The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 67. KERAJAAN TERSEMBUNYI



Tang Xiao mengeluarkan gagak penguasa yang sudah menjadi hewan peliharaannya. Selama mengikuti Tang Xiao, Gagak itu telah menjadi Mythical Holy Beast hanya dalam waktu tidak lebih dari dua bulan.


Wusshh..


Gagak itu menunduk sambil meletakkan sayapnya di tanah untuk memudahkan Tang Xiao dan yang lain agar lebih mudah naik ke punggungnya.


"Kita naik ini?" Tanya Jessika saat melihat Gagak itu. Dia sudah terbiasa dengan peliharaan adik ketiganya itu namun dia belum pernah menaikinya. Terlebih peliharaan adik ketiganya itu adalah Mythical Holy Beast yang agung dan brutal bagi kebanyakan orang tapi berbeda di hadapan adik ketiganya.


"Kakak kedua punya usul yang lebih baik?" Jawab Tang Xiao mengajukan pertanyaan atas jawaban.


Jessika terdiam. Meskipun dia berasal dari Benua Land Of Soul, dia tidak terlalu memahami benua ini. Terlebih dia tidak pernah berpetualang jauh-jauh sebelumnya, misinya ke Gurun Fajar Merah adalah yang pertama kali baginya.


"Aku lebih suka kita tidak terlalu terekspos dengan naik Mythical Holy Beast dan membuat kita menjadi perhatian banyak orang. Lebih baik kita jalan kaki saja ke sana." Jawab Jessika memberi usul.


"Itu usul yang baik, baiklah kita jalan kaki saja." Ucap Tang Xiao lali menyuruh Gagak yang sudah standby itu untuk berubah menjadi seekor pipit seperti biasanya.


Jeasika tersenyum. Dia beralih ke anggota Sekte Azure Dragon yang telah berdiri tegap. Tentu saja mereka terkejut dengan kultivasi Jessika yang sudah berada di ranah Saint.


"Kalian kembali dulu ke Sekte, jika aku dicari katakan telah berangkat ke Paviliun Bintang. Kalian boleh mengatakan apapun tentang penglaman yang telah kalian alami dan meyerahkan benda apapun yang kalian dapat kepada Sekte dan biarkan Sekte memberikan hadiah yang sesuai dengan benda pemberian kalian." Ucap Jessika tegas. Intonasinya tenang dan berwibawa. Sepertinya dia telah banyak berubah sejak terakhir kali latihan tertutup.


"Baik ketua muda, kami akan pergi." Ucap anggota sekte lalu mundur dan mengambil arah yang berbeda.


"Sepertinya putri kecil ku tidak lagi manja seperti dulu." Ucap Andri menggoda Jessika.


"Putri kecil mu ini masih tetap manja seperti dulu kok, bahkan saat ini lebih manja dari sebelumnya." Balas Jessika tersenyum lebar. Dia ingin menggenngam tangan Andri namun mengurungkan niatnya saat jantungnya berdebar kencang.


"Hem.. Jadi pergi apa ngggak sih?" Tanya Denas dari samping sewot melihat tingkah kedua kakaknya itu.


"Adik keempat, tenang saja. Turnamen kali ini akan ada banyak cewe-cewe cantik seumuran kita. Tinggal pilih saja salah satu dari mereka untuk mengakhiri masa lajang." Ucap Tang Xiao sambil merangkul pundak Denas. Mereka berdua berjalan mendahului Andri dan Jessika.


"Ah sudahlah, aku tidak terlalu tertarik dengan cewek-cewek itu. Aku ini orang yang tidak mudah menyukai seseorang. Butuh waktu dan usaha bagiku untuk menyukai seseorang. Misalnya, aku harus mengenal siapa dia, apakah aku bisa menyukainya atau tidak, itu tergantung dari bagaiamana dia menarik perhatianku." Ucap Denas tenang tanpa melepas rangkulan Tang Xiao dari pundaknya.


