
BROOMM...
Ledakan keras terdengar dari Lembah Dawai di malam hari. Ledakan itu yang besar dengan efek satu kilo meter mengejutkan seluruh hutan dan membuat gundul wilayah itu. Seorang wanita bercadar melayang-layang di udara di atas ledakan tadi. Tangan kanannya memegang pedang dan tangan kirinya memegang seorang pria bertopeng bernama Hanzho.
Pria itu menatap ke arah ledakan dengan mata tak percaya. Barusan dia sempat meremehkan kekuatan gadis yang sedang memegang kerah bajunya. Namun tidak disangka hanya dengan sekali ayunan pedang mampu mengeluarkan kekuatan destruktif yang sangan mengerikan dengan Arena Of Effect yang sangat luas. Pemuda itu berkeringat dingin dan sedikit malu atas kata-kata yang diucapkan sebelumnya.
"Bukankah menyenangkan melihat ledakan petasan dari atas sini? Apalagi ditemani seorang wanita di malam hari yang dingin ini." Ucap perempuan yang melayang itu kepada Hanzho.
"Ukh.. Kurasa tetua Lan memang benar." Jawab singkat Hanzho karena tidak ingin memprovokasi seseorang yang bisa terbang dan mampu membunuh para Vampir Darah hanya dalam sekali tebas.
"Sebaiknya kita menyusul nona muda dahulu agar tidak terjadi apa-apa pada mereka?" Ucap Hanzho sebagai alasan karena dia sudah tidak betah melayang-layang di udara dengan kondisi leher tercekik kerah baju.
"Tenang saja. Selama saudariku bersama mereka tidak satupun dari makhluk itu yang mempu melukai mereka. Bahkan kurasa di benua ini sekalipun." Ucap tetua Lan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan di sini? Kurasa selama kita di Lembah ini akan ada yang terus mengincar kita." Ucap Hanzho menoleh kanan kiri karena merasakan pergerakan.
"Jika kamu mengkhawatirkan para kafilah mu, mereka sudah aman dan telah keluar dari wilayah ini bahkan menyaksikan pertarungan ini. Jika kamu mengkhawatirkan dirimu sendiri, ada aku di sini." Balas tetua Lan santai.
"Apa mereka sudah keluar dari lembah ini dan bahkan menyaksikan pertarungan ini? Bagaimana mungkin?" Tanya Hanzho kaget tak mengerti.
"Hais... Kan sudah kukatakan ada saudariku bersama mereka. Sudahlah bahkan jika aku menhelaskannya kamu tidak akan mengerti. Intinya, mereka menyaksikan kita melalui visual yang dibuat oleh saudariku." Ucap Tetua Lan.
Cetak.
Tetau Lan menjentikkan jarinya. Hanzho yang awalnya berada di cengkraman tetua Lan kini melayang-layang di udara diselimuti dengan energi warna putih transparan seperti gelembung. Hanzho kembali terbelalak.
"Aku tahu mereka kuat. Namun aku tak menyangka akan sekuat ini." Gumam Hanzho dari dalam gelembung. Suaranya hanya terdengan seperti seorang yang sedang berbicara dalam air.
"Oh kurasa yang datang kali ini lebih kuat dari sebelumnya." Ucap tetua Lan menghunuskan pedangnya saat melihat puluhan vampir terbang ke arahnya.
TEBASAN ANGIN MUSIM SEMI
BROOMM...
Diiringi teriakan dari tetua Lan, para vampir itu terpotong-potong oleh angin kencang yang keluar dari pedang tetua Lan. Vampir lain dalam jumlah lebih besar datang menyerang dan berhasil menghindar tebasan pedang tetua Lan.
"Oh ternyata kalian punya cukup kecerdasan yang tinggi setinggi dengkul. Kalian pikir bisa menghindari tebasan Musim Semi-ku? Lihatlah ke belakang." Ucap tetua Lan.
Para Vampir yang memahami ucapan tetua Lan menoleh ke belakang dan terlambat menyadari saat angin tebasan pedang tetua Lan berbalik dan memotong-motong tubuh mereka.
"Tebasan ini tidak akan menghilang selagi belum mengenai target dan akan terus mengikuti target hingga mati. Kalian pasti belum melihat sesuatu seperti ini." Ucap tetua Lan pada para vampir yang melihatnya dari jarak jauh.
