
BENUA LAND OF HEAVEN.
Denas yang memiliki nama asli Dewi Nawang Sari saat ini sedang terduduk berlutut di hadapan beberapa petinggi benua Land Of Heaven.
Beberapa hari yang lalu, begitu tetua Yan dan tetua Lan memasuki benua ini membawa Nawang, beberapa orang penjaga benua telah menghadang mereka bertiga. Para penjaga ini telah berada ranah Immortal.
Awalnya tetua Yan dan tetua Lan mencoba bernegoisasi dengan para penjaga yang berjumlah tiga orang itu agar tidak dulu membawa Nawang ke persidangan namun terlebih dahulu membawa Nawang menemui orang tuanya. Namun negoisasi tersebut ditolak dengan keras oleh ketiga orang itu dengan alasan para tetua Benua Land Of Heaven tidak memberi keringanan kepada mereka yang melanggar hal paling tabu, yaitu keluar dari Benua Land Of Heaven tanpa persetujuan atau tanpa pemberitahuan kepada tetua Benua Land Of Heaven.
Melihat negoisasi yang gagal, tetua Lan mengacam dengan kekerasan. Namun hanya dari seorang penjaga itu, sudah membuat babak belur tetua Lan dan tetua Yan. Jika saja pertarungan itu tidak dihentikan oleh Nawang dengan tangisan, mungkin kedua gurunya itu telah mengalami luka fatal.
Dengan sedikit terpaksa, Nawang mengikuti para penjaga menuju persidangan. Sedangkan tetua Lan dan Yan kembali ke Kerajaan Petir melaporkan yang telah terjadi.
"Dewi Nawang Sari, putri dari Raja Petir, kamu tahu apa kesalahanmu?" Tanya salah satu tetua dengan tatapan tajam dan mengintimidasi.
Dewi Nawang Sari mengangguk pasrah. Kedua tangannya telah diikat ke belakang seperti tawanan. Untung saja di ruangan persidangan itu hanya ada para tetua dan penjaga yang tadi membawanya ke sini. Memang, untuk kesalahan yang dilakukan secara individu, maka persidanganpun dilakukan secara tertutup.
"Katakan, apa alasanmu?" Tanya tetua yang kedua.
Nawang terdiam sejenak.
"Aku tidak ingin dijodohkan." Jawab Nawang tegas sambil mengangkat kepalanya dan menatap tetua pertama.
"Bodoh..." Gumam tetua ketiga yang duduk di sebelah kiri tetua pertama. Sedangkan tetua kedua duduk di sebelah kanan tetua pertama. Saat ini yang melakukan persidangan hanyalah ketiga tetua ini. Karena memang merekalah yang mengurus pelanggaran keamanan dimensi Benua Land Of Heaven.
"Hanya itu?" Tanya kembali tetua kedua.
"Ya hanya itu." Jawab Nawang kembali menunduk. Yang saat ini ada dipikirannya hanyalah Tang Xiao seorang. Dia bertanya-tanya dalam hati, apakah kekasihnya itu benar-benar datang untuk menjemputnya atau tidak. Meskipun dia sudah memantapkan hatinya terhadap Tang Xiao, namun perasaan ragu itu tiba-tiba datang di saat mengetahui betapa ketatnya penjagaan dimensi Benua Land Of Heaven. Terlebih saat ini, ketika dia telah berhasil keluar dari dimensi Benua Land Of Heaven, penjagaan diperketat dua kali lipat dan menutup semua jalur dimensi dari dalam. Sementara jalur dimensi yang dari luar telah benar-benar dihilangkan.
"Lalu apa yang kamu dapat dari perjalananmu selama di luar?" Tanya tetua pertama. Tetua ketiga memang orang pendiam namun sedikit agresif.
"Banyak... Salah satunya adalah ketulusan. Ketulusan yang tidak kudapat dari benua ini." Jawab Nawang tegas.
"Apaaaa? Bodoh.." Ucap marah tetua ketiga sambil mengeluarkan auranya sedikit menekan Nawang.
"Ugghh..." Nawang tertunduk tak berdaya.
"Sabar tetua ketiga. Bagaimanapun dia masih seorang bocah." Ucap tetua kedua menenangkan tetua ketiga.
"Masih bocah kok sudah berani kabur keluar dan merusak segel yang telah dibuat." Sahut tetua ketiga ketus sambil menarik kembali auranya.
"Huff..." Nawang kembali bernafas lega namun kini keringatnya bercucuran deras. Hanya sepersekian detik aura tetua ketiga menekannya, namun dia merasa seakan kematian datang menjemputnya.
"Sudahlah.. Lebih baik kita akhiri basa basi ini dan langsung beri hukuman yang setimpal." Ucap tetua ketiga malas dan hendak pergi dari persidangan itu.
