
BOOOMM...
Zanhong terpental ke bawah dan membentuk kawah yang cukup besar akibat tubuh Zanhong terbentur tanah. Pria tua itu bangkit mengusap darah yang keluar dari sudut bibir. Dia tersenyum melihat Rangga yang sedang melucur ke arahnya sambil mengarahkan tinjunya.
Wuushhh..
Zanhong terbang menyambut Rangga dengan kecepatan tinggi dan mengepalkan tangannya.
Takk..
Taakk...
Rangga berhasi mendaratkan bogem mentahnya ke wajah Zanhong dan Zanhong pun berhasil mengenai wajah Rangga dengan bogem kanannya. Kedua orang itu sama-sama mental ke belakang.
Pada awal pertarungan kedua Immortal itu, Rangga yang memiliki basis kultivasi yang lebih tinggi berhasil menguasai jalannya pertarungan dan Zanhong mendapat luka di sekujur tubuhnya. Namun beberapa lama berlalu ketika pertarungan hampir berakhir dimenangkan Rangga, Zanhong mengeluarkan sebuah pil yang mampu meningkatkan kekuatan Zanhong hingga ke ranah Immortal tingkat Intermediate dan menyembuhkan luka-luka Zanhong serta mengembalikan energi Zanhong.
Akibat itu, Zanhong berhasil mendesak Rangga hingga pemuda itu mendapat beberapa pukulan yang membuatnya terpental. Jika bukan karena pengalaman dan teknik-teknik yang telah dikuasai Rangga dari beberapa kehidupannya, mungkin saat ini pemuda itu sudah tidak mampu mengimbangi Zanhong.
"Hahaha... Anak muda aku sungguh kagum padamu. Di usiamu yang begitu muda sudah berada di ranah Immortal Intermediate. Sungguh hebat anak muda. Kamu benar-benar mengerikan melebihi monster. Sayangnya kamu lahir di dunia ini." Ucap Zanhong di sela-sela pertarungannya.
"Orang tua tidak usah banyak memujiku. Kamu tidak mengenalku dan tidak memahami hidupku. Sebaiknya segera persiapkan dirimu untuk yang terakhir kali." Balas Rangga menangkis senjata Zanhong yang mengarah pada lehernya.
Saat ini pertarungan kedua orang sudah hampir mencapai puncak dengan mengeluarkan senjata mereka masing. Zanhong menggunakan tombak hitam sedangkan Rangga menggunakan pedang putih. Kedua senjata mereka sama-sama senjata tingkat tinggi yang bisa menjadi rebutan orang seluruh dunia.
"Hahaha... Pedang yang luar biasa. Tapi tombakku tidak kalah dengan pedangmu. Rasakan ini."
TOMBAK PEMECAH BINTANG
Sebuah energi yang sangat besar keluar dari tombak itu dan mengarah ke Rangga. Melihat itu Rangga tidak menghindar, namun memperkuat kuda-kudanya dan menciptakan lapisan pelindung energi pedang yang bahkan jika disentuh dari luar, tangan seseorang bisa terputus.
Booommmmm.....
Kedua energi itu bertabrakan mengeluarkan riak energi yang sangat dahsyat. Apapun yang ada di bawah mereka terhempas jauh meskipun itu suatu gunung. Kedua orang itu sama-sama terpental jauh akibat benturan energi mereka. Untung saja pertarungan kedua Immortal itu jauh dari kehidupan makhluk hidup.
Tak kalah menegangkannya pertarungan Kakek Lao dengan musuh bebuyutannya dari pertarungan Rangga dan Zanhong. Kakek Lao juga bertarung dengan dahsyatnya. Niat membunuhnya begitu besar diselimuti dendamnya yang lebih besar. Akibat dendam itu, Kakek Lao berhasil melukai lawannya dengan sangat parah meskipun kakek Lao juga terluka parah. Namun wajah dua murid kesayangannya selalu membayangi Kakek Lao yang mati di tangan musuhnya ini, selalu menjadi cambuk untuknya dan membuat darahnya mendidih.
Boommm...