"Adik keempat, aku merasa kamu seperti menyindir seseorang." Balas Tang Xiao.


"Cih dasar bodoh, mau sampai kapan aku harus berkata jujur." Gumam Denas tanpa disadarinya.


Tang Xiao, Denas, Andri dan Jessika berjalan keluar dari Padang Sabana yang cukup luas. Dia atas langit telah lewat beberapa Mythical Beast terbang melintasi mereka tanpa peduli. Tampaknya, beberapa Mythical Beast itu membawa puluhan orang dan terbang menuju Paviliun Bintang tempat turnamen diadakan.


"Turnamen yang diadakan setiap dua puluh tahun sekali memang benar-benar akan menjadi sangat meriah. Beberapa Mythical Beast tingkat tinggi telah nelintas dengan tenang. Sepertinya mereka orang-orang hebat dari berbagai sudut dunia." Gumam Tang Xiao sesekali mendongak kepalnya melihat iring-irangan Mythical Beast yang lewat.


"Memang benar-benar sangat meriah turnamen tingkat Benua ini. Konon katanya hadiahnya kali ini benar-benar sangat istimewa dan hanya para petinggi saja yang mengetahuinya. Katanya sih kali ini, salah satu dari Sekte atau Kerajaan tersembunyi akan menjadi salah satu peserta kompetisi ini." Ucap Andri dari belakang. Dia telah banyak mendengar tentang rumor ini sebelumnya.


"Kerajaan tersembunyi?" Tanya Tang Xia dan Denas bersamaan. Tang Xiao penasaran seperti apa kerajaan atau sekte itu, sedangkan Denas tampak ragu-ragu.


"Ya bukan cuma dua sekte tersembunyi yang mendominasi dunia, melainkan satu kerjaan kuat dari Benua Land Of Sword adalah salah satu penguasa dunia. Kekuatan mereka melebihi Kekaisaran-kekaisaran di seluruh dunia. Salah satu kekuatan yang ditakuti Kerajaan itu adalah sihirnya yang sangat mengerikan. Meskipun begitu mereka telah lama menutupi diri dan tidak ikut campaur dalam dunia kultivasi namun mereka sebanding dengan dua sekte tersembunyi penguasa dunia yang bahkan Sekte Azure Dragon harus tunduk kepada mereka." Jawab Andri santai tanpa mempedulikan Jessika yang berjalan di sampingnya.


"Sekte Azure Dragon merupakan satu-satunya cabag dari salah satu Sekte tersembunyi itu. Bahkan aku nanti akan dikirim ke Sekte tersebut jika berhasil melaksanakan misi di Gurun Fajar Merah." Ucap Jessika sambil melirik Andri yang terkejut.


"Benarkah? Benarkah Sekte Azure Dragon adalah satu-satunya cabang dari salah satu sekte penguasa dunia itu?" Tanya Andri tak percaya sambil berdiri di depan Jessika dan menatap mata gadis itu. Jessika hanya mengangguk tersenyum mengalihkan pandangannya dari mata Andri.


"Dan.... Kamu... Kamu akan pergi ke sana setelah ini...?" Tanya Andri menurunkan suaranya seolah tak rela.


Jessika terdiam sejenak. Dia memberanikan diri menatap mata Andri. Di sana dia menemukan kekhawatiran yang besar dan dalam. Jessika mengangguk pelan tanpa berani berbicara. Dia merasa enggan untuk berpisah dengan Andri setelah hal yang terjadi antara mereka.


"Tenang saja putri kecil, kita akan bersama-sama memasuki sekte itu tanpa ada yang bisa memisahkan kita lagi. Bukankah pemenang dari turnamen nanti akan mendapat kesempatan belajar di sekte tersembunyi nanti. Kita berempat harus memenangkan turnamen agar bisa bersama-sama memasuki sekte itu." Ucap Andri semangat sambil tersenyum lebar. Jawabannya itu tidak disangka-sangka oleh Jessika yang berdiri di depannya. Jessika tersenyum lebar.


