The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 60,2. LOVE SCENE : SWORD DANCE



KEHIDUPAN KEDUA


"HAH..HAH...HAH... Apa aku menangis? Kenapa aku menangis hanya dengan sebuah mimpi?" Seorang gadis muda terbangun dari tidur karena mimpi yang dialaminya dan bertanya-tanya kebingungan.


"Ini masih gelap dan aku tidak bisa tidur lagi. Apa yang telah terjadi dengan gadis itu? Apa dia mendapatkan cintanya atau hanya sekadar bunga tidur untukku? Ya sudahlah nanti tanyakan saja pada bibi Tenung." Gumam gadis itu kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan melihat keluar.


"Tempat tidur sebesar ini terasa tidak menyenangkan tidur sendirian." Gumam gadis muda itu sambil merapikan tempat tidurnya.


Selesai merapikan tempat tidurnya gadis itu pergi ke kamar mandi. Cukup lama di kamar mandi dan memanjakan dirinya dalam air hangat, gadis itu keluar dalam keadaan segar.


Di luar sang fajar telah menyingsing, ayam berkokok silih berganti tanda telah pagi. Para pelayan wanita memasuki kamar gadis itu dan mempersiapkan segala keperluan gadis itu.


"Nona muda bagaimana kabar anda hari ini?" Tanya beberapa orang pelayan sambil membungkuk.


"Seperti biasa bibi. Selalu hidup dalam kebosanan dan kejenuhan seperti ini." Jawab gadis itu membuang nafas.


"Memang seharusnya seperti ini hidup sebagai seorang putri." Jawab seorang pelayang yang lebih tua sambil menyisir rambut gadis itu.


"Oh iya bibi aku ingin bertanya tentang mimpi yang aku alami tadi malam." Ucap gadis itu kepada pelayan yang menyisir rambutnya.


Pelayan itu sejenak menghentikan sisirannya dan melihat gadis itu.


"Sudah berapa kali tuan putri bermimpinya?" Tanya pelayan itu.


"Baru tadi malam, tepat ulang tahunku ke tujuh belas." Jawab gadis itu.


"Coba tuan putri ceritakan." Pinta pelayan itu kembali menyisir rambut gadis itu.


Lalu gadis itu menceritakan tentang mimpi yang dialaminya. Seolah dialah yang sedang ada dalam mimpi itu. Dia juga mengatakan bahwa ketika bangun dia sedang menangis.


Pelayan itu terdiam dan melihat sekelilingnya memastikan tidak ada orang yang mendengar cerita mereka.


"Hem... Mimpi yang aneh namun terasa sungguh nyata. Mungkin itu kehidupan tuan putri sebelumnya." Ucap pelayan itu kembali memastikan keadaan sekelilingnya aman tidak ada penguping.


"Hah? Kehidupan sebelumnya? Maksud bibi Tenung?" Tanya gadis itu tidak mengerti.


"Bukankah tuan putri memiliki wajah yang persis dengan perempuan yang ada dalam mimpi?" Tanya pelayan itu menjawab pertanyaan sang gadis.


Gadis itu mengangguk. "Iya persis bibi. Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya sedikit lebih tua meskipun tetap sama-sama cantik." Jawab gadis itu sambil melihat baby face-nya dari kaca kristal yang telah dibentuk sedemikian rupa hingga berbentuk pipih dan bisa memantulkan benda dengan jelas.


"Wajah tuan putri memang cantik dan bahkan salah satu gadis tercantik di Kerajaan." Ucap pelayan itu.


"Kata pendahulu bibi, bahwa manusia ini mempunyai beberapa kehidupan, baik sebelumnya maupun sesudahnya. Setiap orang melupakan kehidupan masa lalunya dan itu sudah menjadi hukum langit. Namun ada beberapa diantara manusia yang dapat mengingat kehidupan sebelumnya pada waktu-waktu tertentu." Lanjut pelayan itu sambil bangkit setelah selesai menyisir rambut sang putri.


Gadis itu terdiam sesaat. "Tapi aku tidak mengingat apapun tentang sesuatu seperti itu dalam mimpi. Aku seolah sedang melihat sebuah pertujukan teater drama perempuan dan laki-laki berpasangan dalam mimpiku itu." Ucap gadis itu bangkit.


