The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 56. RANTAI JIWA



Tapak Penghancur Semesta


Broommm....


Satu telapak tangan raksasa tiba-tiba muncul dari langit menghantam dan meluluh lantakkan seluruh bangunan markas Black Assasin. Seorang kakek tua melayang di udara dan kedua tangannya menggenggam kerah dua orang laki-laki paruh baya.


"Sudah aku katakan, jika kalian berbohong aku tidak akan segan-segan." Ucap kakek tua itu kepada dua orang di tangannya.


Kedua laki-laki paruh baya itu terlihat begitu memprihatinkan melihat gedung mereka telah hancur. Tidak lagi tampak kegagahan di mata mereka yang selama ini mereka banggakan.


"Senior yang mulia, sebenarnya kami adalah sisa-sisa dari Black Assasin yang telah musnah ratusan tahun lalu. Saat pemusnahan itu terjadi, kami masih sangat kecil. Setelah mengetahui kesalahan yang dibuat oleh ketua saat itu, kami berdua bertekad membangkitkan kembali Black Assasin setelah berhasil naik ke ranah Holy Ancestor dengan susah payah. Namun kami tak menyangka orang yang dulu pernah memusnahkan Black Assasin yang pertama kini kami harus berurusan dengannya." Salah satu pria paruh baya.


"Aku tidak suka berursan dengan kalian. Sebaiknya kalian segera pergi dari sini." Ucap Kakek Lalo melemparkan dua orang pria itu ke tanah setelah terlebih dahulu melumpuhkan kultivasi mereka.


Kedua pria paruh baya itu berlari terbirit-birit tidak lagi mempedulikan anggota mereka yang telah mati. Silvie mendekati kakeknya.


"Kenapa dilepaskan begitu saja kek? Bisa jadi nanti lain kali mereka akan berbuat kejahatan lagi." Tanya Silvie.


"Tenang saja, mereka tidak akan bisa berbuat macam-macam lagi. Kakek telah melumpuhkan kultivasi mereka. Bagi seorang kultivator, lebih baik mereka dibunuh daripada kultivasi mereka dilumpuhkan. Tapi mereka terlalu pengecut sehingga lebih baik bagi mereka kehilangan kultivasi daripada kehilangan nyawa." Ujar Kakek Lao santai. Silvie membuka petanya dan melihat posisi mereka saat ini.


"Hemm seharusnya kita berjalan ke barat jika hendak menuju Kekaisaran Gama." Gumam Silvie.


"Ya sudah ayo berangkat." Balas kakek Lao melangkah terlebih dahulu.


"Kakek bukannya lebih enak jika membeli kuda?" Ucap Silvie menyusul kakeknya.


"Ide yang menarik. Kakek sudah terlalu tua untuk berjalan kaki." Balas kakek Lao.


"Yay.. Bukannya dari awal."


Kedua orang itupun berjalan keluar dari hutan kecil, tempat markas Black Assasin berada yang kini telah menjadi puing-puing tak bermakna.


......................


"Kristal energi tingkat sembilan memang sangat berharga." Gumam Denas sambil membawa krisatal merah itu dan meletakkannya di depan Tang Xiao.


"Kakak ketiga, kristal ini sangat berharga. Lebih baik memberikan kristal ini kepada orang yang telah membunuh golem raksasa." Ucap Denas kepada Tang Xiao.


"Kristal ini tidak berguna untukku. Lebih baik gunakan saja untuk kultivasimu. Siapa tahu dengan menyerap kristal ini, adik keempat bisa naik beberapa bintang. Syukur-syukur bisa naik ke sembilan bintang." Ucap Tang Xiao santai tidak melirik kristal ini sama sekali.


"Tapi kak kristal ini benar-benar berharga ataukah kakak sendiri yang tidak tahu harganya." Ucap Denas.


"Berapapun harganya kristal ini kakak tidak tertarik. Anggap aja kristal ini sebagai hadiah ulang tahunmu yang kelima belas." Balas Tang Xiao santai.


"Ya sudah nanti kakak ketiga jangan menyesal." Ucap Denas sambil menyimpan kristal itu di cincin ruangnya.


"Jika sudah selesai lanjutkan perjalanannya. Sepertinya lorong ini masih sangat jauh dari titik pusatnya." Seru Denas kepada para anggota Sekte Azure Dragon yang sedang mengumpulkan sisa-sisa tubuh golem raksasa yang masih berharga.


"Baik tuan muda. Kami juga sudah selesai." Ucap para anggota itu semangat.