Para Vampir itu terdiam sejenak seolah memikirkan strategi untuk menghadapi wanita di depan mereka ini. Lalu salah seorang dari mereka menunjuk-nunjuk Hanzho yang berada dalam gelembung udara.
"Oh kurasa mereka mengincar yang lemah. Lumayan mereka bisa menyadarinya dengan cepat." Ucap tetua Lan. "Namun sayangnya mereka tidak menyadari bahwa mereka ibarat ngengat yang terbang ke arah api. Bukanya mencari kehangatan malah menemui kematian. Ckck. Kalian masih meremehkanku."
Hanzho yang melihat puluhan Vampir terbang ke arahnya menjadi panik. Kakinya gemetar dan wajahnya pucat. Walaupun dia sendiri mampu mengalahkan empat atau lima vampir, akan berbeda ceritanya jika yang datang dalam jumlah seperti sebuah pasukan kecil imperium. Dia hanya akan menjadi santapan empuk mereka. Apalagi dia berada dalam gelembung tipis seperti ini, sekali pukul saja gelembung ini akan hancur berkeping-keping.
"Nona Lan, tolong...." Teriak Hanzho ketakutan meringkuk di dalam gelembung.
Zzttt... Ctarr...
Zzttt... Ctarr..
Zzttt... Ctarr..
Sebuah petir kecil muncul dari gelembung ketika para vampir mendekati gelembung itu. Petir kecil itu sangat kuat. Siapapun yang mendekat akan tersambar dan mati menghitam. Tidak peduli Vampir kecil maupun besar mereka semua mati gosong. Para vampir berhenti menyerang dan bergegas menjauhi Hanzho yang berada dalam gelembung. Mereka merasa ngeri melihat teman-teman mereka sebelum mati kejang-kejang dulu kemudian mati menghitam. Perlahan para vampir itu mundur ke belakang dan menjauhi tetua Lan dan Hanzho. Lalu dengan satu komando mereka semua terbang kabur dengan cepat. Kabur dari pertempuran sepihak. Walaupun mereka merasa terhina baru kali ini kalah dari para manusia, tapi lebih baik dari pada mati terpotong-potong atau mati tersambar petir. Setidaknya akan ada manusia lain tempat mereka membalaskan dendam mereka hari ini.
Hanzho menarik nafas lega. Kini dia tidak kaget lagi melihat kehebatan perempuan berdada montok dan bercadar di depannya ini. Tetua Lan terbang mendekati Hanzho.
"Terima kasih tetua Lan sudah menyelamatkan saya. Saya tidak tahu bagaimana membalas budi tetua Lan." Ucap Hanzho membungkuk mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Sudahlah aku hanya bersenang-senang dengan mereka, itu aja. Sebaiknya kita segera pergi dari sini." Balas tetua Lan.
Tetua Lan terbang diikuti Hanzho yang berada dalam gelembung. Gelembung itu bergerak sesuai dengan kecepatan terbang tetua Lan.
......................
Di sebuah desa terpencil dalam rumah sederhana, Tang Xiao, Denas, Andri, Maria dan kakek neneknya tengah duduk di sebuah meja bundar. Di depan mereka terhidang teh yang masih hangat.
"Anak muda nama saya Adam dan istri saya bernama Hawa. Jujur saja entah apa yang terjadi pada kami sehingga kami bisa kembali seperti ini" Ucap Kakek Adam yang terlihat seperti pria berumur empat puluhan tahun, gagah dan tampan. Sedangkan istrinya duduk di sampingnya seperti gadis berumur tiga puluhan tahun, Cantik, putih, berseri dan dada montok. Pertanyaan tersebut mewakili rasa penasaran dalam hatinya.
Denas, Adam dan Maria menatap Tang Xiao penuh selidik. Mereka jelas-jelas tahu semua itu akibat ulah Tang Xiao yang meminumkan pil pada dua pasangan itu.
"Uhuk-uhuk.. Ehem.. Sebenarnya..."
"Sebenarnya apa?" Tanya Denas mendekatkan wajahnya pada Tang Xiao. Tang Xiao menghindar dan memalingkan wajahnya dari tatapan penuh selidik Denas.
"Hemm.. Itu sebenarnya pil biasa untuk mengobati berbagai macam penyakit dan bisa membuat manusia kembali muda dan hidup sedikit panjang." Ucap Tang Xiao ragu.
"APAA?" Teriak mereka semua.