"Seperti yang diharapkan dari kakak pertama bisa mencairkan suasana." Ucap Denas dari samping Jessika dan Andri. Kedua orang itu terkejut dengan kehadiran Denas.


Setelah berbincang-bincang sesaat, mereka berempat melanjutkan perjalanan. Sesekali mereka membuat permainan untuk mengusir kebosanan mereka di perjalanan. Sesekali mereka juga berpapasan dengan orang-orang yang menuju Paviliun Bintang. Tampaknya orang-orang itu tidak terlalu menanggapi kelompok Tang Xiao yang berpakaian seadanya dan sedikit lusuh serta tingkatan mereka yang rendah yang hanya di ranah Grand Master bintang sembilan.


Tang Xiao, Denas, Andri dan Jessika tidak mempedulikan tatapn orang-orang terhadapa mereka. Dari awal mereka memang tidak berniat menunjukan kekuatan mereka yang luar biasa. Mereka tetap menyapa ramah orang-orang yang berpapasan dengan mereka sekalipun tidak dianggap.


Tang Xiao dan Denas berhenti sesaat begitu melihat seorang pemuda menghentikan langkah mereka. Pemuda itu berdiri di depan mereka sambil mengangkat tangan kanannya ke depan. Pemuda itu bersenjatakan pedang yang terletak di belakang punggungnya.


"Saudara tunggu, kalian hendak kemana?" Tanya pemuda itu menurunkan tangan kanannya.


"Kami hendak menuju Paviliun Bintang saudara, ada apa?" Jawab Denas santai. Dia tidak merasakan niat jahat yang keluar dari pemuda di depannya ini.


"Ah kebetulan sekali. Saya juga hendak ke sana namun tidak tahu arahnya. Bolehkah saya mengikuti saudara sekalian" Ucap pemuda itu tersenyum malu.


"Tentu saja boleh saudara. Semakin banyak orang semakin baik." Jawab Andri dari belakang sambil membawa beberapa ayam hutan yang sempat diburunya di hutan tempat mereka berhenti saat ini. Sedangkan Jessika membawa buah-buahan liar di tangannya.


Melihat makanan yang datang, tiba-tiba saja perut pemuda itu bersuara keras tanda kelaparan membuat dia menahan malu. Tang Xiao, Denas, Jessika dan Andri menutup mulut mereka menahan tawa.


"Saudara silahkan duduk di sini, menunggu dagingnya matang kita awali dengan makan buah-buahan ini." Ajak Tang Xiao sambil mengeluarkan kursi dan meja dari cincin ruangnya. Andri dan Tang Xiao menata kuris dan meja itu sedangkan, Denas dan Jessika membuat api mulai memasak beberapa ayam hutan yang cukup besar itu. Sepertinya ayam-ayam itu Mythical Beast tingkat satu yang malang bertemu dengan Andri.


Pemuda itu berjalan mendekati Andri dan Tang Xiao. Dia tampak biasa saja namun dia sedikit kaget saat melihat Tang Xiao mengeluarkan benda-benda itu. Dia sempat melirik jari Tang Xiao yang tidak mengenakan cincin ruang.


"Saudara, nama saya Arya Kamandanu berasal dari benua Land Of Sword. Saya kesini bersama beberapa orang menyewa Mythical Beast sejenis burung. Saat itu saya tertidur dan ketika membuka mata, saya sedang melayang-layang di udara terjatuh dari Mythical Beast. Saya tidak tahu apa yang terjadi namun saya akan membalas mereka jika sudah bertemu di Paviliun Bintang." Ucap pemuda itu menceritakan sedikit kisahnya sambil mengepalkam tinjunya dengan geram.


"Saudara Arya, tidak usah berbicara formal begitu, santai saja. Kami memang seperti ini." Ucap Tang Xiao sambil memberikan beberapa buah ke depan Arya. Arya mengambil buah itu dan langsung memakannya dengan lahap. Tampaknya dia benar-benar lapar.


