
Di sebuah dunia yang sangat jauh dari Planet Orion dengan jarak sekitar 200 juta tahun cahaya, sekelompok pasukan bersenjata lengkap berjumlah sekitar seratus orang tengah memacu kuda dengan cepat. Seorang pemuda dengan wajah pucat memimpin pasukan itu. Dia terlihat khawatir. Di punggungnya ada tas besar berisi obat-obatan herbal dan ramuan penyakit dalam. Di kuda belakang pemuda itu ada seorang lelaki tua berumur sekitar 50-an tahun yang mengenakan pakaian seperti seorang tabib. Laki-laki tua itu juga membawa tas di belakangnya yang berisi peralatan medis.
"Berhenti!!" Teriak pemuda yang membawa tas besar denngan tiba-tiba. Semua pasukan berhenti dan melihat sekeliling.
"Ada apa Pangeran? Apakah ada musuh yang mengetahui perjalanan kita?" Tanya seorang laki-laki yang jika dilihat dari token yang dikenakan di samping pinggangnya merupakan seorang Jenderal Besar.
"Bukan musuh. Tapi coba lihat di depan sana. Seperti ada seseorang yang tergeletak di tengah jalan." Jawab orang yang dipanggil Pangeran.
Jenderal besar menyipitkan matanya. Di tengah tanah tandus itu terdapat seorang laki-laki tergeletak di tengah jalan yang mereka lalui. Jenderal itu secara perlahan mendekati pemuda itu dengan kudanya.
"Hati-hati Jenderal mungkin itu adalah jebakan dari pihak musuh yang sengaja memancing kita." Teriak salah seorang komandan pasukan.
"Tenang aja. Sepertinya orang itu tidak sadarkan diri. Dilihat dari pakaian yang dikenakannya dia seperti seorang pelajar." Ujar Tabib tua dengan mengelus jenggotnya.
Jenderal besar yang telah dekat dengan tubuh orang yang pingsan itu segera turun dari kudanya. Dia memeriksa nafas dan denyut nadi orang itu. Dia kemudian mengangguk-angguk.
"Sepertinya orang ini memang tidak sadarkan diri." Gumam sang Jenderal.
"Apa yang harus kita lakukan Pangeran?" Tanya Jenderal.
Pangeran itu berjalan mendekat. Dia sedikit terkejut melihat orang itu. "Hemm. Orang ini jauh lebih muda dariku. Tapi kenapa dia bisa seperti ini. Apa mungkin dia rombangan pedagang yang telah dirampok oleh bandit gunung?"
"Kita bawa aja dulu. Siapa tahu dia adalah rakyat yang dirampok bandit gunung. Beruntung dia bisa selamat. Kita bisa tanyakan padanya ketika dia sudah bangun." Jawab Pangeran.
"Baik Pangeran." Jawab Sang Jenderal. Dia mengangkat pemuda itu ke atas kudanya dan kemudian menaikinya. Sang Jenderal mengikat pemuda itu ditubuhnya agar tidak jatuh dari atas kuda. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.
Sekitar dua pembakaran dupa, para pasukan itu akhirnya sampai di perkemahan mereka. Para perajurit yang melihat kedatangan mereka segera menyambut dan memberi hormat. Mereka bertanya-tanya dengan pemuda yang dibawa oleh Jenderal bersamanya.
Pangeran, Sang Jenderal dan tabib tua itu segera menuju kamp yang lebih besar dan lebih bagus dari kamp perajurit lainnya. Sampainya di dalam, Jenderal segera meletakkan pemuda yang pingsan itu di tempat tidurnya dan menyusul Pangeran dan Tabib menuju ruangan lainnya yang hanya disekat dengan kayu tipis.
Di ruangan itu terdapat seorang laki-laki berumur sekitar 40-an tahun yang sedang terbaring lemah. Nafasnya putus-putus seakan ada batu besar yang menghimpit dada laki-laki itu. Dilihat dari pakaian kebesaran yang dikenakan laki-laki itu menunjukan identitasnya sebagai seorang raja.
"Ayahanda bertahanlah. Ananda telah kembali membawa tabib terbaik di negara kita. Cepatlah sembuh ayahanda." Ujar Pangeran dengan sedih.
Sang Tabib segera melakukan tugasnya. Dia memeriksa denyut nadi sang Raja dan matanya terbelalak begitu mengetahui penyakit yang diderita Raja. Lalu dia membuka lengan jubah sang Raja dan melihat ada asap hitam yang mengepul di lengan sebelah kirinya. Sang Tabib kembali membuka baju yang dikenakan Raja dan semua mata terbelalak saat melihat sesuatu yang mengeliat berwarna ungu di balik dada sang Raja.
