The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 79. Pertandingan Tang Xiao



Swoosshh....


Lue Jin dan Tang Xiao saling melesat mengadu pukulan menimbulkan riak udara yang cukup kuat. Keduanya sama-sama mundur ke belakang.


Lue Jin tersenyum melihat Tang Xiao. Sedangkan Tang Xiao hanya biasa saja ekspreksi datar tanpa senyum.


Kini Lue Jin mengeluarkan senjatanya yang berupa dua cakram berwarna putih. Semua orang yang melihat pertandingan Tang Xiao dan Lue Jin tampak terkejut melihat cakram putih itu dan sepertinya mereka mengenal cakram itu.


Wuushh...


Tanpa basa basi Lue Jin langsung melesat menyerang Tang Xiao sambil melemparkan salah satu cakramnya terlebih dulu ke arah Tang Xiao.


Tang Xiao yang telah mengetahui serangan itu dengan mudahnya menghindari serangan cakram yang mengarah ke lehernya dan dengan mudahnya lagi menghindari serangan kedua Lue Jin yang datang dengan cepat.


Tang Xiao melentingkan tubuhnya ke udara dan menangkap cakram yang masih berputar di udara kemudian melemparkannya ke arah Lue Jin dengan cepat.


Wuushh..


Ting....


Lue Jin yang tak menyangka cakramnya bisa ditangkap musuh dengan cepat, memblokir cakram yang mengarah kepadanya dengan cakram miliknya yang sedang digenggamnya. Kedua cakram Lue Jin saling membentur dan membuat Lue Jin mundur beberapa langkah ke belakang. Tangannya bergetar hebat saat mengahalangi cakramnya sendiri.


Para menonton pun berdecak kagum. Tidak menyangka bahwa orang yang berada di ranah grand master mampu membuat mundur orang yang berada di ranah Saint bintang tiga.


"Wow... Pertama, siapa yang tidak mengenal cakram itu. Cakram Bulan Perak dari Sekte Bulan Perak. Kedua, seorang remaja di ranah Grand Master bintang sembilan mampu membuat mundur seseorang yang berada di ranah Saint bintang tiga. Bukan main."


Para penonton berkomentar melihat pertandingan Tang Xiao dan Lue Jin. Tidak terkecuali para kultivator kuat yang berada di kursi kehormatan.


"Aku cukup yakin bahwa pemuda bernama Tang Xiao itu masih menyembunyikan kekuatannya." Ucap seorang wanita berumur empat pulahan tahun. Dia adalah Ratu dari Kerajaan Nusantara. Rina, yang mendengar ucapan ibunya itu hanya diam saja namun menyimpan gejolak di hatinya.


Victor, yang melihat pertandingan Tang Xiao juga ikut merasa penasaran dengan kekuatan Tang Xiao. Baginya, pemuda berambut biru itu menyimpan banyak misteri. Saat pertama kali dia melihat Tang Xiao, Victor dapat merasakan hawa pedang yang sangat kuat. Namun kini dia tidak merasakan hawa pedang itu lagi. Terlebih, Victor tidak dapat melihat tingkat kultivasi Tang Xiao yang sekarang. Begitu juga dengan anggota kelompok Tang Xiao yang lain. Padahal, tidak ada satupun dari setiap peserta yang dapat menyembunyikan tingkat kultivasinya di hadapan Victor yang telah berada di ranah Demi God.


"Tang Xiao ya... Sangat menarik." Gumam Victor kemudian.


Pertandingan Tang Xiao melawan Lue Jin masih berlanjut dan semakin sengit. Para penonton semakin dibuat kagum dengan performa Tang Xiao.


Kini di atas arena, kedua orang itu saling berhadap-hadapan. Terlihat jelas pertandingan itu berat sebelah dengan dibuktikan tubuh Lue Jin yang terdapat beberapa luka dan bekas sayatan. Dan anehnya sayatan itu akibat dari sayatan cakramnya sendiri.


Lue Jin tampak meringis menahan perih. Meskipun sudah tidak ada darah yang menetes dari lukanya, namun akibat luka-luka itu pergerakannya juga menjadi terbatas. Bahkan nafasnya juga sudah putus-putus. Pemuda itu memandangi Tang Xiao dengan rumit dan pandangan tidak percaya. Baru beberapa saat yang lalu dia meyakini bahwa pemuda berambut biru di depannya ini lawan yang cukup menarik, namun dia tidak menyangka bahwa dia yang malah terluka akibat senjatanya sendiri sedangkan lawan di depannya ini tidak terluka sama sekali dan tidak mengeluarkan senjatanya.


