The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 50. AKAR ROH SURGAWI



Tang Xiao membuka telapak tangannya lalu muncullah api hitam kecil di atas telapak tangannya. Api hitam itu hanya seukuran buah kenari namun suhu di ruangan segera naik beberapa derajat. Suhu yang awalnya biasa saja berubah menjadi sedikit panas dan gerah begitu api kecil itu dikeluarkan.


"Apa? Inti Api Sembilan Surgawi? Bagaimana bisa?" Andri, Jessika dan Denas terlonjak dari tempat duduknya. Mereka terbelalak melihat api kecil yang mereka kenal.


"Inti api legendaris ini kenapa bisa berada di tangan adik ketiga? Ini beneran Inti Api Sembilan Surgawi kan?" Tanya Andri tak percaya dengan yang dilihatnya.


"Jelas ini asli. Lihatlah suhu ruangan yang seketika berubah hanya karena kehadirannya. Tapi kenapa bisa di sini?" Jawab Jessika sekaligus mengajukan pertanyaan baru.


Tang Xiao tersenyum lebar lalu berkata


"Aku menemukannya saat berada dalam badai pasir. Saat aku mencari keberadaan adik keempat, tiba-tiba saja ada makhlul yang terluka sangat parah dan sedang sekarat. Aku mendekati makhluk itu dan dia berkata "tuan, tolong bawa ini bersama anda. Anda mampu bertahan di dalam badai ini saya juga yakin anda mampu menjaga ini. Jangan sampai jatuh ke tangan para pembuat badai pasir ini. Anda pasti sudah melihat mereka. Jika barang ini jatuh ke tangan orang jahat, kedamaain di dunia ini akan terancam. Saya sudah tidak bisa menjaga benda ini lagi kini giliran anda menjadi penjaga benda ini.' Setelah berkata demikian, makhlul itu merogoh jantungnya dan mengeluarkan ini api hitam ini. Setelah mengeluarkan api ini, makhluk itu mati dan jasadnya menjadi abu hilang terbawa badai pasir. Setelah itu aku menemukan adik keempat sedang berdiri kebingungan. Tak lama kemudian badai pasir itu pergi dan kami pun terbebas." Ucap Tang Xiao polos. Ada beberapa rahasia yang disembunyikannya dalam cerita itu.


"Makhluk apa itu kak?" Tanya Denas penasaran.


"Akupun tak tahu. Wujudnya seperti manusia biasa pada umumnya namun itu bukan wujud aslinya. Wujud aslinya entah bagaimana, aku tidak mendeteksinya. Hanya saja darahnya berwarna biru." Jawab Tang Xiao sambil mengangkat kedua bahu.


Denas menatap Tang Xiao dengan penuh selidik. Dia sedikit tidak percaya dengan cerita kakak ketiganya itu.


"Lalu bagaimana kakak bisa selamat dari suara yang mengelilingi kita berdua saat di dalam badai tadi?" Tanya Denas menekan suaranya. Dia memang merasa janggal dengan yang satu ini.


"Kakak pun tidak tahu. Kakak juga menutup mata karena ketakutan. Bedanya kakak tidak bersemunyi di balik lengan seperti seseorang bersembunyi." Jawab Tang Xiao mengangkat dagunya lalu menggaruk kepalanya sambil melirik Denas yang kesal.


Wuushh..


Tiba-tiba saja gulungan Surgawi dari jiwa Andri keluar dan terbuka dengan sendirinya. Gulungan yang terbuka itu tiba-tiba saja muncul cahaya keemasan dan menyedot api hitam yang berada di telapak tangan Tang Xiao. Api hitam itu dengan cepat tersedot ke dalam Gulungan Surgawi. Setelah itu gulungan itu mengeluarkan beberapa tulisan dalam bahasa Sankskerta dan masuk ke kepala Andri.


Andri yang kepalanya kemasukan tulisan tadi segera memejamkan matanya memahami tulisan barusan. Tubuh Andri yang dalam proses penerimaan wahyu itu mengeluarkan cahaya kuning keemasan. Setelah itu, Gulungan Surgawi itu kembali tertutup dan masuk ke dalam jiwa Andri.


Kejadian itu berlalu dengan cepat. Jessika dan Denas masih terbengong dengan apa yang barusan terjadi di depan mereka. Seolah semua itu beralalu hanya dengan satu kehendak saja. Tang Xiao yang memahami apa yang telah terjadi tersenyum senang.