Tang Xiao, Denas dan yang lainnya melanjutkan perjalanan mereka. Semakin ke dalam, semakin terdapat banyak relief gambar di dinding lorong yang terbuat dari baja tanah liat yang dibakar.


Relief gambar itu seperti menceritakan tentang pengorbanan kepada iblis yang dilakukan suku kuno. Tang Xiao dapat mengetahui lorong-lorong di ruangan ini telah berumur sekitar satu juta tahun yang lalu.


"Hemm... Lorong-lorong ini benar-benar dibangun oleh suku kuno." Gumam Tang Xiao sambil memperhatikan satu relief gambar yang menurutnya paling menarik diantara relief lain yang telah dilihatnya.


"Dari mana kakak tahu?" Tanya Denas penasaran. Dia selalu penasaran dengan apa yang dikatakan Kakak ketiganya ini. Anggota sekte Azure Dragon juga tampak merasa penasaran.


"Aku bisa mengetahui usianya saat menyentuh dinding lorong ini." Jawab Tang Xiao sambil meyentuh dinding lorong di depannya.


"Kira-kira sudah berapa usia tembok ini kak?" Tanya Denas.


"Sekitar dua juta tiga ratus tahun." Jawab Tang Xiao.


"Gila... Jauh lebih tua dari organisasi apapun yang ada di dunia ini." Ucap Denas terkejut. Hal itu juga mengejutkan anggota yang lain.


"Lorong ini didirikan oleh suku maya terkuat di dunia ini. Awalnya lorong ini adalah sebuah istana milik suku maya yang memerintahkan seluruh dunia dengan penuh kewenang-wenangan. Orang-orang dari seluruh dunia dipaksa untuk tunduk dan bersujud dibawah pemerintahan suku maya kuno. Bagi yang menentang akan dihukum seberat-beratnya hingga yang menentang itu mati atau menyerah." Gumam Tang Xiao lalu melepaskan tangannya dari lorong itu karena tidak kuat melihat pemandangan penyiksaan yang muncul di depan matanya yang dilakukan oleh suku maya.


"Hebat sekali tehnik kakak ketiga. Ajarin aku dong kak." Ucap Denas membujuk Tang Xiao sambil memain-mainkan lengan kanan Tang Xiao.


"Ehh... Macam anak kecil aja." Ucap Tang Xiao menarik lengannya agar tidak dibuat mainan oleh adik keempatnya ini.


"Ayo lanjutkan perjalanan lagi." Ucap Tang Xiao cepat sebelum Denas merengek memintanya mengajari tehnik itu.


Anggota yang lainpun mengangguk setuju atas ucapan Tang Xiao dan menyusul Tang Xiao yang sudah berjalan terlebih dahulu diikuti Denas yang tampak cemberut.


Tak lama kemudian kelompok Tang Xiao berhenti berjalan saat di depan mereka telah berdiri seorang pria bermata hitam dengan dua pedang hitam berada di balik punggungnya.


Pakaian pria itu tampak seperti sebuah zirah hitam dengan hoody yang menutupi kepalanya. Zirah hitam yang membalut pria itu mengeluarkan asap hitam pekat yang mengelilingi pria itu. Tingkat kultivasi pria itu berada di ranah yang tidak diketahui oleh Denas dan anggota Azure Dragon.


Grooaarrr....


Pria hitam di depan mereka tiba-tiba berteriak keras. Teriakan keras itu melebihi teriakan singa yang mereka temukan pertama kali.


Secara perlahan pria hitam itu menarik dua pedang dari punggungnya dan menghunuskannya ke arah Tang Xiao dan kelompoknya. Tang Xiao tersenyum sinis.


Krkajgsghso ksjshsu msjshsu kshsgsya


Pria hitam itu berbicara dalam bahasa yang tidak dimengerti sama sekali oleh kelompok Tang Xiao.


"Hei pria jelek, kalo berbicara yang jelas dong." Seru Tang Xiao mencibir pria hitam di depannya. Ucapan Tang Xiao itu membuat seluruh jangtung anggota Azure Dragon seakan berhenti berdetak.


Krakakaaka habsjw jsgsuwv shsgd hskwabs sjwpwg majemajeoeb ksisv dlospwn.


Pria hitam itu tampak marah saat mengucapkan kata-kata itu. Dia memandang Tang Xiao dengan tajam.


"Idih.. Sudah dibilangin bicara yang jelas." Ucap Tang Xiao memprovokasi pria hitam di depannya.


