
Tang Xiao berdiri melayang menghadang sembilan orang yang hendak mengetahui pertarungan ranah Immortal. Ketika kesembilan itu telah berdiri di depan Tang Xiao, mereka begitu terkejut melihat Tang Xiao. Bukan karena Tang Xiao bisa melayang di usia semuda itu, namun mereka mengenal sosok pemuda berambut biru yang berdiri tegak di depan mereka.
"Tuan Besar." Ucap kesembilan orang itu sambil berlutut di depan Tang Xiao. Tang Xiao menganggauk.
"Bangunlah dan jangan lakukan ini jika aku bersama orang lain." Perintah Tang Xiao.
"Baik tuan besar." Ucap mereka serempak sambil berdiri tegap.
"Kalian terpancing dengan pertarungan Immortal itu?" Tanya Tang Xiao tanpa basa basi.
"Benar tuan besar. Kami tidak menyangka bahwa di dunia lemah ini bisa muncul ranah Immortal." Jawab seorang pemuda tampan dengan rambut sepanjang punggungnya.
"Kalian penasaran atau karena kalian ingin menghentikan pertarungan itu?" Tanya Tang Xiao lagi.
Kesembilan orang itu terdiam sesaat mencari alasan yang tidak mengganggu tuan mereka ini.
"Kami hanya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi tuan. Kami juga akan memantau mereka jika-jika pertarungan mereka akan melukai manusia yang tidak bersalah." Jawab pemuda itu yang tampak seperti pemimpin dari kesembilan orang itu.
"Hem. Kemana yang seorang lagi?" Tanya Tang Xiao yang tidak melihat seorang dari mereka.
"Dia sedang menunggu beberapa tamu yang datang ke Istana tuan besar. Katanya dia lebih suka di sana bersama tamu-tamu yang takjub dari pada melihat pertarungan ranah Immortal yang tidak menarik baginya." Jawab pemuda tampan itu sopan.
"Hemm kurasa Dewa ranah Supreme God memang tidak suka kehidupan manusia ya...." Gumam Tang Xiao berbalik dan menghadap ke arah pertarungan empat Immortal yang masih berlangsung.
Mendengar ucapan Tang Xiao, kesembilan orang itu hanya terdiam dan tidak membantah. Namun dalam hati mereka berucap "Lalu anda kenapa sangan menyukai kehidupan manusia tuan besar?"
Kesembilan orang itu juha ikut melihat ke arah pertarungan empat Immortal berada. Meskipun jaraknya cukup jauh, mereka dapat melihat itu dengan jelas seperti melihat di depan mata. Mereka dapat melihat bahwa pertarungan keempat Immortal itu sudah terkunci dalam dimensi sehingga kekuatan destruktif akibat pertarungan itu tidak melebar terlalu jauh.
Awalnya kesembilan orang ini ingin menghentikan pertarungan itu dan mencari tahu apa yang telah terjadi. Kesembilan orang itu ingin menjadi mediator untuk masalah yang dihadapi keempat immortal itu. Karena kesembilan orang itu sangat menyayangkan jika salah satu dari Immortal itu ada yang mati. Dan itu cukup berdampak dengan kekuatan yang dimiliki dunia ini. Namun saat ini mereka tidak bisa berbuat apa-apa saat tuan besar mereka berdiri di hadapan mereka. Meskipun tidak mengatakannya secara langsung, namun mereka dapat memahami dengan jelas maksud tuan mereka ini. Pada akhirnya mereka menonton pertarungan itu dari jauh sambil menghilangkan hawa kehadiran mereka.