"Bibi hanya berspekulasi saja dan tidak terlalu percaya dengan kehidupan sebelumnya. Selama bibi hidup, belum pernah mendengar ada seseorang yang teringat kehidupan sebelumnya." Ucap pelayan itu lalu merapikan kembali baju kebesaran gadis itu.


"Tapi bibi, dalam mimpi itu anehnya aku tidak melihat wajah si pria. Ketika aku hendak melihatnya seolah pandanganku blur dan berbayang-bayang. Aku tidak tahu kenapa." Gumam gadis itu sambil mencocokan dirinya di depan kaca yang lebih besar.


"Hem.. Mungkin itu lebih baik daripada tuan putri mengetahuinya. Siapa tahu pria itu adalah sosok terpenting bagi si perempuan dalam mimpi tuan putri sehingga orang lain tidak boleh melihatnya." Jawab pelayan itu masih membenahi baju gadis itu.


"Hem.. Semoga aja kedua pasangan itu bisa bersatu di kehidupan mereka selanjutnya. Maaf jika aku tidak sengaja mengintip kisah kalian berdua." Gumam gadis itu sambil membuat gestur meminta maaf.


Pelayan itu hanya tersenyum lebar melihat tingkah tuan putrinya itu.


Tak lama kemudian beberapa pelayan masuk dan membawakan perhiasan-perhiasan mewah.


"Tuan putri, ini adalah hadiah dari pangeran Kerajaan Ludiya dan Kerajaan Haipang. Mereka mengucapkan selamat ulang tahun yang ketujuh belas." Ucap beberapa orang pelayan itu sambil membungkuk.


"Dimana mereka sekarang?" Tanya tuan putri.


"Mereka bersama para tamu lainnya." Jawab para pelayan itu.


"Hemm.. Kalian biarkan aja di situ dan kembalikan ke tangan mereka jika sudah hendak berangkat." Perintah tuan putri tanpa melihat atau menyentuh sedikitpun perhiasan itu.


"Baik yang mulia Putri." Jawab para pelayan itu sedikit terkejut.


"Kembalilah dan jika ada yang menghantarkan perhiasan lagi, katakan bahwa aku tidak kekurangan sedikitpun." Perintah tuan putri tegas.


"Baik yang mulia Putri." Balas para pelayan itu menghormat lalu perlahan mundur.


"Anda memang telah dewasa tuan putri." Gumam pelayan wanita yang bernama Tenung itu.


"Setiap manusia pasti berubah bibi. Aku sudah memasuki usia menginjak dewasa dan kini adalah hari kedewasaan ku. Aku tidak ingin orang lain mengambilnya dariku."


Tidak lama kemudian Ibunda ratu alias ibu kandung tuan putri datang dan melihat anaknya.


"Rihana, para tamu sudah berdatangan dan menunggu upacara dimulai." Ucap Ibunda ratu memanggil anaknya itu.


"Iya ibunda ini udah selesai kok." Balas putri Rihana.


"Hem... Bahkan orang akan rela membuat sayembara hidup dan mati untukmu jika melihat wajah mu ini nak." Gumam Ibunda ratu melihat kecantikan anaknya itu.


"Siapa dulu dong ayah dan ibunya. Anak cantik karena berasal dari ayah yang ganteng dan ibu yang cantik...." Putri Rihana tidak melanjutkan ucapannya ketika dia tiba-tiba merasa akrab dengan kata-kata duel hidup dan mati yang diucapkan ibunya.


"Ada apa anakku?" Tanya ibunda Ratu yang mengetahui ada sesuatu yang tidak biasa pada anaknya.


"Aku merasa pernah mendengar kata-kata ibunda 'sayembara hidup dan mati' dan entah kenapa hatiku terasa sakit, bunda." Jawab putri Rihana sambil menekan dadanya yang seolah-seolah telah kehilangan sesuatu.


"Tidak apa-apa anakku, itu hanyalah de Javu yang sering dialami setiap orang." Ucap Ibunda Ratu menenangkan anaknya.


Putri Rihana terdiam kemudian mengangguk dan tersenyum manis.