Lue Jin sangat marah dengan hal ini namun juga takjub di saat yang bersamaan. Ya takjub, bahwa ada pemuda yang lebih mudah darinya dengan kultivasi yang lebih rendah pula, mampu mengalahkannya dengan mudah.


"Sudahlah tuan Lue Jin, sebaiknya anda menyerah dan biarkan teman anda yang menggantikan anda." Ucap Tang Xiao santai tanpa ada nada menghina dan merendahkan.


"Huff..." Lue Jin membuang nafas berat. Dia tentu tidak ingin menyerah begitu saja, tapi dia juga sadar tidak ada gunanya bersikeras melawan seseorang yang mampu melukainya dengan senjatanya sendiri. Terlebih senjata itu adalah warisan keluarganya yang harusnya dalam kendalinya.


"Baiklah aku menyerah." Ucap Lue Jin mengangkat tangan lalu memungut satu cakramnya yang terletak di lantai arena. Di cakram masih membekas noda darahnya. Lue Jin tersenyum ketir.


"Jika boleh tahu, saudara Tang berasal dari mana?" Tanya Lue Jin sebelum turun dari arena dan digantikan temannya.


"Aku dari Benua Land Of Death dari Kerajaan Dong" Ucap Tang Xiao sambil mengeluarkan totem identitasnya.


"Kerajaan Dong ya. Menarik." Gumam Lue Jin lalu turun dari arena dan dia segera dihampiri oleh temannya.


Sementara itu beberapa penonton yang baru mengetahui Tang Xiao berasal dari Benua Land Of Death menjadi heboh. Terlebih lagi dari Kerajaan Dong. Sepertinya orang-orang itu heboh karena berasal dari sana.


Tak lama kemudian, dua orang naik ke atas arena menggantikan Lue Jin. Seorang wanita dan seorang pria. berumur sekitar antara tiga puluhan tahun.


Wushh..


Kedua orang itu membuka kultivasinya yang berada di ranah Saint bintang sembilan. Terlihat bahwa sedikit lagi mereka akan di ranah Ancestor.


"Wow... Saint tingkat puncak. Gila, dua orang sekaligus."


"Sepertinya pemuda bernama Tang Xiao itu tidak punya kesempatan menang kali ini."


"Sepertinya mereka menganggap serius pemuda berambut biru itu. Mampukah dia melawan mereka?"


Beberapa penonton berceloteh mengomentari Tang Xiao dan dua orang lainnya. Tang Xiao melirik ke papan besar yang menampilkan nama dua orang lawannya. Dia tersenyum simpul.


...Tang Xiao...


...VS...


...Laa Par...


...Ken Yang...


Tanpa banyak bicara, setelah wasit memberi tanda, Laa Par dan Ken Yang melesat menghunuskan senjatanya masing-masing ke arah Tang Xiao.


Wushhh..


Senjata kedua orang itu mengenai dada Tang Xiao, namun sayangnya itu hanya bayangannya saja. Kedua orang itu terkejut dengan kecepatan Tang Xiao. Mereka melihat ke belakang, dan Tang Xiao telah berdiri santai di belakang mereka dengan wajah yang tampak tenang.


Para penonton yang melihat adegan barusan juga tampak terkejut. Mereka tidak melihat gerakan Tang Xiao menghindari senjata kedua orang musuhnya, namun mereka tiba-tiba melihat Tang Xiao telah berada di belakang musuhnya dengan tenang tanpa berniat menyerang mereka meskipun mampu.


Laa Par dan Ken Yang terdiam sejenak di atas arena. Mereka seakan sedang menganalisis gerakan Tang Xiao tadi, namun sebenarnya mereka sedang berbicara satu sama lain lewat telepati tentang strategi menyerang Tang Xiao.


Tang Xiao hanya diam saja melihat kedua orang lawannya yang sudah bersiap melawannya.


Wusshh..


Laa Par dan Ken Yang melesat dengan lebih cepat dari sebelumnya sambil menghunuskan senjata mereka. Tang Xiao mencoba melawan mereka secara adil dan mengesankan. Dia menguarkan sebilah pedang dan menangkis serangan lawannya.


Ting...


Ting...


Suara dentingan pedang yang beradu di arena terdengar merdu. Menjadi melodi tersendiri dalam setiap pendengaran penonton. Terlebih bagi mereka para pendekar dan kultivator. Para penonton tidak ada habisnya akan kagumnya mereka kepada Tang Xiao. Bagaimana mungkin seseorang yang masih berada di ranah Grand Master bintang sembilan mampu bersaing dan bertahan di bawah tekanan dua orang kultivator di ranah Saint bintang sembilan yang sebentar lagi akan naik ke ranah Ancestor.