Dua orang tetua lainnya hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum simpul melihat tingkah tetua ketiga. Mereka bisa memaklumi perasaan tetua ketiga saat ini.
"Baiklah..." Jawab tetua pertama sambil membuka sebuah buku yang cukup tebal dan terlihat tua. Sepertinya buku itu berisi catatan hukuman dan pasal-pasal pelanggaran.
"Dewi Nawang Sari, pelanggaran yang telah kamu lakukan memiliki konsekuensi yang cukup berat. Menurut Pasal 09738 Tentang Keamanan Nasional Benua Land Of Heaven serta Pasal 07982 Tentang Pelanggaran Perusakan Array Dimensi, kamu dijatuhi hukuman cambuk 500x dan penjara 100 tahun." Tetua pertama menarik nafas sambil menatap ke arah Nawang yang terlihat terkejut. Tetua pertama melanjutkan keputusannya.
"Namun karena menimbang kamu masih di bawah umur dan beberapa hal lainnya, maka hukuman yang kamu terima adalah penjara maksimal satu tahun dan denda 1000 Kristal Lima Warna Tingkat 5." Putus tetua pertama sambil memukulkan palu di depannya sebanyak tiga kali.
Tuk
Tuk
Tuk
Dewi Nawang Sari terbelalak kaget mendengar keputusan itu. Dia mengangkat kepalanya menatap tetua pertama, kedua dan ketiga dengan rasa tidak percaya. Dibanding dengan kesalahannya, hukumannya ini tidak ada apa-apanya.
Bukan cuma Nawang yang terkejut, bahkan tetua penjaga yang membawa Nawang ke ruang sidang juga dibuat terkejut. Dia menatap ketiga tetua dengan tidak percaya. Meskipun dari awal dia sudah menebak keringanan hukuman Nawang namun hal ini masih membuatnya terkejut.
Tetua pertama dan kedua beranjak dari kursinya setelah membereskan seluruh berkas-berkas mereka di atas meja. Mereka meninggalkan aula persidangan diikuti tetua penjaga meninggalkan tetua ketiga dan Nawang di aula.
Dewi Nawang Sari bangkit dari berlututnya dan berdiri menatap tetua ketiga.
"Kakek.." Teriak girang Dewi Nawang Sari sambil berlari mendekati tetua ketiga yang merentangkan tangannya dan tersenyum lembut kepadanya.
Ctak..
Tetua ketiga menjentikkan jarinya dan tali yang mengikat kedua tangan Nawang hilang begitu saja. Dengan begitu, gadis itu memeluk tetua ketiga atau kakeknya dengan erat.
"Dasar bocah nakal, kamu tidak tahu betapa susahnya kakek menghadapi para petinggi karena ulahmu?" Ucap tetua ketiga sambil mengelus kepala Nawang penuh kasih sayang.
"Ya kek maaf kek. Tapi hanya itu satu-satunya cara Nawang lepas dari perjodohan itu. Kan kakek juga yang memberi bocoran array dimensinya." Ucap Nawang merajuk. Dia masih memeluk kakeknya ini.
"Yah mau gimana lagi, kakek juga tidak mau kamu dijodohkan dengan bocah brengsek itu." Balas tetua ketiga sambil melihat ke arah pintu aula. Sejurus kemudian tersenyum simpul.
"Sudahlah.. Sidang telah selesai, gak usah pura-pura sembunyi di balik pintu sambil memberikan hawa yang cukup besar." Ucap tetua ketiga sambil menatap ke arah pintu aula yang sedikit terbuka.
"Ahaha...." Pintu aula terbuka dan masuklah seorang laki-laki dan dan seorang perempuan berumur lima puluhan tahun. Mereka adalah tetua pertama dan kedua.
"Kakek angkat, nenek angkat..." Ucap Nawang girang yang segera memeluk kedua orang tua itu juga.
"Ahaha... Cucu kami kini bertambah kuat aja. Cuman beberapa bulan di luar sana namun kultivasinya sudah bertambah segini banyaknya." Komentar tetua kedua setelah melihat kultivasi Nawang.
"Ahaha.... Kami sangat bangga sebagai kakekmu." Ucap tetua pertama juga bangga.
"Hehehe... Ini semua berkat seseorang yang sudah berjuang membantuku." Balas Nawang sedikit malu.
"Wahhh.. Cucu kakek ternyata sudah punya tambatan hati." Komentar tetua ketiga saat melihat pipi Nawang yang bersemu merah.
"Apa dia yang membantu kultivasimu?" Selidik tetua pertama. Nawang mengangguk cepat.
"Ahaha.. Lalu kultivasinya di ranah apa dan umurnya berapa sekarang. Jangan-jangan nanti kakek tua seumuran kami. Ahaha..." Ucap tetua pertama sambil tertawa yang disambut tawa juga tetua kedua dan ketiga.
