
Tetua Lan, tetua Yan, dan Hanzho berjalan beriringan sambil mendengarkan penjelasan Hanzho mengenai kota kota Funisia yang saat ini sedang mereka lewati.
"Kota Funisia sebagai ibu kota Kerajaan Funisia menjadi salah satu tempat yang ramai dikunjungi oleh para turis. Yang menarik dari kota ini adalah budayanya dalam seni lukis. Kota ini menjadi salah satu kota lukis paling terkenal di Benua Land Of Soul. Para pelukis terkenal di dunia banyak yang datang dan menetap di sini. Karena ketenaran inilah Tunisia Imperium menempatkan tiga kultivator ranah Saint Expert menjaga kota kecil ini.
Kalian lihat menara tinggi di ujung sana? Itulah tempat para kultivator kuat mengamati segala aktivitas di kota ini. Rata-rata tembok bangunan di kota ini dihiasi oleh berbagai seni mural tingkat tinggi.
Yang paling penting di kota ini adalah seni lukis yang ada di kota ini berasal dari berbagai belahan dunia. Para pelajar yang mencintai seni lukis berkumpul di sini. Kota ini juga menjadi salah satu jalur arternatif tercepat menuju Kekaisaran Gama. Tempat ini juga menjadi salah satu tempat teraman di benua ini.
Saya kira orang yang saudari berdua cari berada di sini mengingat kota ini salah satu tempat incaran destynasi para turis." Ucap Hanzho sambil melihat-lihat dan menjelaskan apa yang diketahuinya mengenai kota Funisia.
"Hemm.. Jadi itulah kenapa tiga orang tua yang mengaku sebagai penjaga Kekaisaran bisa berada di sini dengan cepat." Gumam tetua Lan melihat sekeliling. Dia memang terpukau melihat-lihat mural yang berada di tembok-tembok bangunan.
"Ya tapi mengingat dengan sifat nona muda, tidak mungkin bisa bertahan di sini cukup lama. Kalo pum ada di sini, di tempat yang ramai ini nona muda mungkin telah mendapat beberapa masalah kecuali nona bisa menghindarinya dengan cerdik." Ucap tetua Yan. Dia mengetahui betul seperti apa nona muda mereka jika sudah keluar dari rumah.
"Bisa jadi begitu. Namun tidak masalah jika kita bertanya pada beberapa orang apakah ada orang yang mencurigakan akhir-akhir ini di kota ini." Ujar tetua Lan mencari solusi tercepat. Dia tahu jika nona muda mereka belum terlalu bisa bergaul dengan masyarakat. Sifatnya yang masih polos bisa membuatnya dalam berbahaya dan menarik perhatian orang-orang.
"Usulan yang bagus saudari Lan. Sebaiknya kita langsung menuju menara tempat semua aktivitas dipantau. Itu akan lebih memudahkan kita." Balas Hanzho semangat sambil mengarahkan kudanya ke menara yang menjulang tinggi yang berada cukup jauh dari mereka.
Tetua Lan dan tetua Yan mengangguk lalu ikut memacu kudanya mengikuti Hanzho. Anggota lainnya mengikuti pemimpim mereka.
......................
Wuusshh...
Seorang gadis muda dan kakeknya keluar dari portal di sebuah hutan yang cukup luas. Seekor Mythical Beast tingkat tiga langsung lari kabur saat melihat kedatangan mereka berdua dengan tiba-tiba. Suasana hutan cukup tenang. Matahari telah sejajar dengan ubun-ubun. Walaupun suasana sangat panas namun karena hutan-hutan di sini memiliki pohon-pohon yang berdaun lebat dan cukup rindang mampu menghalangi banyak sinar matahari, sehingga suasana menjadi lebih lembab dan dingin. Siklus udara di hutan ini juga baik memungkinkan orang betah berlama-lama tinggal di sini. Tentu saja bukan untuk orang biasa ataupun kultivator lemah.
"Kakek kenapa kita harus keluar dari hutan ini? Walaupun hutan ini cukup rindang namun tidak ada yang menarim sama sekali. Bahkan Mythical Beast tidak ada kehadirannya sama sekali." Gerutu Silvie pada kakeknya.
