
Hari yang ditunggu-tunggu oleh setiap kultivator akhirnya tiba, yaitu hari diselenggarakannya turnamen antar benua. Setiap kultivator berbondong-bondong berjalan menuju pusat kota Paviliun Bintang. Setiap dari mereka dipenuhi semangat dan ambisi yang tinggi. Tidak main-main, ada ratusan jenius tingkat tinggi yang akan bertarung berebut juara.
Tang Xiao, Denas, Andri, Jessika, Arya, dan Ririn berjalan di barisan paling belakang diantara seluruh kultivator yang menuju pusat kota. Mereka berenam telah mengenakan topeng khas mereka masing-masing. Bahkan Ririn juga telah ikut mengenakan topeng seperti lima orang temannya.
Andri dan Arya berjalan paling depan, diikuti oleh Denas dan Tang Xiao kemudian diikuti oleh Jessika dan Ririn. Jessika dan Ririn sesekali berbisik melanjutkan perbincangan mereka tadi malam.
Denas dan Tang Xiao lebih banyak diam. Bukan Denas yang tidak banyak bicara, Tang Xiao lah yang tidak fokus dengan apa yang dibicarakan Denas. Pemuda berambut biru itu masih melekat jelas dalam ingatannya tadi malam bersama dengan Rina, Puteri dari Kerajaan Nusantara yang tersembunyi. Denas yang mengetahui ada sesuatu yang terjadi dengan kakak ketiganya itu hanya diam dan tidak melanjutkan pembicaraannya.
Sedangkan Andri dan Arya sesekali membahas tentang dunia kultivasi dan kadang berbagi pencerahan tentang ilmu pedang. Andri juga merupakan seorang kultivator yang berjalan di jalan pedang.
Setelah cukup jauh berjalan, akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Di sana terdapat sebuah lapangan yang sangat besar. Di tengah lapangan itu terdapat dua arena besar yang duganakan sebagai tempat para kuktivator bertanding.
Di sekeliling arena telah tersedia tempat duduk dengan berbagai macam ukuran. Mulai dari yang megah, besar dan mewah hingga kursi-kursi biasa yang cukup untuk satu orang. Tak jauh dari arena terdapat dua layar besar yang akan menjadi tempat nama-nama peserta yang sedang bertanding
Di setiap tempat duduk yang besar dan mewah telah terdapat nama dan asal orang yang duduk di kursi itu. Ada tiga set kursi yang paling besar dan paling mewah diantara kursi-kursi mewah lainnya.
Satu set kursi diberikan kepada Keluarga Kerajaan Nusantara. Satu set diberikan kepada utusan dari Sekte Bintang Kejora. Satu set lagi diberkan kepada utusan Sekte Rembulan Emas Sedangkan kursi-kursi besar lainnya diberikan kepada Kekaisaran penyelenggara turnamen atau organisasi-organisasi besar. Salah satunya Organisasi Kafilah Dagang
Orang-orang sekitar tampak sangat kagum hanya dengan melihat tiga set kursi spesial yang berdiri megah itu. Di ujung lapangan terdapat podium mewah tempat para panitia turnamen.
TOOONNGG...
Suara gendang dipukul dengan keras menghentikan segala macam suara di lapangan besar.
Wuushh...
Seorang pria dengan tingkat kultivasi di ranah Holy Ancestor puncak terbang melayang-layang di tengah lapangan menarik minat seluruh kultivator yang hadir.
"Salam damai saudara semua. Perkenalkan nama saya Richard. Saya ditugaskan sebagai pembawa acara turnamen tahun ini." Ucap pria yang memakai jubah hitam itu.
"Selamat datang kepada seluruh kuktivator dari berbagai belahan dunia. Silahkan duduk di tempat yang telah disediakan." Lanjut pria itu sambil menunjuk ribuan kursi kosong yang mengeliling dua arena besar.
"Turnamen tahun sangat spesial karena kita kedatang tamu yang tidak disangka-sangka. Tamu kehormatan kita." Ucap pria itu terlihat bersemangat
" Yang pertama mari kami persilahkan Yang Mulia Raja dan Ratu dari Kerajaan Nusantara." Ucap pria itu sambil melentangkan tangannya lalu membungkuk.
Tepuk tangan membahana terdengar dengan keras dan lumayan panjang serta sorak sorai kegembiraan.
Dua orang yang berada di ranah Holy Ancestor puncak terbang dengan tenang lalu duduk di kursi yang telah disediakan untuk mereka setelah terlebih dahulu memberi hormat kepada seluruh orang yang di balas dengan tepukan tangan membahana.
Richard tampak bingung melihat kesana kemari seperti mrncari seseorang lalu dia menoleh ke arah Raja dan Ratu Kerajaan Nusantara yang dibalas anggukan kecil oleh Ratu.
Richard yang masih melayang itu mengangguk paham. Kemudian dia tersenyum tenang seperti biasa.
"Tamu terhormat yang kedua mari kita sambut utusan dari Sekte Rembulan Emas." Ucap pria itu membungkukkan badan.
Wushh...