"Nah gitu baru namanya tuan Putri. Ayuk para tamu sudah datang dalam acara ulang tahunmu. Bahkan kakak-kakakmu semuanya telah datang demi merayakan hari penting untukmu." Ucap Ratu sambil mengajak putri bungsunya itu keluar keluar kamar dan menuju tempat yang telah disiapkan untuknya.


Di tempat itu dia dapat melihat ratusan orang telah memenuhi tempatnya. Mereka berbisik-bisik melihat Putri Rihana datang bersama ibunda Ratu. Rihana yang mengenakan cadar itu hanya diam saja dan tidak berminat. Dia segera ke tempat kakak-kakanya yang menyambutnya dengan berbagai ucapan selamat dan hadiah-hadiah yang tidak bisa ditolaknya.


"Wah... Terima kasih kakak pertama, kakak kedua dan kakak ketiga. Hadiah nya memang luar biasa." Ucap Putri Rihana sambil menerima hadiah-hadiah yang bukan perhiasan itu. Itu adalah hadiah sederhana namun sangat berarti untuk seorang remaja seperti dirinya yang sekaligus menjadi seorang putri bungsu suatu kerajaan.


Para tamu pun memberi hadiah mereka yang tidak biasa yang mau tak mau Putri Rihana harus menerimanya.


Acara ulang tahun putri Rihana begitu meriah. Bukan cuma ulang tahun biasa karena sekaligus upacara kedewasaan putri, sehingga banyak masyarakat sekitar yang datang dan menyaksikan upacara itu.


Di tengah hiruk pikuk kemeriahan itu tiba-tiba terdengar suara dentuman hebat.


Bommmm..


"Serangan... terjadi serangan..... Pihak musuh menyerang. Lindungi Raja dan keluarganya."


Hiruk pikuk kemeriahan itu berubah menjadi hiruk pikuk dentuman pedang dan tombak. Suara teriakan memenuhi gerbang dan halaman istana.


Putri Rihana dan keluarganya telah dibawa ke dalam istana dan dijaga oleh beberapa Jenderal. Sedangkan para tamu sebagian ada yang ikut berperang melawan penyerang dan sebagian lagi ada yang berperang membantu para penyerang.


"Sial!! Semu ini sudah direncanakan. Ada penghianat diantara koalisi kerajaan." Bentak Sang Raja ayah putri Rihana dengan marah. Ketiga anak laki-lakinya dilarang ikut berperang dan lebih baik bersama. Sedangkan Rihana hanya diam saja seolah sudah terbiasa dengan semua itu.


"Adik keempat, kamu tidak takut melihat hal itu?" Tanya salah seorang kakaknya yang terkejut melihat ketenangan adik kecil mereka.


"Entah juga, aku merasa sudah terbiasa dengan semua hal itu. Bahkan kini aku merasa mampu berperang bersama orang-orang itu." Jawab putri Rihana santai.


"Hah apa yang kamu katakan adik? Kamu yang selama ini tidak pernah belajar ilmu berpedang ataupun bela diri bisa berperang?" Tanya kakaknya yang lain tidak percaya.


Putri Rihana hanya mengangguk pelan. Dia juga bingung bagaimana menjelaskannya, seolah beberapa ilmu berpedang dan tenaga dalam telah dikuasainya begitu saja dan tinggal mempraktekannya melawan musuh. Dia tidak menjelaskan hal itu kepada keluarganya yang hanya akan menertawakannya karena memang sedari kecil, Rihana dikenal tidak suka ilmu beladiri, dia hanya belajar sastra dan menyulam serta memasak. Sesuatu yang biasa dipelajari oleh wanita pada umumnya.


Kedua orang tuanya hanya diam saja mendengar percakapan anak mereka.


Bomm...


Pintu ruangan tempat persembunyian keluarga kerajaan akhirnya berhasil didobrak pihak musuh. Puluhan pendekar tingkat tinggi segera memasuki ruangan tempat keluarga kerajaan dan para Jenderal.


"Hahaha.... Kami sudah mempersiapkan hal ini beberapa tahun yang lalu, dan akhirnya kami bisa melaksanakan rencana itu di hari yang tidak kalian sangka-sangka. Haha bagaimana dengan ini, menyenangkan bukan?" Salah seorang laki-laki tua dari orang-orang yang datang berbicara dengan jumawa.