"Itu karena kakek tidak menyembunyikan hawa kehadiran kakek karena itu tidak ada satupun Mythical Beast yang berani mendekat sekalipun Mythical Beast tingkat sembilan." Balas kakek tua itu dengan santai. Kemudian dia menghilangkan hawa kehadirannya yang mampu menekan Mythical Beast tingkat sembilan mengubah menjadi seorang kultivator ranah Ancestor bintang lima seperti kultivator pada umumnya.
Mereka berdua menyusuri hutan luas itu dengan tenang tanpa takut apapun.
"Seharusnya ranah Ancestor sudah cukup untuk menakuti beberapa Mythical Beast agar tidak mengganggu." Gumam Kakek itu memimpin jalan keluar hutan.
Silvie mengikuti langkah kakeknya sambil membuka peta yang diambilnya dari cincin ruangnya.
"Kakek, jika tidak salah saat ini kita berada di Benua Land Of Soul tepatnya Kerajaan Gupta yang berada di bawah Kekaisaran Maurya." Gumam Silvie dari belakang. Dia bertugas melihat peta sedangkan kakeknya orang yang menunjukan jalan.
"Heemm... Masih cukup jauh dari Kekaisaran Gama." Balas Kakek tua itu.
"Ya kek. Kekaisaran Gama berada di utara sedangkan kita berada di ujung selatan." Balas Silvie yang masih memeriksa lokasi mereka di peta.
"Bukankah itu sudah cukup bagimu untuk mengenal dunia ini?" Tanya kakek tua.
"Itu tergantung kakek ikut campur tangan atau tidak." Balas Silvie.
"Kakek hanya menjadi teman pasif dalam perjalanan ini. Apapun masalah yang kamu hadapi kamu hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri." Ucap Kakek tua.
"Sekalipun nyawaku dalam bahaya, kakek tidak akan membantuku?"
"Tidak ada yang bisa memahayakan cucu kakek selama kakek di sini."
"Kalo begitu deal. Aku tidak akan meminta bantuan kakek kecuali nyawaku dalam bahaya." Ucap Silvie gayanya bak orang yang sedang negoisasi bisnis dan perjanjian kerjasama.
"Realita di luar sana tidak semudah mengatakannya namun kakek yakin kamu mampu melewatinya." Balas Kakek tua.
"Selama ada kakek di sini aku tidak khawatir berbuat kasalahan."
"Kesalahan tetaplah kesalahan tidak bisa dicampur adukan dengan kebaikan. Setiap perbuatan menanggung resiko masing-masing. Jalan di dunia ini sudah jelas, jalan terang, gelap, dapat dilihat dengan mudah. Sifat manusialah yang mengaburkan maknanya."
"Kakem, mungkin karena keserakahan manusia?"
"Ingat, kamu dan kakek sama-sama manusia. Yang membedakan setiap manusia adalah bagaimana dia memanusiakan manusia. Sebagai makhluk fana kita hanya bisa percaya dan menjalani hidup dengan baik. Kakek percaya adanya konsep kehidupan setelah kematian. Bisa jadi kehidupan pertama akan membawa kebahagiaan atau kesengsaraan kehidupan berikutnya."
"Kalo setiap orang punya pemikiran seperti kakek mungkin dunia tidak akan serumit yang kakek ceritakan."
"Itulah tugas kita membawa kebaikan dalam setiap langkah yang kita tapakkan, setiap ucapan yang kita keluarkan, setiap perbuatan yang kita kerjakan. Hanya saja lebih banyak manusia-manusia yang tidak menggunakan akal sehatnya dan lebih memilih jalan hitam karena gemerlapnya yang ditawarkan."
"Bukankah setiap orang bebas memiliki jalan hidupnya masing-masing? Kita tidak bisa menghakimi seseorang hanya karena kejahatan yang dilakukannya."
"Ucapan seperti biasanya digunakan oleh orang tidak tahu malu dan yang tidak mau tahu dengan kesusahan atau kepedihan orang lain. Baginya kebebasan adalah nomor satu. Dia tidak tahu bahwa kebebasan adalah belenggu yang sebenarnya."
"Lalu bagaiaman kita seharusnya menyikapi kebenaran yang tersembunyi dan menyikapi maknanya?"
"Harus ada pengorbanan untuk meraihnya. Sebagai manusia yang termasuk bagian dari alam, pemgorbanan akan selalu ada. Misalnya saat kamu hendak makan daging. Dari mana daging yang kamu makan jika tidak membunuh hewan yang kamu inginkan jiam tidak memburu atau membunuhnya. Itu merupakan suatu pengorbanan."