Krakabekapwmoa kwlwi sksi ksow ao ns wkwl sjskapbs japw kwiev sope pwpoe maloahas laowye a.


Ucap pria hitam itu lagi. Dia mengeluarkan aura membunuhnya yang besar.


"Tuan muda sebaiknya jangan memprovokasi makhluk itu. Dia jauh lebih kuat dari golem besi raksasa tadi." Ucap anggota Sekte Azure Dragom yang paling tua. Dia memang sudah akrab dengan Tang Xiao sehingga berani menegurnya.


"Tenang saja paman. Pria itu belum bisa menyerang kita. Sepertinya dia dalam keadaan terkunci. Andaikan dia bisa menyerang kita dari tadi, masih adakah yang bisa selamat diantara kita." Ucap Denas menenangkan orang tua itu.


Orang tua itu terdiam. Dia merasa ucapan Tang Xiao memang benar adanya. Untuk apa repot-repot marah atas ucapan Tang Xiao jika bisa membunuh mereka semua. Itulah yang dipikirkan tetua itu.


"Hei pria jelek, bisa bicara nggak sih. Udah jelek, bau busuk pula, kini gak bisa bicara. Untuk apa kamu hidup." Ucap Tang Xiao yang semakin gencar memprovokasi pria hitam di depannya.


Pria hitam itu seperti mengerti ucapan Tang Xiao. Dia melemparkan pedangnya mengarah ke kepala Tang Xiao dengan sangat cepat. Tang Xiao tidak menghindari pedang itu padahal orang-orang di sekitarnya menjerit ngeri. Sebelum pedang itu mengenai kepala Tang Xiao, pedang itu berbalik ke tangan pria hitam yang melempar pedang.


"Ho anak muda ternyata kamu cukup berani tangguh." Ucap pria hitam itu menggunakan bahasa yang dapat dimengerti.


"Heh pedang lembek itu sekalipun mengenai kepalaku, aku takut pedang lembek itu yang akan terburai." Balas Tang Xiao datar.


"Bicaramu cukup berani juga anak muda." Pria tua itu berjalan ke sisi kiri lorong.


"Orang tua sepertimu masih bisa bicara meskipun yang tersisa hanya kepingan jiwa." Jawab Tang Xiao santai.


Terlihat tubuh pria hitam itu bergetar saat Tang Xiao mengatakan hal itu.


"Haha.. Anak muda baru kali ini ada yang mengetahui rahasiaku." Ucap pria hitam itu memicingkan mata.


"Hanya orang bodoh yang tidak mengetahui kamu adalah sekeping jiwa." Balas Tang Xiao mengangkat bahu.


"Hoo... Berarti teman-temanmu termasuk." Ucap pria itu sambil menunjuk Denas dan yang lainnya yang berdiri di belakang Tang Xiao. Tang Xiao menoleh ia terkejut melihat Denas dan yang lainnya memandang tajam ke arahnya.


"Heh orang tua jelek sebaiknya biarkan kami lewat jika jiwamu masih ingin tetap kamu pertahankan." Ucap Tang Xiao mengancam pria tua hitam yang sedang memandangai relief gambar di permukaan dinding lorong.


"Jika kamu mampu melewatiku, aku akan membiarkanmu pergi." Balas pria hitam itu mengalihkan pandangannya kepada Tang Xiao.


Broommm...


Seketika pria hitam itu terpental jauh ke belakang. Zirah hitamnya hancur lebur menyisakan jiwanya yang terlihat begitu kesakitan.


"Hemm... Sepertinya karena zirah ini kamu mampu mempertahakan tubuh fisikmu. Dan begitu zirah ino hancur atau terlepas, jiwamu akan terlihat begitu saja." Ucap Tang Xiao sambil memandang jiwa putih yang mulai bangkit.


"Ugh... Apa yang tadi terjadi? Dasar bocah sialan. Kembalikan zirahmu." Seru pria itu itu yang tidak terima zirahnya hancur.


"Ini akibat kesombonganmu yang terlalu berlebihan. Aku pria yang menepati kata-kataku. Andaikan kau membiarkan kami lewat mungkin tubuh fisikmu masih baik-baik saja." Balas Tang Xiao dingin.


Pria itu terdiam sesaat dan memikirkan apa yang seharusnya tidak dilakukannya.


"Sekarang karena kau telah menghinaku, lebih baik jiwa mu kujadikan koleksi saja." Ucap Tang Xiao lalu mengangkat telapak tangannya ke depan.


