The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 8. PERSAHABATAN



Sekte Bambu Emas


Saat ini sekte Bambu Emas yang termasuk dalam salah satu sekte besar aliran putih sedang terjadi kegemparan. Pasalnya Sang Patriak Sekte yang bernama Han Shan itu yang melakukan meditasi tertutup, telah kembali setelah sehari kepergian Tang Xiao. Dulu sebelum meditasi, Hang Shan berada di tingkat permata, kini telah berada di tingkat Dewa Bumi. Suatu lonjakan tingkat yang luar biasa. Walaupun hanya mengandalkan tenaga dalam, bukan berarti tak ada kemajuan. Dewa Bumi merupakan tingkat kultivasi yang langka di benua ini. Metode kultivasi dengan Qi sudah hampir tidak ada di benua ini. Hanya keluarga kekaisaran saja yang masih menggunakan metode kultivasi Qi. Karena itulah benua ini menjadi benua terlemah di dunia ini.


Setelah Han Shan kembali, dia segera mencari anak angkatnya itu. Ketika dia menemukan surat di kamarnya, dia begitu marah. Orang-orang kepercayaannya segera dikumpulkan meminta penjelasan.


"Cepat jawab, kenapa kalian membiarkan anak ku pergi" Bentak Han Shan sambil mengeluarkan aura Dewa Buminya menekan udara disekitar.


"Mohon sebentar Patriak. Bukannya kami tidak melarang. Tapi.... " Seorang diantara kelima orang kepercayaan Han Shan menjawab dengan terbata-bata. Dia tidak jadi melanjutkan pembicaraannya.


" Tapi kenapa hah? Jawab!!" Han Shan menambah tekanan udara disekitasnya. Membuat kelima orang di depannya kesulitan bernafas.


"Mohon maaf Patriak.. .... " Kemudian orang itu pun menceritakan kejadian yang selama ini dialami Tang Xiao anak angkat Han Shan. Mulai sejak beberapa tahun lalu. Hingga membuat Tang Xiao pergi meninggalkan sekte karena tidak betah selalu di ganggu. Mereka berkata, kalo ada orang yang melaporkan ke Patriak, maka keluarga orang itu akan langsung dihancurkan oleh Keluarga Bangsawan Lin yang termasuk 4 keluarga utama pilar kekaisaran.


Han Shan yang mendengar itu mengeluarkan aura Dewa Buminya lebih besar. Ruangan tempat mereka bergetar hebat, bukan hanya ruangan itu, beberapa ruangan di dekatnya ikit bergetar. Beberapa murid dan tetua berlarian keluar mencari tahu apa yang terjadi. Di luar mereka tidak menemukan apa pun. Namun sebuah teriakan dari dalam ruangan Patriak mengejutkan mereka


"Panggil Wakil Ketua Lin Hei dan anaknya ke sini sekarang juga." Teriakan itu dicampur dengan niat membunuh yang pekat, membuat orang-orang merinding ketakutan dan berlarian mencari keberadaan anak dan ayah tersebut. Setelah beberapa saat, orang yang mereka cari tak kunjung ketemu. Salah seorang tetua kepercayaannya berbicara dengan tergopoh-gopoh


"Wakil Patriak sedang pergi bersama beberapa murid ke hutan mencari permata siluman dan latihan terbuka di alam." Ucapa orang itu.


Han Shan menarik auranya kembali. Membuat orang-orang di sekitar merasa sedikit lega. Mereka baru sadar jika Han Shan sudah mencapai tingkat kultivasi Dewa Bumi hanya dalam sekejap. Membuat kelima orang itu bersuka cita.


"Selamat Patriak. Anda telah berhasil menerobos ke tingkat yang mengagumkan. Sekarang sekte kita bisa disandingkan dengan sekte kerajaan" ucap mereka sambil merunduk. Sekte kerajaan ada sekte yang dikhususkan ke keluarga kerajaan sendiri termasuk keluarga utama empat pilar Kekaisaran. Sekte kerajaan adalah sekte terbesar aliran putih. Patriak Sekte Kerajaan berada pada tingkat Dewa Bumi tahap akhir.


Han Shan menghela nafas kemudian menganggukkan kepala. "Maaf atas sikapku tadi. Harusnya aku lebih sabar dan lebih tenang.