Seorang pria paruh baya terbang dari podium dan duduk di atas kursi yang telah disediakan setelah memberi hormat kepada Raja dan Ratu Kerajaan Nusantara lalu kepada para kultivator di lapangan. Tepuk tangan kembali membahana dari para kuktivator.
"Tamu terhormat yang ketiga mari kita sambut utusan dari Sekte Bintang Kejora" Ucap Richard sambil membungkuk
Wuushh....
Seorang wanita cantik berada di ranah Holy Ancestor bintang sembilan puncak terbang dari podium menuju tempat duduknya. Dia memberi hormat kepada Raja dan Ratu Kerajaan Nusantara kemudian kepada pria paruh baya yang duduk di sebelah kanan Raja lalu kepada para kuktivator di lapangan. Setelah itu wanita cantik itu duduk di kursi sebelah kiri Ratu.
"Baiklah para kontestan sekalian, Turnamen Kultivatot antar benua dengan ini kami buka." Ucap Richard membentangkan tangannya.
Wuung.. Tar....
Wuung.. Tar...
Puut.putputput.. Puut...
Kembang api dan suara terompet ditiup menggema dari setiap sudut lapangan. Lalu di tengah-tengah arena muncul anak-anak kecil mengenakan seragam yang melakukan akrobat, ngedance, dan berbagai macam pertunjukan lainnya. Dua arena besar di tengah lapangan itu dipenuhi dengan anak-anak kecil terlatih yang melakukan pertunjukan dengan berbagai macam gaya. Ada juga diantara anak kecil yang memainkan trik-trik sulap lucu yang berhasil memukau para penonton. Banyak dari kultivator yang memberikan saweran kepada anak-anak kecil lucu dan imut itu. Termasuk kelompok Tang Xiao, mereka juga memberikan saweran yang tidak sedikit.
Upacara pembukaan berlangsung selama dua jam full. Para kultivator hampir dibuat lupa bahwa tujuan mereka ke sini adalah untuk bertanding menjadi pemenang. Akhirnya setelah pertunjukan selesai dan semua pemain akrobat kembali ke tempat mereka, Richard kembali ke tempatnya menyambut para tamu.
"Tuan-tuan yang terhormat, peraturan dalam turnamen kali ini akan sedikit berbeda dari dua puluh tahun kemarin. Bagi peserta yang mengikuti turnamen dua puluh tahun lalu akan lebih mengerti.
Saya akan menjelaskannya. Pertama, dilarang keras untuk membunuh di atas arena. Siapa yang dengan sengaja atau tidak, akan segera didiskualifikasi selamanya dari turnamen dan akan dikeluarkan dari Organisasi Kultivator Dunia.
Yang kedua, kemenangan akan ditentukan oleh kemenangan kelompok. Jadi kalian harus membuat kelompok yang terdiri dari lima orang tidak boleh lebih atau kurang. Penjelasan tentang kemenangan kelompok akan dijelaskan kemudian oleh wasit arena.
Yang keempat, turnamen tahun ini mendapat kuota sebanyak dua puluh orang pemenang. Sepuluh kuota dari Kerajaan Nusantara, lima kuota dari Sekte Bintang Kejora. Dan lima kuota terakhir dari Sekte Rembulan Emas. Luar biasa. Kali ini akan menjadi persaingan yang ketat. Jika tidak mempu jadi juara pertama setidaknya berusahalah jadi juara yang kedua puluh.
Dan yang terakhir, setiap kelompok yang akan bertanding di atas dua arena berbeda ini, bagi yang mampu berdiri sebagai pertama dan kedua akan di tandingkan lagi untuk mencari juara pertama, kedua, ketiga dan keempat di atas satu arena.
Tentu saja kalian bebas untuk membentuk kelompok dengan siapa saja dan dari mana saja. Kalian bebas menggunakan senjata jenis apapun namun dilarang keras menggunkan obat-obatan yang mampu meningkatkan kekuatan kalian dalam sekejap. Ingat wasit di atas arena adalah para kultivator ranah Holy Ancestor. Setiap gerakan kalian akan terlihat jelas di mata mereka. Jadi jangan harap-harap kalian mampu mencurangi pertandingan paling bergengsi di dunia ini.
Dan satu hal lagi, setelah kalian mendapat kelompok, segera daftarkan kelompok kalian kepada panitia agar kelompok kalian dapat tercatat dalam arsip catatan serta akan muncul di layar.
Demikian pembukaan dari saya, semoga kalian sukses." Setelah memberi penghormatan, Richard kembali ke Podiomnya diiringi tepuk tangan membahana dari ratusan dan mungkin ribuan kultivator.
Para Kultivator itu segera membentuk kelompok mereka masing-masing. Ada yang menawarkan, ada yang bernegoisasi dan ada juga yang memohon.
Tidak terkecuali kelompok Tang Xiao, kini mereka dalam dilema, sebab jumlah mereka ada enam sedangkan satu kelompok hanya boleh terdiri dari lima orang.
Andri, Arya, Tang Xiao, Denas, Jessika dan Ririn terdiam sesaat. Mereka benar-benar bingung harus bagaimana. Jika mereka memaksa jumlah, otomatis akan didiskualifikasi dari turnamen. Semua orang tenggelam dalam pemikirannya mencari solusi yang tepat tanpa harus menyakiti perasaan yang lainnya.