"Dan kamu masih mengatakannya pil biasa? Kamu stres ya saudara Tang?" Ucap Denas kembali mendekati wajahnya pada Tang Xiao.
"Iya biasa sih. Aku punya setumpuk pil seperti itu." Ucap Tang Xiao cengengesan.
"Apa? kamu punya setumpuk? Gila, benar-benar gila." Ucap Denas lagi kembali mendekatkan wajahnya pada Tang Xiao, sangat dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan.
"Yah apapun itu pilnya tapi terima kasih banyak Nak Tang telah menyelamatkan saya dan suami saya." Ucap Hawa tulus.
"Eh iya sama-sama Nek." Ucap Tang Xiao.
Tuuukk...
"Aduh apa sih saudara Denas." Ucap Tang Xiao saat kepalanya di pukul Denas dengan kipasnya. Denas mendekati Tang Xiao dan berbisik.
"Saudara Tang, bodoh ya. Melihat penampilan mereka seperti itu, kamu masih memanggil mereka nenek?"
Hawa bangkit dari duduknya diikuti Maria. Mereka berdua menyiapkan makan malam karena sudah mulai sore.
"Lalu kemana tujuan Nak Tang Xiao setelah ini?" Tanya Adam sambil menuangkan teh ke gelas masing-masing tiga orang pemuda di hadapannya. Saatnya pembicaraan laki-laki dewasa dimulai.
"Saya juga tidak tahu. Saya berasal dari Kekaisaran Wu. Saya kesini ingin menjadi seorang petualang." Ucap Tang Xiao.
"Lalu bagaimana dengan Nak Denas dan Nak Andri."
Kedua pemuda itu saling pandang.
"Mungkin saya akan mengikuti saudara Tang." Ucap Andri.
"Saya juga. Walaupun kami baru bertemu namun kami sudah menjadi saudara." Ucap Denas.
Adam hanya manggut-manggut setuju.
"Kenapa kalian tidak mengikuti turnamen atar benua saja?" Tanya Adam sesaat setelah terdiam.
"Turnamen antar benua itu sebenarnya seperti apa sih?" Tanya Tang Xiao penasaran. Walaupun dia pernah mendengarnya sebelumnya, namun dia tidak tahu pasti mengenai turnamen antar benua itu seperti apa.
"Ah saudara Tang, dimanakah kamu tinggal sampai-sampai turnamen itu saja kamu tidak tahu." Ucap Denas. Tang Xiao hanya nyengir mendengar ucapan Denas.
"Biar aku yang menjelaskan." Ucap Andri mengambil segelas teh lalu meminumnya.
"Turnamen antar benua itu diadakan oleh Asosiasi Kultivator Dunia setiap dua puluh tahun sekali. Selain untuk menjalin persahabatan antar Imperium atau antar benua, para kultivator yang berhasil menang akan dijadikan murid sekte terbesar di dunia ini yaitu Sekte Bintang Kejora dan Sekte Rembulan Emas. Dua sekte terbesar di dunia dan menjadi pelindung dunia ini yang rawan di serang iblis. Tentu saja barang siapa berhasil masuk sekte itu mempunyai masa depan yang tidak terbatas dan mampu berdiri di puncak kultivator dunia. Konon katanya sih, salah satu dari sekte itu adalah cabang dari Klan Kuno pelindung dunia ini tiga ratus ribu tahun lalu. Sedangkan sekte yang satunya konon katanya didirikan oleh seorang kultivator ranah Half-God. Ranah satu-satunya yang pernah ada di dunia ini. Tapi sayangnya pendiri sekte itu tiba-tiba menghilang lima ratus tahun lalu. Ada yang mengatakan beliau telah naik ke surga, ada yang mengatakan beliau dalam pertapaan. Namun hingga saat ini belum ada satupun yang mengetahui keberadaan kekuatan terkuat di dunia ini. Syarat umur mengikuti turnamen itu yaitu minimal umur sepuluh tahun hingga umur empat puluh tahun dan belum berkeluarga. Tidak peduli dari Kekaisaran mana atau Benua mana selama bukan seseorang dari aliran iblis, maka diperbolehkan ikut berpartisipasi meskipun tidak mewakili Benua manapun." Jelas Andri panjang lebar.
"Lalu tahun ini turnamen diadakan di benua mana?" Tanya Tang Xiao.
"Tahun ini diadakan di Benua Land Of Soul di Paviliun Bintang." Jawab Andri.