Tidak, tidak pernah mereka menemukan dan mendengar hal seperti itu selama hidup mereka bahkan selama dunia mereka ada.


Sementara itu Laa Par dan Ken Yang terbelalak saat melihat dan mengetahui bahwa lawan mereka yang saat ini mampu menyamai kekuatan dan kecepatan mereka meskipun ranah kekuatannya sangat jauh di bawah mereka. Padahal mereka telah mengeluarkan segala kemampuan mereka dan tehnik yang mereka telah pelajari. Namun semua itu larut begitu saja di hadapan pemuda berambut biru ini.


"Sial, jika begini kita akan kehabisan tenaga. Kakak apa yang harus kita lakukan saat menghadapi orang ini." Tanya Ken Yang kepada Laa Par melalui telepati. Lue Yang adalah seorang wanita yang bisa dibilang cukup cantik. Sedangkan Laa Par orang yang dipanggil kakak adalah seorang pria yang cukup tampan dan sedikit kurus. Mereka berdua adalah saudara seperguruan.


"Tidak ada cara lain, kita harus menggunakan itu." Jawab Laa Par sambil melancarkan serangannya ke arah Tang Xiao.


"Tapi salah satu dari kita harus mengalah kak" Balas Ken Yang.


"Baiklah kamu yang menggunakannya. Kamu lebih sempurna menggunakannya dari pada aku." Balas Laa Par kemudian mundur ke belakang setelah memberikan serangan yang cukup kuat ke arah Tang Xiao.


"Tapi kak aku masih belum terlalu biasa. Terlebih lagi di hadapan banyak orang begini aku sedikit gugup." Balas Ken Yang yang ikut mundur ke belakang dan berdiri sejajar dengan Laa Par, kakak seperguruannya.


"Kamu harus bisa, sudah tidak ada waktu. Ingat meskipun kamu gagal, setidaknya kita telah berusaha semaksimal mungkin. Orang-orang besar tidak melihat hasil, tapi bagaimana proses yang dijalani. Segera bersiap aku akan memberikan seluruh kekuatanku padamu." Ucap Laa Par tanpa menunggu reaksi Ken Yang, adik seperguruannya.


Wuushhhh...


Angin yang sangat besar berhembus di atas arena. Angin itu membawa asap yang cukup tebal dan menghalangi pandangan semua orang untuk melihat dengan apa yang terjadi di atas arena. Lalu tiba-tiba ledakan aura sebagai tanda seseorang telah menerobos ranah kultivasi terdengan cukup banyak dan berulang dari atas arena.


Ledakan aura itu berhenti bersamaan dengan hilangnya asap tebal dari arena dan menampakkan seorang wanita dengan kultivasi ranah Saint Expert bintang sembilan serta seorang pemuda berambut biru yang berdiri dengan tenang di hadapan wanita. Terlihat di sudut arena telah tergeletak Laa Par dengan wajah putih dan tirus seperti tanpa daging.


Melihat hal itu, para penonton terbelalak kaget dan sekaligus heran. Pasalnya mereka mengetahui jurus yang digunakan oleh kakak adik perguruan itu adalah salah satu jurus terlarang dari Sekte Bulan Biru. Kini mereka dapat melihat jurus itu dengan keheranan karena mereka belum pernah melihat jurus ini. Kecuali beberapa orang.


"Dengan mengorbankan rekanmu kamu pikir kamu akan menang." Satu suara yang cukup dingin dan dalam, menghentikan semua pembicaraan ramai di sekitar area. Para penonton segera mengetahui bahwa itu adalah suara Tang Xiao. Pemuda yang dari tadi hanya diam dan selalu tampak tenang itu kini berbicara. Mereka cukup terkejut. Pasalnya dari awal pertandingan, mereka belum melihat pemuda ini tampil sama sekali. Begitu di atas arena dia juga tidak berbicara sama sekali kecuali mengangguk pelan dan sedikit tersenyum.


"Ya tentu saja kami akan menang. Bahkan dengan adanya jurus ini kami bisa dengan mudah mengalahkan kelompok kalian semua." Balas Ken Yang sedikit jumawa. Sebenarnya kata-katanya itu hanyalah untuk menutupi kegugupannya di hadapan orang banyak. Terlebih dengan kekuatannya yang saat ini meskipun sementara, namun membuatnya semakin gugup.