"Hemm... Katanya Putri Rihana adalah permata di kedalaman samudera, dan sebentar lagi aku akan menjadi pendekar pertama yang berhasil membawa permata itu ke atas ranjang. Hahaha." Ucap laki-laki tua sambil menjilatkan lidahnya saat melihat Putri Rihana duduk santai tidak terganggu sama sekali dengan kedatangan mereka.


Semua orang dari pihak keluarga kerajaan seperti mendidih darah mereka mendengar provokasi pria tua itu.


"Serang mereka dan cincang mulut pria bangka itu!" Perintah Sang Raja kepada para Jenderalnya.


Pertempuran pun terjadi di dalam ruangan luas itu. Para Jenderal yang melindungi Sang Raja bukan lah jenderal biasa, melainkan Jenderal tingkat tinggi. Sehingga sangat sulit bagi orang tua itu dan anak buahnya menembus pertahanan mereka. Bahkan orang tua yang berbicara jumawa itu terluka beberapa tebasan pedang dari jenderal terkuat.


"Ugh.. Siapa yang mengatakan jenderal-jenderal itu hanya sampah akan kupenggal lehernya?" Teriak orang tua itu marah dan melompat mundur ketika salah satu pedang dari jenderal itu hampir saja membabat habis mulutnya.


Orang tua itu melihat beberapa anak buahnya telah tumbang sedangkan para Jenderal hanya terluka ringan.


"Kalian pikir kerajaanku ini hanya sebuah isapan jempol belaka?" Ucap Sang Raja dari tempat duduknya. Dia terlihat santai dengan semua yang terjadi. Sepertinya dia sudah mempersiapkan kejadian hal seperti ini suatu hari nanti.


"Cih... Kalian pikir kami kesini tanpa persiapan?" Ucap orang tua itu lalu bersiul beberapa kali sebagai isyarat memanggil seseorang.


Wusshh....


Seorang pria bertopi jerami datang bagaikan angin ke hadapan lelaki tua itu. Dia menutupi wajahnya dengan topi jerami besar miliknya dan pedang yang tersarung di pinggangnya membuktikan bahwa pria yang datang barusan bukanlah pendekar sembarangan.


"Kisanak, sesuai perjanjian sebelumnya jika anda berhasil membantai habis seluruh keluarga kerajaan, maka barang itu akan menjadi milik anda." Ucap laki-laki tua kepada orang bertopi jerami yang baru saja datang.


"Aku setuju dengan hal itu jika hanya beberapa orang lemah, namun melihat beberapa pendekar di depan sana tidak biasa, aku ingin bayaran yang sebanding." Ucap pria bertopeng itu dingin tanpa melihat siapapun dan hanya menunduk.


"Apa yang anda inginkan kisanak?" Tanya orang tua itu sambil menggosok-gosokan telapak tangannya setuju dengan permintaan orang bertopi jerami.


"Aku menginginkan satu lagi benda yang kau janjikan serta sepuluh kali lipat emas yang dijanjikan." Jawab pria bertopeng jerami itu masih tetap dingin.


"Baik deal. Selama Kisanak mampu membantai mereka semua, bayaran tidak masalah." Ucap pria tua itu bersemangat sambil memandang Putri Rihana penuh nafsu.


"Dasar pria menjijikan." Batin Rihana menahan emosi.


"Dasar sombong, sehebat apapun dirimu kami lebih banyak dan lebih kuat." Seru Raja lalu melompat dari kursinya dan berdiri tegap bersama para Jenderalnya.


"Kuantitas bukanlah sesuatu yang berguna di hadapanku. Sebaiknya kalian maju bersama agar aku lebih mudah membunuh kalian." Balas pria bertopi jerami itu dingin.


"Yang mulia Raja kami mohon anda lebih baik mundur, biar kami saja yang akan mencincang pria bangsat itu." Ucap salah seorang Jenderal yang paling kuat yang tadi melukai pria tua itu.