Pria tua itu terpental ke bawah dan membuat kawah yang cukup besar.
"Uhhuukkk... Tua bangka.. Dendammu begitu besar ternyata..." Ucap pria itu sambil memegang dadanya dengan tangan kirinya, tangan kanannya memegang senjata, serta matanya menatap Kakek Lao yang melayang di atasnya.
"Sebaiknya persiapkan dirimu orang tua. Hutang yang dulu kita selesaikan saat ini." Ucap Kakek Lao menahan amarahnya. Dia menghirup nafas dalam.
"Lao Tze, jika bukan karena muridmu yang membunuh anakku, aku juga tidak akan membunuh mereka." Balas orang tua itu mulai serius. Dia menggenggam erat pedangnya.
"Jika juga bukan karena ulah anakmu, mungkin muridku tidak membunuhnya. Sudahlah Zurun, tidak usah saling menyalahkan. Mari kita akhiri ini." Balas Kakek Lao memejamkan matanya. Wajah kedua murid tersayangnya dan wajah Silvie, cucu kesayangannya yang lahir dari murid kesayangannya memenuhi ingatannya. Masa kecil mereka dan pernikahan kedua muridnya itu serta saat-saat melahirkan Silvie dalam kondisi terluka parah. Kakek Lao tidak bisa membendung gejolak di hatinya melihat kematian dua murid kesayangannya di depan mata.
Kekuatan yang sangat besar mengalir dalam tubuh kakek Lao, berkumpul di genggamannya dan menyalurkannya ke pedang yang sedang di genggamnya.
Angin yang entah datang dari mana berhembus kencang di sekitar Kakek Lao dan Zurun. Semakin lama angin itu semakin kencang dan berhembus tak tentu arah.
Zurun melan ludahnya melihat itu. Bukannya takut karena kekuatan besar yang dikeluarkan kakek Lao melainkan teknik terlarang yang hanya bisa digunakan seseorang yang berada di ranah Immortal. Yaitu membakar kehidupannya atau mengorbankan umurnya demi kekuatan yang lebih besar.
"Sepertinya aku juga tidak bisa berdiam diri. Jika ini maumu, baiklah akan kuturuti. Satu permintaanku, jika aku mati tolong jangan memusnahkan keturunanku. Mereka tidak bersalah dan tidak tahu menahu mengenai hutang ini. Mereka juga tidak mengikuti jalanku. Sampai bertemu di akhirat kawanku, Lao Tsu." Ucap Zurun bergema. Orang tua itu melayang berdiri sejajar Kakek Lao.
Dia juga mengeluarkan teknik pamungkasnya.
JARI PEMUSNAH JAGAT.
Dari langit di atas kepala Zurun, muncul lima jari berwarna hitam yang sangat besar. Munculnya kelima jari itu, membuat bumi bergoncang.
Kakek Lao menganyunkan pedangnya yang mengandung energi yang sangat besar yang diselimuti dengan dendam, kenangan dan air mata. Energi pedang yang keluar dari pedang kakek Lao sangat besar dan berat sehingga Kakek Lao membutuhkan tenaga yang besar untuk menganyunkan pedang di tangannya yang telah diselimuti energi pedangnya. Dua kekuatan bertemu.
BOOOMMM...
BOOOMMM...
Eneegi pedang super besar membelah lima jari hitam besar milik Zurun yang memblokir serangan pedangnya. Energi pedang yang sudah mengecil itu terus bergerak hingga membelah apapun yang dilewatinya begitu juga dengan dimensi tempat mereka bertarung terbelah dan mengeluarkan ledakkan dahsyat yang memekakkan telinga. Bahkan tanah yang terkena sisa ilmu pedang Kakek Lao pun ikut terbelah dan memunculkan jurang atau lembah yang sangat dalam dan besar.
Wuushh..
Tubuh Zurun meluncur dengan cepat jatuh ke lembah yang tercipta akibat tebasan pedang kakek Lao. Kakek Lao sendiri mengeluarkan darah yang cukup banyak dari mulutnya. Kakek Lao terluka akibat memaksakan kekuatannya yang hendak membelah tangan hitam teknik Zurun.