"A..apa ini. Kenapa ada di dada ayahanda. Tabib tolong jelaskan apa ini." Ujar sang pangeran panik. Sang Jenderal mencoba menenangkan Pangeran agar tidak mengganggu tabib.
Sang tabib menelan ludah. "Pangeran. Penyakit ini dinamakan racun hati. salah satu racun yang paling mematikan di dunia ini. Racun yang tidak dapat terdeteksi oleh ahli tingkat tinggi sekalipun. Namun begitu racun itu memasuki tubuh seseorang akan langsung mati ditempat jika itu orang biasa. Racun yang telah berhasil memasuki tubuh akan mulai menggerogoti tubuh inangnya sedikit demi sedikit hingga berbentuk ulat seperti yang Pangeran lihat. Untung saja Yang Mulia Raja memiliki tenaga dalam yang besar hingga dapat memperlambat penyebaran racun hati. Aku tidak menyangka Yang Mulia Raja dapat bertahan hingga sejauh ini." Ucap Tabib sambil menghela nafas panjang.
"Ini bukan waktunya bagi anda mengagumi ayahanda cepat sembuhkan ayahanda berapapun biayanya." Ucap Pangeran bergetar menahan marahnya.
"Saya akan mencobanya yang mulia pangeran." Ucap Tabib pesimis. Dia mengeluarkan alat-alat medis yang dibawanya. Dia mengeluarkan beberapa jarum akupuntur dari tasnya dan memanaskannya dengan api yang keluar dari tangan sebelah kirinya. Api itu berwarna seperti api pada umumnya. Setelah dirasa cukup, tabib itu mulai menusuk beberapa jarum di lengan kiri Raja yang ada asap hitamnya. Asap hitam yang tadinya pekat itu sedikit demi sedikit mulai berkurang. Sang Tabib menusuk beberapa jarum yang lebih banyak di dada sang Raja.
Keanehan mulai terjadi saat Tabib mencoba menusuk dada Raja dengan jarum yang kedua, sesuatu itu meggeliat dengan cepat ke arah jarum kedua yang ditusukan Tabib. Ulat itu mencoba mengeluarkan jarum kedua dari tubuh raja. Dengan cepat, Tabib menahan jarum itu dengan tenaga dalamnya dan mulai menusuk jarum yang ketiga tak jauh dari jarum kedua. Ulat itu kembali menggeliat namun kali ini tubuh sang Raja juga ikut mengeliat. Jenderal dan Pangeran menjadi panik.
"Gak usah panik cepat tolong aku menahan jarum ini menggunakan tenaga dalam kalian agar tidak keluar dari tubuh Yang Mia." Ujar sang tabib cepat. Sang Jenderal mengikut ucapan tabib. Namun dia begitu terkejut saat merasakan dorongan yang cukup kuat dari jarum yang di tekannya menggunakan tenaga dalamnya. Sang Jenderal dapat merasakan ada tenaga dalam yang keluar dari jarum itu. "Apa ini? Kenapa bisa sekuat ini tenaga dalam yang keluar. Apa mungkin ulat racun itu yang memiliki tenaga dalam ini? Atau kah ini tenaga dalam Yang Mulia yang diserap oleh ulat itu?" Batin Jenderal bertanya-tanya.
Tabib tua itu kembali menusuk jarum yang keempat. Kali ini kekuatan yang dikeluarkan lebih besar. Pangeran yang dari tadi hanya melihat dengan cemas, segera menekan jarum keempat dengan tenaga dalamnya agar tidak keluar. Reaksinya tak kalah kaget dari Jenderal. Dia juga bertanya-tanya mengenai tenaga dalam yang keluar. Sekilas bila dilihat, akan terlihat seperti pertarungan tenaga dalam. Udara di sekitar juga terass lebih berat.
Tabib tua itu kembali menusukan jarum kelima. Kelima jarum itu kini telah mengelilingi ulat kecil yang ada di dada Raja. Begitu jarum kelima ditusukan, tenaga yang keluar dari ulat itu semakin berkurang dan semakin lama semakin menipis. Begitu juga dengan tubuh Sang Raja yang telah berhenti bergerak-gerak karena ulat kecil di dada Raja tidak lagi menggeliat.
Ketiga orang di ruangan itu menarik nafas lega. Keringat mereka bercucuran deras karena banyak mengeluarkan tenaga dalam. Terlihat ulat kecil di dada raja sedang meringkuk seperti anak kecil yang ketakutan melihat hantu. Namun sang tabib merasa ada yang aneh. Dia melihat lengan kiri Raja yang telah ada jarum akupuntur dan sudah tidak ada lagi asap hitam di situ. Lalu dia melihat lagi ulat di dada Raja yang masih meringkuk. Dia teringat sesuatu.