"Hemm.. Akhirnya api kecil itu menemukan pemilik yang tepat. Sepertinya api kecil itu sengaja tercipta hanya untuk kakak pertama." Gumam Tang Xiao membuyarkan lamunan Jessika dan Denas.


Mereka berdua mengangguk pelan dan membiarkan Andri dalam memahami tulisan Sankskerta itu. Mereka melanjutkan makan siang yang sempat tertunda.


Sementara itu, Andri dalam persemediannya berada di tempat yang sama seperti dulu pertama kali bertemu dengan gurunya; Semesta yang luas dengan taburan bintang-bintang tak terhitung jumlahnya.


Tiba-tiba saja di hadapan Andri muncul serpihan jiwa gurunya. Andri melihat serpihan jiwa itu menjadi tersenyum dengan gembira. Dia tidak pernah melihat gurunya dalam satu tahun lebih ini. Berkat gurunya itu sedikit demi sedikit dantian rusak milik Andri bisa disembuhkan.


Serpihan jiwa itu mendekati Andri dan berkata "Muridku, selamat telah mendapatkan satu inti api yang sangat berharga. Aku tidak tahu bagaimana caramu mendapatkan api ini, namun serpihan jiwaku yang guru tinggalkan dalam gulungan Surgawi terbangun karena adanya api ini."


Serpihan jiwa itu mengibaskan tangannya yang transparan lalu muncullah beberapa kata dalam bahasa sankskerta di depan Andri.


"Tulisan ini adalah salah satu tulisan rahasia dalam gulungan. Sekarang kamu harus memahaminya dan mempelajarinya agar kamu bisa menyatu dengan api hitam ini agar seluruh dantian rusakmu bisa pulih seutuhnya dengan cepat. Serta Akar Roh Surgawi milikmu bisa terbangun dan membantumu dalam kultivasi."


Serpihan jiwa itu mengibaskan tangannya lagi. Lalu tulisan-tulisan itu masuk ke kepala Andri dan membuat dia menjerit kesakitan namun dia segera duduk bersila memahami tulisan itu.


Serpihan jiwa itu membuka telapak tangannya muncullah api hitam itu. Api hitam itu seperti mengerti tugasnya, api itu terbang mendekati tubuh Andri dan masuk ke dalam jiwanya. Sekujur tubuh Andri mengeluarkan cahaya kehitaman.


Dalam persemediannya, sesekali Andri mengerutkan keningnya menahan rasa sakit dalam memulihkan delapan dantiannya yang rusak. Dengan bantuan api hitam dipadu dengan tulisan Sankskerta, dalam beberapa saat saja delapan meridiannya pulih seperti sedia kala.


Bersamaan dengan pulihnya suruh dantian Andri, tulisan Sankskerta sedikit demi sedikit mulai bisa difahaminya. Terdapat empat bait tulisan.


Andri mengernyitkan dahi membaca tulisan itu. "Bacaan apaan ini. Tidak kah terlihat sedikit sarkasme? Sudahlah siapa tahu ada rahasia dalam setiap bait." Gumam Andri melihat tulisan yang terbaca dalam pikirannya.


Terjadi keanehan pada keempat bait tulisan itu. Keempat bait tulisan itu semakin lama semakin mengabur dari kepalanya. Seolah tulisan itu dihapus seseorang dengan sengaja. Setelah semu tulisan itu menghilang, dia tidak mengingat sesuatupun dari tulisan apa barusan yang ada dikepalanya. Seolah memorinya tentang tulisan itu dihapus dan dia tidak tahu penyebabnya.


Namun begitu tulisan itu menghilang, di alam bawah sadarnya muncul satu akar berwarna putih dan menyerap setiap energi di sekitarnya lalu menyalurkannya ke meridian tubuhnya. Akar itu menyerap energi di sekitarnya dengan sangat cepat. Setiap energi yang diserap oleh akar di alam bawah sadar selalu disalurkan ke dantian miliknya dan semakin lama semakin besar delapan dantiannya. Semakin besar dantian yang dimilikinya, terjadi ledakan teredam dari dalam tubuhnya menandakan tingkat kultivasinya semakin tinggi.


