
Sekelompok orang terdiri dari kultivator ranah Master paling rendah dan ranah Saint bintang lima paling tinggi, bergerombolan menuju rumah kecil di ujung desa. Sesiapa yang melihat mereka seperti sebuah pasukan Imperium yang sedang melakukan inpeksi wilayah. Bedanya wajah sekelompok orang ini terlihat ganas, bringas dan kejam. Tatapan mereka penuh ***** membunuh, senyum mereka penuh kelicikan.
"Ketua, jejak mereka berhenti di rumah kecil itu." Ucap seorang laki-laki diantara mereka menghentikan laju kudanya sambil mengendus-endus daerah sekitar dan menunjuk ke rumah kecil di depannya.
Orang yang dipanggil ketua maju menyipitkan matanya. Dia menggunakan tehnik penglihatan untuk melihat ke dalam rumah dan penghuninya. Dia tersenyum saat melihat tiga orang pemuda kultivator tingkat kultivasi yang jauh di bawahnya serta seorang pria biasa dan dan seorang wanita biasa ditemani seorang anak kecil. Ketua itu meneteskan liurnya saat melihat perempuan cantik yang sedang memasak di dapur di temani anak kecil. Laki-laki itu tersenyum licik.
"Ketua apa yang akan kita lakukan?" Tanya salah seorang anak buahnya.
"Kita serang dari sini. Hancurkan rumahnya sekalian orangnya. Kecuali dapur itu." Jawab ketua itu. Dia mengeluarkan pedangnya dari cincing ruangnya.
TEBASAN PEDANG ANGIN RIBUT
Swosshh..
Seiring dengan teriakan ketua itu, muncul angin yang cukup besar berbentuk bilah-bilah tajam mengarah dengan cepat ke rumah kecil depan mereka. Angin besar itu bergerak cepat. Begitu angin itu mendekati rumah, tiba-tiba saja angin itu buyar entah kemana.
Senyum di wajah ketua tiba-tiba menghilang. Dia bingung apa yang terjadi.
"Mungkinkah tenaga yang kukerahkan terlalu sedikit?" Gumam Ketua. "Sekali lagi."
TEBASAN GANDA ANGIN RIBUT
Swooshh..
Swooshh..
Dua angin yang lebih besar dan lebih tajam keluar sekaligus mengarah ke gubuk dengan cepat. Begitu dua angin besar yang mampu memporak-porandakan desa kecil saat mendekati rumah kecil itu lagi-lagi angin itu musnah entah kemana. Seolah-olah dua angin itu larut ke dalam rumah dan menghilang entah kemana. Ketua Bandit Gunung itu menjadi geram. Lalu dia memerintah seluruh anak buahnya menyerang rumah kecil di depan mereka.
"Semuanya serang dengan segala apa yang kalian miliki." Teriak ketua itu kalap.
Seluruh pasukan yang mendengar itu tanpa basi-basi meyerang satu rumah kecil di depan mereka. Silih berganti gempuran demi gempuran dilepaskan, mulai dari panah kayu hingga panah tenaga dalam namun semua serangan itu larut tak berbekas. Diibaratkan seluruh serangan itu seperti air bah yang menerjang apa saja dan rumah itu seperti bendungan raksasa yang mampu membendung seluruh air bah sebanyak dan sekeras apapun terjangan air bah itu.
Hossh...
Hossh...
Sekitar setengah jam serangan dilancarkan terus menerus tanpa henti, namun tidak menghasilkan apa-apa sama sekali bahkan tidak menggores dinding kayu rumah itu sedikitpun. Hanya gumpalan debu yang berterbangan akibat fluktuasi energi yang dikeluarkan untuk menyerang rumah itu bertubi-tubi. Ketua geng sangat murka mukanya memerah namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tenaganya sudah terkuras separuh lebih sedangkan rumah kecil itu berdiri tegak seakan sedang mengejeknya menjulurkan lidah ke arahnya. Sebagai seorang kultivator ranah Saint bisa-bisanya kebanggannya direbut oleh rumah kecil tak berdaya di depannya. Fantasi liar menguasai pikiran ketua itu membuatnya semakin murka dan dengan kencang berteriak,
"Maju serang bunuh siapapun di dalam rumah itu tidak peduli wanita atau anak-anak."