"Tidak perlu. Pria itu tidak sesederhana yang kalian lihat. Jika hanya kalian saja, dalam beberapa jurus, kalian sudah tumbang." Ucap raja lalu mengambil pedangnya yang tersalip di pinggangnya.


"Bagus, akan lebih mudah membunuh kalian semua jika begitu." Ucap pria itu berlari cepat dan menghunuskan pedangnya ke.


Ting... Ting.. Ting..


Tang... Tang... Tang..


Pertarungan melawan lima orang Jenderal besar bersama seorang raja, tidak membuat pria itu tersudut sama sekali. Dia masih bisa bertahan dan menyerang menghadapi enam musuh kuat di hadapannya.


Namun keseimbangan itu segera terganggu begitu ketiga orang putra raja ikut membantu ayahanda mereka dan para jenderal.


Kini terlihat pria itu mulai terpojok meski belum mengalami luka sedikitpun.


"Hahaha... Ini baru menyenangkan." Ucap pria itu mengganti jurus pedangnya. Jurus itu terlihat aneh dan sedikit tidak masuk akal.


Pertarungan yang awalnya berat sebelah, kini menjadi seimbang setelah pria itu mengganti jurus berpedangnya.


"Sekarang, kalian sebaiknya melihat ilmu pedang yang kuciptakan sendiri. " Ucap pria itu kembali mengganti jurus pedangnya dengan yang baru.


Secara perlahan meskipun lambat, pria itu mulai mendominasi pertarungan melawan sembilan orang pendekar tinggi. Jurus-jurus mematikan yang dikeluarkan pria bertopi jerami itu membuat sembilan orang lawannya kewalahan.


Seolah pria bertopi jerami itu memiliki sembilan pasang tangan yang mempu menangkis serangan musuhnya sekaligus menyerang. Permainan pedang pria itu lincah, licin bagaikan belut, mematikan bagaikan ular Derik, kokoh bagaikan baja, dan cepat bagaikan cheetah. Pertempuran itu bukan cuman sebuah duel, namun bagaikan sebuah seni tari yang indah yang terhasil dari pengalaman hidup yang panjang.


Tang... tang.. tang.....


Dengan sebilah pedang di tangan dan jurus yang mematikan, pria bertopi jerami itu mampu melukai sembilan orang musuhnya dengan parah. Dia sendiri hanya mengalami luka-luka ringan yang tidak seberapa.


Bahkan empat jenderal pengawal telah tumbang dan dua orang putra raja juga ikut tumbang. Walaupun tidak sampai membahayakan nyawa mereka, namun luka yang mereka terima cukup untuk menghentikan pergerakan mereka dan tidak menyerang lagi.


Raja dan yang lainnya tidak bisa berkata melihat pertempuran yang seharusnya berat sebelah itu malah berbalik kepada mereka. Raja yang tidak ingin melihat ada kematian di pihaknya segera mundur dan menyuruh anggotanya untuk berhenti menyerang.


"Kisanak, siapa anda sebenarnya kenapa orang sehebat anda tidak pernah kami dengar di dunia persilatan ini?" Tanya Raja yang penasaran dengan identitas pria di depannya.


"Saya hanyalah seorang pendekar pengelana yang sedang mengembara di daratan ini." Jawab pria itu datar tanpa memandang lawan bicaranya.


"Lalu kenapa anda mau membantu orang-orang jahat seperti mereka?" Tanya Raja sambil mengatur nafasnya yang memburu.


"Baik atau buruk, bukanlah manusia yang menentukan. Di dunia ini kekuatan adalah mutlak. Mereka memberi imbalan yang tidak bisa kutolak, sebagai pendekar pengelana aku akan memihak kepada mereka yang menguntungkan." Jawab pria bertopi jerami itu tanpa menoleh sedikitpun, ucapannya masih saja dingin.


"Apakah anda menjual kemanusiaan anda hanya karena sebuah imbalan?" Putri Rihana yang hanya diam saja kini bangkit dari kursinya dan bertanya sambil memegang pedang di tangannya.


Pria bertopi jerami itu mengangkat kepalanya sedikit melihat siapa yang berbicara. Pria bertopi jerami sedikit kaget karena tidak merasakan adanya tenaga dalam yang dimiliki gadis bercadar itu, namun pembawaannya begitu tenang dan tidak takut sama sekali.


