The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 74. CINTA INI TIDAKLAH SALAH KARENA AKU BENAR-BENAR MENCINTAIMU



Turnamen telah memasuki hari keempat. Kelompok yang awalnya berjumlah 250 kini tersisa 100 kelompok. Babak eliminasi berlangsung selama tiga hari dan pada hari ini dimulainya babak penyisihan.


Para peserta yang lolos di babak eliminasi telah berkumpul di lapangan. Meskipun sudah banyak yang tidak bertanding, namun tetap saja lapangan pertandingan dipenuhi orang-orang. Para kultivator itu tidak akan pergi hingga babak final diadakan dan mengetahui siapa yang beruntung mendapat juara pertama hingga juara kelima.


Di layar dua arena telah tertulis kelompok siapa saja yang akan bertanding pertama kali.


...ARENA 1...


...BABAK PENYISIHAN...


...YOUNG ASHURA VS WHITE RIVER...


Kedua kelompok naik ke arena. Sama seperti sebelumnya, ketua kedua kelompok maju dan melapor kepada wasit bahwa kelompok mereka siap bertarung. Seperti biasa Andri maju mewakili kelompoknya sedangkan kelompok lawan seorang pria membawa busur panah maju dengan tenang. Kedua ketua itu saling memberi salam kemudian kembali ke kelompok masing-masing.


"Kali ini aku yang akan maju. Dari kemarin aku belum mendapat kesempatan menunjukan kemampuanku." Ucap Denas maju duluan ke tengah arena. Tang Xiao dan yang lainnya turun dari arena membiarkan pemuda itu maju sendirian.


Kelompok lawan empat orang maju bersamaan menyisakan ketua mereka yang membawa busur panah tanpa anak panah. Keempat orang itu tampak sebaya dengan Kakak pertamanya, Andri. Mereka ada yang bersenjata golok, pedang, tombak, dan tangan kosong.


Denas mulai memperhitung kekuatan empat orang lawan di depannya itu serta bagaiamana cara mengahdapi mereka satu-satu atau sekaligus. Denas mencoba memprovokasi lawannya.


"Empat orang maju melawan satu orang. Sepertinya kalian tidak cukup pemberani." Ucap Denas.


"Tidak ada larangan seperti itu di pertandingan ini. Anda sendiri yang ingin terlihat sok kuat." Sahut seorang yang bersenjata golok besar.


"Sudahlah tidak usah mendengar ucapannya. Dia sengaja memprovokasi kita supaya kehilangan fokus. Daripada banyak bacot lebih baik segera kita lempar pemuda ini dari arena." Sahut orang yang tidak membawa senjata.


Dia langsung maju mengcungkan tinjunya ke arah kepala Denas.


Tijuan Seribu Tangan.


Kepalan tangan beruntun mengarah ke seluruh tubuh Denas. Dengan cepat Denas menghindari seribu pukulan itu dengan meliuk-liukan tubuhnya seperti menari.


Teman lawannya yang lain tidak diam saja. Mereka telah melesat maju mengeluarkan kekuatan mereka masing-masing.


**Sabetan Golok Naga Maut


Tombak Ashura Pencabut Nyawa


Pedang Jiwa Tak Bertuan**


Denas dihujani dengan berbagai macam serangan berbeda. Denas dengan cepat mengeluarkan kipas pemberian Tang Xiao.


Hempasan Pemindah Gunung


Denas mengayunkan kipasnya menghalau segala serangan yang datang kepadanya.


Wuushh...


Angin besar keluar dari kipas Denas memghempaskan serangan-serangan yang terus diarahkan kepadanya. Empat orang lawannya mundur dengan cepat agar tidak terkena hempasan angin besar dari pemuda di hadapan mereka.


Denas sendiri tampak terkejut dengan kekuatan kipas barunya itu. Hanya menggunakan sedikit kekuatannya saja, namun dampak destruktif yang keluar cukup besar. Denas melirik Tang Xiao yang berada di luar arena. Tang Xiao tersenyum dan mengangguk pelan kepadanya.


