The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 92. RINDU



Wussshhh.....


Ughh...


Aura ranah Ancestor bintang sembilan keluar dengan begitu dahsyat dari tubuh Tang Xiao menekan setiap orang yang berada di alun-alun termasuk delapan orang yang berada di ranah Demi God. Meskipun hanya sesaat, semua orang dapat merasakan aura tertindas yang luar biasa yang membuat mereka menggigil ketakutan dan susah untuk bernafas.


"Ughh.. Apa tadi? Aku pikir aku hampir mati. Apa-apaan yang barusan terjadi."


"Gila.. Aku hampir mati... Jika lebih lama sedikit saja mungkin aku benar-benar tak sadarkan diri."


"Aura tadi nggak mungkin keluar dari pemuda itu kan..."


"Agghhh.. Jantungku terasa sakit. Sebentar...aku ingin duduk..."


"Aku juga.. Aku ingin duduk.. Aura tadi meskipun sesaat benar-benar menusuk tulangku..."


"Siall... Lihatlah.. Bahkan para tetua di atas podium pun terlihat pucat."


"Ughh.. Apa anak remaja itu seorang monster.."


Kericuhan terjadi di alun-alun. Bukan cuma yang di bawah podium, mereka yang berada di atas podium pun tak kalah terkejutnya. Terutama mereka yang berada di ranah Demi God. Mereka mengetahui dengan jelas bahwa aura luar biasa yang menekan mereka keluar dari tubuh Tang Xiao. Dan mereka tidak habis pikir bisa tertekan dengan begitu mudahnya hanya dengan aura yang dikeluarkan pemuda itu.


"Anak ini... Ada sesuatu dalam tubuhnya..." Gumam Victor.


"Ya kurasa begitu. Kesampingkan aura tadi, remaja berumur lima belas tahun, sudah berada di ranah Ancestor puncak, bahkan dalam dongeng sekalipun tidak se-absurd ini." Balas Han dari sampingnya.


"Tapi lihat, itu yang telah terjadi. Meskipun dongeng itu belum ada, kini telah terjadi. Dan mungkin benar-benar akan menjadi dongeng di masa depan." Sahut Zumen yang mengelus jenggotnya.


"Bahkan auranya saja jauh lebih murni dari siapapun yang pernah kutemui di dunia ini." Sahut Zeus menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Aku penasaran siapakah pemuda ini. Apa mungkin dia anak Dewa yang sengaja diturunkan ke dunia ini?" Gumam tetua Yun, utusan Sekte Bintang Kejora.


"Bisa jadi... Tidak ada hal normal dari anak itu dari segi manapun dilihat. Rambut biru, mata biru, serta kekuatan ranah Ancestor puncak di umur lima belas tahun. Sekali lagi, dongeng benar-benar akan ada." Sahut tetua Chu, utusan Sekte Rembulan Emas.


"Ah sayangnya Ketua Lao mendahuluiku meminang pemuda itu." Gumam Raja Kerajaan Nusantara.


Setiap orang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sementara itu Tang Xiao mundur dengan tersenyum geli, berdiri di sebelah Andri yang terlihat biasa-biasa dan seolah sudah biasa dengan segala keajaiban di luar nalar akal sehat.


"Adik ketiga, tidak seperti biasanya kamu menunjukkan kekuatanmu. Apa semua ini untuk provokasi?" Tanya Andri penuh selidik.


Tang Xiao mengangguk pelan.


"Orang-orang itu harus berpikir dua kali untuk melukai saudaraku. Tapi bukan itu yang penting sekarang. Bagaimana cara supaya kita tidak ikut ke akademi yang ditunjuk dan bisa secepatnya ke tempat adik keempat." Jawab Tang Xiao.


"Ah sepertinya kamu merindukannya ya..." Sahut Jessika dari sebelah. Tang Xiao hanya diam saja. Dia masih memikirkan cara agar lolos dari masuk akademi.


"Ah.. Aku tahu cara terampu dan termudah agar bisa lolos. Aku tidak menyangka bisa setepat ini momentumnya." Gumam Tang Xiao menarik minat Andri dan Jessika.


"Hemm.. Kapan kita akan kesana?" Tanya Jessika antusias.


Setelah ketiga orang itu berbincang-bincang, Victor maju ke depan memgatakan bahwa pertemuan ini akan berakhir. Adapun bagi kelompok yang menempati posisi kedua hingga kesepuluh dalam pertandingan kultivator, juga segera diberikan hadiah. Dan tentu hadiahnya juga tidak main-main.


Setelah pembagian hadiah kepada sembilan kelompok lainnya, acara tersebut ditutup oleh empat ketua Paviliun Bintang serta Wali Kota Paviliun Bintang. Orang-orang bubar dengan pikiran masing-masing. Beberapa dari mereka terlihat tidak semangat dan putus asa. Beberapa juga pulang dengan perasaan bahagia dan riang tawa. Beberapa juga pulang dengan wajah puas dan tersenyum hangat.


Mereka punya pendapat masing-masing mengenai situasi yang telah terjadi dan bagaimana menyikapinya.