"Ishh apaan sih kek. Dengar ya kek. Dia ini bukan pemuda sembarangan. Belum pernah Nawang melihat pemuda seperti dia. Umurnya lima belas tahun lebih. Sedikit lebih tua dari Nawang. Dan saat ini kultivasinya yang berhasil Nawang ketahui berada di ranah Ancestor bintang sembilan. Dan lihat, Nawang juga diberi sebuah kipas yang sangat indah. Katanya sebagai hadiah ulang tahun Nawang." Ucap Nawang menggebu-gebu dan semangat tak terima kekasihnya dibilang kakek-kakek tua. Dia mengeluarkan kipas pemberian Tang Xiao.
"Ahaha... Umur lima belas tahun sudah di ranah Ancestor bintang sembilan. Sungguh monster bocah itu." Ucap tetua ketiga sambil memegang janggutnya yang putih dan tipis.
"Lalu kipas ini sepertinya bukan kipas sembarangan." Ucap tetua kedua mencoba mengambil kipas itu dari telapak tangan Nawang.
"Ughhh.. Apa ini.." Tanya heran tetua kedua yang mencoba mengangakat kipas dari tangan Nawang namun tidak bergerak sedikitpun.
Tetua kedua kembali mencoba mengangkat kipas itu dengan seluruh tenaganya namun bergerak satu kilan sajapun tidak bisa. Bahkan terlihat bahwa tetua kedua sedikit berkeringat.
"Apa-apan ini. Kipas apaan ini." Gumam tetua kedua yang sudah tidak lagi berminat terhadap kipas itu.
Tetua pertama dan ketiga juga terlihat heran dan tidak percaya. Mereka berdua mencoba mengangkat kipas itu dengan menggabungkan tenaga mereka. Namun hasilnya sama saja, bergerak sejengkalpun tidak. Padahal mereka dapat melihat bahwa kipas itu begitu ringannya di tangan Nawang.
"Wulan keluar." Gumam pelan Nawang. Lalu muncul asap putih dari kipas dan meliau-liuk tak lama kemudian membentuk sesosok tubuh. Melihat itu tetua pertama, kedua dan ketiga terbelalak.
"Kipas yang mempunyai jiwa." Gumam mereka.
"Wulan memberi hormat kepada tuan putri" Ucap Wulan setelah tubuhnya terbentuk sempurna.
Nawang melihat ke arah kakek dan neneknya yang terkejut. Dia tersenyum simpul karena pernah berada di posisi mereka bertiga.
"Wulan aku mau tanya kenapa mereka tidak bisa mengangkat kipasku ini?" Ucap Nawang sambil menunjuk kedua kakek dan neneknya.
"Itu karena segel yang telah dipasang tuan besar. Jadi tanpa seizin tuan besar, tidak ada satu makhlukpun yang mampu mengangkat saya sekalipun itu adalah Kaisar Surgawi." Jawab Wulan cepat.
Nawang melirik kakek dan neneknya. Mereka terlihat bengong dan tidak percaya. Nawang membiarkan mereka seperti itu, dalam keadaan memahami apa yang sedang terjadi.
"Lalu, kamu ini makhluk apa?" Tanya tetua ketiga setelah sadar dari keterkejutannya sambi menatap Wulan yang terlihat jauh lebih muda dari Nawang cucu satu-satunya.
"Maaf saya tidak bisa menceritakan siapa saya karena hal ini berkaitan dengan tuan besar." Jawab Wulan sambil membungkukkan badan.
"Hemm... Lalu tuan besarmu siapa?" Tanya Tetua kedua penasaranmu.
"Tuan besar saya bernama Tang Xiao. Maaf saya hanya bisa memberi tahu sampai sini." Jawab Wulan kembali menunduk.
Ketiga orang tua itu terdiam sejenak. Mereka mencoba menghubungkan antara tuan besar yang diceritakan Wulan dengan pemuda yang disukai cucu mereka. Meskipun samar, mereka bertiga dapat merasakan bahwa kedua orang itu adalah sama atau setidaknya memiliki hubungan yang sangat dekat.
"Hemm.. Baiklah... Saat ini sebaiknya segera membawa Nawang ke tempat hukumannya. Karena aku takut para petinggi akan curiga." Ucap tetua pertama sambil memperhatikan sekitaran.
Tetua kedua dan ketiga mengangguk meskipun mereka agak berat melepas Nawang. Wulan kembali masuk ke dalam kipas namun Nawang tidak menyimpan kipas itu. Dia membawanya di tangannya sambil sesekali mengipasi dirinya.
Keempat orang itupun keluar dari aula dan menuju tempat hukuman atau penjara Nawang.
...****************...
...UNIVERSE LAIN...
"Apa yang kalian lakukan di sini" Satu suara yang cukup dingin terdengar.