Kali ini Denas melesat terlebih dahulu menerjang empat orang lawannya. Kini dia tambah percaya diri setelah mengetahui kekuatan yang kekuar dari kipas barunya.


Kelima orang itu mengadu jurus masing masing. Terkadang Denas terkena serangan musuh, kadang musuhnya terkena serangan Denas. Meski empat orang lawannya itu berada di ranah Legend bintang lima dan enam, namun cukup merepotkan jika mereka menyerang bersamaan.


Wuushh...


Denas membuka segel kultivasinya dan tentu saja mengejutkan orang-orang di sekitar arena satu. Pasalnya mereka awalnya melihat kultivasi Denas hanya berada di ranah Grand Master bintang lima namun kali ini mereka tidak menyangka ternyata pemuda yang mereka anggap lemah itu berada di ranah Saint bintang enam. Tingkat kultivasi yang sangat mengerikan di usia yang masih belia. Orang-orang yang duduk di kursi kehormatan juga merasa takjub dengan Denas. Bahkan mereka telah saling berebut Denas.


"Jika kelompok anak itu kalah nantinya, mereka akan aku beri kuota khusus agar mau bergabung dengan sekte kami." Ucap wanita yang berasal dari Sekte Bintang Kejora.


"Pemuda itu harus masuk sekteku. Jika Bakatnya akan tersia-siakan jika masuk sekte lain." Ucap pria paruh baya yang berasal dari Sekte Rembulan Emas


"Oh pemuda itu sangat cocok jika bisa menjadi kekasih Rina. Baiklah sudah diputuskan pemuda itu akan aku ambil sebagai menantu Kerajaan Nusantara." Ucap Raja Kerajaan Nusantara dengan semangat.


Tentu saja yang paling terkejut adalah empat orang lawan Denas di atas arena. Terlihat mereka mulai waspada dengan setiap gerakan Denas. Mereka mulai membuat rencana bagaimana mengahadapi Denas yang lebih kuat dari mereka.


Pertempuran pun terjadi. Kini Denas mulai mengeluarkan kemampuan aslinya yang selama ini ditutupinya bahkan kepada ketiga saudaranya. Tang Xiao, Andri, dan Jessika tampak takjub dengan jurus-jurus Denas yang baru mereka lihat. Sedangkan Arya mencoba menenangkan dirinya. Dia awalnya meremehkan Denas saat pertama kali bertemu dan itu hal wajar, namun setelah pemuda itu membuka tingkat kultivasinya, Arya menelan ludah kasar. Dia menatap Jessika, Andri dan Tang Xiao satu persatu dan mulai menganlisis kekuatan mereka masing-masing.


"Saudara Denas adalah yang termuda diantara mereka, jika yang paling muda saja telah berada di ranah saint bintang enam lalu bagaimana dengan ketiga kakaknya yang lebih tua. Hi.. Sepertinya aku berada dalam sekelompok monster yang menyamar jadi buruan." Batin Arya bergidik ngeri. Meski begitu, dia juga merasa senang karena telah berteman dengan para jenius monster dalam usia yang begitu muda.


Tak berselang lama, keempat orang lawan Denas terlempar keluar arena meninggalkan Denas sendirian. Pemuda itu mengacungkan kipasnya ke atas sebagai selebrasi kemenangannya. Denas tahu kemenagan itu belum berakhir saat seorang pria yang membawa busur panah melompat ke arena menggantikan keempat kawannya yang telah terhempas keluar.


"Anak muda, kamu memang sangat berbakat. Aku tidak menyangka bahwa di usia yang baru lima belas tahun kamu sudah berada di ranah Saint bintang enam. Lihatlah kamu telah menjadi rebutan dari dua sekte dan satu kerajaan." Ucap pria itu tenang sambil menunjuk ke arah kursi tamu kehormatan.