Pertandingan semakin lama semakin intens, sehingga kesembilan orang itu dapat melihat bahwa salah satu Immortal itu mampu membelah dimensi yang dibuat oleh tuan mereka. Meskipun dimensi itu cukup lemah, namun immortal tersebut mampu membelah itu adalah sesuatu yang berbeda. Namun mereka juga dapat melihat, immortal yang membelah dimensi tuan mereka telah membakar usianya sendiri demi mendapatkan kekuatan yang lebih besar. Dan jika dilihat lonjakan energi dalam tubuh immortal itu sudah melebihi ranah Immortal. Mungkin itu alasannya orang itu mampu membelah dimensi yang dibuat tuan mereka.
Kesembilan orang itu melihat tuan mereka menyelamatkan dua orang yang memenangkan pertarungan barusan. Mereka tidak tahu alasannya dan itu membuat mereka penasaran. Mereka pun terbang menyusul tuan mereka.
Tang Xiao yang sedang berdiri di dekat Rangga yang tak sadarkan diri tidak terkejut saat sembilan bawahannya mendatanginya dan berlutut di dekatnya.
"Kalian pasti penasaran aku aku menyematkan orang ini kan?" Tanya Tang Xiao sambil menunjuk Rangga. Dari telunjuk Tang Xiao itu mengeluarkan cahaya emas yang menyelimuti tubuh Rangga dan meregenerasi semua luka-luka luar dan dalam Rangga dengan cepat.
Kesembilan orang itu mengangguk dan bangkit dari berlututnya setelah diberi isyarat oleh Tang Xiao untuk berdiri.
"Benar tuan besar. Padahal anda mampu menyelamatkan semuanya namun kenapa anda memilih tidak menyelamatkan mereka?" Tanya pemuda tampan yang bernama Valdimir yang bertindak sebagai pemimpin diantara yang lain.
"Hemm siapa namamu, maaf aku lupa?" Jawab Tang Xiao yang menjawabnya dengan pertanyaan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf tuan besar kami belum memperkenalkan diri. Saya Valdimir, orang tua yang dulu ditugaskan untuk menjaga Sang Cahaya Agung hingga bertemu dengan pemiliknya dan menjadi pemimpin atau kepala dari sepuluh pelayan tuan. yang siap melayani tuan sampai kapanpun juga" Ucap Valdimir kemudian memperkenalkan teman-temannya yang lain. Tang Xiao hanya mengangguk antusias mengingat nama-nama para pelayan barunya. Dipikirnya tidak buruk juga mempunyai beberapa pelayan di dunia ini dan menjaga istana barunya.
"Baiklah terserah kalian akan kemana, entah kalian mengikutiku atau kembali ke istana. Namun saat ini aku akan kembali ke Paviliun Bintang melihat situasi di sana. Ku rasa ada beberapa orang yang membutuhkan bantuan di sana." Ucap Tang Xiao kemudian terbang berbalik menuju Paviliun Bintang.
Valdimir dan yang lainnya saling tatap kemudian mengangguk lalu mengikuti arah terbang Tang Xiao. Valdimir mengikuti Tang Xiao hanya karena ingin mengetahui apa yang telah terjadi sebelum pertarungan empat Immortal yang dapat mereka rasakan dari Gurun Fajar Merona. Sedangkan Gurun Fajar Merona berada di benua Land Of Death. Jarak yang cukup jauh bagi kebanyakan orang, namun tidak bagi Dewa ranah Supreme God.
Benar saja yang dikatakan Tang Xiao, terlihat dari jauh akibat pertarungan ranah Demi God membuat area sekitar porak poranda meskipun tidak serusak pertarungan ranah Immortal. Dan teihat juga bahwa enam orang ranah Demi God itu yang berasal dari Paviliun Bintang dibantu utusan dari Sekte Rembulan Emas dan Sekte Bintang Kejora serta dibantu oleh Raja dan Ratu Kerjaan Nusantara, sedang dalam keadaan terdesak dan memiliki luka-luka di sebagian tubuh mereka. Tentu saja keenam orang itu tidak mampu mengimbangi sepuluh orang di ranah yang sama. Andaikan mereka bertarung satu lawan satu, kemenangan mungkin bisa dimiliki oleh aliansi, namun sayanganya pasukan musuh bermain keroyokan.