"Majuuuu..." Teriak para anak buah di belakangnya. Namun sebelum mereka sempat melangkahkan kuda mereka sesuatu telah terjadi pada mereka.
"Eh... Apa ini??"
......................
Sementara itu di dalam rumah kecil, Tang Xiao, Denas, Andri dan Kakek Adam masih duduk berbincang-bincang. Kakek Adam tidak merasakan apa-apa saat sekelompok orang sedang menuju rumahnya dengan niat membunuh yang besar. Sedangkan Denas dan Andri mempersiapkan diri mereka menghadapi musuh yang akan datang. Mereka dapat merasakan seseorang yang jauh lebih kuat dari mereka berada dalam kelompok itu. Hanya Tang Xiao yang masih santai dan tidak mempersiapkan apa-apa. Dia masih sempat tersenyum santai disaat Denas dan Andri memikirkan solusi mengalahkan musuh yang jauh lebih kuat dari mereka.
"Kakak kedua, karena kamu yang paling lemah di antara kita bertiga sebaiknya kamu menunggu kami di sini saja. Biar aku dan kakak pertama yang menghadapi mereka." Ucap Denas melalui pikiran. Tang Xiao mengernyitkan dahinya.
"Aku yang paling lemah?? Adik ketiga terlalu khawatir padaku." Balas Tang Xiao.
"Kakak pertama walaupun saat ini berada di ranah Grand Master, setidaknya fisiknya jauh lebih kuat dari aku karena memang pernah berada di ranah Expert bintang dua. Sedangkan kakak kedua masih berada di ranah Grand Master. Musuh kita di depan berada di ranah Master paling rendah dan ranah Saint paling tinggi." Balas Denas masih tetap lewat pikiran.
"Oh benarkah? Tidak kah adik ketiga ingat kejadian di restoran beberapa jam yang lalu saat senjata ketua mereka mengenai tangan kakak kedua? Hancur kan kapaknya. Padahal kapak itu besar dan tingkatannya termasuk tinggi." Balas Tang Xiao lewat pikiran juga.
Percakapan mereka berdua ini tidak disadari oleh Andri dan Adam. Andri hanya melihat kedua adiknya ini saling berdiaman dan tidak ikut pembicaraan bersama Adam tidak seperti biasanya Denas banyak bertanya.
"Ya itukan berbeda kak. Musuh kali ini di ranah Saint. Jauh beda dengan ranah Expert." Balas Denas.
"Memangnya ada jaminan adik ketiga bisa menang melawan orang di ranah Saint ditambah lagi banyak anak buahnya di ranah Expert. Bukannya sama saja dengan mengantarkan nyawa." Balas Tang Xiao.
Denas terdiam sejenak. Dia juga baru kepikiran bagaimana melewati puluhan kultivator di ranah Expert yang bintangnya jauh lebih tinggi dari dia. Walaupun dia punya jurus rahasia menghadapi mereka, tapi tenaganya telah habis duluan sebelum melawan bos mereka.
"Kalau begitu bagaimana cara kita melawan mereka?" Tanya Denas. Dia memang sedikit keras kepala namun saat dia berpikir jernih dia bisa langsung tahu harus bagaimana.
"Sebaiknya kita tunggu aja mereka" Jawab Tang Xiao santai. Jawaban itu membuat Denas membelalakkan matanya. Kalau seandainya tidak ada Adam dan kakak pertama, Denas sudah menggebrak meja di depannya.
"Bukannya itu saja dengan bunuh diri?" Tanya Denas.
"Tenang aja semua pasti baik-baik saja."
"Tapi kak...." Sebelum Denas melanjutkan ucapannya, Tang Xiao menjentikan jarinya.
Ctak....
Sesuatu yang tak kasat mata menyelimuti rumah itu. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan Andri dan Denas saja. Andri yang tidak tahu mengenai itu menjadi panik dan memegang senjatanya namun segera dihentikan oleh Denas.
"Kakak pertama tenang saja itu ulah kakak kedua." Ucap Denas melalui pikirannya. Andri tertegun sejenak.
"Jadi dari tadi kalian diam saja tenyata kalian membicarakan ini?" Tanya Andri penuh selidik melalui pikiran juga. Denas hanya mengangguk.