"Kakek mengatakan seperti membuatku ingin memuntahkan semua daging yang pernah kumakan."
"Hahaha... Sepertinya kamu terlalu membawa perasaan. Beginilah kehidupan ini. Ada yang makan, namun di sisi lain ada yang harus kehilangan anggota keluarganya. Semua itu telah menjadi hukum alam yang dibawa setiap makhluk hidup. Tugas kita sebagai manusia hanyalah perlu membawa kedamaian dan ketentraman bagi semua makhluk. Sepertinya di depan sana ada jalan raya. Sebaiknya kita mengikuti jalan itu agar dapat bertemu orang-orang."
"Iya kek. Aku juga sudah tidak sabar melihat orang lain selain kakek, hehe."
Kakek tua itu hanya tersenyum kecut saat cucunya mengatakan realita yang menyakitkan.
......................
Wussh...
Tang Xiao melambaikan tangannya dan semu tenda yang didirikan anggota Jessika hilang dari pandangan mata. Bahkan hawa keberadaan mereka tidak dapat lagi dirasakan. Seolah-olah mereka telah raib dari muka bumi.
Andri terkejut melihat hal itu. Tadi dia sudah berniat membangunkan Jessika dan Denas agar mereka membuat persiapan untuk menghadapi orang yang akan datang, entah itu kawan atau lawan. Namun sepertinya niatnya itu tidak berguna saat melihat seluruh tenda di belakang mereka telah tiada dari pandangan matanya. Dia kembali teringat ucapan gurunya mengenai Tang Xiao, pemuda tampan berambut biru yang jauh lebih kuat dari gurunya. Kini secara perlahan ucapan gurunya itu mulai tampak, entah itu disadari atau tidak, sengaja maupun kebetulan.
Tang Xiao memandang jauh ke arah dua orang kultivator yang sedang melaju ke arah mereka. Tang Xiao hanya tersenyum lebar tidak mengatakan apa-apa.
Sementara itu Andri yang berusaha merasakan kehadiran dua kultivator tingkat tinggi seperti yang dikatakan Tang Xiao, tidak lama kemudian dia dapat merasakan hawa keberadaan mereka. Dia sangat terkejut begitu mengetahui orang yang akan datang adalah dua orang kultivator ranah Holy Ancestor yang seorang bintang satu dan yang seorang lagi bintang dua.
"Gila. Benar-benar gila. Kenapa mereka berdua bisa datang ke sini." Gumam Andri bergidik ngeri saat melihat dua kultivator ranah tertinggi di dunia ini datang bersamaan ke gurun ini.
"Sepertinya perburuan harta karun di gurun ini tidak sesederhana yang terlihat. Jika tidak mana mungkin orang hebat seperti mereka bisa datang kesini dengan mudahnya." Lanjut Andri.
"Iya memang kak. Lihatlah pedang hebat ini. Aku mendapatnya di gurun ini." Ucap Tang Xiao mengeluarkan pedang perak dari cincin ruangnya. Pedang perak itu mengeluarkan hawa kematian yang menyeramkan.
"Adik ketiga jangan keluarkan pedang itu. Jika mereka berdua melihat ini bisa jadi nyawa kita dalam bahaya." Ucap Andri gugup. Gugup melihat pedang itu dan juga gugup mengingat siapa yang akan datang menemui mereka.
"Oh tenang saja kak. Jika mereka orang baik pastinya tidak akan merebut pedang ini dari pemiliknya. Namun jika mereka orang jahat belum tentu mereka bisa mengambil pedang ini." Jawab Tang Xiao santai sambil membuka pedang itu dari sarungnya.
Jawaban itu semakin menambah kegugupan Andri. Jantungnya berdetak cepat. Semakin lama hawa keberadaan mereka semakin terasa kuat. Hawa keberadaan yang dulu pernah dirasakan Andri selama masih berada di benua Land Of Soul.
Wuusshh...
Wuusshh...
Dua orang kultivator ranah Holy Ancestor melayang di hadapan Andri dan Tang Xiao. Tatapan kedua kultivator itu terlihat serakah saat melihat pedang yang sedang dipegang oleh seorang pemuda di ranah Grand Master bintang sembilan.