Melihat hal itu terjadi pada dirinya, Andri senang luar biasa. Dia tidak tahu sekarang kultivasinya sudah di ranah apa apa dan bintang berapa. Namun yang pasti tingkat kultivasinya sudah lebih tinggi dari adik keempatnya.


Akar Roh di alam bawah sadarnya berhenti menyerap energi di sekitarnya setelah energi qi-nya menjadi sebuah lautan kecil. Di tengah lautan kecil itu terdapat Golden Core sebesar kelereng.


Akar Roh di alam bawah sadarnya melilit Golden Core di tengah lautan kecil energi qi-nya. Andri tidak tahu apakah itu hal bagus atau buruk. Tak lama kemudian Andri mendengar suara gurunya memanggil.


Andri membuka kedua matanya dan mendapati serpihan jiwa gurunya tersenyum lebar kepadanya.


Kamu lihat pemuda kecil yang duduk di samping pemuda berambut biru itu, dia memiliki sesuatu yang luar biasa. Dia juga menyembunyikan kultivasinya. Pemuda kecil itu jauh lebih kuat darimu meskipun kamu telah naik ke ranah Legend bintang satu. Satu yang pasti, pemuda kecil memiliki sesuatu yang lebih kuat darimu yaitu tubuh Kaisar Dewa Surgawi. Dengan tubuh itu dia bisa mencapai puncak semesta ini dengan mudah.


Sekarang coba lihat gadis cantik yang duduk di sebelahmu. Pandangannya tidak bisa lepas darimu. Dia juga yang selama ini membersihkan badanmu selama kamu berkultivasi. Gadis itu sangat mengkhawatirkanmu.


Kamu benar-benar luar biasa muridku memiliki kawan-kawan yang sangat perhatian kepadamu dan tidak meninggalkanmu saat kesulitan. Tetaplah jaga hubungan kalian. Dan muridku jadilah kamu penengaj diantara teman-temanmu. Satu lagi, setelah ini guru tidak akan pernah bisa muncul lagi di dunia ini. Keberadaan guru di sini menentang hukum alam. Jadi guru harap kamu dapat melanjutkan cita-cita guru dan membalaskan dedam guru pada kakak seperguruanmu dan mantan kekasih guru. Bersama dengan kawan-kawanmu capailah semesta dengan kekuatan dan tekad kalian serta tebarlah kebaikan di manapun kalian berada."


Wuss..


Serpihan jiwa guru Andri lenyap tak tersisa tanpa meninggalkan jejak energi sedikitpun. Tanpa disadarinya, air matanya telah mengalir deras. Dia menenangkan dirinya, di luar teman-temannya sedang khawatir dengam dirinya sedangkan dia hanya menangis cengeng di dalam jiwanya.


Perlahan Andri membuka matanya. Suasana di dalam tenda tidak ada yang berubah sedikitpun selain rambutnya yang sepanjang bahu. Dia memeriksa kumis dan jenggotnya yang bersih dari dagunya. Sepertinya seseorang telah mencukurnya.


Dia melihat sekeliling. Adik-adiknya telah terlelap kecuali Tang Xiao yang sedang duduk memejamkan di sebelahnya. Melihat Tang Xiao, dia teringat perkataan gurunya yang mengatakan bahwa adik ketiganya juah lebih kuat dari gurunya bahkan saar gurunya pada puncak kekuatan di dunianya. Andri tidak mengerti apa yang dimaksud gurunya karena yang dia lihat saat ini kultivasi adik ketiganya masih di ranah Grand Master bintang sembilan. Hanya saja energi qi adiknya jauh lebih murni dari dirinya yang sudah dibantu oleh Akar Roh Surgawi.


Tang Xiao yang mengetahui kakak pertamanya telah sadar dari kultivasinya membuka mata.


"Bagaiamana rasanya kakak pertama setelah naik tingkat dengan begitu gila?" Suara Tang Xiao mengejutkan lamunan Andri. Dia baru sadar waktu telah malam hari.


"Hemm... Luar biasa. Tubuhku jauh lebih ringan seolah belenggu duniawi telah terlepas dariku." Jawabnya memeriksa kondisi tubuhnya yang jauh lebih baik dari saat sebelum dia naik tingkat. Dia juga memeriksa tubuhnya yang telah menjadi lebih kecil dari sebelumnya namun lebih kuat dan lebih berotot. Saat ini tubuhnya hampir seperti tubuh atletis yang dimiliki Tang Xiao.