"Aku....." Ucap Ririn mengacungkan tangannya dan tersenyum lebar di balik topengnya. Tang Xiao dan yang lainnya menoleh ke arah Ririn.
"Aku yang akan pergi dari kelompok ini. Aku hanyalah orang baru di sini, jadi aku tidak ingin memisahkan pertemanan erat kalian karena keegoisanku." Ucap Ririn tenang.
"Tentu saja jika kita bertemu di atas arena, aku tidak akan kalah dengan mudah." Lanjut Ririn tersenyum lebar.
Tang Xiao dan yang lainnya bernafas lega namun juga sedikit tidak tega membiarkan gadis itu pergi dari kelompok mereka. Akhirnya setelah berpikir sesaat, Jessika memeluk Ririn.
"Tenang saja, setelah turnamen selesai cepatlah kembali ke kelompok ini, kami semua menanti kembalinya dirimu." Ucap Jessika tersenyum manis diikuti anggukan kepala oleh Tang Xiao dan yang lainnya.
"Perpisahan kelompok ini hanya untuk sementara, jika sudah selesai, kita bisa bersama lagi." Tambah Denas menepuk-nepuk bahu Ririn.
Ririn mengangguk-angguk pelan. Kemudian dia menatap Tang Xiao dalam sampai membuat pemuda itu sedikit gelisah. Dengan perlahan, Ririn berjalan mendekati Tang Xiao. Setelah sekitar jarak satu meter Ririn berhenti dan kembali menatap Tang Xiao dalam sesaat kemudian, Ririn berbalik dan pergi dari kelompok Tang Xiao. Terlihat sekilas mata Ririn berkaca-kaca.
Jessika segera menarik lengan Tang Xiao yang kebingungan dan berjalan agak menjauh dari kerumunan. Lalu Jessika menceritakan apa yang dikatakan oleh Ririn kepadanya mengenai perasaan kepada Tang Xiao.
Hal itu membuat Tang Xiao terperanjat kaget. Dia terdiam sesat tidak tahu harus berbicara apa.
"Lalu apa yang membuat kakak kedua terlihat lebih susah dariku?" Tanya Tang Xiao yang menebak ada sesuatu yang disembunyikan oleh kakak keduanya itu.
Jessika menghela nafas. "Huff dasar bodoh, ada seorang lagi yang sudah lebih dulu menceritakan perasaanya, bahwa orang itu telah mencintai dan menyukaimu. Bahkan orang itu menceritakan perasaanya sudah lama, jauh lebih lama dari nona Ririn." Ucap Jessika sambil menepuk jidatnya.
Tentu saja hal itu semakin menambah kebingungan dalam diri Tang Xiao. Saat ini dia tidak sedang memikirkan siapa orang satunya yang menyukainya, namun dia sedang memikirkan bagaimana perasaannya terhadap puteri dari Kerajaan Nusantara yang telah berhasil membuat jantungnya untuk berdebar-debar pertama kali.
"Adik ketiga kamu kenapa?" Tanya Jessika yang melihat Tang Xiao diam dan seperti sedang melamun.
"Ah aku hanya tidak habis pikir bagaimana mereka bisa menyukaiku tanpa melihat wajhaku." Jawab Tang Xiao tergagap.
"Cinta tidak memandang fisik. Ketika dia telah datang tidak ada satupun yang sanggup menghadang, begitu juga ketika dia pergi, jangan berharap untuk kembali." Balas Jessika menepuk-nepuk pundak Tang Xiao sebagai isyarat untuk berpikir tenang lalu pergi meninggalkannya sendirian.
Tang Xiao termenung sesaat. Dia memang tidak bisa mengartikan perasaannya kepada Rina, apakah dia benar-benar menyukai gadis itu atau sekadar senang terhadapnya.
Tang Xiao menggelengkan kepala memutuskan tidak memikirkan terlalu jauh. Dia berjalan menyusul Jessika yang sudah jauh menuju kelompoknya. Sampai di sana, Andri dan Arya tidak ada di tempat.
"Kemana kakak pertama?" Tanya Tang Xiao kepada Denas. Entah kenapa, Tang Xiao sendiri merasa lebih nyaman berdiri di samping Denas. Makanya setelah dia datang, Tang Xiao langsung menghampiri Denas.
"Kakak pertama dan Arya pergi menuju tempat panitia untuk mendaftarkan kelompok kita. Oh iya tadi kakak pertama sempat memikirkan nama kelompok kita yaitu Ashura Muda. Bagaimana menurutmu kak?" Ucap Denas menjawab pertanyaan Tang Xiao.
Tang Xiao mengangguk pelan memikirkan nama kelompok mereka.
"Ok ok aja.... Yang penting itu nanti kita harus berhasil mendapat tempat pertama." Jawab Tang Xiao sambil memainkan rambut Denas membuat pemuda itu tersenyum.
"Benar kak..." Jawab Denas singkat.