"Hei anak muda yang ada di tanganmu itu pedang siapa?" Tanya seorang yang lebih muda dari dua orang itu kepada Tang Xiao dengan tatapan yang menghinakan. Seolah-olah keberadaan Tang Xiao sama seperti kecoa menjijikan.
"Paman tua, pedang ini adalah milik kakak saya ini. Namun karena saya tertarik saya ingin mengambil pedang ini." Jawab Tang Xiao santai tanpa menoleh. Dia sibuk memeriksa ketajaman pedang di tangannya.
Mendengar jawaban Tang Xiao, Andri berkeringat dingin. "Adik ketiga, jangan membawa-bawaku. Aku masih ingin selamat bahkan aku belum menikah. Tidak kah kamu kasihan pada kakakmu ini yang masih jomblo ini." Bisik Andri di telinga Tang Xiao. Mendengar itu Tang Xiao terkikik.
"Kakak pertama langsung aja kawin sama kakak kedua yang masih di dalam tenda. Kakak kedua sangat cantik dan sangat cocok dengan Kakak pertama. Hehe bukankah kakak pertama telah mendapat ciuman dari kakak kedua." Balas Tang Xiao ikut berbisik di telinga Andri.
Ktuuukk...
Andri menjitak kepala Tang Xiao. "Ini bukan saatnya mengatakan hal vulgar seperti itu. Bagaimanapun dia tetaplah kakakmu." Ucap Andri.
Mendapati ucapannya tidak dihiraukan, orang yang tadi berbicara mengeluarkan aura membunuh dan menekan dua orang pemuda yang mengabaikannya.
"Anak muda cukup basa basinya. Berikan pedang itu atau nyawa kalian menjadi bayarannya." Ancam orang yang lebih muda.
"Junior Lahat, santai saja. Mereka masihlah anak-anak." Orang yang lebih tua menegur orang tadi berbicara.
"Paman tua, tidak perlu repot-repot hendak membunuh kami. Aku yakin dengan kultivasi kalian berdua sudah mampu membunuh kami dengan mudah. Aku hanya punya satu persyaratan, jika kalian mampu mencabut pedang yang aku tancapkan di pasir ini, maka kalian boleh mengambilnya dan kami tidak mempermasalahkan." Ucap Tang Xiao santai.
Liang dan Lahat menjadi geram mendengar ucapan itu.
"Anak muda kita tidak berada pada situasi bernegoisasi. Cabut nyawanya dan ambil pedangnya." Seru Liang dari atas.
Dengan cepat Liang meluncur ke arah Tang Xiao dan tangannya meraih pedang perak di tangan Tang Xiao.
Tang Xiao menyeringai lebar melihat keserakahan orang tua itu. Tang Xiao menggeser sedikit tangannya yang memegang pedang ke kiri. Lalu mengangkat kaki kananya menendang perut laki-laki tua itu.
Hap.
Buukhh.. Ugghh
Tangan Liang menggapai udara kosong dan tanpa sempat disadarinya tendangan A Tang Xiao mengenai tepat di ulu hatinya membuat orang tua itu terpental di udara lalu terjatuh lima puluh meter ke depan.
Ughh...
Liang memegangi perutnya berlutut di atas tanah. Saat ini yang dirasakan perutnya seperti sedang diaduk, usus-ususnya pecah, jantungnya retak.
Lahat yang sedang bertarung dengan Andri di sisi lain begitu mengetahui seniornya dalam keadaan terluka segera mundur dan mengobati Liang. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi namun itu ulah pemuda berambut biru yang memegang pedang perak di tangannya.
"Senior Liang kamu tidak apa-apa? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Aku hanya sedikit ceroboh. Anak itu memakai beberapa atribut tingkat tinggi yang menyebabkan aku terluka seperti ini."
Lahat diam saja menanggapi jawaban seniornya yang terluka parah. Dia benar-benar dibuat tak percaya bahwa seorang pemuda yang berada di ranah Grand Master mampu melukai kultivator ranah Holy Ancestor dengan begitu mudahnya. Sesuatu yang tidak masuk akal.
Andri yang melihat hal itu sama bingungnya dengan Lahat. Dia juga tidak tahu apa yang telah terjadi antara Liang dan adik keduanya. Walaupun Andri mendapat luka dari pertarungannya melawan Lahat, namun pemulihannya cukup cekap semenjak akar roh di dalam jiwanya terbangun. Berkat Api Sembilan Surgawi yang telah bersatu dengannya, Andri mampu mendaratkan beberapa pukulan di tubuh Lahat. Namun sayangnya semua itu tidak begitu berarti. Pukulan seorang kultivator di ranah Legend bintang satu kepada kultivator ranah Holy Ancestor ibarat seekor semut hitam yang mencoba menggigit batu yang datang mengusiknya.