"Dan kalian tidak memberi tahu apa-apa, padahal aku kakak tertua kalian?" Tanya Andri lagi penuh selidik. Denas mengangguk semakin berat. Dia mencoba memalingkan wajahnya.
"Jangan tanya aku terus kak. Kakak kedua juga ikut masalah ini." Kelih Denas melemparkan masalah pada Tang Xiao. Tang Xiao tidak tahu menahu tentang ini hanya tersenyum lebar saat ditatap Denas dengan muka berkeringat.
"Kakak tahu ini semua adalah ulah adik ketiga. Adik kedua hanya ikut-ikut saja. Ya kan?" Tanya Andri mengancam. Denas berkeringat dingin menelan ludah kemudian mengangguk berat. Dia menatap Tang Xiao meminta pertolongan, namun Tang Xiao memasang wajah bodoh dan tidak tahu apa-apa.
"Mungkin kakak pertama perlu mendisiplinkan kalian berdua dulu." Ucap Andri mengancam. Denas kembali menelan ludah. Tang Xiao yang juga menerima ucapan Andri tadi di pikirannya menelan ludah berat. Dia tidak tahu kakak pertamanya ternyata begitu ketat.
Sementara itu Adam yang menyaksikan perbuatan tiga orang bersaudara di depannya tanpa bicara, hanya bisa menggeleng-geleng memijat keningnya. "Ketiga orang bersaudara ini perlu dibawa ke tabib." Batin Adam.
Andri yang merasakan adanya serangan kuat dari luar menyipitkan matanya melihat keluar dari dinding papan rumah. Dia terbelalak saat melihat serangan bertubi-tubi dari sekelompok orang yang tidak dikenalnya mengarah ke rumah ditempatinya saat ini. Namun bukan itu yang membuatnya terkejut, serangan-serangan mereka itu begitu mendekati rumah tiba-tiba hilang begitu saja tanpa bekas, itulah yang membuatnya tidak percaya. Seolah semua serangan itu mengenai kekosongan tanpa batas. Andri melihat energi yang menyelimuti rumah tidak berdampak apa-apa. Bahkan bergetarpun tidak. Lalu pandangn matanya mengarah ke Tang Xiao yang sedang berbincang-bincang dengan Adam sesekali ditimpali Denas.
"Saudara kedua ini sebenarnya siapa? Tidak mungkin dia hanya berada di ranah Grand Master bintang sembilan. Namun aku juga tidak melihat fluktuasi energi tersembunyi di dalam dirinya. Sepertinya saudara ketiga punya beberapa jurus rahasia sehingga dari tadi dia merasa tenang aja." Batin Andri mengangguk-angguk.
"Ada apa kakak pertama?" Tanya Denas lewat pikiran saat melihat kakak pertamanya ini mengangguk-angguk tak jelas.
"Ah tidak apa-apa adik ketiga. Hanya saja aku berpikir jurus rahasia apa yang digunakan adik kedua untuk menghalangi serang-serangan dari luar." Jawab Andri.
"Padahal kakak sendiri belum tentu mampu menghadapi serangan bertubi-tubi itu." Lanjut Andri lewat pikirannya. Denas juga mengangguk-angguk membenarkan ucapan Kakak pertamanya.
"Aku juga kak. Walaupun memiliki jurus pertahanan rahasia dengan tingkat kultivasiku saat ini, masih tidak akan mampu bertahan lebih dari setengah pembakaran dupa menahan seranga-serangan itu. Terlebih serangan dari ranah Saint." Balas Denas sambil mengambil segelas teh.
"Ayo anak-anak mari makan dulu. Hidangan telah siap." Suara Hawa dari dapur mengalihkan pembicaraan mereka. Hawa datang membawa talam besar berisi macam-macam makanan.
"Nenek Hawa tidak berat membawa talam sebesar itu?" Tanya Tang Xiao penasaran. Dia tidak hapis pikir perempuan kurus di depannya mampu membawa nampan besar dengan santainya penuh makanan padahal hanya manusia biasa.
TUK...
Denas memukul kepala Tang Xiao dengan kipasnya sedangkan Andri menggelengkan kepalanya. Adam mencoba menahan tawanya. Hawa tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Tidak nak Tang Xiao. Nenek tidak merasa berat. Seolah-olah nenek memiliki tenaga sepuluh kali lebih kuat dari biasanya. Ini semua berkat nak Tang Xiao juga." Jawab Hawa kemudian berjalan kembali ke dapur membawa nampan kosong setelah menata mangkuk-mangkuk makanan di atas meja. Tang Xiao hanya tersenyum sambil mengelus-elus kepanya setelah dipukul Denas.