"Oh berarti dari benua kamu berasal ya saudara Andri." Ucap Denas. Andri hanya mengangguk santai.
"Apa kamu tertarik untuk ikut turnamen itu?" Tanya Denas lagi. Andri terdiam. Dia melihat ke arah Tang Xiao.
"Saudara Tang tertarik untuk ikut turnamen itu?" Tanya Andri.
Tang Xiao mengangkat kedua bahunya kemudian berkata, "Aku tidak terlalu tertarik. Namun karena turnamen itu diadakan di benua asal saudara Andri kurasa akan ikut. Siapa tahu aku bisa main ke rumah saudara Andri."
"Karena saudara Tang ingin pergi ke rumahku, dari itu aku sebagai tuan rumah mempersilahkan untuk datang ke rumahku dan tinggal di sana." Ucap Andri senang. Mendengar jawaban itu Denas berdiri mengambil segelas teh kemudian berkata.
"Baik sekarang tujuan kita bertiga adalah turnamen antar benua dan memenangkan turnamen itu untuk saudara Andri. Kita akan tunjukan pada dunia kekuatan trio saudara." Lalu meminum teh di gelas diikuti Tang Xiao, Andri yang terharu dan Adam.
"Aku sebagai orang tua yang akan menyaksikan tekad kalian demi saudara kalian." Ucap Adam.
Kemudian mereka duduk dengan keadaan puas. Andri menatap kedua saudara yang baru dikenalnya ini dengan terharu. Dia tidak menyangka akan bertemu dua orang yang sangat pengertian terhadapanya selama dia kabur dari rumahnya. Dia sudah menerima mereka sebagai saudaranya sehidup semati.
"Karena kita bertiga sudah menjadi saudara kenapa tidak memanggil satu sama lain saja. Aku saat ini berumur tujuh belas tahun. Kalo saudara Tang?" Tanya Andri bersemangat.
"Aku mendekati enam belas tahun." Jawab Tang Xiao.
"Kalo saudara Denas?" Tanya Andri.
"Aku satu bulan lagi memasuki umur lima belas tahun." Jawab Denas.
"Baik karena aku yang paling tua maka aku akan menjadi Kakak tertua. Saudara Tang Xiao akan menjadi adik kedua. dan saudara Denas akan menjadi adik ketiga. Bagaimana setuju?" Tanya Andri berapi-api.
"Aku sangat setuju atas usul kakak pertama." Jawab Tang Xiao.
"Baiklah tidak masalah punya dua orang Kakak. Sebagai adik ketiga juga aku sangat setuju.: Jawab Denas.
Mereka bertiga saling bertukar teh dan bersulang bersama lalu memecahkan gelas teh ke lantai sebagai bentuk persaudaraan mereka.
"Dan aku menjadi saksi lahirnya tiga bersaudara yang akan mengguncang dunia." Ucap Adam ikut meminum teh lalu memecahkannya ke lantai. Sementara itu dari arah dapur perbuatan keempat orang itu disaksikan Hawa dan Maria. Hawa tersenyum bahagia melihat ketiga pemuda yang tak biasa itu, berkumpul dan membuat ikatan persaudaraan.
"Nenek, kenapa gelas kita dipecahkan kelantai oleh kakak-kakak itu? Bahkan kakek juga ikut-ikutan?" Tanya Maria polos tak mengerti.
"Nak Maria berbahagialah kita bertiga bisa menjadi saksi lahirnya tiga persaudaraan yang aka mengguncang dunia." Ucap Hawa.
"Huuff.. Aku takut seseorang dari mereka akan menghianati persaudaraan mereka. Tatapan itu? Aku tahu tatapan seperti apa itu." Batin Hawa sambil menghembuskan nafasnya. Lalu dia beranjak dari tempat itu dan melanjutkan pekerjaannya meninggalkan Maria yang masih bingung karena tidak mendapat jawaban pasti dari neneknya.
"Adik kedua, Adik ketiga, tuan Adam aku sedikit punya cerita alasan aku kabur." Ucap Andri setelah memantapkan hatinya untuk bercerita. Tang Xiao, Denas dan Adam diam menunggu cerita Andri dengan antusias.