"Saudara Arya, namaku Andri dan ini adik ketigaku Tang Xiao. Pemuda tampan di sana, adik keempatku namanya Denas sedangkan yang cewek itu adalah tunanganku namanya Jessika." Ucap Andri memperkenalkan dirinya serta yang lain.


Arya mengangguk senang dan tersenyum lebar. Dia merasa senang dengan keramahan pemuda-pemuda yang baru dikenalnya ini. Meskipun mereka terlihat sederhana namun mereka mempunyai hati yang baik tidak seperti dengan orang-orang yang berpapasan dengannya sebelumnya.


"Terima kasih saudara Tang, saudara Andri, telah menerima saya bergabung dengan kelompok kalian. Saya berjanji akan membalas kebaikan kalian suatu hari nanti.


"Ceng ceng ceng.. Waktunya makan." Suara Denas menghentikan perbincangan Arya dengan Tang Xiao dan Andri. Denas datang membawa dua baki besar berisi dua ekor ayam hutan panggang berserta lalapannya. Arya tidak tahan mencium aroma sedap dari panggang itu tanpa disadrinya air liurnya telah menetes.


"Slurrpp. Hehe... Aku tidak menyangka akan ada aroma selezat ini di hutan ini. Saudara Denas dan Saudari Jessika memang benar-benar koki hebat." Ucap Arya sambil mengusap air liur yang mengalir di sudut bibirnya.


Jessika datang membawa dua baki nampan yang satu berisi ayam panggang dan satunya berisi nasi putih pulen.


Denas menata piring-piring lalu menaruh beberapa nasi beberapa nasi di atas piring-piring itu kemudian menyerahkannya ke Arya, Andri dan Tang Xiao. Gerakan Denas sangat teratur dan telaten serta sangat lembut.


"Adik keempat benar-benar cekatan, kurasa wanita yang akan menjadi pendamping hidupmu benar-benar beruntung." Ucap Tang Xiao memuji Denas.


"Saat seperti ini baru mendapat pujian dari kakak ketiga." Balas Denas tanpa menghentikan pekerjaannya. Denas kembali menata piring dan nasi untuk dirinya dan Jessika lalu dengan lahap, mereka menghabiskan makan siang dengan tenang dan seseki bercanda.


"Hah... Aku tidak menyangka akan memakan makanan selezat ini dalam hidupku. Bertemu dengan para saudara sekalian adalah benar-benar berkah." Ucap Arya sambil memberi hormat kepada kelompok Tang Xiao.


"Saudara Arya jangan sungkan-sungkan dan menganggap kami sebagai orang asing. Karena saudara sudah bergabung dengan kami, maka saudara adalah bagian dari kami. Apa yang kami makan, saudara juga akan makan, apa yang kami alami saudara juga akan mengalaminya." Ucap Andri sambil menepuk bahu Arya santai. Arya mengangguk senang dan tersenyum lebar memahami ucapan Andri yang tulus.


Tak lama kemudian, mereka melanjutkan perjalanan menuju Pavilun Bintang. Hari sudah beranjak sore dan mereka semakin sering bertemu dengan orang-orang yang menuju tujuan yang sama.


"Di depan sana antrian sangat panjang. Sepertinya kita telah sampai di kota yang dimaksud." Ucap Tang Xiao saat melihat tembok kota yang cukup tinggi serta antrian panjang.


"Ya memang kita telah sampai di kota Paviliun Bintang. Kota yang cukup besar dan sangat kaya. Paviliun Bintang merupakan satu-satunya kota yang tidak menjadi milik Kerajaan atau Kekaisaran manapun di benua ini. Kota ini hidup dengan aturan yang dimiliki Paviliun Bintang dan menjadi salah satu kota yang makmur di benua ini. Meskipun tidak sebesar ibu kota Kekaisaran, tapi kota ini memiliki bangunan-bangunan lebih mewah dan lebih besar dari Ibu Kota Kekaisaran." Ucap Andri menceritakan sedikit detail kota Paviliun Bintang sambil menunggu antrian panjang yang membosankan.