"Paman tua, aku melakukakn negoisasi dengan kalian bukan untuk kesalamatanku namun demi hidup nyawa kalian. Tapi sayangnya kalian menolak dan bersikap jumawa di hadapanku bahkan melukai kakakku, jangan harap kalian bisa pergi dari dunia ini dengan tenang. Setidaknya rasakan dulu ketajaman pedang yang berasal dari padang pasir ini." Ucap Tang Xiao santai.
Slap..
Tang Xiao menancapkan pedangnya ke pasir di depannya. Walaupun pasir tidak memiliki kepadatan seperti tanah atau kayu, pedang yang ditancapkan Tang Xiao mampu berdiri tegak tanpa goyang sedikitpun seolah pedang itu menancap di tanah yang dalam dan kuat.
Liang membuang ludahnya yang bercampur darah segar begitu mendengar cemoohan pemuda di depannya.
"Anak muda jangan terlalu sombong. Serangan tadi masih serangan pembuka. Aku tidak mempermasalahkan kamu memakai atribut apa, namun semua itu tidak akan berguna lagi mulai saat ini." Ucap Liang dingin.
"Senior saya punya cara." Bisik Lahat. Kemudian Lahat membisikkan sesuatu mengenai rencana mereka dalam mengambil pedang itu. Sesaat kemudian Liang tampak tersenyum jahat.
"Oh iya paman tua. Saya juga menemukan beberapa tanaman Herbal berusia sekitar sepuluh ribu tahun. Jika mampu kalian bisa memilikinya." Ucap Tang Xiao lalu mengeluarkan sebuah tanaman yang menguarkan aura yang sangat menyegarkan.
Liang dan Lahat terpaku melihat tanaman yang baru keluar itu. Mata mereka membesar tersirat ketamakan yang mendalam. Wajah mereka menyeringai.
"Itu tanaman Anggrek Bulan Salju kenapa bisa ada di sini. Tanaman yang harusnya hidup di daratan dingin bagaimana bisa tumbuh di tempat dengan suhu yang nyaris tidak ada satupun makhluk es mampu bertahan di sini." Gumam Lian memikirkan keanehan tanaman herbal dibdepannya. Lalu dia melirik Tang Xiao yang tersenyum lebar kepada mereka.
"Anak muda jangan coba-coba membodohi kami. Jangan main-main nyawa kalian berada di tangan kami." Ancam Lian mengeluarkan hawa pembunuhnya.
Tang Xiao tersenyum mengejek. "Orang tua siapa yang sedang bermain-main dengan kalian. Aku menemukan sesuatu yang sangat dingin di tempat ini dan ketika aku membukanya aku menemukan tanaman ini. Jika kalian tidak percaya tidak masalah." Balas Tang Xiao santai.
Lahat yang merasa ada yang aneh membisikan sesuatu di telinga Liang.
"Senior Liang, pemuda berambut biru dari tadi selalu berbicara dengan santai tidak takut atau terganggu sama sekali bahkan saat kita sudah mengeluarkan aura pembunuh sedangkan pemuda di sebelahnya yang memiliki kultivasi yang lebih tinggi sudah ketakutan dari tadi. Perasaanku saat ini menjadi tidak enak saat melihat tatapan pemuda itu yang terlihat sangat merendahkan kita. Bukankah ada yang aneh?"
Liang terdiam sejenak.
"Maksudmu pemuda itu menyembunyikan kultivasinya lalu diam-diam membunuh kita begitu terperangkap dalam jebakannya seperti para pemburu?" Tanya Liang.
Lahat terdiam lalu mengangguk pelan.
"Tenang saja. Jika dia adalah pemburu maka aku adalah pemburu para pemburu terbaik. Tidak ada mangsa yang mampu lepas dari bidikanku. Tugasmu saat ini adalah menjalankan rencana yang tadi kamu katakan dan sisanya serahkan kepadaku."
Lahat mengangguk. Setelah selesai menyembuhkan Liang, dia bangkit lalu mengeluarkan pedangnya. Liang juga mengeluarkan sabitnya dari cincin ruang.