"Namun maaf aku juga harus mengembalikan nama baik kelompokku. Jadi kali ini aku tidak akan tanggung-tanggung."


Wushh..


Pria itu membuka segel kultivasinya yang berada di ranah Saint Expert. Pria yang berumur empat puluhan tahun itu mulai menyerang duluan. Busur panah diarahkan ke Denas lalu muncullah anak panah yang terhasil dari tenaga dalam.


Wuushh..


Anak panah berwarna putih itu meluncur dengan cepat mengarah kepala Denas. Hampir saja Denas tidak mampu menghindarinya hingga masih bisa menggores pipi Denas yang putih. Denas melompat mundur menghindari serangan yang masih datang kepadanya.


Denas kembali mengayunkan kipas menghalau anak panah yang mengarah kepadanya namun anak panah itu sama sekali tidak berhenti atau terhempas, melainkan semakin mengarah kepada Denas.


Denas melentingkan tubuhnya berputar-putar di udara menghindari anak panah yang tidak mampu dihalaunya. Kembali anak panah tenaga dalam meluncur dengan cepat. Denas kembali mencoba mengahalau anak panah itu dengan angin yang keluar dari kipasnya, namun tetap saja tidak bisa menghentikan atau bahkan memperlambat laju kencang anak panah yang meluncur deras.


Untung saja kali ini Denas telah siap dengan kecepatan anak panah sehingga dia mampu menghindar anak panah energi itu. Denas melompar mundur ke belakang mencari titik temu kenapa angin yang keluar dari kipasnya tak mampu menghalau panah tenaga dalam milik lawannya.


"Tuan Denas" Suara yang terasa familiar tiba-tiba terdengar di kepalanya.


"Ah.. Kamu bisa bicara padaku tanpa menunjukan wujudmu?" Tanya Denas yang telah mengetahui dari mana suara itu.


"Tentu saja tuan, saya mengetahui apa yang telah terjadi selama tuan menggunakan saya." Ucap suara di kepala Denas.


"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?"


"Ada beberapa alasan tuan. Pertama tenaga dalam yang terpaut jauh antara tuan dan pria itu. Panah tenaga dalam yang keluar dari busur panah itu seperti sebuah tombak yang melewati titik-titik hujan yang mencoba menghentikan laju tombak. Bukannya menghentikan, malah tombak itu yang memotong titik hujan yang mencoba menahannya. Yang kedua tuan tidak menyingkronkan antara kehendak tuan dan kehendak kipas di tangan tuan. Pria di depan sana memiliki senjata tingkat tinggi yang juga di dalamnya terdapat sebuah roh seperti saya. Pria itu telah..." Penjelan suara di kepala Denas berhenti saat tiga buah panah energi meluncur deras ke arah Denas.


Wushh...


Denas melentingkan badannya dan berputar di udara lalu dengan cepat memutar kipasnya hingga membentuk sebuah tornado kecil yang bergerak dengan cepat.


"Lanjutkan penjelasanmu." Ucap Denas sambil memperhatikan gerakan lawan yang sudah berhasil mematahkan jurus tornadonya.


"Yang ketiga, pengalaman bertarung pria itu jauh lebih banyak dari tuan sehingga setiap serangan yang dilancarkan pria itu cukup akurat. Dan yang terakhir, tentu saja tingkat kultivasi tuan dan pria itu yang terpaut jauh membuat tuan tidak mungkin bisa mendapinginya."


Denas kembali membuat beberapa angin tornado untuk menyibukkan lawannya sehingga Denas bisa membuat rencana penyerangan yang cukup akurat.


Tentu saja sesuai ucapan gadis yang didengar Denas di kepalanya bahwa pria di depannya itu memiliki pengalamn bertarung yang lebih dari pada Denas. Semakin lama pertarungan kedua orang itu semakin menguras energi Denas membuat setiap serangannya semakin melemah begitu juga pertahanannya. Denas mulai tampak lelah dan beberapa bagian tubuhnya telah terkena panah energi mengeluarkan darah segar.


