
"Tuan Lao tidak pergi bersama kami saja?" Tanya Hanzho disaat Kakek Lao dan Silvie berpamitan melanjutkan perjalanan mereka.
"Kami sedang menuju Paviliun Bintang tempat turnamen diadakan. Saya ingin mendaftarkan cucu saya mengikuti turnamen itu." Jawab Kakek Lao tersenyum ramah dengan wajah tuanya.
"Saya kira tidak ada yang bisa mengalahkan cucu anda ini tuan." Ucap Rangga saat mengetahui tingkat asli kultivasi Silvie.
"Tuan Rangga sudah tahu sendiri kemenangan bukanlah karena kekuatan yang dimiliki seseorang, tapi tekadnya untuk menanglah yang membuatnya menang." Balas Kakek Lao tersenyum ramah.
"Tuan Lao memang bijak, tidak heran ananda Silvie begitu bangga memiliki kakek seperti anda." Balas Rangga senyum lebar.
"Haha tuan Rangga anda terlalu memuji orang tua ini." Balas Kakek Lao kemudian berbalik meninggalkan kelompok Rangga.
Silvie melambaikan tangannya ke arah kelompok Rangga yang dibalas oleh tetua Lan, tetua Yan, dan Della.
"Oh ya dek Ana, bagaimana ceritanya kalian bisa berada di negara ini?" Tanya Rangga yang masih penasaran dengan dengan identitas kekasihnya di dunia ini serta jalan cerita hidupnya.
Tetua Lan yang dipanggil oleh Rangga dengan panggilan kesayangannya tersenyum manja. Dia mengambil nafas panjang lalu mulai bicara.
"Aku dan saudari Lan ke sini mencari tuan Putri yang kabur dari istana saat hendak melakukan upacara kedewasaan. Yang Mulia Raja memerintahkan kami ke sini untuk mengawasi tuan putri dan jika bisa membawanya kembali ke Kerajaan. Tuan Putri adalah satu-satunya pewaris tunggal kerajaan sehingga yang mulia raja sangat khawatir terhadapnya.
Kami sudah lebih dari sebulan berada disini mencari keberadaan tuan putri, hingga saat ini kami belum mengetahui dimana tuan putri berada. Kami hanya mendapat informasi yang sedikit tentangnya. Itupun tidak menjelaskan di mana keberadaan tuan putri." Ucap tetua Lan sedikit bingung. Bingung bagaimana cara mencari keberadaan putri Raja mereka.
Rangga mendengarkan dengan seksama. Kini dia mengerti kenapa kekasihnya bisa berada di di sini meskipun dia pernah mencarinya ke berbagai belahan dunia. Dia juga kini tahu asal tempat dari kekasihnya ini meskipun belum diceritakan secara detail. Dia pernah mendengar tempat itu dan tempat itu menjadi satu-satunya harapan dia mencari kekasih nya di sana meskipun dia tidak tahu cara memasuki tempat itu. Ternyata takdir berkata lain, kekasihnya sendiri yang datang ke sini dari tempat itu di saat harapannya untuk mencarinya hampir pupus.
"Sepertinya tua putri itu sangat hebat hingga kalian tidak dapat menemukan jejaknya sama sekali." Ucap Rangga kemudian.
"Tuan Putri memang hebat. Dia sudah berada di ranah Saint sebelum berumur lima belas tahun. Kehebatan itu bukanlah omong kosong karena tuan putri memiliki Heavenly Emperor Body sejak lahir. Saat ini umur tuan putri telah memasuki usia lima belas tahun." Balas tetua Lan.
"Memiliki Heavenly Emperor Body memang menakjubkan. Luar biasa jika aku bisa mengambilnya sebagai murid dan menerima segala pengetahuan ku." Gumam Rangga takjub sambil memegang dagunya.
"Tuan putri orang yang keras kepala, di istana saja ada begitu banyak orang hebat yang berebut menjadikannya murid tidak ada satupun dari mereka yang mampu menarik hatinya. Selama ini tuan putri belajar dari buku-buku perpustakaan di istana dan mengembangkan cara kultivasinya sendiri yang jauh berbeda dari kultivator kebanyakan hingga dia mampu mencapai ranah Saint baru-baru ini tepat sebelum acara kedewasaannya diadakan.
Karena kejeniusan itulah, banyak kerajaan tetangga yang tertarik dan mencoba meminang tuan putri. Karena banyaknya pinangan itu juga yang membuat tuan putri kabur dari kerajaan tanpa ada satupun yang mengetahuinya bahkan para pelindung kerajaan sendiri apalagi yang Mulia Raja selalu sibuk dengan urusan Kerajaan." Balas tetua Lan sambil menghela nafas. Meskipun hatinya saat ini sangat bahagia karena telah bertemu dengan orang yang paling penting dalam hidupnya, namun karena tanggung jawab terhadap putri dibebankan kepadanya, membuat dia tidak bisa tenang.
