anggota itu.


"Pantas saja tetua muda mau mengangkat saudara dengan tuan muda Denas dan tuan muda Tang Xiao serta tuan muda Andri." Ucap yang lain menimpali.


"Ya betul. Ketiga tuan muda saudara angkat tetua muda adalah jenius diantara para jenius." Ucap yang lain.


"Sangat beruntung bila tetua muda bisa menikahi salah satu dari mereka." Gumam yang lain.


"Husshh.. Mereka sudah menjadi saudara angkat. Tapi yang anehnya bagaimana tuan muda bisa saling bertemu dan berteman bahkan saling mengangkat saudara." Ucap yang lain.


"Yah itu sih gak penting. Yang penting sekarang bagaimana cara kita melawan para golem itu jika tuan muda Denas gagal melawan semuanya." Ucap yang lain penuh kekhawatiran.


"Adik keempat sudah hampir selesai." Ucap Denas cepat menimpali celotehan anggota sekte Azure Dragon. Tang Xiao hanya diam mendengarkan ucapan mereka.


Mereka melirik Denas yang sudah hampir membunuh seluruh golem besi. Mereka terkejut dan tidak menyadari hal itu. Tak lama berselang, Denas berhasil membunuh seluruh golem besi itu.


Denas melompat mundur dipenuhi keringat dan nafas yang terengah engah. Tang Xiao mengulurkan sapu tangan katun putih yang sangat lembut. Di ujung sapu tangan itu bersulamkan nama Tang Xiao.


Denas menerima sapu tangan katun itu dengan tersenyum manis. Dia sempat memperhatikan sulaman benang emas yang bertuliskan nama Tang Xiao. Lalu dengan hati-hati Denas mengelap keringat yang mengucur dari keningnya dengan sapu tangan itu.


Tang Xiao tampak terkesima sesaat begitu Denas tersenyum manis padanya. "Adik keempat jauh lebih cantik dari kakak kedua jika tersenyum. Adik keempat lebih cocok jadi perempuan" Batin Tang Xiao.


Tang Xiao kembali mengulurkan sebotol air putih kepada Denas yang diterimanya dengan senyuman manis lagi.


"Kakak ketiga ternyata begitu perhatian." Gumam Denas sambil menerima botol air mineral dari Tang Xiao tanpa lupa melayangkan senyum manis yang tanpa diketahuinya, senyum itu membuat Tang Xiao ketagihan senyumnya itu.


Deerrr....


Tubuh-tubuh golem besi yang tergeletak di tanah itu tiba-tiba bergerak dan bersatu membentuk satu golem besi raksasa setinggi sepuluh meter hingga kepalanya menyentuh langit-langit lorong itu.


"Gila... Apalagi ini." Gumam para anggota Sekte Azure Dragon terkejut melihat monster raksasa di depan mereka yang setara dengan kultivator ranah Holy Ancestor bintang lima.


"Ugh.. Monster mengerikan seperti ini jika keluar dari lorong ini bisa meratakan satu Kerajaan." Gumam Denas sambil menggenggam erat sapu tangan katun di tangannya seolah takut sapu tangan itu direbut oleh golem raksasa di depannya.


"Hemm.. Lumayan lah golem ini. Terdapat krisatal tingkat sembilan di kepalanya." Gumam Tang Xiao sambil menggoyang-goyangkan lengan kanannya seolah hendak melakukan tinju di ring.


"Kakak ketiga apa yang kamu lakukan?" Tanya Denas sedikit cemas. Dia memang belum tahu kekuatan Tang Xiao seperti apa.


"Tenang saja tidak usah takut. Kakak ketigamu ini akan melindungimu. Perhatikan baik-baik dan biarkan aku bersinar lagi." Jawab Tang Xiao santai.


Wusshh...


Tang Xiao melompat tinggi sambil mengacungkan tinjunya. Golem raksasa menyambut tinju Tang Xiao dengan tinjunya yang lebih besar dari seluruh tubuh Tang Xiao dan dua tinju beda ukuruan itu saling beradum.


Brommm...


Ledakan dahsyat menggetarkan lorong tempat Tang Xiao dan golem raksasa beradu tinju. Fluktuasi udara dari dua tinju menyebabkan beberapa anggota sekte Azure Dragon terhempas.


Hup..


Tanh Xiao melompat mundur kembali ke tempatnya semula sebelum beradu tinju dengan golem raksasa. Sedangkan golem raksasa itu sudah menjadi serpihan bubuk besi dan hanya menyisakan kristal energi sebesar kepala manusia.


"Kristal energi level sembilan?" Gumam anggota sekte Azure Dragon tidak percaya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


My motivation : Don't be busy just be productive