"Anak muda sudah kukatakan, akan kurebut kembali kejayaan kelompokku. Maaf jika aku harus mengakhirinya sampai di sini." Ucap pria berumur empat puluhan itu sambil mengarahkan busurnya ke langit.


Wuusshh...


Sebuah anak panah melayang ke atas dengan cepat. Anak panah yang melayang semakin lama semakin besar dan semakin panjang panjang. Anak panah itu berhenti hingga di titik tertentu kemudian anak panah itu berbalik dan berhenti di langit.


Wuushh..


Anak panah yang berhenti di langit itu tiba-tiba membelah diri hingga sepuluh bagian dengan besar dan panjang yang sama sekitar sepuluh meter. Setelah itu sepuluh anak panah raksasa itu meluncur ke bawah dengan Deras.


Denas yang melihat itu menelan ludah kasar. Denas mempersiapkan kuda-kudanya dan mengibaskan beberapa kali kipasnya ke atas membentuk priasai angin berwarna putih yang terlihat kokoh.


Wuushh..


Baamm...


Sepuluh anak panah energi milik pria berumur empat puluhan tahun dan prisai energi milik Denas saling berbenturan di atas arena satu. Denas yang berada di bawah prisai itu menambah kekuatan kuda-kudanya hingga membuat lantai di bawah kakinya mencadi retak.


Semakin lama kuda-kuda Denas semakin menurun menandakan dia tidak sanggup lagi menahan kekuatan dari sepuluh panah energi yang menekannya tanpa ampun.


Uhuk...


Denas muntah darah. Jessika, Andri dan Arya hampir saja melompat ke atas panggung jika tidak di tahan oleh Tang Xiao.


Uhuk...


Wuushh...


Cahaya biru yang keluar dari kening Denas semakin lama semakin besar hingga cahaya itu menembus prisai energinya dan menghempaskan sepuluh panah energi raksasa lenyap tak tersisa. Bersamaan dengan cahaya biru yang menembus langit, dari kening Denas muncul juga cahaya emas menembus langit. Kedua cahaya itu saling bertaut seperti sebuah simpul menembus langit.


Cahaya biru dan cahaya emas itu sangat menyilaukan pandangan semua orang dan tidak ada yang tahu apa yang terjadi dalam kedua cahaya yang saling terpaut itu termasuk Rangga dan Kakek Lao, termasuk tiga makhluk immortal yang melihat pertandingan itu dari jauh.


Wuushh...


Kedua cahaya yang bertaut itu semakin lama semakin menipis hingga lenyap tak meninggalkan apapun kecuali seorang pemuda tampan berambut biru dan seorang gadis nan cantik jelita sedang melayang di atas arena. Di tangan kiri gadis itu menggenggam erat kipasnya seakan tidak boleh dipegang orang sedikitpun.


Gadis jelita yang mengenakan baju hijau terlihat lemas dan di papah pemuda tampan yang memandang wajah gadis itu dengan rumit. Begitu juga dengan gadis cantik yang memandang wajah Tang Xiao penuh kasih sayang.


"Kakak... Maaf selama ini aku mungkin telah membohongimu." Ucap lemah gadis yang berada di pangkuan Tang Xiao.


"Adik keempat..." Belum sempat Tang Xiao meneruskan ucapannya, jari telunjuk gadis cantik itu telah mendarat di bibir Denas.


"Maafkan aku kak, yang membongimu mengenai identitasku dan kakak pertama. Maaf juga telah berbohong atas perasaan ini.


"Ketahuilah kak, saat pertama kali kita bertemu, di saat itulah perasaan yang entah datang dari mana tiba-tiba muncul. Semakin lama perasaan ini semakin terang dan jelas juga semakin besar. Hingga kakak memberikan kipas ini, rasa suka dan rindu serta cinta menggebu semakin besar. Namun aku juga merasa sakit saat melihat kakak berjalan dan berduaan dengan seorang gadis yang kakak sendiri tidak terlalu mengenalinya.