"Di dunia ini, kekuatan adalah nomor satu dan segala-galanya. Orang yang dihargai hanyalah orang kuat sedangkan orang lemah dianggap sebagai pembantu. Di benua Land Of Soul berlaku ketat keyakinan seperti itu terutama di rumahku. Pada awalnya aku adalah jenius nomor satu di rumah. Pada umur sepuluh tahun aku telah berhasil menembus ranah Master bintang sembilan. Semua orang dikeluargaku dan teman-temanku menaruh harapan yang tinggi sehingga mereka semua sangat memanjakanku. Lalu pada umur lima belas tahun aku berhasil menebus ranah Expert bintang dua. Sebuah pencapaian yang luar biasa yang belum pernah terjadi di benuaku bahkan sangat jarang terjadi di seluruh dunia.
Harapan itu semakin besar dibebankan di pundakku namun aku sangat menyukainya karena aku merasa sangat keren menjadi orang terkenal dan dieluk-elukan teman-teman dan keluarga. Bahkan saat aku berumur sepuluh tahun aku sudah ditunangkan dengan seorang putri dari Kekaisaran Gama. Namun sayangnya ketenaranku itu justru membuat beberapa orang iri dan benci padaku. Seorang sahabat terdekatku dan satu-satunya orang yang paling kupercaya ternyata adalah satu-satunya orang yang sangat membenciku hingga pada suatu hari dia menaruh racun untuk melumpuhkanku.
Aku terlambat menyadari saat racun itu sudah mulai bereaksi. Aku mengalami kejang-kejang. Seluruh badanku terasa seperti dibakar dan saat bersamaan aku merasa seperti terkubur dalam es hidup-hidup. Dua elemen, api dan es saling berbenturan dalam tubuhku melemahkan dantianku. Kultivasiku yang tinggi juga perlahan menurun hingga ranah Master bintang satu. Berita itu dengan cepat menyebar ke seluruh keluarga dan teman-temanku. Mereka yang awalnya memuja-muja dan menjilat padaku, berubah seratus delapan puluh derajat menghina dan menghujatku habis-habisan. Keluarga yang awalnya sangat memanjakanku, tidak lagi menghiraukanku bahkan mengatakan kepadaku bahwa aku hanyalah aib keluarga. Dan mereka berencana akan membuangku dari keluarga. Hanya ibukulah yang satu-satunya masih memperlakukanku seperti biasa. Teman-teman yang selama ini selalu mengandalkanku, berbalik menjauhi dan membuangku seolah aku ini anjing penyakitan yang tidak pantas berteman dengan mereka dan hanya pantas menjadi budak dan kacung mereka.
Setelah merasakan hinaan seperti itu terus selama beberapa bulan, aku memutuskan untuk pergi dari rumah yang sudah tidak menganggapku, memutuskan hubungan darah dengan mereka semua, dan menjalani kehidupanku sendiri tanpa harus menanggung hinaan dan cacian. Memang sulit, tapi inilah jalan yang harus aku lalui. Namun dengan hal yang aku lalui, aku bisa mengetahui siapa yang benar-benar menyayangiku dan siapa yang hanya menjilat kepadaku." Ucap Andri panjang lebar dengan tangan bergetar menahan amarah.
"Kakak pertama, setidaknya kakak masih punya kami dan percayalah mulai sejak ini dendammu adalah dendam kami dan musuhmu adalah musuh kami. Bahagiamu adalah bahagia kami dan sedihmu adalah sedih kami. Dendam yang telah terpendam ini, mereka akan segera membayarnya walaupun nyawa kami taruhannya." Ucap Tang Xiao memegang pundak Andri.
"Benar Kakak pertama. Ingatlah kita akan menggetarkan seluruh dunia dan menanamkan rasa takut tiada akhir pada musuh-musuh kita. Wahai dunia, ingatlah nama kami yang akan mengguncang seluruh benua." Timpal Denas bersemangat dan berapi-api.
Andri tersenyum lebar. "Duduklah kalian berdua. Kalian terlalu bersemangat hingga lupa kalian hampir menjatuhkan mejanya. Terima kasih adik kedua, adik ketiga semoga persaudaraan ini selalu langgeng." Ucap Andri terharu.
"Kakak pertama, sepertinya kita kedatangan tamu tak diundang." Ucap Tang Xiao saat merasakan kehadiran segerombolan orang-orang kuat.
"Hah? Maksudmu orang-orang dari Bandit Gunung?" Tanya Andri karena tak merasakan kehadiran orang dari jarak seratus meter.
"Iya mereka berjarak sekitar lima ratus meter dari sini." Jawab Denas membuka kipasnya dan mengipaskannya sebagai pertanda dia sangat senang dan menyukainya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...