Tang Xiao menghela nafas dan hanya dia melihat situasi yang berlangsung. Menurutnya belum saatnya dia turun tangan. Kemudian Tang Xiao melihat ke arah para pasukan yang berada di bawah, sesuai ekspektasinya, pasuka Paviliun Bintang berhasil mendesak pasukan musuh yang memiliki jumlah dua kali lipat. Jika bukan karena orang-orang yang menyusup dan membantu pasukan Paviliun Bintang, mungkin mereka sudah lama dihabisi oleh pasukan musuh yang memiliki jumlah dan kekuatan dua kali lipat.
Namun para pasukan Paviliun Bintang sudah berniat tidak membiarkan lawannya kabur begitu saja. Mereka pun juga bingung kenapa pasukan mereka mampu menekan lawan yang memiliki jumlah dan kekuatan dua kali lipat. Meskipun bingung, mereka juga senang mampu memukul mundur pasukan musuh dan bahkan membunuh separuh lebih. Melihat pasukan musuh yang hendak mundur, komandan tertinggi pasukan Paviliun Bintang berteriak lancang.
"KEJAARR!! Jangan biarkan musuh hari ini ada yang kabur. Jika musuh melawan segera bunuh mereka dan jika menyerah rebut senjata mereka dan potong sebelah tangannya. Seranggggggg!!!" Teriak berapi-api sang Jenderal sambil menghunus tombaknya dan merengsek ke arah musuh yang mulai ketakutan. Para pasukan ikut berteriak semangat dan juga menghunuskan senjata mereka masing dan merengsek ke pasukan musuh penuh semangat membara. Terlebih saat melihat pasukan musuh mulai ketakutan dan meminta menyerah, para pasukan Paviliun Bintang bertambah semangat dan mulai mengeksekusi pasukan musuh yang tersisa sesuai arahan komandan mereka.
Melihat para pasukan Paviliun Bintang mulai mampu mengendalikan situasi peperangan, orang-orang yang menyusup yang mengenakan seragam pasukan Paviliun Bintang perlahan mundur dari pasukan yang mengejar musuh. Mereka berjumlah tak lebih dari lima puluh orang, namun kehadiran mereka mampu mengubah arua peperangan dengan mudahnya. Korban jiwa dari pasukan Paviliun bintang juga terbilang sedikit, tak lebih dari lima ratus orang. Dan tentu saja hal itu mustahil mengingat jumlah dan kekuatan musuh.
Kelima puluh orang itu terbang ke arah seorang pemuda tampan berambut dan bermata biru yang berdiri tegak melayang di udara. Di belakang pemuda itu telah berdiri sembilan orang yang juga melayang tegak. Kelima puluh orang itu segera berlutut di hadapan pemuda itu.
"Tuan besar, sesuai perintah tuan kami telah menjalano misi dengan sempurna." Ucap salah seorang dari mereka tanpa berani mengangkat kepalanya. Pemuda tampan itu tersenyum senang.
"Bagus bagus. Terima kasih atas usaha kalian." Balas Tang Xiao sambil menepuk-nepuk pundak orang itu.
"Ini sudah menjadi kewajiban kami untuk menuruti perintah tuan besar, apapun itu meskipun menyerahkan nyawa kami. Kami tak pernah ragu mengikuti perintah ruan besar." Jawab orang itu penuh semangat.
Tang Xiao menggaruk kepala yang tak gatal mendengar ucapan bawahannya. Dia terlihat risih mendengar ikrar anak buahnya yang seperti bersumpah itu. Dia menjadi bingung entah bagaimana dia dulu kehidupan pertamanya bisa menemukan dan memiliki bawahan seperti mereka yang fanatik terhadapnya.