"Kenapa kota ini tidak masuk dalam wilayah kerajaan manapun?" Tanya Arya penuh pensaran. Dia memang sudah sedikit mendengar kota tempat Paviliun Bintang berada yang cukup terkenal itu.


"Paviliun Bintang adalah satu-satunya organisasi netral di benua ini. Konon katanya paviliun bintang ini didirikan oleh salah seorang Kultivator terkuat di dunia yang berada di ranah Half God atau Demi God sehingga tidak ada yang berani mengusik atau mengganggu organisasi ini dan membiarkan organisasi ini berdiri sendiri tanpa bantuan Kerajaan atau Kekaisaran manapun. Pernah dulu ada Kerajaan bodoh yang mencoba mengendalikan organisasi ini, hanya dalam waktu satu malam, para prajurit yang berjumlah jutaan itu mati tanpa bisa melawan. Sejak itu Paviliun Bintang menjadi sangat terkenal." Jawab Andri santai. Ucapannya itu memukau semua orang yang mendengarnya.


"Itu hanya dongeng beberapa tahun lalu. Aku tidak percaya dengan kegilaan ssperti itu." Ucap salah seorang pemuda dari belakang kelompok Tang Xiao. Pemuda itu tampak sombong dan tersenyum sinis.


"Orang bodoh memang tidak bisa membedakan mana yang namanya dongeng dan mana yang namanya sejarah." Celoteh Denas membalas pemuda itu. Orang-orang sekitar tertawa mendengar pembalasan Denas.


"Kau...." Ucap pemuda itu melotot dan mengacungkan jarinya.


Ketika pemuda itu hendak membalas ucapan Denas, sebuah teriakan dari udara mengagetkan semua orang.


"Orang dari Kerajaan Nusantara telah datang. Beri jalan."


Teriakan itu masih jauh namun orang-orang sekitar sudah merasa berat seperti tertekan energi yang sangat besar. Orang-Orang mendongkak ke Langit melihat apa yang datang sehingga mampu menekan mereka.


Cendrawasih itu terbang mendekati tembok Kota. Begitu dua ekor Cendrwasih itu mendekat, tiba-tiba prisai energi yang menutupi seluruh kota Paviliun Bintang terbuka dengan lebar dan membiarkan dua ekor Cendrawasih itu masuk tanpa melalui para penjaga.


Semua orang berdecak kagum termasuk Tang Xiao, Denas, Andri, Jessika dan Arya. Meskipun mereka tidak merasa tertekan karena hawa duaa ekor Mythical Beast itu, namun Tang Xiao, Denas, Andri dan Jessika tahu bahwa dua ekor Cendrawasih tadi jauh lebih kuat dari Gagak Sembilan Alam Baka milik Tang Xiao.


"Ckckck... Kerajaan Nusantara yang tersembunyi memang luar biasa. Tidak sia-sia aku dilahirkan di zaman ini dan dapat melihat kehebatan kerajaan tersebut." Gumam Arya yang mengetahui sedikit tentang Kerajaan Nusantara.


"Saudara Arya dari mana tahu kalo orang-orang itu berasal dari Kerajaan Nusntara?" Tanya Andri penasaran meskipun sejak awal dia sudah tahu dari mana asal orang-orang tadi.


"Saya tahu dari beberapa literatur yang tidak sengaja saya baca. Mythical Holy Beast tadi adalah sejenis burung Legendaris yang hanya ada di Kerajaan Nusantara dan tidak pernah ada di dunia ini dimanapun itu. Mythical Holy Beast itu bernama Cendrawasih Langit Sembilan Angkasa yang sangat-sangat langka sekalipun di Surga. Bukan cuma rupanya yang indah, namun juga kekuatannya setara dengan burung Phoenix Surgawi. Sayangnya burung Cendrwasih Langit Sembilan Angkasa memiliki takdir yang mengenaskan." Jawab Arya sambil menopang dagung.