"Yang Mulia Pangeran dan tuan Jenderal, tidak kah kalian merasa terlalu kelelahan?" Tanya Tabib tua itu tiba-tiba.
"Ya cukup kelelahan. Tapi hasilnya sepadan. Lihat ayahanda sudah kembali tenang dan ulat itu juga sudah tidak bisa apa-apa lagi." Jawab Pangeran dengan cepat dan tersenyum senang.
"Ada tabib? Apa ada sesuatu yang janggal?" Tanya Jenderal yang melihat Tabib sedikit gelisah.
"Hem... Seharusnya tidak apa-apa. Namun apakah Yang Mulia Pangeran dan tuan Jenderal tidak merasa telah banyak menguras tenaga dalam hanya untuk menekan satu jarum akupuntur? Jika pun hanya menekan satu jarum akupuntur yang didorong menggunakan tenaga dalam tidak seharusnya menghabiskan seperempat tenaga dalam selama setengah dupa pembakaran. Sedangkan Yang Mulia Pangeran dan Jenderal menghabiskan separuh tenaga dalam hanya dalam waktu tidak lebih dari setengah pembakaran dupa atau 60 tarikan nafas. Bukankah agak sedikit aneh." Ujar sang tabib cemas.
"Jadi maksud anda bahwa tenaga dalam kami diserap tanpa kami sadari?" Tanya Jenderal dengan tubuh bergetar.
"Kurang lebih seperti. Sepertinya ulat racun ini dikendalikan dari jarak jauh oleh seseorang." Jawab Tabib lemas.
Swoossh...
Pangeran, Jenderal dan Tabib terkaget saat merasakan tenaga yang sangat besar keluar dari dada Raja yang terbaring di ranjang. Tenaga dalam yang sangat besar berkumpul di satu titik dan tinggal menunggu keluarnya.
"Sial! Bagaimana ini. Bisa-bisa ayahanda tidak akan selamat. Tabib apa yang harus kita lakukan. Cepat tolong ayahanda. Cepat katakan padakau bagaimana menyelamatkan ayahanda. Cepat katakan tabib." Pangeran terlihat gelisah. Matanya mulai memerah hanya menunggu waktu air bening itu akan berurai.
"Awas"
Satu teriakan dari luar mengejutkan semua yang ada di ruangan itu.
"Ap...."
"Tidakk...."
Suara ledakan tenaga dalam yang dahsyat mempora-porandakan kamar Sang Raja. Pangeran terpental ke ruang sebelah. Begitu juga dengan Tabib dan Jenderal. Para perajurit yang berjaga di sekitar kamp sang raja mulai berdatangan. Mereka mengira ada serangan musuh yang cukup hebat.
"Apa yang terjadi?"
"Ayo cepat ke dalam. Tidak mungkin ada musuh yang bisa lewat dari penjagaan kita."
"Celaka. Yang Mulia Raja dan Pangeran ada di dalam."
"Ayo cepat ke dalam tidak usah banya bicara."
Sesampainya di dalam, para prajurit itu terkaget melihat seorang pemuda sedang duduk di dekat tubuh Raja. Terlihat pemuda itu sedang menotok beberapa titik akupuntur di tubuh maupun leher Raja.
"Hei anak muda apa yang kau lakukan. Singkirkan tangan kotormu itu dari tubuh Raja kami." Bentak seorang komandan menghunuskankan pedangnya ke leher pemuda itu. Para prajurit bawahanya segera mengitari pemuda itu dan menodongkan senjata mereka masing-masing.
"Berhenti! Apa yang kalian lakukan. Dia adalah penyelamat raja." Suara bentakan yang sangat keras yang mengandung tenaga dalam membuat para prajurit itu bergetar dan tanpa sengaja menjatuhkan senjata mereka masing-masing.
Pangeran, Tabib dan Jenderal mendekati pemuda itu lalu memberi hormat. Sebelumnya jika tidak ada teriakan dari pemuda itu sudah pasti mereka akan terluka parah. Terlebih lagi pemuda itu telah meredam kekuatan ledakan tenaga dalam yang berasal dari tubuh Raja sehingga dapat menyelamatkan nyawanya. Bukan cuma itu, pemuda itu juga menghentikan kekacauan tenaga dalam di tubuh Raja dan mengobati penyakit Raja hanya melalui beberapa totokan saja. Sang Tabib yang melihat hal itu merasa sangat malu. Pangeran dan Jenderal yang mengetahui apa yang dilakukan pemuda itu menjadi lega. Saat melihat para prajurit bodohnya melakukan hal yang tak wajar Sang Jenderal merasa sangat marah.