Jessika hanya diam saja memperhatikan tingkah kedua adiknya itu. Namun hatinya saat ini ketar ketir memikirkan masalah perasaan Ririn terhadap Tang Xiao. Dia menghela nafas.
"Setidaknya telah kusampaikan perasaanmu, saudari Ririn." Gumam Jessika memijat keningnya yang terasa berdenyut. Gadis itu masih teringat dengan percakapan mereka tadi malam.
"Saudari Jessika sepertinya aku menyukai adik ketigamu." Ucap Ririn saat itu malu-malu.
"Lah saudari Ririn belum melihat wajahnya, kenapa bisa menyukai adik ku itu?" Tanya Jessika sedikit bingung.
"Entah lah... Hanya saja aku merasa tenang saat berada di dekatnya." Jawab Ririn jujur. Dia memang merasa nyaman saat berada di dekat Tang Xiao.
"Rasa nyaman tidaklah bisa menjamin saudari bisa menyukai adik ketigaku." Ucap Jessika. Dia memang sedikit keberatan jika Ririn sampai menyukai adik ketiganya.
"Tentu saja saudari. Namun hatiku merasa senang saat memandanganya. Jantungku berdebar kencang saat mengingatnya." Ucap Ririn sambil memandang lurus ke depan seolah sedang menghayalkan Tang Xiao di depannya.
"Lantas, bagaimana saudari ingin?" Tanya Jessika yang mengerti kenapa gadis di depannya ini mengajaknya berbicara.
"Aku minta tolong saudari Jessika sampaikan kepada tuan Tang mengenai perasaanku ini. Aku malu mengatakannya langsung." Ucap Ririn malu.
Jessika menghela nafas berat. "Saudari Ririn, jika kamu mengatakan ini beberapa bulan lalu, mungkin kamu masih mendapat kesempatan." Jessika menghentikan ucapannya untuk melihat reaksi Ririn yang terlihat masih biasa-biasa saja.
"Tapi sayangnya sudah ada seseorang yang menceritakan perasaannya kepada adik ketigaku, seperti kamu ini saudara Ririn." Ucap Jessika tenang namun sedikit merasa tidak enak.
"Apa? Siapa itu?" Tanya Ririn sedikit shok.
"Maaf saudari Ririn, bukannya aku tidak ingin memberitahumu namun aku sudah berjanji kepadanya untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapapun, termasuk adik ketigaku." Jawab Jessika lemas.
Ririn terdiam memikirkan ucapan Jessika. Tidak ada kebohongan dalam ucapan maupun pandangan mata Jessika. Itu berarti, dia memang mengatakan yang sebenarnya. Seketika Ririn memegang dadanya yang tiba-tiba sakit tanpa sebab. Dia tidak tahu sakit yang tiba-tiba entah dari mana, namun terasa begitu perih.
Sesaat kemudian Ririn tersenyum lebar. Matanya berbinar cerah dan penuh semangat dia bangkit dari tempat duduknya kemudian berkata, "Aku tidak akan menyerah terhadap orang aku cintai semudah itu."
Gadis itu mengepalkan tangannya, berkata dengan semangat dan tegas seolah sudah memutuskan rencana yang pasti kedepannya. Jessika yang melihat itu hanya menghela nafas berat. Dia sudah menebak apa yang akan dilakukan Ririn, sebab dia sendiri pernah mengalaminya.
Karena hal itu, saat ini Jessika menjadi serba salah. Dia tidak terlalu setuju dengan Ririn, dia lebih setuju dengan gadis yang pertama kali menceritakan perasaanya terhadap Tang Xiao kepadanya. Namun jika adik ketiganya memilih gadis itu, dia juga tidak bisa melarangnya untuk memilih siapa saja.
Sekali lagi, Jessika hanya diam melihat Tang Xiao berbicara dengan Denas, tampaknya pembicaraan mereka sangat asik hingga tidak mempedulikan Jessika yang berpikir berat.
Tak lama kemudian Andri dan Arya kembali sambil membawa sebuah lencana perak sebesar kepalan tangan orang dewasa. Di tengah lencana itu terdapat ukiran kepala Naga berwarna merah delima. Andri memberikan lencana itu kepada teman sekelompoknya.
"Ini adalah lencana yang diberikan kepada kelompok kita. Kata para panitia, ini adalah lencana spesial karena di dalam kelompok kita ada beberapa nama yang mereka perhatikan." Ucap Andri sebelum yang lain bertanya sambil melirik Tang Xiao.
"Wooh... Ternyata kelompok kita cukup beruntung." Gumam Denas sambil memperhatikan lencana di tangannya.
"Lencana ini hanya menjadi penyemangat kita di arena. Kita tidak bisa mendapat kemenangan dengan mengandalkan lencana ini. Hanya dengan kekuatan kita sendiri, barulah kita bisa meraih kemenangan dengan puas." Ucap Arya semangat mengepalkan tangan ke atas.
"Ya..." Ucap Tang Xiao, Andri, Jessika dan Denas ikut mengepalkan tangan ke atas.
Tak lama berselang, pertandingan pertama pun dimulai. Kelompok Tang Xiao berdiri di dekat arena pertama. Di layar telah tertulis secara otomatis nama-nama peserta beserta kelompoknya pada pertandingan pertama.