Tang Xiao menghela nafas. Sikap mereka itu sudah pasti hasil didikannya kepada mereka dulu di kehidupan pertamanya. Namun kini sudah berbeda. Dia sudah mendapatkan tubuh manusia dan menjalani hidup seperti manusia lainnya. Jadi dia tidak ingin adat istiadat yang menurutunya kolot itu tetap dilestarikan.
"Hemm.. Sepertinya mereka butuh pendidikan yang lebih baik agar tidak kaku seperti ini. Yah lain kali akan aku ajarkan kepada mereka tata krama para manusia." Batin Tang Xiao sambil melihat anak buahnya.
"Baiklah kalian boleh kembali." Ucap Tang Xiao sambil melambaikan tangannya. Ke-lima puluh orang itu menghilang menyisakan pemimpin mereka yang masih berlutut dan menundukan.
"Kamu lihat pertarungan di sana?" Tanya Tang Xiao sambil menunjuk satu arah yang cukup jauh dari mereka. Itu adalah pertarungan para manusia ranah Demi God.
"Iya tuan besar saya melihatnya. Keenam orang itu tampak terdesak dan mulai tak berdaya melawan sepuluh orang lainnya." Jawab orang itu santai tanpa harus menyipitkan pandangannya. Orang itu sendiri kekuatannya sudah melebihi ranah Supreme God. Artinya dia lebih kuat dari sembilan orang yang berdiri di belakang Tang Xiao.
"Bagus... Sekarang pergilah ke sana bantu keenam orang itu. Sama seperti sebelumnya, tidak perlu menghabisi sepuluh orang itu namun buat mereka tak berdaya berdaya. Potong saja tangannya atau kakinya dan jangan sampai mati. Biarkan keenam orang itu aja yang membunuh sepuluh orang itu." Ucap Tang Xiao memberi perintah. Orang itu mengangguk dan masih berlutut.
Wushh..
Orang itu menghilang dan telah berada di tempat pertarungan yang dituju.
Sementara itu, sembilan orang yang berdiri di belakang Tang Xiao menjadi sangat waspada saat merasakan kehadiran yang lebih kuat dari mereka dalam jumlah yang cukup banyak. Sembilan orang itu tidak menyangka ada yang lebih kuat dari mereka di dunia ini dalam jumlah yang banyak. Namun setelah melihat kelima puluh orang itu berlutut di depan tuan besar mereka seperti yang mereka lakukan, kesembilan orang itu hampir saja muntah darah dan pingsan di tempat.
Bagaimana tidak, salah satu dari lima puluh orang itu mampu mengalahkan mereka bersembilan meskipun mereka mengeroyok, kini mereka malah berlutut di depan tuan besar mereka dan mereka tidak mau bangkit meskipun sudah disuruh bangkit. Tentu saja jika tidak melihatnya secara langsung, tidak mungkin mereka percaya hal itu.
Memikirkan hal itu, Valdimir maju dan berbisik di telinga Tang Xiao, "Tuan besar, sepertinya mereka bawahan anda yang cukup fanatik."
Mendengar bisikan itu, Tang Xiao tersenyum tipis.
"Ah akupun bingung kenapa mereka sampai segitunya. Sepertinya aku harus medidik mereka lebih baik." Jawab Tang Xiao sambil tersenyum lebar seakan senyumnya itu menandakan bahwa sifat kelicikannya mulai terlihat.
Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya pertarungan dan peperangan pun berakhir dengan kemenangan pasukan Aliansi Paviliun Bintang. Aula pertandingan yang digunakan sebelumnya terlihat hancur sehingga meninggalkan puing-puing kehancuran. Daerah sekitarnya begitu juga. Sebuah gedung restoran dan beberapa kantor pemerintahan, semuanya hancur meninggalkan puing-puing. Semua orang menahan dadanya yang sakit melihat hal itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Guyss....
Sorry ni telat up..
Tadi malam ada acara soalnya jadi gk bisa up. Selesai acara dah malem banget. Jadi ya langsung ketiduran.