"Sudah berapa lama ini?" Tanya Andri penasaran.


"Mungkin sekitaran satu bulan lebih." Jawab Tang Xiao ringan lalu bangkit dari duduknya.


"Apa? Selama itu." Seru Andri tidak percaya.


"Ya sudah banyak waktu yang berlalu dan ada beberapa kejadian menarik lainnya yang kakak pertama lewatkan." Ujar Tang Xiao mengambil segelas teh lalu menyuguhkan di depan Andri yang masih bingung. Andri menerimanya dengan senang hati. Dia memang merasa sangat haus.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Andri setelah meminum teh hangat yang disuguhkan adik keduanya. Ada kehangatan yang mengalir di dadanya. Bukan kehangatan teh melainkan kehangatan energi spiritual. Dia tahu itu adalah campur tangan adik keduanya.


"Selama enam bulan ini kita telah bergerak hingga hampir sampai di tengah gurun ini. Selama enam bulan ini yang selalu membersihkan jenggot kakak pertama adalah tugas wajib kakak kedua. Dia juga yang membersihkan tubuh dan mengganti pakaian yang kakak kenakan setiap beberapa hari sekali. Terutama saat tubuh kakak mengeluarkan kotoran setelah naik tingkat. Diantara kami kakak pertamalah yang paling repot." Jawab Tang Xiao sambil menuangkan teh ke dalam gelas Andri.


Tang Xiao mendekatkan mulutnya ke telinga Andri kemudian berbisik "Sepertinya kakak kedua sangat menyukai kakak pertama. Kakak kedua bahkan diam-diam beberapa kali mencium kening kakak pertama."


Setelah membisikan itu, Tang Xiao segera menjauh dari Andri agar tidak digemplang kakak pertamanya itu.


Panas. Muka Andri memanas. Dia merasa seolah darahnya berkumpul di wajah. Dia bangkit dan mengejar Tang Xiao hendak menjewer kuping anak itu.


"Dasar bocah tidak bisa jaga rahasia. Awas saja kalo ketemu." Seru Andri sambil mengejar Tang Xiao yang melarikan diri keluar Tenda.


TAP....


Andri berhenti tepat di luar tenda saat melihat langit malam yang begitu indah. Miliaran bintang bertabur di angkasa. Aurora malam menambah gemerlapnya suasana nyata. Tenang dan damai. Seluruh makhluk terlelap di peraduan masing-masing. Mengistirahatkan diri dari lelahnya kehidupan. Di balik keindahan semesta, tentu ada yang Maha Pencipta mengatur segala.


Andri duduk di atas pasir sambil menelantangkan tubuhnya menghadap langit.


"Adik kedua kesinilah temani aku menikmati suasana damai seperti ini. Malam yang tenang tanpa suara pedang, tanpa suara tangisan anak yang kehilangan orang tuanya, Tanpa suara tangisan ibu yang kehilangan anaknya. Tanpa suara tangisan Istri yang kehilangan suaminya. Guru mengatakan kepadaku, untuk selalu menjaga kedamaian di manapun kita berada. Hanya saja sampai kapan kedamaian itu berada." Ucap Andri sambil menikmati indahnya malam.


Tang Xiao merebahkan tubuhnya di samping Andri mendengarkan perkataan kakak pertamanya. Dia tidak mengomentari apa-apa dan hanya menjadi pendengar yang setia.


Tiba-tiba Tang Xiao terbangkit dari tidurannya saat merasakan dua aura kuat sedang menuju ke arah mereka. Tang Xiao melirik Andri yang terlihat biasa saja dan tidak merasakan ada aura yang mendekat. Mungkin karena masih sangat jauh jaraknya sehingga Andri tidak dapat merasakan.


Andri melihat Tang Xiao bangkit tiba-tiba merasa heran. Dia mengira Tang Xiao sudah bosan mendengarkan ocehannya sehingga dia berniat ganti topik. Saat Andri hendak mulai berbicara lagi, Tang Xiao memberi isyarat kepadanya untuk diam.


"Ada apa adik ketiga?" Tanya Andri penasaran.


"Ada dua orang yang mendekat ke sini. Mereka berada di ranah Holy Ancestor." Jawab Tang Xiao.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yups....