The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 45. Gurun Fajar Merah



"Kurang ajar, Adik kelima mati! Bagaimana mungkin?" Seorang pria berteriak tak percaya pada seorang laki-laki di depannya.


"Ya adik kelima mati tadi malam bahkan jiwanya saja tidak bisa dilacak. Kakak ketiga mungkin tidak percaya." Jawab laki-laki itu. Laki-laki itu memberikan token jiwa yang telah pecah jadi beberapa keping. Caha di token yang biasa jadi tanda jiwa seseorang juga redup dan tidak bersinar lagi.


"Bahkan jiwanya juga telah musnah. Sebenarnya ini pekerjaan siapa?" Tanya laki-laki yang dipanggil kakak ketiga oleh adiknya. Dia meremas token itu hingga menjadi debu. Ada sedikit sendu di matanya.


"Ah adik yang bodoh itu kenapa harus secepat ini." Gumamnya sambil mengeluarkan hawa membunuh yang sangat besar. Matanya memancarkan dendam yang cukup dalam.


"Tidak mungkin adik kelima bisa dengan mudahnya mati tanpa bisa memanggil bantuan. Sekarang suruh orang untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di Kekaisaran ini tidak ada yang berani memprovokasi kita tanpa alasan. Adik keempat kamu kamu turun tangan mencari tahu hal ini. Sebelum kakak pertama dan kedua keluar dari pelatihannya, masalah ini harus sudah selesai." Orang yang dipanggil kakak ketiga itu bangkit dari tempat duduknya dan segera meningglkan adik keempatanya.


Adik keempat yang menerima perintah itu segera keluar dan mencari beberapa orang kepercayaannya lalu mempersiapkan beberapa keperluan untuk pencarian yang sepertinya cukup sulit.


......................


Wuush...


Bruukk...


"Aduh sakit." Denas yang terlempar dari portal tak sigap mendarat di tanah. Tang Xiao dan Andri terlempar tak jauh darinya.


"Dasar kakak kedua kalo mau teleport bilang-bilang dulu dong." Gerutu Denas membersihkan debu dari pakaiannya. Dia melihat sekeliling.


Padang pasir yang sejauh mata terhampar di hadapannya. Sangking jauhnya pada pasir itu, seolah langit dan pasir itu saling berdekatan. Dia melihat ke belakang, sebuh gunung menjulang sangat tinggi. Pucuknya menyentuh awan dan tidak terlihat sama sekali.


"Huh di mana ini?" Gumam Denas.


Andri dan Tang Xiao menghampiri Denas yang sedang mendongakkan kepalanya melihat gunung super tinggi di depan mereka. Gunung itu seperti tembok menghalangi siapa saja yang hendak menyebrangi gurun pasir maha luas. Di depan mereka menjulang tembok gunung yang tidak bisa di lewati kecuali dengan terbang. Sedangkan di belakang mereka terhampar padang pasir maha luas yang belum diketahui bahayanya.


Kedua bentang alam tersebut seperti sama-sama sedang saling membanggakan diri. Kedua bentang alam yang satunya hijau-hijau ranum, sedangkan yang satunya gersang fatamorgana bijak menipu mata. Kedua bentang alam yang sangat kontras namun hidup berdampingan.


"Huf.. Tak bisakah kakak kedua mencari destinasi yang lebih baik?" Tanya Denas kesal. Dia tidak menyangka pelarian dari rumahnya malah menghadapi dua bentang alam yang sama-sama membahayakan.


"Di depan ini adalah Gurun Fajar Merah dan di belakang kita adalah Gunung Fajar Merona. Dua bentang alam yang saling berhadapan ini adalah salah satu ujung dari benua ini." Ucap Andri membuka peta yang entah dari mana di dapatnya. Di peta itu terdapat sepuluh tanda X yang dilingkari dengan warna merah. Diantara tanda-tanda itu terdapat dua tanda X yang berdekatan hampir tidak ada jarak. Dua tempat itu terdapat dari masing nama-nama bentang alam yang disebutkan Andri tadi.


Melihat itu Denas hanya dia saja. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Sedangkan Tang Xiao terlihat biasa saja tanpa ekspreksi namun dia sebenarnya cukup tertarik.


"Peta apa ini Kak?" Tanya Tang Xiao.


"Ini peta dunia ini dalam skala 1:1.000.000." Jawabnya lalu sambil menghamparkan peta di tanah.


Denas dan Tang Xiao ikut berjongkok.


"Iya tahu kak. Tapi ada apa dengan tanda X ini? Dan kenapa jumlahnya ada sepuluh?" Tanya Tang Xiao sedikit kesal karena dipermainkan Andri.