Secara perlahan kakek Lao turun ke lembah dimana tergeletak tubuh Zurun yang sedang sekarat.
"Tidak ada musuh abadi di dunia ini." Ucap Kakek Lao tersenyum di tengah rasa sakitnya.
"Huff.."
Kakek Lao menghembuskan nafasnya seolah membuang beban di tubuhnya. Dia kembali memejamkan matanya mengingat wajah-wajah murid kesayangannya namun sudah tidak muncul lagi. Kakek Lao tersenyum lalu ambruk di tanah tepat di sebelah Ruzun yang sudah tidak bernafas.
Wuushh..
Tang Xiao muncul di dekat tubuh kakek Lao. Pemuda tampan itu menghembuskan nafasnya. Meskipun dia tidak ingin ikut campur dalam urusan mereka, namun hati nurani pemuda itu tidak bisa membiarkan Kakek Lao yang terluka parah dan bisa saja merenggut nyawanya jika tidak segera diobati.
"Memang tidak ada musuh abadi, musuh terburuk adalah dendam itu sendiri. Manusia lemah hanya menjadi permainan Iblis yang mengalir dalam dirinya. Sekalipun Dewa, tidak ada kebenaran mutlak dalam diri mereka." Gumam Tang Xiao sambil meletakkan jari telunjuknya ke tubuh Kakek Lao dan seketika luka-luka luar di tubuh kakek Lao hilang tak membekas. Lalu pemuda itu mengibaskan tangannya maka hilanglah tubuh kakek Lao.
Wuushh...
Tang Xiao terbang menjauh dari jurang itu meninggalkan jasad Zurun yang terbujur kaku tak berdaya. Tang Xiao terbang meninggalkan jurang itu sambil melantunkan sebuah syair.
**Jiwa terjerat dalam angan
Kehidupan sementara nan fana
Membalut luka dengan asa
Melupakan kawan menghajar lawan
Tabuh bertalu menguasai luka
Gendrang perang mengalun nada
Cukuplah jiwa sebagai saksi
Tinggalkan angan dan raihlah asa**
......................
Sementara itu di tempat Rangga dan Zanhong bertarung telah berakhir. Meskipun Rangga terluka cukup parah, pemuda itu berhasil membuat sekarat Zanhong.
Zanhong memegangi sebelah tangannya yang telah putus. Dia menatap Rangga dengan kebencian namun juga ketakjuban.
"Entah yang ke berapa kali aku mencoba, tetap saja aku tidak pernah bisa mengalahkanmu tuan Rangga. Takdirku adalah selalu di bawahmu." Ucap Zanhong tersenyum pahit. Dia sepertinya sudah putus asa dengan apa yang terjadi padanya nanti. Meskipun putus asa, dia tidak meminta untuk pengampunan hidupnya. Baginya mati di tangan orang hebat adalah suatu kehormatan Terlebih sebelumnya mereka telah bertarung dengan luar biasa.
Rangga tersenyum kecut. Meskipun mereka berdua tidak memiliki dendam, namun Rangga telah menjadi pemburu Zanhong akibat kebrutalan orang tua di depannya ini dalam waktu yang cukup lama. Sejak Rangga masih remaja dan menjadi seorang pendekar pengelana, dia sudah mengejar Zanhong hingga ke beberapa benua. Bisa dibilang mereka berdua sudah saling mengenal.
"Setelah cukup lama, dendam orang kepadamu pada akhirnya bisa terbayarkan. Nikmatilah tempatmu di neraka orang tua." Ucap Rangga tersenyum sini sambil mengayunkan pedangnya memenggal leher Zanhong.
Zanhong yang hendak mengumpat Rangga, kata-katanya berhenti di tenggorokan saat lehernya telah mengglinding jatuh menyisakan mata yang terbelalak karena terlalu terkejut.
Bruuk..
Rangga jatuh terkapar di tanah. Matanya mulai buram dan akhirnya perlahan tertutup. Namun sebelum tertutup, Rangga masih sempat melihat wajah seorang pemuda tampan bermata biru sedang berdiri menatapnya.