"Kemanusiaan tidak bisa ditentukan dengan imbalan. Kemanusiaan itu hanyalah omong kosong." Jawab pria itu kembali menundukkan kepalanya tidak berminat dengan gadis bercadar itu.


Putri Rihana maju dan membuka sarung pedangnya.


"Mari kita buktikan ucapanmu." Balas Putri Rihana sambil melesat cepat mengayunkan pedangnya ke arah pria itu.


"Tidakk...." Ibu Ratu menjerit menahan putrinya itu yang gegabah menyerang pria itu. Dia hendak menahan putrinya namun pergerakannya begitu cepat bahkan sang Raja sendiri tidak bisa menangkap pergerakan putri mereka.


Tangggg.......


Pria bertopi itu menangkis serangan pedang putri Rihana dengan pedangnya. Pria itu terbelalak saat dia dipaksa mundur disaat menangkis perempuan bercadar itu.


Pedang di tangan pria itu bergetar setelah menerima serangan Putri Rihana. Dia terbelalak mengangkat kepalanya melihat Putri Rihana lebih jelas.


"Ho... Akhirnya anda mengangkat kepala. Bukankah anda sangat jumawa tadi." Ucap Rihana tenang. Dia sebenarnya merasa heran dengan dirinya hari ini. Sejak para penyerang itu masuk, dia hanya diam dan masuk ke dalam sebuah dunia yang indah. Di dunia itu dia sedang mempelajari jurus pedang yang belum pernah dilihatnya. Jurus pedang itu sangat indah dan seakan sedang menari. Di dunia itu, dia mempelajari bermacam-macam jurus pedang dan ilmu beladiri.


Ketika dia sadar dari lamunannya itu, ayahnya sudah mundur dan dan mengalami beberapa luka yang serius. Dia juga tidak tahu dari mana tenaga dalam yang melimpah dalam dirinya. Ketika dia mencoba jurus yang dipelajarinya, pria bertopi jerami itu dibuat mundur olehnya.


Para Jenderal, Raja, Ratu dan ketiga saudaranya tertegun melihat kejadian yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Putri bungsu mereka itu mampu membuat mundur pria bertopi jerami yang bahkan sembilan orang pendekar selevel Raja tidak mampu melukai pria itu.


"Gadis kecil, sepertinya kamu lebih cocok menjadi lawanku." Ucap pria bertopi jerami itu.


Pria itu melesat cepat ke arah Rihana dengan gerakan memutar badan dan pedangnya seperti mesin bor menghantam tanah.


Putri Rihana seperti sudah mengetahui cara menangkis jurus itu, dia melenting kan tubuhnya ke udara dan memutar tubuhnya seperti pria itu namun dengan cara mundur. Jika dilihat mereka seperti dua bor yang berputar berlawanan, namun senada.


Putri Rihana mundur ke belakang begitu juga dengan pria bertopi jerami itu. Mereka sama-sama tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Pria bertopi jerami itu tidak percaya ada yang mampu menandingi serangan jurus buatannya sendiri. Sedangkan putri Rihana tidak percaya dengan yang dialaminya. Seakan-akan dia merasa familiar dengan jurus yang baru saja digunakannya.


Kedua orang itu kembali melesat cepat dan saling beradu pedang. Kini kedua orang itu kembali mengeluarkan jurus yang berbeda dari sebelumnya. Mereka terlihat bukan sedang bertarung, melainkan seperti sedang berlatih bersama di bawah rembulan malam di tengah-tengah ratusan kunang-kunang mengeluarkan cahaya kuning yang sangat indah.


Tang Tang Ting Ting Ting Tang Tang


Sudah ratusan jurus mereka keluarkan dalam pertarungan pedang itu. Selama itu pula mereka mempunyai pikiran masing-masing dan bayangan yang berbeda dalam benak mereka.