"Sepuluh tanda ini adalah sepuluh tempat yang seharusnya kita tidak berada di sana. Kalian tahu kenapa?" Tanya Andri melihat satu-satu wajah kedua wajah adiknya. Denas dan Tang Xiao tampak bingung, mereka menggeleng.


"Sepuluh tempat ini adalah tempat-tempat yang paling menakutkan di dunia. Kalian tahu kenapa benua ini dinamai Land Of Death?" Tanya Andri.


"Apa hubungannya dengan nama benua dan sepuluh tanda itu?" Tanya Denas tidak sabaran.


"Karena dua tempat paling menakutkan ada di benua ini dan kita berada di tengah-tengahnya." Ucap Andri lemas dan terduduk memikirkan nasibnya yang malang. Denas dan Tang Xiao menahan tawa melihat tingkah kakak mereka ini. Namun benar juga ucapannya.


Tang Xiao bangkit dan berdiri tegap. Dia memandang jauh melihat gurun di depannya yang seolah tanpa batas.


"Gurun ini bukan sembarang gurun. Konon di gurun ini terpendam sebuah Istana kuno. Lebih kuno dari sejarah peperangan besar-besaran dengan Iblis tiga ratus tahun lalu. Istana gurun ini konon katanya adalah istana dari manusia terkuat yang datang dari Dunia Lain. Entah bagaimana ceritanya Istana itu bisa menghilang dan berganti menjadi gurun tak terbatas ini. Konon katanya luasnya gurun ini mengikuti luasnya istana yang menghilang secara misterius." Jawab Andri.


Tang Xiao diam dan mengangguk pelan sambil memegang dagunya. Denas sedikit kaget saat mendengar cerita itu namun segera menutupi kagetnya dengan mengipas-ngipas kipasnya.


"Kalo begitu seharusnya cerita itu akan jauh lebih kuno dan lebih rahasia dari cerita tentang penyerangan Iblis tiga ratus ribu tahun lalu. Tapi kenapa cerita yang harusnya lebih tidak masu akal kakak pertama bisa mengetahuinya?" Tanya Tang Xiao penasaran. Tidak mungkin sesuatu seperti cerita Andri bisa lebih mudah didapatkan dari cerita tiga ratus tahun lalu.


"Memang begitu adik kedua. Bahkan catatan mengenai kerajaan gurun ini telah tiada. Namun cerita ini turun temurun dan dilestarikan sampai sekarang agar para keturunan sesudah mereka bisa menghindari tempat seperti ini dan bisa memberikan solusi agar suatu hari gurun ini bisa menjadi tempat yang aman."


"Memangnya bahayanya terletak dimana? Perasaan dari tadi kita di sini tidak ada sesuatu yang membahayakan kita." Tanya Denas penasaran. Dari tadi dia telah memasang "Sense Spiritual" tapi tidak menemukan gejala atau tanda yang membahayakan di sekitarnya.


"Gurun ini ibarat Samudra dan tempat kita berada di sini barulah tepi pantainya. Konon kata beberapa orang yang telah berhasil selamat dari gunung ini atau mungkin dibiarkan selamat, tempat ini dijaga oleh pasukan yang sangat besar. Saking besarnya jika dua Pasukan Elite Kekaisaran terbesar di dunia digabungkan jadi satu, jumlahnya hanya mungkin seperempat dari jumlah pasukan gurun dan kekuatannya malah jauh lebih rendah. Pasukan itu terdiri dari berbagai macam. Jika di tepi-tepi gurun masihlah Mythical Beast tipe gurun tingkat ketiga, keempat, kelima dan keenam. Jauh sedikit, Mythical Beast tujuh hingga delapan. Jauh lagi Mythical Beast tingkat sembilan rendah. Lebih jauh lagi Mythical Beast tingkat sembilan tengah. Lebih jauh lagi Mythical Beast tingkat sembilan akhir. Lebih jauh lagi Mythical Beast Half-Saint tingkat sepuluh awal. Ketika hampir mendekati tengah gurun, muncul sebuah pasukan yang terdiri berbagai macam undead. Undead-undead inilah yang paling menakutkan. Rata-rata undead ini jika berasal Mythical Beast maka itu tingkat sembilan awal keatas. Dan jika Undead itu berasal dari Kultivator, maka undead itu berada di ranah Ancestor ke atas. Mungkin bisa sampai di ranah Holy-Ancestor ranah sembilan. Mungkin sih. Namun di Gurun ini terdapat benda-benda pusaka tingkat tinggi yang tak tertandingi. Setiap tahun selalu ada perburuan harta karun di sini. Entah itu orang-orang dari benua ini sendiri atau dari benua lain." Jawab Andri panjang lebar sedikit males.