Suara itu membuat kaget ratusan makhluk hitam bersayap yang sedang memandangi sebuah kotak hitam yang berdenyut. Ratusan makhluk itu segera menoleh ke belakang dan terbelalak kaget melihat seorang pemuda tampan berdiri santai di belakang mereka tanpa mereka sadari. Pemuda yang mengenakan jubah emas dengan ukiran Naga yang meliuk-liuk seolah Naga itu hidup dan sedang terbang mengarungi semesta yang tanpa batas. Ratusan makhluk hitam itu segera waspada.
Sesosok dari makhluk hita yang lebih besar dengan warna abu-abu, maju dan berjalan mendekati pemuda berjubah emas.
"Perkenalkan, saya adalah Vernim salah satu panglima besar. Siapa anda?" Suara Vernim terdengar berat dan dalam. Terdengar nada sombong dari ucapannya.
"Saya adalah Xiao Long. Saya bawahan terkuat tuan Tang." Balas Xiao Long tak kalah sombong.
"Apakah anda penjaga pulau ini?" Tanya Vernim mencoba mengulur waktu. Dia sangat waspada dengan pemuda di depannya ini. Dari awal dia tidak merasakan kehadiran pemuda ini sama sekali. Bahkan hingga kini Vernim masih tidak bisa merasakan kehadiran Xiao Long meskipun sudah saling berhadap-hadapan. Dia sudah mencoba meminta bantuan namun dia sama sekali tidak dapat menghubungi tujuannya seolah-olah ada penghalang yang begitu besar yang mampu memblokir segala jenis komunikasi.
Vernim mengira bahwa semua itu akibat Kotak Pandor yang saat ini sebentar lagi akan mereka dapatkan. Hanya menunggu waktu hingga kotak itu berhenti berdenyut. Terlebih pemuda yang memperkenalkan dirinya Xiao Long ini memberikan perasaan yang tidak menyenangkan.
"Penjaga pulau ini?" Gumam Xiao Long sambil melihat sekelilingnya. Dia cukup tertarik dengan pulai yang berada di tengah samudera yang tertutup awan hitam.
"Hemm.. Selain menjaga pulau ini, aku juga ditugaskan menjaga dunia ini." Ucap Tang Xiao kemudian. Dia memandang kotak hitam yang masih berdenyut yang terletak di atas tugu yang mirip altar pemujaan. Kotak itu diselimuti segel yang masih aktif. Lalu dia melihat salah satu makhluk hitam sedang mencoba mengotak atik tugu tempat kotak hitam itu. Xiao Long tersenyum melihat itu. Dia lali melambaikan tangannya dan kota itu perlahan mendekatinya.
Vernim terlihat diam saja mendengar ucapan Xiao Long. Namun tiba-tiba saja dia dibuat hampir jantungan begitu merasakan sesuatu yang sangat besar bergerak ke arahnya dari belakang. Dan hampir saja dia terjatuh saat melihat kotak hitam yang begitu diagungkan oleh sukunya, terlihat melayang menuju pemuda di depannya ini.
Tap.
Xiao Long menangkap Kotak Pandora dengan satu tangannya dan menimbang-nimbang kotak itu. Terlihat kotak itu memunculkan cahaya merah dan sangat indah mengitari seluruh permukaan kotak hitam. Terlihat jelas ukiran-ukiran simbol kuno yang sedikit banyak diketahui Xiao Long.
"Hemm.. Kotak sejenis ini memang penuh misteri. Bahkan Tuan saja baru sedikit mengetahui mengetahui rahasia kotak yang sejenis ini." Gumam Xiao Long seolah sedang berbicara sendiri tanpa menghiraukan tatapan penuh nafsu membunuh dari ratusan makhluk di depannya.
Sedangkan makhluk hitam yang melihat Kotak Pandora Mereka telah direbut, segera mengeluarkan senjata mereka dan mengeluarkan nafsu membunuh yang sangat besar. Mereka tidak lagi memikirkan tentang kekuatan pemuda di depan mereka ini dan bagaimana kotak Pandora bisa menguarkan cahaya merah yang belum pernah mereka lihat kota sejenis itu mengeluarkan cahaya.
Wusshh..
Xiao Long menyimpan kotak itu lalu melihat ke depan. Dia tersenyum mengejek melihat ratusan makhluk hitam yang telah siap menyerang.
Melihat senyum Xiao Long yang mengejek, Vernim bertambah marah. Dia menghunuskan Kapak besarnya dan dengan lantang berteriak,
"Seranggg....."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hufff...
Hai guys🤗🤗
Hari ini hari yang melelahkan. Yah kalian pasti tahu apa itu.
Niatnya hari ini up dua ch. Tapi karena dari pagi hingga sore megangnya pisau dan daging, jadi up cuman 1 ch..
Yah fokus apa yang ada dulu...