"Hentikan omong kosongmu sekarang waktunya aku serius." Ucap Ken Yang kemudian menghunuskan pedangnya lalu melesat cepat ke arah Tang Xiao.


Wuushh..


Ting..


Ting...


Tang Xiao mundur ke belakang, bukan karena akibat serangan dari Ken Yang tetapi karena dia sengaja membiarkan Ken Yang terus menerus menyerang dirinya. Meskipun Tang Xiao memiliki kekuatan yang tidak dapat dibayangkan, namun pengalamannya dalam menghadapi lawan masih lah kurang. Terlebih kehidupannya yang dulu, dia selalu menyelesaikan masalah dengan kekuatan. Jadi permainan pedangnya masih minim.


"Hei bocah, jangan hanya menghindar terus dan mempermainkanku. Coba lawan kalau berani." Ucap Ken Yang marah karena merasa dipermainkan terus dari tadi.


"Hah.. Bahkan jika aku ingin menyerang kalian, aku takut kamu tidak dapat menghindar." Balas Tang Xiao tetap tenang.


"Cih.. Omong kosong." Balas Ken Yang sambil meludah.


"Hah.. Dasar keras kepala. Baiklah jika itu kemauanmu." Balas Tang Xiao.


Wuushhh...


Tang Xiao melesat tanpa bisa dilihat oleh siapapun. Ketika dia telah berada tepat di depan Ken Yang, Tang Xiao melakukan counter kaki bawah lalu memukul perut Ken Yang yang sedang melayang.


Boommm...


Krekk....


"Uhuukk..." Ken Yang memuntahkan darah segar dan tergeletak dengan lemah di lantai. Tidak tahu apa yang telah terjadi dengannya namun tiba-tiba saja Tang Xiao telah berada di sampingnya memandangnya datar.


"Apa... yang.. terjadi...?" Gumam Ken Yang kemudian pingsan.


Para penonton juga dibuat bingung apa yang terjadi. Suasana tiba-tiba hening. Mereka tidak melihat Tang Xiao bergerak sama sekali dan tiba-tiba saja sudah berada di dekat Ken Yang yang terluka cukup parah dan kemudian langsung pingsan. Hanya ada beberapa diantara penonton yang dapat melihat gerakan Tang Xiao meskipun tidak terlalu jelas.


Tang Xiao tidak mempedulikan apa yang terjadi di sekitarnya. Pemuda itu langsung berjalan ke arah Laa Par yang tergeletak di sudut arena seperti orang mati. Di bawah tatapan semua orang, Tang Xiao mengeluarkan sebutir obat sebesar biji kenari kemudian membelahnya menjadi dua. Satu dari belahan itu dia masukkan ke mulut Laa Par secara perlahan.


Wuushh...


keluar energi yang cukup besar dari tubuh Laa Par dan secara perlahan memulihkan tubuh Laa Par yang tadinya tinggal tulang kini mulai terlihat berisi.


"Ugghh..." Laa Par terduduk dari tidurnya sambil memegang kepalanya yang sakit. Pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah Tang Xiao yang tersenyum kepadanya dengan berjongkok.


"Apa yang terjadi?" Tanya Laa Par kemudian bangkit secara perlahan dan berdiri melihat sekeliling. Dia terheran melihat para penonton yang sedang menatapnya dengan pandangan tak percaya dan terheran-heran. Laa Par kembali melihat ke arah Tang Xiao yang sedang berjalan turun dari arena.


"Tunggu." Teriak Laa Par menghentikan langkah Tang Xiao kemudian berlari mendekati Tang Xiao.


"Terima kasih saudara telah menyelamatkan saya." Ucap Laa Par sambil membungkuk.


"Lebih baik kamu bantu adik seperguruanmu dulu." Ucap Tang Xiao mengibaskan tangannya lalu muncul sebuah botol giok yang secara refleks langsung di tangkap oleh Laa Par.


"Apa?" Ucap Laa Par sambil mengedarkan pandangannya ke atas arena dan menemukan adik seperguruannya telah tergeletak dalam keadaan tak sadarkan diri. Serta terlihat jelas dia sedang terluka.


"Bagaimana orang ini tahu kalo dia adik seperguruanku." Gumam Laa Par sambil berjalan mendekati Ken Yang.


Wasit yang dari tadi hanya bengong memperhatikan apa yang telah terjadi, segera turun ke atas arena.