...ARENA 1...
...**BABAK ELIMINASI...
...YOUNG ASHURA VS BLACK HEART**...
...Arena 2...
...**BABAK ELIMINASI...
...BLUE DRAGON VS RAINBOW SEVEN**...
Kelompok Tang Xiao tidak menyangka bahwa mereka akan menjadi peserta pertama pada pertandingan ini. Mereka saling pandang sesaat baru kemudian melompat bersama ke atas arena. Seketika kelompok Tang Xiao yang berpakaian sedikit lusuh itu menjadi pusat perhatian sekitaran arrna pertama. Terlebih mereka mengenakan topeng serta tingkat kultivasi yang hanya berada di ranah Grand Master kecuali Arya yang tidak menyembunyikan kultivasinya yang berada di ranah Legend bintang dua.
"Kasihan sekali pemuda jenius itu harus satu kelompok dengan para pemuda lemah."
"Ya mereka hanya akan menjadi beban tim untuk si pemuda jenius itu."
"Ckck.. Masih muda dan sudah berada di ranah Legend. Sayangnya kenapa dia memilih sekelompok pemuda lemah itu."
Orang-orang di luar arena menyayangkan Arya berada di kelompok orang-orang lemah seperti Tang Xiao dan lainnya. Namun kelompok Tang Xiao hanya menanggapi dengan senyum manis dan mengangguk takzim. Mereka menganggap omongan orang-orang disekitar mereka sebagai lelucon sebelum pertandingan.
Kelompok Black Heart melompat ke atas arena. Merupakan kelompok yang kuat. Terendah diantara mereka berada di ranah Expert bintang lima. Yang paling kuat berada di ranah Saint bintang dua.
Orang-orang bertepuk tangan dan mengeluk-elukan kelompok Black Heart. Bahkan diantara mereka berani membuat taruhan mengeluarkan koin mereka masing-masing. Rata-rata yang bertaruh hanya untuk kelompok Black Heart tidak ada satupun yang bertaruh untuk kelompok Tang Xiao kecuali seorang wanita bercadar di tangan kanannya membawa seruling yang sangat indah.
Perempuan bercadar mengeluarkan satu Beast Core tingkat sembilan lalu berkata, " Aku bertaruh untuk kelompok Young Ashura."
Orang-orang sekitar terdiam sejenak karena Core Beast yang dikeluarkan oleh wanita bercadar itu adalah sesuatu yang sangat sulit di dapat bahkan oleh kultivatir ranah Saint Expert sekalipun. Namun orang-orang sekitar bersorak melihat taruhan yang luar biasa itu.
Di balik cadar, Rina tersenyum memandang lekat Tang Xiao yang juga sedang memandang ke arahnya. Gadis itu mengangkat suling di tangan kanannya lalu menunjuk-nunjuk suling itu.
Tang Xiao tersenyum lebar mengerti maksud Rina lalu mengangguk pelan. Andri, Arya, Jessika dan Denas yang tidak mengerti apa yang telah terjadi diantara Tang Xiao dan Rina hanya bisa melongo sesaat.
"Sepertinya masih ada yang mendukung kelompok kita." Gumam Arya kemudian.
"Mungkin gadis itu adalah kekasih gelap adik ketiga yang tidak kita ketahui." Ucap Andri menggoda Tang Xiao.
Jessika segera menyikut lengan Andri dan menaruh jari telunjuknya di mulut Andri sebagai isyarat diam.
"Hussh... Gadis itu adalah puteri dari Kerajaan Nusantara." Ucap Jessika sambil melirik seseorang.
"Upss..." Andri segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu memandang lurus ke depan dimana lawannya berada, begitu juga dengan Arya dan Jessika.
Denas hanya diam saja dan memandang Rina tajam sesaat lalu fokus dengan lawan di atas arena.
Hup...
Seorang pria bertudung turun ke atas arena. Pria itu berada di ranah Holy Ancestor bintang lima dan terlihat sangat kuat. Pria itu bertindak sebagai wasit.
"Ketua dari masing-masing kelompok silahkan maju ke depan." Ucap pria bertudung itu tenang.
Andri maju ke depan mewakili kelompok Young Ashura. Sedangkan Kelompok Black Heart diwakili pria berumur Empat puluh-an tahun yang berada di ranah Saint bintang dua. Kedua ketua itu saling memandang dengan tajam.
Menyerah atau keluar dari arena dinggap gagal. Selama masih ada satu orang yang berdiri di arena masih belum dianggap kalah. Sekarang kalian boleh kembali." Ucap pria itu singkat namun tegas sambil mengeluarkan auranya yang kuat.
Kedua ketua itu kembali ke kelompok mereka masing-masing. Pria berumur empat puluhan itu tampak mengejek kelompok Tang Xiao. Dia mengacungkan jempolnya ke bawah ke arah kelompok Andri. Dia tersenyum mengejek.
"Ughh... Akan kupatahkan kedua lengan orang itu." Gumam Denas menahan amarahnya.
"Bersiapp..." Wasit memberi aba-aba.