"Adik ketiga tunggu saja kakak akan membalasnya." Ucap Tang Xiao kepada Denas melalui pikirannya.
"Bisakah kakak merubah panggilan? Orang dia terlihat muda begitu dipanggil nenek-nenek." Balas Denas lewat pikiran juga sambil menjulurkan lidahnya.
"Tapi kan memang kenyataannya begitu." Balas Tang Xiao.
"Ah sudahlah capek berdepat sama kakak kedua yang gak faham-faham." Balas Denas kesal. Tang Xiao tersenyum melihat tingkah adik ketiganya ini.
Hawa kembali dari dapur membawa beberapa mangkuk makanan lagi. Adam merasa hari ini istrinya memasak semua persediaan makanan mereka hingga beberapa minggu ke depan. Namun dia tidak mempermasalahkan perbuatan istrinya ini malah dia ikut senang bisa menghidangkan sesuatu kepada para penyalamat mereka berdua dengan maksimal semampu yang dia bisa.
"Wahh.. Ada banya makanan di sini. Terlebih lagi baunya sangat harum begini." Ucap Denas saat melihat makanan-makanan tersaji di depannya. Walaupun terlihat sangat sederhana namun baunya lebih sedap dari pada makanan di restoran sebelumnya.
"Maaf tuan muda. Hanya ini yang kami punya." Ucap Hawa sedikit sedih. Sebenarnya dia ingin menghidangkan yang lebih dari ini namun apa daya karena hanya ini yang dia punya.
"Tuan muda sekalian boleh tidak memakannya jika tidak sesuai selera." Ucap Adam sopan kepada para tamunya.
"Oh tidak tidak tuan Adam. Kami bertiga menyukainya. Walaupun terlihat sederhana namun aromanya membuat mulut tidak sabar mencicipinya." Balas Andri sopan.
Ctak...
Tang Xiao kembali menjentikkan jarinya membuat semua orang disitu menoleh kepadanya.
"Ah tadi tanganku gatel dan aku mencoba menggaruknya agar tidak terlihat seperti menggaruk di depan kalian semua." Jawab Tang Xiao nyengir saat semua mata tertuju padanya.
"Pfftt.. Kakak Tang memang lucu." Ucap Maria polos.
Andri dan Denas mengetahui ada yang tidak beres segera menoleh ke luar. Mereka terbelalak saat melihat para penyerang tadi kini telah melayang-layang di udara dengan ketinggian sepuluh meter bersama kuda-kuda mereka. Walaupun suasana telah malam, mereka masih mampu melihat dengan jalas dalam jarak pandang segitu.
Terlihat wajah-wajah para penyerang itu begitu panik dan ketakutan. Mereka juga tidak tahu apa yang terjadi dan perbuatan siapa ini. Mereka hendak berbicara satu sama lain namun tidak ada keluar suara dan tidak bisa mendengar apa-apa. Mereka hanya pasrah melayang-layang tidak bisa berbuat apa-apa walaupun dengan berbagai usaha.
"Kakak pertama, adik ketiga sebaiknya jangan merusak suasana makan malam begini." Ucap Tang Xiao kepada dua saudaranya bersamaan melalui pikirannya.
Andri dan Denas terbangun dari bengongannya dan menatap tajam Tang Xiao.
"Adik kedua ada berapa banyak jurus rahasia yang kamu miliki?" Tanyan Andri.
"Kakak kedua ajarin aku jurus seperti itu ya..." Ucap Denas.
"Haish.. Kalian ini sebaiknya makan dulu. Lihatlah kedua pasangan di depan kita melihat kita dengan curiga. Nanti akan aku kasih tahu." Jawab Tang Xiao mengalihkan pembicaraan sambil memgambil lauk pauk dan nasi serta sayuran. Andri dan Denas juga mengambil makanan mereka masing-masing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Segini dulu guys....
Maap telat upnya hari ini.
Mohon krisannya ya agar kualitas novel ini lebih baik kedepannya.
*Krisan \= Kritik dan saran🙏🙏