Tak terkecuali kelompok Tang Xiao, mereka juga pergi ke penginapan yang telah disiapkan kepada para sepuluh finalis. Hari sudah menjelang sore saat seluruh acara pemberian hadiah selesai. Tang Xiao, Arya, Andri dan Jessika berjalan beriringan menuju penginapan.


"Hem.. Enaknya hadiah apa yang cocok untuk adik keempat ya..?" Gumam Jessika kepada dirinya sendiri namun didengar dengan jelas oleh Tang Xiao dan lainnya.


"Ah dengan statusnya, kurasa hadiah biasa akan memalukan bagi kita." Sahut Andri. Jessika mengangguk.


"Ah jika dipikirkan lagi, membawa hadiah kepada adik ke empat dengan segala yang dimilikinya benar-benar terasa aneh." Balas Jessika


"Saudara Arya, apakah kamu akan pergi ke akademi Sekte Bintang Kejora?" Tanya Tang Xiao saat melihat Arya hanya diam saja.


Arya mengangguk.


"Jika aku tidak kesana, guruku pasti akan membunuhku, haha.." Jawab Arya sambil terkekeh. Tang Xiao ikut terkekeh. Gurunya adalah Ketua Zumen, salah satu ketua Paviliun Bintang. Kehormatan gurunya juga dipertaruhkan dihadapan orang lain, terlebih kepada utusan Sekte tersembunyi yang telah menjadi aliansi Paviliun Bintang, mau tak mau Arya tetap harus pergi ke akademi sekte tersembunyi demi menjaga kehormatan gurunya.


Tak lama berselang, keempat orang itu telah sampai ke penginapan dan kembali ke kamarnya masing-masing. Langit mulai gelap, lembayung senja menghiasi ufuk barat pertanda siang akan kembali ke peraduannya berganti malam menyelimuti dunia.


Tang Xiao dan lainnya juga berjumpa dengan beberapa kelompok dan saling menyapa. Setelah kejadian di alun-alun, keempat orang itu semakin terkenal terutama Tang Xiao yang telah disebut-sebut sebagai harapan dunia. Banyak orang berharap untuk menjalin hubungannya terutama mereka dari para bangsawan.


Malam itu, Tang Xiao, Jessika, Arya, dan Andri kedatangan banyak tamu. Ada yang sekedar berkenalan, menjalin hubungan keakrabatan, memberi hadiah, bekerja sama, dan juga ada beberapa utusan dari Kekaisaran Gama dan Kekaisaran Alfa yang datang membawa surat permintaan maaf.


Permintaan maaf telah menjadi keluarga bodoh, tidak bertanggung jawab, dan telah menyia-nyiakan mereka selama ini. Keluarga mereka juga mengirimkan barang-barang kesukaan mereka sebagai permintaan maaf karena menjadi keluarga yang tidak becus.


Andri dan Jessika berkaca-kaca membaca surat masing-masing. Meskipun mereka berada di ruangan berbeda, kedua sejoli itu dapat merasakan kesedihan pasangan masing-masing.


Meskipun mereka memaafkan keluarganya, tetap saja kedua orang sejoli itu tidak bisa kembali ke keluarga mereka. Mungkin mereka akan mengirim surat yang berisi tentang perjalanan panjang dan melelahkan yang akan mereka tempuh. Jadi tidak perlua mencari-cari karena mereka tidak akan berada di akademi sekte yang ditunjuk sebelumnya.


Sementara itu di luar, malam telah sempurna dan gemintang menghiasi langit yang cerah. Suasana kota tetap hidup seperti siang hari. Kota Paviliun Bintang merupakan salah satu kota paling sibuk di dunia.


Tang Xiao berjalan keluar penginapan sendirian. Menatap langit malam yang indah, dia tersenyum senang. Senyum Tang Xiao tersebut dibalas dengan beberapa kedipan kerlap-kerlip nun jauh di angkasa sana. Para gemintang pun tak sanggup melihat senyum Tang Xiao yang diarahkan pada mereka.


Tang berjalan dengan tenang sambil melihat sekeliling. Suasana malam benar-benar berbeda. Dia mendapati banyak anak-anak muda yang berjalan bersama pasangan masing-masing. Melihat itu, Tang Xiao teringat seseorang dan merasa membutuhkan orang itu disampingnya. Menemaninya, mendegar ceritanya, berjalan bersama bergandengan tangan. Kehidupan normal yang menyenangkan.


Tang Xiao memegang dadanya.


"Apakah begini rasanya merindukan seseorang?" Gumam Tang Xiao pelan. Sebelum dia mendapat kekuatannya, dia memang merasakan rindu kepada kedua orang tuanya. Dia ingin bertemu mereka, tapi tidak tahu mereka berada dimana saat ini. Namun rindu yang dirasakan Tang Xiao saat ini berbeda dari sebelumnya.


"Memang benar orang yang mengatakan 'tidak ada yang membuat ruangan terasa lebih kosong daripada menginginkan seseorang di dalamnya'." Gumam Tang Xiao tidak jelas.


Setelah berjalan cukup jauh, Tang Xiao berhenti di sebuah tikungan jalan yang cukup sepi. Setelah memastikan sekeliling tidak ada orang, pemuda berambut biru itu menghilang dari tempatnya.


Wuushh...