"Mulai..." Ucap wasit itu kemudian terbang setinggi tiga meter dari atas arena. Dia memperhatikan pertandingan kedua kelompok itu dari atas.
Wuushh...
Seorang pria dari kelompok Black Heart berlari kencang menuju tengah arena.
Wuushh...
Jessika berlari maju menyambut pria dari kelompok Black Heart.
Wuushh..
Kedua tangan masing-masing berhadapan saling beradu mengeluarkan fluktuasi udara. Jessika mundur beberapa langkah ke belakang, begitu juga dengan pria dari Black Heart. Serangan tadi hanyalah pemanasan untuk mengetahui kekuatan lawan.
Sorak sorai terdengar cukup ramai dari sekitar dua arena. Arena yang kedua juga sudah mulai pertempuran. Arena sebelah terlihat cukup rumit karena kekuatan kedua kelompok tampak seimbang.
Wushh..
Jessika melesat cepat mengayunkan tendangannya ke arah leher lawan. Pria dari pihak lawan yang tidak tahu dengan serangan Jessika yang tiba-tiba masih mampu mencondongkan badannya ke belakang menghindari libasan tendangan kaki kanan Jessika yang mengandung energi cukup banyak.
Pria itu mundur sambil melentingkan tubuhnya ke udara lalu mengumpulkan energi di telapak tangannya kemudian menghantamkannya ke arah Jessika.
Telapak Pemisah Raga
Pria itu mengeluarkan jurus tapak putih ke arah Jessika yang disambut dengan pedang.
Tebasan Pemecah Langit
Wusshh..
Dua energi saling menghantam mengeluarkan ledakan yang cukup keras. Pria itu sedikit terpental ke belakang dan hampir saja dia jatuh dari arena. Sedangkan Jessika hanya mundur beberap langkah menghindari ledakan energi.
"Ada yang tidak beres." Gumam pria itu. "Semakin lama kekuatan wanita semakin besar. Sepertinya dia telah menyembunyikan kekuatannya."
Dia melihat ke arah kelompoknya yang masih berdiri di pinggir arena menonton pertandingannya. Pria yang bernama Lincan itu memberi isyarat kepada kawannya untuk membantunya.
Wushh...
Seorang wanita yang sama kultivasinya dengan Lincan melompat naik dan berdiri di sampingnya. Di layar tertulis nama wanita itu Mira.
"Jangan meremehkan wanita itu. Dia tidak terlihat seperti adanya." Ucap Lincan kepada Mira. Wanita itu mengangguk.
Jessika tersenyum lebar melihat pria tadi memanggil temannya. "Ini semakin membuatku mudah mengalahkan kalian." Gumam Jessika kepada Lincan dan Mira.
"Mari kita buktikan." Balas Mira.
Wushh..
Wussh..
Lincan dan Mira melesat menyerang Jessika. Mira dan Lincan sama-sama menggunakan pedang sebagai senjatanya. Mira mengayunkan pedangnya ke arah tubuh Jessika sedangkan Lincan mengarahkan pedangnya ke arah jantung Jessika.
Taang...
Pedang Jessika menangkis pedang Mira sambil berputar di udara menghindari tusukan pedang Lincan. Jessika mengambil kesempatan itu dengan menghantamkan kaki kirinya ke arah leher Lincan yang tidak siap menerima serangan balik Jessika yang tiba-tiba dan cepat itu.
Wuuushh..
Tubuh Lincan keluar arena akibat tendangan Jessika.
Woohh...
Orang-orang terkaget dengan serangan tak terduga Jessika yang masih berputar di udara itu. Mereka mengeplkan tangannya melihat keidahan serangan itu dan tambah bersemangat.
Mira tampak melongo melihat rekannya telah keluar arena. Dia juga tidak melihat tendangan Jessika ke leher Lincan dan tau-tau rekannya itu sudah keluar arena.
Mira menggenggam erat pedangnya. Wajahnya terlihat serius.
Tebasan Seribu Gunung
Mira mengeluarkan jurus dan menebas Jessika. Energi pedang yang keluar dari pedang Mira berhasil membuat terpotong ujung rambut Jessika saat menghindarinya.
Sorak sorai kembali ramai di arena satu. Jessika tersenyum manis melihat ujung rambutnya di lantai. Dia memang sengaja menghindar dan tidak membalas serangan, agar kekuatannya tidak terlalu terekspos di babak eliminasi ini.
Wuushh...
Mira kembali melesat mengayunkan pedanganya. Begitu juga dengan Jessika yang melesat sambil mengayunkan pedangnya.
Tang... Ting ting ting
Suara pedang saling beradu menjadi ritme yang terasa menyenangkan bagi para pendekar. Suara pedang beradu sudah menjadi bagian kehidupan para kultivator.
Jessika dan Mira bertukar beberapa jurus pedang membuat penonton bersorak sorai gembira. Terlihat bahwa Mira sudah mulai kewalahan menyerang Jessika. Mira yang awalnya menyerang kini mulai sedikit demi sedikit terpojok saat menyerang Jessika. Terlihat dengan jelas bahwa penyerang yang seharusnya memojokkan kini berbalik terpojok.