Rasa sakit itu semakin besar saat kakak memperkenalkan gadis itu dan menyemangatinya serta memberikannya obat penyembuh luka. Selama ini aku mengadu rasa cinta dan cemburu ini kepada kakak kedua seorang. Jika bukan karena dorongan dan paksaan kakak kedua, aku tidak mungkin mengungkapkan identitasku." Ucap gadis cantik itu sambil membelai wajah Tang Xiao dengan tangan kanannya.


"Sedalam itukah cintamu hingga membuatmu mengungkapkannya meskipun itu membahayakan nyawamu?" Tanya Tang Xiao tak mengerti.


"Kurasa pengorbananku tidak sia-sia bahkan masih kurang jika dibandingkan dengan cinta yang kumiliki ini kepada kakak pertama." Ucap Denas.


Tang Xiao terdiam tidak berbicara. Dia mencoba memahami perasannya sendiri saat ini. Perasaanya kepada Rina ataukah perasaanya kepada adik keempatnya ini. Sejenak dia memandang Rina yang ternyata juga memandanganya dengan perasaan rumit. Gadis itu mengangguk pelan memberi isyarat kepada Tang Xiao kemudian gadis itu pergi dari kerumunan.


Tang Xiao kembali menatap adik keempatnya ini. Mata birunya mengerjap-ngerjap sesaat membuat gadis cantik itu semakin meleleh.


"Jujur saja, entah kenapa setelah kita keluar dari Gurun Fajar Merah membuatku selalu merasa nyaman bila duduk di dekatmu dan tidak bisa pergi jauh. Awalnya aku berpikir itu adalah wajar sebagai ikatan persaudaraan. Namun lama kelamaan kewajaran itu semakin tidak masuk akal, bahkan jika sehari saja aku tidak melihatmu ada rasa rindu yang tiba-tiba datang entah dari mana.


Aku menceritakan perasaan itu kepada kakak pertama dan hampir saja kakak pertama membunuhku karena menduga aku orang yang suka sesama jenis. Namun setelah menjelaskan detailnya, kakak pertama menyuruhku untuk mencari wanita sebagai tempat hatiku yang kata kakak pertama tempat untuk mencintai seseorang dan merasa rindu padanya.


Namun setelah aku bertemu wanita itu, perasaan dan rindu yang kurasa aneh itu semakin parah dan seolah aku merasa sakit setiap kali aku menjauh darimu dan mendekati gadis itu. Dan perasaan rindu itu semakin nyata saat tadi malam aku masuk ke kamarmu dan memandangi wajahmu yang terlelap. Saat itulah aku membuat alasan mengajakmu makan malam bersama karena takut ketahuan.


Aku hampir saja gila karena perasaan aneh itu dan aku juga hampir saja benar-benar dibunuh kakak pertama jika saudara Arya tidak melarang kakak pertama, ketika aku mengatakan pada kakak pertama bahwa aku benar-benar mencintaimu.


Namun kini aku yakin cinta ini tidaklah salah jika aku mencintaimu dan cintamu tidaklah bertepuk sebelah tangan karena aku benar-benar mencintaimu." Ucap Tang Xiao tersenyum menggoda seperti yang selama ini dilakukannya kepada gadis-gadis pelayan restoran.


Air mata perlahan mengalir dari kedua pipi gadis cantik itu. Gadis itu tersenyum manis.


"Kakak, aku ingin membuktikan di hadapan orang-orang ini bahwa aku benar-benar mencintaimu." Ucap gadis itu bersemu merah kedua pipinya.


"Caranya?" Tanya Tang Xiao penasaran.