Orang-orang sekitar yang ikut mendengar ucapan Arya terkaget dan tidak percaya. Mana ada burung yang lebih kuat dari Phoenix Surgawi, batin orang-orang itu.


"Jangan dengarkan omong kosong orang aneh ini. Pernahkah kalian mendengar ada burung yang lebih hebat dari Phoenix di dunia ini?" Ucap pemuda yang sama dengan pemuda sombong ssbelumnya. Dia berbicara cukup tenang dan terlihat sangat percaya diri.


Orang-orang sekitar berbisik-bisik mendengar ucapan pemuda itu. Beberapa orang percaya terhasut dengan ucapan pemuda itu.


"Betul! Mana ada yang bisa menandingi kegagahan Phoenix Surgawi di dunia ini." Ucap salah seorang dari kerumunan antrian.


"Cendrawasih Langit Sembilan Angkasa hanya mitos yang kebenarannya sangat diragukan. Beberapa orang mengatakan bahwa burung itu hanya Mythical Beast yang sangat lemah dan tidak pernah bisa naik ke Surga." Timpal yang lain.


Pemuda tadi tersenyum lebar mendengar orang-orang membelanya. Dia semakin percaya diri memprovokasi Arya dan dan kelompok Tang Xiao. Dia memandang kelompok Tang Xiao dengan tatapan jijik.


"Kalian bisa lihat sendiri pakaian yang mereka kenakan terlihat lusuh dan berpasir. Mereka lebih terlihat orang-orang badui yang berlagak ke kota untuk mencari ketenaran tapi sayangnya mereka tidak tahu tempat." Ucap pemuda itu sambil menaruh kedua tangannya ke punggung.


"Orang-orang seperti mereka ini kebanyakan kurang pendidikan dan tata krama sehinnga mereka tidak tahu luasnya dunia ini." Ucap pemuda itu tersenyum lebar.


Orang-orang sekitar yang mempercayai omongan pemuda itu mengangguk-angguk setuju. Mereka memang dapat melihat pakaian yang dikenakan kelompok Tang Xiao terlihat lusuh meskipun masih layak pakai. Terlebih tingkat kultivasi mereka yang berada di ranah Grand Master. Diantara seluruh orang yang mengantri, kelompok Tang Xiao adalah yang terlemah kecuali Arya yang memang tidak menyembunyikan kultivasinya.


Pemuda yang banyak berbicara itu berjalan mendekati Arya dan tersenyum kepadanya.


"Saudara, lebih baik anda mengikuti saya. Ada banyak keuntungan yang bisa anda dapatkan jika bersama saya. Dari pada bersama dengan mereka yang terlihat lemah dan miskin, anda tidak akan mendapat apa-apa dan mungkin mereka memanfaatkan keuntungan dari anda." Ucap pemuda itu tanpa rasa malu.


Sikapnya itu membuat Denas dan Jessika merasa sangat jijik. Mereka berdua hendak membungkam mulut pemuda itu namun Tang Xiao dan Andri menahan mereka.


Arya tersenyum lebar mendengar ucapan pemuda tak tahu malu di depannya. Dengan tenang, dia menepuk bahu pemuda itu dan berkata,


"Saudara, terima kasih atas tawaran anda. Namun saya seorang laki-laki yang menghargai pertemanan dan persahabatan." Arya menghentikan ucapannya lalu menunjuk ke arah kelompok Tang Xiao.


"Mereka berempat adalah orang-orang yang pertama kali menganggap saya sebagai temannya dikala saya sedang membutuhkan orang-orang. Mereka berempat adalah orang-orang yang mau berteman dan berbagi dengan siapa saja tanpa memandang siapa orang itu. Dengan orang yang seperti itu, bagaimana mungkin saya mau meninggalkan mereka? Satu lagi saudara, mereka berempat tidak sesederhana yang anda lihat." Ucap Arya Kamandanu sambil berjalan meninggalkan pemuda yang tertegun mendengar ucapan Arya.