"Tidak masalah Patriak. Kami juga sudah tidak betah dengan sikap mereka yang begitu arogan. Walaupun hanya keluarga cabang, tapi mereka begitu arogan. Kami sudah muak dengan mereka. Bahkan beberapa Tetua ingin melakukan pemberontakan" Balas kelima orang itu bergantian. Mereka sangat mengenal Patriak mereka. Seorang yang selalu bersikap tenang. Namun akan sangat marah jika menyangkut anaknya itu. Patriak sendiri tidak mempunyai istri atau anak. Sehingga dia sangat menyayangi Tang Xiao bagai anak sendiri. Selama ini Han Shan selalu berusaha mencari obat agar anaknya itu bisa mempunyai tenaga dalam. Bahkan dia telah meminta bantuan Kaisar Yan yang menjadi sahabatnya selama ini.


Ya, Kaisar Yan yang memerintahkan Kekaisaran Yan saat ini adalah dua orang bersahabat di masa lalu. Mereka bertualang ke berbagai daerah di benua ini. Saat itu Kaisar Yan sebagai Putra Mahkota tidak merasa tinggi atas kedudukannya. Dia selalu dekat dengan rakyat. Bahkan saat itu rakyat menjulukinya sebagai Putra Rakyat Bermahkota. Kaisar Yan juga seorang Kultivator jenius seperti leluhurnya dahulu yang menyatukan Benua ini. Sedangkan Han Shan saat itu yang masih seorang tetua termuda di Sekte Bambu Emas sering mengambil misi di luar sekte. Mereka bertemu secara tak terduga dan langsung akrab seolah-olah mereka sahabat lama yang telah terpisah. Saat itu juga mereka langsung bertualang. Kaisar Yan seorang Kultivator pengguna Qi tidak merasa sombong terhadap Han Shan seorang pendekar pengguna tenaga dalam. Kaisar Yan sudah sering menawari tekhnik Kultivator ke Han Shan namun selalu menolaknya. 'Aku tidak pantas Yan. Aku bukan keluarga Kaisar. Jika aku menerima tekhnik dari mu berarti aku telah berkhianat ke guru dan sekte ku. Jadi maaf aku tak bisa menerimanya'. Tolak halus Han Shan. Karena sifatnya itu, Kaisar Yan sangat senang bersahabat dengan Han Shan yang tidak memanfaatkan orang lain demi keuntungan pribadi. Seiring waktu berjalan, kedua sahabat itu menjalani kehidupan masing-masing. Kaisar Yan menggantikan kedudukan ayahnya dan naik takhta. Dalam kepemimpinan Kaisar Yan, dia berhasil bekerja sama dengan beberapa kerajaan dari beberapa benua untuk menghancurkan aliansi aliran hitam dengan Sekte Pemuja Iblis. Keberhasilan yang belum pernah dilakukan para pendahulunya. Sementara itu Han Shan juga dinobatkan sebagai Patriak Sekte Bambu Emas pada saat berumur 30 tahun. Sama seperti Kaisar Yan dinobatkan. Hubungan kedua sahabat ini terus terjalin hingga sekarang. Tang Xiao pernah bertemu dengan Kaisar Yan sekali ketika mendatangi Sekte Bambu Emas. Namun saat itu Kaisar menyamar menjadi rakyat biasa hingga tak terjadi kegemparan. Kaisar Yan bertujuan mengobati Tang Xiao seperti permintaan Han Shan. Namun ketika mengetahui kondisi Tang Xiao, Kaisar Yan tak bisa berbuat apa-apa. Namun kunjungan Kaisar Yan itu sangat membekas di hati Tang Xiao hingga saat.


Saat ini Han Shan sedang memikirkan bagaimana nasib anaknya diluar sana. Namun dia punya firasat bahwa anaknya itu baik-baik aja. Walau bagaimana pun dia tetap memerintahkan beberapa tetua kepercayaannya untuk pergi mencari keberadaan anaknya itu. Lima orang tetua ini adalah teman sejak Han Shan ke sekte, dan teman yang paling dekat dengannya. Kelima tetua itu adalah lima tetua utama yang berdiri di tingkat 5 besar setelah wakil Patriak. Kelima Tetua itu memegang peran penting dalam Sekte. Salah satunya keuangan Sekte. Dua Patriak pergi mencari keberadaan Tang Xiao. Sedangkan yang lain membahas tentang masalah Sekte dan hal yang telah terjadi di dunia pesilatan selama dalam meditasi Han Shan. Pembicaraan itu terus berlanjut hingga seseorang memasuki ruangan mereka.