Wuushh..
Mereka berdua menyerang dengan cepat. Liang dari sisa kanan mengayunkan sabitnya ke arah leher Tang Xiao, Lahat mengayunkan pedangnya ke arah rusuk Tang Xiao.
"Mati kau bocah keparat." Teriak Liang
Sing.
Wusshh..
Pedang dan Sabit kedua orang itu tepat mengenai sasarannya tapi hanya bayangannya saja yang kena.
"Hahaha.. Apakah hanya segitu kemampuan kalian?" Ejek Tang Xiao dari belakang Liang dan Lahat.
Mereka berdua menoleh dan terkejut melihat Tang Xiao baik-baik saja.
"Bagus, bagus. Tidak menarik jika permainan ini berakhir dengan cepat." Balas Lahat. Dia mengangkat pedangnya ke udara lalu muncul bayangan ratusan pedang di atas kepala Lahat.
"Anak muda ini adalah The Sword Array Of A Hundred Judgemen. Tidak ada makhluk hidup di bawah ranah Holy Ancestor yang bisa selamat dari susunan ini. Terimalah ini."
Wuushhhh..
Ratusan bayangan pedang meluncur dengan deras ke arah Tang Xiao mengicar setiap titik vitalnya denga tepat.
Tang Xiao mengeluarkan pedangnya lalu menangkis setiap serangan ratusan pedang itu dengan sangat indah. Terkadang tubuh Tang Xiao meliuk menghindari pedang yang datang menyerang dari belakangnya.
"The Sword Of A Hundred Judgements harus dihadapi dengan The Sword Of The Judge Truth. Lihatlah permainan pedangku ini" Ucap Tang Xiao santai sambil memainkan pedangnya menangkis dan menghancurkan setiap bayangan pedang yamg datang menyerangnya.
Bukan cuma Andri yang takjub melihat adik ketiganya itu mampu bertahan dan bahkan menyerang balik serangan seorang kultivator di ranah Holy Ancestor, Liang dan Lahat tampak kagum juga melihat permainan pedang pemuda di depan mereka ini.
"Anak ini gila. Serangan mematikan dari kultivator ranah Holy Ancestor bisa di tepis dengan begitu mudahnya. Tidak mungkin benar apa yang dikatakan Lahat." Batin Liang tidak percaya.
Dalam sekejap serangan The Sword Array Of A Hundred Judgemen hancur tak tersisa. Suasana sepi seketika. Melihat serangannya gagal total, Lahat menjadi sangat murka dan merasa malu di hadapan seniornya. Dia mengangkat pedangnya lagi namun Liang menahannya.
"Junior Lahat tunggu sebentar. Mungkin memang benar apa yang kamu katakan pemuda itu menyembunyikan kultivasinya. Namun yang pasti tidak lebih tinggi dari kita. Sudah saatnya kita menjalankan rencana semula." Ucap Liang pelan.
Lalu Liang menebas udara dengan cepat.
"Tebasan Penembus Raga." Teriak Liang sambil terbang menuju Tang Xiao dengan cepat.
Wusshh
Dua energi hitam dengan cepat menyerang Tang Xiao yang langsung ditangkisnya dengan mengeluarkan dua energi emas yang saling beradu Lalu Tang Xiao terbang menyambut Liang.
Tang Xiao menyimpan pedangnya lalu mengepalkan tinjunya.
"Untuk menghadapimu cukup dengan satu tinjuku."
Dengan sangat cepat Liang mengayunkan pedangnya ke arah leher Tang Xiao yang melayang memyambut serangannya. Tang Xiao memiringkan kepalanya menghindari serangan Kritis Liang lalu tinju kanannya dengan cepat melakukan Uppercut tepat mengenai dada Liang.
Krakk...
Tulung dada dan rusuk Liang patah. Jantungnya meledak dan mulutnya memuntahkan darah sangat banyak. Tubuhnya yang meluncur ke atas, dengan cepat jatuh ke bawah. Nyawanya sedang berada di ujung tanduk
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Covernya ganti lagi padahal baru beberapa hari yang lalu saya ganti. Kemarin dapat cover dari NT. Jadi ganti lagi tapi ceritanya tetap sama.
Nama jurunya enak bahasa Inggris atau bahasa Indonesia?
B. Inggris atau B. Indonesia? Berikan komentar anda untuk memilih.