"Tidak perlu terlalu dipikirkan, karena sekarang dek Ana telah berada di samping ku, kemanapun kamu pergi aku akan selalu bersamamu. Hanya mencari tuan putri tidak masalah meskipun harus ke ujung dunia." Ucap Rangga menggenggam lembut kedua tangan tetua Lan.
Tetua Lan tersenyum lebar dengan jantung berdebar kencang. "Selama bersama kanda aku tidak takut apapun sekalipun datang kematian entah yang keberapa kalinya." Ucap tetua Lan sambil membalas genggaman tangan Rangga dengan wajah berseri.
Rangga tersenyum lebar dia kemudian menoleh ke arah Hanzho.
"Saudara Hanzho kemana tujuan kita setelah ini? Anda adalah pemimpin dari kelompok ini saya hanya akan mengikuti kekasih saya kemanapun kelompok ini membawanya. Tenang saja tidak ada satupun yang bisa melukai siapapun yang ada di kelompok ini selama saya berada di sini, sekalipun itu adalah dewa." Ucap Rangga tenang dan kalem. Intonasi suaranya dan kecepatan berbicaranya benar-benar elegan dan terlihat bahwa dia memiliki etiket yang tinggi. Siapapun yang mendengar suaranya, akan tahu bahwa orang yang berbicara bukanlah seorang bangsawan biasa dan ingin terus mendengar suaranya.
"Sesuai permintaan saudara Rangga dan saudari Lan, kita harus menuju Paviliun Bintang yang terletak di barat daya Kekaisaran Gama." Ucap Hanzho sambil mengeluarkan peta lalu menunjuk titik warna merah yang telah ditandai Hanzho sebelumnya.
"Perjalanan dari sini ke sana akan cukup hingga waktu dimulainya turnamen tersebut. Perjalanan menuju Paviliun Bintang akan terasa lebih menyenangkan karena melewati jalur-jalur yang menarik dan banyak spot pemandangan." Ucap Hanzho sambil membuat garis di atas peta dengan pensil. Hanzho menarik garis dari titik tempat saat ini mereka berada menuju titik tempat Paviliun Bintang dengan menggeser beberapa gunung dan hutan.
"Mulai saat ini kita akan melewati kota-kota besar. Semakin besar suatu kota, semakin banyak pula kultivator kuat berkumpul. Sebaiknya kita tidak terlalu mencolok, baik dari segi pakaian maupun kekuatan." Ucap Hanzho memberikan instruksi apa yang harus mereka lakukan. Rangga hanya diam saja mengikuti arahan dari Hanzho. Menurutnya Hanzho lebih cocok menjadi seorang pemimpin dari pada menjadi Kafilah Dagang. Dengan wawasan yang luas serta ketepatan analisisnya, Hanzho bisa menjadi seorang pemimpin yang disukai banyak orang. Begitulah pemikiran Rangga saat ini mengenai Hanzho.
"Saudara Hanzho, di saat seperti ini anda lebih terlihat seperti seorang jenderal yang memimpin ribuan pasukan. Analisis dan kecepatan anda dalam membuat keputusan cukup hebat. Tidak banyak bahkan sangat sedikit orang dari kafilah dagang seperti anda ini." Ucap Rangga memuji Hanzho.
Tetua Lan, tetua Yan, Hanzho dan Della menutup mulut mereka menahan tawa mendengar ucapan Rangga. Dia sendiri merasa bingung dengan sikap yang tiba-tiba berubah di depannya.
"Kakak Rangga, saudara Hanzho adalah Jenderal Besar dari Kekaisaran Permata." Ucap tetua Lan yang mengerti kebingungan kekasihnya.
Rangga mengangguk pelan. "Memang pantas saudara Hanzho jadi Jenderal besar. Jika begitu, nak Della ini?" Tanya Rangga sambil menoleh ke arah Della.
"Tuan Putri Kekaisaran Permata, sekaligus pewaris tahta." Jawab Hanzho cepat.
"Hem.. Memang beda aura yang dimiliki seorang putri kerajaan dan orang biasa." Gumam Rangga sambil memegang dagunya.
Tak lama kemudian mereka memutuskan melanjutkan perjalanan menuju Paviliun Bintang setelah istirahat sehari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedikit mengecewakan sih ch ini... Udah dikit gk ada actionnya pula..
Memang seperti itu hidup yang kita jalani, ketika kita berharap pada dunia justru yang didapat adalah kekecewaan, jauh panggang dari api istilahnya.
So, keep healthy, keep smile and And be a blessing to others.
Lucunya rindu ini masih jadi milikmu padahal kamu telah jadi milik orang lain
_ElKhan.