Tehnik Penyerapan Jiwa


Ucap Tang Xiao. Seketika keluar rantai jiwa yang dengan cepat melilit jiwa pria itu. Pria itu mencoba memberontak dan melepaskan dirinya dengan seluruh kekuatannya namun semua usahanya itu sia-sia.


"Rantai itu bukan sembarang rantai. Rantai itu bisa melilit seluruh semesta dalam satu lilitan. Jadi jangan macam-macam dan bersiaplah jadi koleksi." Ucap Tang Xiao santai.


" Ugh.. Bocah brengsek lepaskan aku. Dasar keparat beraninya kamu mempermainkan aku." Umpat pria itu.


"Uh.. Seseorang yang jiwanya sudah hampir musnah masih berani berkata kasar." Ucap Tang Xiao mempererat lilitan rantai itu dan menarik rantai itu ke telapak tangannya.


"Ugghh.. Bocah kepa..." Belum habis umpatan pria itu, jiwanya sudah masuk ke telapak tangan Tang Xiao. Menyisakan keheningan mencekam.


Denas dan yang lainnya tercengang dengan perbuatan Tang Xiao. Mereka tidak dapat berkata apa-apa melihat kengerian Tang Xiao melilit jiwa pria tadi. Mereka menjadi takut kepada Tang Xiao dan tanpa sadar mereka mundur ke belakang hanya Denas yang masih takjub dan terkesan tadi.


"Ka..kak ke..tiga.. A...pa yang baru...san ter..jadi?" Tanya Denas gagap. Dia belum pernah melihat sesuatu yang seperti itu sebelumnya.


"Sudahlah kakak jelaskan kamupun tidak mengerti. Tenang aja tempat ini sudah aman." Jawab Tang Xiao mengulurkan minuman kepada Denas yang langsung diterima dan meminumnya. Setelah minum air putih itu barulah dia terlihat lebih tenang.


"Hemm.. Kira-kira sudah berapa lama kita berada di bawah sini?" Tanya Denas mengalihkan perhatiannya sendiri dengan memcari topik pembicaraan lain.


"Hemm mungkin sudah sehari. Dan sudah waktunya istirahat." Jawab Tang Xiao santai. Kemudian dia menyuruh anggota lainnya mendirikan tenda untuk beristirahat. Terlihat anggota sekte Azure Dragon itu bernafas lega. Mereka juga sudah merasa capek melihat hal-hal menakjubkan seharian ini.


Mereka segera bergegas mendirikan tenda khusus untuk Tang Xiao dan Denas namun mereka berdua menolak dengan alasan membawa tenda sendiri. Anggota yang lain tidak ambil pusing dan segera mendirikan tenda untuk diri mereka sendiri. Mereka sudah ingin secepatnya istirahat.


Denas mengeluarkan tenda kecil pemberian Tang Xiao sewaktu di rumah Adam dan Hawa. Denas memasuki tenda itu setelah berpamitan kepada Tang Xiao.


Setelah memasuki Tendanya, Denas segera merebahkan tubuhnya di ranjang yang cukup luas dan mewah yang juga pemberian dari Tang Xiao.


Denas mengeluarkan sebuah buku bersampul indah dengan tulisan "Buku Harian" di sampulnya. Denas membuka buku harian itu lalu kemudian membaca beberapa tulisannya. Terlihat dia tertawa-tawa kecil membaca tulisan itu.


Denas membuka lembaran baru dari buku hariannya lalu mulai menulis pengalamannya di buku itu. Terkadang Denas menulisnya dengan tersenyum-senyum, terkadang juga dengan mata berkaca-kaca. Entah apa yang ditulisnya saat itu, yang jelas itu adalah sesuatu yang memengaruhi perasaannya.


Setelah selesai menulis, Denas melepas pakainnya lalu mengenakan handuk yang teletak tak jauh dari tempatnya menulis di buku hariannya. Denas mengenakan handuk besar itu lalu berjalan ke kamar mandi.


"Kakak ketiga benar-banar baik. Bahkan air hangat di tenda ini sudah tersedia dengan sendirinya. Bahkan herbal-herbal juga pemulihan tenaga juga lengkap di sini. Ckck.. Siapa sebenarnya kakak ketiga ini." Gumam Tang Xiao lalu melepaskan handuknya dan masuk ke bath tube. Dia berleha-leha di bath tube itu dan memanjakan dirinya.