Pemuda itu dengan cepat menguasai dirinya, dia kembali tersenyum lebar untuk menutupi rasa dongkol di hatinya.


"Saudara, saya sudah memperingatkan anda agar menjauh dari mereka. Jangan menyalahkan saya jika nanti terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan." Ucap pemuda itu tenang dengan nada sedikit mengancam.


Arya mengehnetikan langkahnya. Dia berbalik menghadap pemuda tadi. Arya menatap tajam ke arah pemuda itu lalu menampakkan tingkat kultivasinya.


Wussh..


"Saya paling tidak suka dengan orang-orang yang mengancam saya. Jika anda ingin hidup lebih lama pikirkan lagi ucapan anda." Ucap Arya yang telah berada di depan pemuda itu dan mencengkram leher pemuda itu dan mengangkatnya ke atas.


Orang-orang di sekitar menjadi terpana.


"Wow... Ternyata pemuda itu menyembunyikan kultivasinya. Di usia yang masih muda sudah berada di ranah Legend bintang sembilan benar-benar luar biasa. Pemuda itu bukanlah orang sembarangan. Tamatlah riwayat pemuda yang mengancam itu." Ucap orang-orang di sekitar dengan kagum.


"Ughh... Le..paskan.. Aku..Ugh.." Pemuda itu mencoba meronta dari cengkraman Arya, namun Arya tidak menggubris dan semakin menambah kekuatan cengkramannya di leher pemuda itu. Orang-orang sekitar yang ikut membenarkan ucapan pemuda itu kini merasa panas dingin. Mereka tidak menyangka orang yang mereka provokasi ternyata seorang yang hebat.


"Saudara hentikan segera, kamu bisa membunuhnya di sini." Ucap Tang Xiao menyentuh tangan kanan Arya agar Arya melepas cengkramannya dari leher pemuda yang terlihat megap-megap itu.


Bruk..


Arya melepas cengkramannya, aura membunuhnya perlahan ditarik kembali. Dia berjongkok lalu mencengkram kerah baju pemuda itu.


"Jika kita bertemu di area turnamen, ingatlah untuk siap-siap menggali kuburanmu sendiri dan jangan pernah mengganggu teman-temanku lagi." Ucap Arya dingin lalu bangkit dan berjalan mendekati Tang Xiao dan yang lainnya. Orang-oranv dengan sendirinya menyingkir dan memberi jalan.


"Terima kasih saudara Tang, jika tidak menghentikan mungkin laki-laki itu telah terbunuh." Ucap Arya sambil mengatupkan kedua tangannya ke depan dada.


"Aku tidak menyangka ternyata saudara Arya menyembunyikan kultivasinya selama ini. Saudara memang seorang jenius di usia semuda ini." Balas Tang Xiao tersenyum.


"Haha saudara Tang, anda sangat rendah hati. Saya tahu saudara berempat menyembubyikan kultivasinya walaupun saya tidak tahu sudah di ranah apa, yang jelas anda orang-orang hebat." Balas Arya tersenyum lebar.


"Bahkan saya dapat merasakan hawa yang membahayakan dari saudara berempat terutama saudara Tang. Sebagai seorang kultivator yang berjalan di jalan pedang, saya dapat melihat bahwa saudara Tang telah menguasai Penyucian Tubuh Jiwa Pedang. Hanya ada dua orang di dunia ini yang memiliki aura demikian. Yang pertama saya tahu adalah guru saya dan yang kedua adalah saudara Tang." Ucap Arya santai.


Ucapan itu membuat Tang Xiao terdiam sesaat. Begitu juga dengan Andri, Jessika dan Denas. Mereka tak menyangka Arya mampu membongkar sebagian dari kekuatan Tang Xiao.


"Saudara Arya memang hebat. Diantara kita berempat, saudara Tang adalah yang paling hebat. Hanya saja dia memang menyembunyikan kekuatannya." Ucap Andri membenarkan analisis Arya.