Tangan kanan gadis cantik itu menutup kedua mata Tang Xiao. Gadis itu juga memejamkan kedua matanya dan mulai mendekatkan bibirnya yang seperti delima merah itu ke bibir Tang Xiao.


"Eits tunggu sebentar." Ucap Tang Xiao tiba-tiba.


Gadis itu terkejut sesaat. Nampak wajahnya terlihat sebal karena diganggu.


"Tunggu apa kak?" Tanya gadis itu sebal.


Tang Xiao terdiam sesaat. Tak lama kemudian muncul portal emas di atas kepala Tang Xiao lalu sebuah angin lembut menerpa tubuh Tang Xiao dan angin itu menyatu dengan Tang Xiao. Terlihat perubahan yang tidak signifikan yang hanya dapat dirasakan gadis di pangkuannya, Jessika dan Andri.


"Kakak kamu ken.."


Cup......


Belum habis gadis itu bertanya, bibir Tang Xiao telah mendarat dengan sangat lebut di atas bibirnya. Gadis itu pun memejamkan kedua matanya menikmati tanda cinta dari Tang Xiao.


"Wwwooooooohhhhhhhhh"


Para kultivator yang mendengar dan melihat ucapan Tang Xiao dan gadis itu menjadi heboh sendirinya. Ada diantara mereka yang menangis bahagia ada juga diantara mereka yang menangis sedih. Tentu saja mereka mengapresiasikan perasaan mereka sesuai dengan kondisi kejombloan mereka saat ini.


"Terima kasih kak..." Ucap gadis itu setelah beberapa saat berciuman. Kedua mata gadis itu tampak berbinar.


Tang Xiao tersenyum. "Aku yang harusnya berterima kasih. Jika kamu tidak mengungkap identitasmu hari ini, mungkin aku benar-benar akan dibunuh kakak pertama." Ucap Tang Xiao tersenyum lebar.


"Pfftt... Sepertinya kita harus berterima kasih kepada kakak pertama dan kedua." Balas gadis itu sambil mengedipkan matanya pada Jessika yang tampak terharu dan berurai air mata.


"Eh ngomong adek siapa nama aslimu?" Ucap Tang Xiao terasa canggung karena bingung harus memanggil apa.


"Ppfftt... Nama aku Dewi Nawang Sari. Panggil saja dengan nama yang menurut kakak nyaman." Jawab gadis cantik itu.


"Baiklah jika itu maumu. Semua namamu terasa sangat nyaman sekarang dan terasa menyenangkan didengar." Balas Tang Xiao.


"Haha... Kakak ternyata bisa ngegombal juga..." Balas Nawang senang.


"Tentu saja. Bagaimana dengan lukamu?" Tanya Tang Xiao dengan wajah serius.


"Inilah cinta.. Kurasa tidak luka sama sekali dan sekalipun mungkin luka itu telah sembuh hanya dengan sentuhan lembut tanganmu." Jawab Nawang tersenyum manis.


"Sampai kapan kakak akan menggendongku di hadapan orang-orang ini?"


"Oh iya lupa. Kurasa pemenangnya lebih ditentukan wasit saja."


Kedua orang itupun turun dari arena dan menjadi pusat perhatian para kultivator yang hadir. Para wanita dan pria sama-sama iri dengan kedua pasangan itu namun juga mereka setuju dengan hubungan mereka.


Wasit arena satu naik ke arena mengumumkan bahwa pertandingan babak penyisihan kali ini dimenangi oleh kelompok Tang Xiao dan Nawang karena masih berdiri di atas arena.


Wushh..


"Nona putri Dewi!" Tegur dua orang wanita cantik berumur dua puluhan tahun bersama seorang pria tampan berumur tiga puluhan tahun.


Nawang, dan Tang Xiao menoleh ke arah mereka yang memanggil. Denas tersenyum lebar saat mengenal ketiga orang yang dikenalnya terlebih dua wanita cantik yang sangat dikenalnya.