"Ah segarnya... Seharian berendam di sini aku betah aja." Gumam Denas sambil memain-mainkan air herbal di dalam bath tube.


Sementara itu di permukaan Gurun Pasir Fajar Merah, sekelompok orang menemukan pintu masuk lorong yang sama dengan yang dilewati Tang Xiao dan kelompoknya.


"Hei di sini ada lubang yang terbuka." Salah seorang dari mereka bersemu memanggil temannya yang lain. Orang-orang segera mendatangi orang yang berteriak itu.


"Wahh... Sepertinya ada beberapa orang yang telah melewati lubang ini. Jejak energinya masih ada." Ucap seseorang dari mereka sambil berjongkok mencoba melohat dasar lubang.


"Ketua, bagaimana ini? Apa kita akan masuk atau tidak?" Tanya orang yang berjongkok itu.


"Pertanyaan apa itu. Tentu saja kita harus masuk. Sepertinya memang benar dongeng Istana Bawah Gurun Pasir ini." Jawab orang yang dipanggil ketua itu melompat ke bawah mendahului yang lain dan diikuti seluruh anggotanya yang berjumlah tiga puluh orang.


Kelompok yang baru masuk itu begitu terkejut melihat lorong luas yang mereka masuki. Dinding lorong yang terbuat dari tanah liat yang dibakar, lantainya terbuat dari marmer hitam, langit-langitnya terbuat dari batu granit merah.


"Interior ruangan ini masih terlihat sangan bagus. Seberapa kira-kira usia lorong ini." Gumam ketua kelompok itu sambil melihat sekelilingnya.


Kemudian mereka menulusuri lorong itu perlahan dipimpin langsung oleh ketua mereka seorang pria paruh baya.


Kelompok itu berhenti di lorong yang terdapat pintu masuk yang telah terbuka. Terlihat di segala sisi lorong telah terjadi penambangan sesuatu.


"Hemm.. Sepertinya orang yang duluan masuk ini telah menemukan harta yang sangat berharga." Gumam laki-laki paruh baya itu.


"Ketua, lihat ada beberapa kristal energi -batu mineral pada chapter sebwelumnya diganti dengam kristal energi- yang masih belum siambil !!" Seorang anggota mereka sambil menunujuk ke beberapa kristal energi yang berada tak jauh dari pintu masuk. Orang yang menunjuk itu terlihat sangat senang.


"Hemm.. Tunggu sebentar, biar aku periksa siapa tahu ada jebakan di sana." Ucap ketua mereka yang perlahan-lahan mendekati bongkahan besar kristal energi itu.


Laki-laki paruh baya itu terlihat mengendus-ngendus seperti anjing pelacak di sekitar bangkahan kristal. Pria itu juga melakukan gerakan melompat dari sisi kiri ke sisi bongkahan kristal. Terkadang pria itu melakukan gerakan terbang yang aneh di sekitar bongkahan kristal.


"Ughh... Penyakit kambuh gila detective ketua kambuh lagi." Batin para anggota laki-laki paruh baya itu melihat kelakuan konyol ketua mereka.


Sesaat kemudian pria itu tersenyum lebar megetahui tidal ada tanda-tanda jebakan atau bahaya yang ada di sekitar bongkahn batu kristal.


"Okeh.. Tidak ada jejak jebakan di sini. Kalian boleh menambang kristal energi tingkat lima ini tanpa menyisakan sedikitpun." Ucap laki-laki paruh baya itu.


"Wow... Kristal energi tingkat lima! Benar-benar sebuah harta karun!!" Seru para anggota itu dengan semangat. Mereka segera mengeluarkan alat-alat penambang yang mereka bawa. Sepertinya mereka telah mempersiakan barang-barang itu sebelum mereka ke Gurun Fajar Merah. Andaikan mereka tahu bahwa kristal energi yang tersisa itu adalah yang terendah diantara kristal energi yang telah ditambang Tang Xiao dan anggotanya, mungkin mereka akan muntah darah.


Selesai menambang kristal energi, kelompok itu melanjutkan perjalanan mereka menyusuri lorong setelah istirahat sejenak. Mereka memasuki pintu di depan mereka yang telah terbuka.


Wuushh...


Mereka dapat merasakan energi yang sangat kuat begitu mereka melewati pintu itu. Kelompok itu merinding merasakan energi yang bergejolak dari dalam lorong yang luas yang hanya diterangi sedikit cahaya entah datang dari mana. Cahaya itu hanya menyinari setiap sepuluh meter di depan mereka.