"Lapor Patriak, ada utusan Istana di luar membawa surat dari Kaisar Yan." Seorang murid masuk dan berlutut dengan satu kaki.


Beberapa prajurit berseragam memakai armor berdiri tegap. Begitu melihat Han Shan keluar mereka langsung berlutut. Seseorang maju sambil membawa gulungan emas dan menyerahkan ke Han Shan.


"Patriak Han, ini surat dari Kaisar beliau tidak bisa ke sini karena mendapat beberapa masalah di Istana. Beliau berharap anda mempunyai waktu luang. Adapun rinciannya ada dalam surat tersebu."


"Ah Jenderal San, tak perlu formal begitu. Aku menerima surat ini dan akan segera kubaca. Tapi kalian harus masuk ke sekte dulu dan beristirahat. Kasihan prajurit mu pada kelelahan. Mari Jenderal masuk dulu." Han Shan membawa utusan itu masuk ke aula. Di sana sudah ada jamuan. Memang sebelum Han Shan menemui prajurit itu, dia telah meminta beberapa orang untuk menyiapkan jamuan.


"Mari saudara sekalian silahkan dinikmati jamuan ini. Tidak usah sungkan. Aku akan pergi dulu membaca surat Yang Mulia Kaisar." Han Shan begegas kembali ke ruangannya. Dia sudah tak sabar membaca surat sahabatnya itu.


Perlahan Han Shan membuka gulungan emas ditangannya. Sebuah tulisan tertulis rapi di gulungan itu. Han Shan hafal betul bahwa itu adalah tulisan sahabatnya.


Sahabatku Han Shan.... Salam damai selalu di sana. Sudah lama kita tak bersua maupun berbagi sapa. Kau tau kan tugasku sebagai Kaisar membuat ku tak mempunyai waktu luang bahkan untuk keluarga ku sendiri. Apa lagi kini aku sedang dirundung duka. Putraku satu-satunya sekaligus pewaris kerajaan ini dalam keadaan kritis. Para tabib telah berdatangan dari seluruh plosok. Namun tak ada satupun dari mereka yang mampu mengobati anakku, bahkan mendiagnosa penyakit anakku saja mereka tidak bisa. Beberapa tabib memvonis anakku mampu bernafas hanya tinggal beberapa bulan saja. Keadaan ini membuat ku frustrasi. Aku telah mengadakan sayembara ke seluruh plosok, namun sejauh ini belum ada tanda-tanda seorangpun yang mengetahui penyakit anakku. Satu lagi hal aneh, setiap orang yang mencoba menyembuhkan, mereka akan berteriak seperti orang gila yang kelaparan satu tahun. Mereka akan berhenti berteriak ketika telah keluar dari kamar anakku.


Sahabatku, sebagai seorang ayah aku merasa gagal menjaga anakku. Sebagai seorang suami aku merasa gagal membahagiakan istriku. Dan sebagai seorang Kaisar, aku merasa gagal bertahan demi rakyatku.


Sahabatku, jika ada waktu luang datanglah ke sini. Setidaknya aku ingin kamu hadir nanti di pemakaman Zhou'er yang kamu anggap sebagai keponakan sendiri.


Sahabatku, aku selalu menanti kedatangan mu ke Istana. Istana akan selalu terbuka untukmu.


Sahabatku, salam damai dan sejahtera selalu untukmu.


^^^Sahabatmu^^^


^^^Yan Shan.^^^


Bergetar tangan Han Shan membaca surat itu. Dia menghela nafas cukup panjang. Ada kepasrahan yang terlihat jelas dalam surat itu. Namun dia dapat memahami hal itu. 'Takdirmu cukup berat sahabat ku'. Gumamnya dalam hati. Tanpa pikir panjang dia menyiapkan beberapa helai pakaian. Dia berpikir akan cukup lama di Istana. Dia juga berpikir bisa sekalian mencari Tang Xiao di kota. Ataupun meminta beberapa prajurit untuk membantunya mencari anaknya.


Selesai bersiap-siap, Han Shan bergegas ke aula dimana para prajurit dan jenderal telah menunggu.


"Bagaimana Patriak, apakah anda langsung mengikuti kami ke Istana atau tidak?" Tanya Jenderal San dengan nada sedikit memohon.


"Aku akan langsung mengikuti kalian. Sebaiknya kita berangkat sekarang juga." Kemudian Han Shan pamit ke semua orang disitu. Dia mempercayakan urusan sekte ke tiga orang kepercayaannya. Mereka pun segera melakukan perjalanan ke Istana.