Jessika yang memang telah mengendalikan alur pertempuran sejak awal, terlihat mulai membalas serangan Mira.
Crash..Crash crash..
Jessika berhasil melukai lengan, punggung, dan kaki Mira hingga membuat wanita itu meringis menahan perih. Dia masih terlihat tidak menyerah.
Crash..
Jessika kembali melukai lengan mira yang sebelah hingga hampir membuat pedang di tangannya terjatuh. Mira mulai tidak bisa mengendalikan nafasnya. Dadanya mulai terlihat naik turun dengan cepat. Dan peluh telah membasahi tubuhnya.
Crashh..
Traang...
Jessika kembali melukai lengan kanan Mira dan membuat pedang di tangannya terjatuh. Dan dengan cepat, Jessika telah berada di belakang Mira dan menghunuskan pedangnya di leher Mira.
"Menyerah atau mati?" Ucap Jessika dingin.
"Aku menyerah..." Jawab Mira sambil mengatur nafasnya yang memburu.
Jessika tersenyum lebar. Dia menarik pedangnya dan membantu Mira berdiri. Dia mengeluarkan sebotol giok dari lengan jubahnya lalu menyerahkannya kepada Mira.
"Untuk obat luka luar bisa sembuh dengan cepat. Sebagai wanita cantik, rasanya tidak cocok dengan bekas luka-luka seperti itu." Ucap Jessika tersenyum lebar.
Mira menerima botol giok itu dengan terkejut. "Terima kasih saudari Jessika." Ucap Mira menundukan badan.
Jessika kembali berjalan ke pinggir arena menunggu lawan selanjutnya dari kelompok Black Heart.
Wuushh...
Ketua kelompok Black Heart melompat ke atas arena. Dia tampak geram kepada Jessika.
"Kakak kedua, patahkan tangannya untukku." Teriak Denas dari bawah arena. Orang-orang sekitar bersorak gembira mendengar ucapan Denas. Tentu saja orang-orang itu tidak ada yang berani meremehkan Jessika begitu melihat gadis itu menang dengan mudah melawan dua kultivator yang lebih kuat darinya bahkan tanpa terluka sedikitpun.
Permainan pedang Jessika di atas arena membuat orang-orang dari Kaisar Gama menjadi penasaran.
"Bukannya itu jurus dari Sekte Azure Dragon?" Tanya Kaisar Gama penuh selidik.
"Benar yang mulia. Dan gadis itu bernama Jessika." Ucap ajudan Kaisar yang berdiri di sampingnya.
"Hemm... Jika begitu dia adalah puteriku. Hah... Sekarang ini dia sudah melebihi ekspektasiku." Ucap Kaisar Gama senang tersenyum lebar.
"Benar Yang Mulia, memang tidak salah memasukkan tuan peteri ke Sekte Azure Dragon." Timpal ajudan kepercayaan Kaisar.
"Setelah ini aku ingin bertemu dengannya dan berbicara dengan tenang. Aturkan waktu untukku." Ucap Kaisar Gama.
"Baik Yang Mulia." Ucap Ajudan pribadi Kaisar sambil menulis sesuatu dalam bukunya.
Sementara itu, wanita yang berasal dari Sekte Bintang Kejora juga merasa terkesan dengan permainan pedang Jessika. Dia mengenal dengan baik jurus pedang itu.
"Dia merupakan salah satu kandidat yang cocok." Gumam wanita itu pelan seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Sedangkan pria paruh baya dari Sekte Rembulan Emas terlihat biasa saja. Dia masih belum menemukan hal menarik di dua arena pertandingan yang berlangsung.
Wuushh...
Jessika dan pria berumur empat puluhan tahun itu saling melesat dan mengeluarkan kekuatan mereka masing-masing. Jessika kembali mengeluarkan jurus Tebasan Pembelah Langit yang disambut dengan Tinju Raga Muji oleh pria empat puluh tahun yang bernama Ling Hao itu.
Boomm..
Kedua energi saling berbenturan menciptakan fluktuasi udara yang cukup hebat.
Wuushh..
Kedua orang itu saling menyerang. Tidak peduli dengan sekitar, Jessika terus melancarkan jurus pedangnya hingga hampir membuat Ling Hao kewalahan.
Hup..
Pria itu mundur ke belakang lalu mengeluarkan tombaknya dari cincin ruang dan dengan cepat menyambut serangan Jessika yang mengarah ke lengan kananannya.
Tang ting tak tak ting
Suara tombak dan pedang saling beradu memercikan bunga-bunga api kecil yang sekilas pandang terlihat seperti kunang-kunang yang berterbangan. Tampak Ling Hao begitu lihai memainkan tombaknya hingga membuat Jessika sedikit kewalahan dan harus mundur beberapa langkah.
"Anak muda, bagus sekali. Kamu berhasil membuatku mengeluarkan tombakku, di usiamu ini masa depanmu sangat cemerlang." Ucap Ling Hao saat Jessika mundur beberapa langkah. Ling Hao pun menghentikan serangannya membiarkan Jessika mengambil nafas. Sebetulnya dia juga hampir kehabisan nafas.