"Ugghh.. Tekanan apa ini?" Ucap mereka menahan tekanan energi yang kemudian hilang begitu saja tak bersisa.


"Huf... Kupikir aku hampir mati karena tekanan tadi." Ujar seorang dari kelompok itu.


"Mungkin saja jika tidak segera menghilang, kita akan menemui mala petaka." Ujar yang lain menimpali.


"Sudah, yang penting kita selamat dan melanjutkan perjalanan." Ucap ketua kelompok itu menghentikan ocehan tak berguna anggotanya.


"Setelah menerima tekanan tadi dan kita masih lanjut ketua?" Tanya seorang dari kelompok itu.


"Kamu bodoh ya. Tekanan tadi bukan ditunjukan kepada kita. Melainkan seperti ada pertarungan besar di dalam sana. Jika memang tekanan tadi diarahkan kesini, kalian pikir masih mampu berdiri dan bernafas?" Ucap ketua mereka setengah berteriak.


"Setidaknya tekanan tadi berasal dari Mythical Beast tingkat sembilan ke atas." Lanjut ketua itu lagi.


Para anggotanya terdiam mendengar ucapan ketua mereka. Bisa dikatakan bahwa sesuatu yang ada di dalam itu bukanlah hal yang muda untul dilawan. Jika mereka memaksa masuk sama saja dengan bunuh diri.


"Lalu kenapa kita harus ke sana?" Tanya mereka yang tidak mengerti jalan pikiran ketua mereka.


"Di dalam bukan hanya ada satu Mythical Beast tingkat sembila tapi ada dua. Dan mereka sepertinya sedang memperebutkan wilayah." Jawab ketua mereka.


"Kini mereka mengerti maksud dari ketua mereka. Mereka memang tidak tahu ada berapa Mythical Beast di dalam lorong. Namun sepertinya mereka akan mendapat sesuatu yang berharga.


"Jadi maksud ketua, jika kedua makhluk itu bertarung salah satu dari mereka pasti mati dan yang satunya terluka parah sehingga kita bisa mengambil kesempatan yang langka ini?" Ucap seorang dari mereka seperti sedang menganalisis.


"Kurang lebihnya begitu. Aku tidak tahu dengan kelompok pertama yang masuk. Mungkin saja mereka telah jadi makanan dua Mythical Beast itu." Jawab ketua mereka sambil melangkah melanjutkan perjalanannya ke dalam lorong. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya kelompok itu berhenti di depan seekor singa yang tengah tergeletak lemah di atas lantai.


"Ketua, apa singa itu sedang terluka?" Tanya anggota kelompok itu sambil berbisik takut mengganggu singa yang terluka itu.


"Terlihat terluka sangat parah dan sedang sekarat. Tapi siapa yang melukai Mythical Beast tingkat sembilan separah ini? Singa ini terkenal paling kuat diantara Mythical Beast tingkat sembilan lainnya. Berhati-hatilah jangan sampai Singa bersurai emas itu mengamuk. Walaupun sekarat, dia masih mampu membunuh kalian dalam sekali serang" Jawab ketua itu yang membuat mereka merinding ketakutan.


"Ketua, lihat ada bulu besar warna hitam di samping singa itu." Bisik seorang dari mereka yang sepertinya terlihat sebagai wakil ketua.


"Hemm.. Bulu itu tampak tak asing. Ada aura familiar namun mengerikan dari bulu itu." Gumam laki-laki paruh baya itu sambil melangkah santai mendekati bulu besar yang tergeletak di samping Singa yang sekarat.


"Hemm...Kira-kira bulu apa ini? Kenapa terasa begitu familiar? Dan... Eh... Ini Mythical Beast Half Saint tingkat sembilan akhir? Gila, Mythical Beast seperti apa yang baru tingkat sembilan sudah setengah suci." Gumam laki-laki paruh baya sambil mengingat-ingat bulu yang ada di tangannya.


"Hemm.. Semakin kuingat semakin ada rasa familiar.. Eh..." Tiba-tiba laki-laki paruh baya itu menjatuhkan bulu di tangannya. Tangannya bergetar dan wajahnya terlihat ketakutan.


"Si..sialan... ke...napa...dia..bisa..di..sini... Tidak sa...lah... ini... bu..lunya..." Ucap laki-laki tua itu bergetar hebat. Badannya lemas dan jatuh berlutut di lantai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


NB: Don't Be Busy Just Be Productive