"Guru Yan, guru Lan, tuan Rangga juga ke sini!" Sapa Nawang sambil memeluk dua wanita cantik itu erat lalu memberi salam hormat kepada Rangga.


"Jadi apa yang sebenarnya telah di sini?" Tanya Tang Xiao yang kebingungan tidak mengerti kenapa dua orang yang tadi malam mereka bertemu bisa mengenal Nawang.


"Cerita ini lumayan panjang sebaiknya kita cari tempat nyaman untuk menceritakannya, bagaimana tuan Tang?" Tanya tetua Lan.


"Tentu saja saya setuju, kebetulan kelompok kami terlah bertanding di awal saya akan mengajak saudara yang lain untuk mendengar cerita adik keempat mereka ini." Jawab Tang Xiao sambil mengelus kepala Nawang Sari gemas. Tang Xiao kemudian memberi kode kepada Jessika, Andri dan Arya untuk mendekat mengikuti mereka.


" Ya tidak masalah, sebagai kakak tentu saja mereka harus tahu kisah adik keempat mereka yang bandel ini." Balas tetua Yan tersenyum lebar.


Tang Xiao dan Nawang tertawa kecil mendengar itu. Mereka berjalan keluar lapangan menuju restoran tempat tadi malam makan bersama. Tentu saja Rangga membawa kelompok yang selama ini telah bersamanya kecuali kakek Lao dan Silvie karena Silvie masih harus ikut pertandingan bersama kelompoknya dan sebagai cucu satu-satunya, kakek Lao tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap Silvie.


Sekelompok orang itu langsung naik ke lantai lima setelah membayar seratus koin emas kepada penjaga seperti biasanya. Setelah memesan makananan kesukaan masing-masing, cerita tentang Dewi Nawang Sari kabur mulai diceritakan.


......................


Di sebuah dunia yang terletak di sudut semesta, sebuah portal besar muncul di langit dan mengeluarkan makhluk-makhluk hitam bertanduk. Makhluk-makhluk itu terbang kesana kemari mengitari sebuah tempat yang sangat gelap.


Satu makhluk hitam bertanduk dan bersayap yang di sekitar tubuhnya mengeluarkan asap hitam maju sambil membawa kotak hitam di tangan kanannya. Kotak itu berdenyut seakan hidup dan mengerti keadaan sekitarnya. Makhluk hitam itu memasukan kotak pandora di ke dalam sebuh lingkaran energi dengan enkripsi yang sangat rumit. Begitu kotak pandora itu dimasukan, lingkaran energi itu berdenyut lalu mengeluarkan cahaya hitam lalu muncul portal hitam di dekat makhluk hitam itu.


"Bagus sekali Rnudzam, kamu telah layak membuktikan dirimu sebagai salah satu jenderal kepercayaanku." Ucap sosok yang keluar dari portal itu.


Makhluk hitam itu berlutut dan memberi hormat.


"Terima kasih tuan atas keparcayaan anda kepada hamba." Ucap makhluk hitam brrtanduk itu.


"Bagus bagus.. Sekarang pergilah dan bantu saudaramu yang lain. Sebagai jenderal kepercayanku, bukitakan hal itu di depan saudara-saudaramu." Ucap sosok itu.


"Hamba laksanakan sepenuh hati tuanku." Setelag mengucap kata demikian, makhluk hitam bertanduk itu memasuki portal yang masih terbuka di langit diikuti para pengikutnya. Sosok makhluk itu menyeringai lebar sambil menatap lingkaran energi di depannya.


"Hahaha.... Kepemilikan semesta akan segera ke tanganku. Hahaha"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Guys..


Gmn kbr kalian hari ini baik kan.. Yups semoga dalam keadaan sehat selalu. Seorang bijak pernah berkata "Kesehatan itu ibarat mahkota yang terletak di atas kepala yang hanya dirasakan oleh mereka yang sehat."


Jadi tetap hargai sehatmu sebelum datang masa sakitmu, ok🤗🤗