Tak lama kemudian sambil berbincang, akhirnya tiba giliran kelompok Tang Xiao melewati para penjaga gerbang. Tidak ada masalah apapun yang terjadi saat kelompok Tang Xiao melewati para penjaga yang ternyata cukup ramah sehingga setiap orang yang masuk tidak merasa berbahaya dan was-was dengan kemanan di dalam kota.


"Penjaga yang cukup ramah. Kota ini tidak seburuk yang aku kira." Gumam Denas dari samping Tang Xiao begitu mereka masuk kota.


"Sesekali memang bagus untuk keluar masuk berbagai macam kota." Timpal Jessika dari samping Andri.


"Hemm. Lebih baik kita mencari penginapan. Semoga saja masih banyak yang kosong." Timpal Andri sambil melihat kesana kemari.


"Kota yang besar dan mewah. Suasana yang cukup menarik." Timpal Arya melihat sekeliling. Hari sudah gelap begitu Tang Xiao dan yang lain masuk kota.


Suasana malam di kota Paviliun Bintang memang terlihat indah. Lampu-lampu lampion yang terpasang di setiap pinggir jalan. Lampu-lampu kristal yang terpasang di setiap gedung-gedung pinggir jalam menambah suasana kemeriahan kota. Sepertinya kota ini telah dihias sedemikian rupa untuk menyambut para tamu yang datang.


"Penginapan ini cukup layak. Coba kita masuk siapa tahu masih ada kamar kosong." Ucap Tang Menghentikan langkahnya begitu menemukan sebuah penginapan yang tidak besar namun tidak juga kecil.


"Arsitektur bangunannya juga cukup bagus. Selera saudara Tang memang tidak biasa." Timpal Arya sambil mendongak kepalanya melihat gedung sedang di depannya. Tertulis di papan atas pindu gedung "Penginapan Griya Dahar."


Kelima pemuda itu masuk ke dalam gedung penginapan. Mereka disambut dengan beberapa gadis muda dengan ramah.


"Selamat datang para pengunjung. Apakah anda ingin menginap atau sekedar makan malam?" Tanya para pelayan itu bergantian.


"Kami ingin menginap. Masih adakah kamar kosong


untuk lima orang?" Jawab Andri santai. Sebagai ketua dari kelompom Andri dia bertanggung jawab atas hal-hal seperti ini.


"Kebetulan kamar kami tersisa empat. Bagaimana tuan?" Tanya pelayan itu tanpa membuang senyumnya.


"Tidak apa-apa, kami terima." Jawab Jessika cepat tanpa menunggu Andri bertanya kepada mereka.


"Baiklah, silahkan tuan-tuan melakukan Chek in di loby. Di sana sudah ada yang mengatur segala keperluan anda sekalian." Ucap pelayan itu membungkuk lalu membiarkan para tamunya masuk ke loby.


"Kakak kedua nanti sekamar dengan Kakak pertama?" Tanya Denas dari samping menggoda Jessika.


"Tentu saja tidak. Kakak kedua akan sekamar denganmu." Jawab Jessika santai tanpa menghiraukan keterkejutan yang lain terlebih Andri.


"Kak Andri jangan salah paham dulu. Aku punya alasan tersendiri kenapa sekamar dengan adik keempat." Ucap Jessika menenangkan Andri yang terlihat sedikit cemburu. Jessika menggenggam tangan Andri dengan erat untuk menenangkan kekasihnya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hooaamm...😴😴


Ada yang tahu kenapa Jessika lebih memilih sekamar dengan Denas yang seorang pria?


Akhir-akhir ini jarang up sebab pekerjaan yang memang sedang menumpuk dan menunggu untuk segera diselesaikan.


Up normal seperti kemarin-marin mungkin masih bulan Oktober atau Desember. Hehe... Selama itu mungkin up-nya dua atau tiga hari sekali.