"Pemenanganya adalah Tang Xiao dari kelompok Young Ashura." Teriak Wasit sekaligus memulihkan keterkejutan semua orang.


Prok prok prok.


Suara tepuk tangan bergemuruh dari para penenonton yang memenuhi aula pertandingan. Tak pernah mereka sangka bahwa seorang pemuda yang baru berumur lima belas tahun dan masih berada di ranah Grand Master bintang sembilan bisa menang dengan mudah melawan kultivator di ranah Saint Expert puncak. Kejadian ini benar-benar menggemparkan dunia. Tentu saja hal ini sejarah pertama kali dalam dunia yang akan dicatat dalam arsip oleh setiap sekte dan Kerajaan maupun Kekaisaran.


Tang Xiao berjalan santai menuju kelompoknya diiringi dengan tatapan kagum oleh semua orang. Andri, Jessika dan Arya menyambut Tang Xiao bak pahlawan penyelamat dunia. Mereka memijit bahu dan lengan Tang Xiao seperti anak buah memperlakukan bosnya. Tang Xiao hanya geleng-geleng kepala melihat kedua saudaranya dan temannya ini. Lalu keempat orang itu berjalan menuju ruangan mereka tanpa ada orang yang mengahalangi atau melarang sama sekali padahal setiap kelompok baik yang sudah bertanding maupun belum harus ikut melihat atau menonton selama jalannya pertandingan.


Pertandingan pun kembali dilanjutkan oleh kelompok selanjutnya.


...****************...


Sementara itu jauh dari Universe tempat Tang Xiao saat ini berada, terlihat banyak makhluk hitam dan bersayap muncul di sebuah dunia yang penuh manusia.


Makhluk-makhluk hitam bersayap itu tidak peduli dengan ketakutan para manusia di bawah mereka. Makhluk-makhluk terbang bergerombolan hingga menutupi angkasa menuju satu tempat yang cukup tertutup kabut dan awan gelap. Tempat itu adalah tempat misterius di dunia ini.


"Tuan, Aura Kotak Ibu berasal dari sini." Ucap salah satu makhluk bersayap kepada makhluk bersayap lain yang lebih besar dari yang lainnya dan warnanya juga terlihat seperti abu-abu. Dia tampak seperti pemimpin para makhluk bersayap hitam lainnya.


Makhluk abu-abu itu tampak mengamati tempat yang ditunjuk oleh anak buahnya. Tempat itu berupa samudera yang luas namun tertutupi kabut hitam dan dan awan hitam yang kadang-kadang mengeluarkan petir menggelegar memekakkan telinga.


Tidak ada satupun kehidupan yang terlihat yang berada di sekitar kecuali hewan-hewan yang mengerikan yang mendiami kedalaman samudera.


"Hem.. Di tengah awan itu terdapat pulau kecil. Ayo kita segera ke sana." Ucap makhluk abu-abu itu memerintah lalu terbang mendahului anak buahnya. Beberapa petir menyambar tubuhnya namun seakan semua itu tidak terasa sama sekali. Begitupun anak buahnya yang lain yang berjumlah sekitar lima ratusan.


Sesaat kemudian setelah para makhlum hitam itu memasuki awan hitam yang menutupi pulau kecil di tengah samudera, sebuah portal emas muncul di atas samudera itu. Keluar dari portal itu seorang pemuda yang sangat tampan yang mengenakan jubah emas dengan ukiran Naga yang meliuk-liuk seakan-akan Naga itu hidup dan sedang terbang mengarungi semesta. Pemuda itu menatap awan hitam di bawahnya dengan tenang.


"Hemm... Memang benar apa yang dikatakan tuan. Untunglah aku masih bisa menyusul mereka." Gumam pemuda itu lalu turun dengan tenang menuju pulau kecil yang tertutup awan hitam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Guysss🤗🤗🤗...


Maaf ni lama banget ndak up...


Mohon dimaklumi ya..


Author baru tahu, ternyata menulis skripsi tidak segampang menulis novel 😭😭


Padahal author memiliki banyak referensi yang author pinjem dari berbagai tempat. Sayangnya, untuk saat ini lagi macet.😭😭


Jadi ya kita rehat dulu sambil melanjutkan projek yang terbengkalai ini. Author cukup merasa bersalah pada para readers setia ni novel, tapi mau gimana lagi ya...


Hemm bingung juga...


Yah author kembali bersemangat melanjutkan ini projek karena rasa bersalah author kepada readers..


Jujur saja, ni projek masih sangat panjang, namun semoga aja bisa segera rampung. Begitu juga dengan skripsi author.