Putri Rihana saat ini seperti sedang berlatih pedang dengan seseorang yang pernah dilihatnya dalam mimpinya, wajah orang itu tidak terlihat jelas karena setiap kali dia melihat wajah orang itu, seperti ada penghalang diantara pandangan putri Rihana dan wajah pria itu. Namun putri Rihana seakan tahu bahwa orang itu sangat berharga dan berarti untuknya. Dia tidak tahu perasaan apa yang dalam hatinya, namun instingnya mengatakan bahwa pria yang saat ini beradu jurus dengannya adalah pria yang sama dengan yang ada dalam mimpinya.


Berbeda dengan yang dirasakan pria itu, dia terkejut bahwa setiap jurus yang dikuasainya dan diingatnya di kehidupan pertamanya mampu dinetralkan oleh gadis bercadar di depannya bahkan jurus-jurus yang digunakan perempuan bercadar itu adalah pasangan jurus yang dikeluarkan oleh pria itu. Saat ini jantungnya berdegup kencang, nafasnya memburu, dan matanya perih dan tubuhnya bergetar menebak-nebak siapa gadis bercadar yang saling bertukar jurus di depannya ini.


tang...


Wusshh...


Pada jurus terakhir yang mereka saling bertukar, seakan-akan sudah saling melakukannya, ujung pedang Putri Rihana melepas topi jerami besar yang menutupi wajah pria itu sehingga tampaklah wajah pria itu. Sedangkan ujung pedang pria itu berhasil melepas cadar putri Rihana sehingga tampaklah wajah putri Rihana.


Pria itu tampak terkejut tak percaya memandang wajah putri Rihana adalah wajah yang sama dengan wajah gadis yang sangat dicintainya di kehidupan sebelumnya dan tebakannya benar kali ini.


Sedangkan putri Rihana juga terkejut melihat wajah tampan pria di depannya dan seolah-olah dia kembali ke masa dimana dia sedang bertukar jurus dengan orang misterius di bawah sinar rembulan dikelilingi ratusan kunang-kunang bercahaya. Diterangi oleh sinar rembulan, dan cahaya dari ratusan kunang-kunang, putri Rihana dapat melihat dengan jelas siapa pria dengan wajah blur di pandanganya itu yang selalu membuatya merasa nyaman jika berdekatan dengan pria itu.


Trang..


Pedang Rihana jatuh dari tangan ke lantai. Dia menutup mulutnya tak percaya bahwa, wajah pria yang sudah terlepas topi jeraminya itu adalah persis bahkan sama dengan wajah pria yang menjadi pasangannya dalam bertukar jurus itu.


Sementara itu, pria itu menyarungkan pedangnya lalu dengan secepat kilat berlari ke arah putri Rihana dan menggendong putri Rihana kemudian membawanya kabur dari ruangan itu melalui jendela yang terbuka. Gerakan itu terjadi dengan sangat cepat, sehingga ketika semua orang dalam ruangan itu sadar, Putri Rihana dan pria bertopi jerami itu telah tidak ada dalam ruangan.


......................


Putri Rihana membuka kelopak matanya yang sudah penuh dengar air mata. Kini dia teringat kisah cinta di kehidupan sebelumnya. Dia menangis haru bahagia memandang wajah tampan kekasih di depannya ini.


"Kakak Rangga, sejak kapan bisa mengingat semua itu?" Tanya Putri Rihana di sela-sela tangis harunya.


"Sejak berumur lima belas tahun. Awalnya bingung apa yang terjadi, kenapa selalu ada seorang wanita yang selalu hadir dalam mimpi kakak dan kejadian yang waktu itu seolah semuanya nyata. Kemudian kakak bertanya pada seorang wanita tua dan dia mengatakan bahwa semua itu adalah masa laluku. Dan katanya lagi aku dilahirkan sekali lagi untuk menuntaskan apa yang belum selesai." Jawab Rangga mengusap lembut air mata yang mengalir dari pipi putri Rihana.


"Aku ingin kita segera menikah, melanjutkan kebahagiaan yang sempat tertunda kak." Ucap Rihana tegas setelah terdiam sejenak.


"Baiklah jika itu maumu. Kita akan menikah lalu hidup bersama hingga tua." Balas Rangga tersenyum sambil mengelus rambut Rihana lembut.


.......................


Begitulah... Kehidupan kedua pasangan kekasih itu menjalani hidup. Namun sayangnya mereka tidak tahu bahwa puluhan musuh kuat sedang mengincar nyawa mereka.