"Tung Ling..." Ucap Jessika sambil melihat layar di besar di samping arena untuk mengetahui nama laki-laki di depannya.
"Kita tidak tahu siapa yang anda maksud. Hanya saja anda telah meremehkan kelompok kami, maka sebagai tebusan kesalahan anda lengan kiri anda sebagai bayarannya." Ucap Jessika langsung melesat cepat ke arah Ling Hao.
Ling Hao menyambut serangan pedang Jessika yamg mengarah ke lengannya dengan ujung tombaknya. Pria itu berputar di udara menghindari tendangan kaki kanan Jessika yang mengarah ke rusuknya.
Wuushh...
Kesempatan itu diambil Jessika dengan melentingkan tubuhnya ke atas dan mengayunkan pedangnya ke tubuh Ling Hao yang masih berputar.
Lung Hao yang masih berputar di udara segera mengangkat tombaknya menangkis serangan pedang Jessika yang hendak memotong tubuhnya.
Ling Hao berhasil menangkis pedang Jessika namun membuat pria itu berguling-guling di arena dan memuntahkan darah. Pria itu tampak kaget karena merasakan luka di dadanya.
"Gadis ini menyembunyikan kultivasinya, aku takut dia di ranah yang lebih tinggi dariku. Tapi tidak mungkin usianya yang baru enam belas tahun, apa panitia yang salah? Itu juga tidak mungkin." Batin Ling Hao sambil bangkit dan berdiri tegak. Dia menggunakan energi tenaga dalamnya untuk menyembuhkan luka dalamnya.
"Anak muda, sepertinya pertarungan ini akan panjang namun tenang saja aku tidak akan kalah apalagi mengambil lenganku." Ucap Ling Hao sinis.
Jessika tersenyum lebar. "Oh anda terlalu percaya diri tuan Ling. Kita lihat saja bagaimana lengan anda lepas." Ucap Jessika membalas Ling Hao.
Wuush...
Kedua orang itu kembali melesat. Kali ini Jessika mengeluarkan salah satu jurus pedang terkuatnya.
Pedang Langit Biru
Jessika yang beradu senjata dengan Ling Hao membuat gerakan tipuan dan berhasil mengecoh pria itu. Dengan cepat Jessika telah berada di belakang Ling Hao dan menebas lengan kanan pria itu lalu menendangnya ke udara, kemudian dengan gerakan cepat, Jessika memotong-motong lengan kanan Ling Hao menjadi potongan-potongan daging berbentuk kotak-kotak.
Wuushh...
Crrashh..
Agghh..
Darah segar mengucur dari lengan kanan Ling Hao. Pria itu menjerit menahan perihnya lengan kanannya yang telah terpotong.
Wush..
Wasit yang mengawasi pertandingan dari atas segera menghentikan pertandingan dan membantu Ling Hao meredakan perih di tangan Ling Hao.
Suasana arena satu seketika hening melihat kengerian yang dibuat Jessika. Tidak ada yang menyangka seorang kultivator di ranah Grand Master mampu mengalahkn bahkan memotong lengan kultivator di ranah Saint. Padahal ada jarak dan jenjang yang sangat jauh diantara kedua kultivator itu.
Wasit berjubah hitam itu melepaskan tudungnya. Dia menyatakan bahwa Ling Hao tidak dapat melanjutkan pertempuran.
"Ada lagi perwakilan Black Heart yang maju?" Tanya wasit itu sambil menatap kelompok Black Heart yang tampak terkejut itu. Seketika anggota Black Heart itu menggeleng. Wasit itu tersenyum lebar dan menyuruh para petugas medis untuk membawa Ling Hao turun ke arena.
"Dengan ini saya umumkan, pertandingan ini dimenangi kelompok Young Ashura." Ucap lantang wasit itu.
"Woooooooo......"
Koor kemenangan dari kelompok Tang Xiao terdengar cukup keras. Mereka saling mengepalkan tangannya ke udara. Orang-orang sekitar di buat kecewa karena orang yang mereka remehkan ternyata pemenang dari pertandingan barusan.
Yang lebih kaget tentu saja adalah Rina. Dari pertarungan barusan dapat diketahuinya bahwa gadis bertopeng itu bukan gadis biasa dan bisa jadi sekuat dirinya. Dia memang bertaruj untuk kelompok Young Ashura hanya karena Tang Xiao ada di kelompok itu. Namun ternyata kelompok itu menang dengan indah hanya karena satu orang.
"Benar-benar tidak sia-sia aku mengikuti ternamen ini." Gumam Puteri Rina dari balik cadarnya.
Jessika yang masih berdiri di atas arena mengangkat pedangnya ke udara sebagai isyarat untuk membuat diam para penonton di arena satu.
"Saya Jessika mewakili kelompok Young Ashura mengatakan, jika ada yang berani menganggap remeh kami, kalian akan mendapat akibat yang sama seperti kelompok Black Heart." Ucap Jessika tegas dan dingin lalu turun dari arena bergabung bersama kelompoknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ada yang mau menamai kelompok Tang Xiao dengan yang lebih baik? Silahkan komen di bawah🤗🤗