Tang Xiao nampak merenungkan ucapan Kakak pertamanya itu. "Apa pernah ada orang yang berhasil mendapatkannya?" Tanyanya kemudian.


"Pernah ada beberapa orang dan mereka menjadi orang yang sangat kuat dan mendapat posisi tinggi di tempat mereka masing-masing. Tidak peduli dengan nyawa mereka, setiap tahun pasti ada saja yang datang ke sini."


"Lalu kenapa banyak orang di sana sekitar satu kilo dari sini?" Tanya Tang Xiao yang memang dapat melihat apapun sejauh mata memandang namun menyembunyikan kekuatannya ini. Dia tidak sadar jika suatu hari dia akan kehilangan seseorang yang sangat mencintai karena terus menyembunyikannya.


"Hemm.. Adik kedua bisa melihat orang sejauh itu?" Tanya Andri sedikit tak percaya.


"Ya tentu tapi hanya jarak segitu saja. Itu pun karena tehnik keluarga. Tenang saja jaraknya akan sesuai dengan kekuatan orang yang memakai tehnik ini. Orang-orang di sana terlihat bergerombolan dan sedang melawan beberapa Mythical Beast tingkat tiga sampai lima." Jawab Tang Xiao. Denas menyipitkan matanya. Matanya yang lentik itu samar terlihat bercahaya ungu.


"Oh iya di sana memang ada segerombolan orang. Dan tidak jauh dari mereka juga ada beberapa orang lagi yang kekuatannya jauh di atas mereka." Ujar Denas mengembalikan matanya seperti semula.


"Ada apa dengan orang-orang ini? Apa mungkin sudah waktunya perburuan harta karun? Tidak mungkinlah. Oh iya mungkin perburuan ini dipercepat karena dua bulan lagi turnamen antar benua segera dimulai." Gumam Andri bangkit dari duduknya sambil membersihkan bajunya dari pasir.


"Lalu apa yang harus kita lakukan Kak?" Tanya Denas. Sebagai saudara termuda dia menyerahkan keputusan kepada para kakaknya. Dia hanya akan mengikuti keputusan itu jika sudah dianggap baik.


"Hem.." Andri tampak berpikir. Lalu menoleh ke arah Tang Xiao.


"Adik kedua bagaimana menurutmu? Karena kamu yang paling ahli menangani masalah ini." Tanya Andri. Tang Xiao memahami maksud Andri. Kakaknya itu bertanya bukan hanya tentang bagaimana mereka menyusul orang-orang yang jauh dari mereka tapi juga bagaimana nyawa mereka tidak terancam sama sekali. Artinya dia yang membawa mereka ke sini dia juga yang bertanggung jawab dalam perjalanan mereka.


"Sebaiknya kita jalan kaki saja. Siapa tahu harta yang dimaksudkan bisa muncul. Bisa jadi kita mendapat jackpot dari reruntuhan gurun ini." Ucap Tang Xiao kemudian berjalan ke depan mendahului Andri dan Denas. Kedua orang itu saling pandang tak mengerti. Tidak mungkin semudah itu kan. Batin mereka masing-masing. Namun melihat keyakinan Tang Xiao, mereka berdua segera menyusulnya. Mereka sudah melihat beberapa keajaiban yang dibuat oleh saudara mereka ini. Mungkin saja kali mereka bisa melihat keajaiban apa lagi yang akan datang kali ini.


"Master, apa beneran mereka tidak merasakan hawa kehadiranku jika aku mengeluarkannya? Dilihat dari level mereka, akan terasa berat dan mungkin akan membuat mereka tak bisa bergerak sama sekali." Ucap Raja Gagak Neraka dari atas kepala Tang Xiao yang berbentuk burung pipit sembilan warna.


"Percaya saja. Cukup keluarkan saja aura kehadiranmu dan biarkan aku yang mengurus sisanya." Jawab Tang Xiao menjentikan jarinya.


Cetakk!!


Denas dan Andri tidak mendengar dan merasakan apa-apa. Mereka hanya melihat Tang Xiao menjentikan jarinya tanpa suara namun karena dua orang itu tidak merasakan ada keanehan, mereka hanya diam saja dan terus berjalan di sisi Tang Xiao.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hemmm..


Mulai dari sini novel ini akan diganti judulnya. Jadi jangan kaget ya jika ada perubahan alur cerita.


Yah saya di sini hanya untuk mengasah skil dan 'Menajamkan' tulisan saya. Jadi saya sangat butuh kritik dan saran para readers yang berkenan memberikan komentar entah itu positif maupun negatif akan saya terima semua dan sangat berterima kasih atas semuanya itu. Terutama tentang penggunaan kata yang cocok digunakan pada setiap kalimat dan suasana dalam novel.


Sekali lagi terima kasih telah mampir.