Di hari pernikahan kedua pasangan itu kejadian yang hampir sama dengan kehidupan sebelumnya kembali terjadi. Seolah sejarah terulang kembali, dalam kehidupan kali ini, kebahagiaan yang baru saja mereka rasakan berakhir dengan teragis dan pilu dan menjadi penutup kisah cinta kedua pasangan itu dalam kehidupan kali ini.


.................


Tidak berbeda dengan kehidupan sebelumnya, beberapa kehidupan mereka selalu berakhir dengan tragis. Kebahagian demi kebahagian yang setiap kali hendak mereka rasakan, selalu berakhir dengan menyedihkan. Meskipun telah memiliki pengalaman dari beberapa kehidupan, tetap saja kebahagiaan tak pernah mereka dapatkan. Seolah langit dan bumi bersekutu bermain-main dengan kisah cinta mereka.


Lalu bagaimanakah dengan kehidupan kali ini, kehidupan yang jauh lebih keras dari kehidupan mereka sebelumnya?


....................


Tetua Yan, Hanzho, berurai air mata mendengar kisah Rangga dan tetua Lan. Bahkan Della yang masih kecil itu ikut menangis mendengar kisa pilu dari gurunya ini. Sebagai murid, dia hanya bisa diam tanpa tau berbuat apa meskipun dia ingin sekali berbuat sesuatu.


"Semua itu adalah kesalahanku karena terlalu lemah. Kelemahan itulah yang membuatku tidak bisa melindungi orang yang kucintai. Kelemahan itulah yang aku sesalkan setiap saat." Ucap Rangga bergetar penuh emosi sambil menggenggam tangannya mencaci dirinya sendiri.


"Andaikan aku lebih kuat waktu itu, kejadian memilukan itu tidak akan pernah terjadi. Dalam kehidupan kali ini aku telah berlatih seperti orang gila. Yang aku lakukan hanya berlatih dan berlatih menghabiskan masa kecilku dengan latihan, masa remajaku dengan latihan, masa mudaku dengan latihan. Aku tidak peduli orang-orang sekitarku berkata apa, yang aku tahu hanyalah bagaimana kisah pilu beberapa kehidupan yang lalu itu tidak pernah terjadi. Aku terus berlatih di dunia ini hingga ke tahap puncak kekuatan dan menjadi yang terkuat di dunia." Ucap Rangga masih menggenggam tangannya.


"Terima kasih kakak telah mau menungguku kembali." Ucap tetua Lan terharu. Dia tahu dari penampilan Rangga bahwa yang diucapkannya itu benar. Penampilan seorang laki-laki yang gembel yang kedua matanya memancarkan kerinduan mendalam, tetap mengeluarkan aura yang mengerikan bagi mereka yang merasakannya.


Tetua Lan menggenggam erat tangan Rangga yang terkepal. Menggenggamnya dengan penuh kasih sayang dan cinta tanpa batas.


Brommmmm...


Tiba-tiba saja dari luar terdengar suara ledakan yang cukup keras. Semua orang yang berada di restoran itu segera berhamburan keluar mencari tahu apa yang telah terjadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo readers tercinta....🤗🤗


Dua hari ini author gk up karena lagi njeglek


Ada yang tau njeglek itu apa? Ah mungkin orang Jawa banyak yang tahu.


Rencana saya sebenarnya chapter Love Scene sangat panjang dan terdiri dari beberapa sub chapter. Namun karena beberapa kondisi yang kurang mendukung, jadi saya singkat segini saja.


Kalo ada kata-kata yang kurang pas atau kurang berkenan di hati para readers, silahkan katakan di kolom komentar.


Segitu saja yang bisa saya ucapkan. Di tengah perpanjangan PPKM ini, semoga kita selalu dalam kesehatan tanpa sakit sama sekali dan damai sentosa. -Berdoa yg baik2 aja- Tetap bertahan dan jangan lupa ber-Tuhan, Okeh😉😉👌👌


"Dia bukan menghilang, hanya kembali ke rusuk yang semestinya walau kamu pernah jadi semestanya." 😅😅 #Sabar_Ngab....