"Maafkan kami tuan yang kurang bisa mendidik prajurit ini. Sebagai Jenderal saya akan kembali mendisiplinkan mereka." Jenderal membungkuk meminta maaf.
"Terima kasih tuan telah menyelamatkan ayah saya. Merupakan kebaikan budi yang tidak dapat kami balas. Saya sebagai anak kandung Raja mewakili beliau dan seluruh negara berterima kasih kepada anda." Ucap Pangeran juga membungkuk. Dia sadar walaupun hal itu melukai harga dirinya, namun semua itu tidak berarti jika dibandingkan oleh nyawa ayahnya.
"Sungguh ilmu pengobatan yang sangat hebat dan tenaga dalam yang luar biasa. Sebagai Tabib tersohor, saya hanyalah seperti debu dibandingkan ilmu pengobatan anda. Orang tua ini berharap tuan muda sudikah kiranya menerima murid seperti orang tua ini?" Ucap Tabib sambil membungkuk dalam.
Para prajurit yang melihat itu menjadi gemetar. Lutut mereka goyah dan seluruh badan mereka menjadi lemas.
Bruk
Bruk
Bruk
Mereka semua menjatuhkan diri di hadapan pemuda itu.
"Maafkan atas kelancangan kami tuan muda yang terhormat. Sungguh maafkan kami." Ucap para prajurit itu ketakutan. Para prajurit yang berdatangan ini adalah prajurit elite yang begitu ganas di medan tempur. Menyerang musuh tanpa ampun. Namun saat ini dihadapan pemuda ini mereka terlihat sangat menyedihkan. Para prajurit ini tahu bahwa jika mereka telah menyinggung orang yang tidak seharusnya disinggung. Untung saja saat itu pemuda yang mereka ancam tadi tidak langsung membunuh mereka.
"Berdirilah. Jika aku seperti kalian, mungkin akan melakukan hal yang sama." Ucap Pemuda itu bangkit.
"Raja kalian sangat kelelahan setelah menghabiskan begitu banyak tenaga dalamnya karena melawan racun hati yang kalian sebutkan tadi. Biarkan sejenak dia istirahat. Anggap saja sebagai rasa terima kasihku karena telah menolongku dan membawaku ke tempat ini."
Pemuda itu segera diikuti oleh Pangeran, Jenderal dan Tabib tua. Sedangkan para prajurit segera menyiapkan meja tempat duduk dan beberapa hidangan.
"Tuan silahkan duduk biarkan kami menghidangkan secangkir teh." Ucap Pangeran mempersilahkan duduk pemuda itu. Pemuda itu mengangguk. Dia tahu bahwa mengajak minum secangkir teh hanyalah penghormatan yang hanya diucapkan para bangsawan. Ada pembicaraan yang lebih dari sekadar minum secangkir teh.
"Tuan, nama saya Park Ji Sung dan ayah saya Park Su Jung. Ini Jenderal Besar yang bernama Kim Jo Ing. Sedangkan tuan tabib ini bernama Kim Tae Hung. Kalo boleh tahu nama tuan siapa?" Sang Pangeran yang bernama Park Ji Sung memperkenalkan diri dengan sopan. Dia berbicara hati-hati dengan pemuda yang ada di depannya ini walaupun terlihat masih sangat muda.
Pemuda itu mengangguk. "Nama saya Tang Xiao" Ujar pemuda itu.
Ketiga orang di depannya sedikit terkejut. Mereka bertiga saling menatap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai Guys..👋👋
Setelah sekian lama *Hiatus* akhirnya novel ini mulai kami garap lagi. Ada beberapa pertimbangan kedepannya kami akan fokus kepada novel satu ini hingga selesai.
Cerita dari chapter ini adalah permulaan sesason 2. Dan untuk kelanjutan cerita season 1 yang masih nanggung akan kami ceritakan di chapter selanjutnya. (Bisa jadi di season 3, lihat sitkon sih)
Terima kasih para reader telah mampir ke sini. Sehat selalu ya dan patuhi prokes dan tidak lupa berdoa semoga kita semua dijauhkan dari segala bencana dan mara bahaya lainnya.
#Sejenak mematut diri di depanmu
Menatap diriku didalam dirimu
Kita adalah satu jiwa dengan dua raga
Melihatmu sepanjang waktu tiada lupa
Hingga aku pergi tanpa luka dan air mata
_Ngawi, 03 Juli 2021_