
GURUN FAJAR MERAH
Sudah setengah bulan berlalu sejak Tang Xiao dan Denas turun memasuki lorong istana gurun. Mereka sudah memasuki setengah dari lorong istana yang sangat luas itu. Meskipun perjalanan mereka penuh bahaya yang mengancam nyawa, namun dapat mereka atasi dengan mudah dan melaluinya tanpa kesulitan.
"Kakak ketiga, mau sampai kapan kamu akan seperti itu terus?" Denas yang duduk di sebelahnya bertanya dengan rasa khawatir. Sudah lebih dari satu Minggu tang Tang Xiao tidak makan sama sekali maupun minum dan hal itu membuat Denas sangat khawatir. Dia tidak pernah melihat kakaknya mogok makan dan minum selama ini lebih dari sehari.
"Hem...." Tang Xiao hanya mengangguk sesaat lalu melanjutkan kultivasinya. Dia sebenarnya beberapa hari ini merasakan sesuatu yang aneh di dalam lorong jauh di tengah-tengah sana. Sesuatu itu terasa begitu familiar baginya. Dia sudah berusaha membuang perasaan itu, tapi perasaan itu selalu saja muncul. Dia tidak makan karena sebenarnya dia memang tidak perlu makan. Dia sibuk mengetahui sesuatu apa yang ada di dalam sana.
"Jawab yang bener gitu lo" Ucap Denas kesal dari sampingnya.
Tang Xiao membuka sebelah matanya lalu melihat Denas yang kesal.
"Hemm.. Adik keempat, sebaiknya kau jadi wanita aja jika terlalu cerewet." Ucap Tang Xiao kembali menutup sebelah matanya.
"Huuh terserah apa kata kakak ketiga. Tapi kalo sakit aku gak akan membantun." Balas tegas lalu berpaling ke arah para anggota sekte Azure Dragon yang sedang menambang kristal energi di dalam lorong.
Setiap kali kelompok Tang Xiao dan Denas melewati lorong yang dijaga oleh makhluk-makhluk kuat, mereka akan mendapati kristal energi di sekitarnya. Tingkat kristal energi yang ada sesuai dengan tingkat kesulitan makhluk yang menjaganya. Selama ini sekte Azure Dragon seperti mendapat durian runtuh setiap saat. Penyimpanan mereka telah melebihi dari yang mereka bayangkan, namun mereka tahu jika nanti akan ada pembagian hasil tentu saja mereka akan tetap mendapat jatah yang lebih.
Tang Xiao bangkit dari duduknya lalu melangkah melanjutkan menelusuri lorong saat mengetahui anggota lainnnya telah selesai dari menambang dan istirahat. Denas menyusul Tang Xiao dan berjalan sejajar dengannya.
"Apa yang terjadi dalam beberapa hari ini kakak ketiga??" Tanya Denas yang memang dia memiliki sifat rasa khawatir yang berlebih.
"Bukan apa-apa, aku hanya merindukan seseorang saja." Jawab Tang Xiao tanpa menoleh.
"Apakah kekasihmu?" Tanya Denas lagi dari samping penasaran.
Tang Xiao menggeleng. "Selama ini aku tidak memiliki seorang wanita spesial dalam hatiku." Jawab Tang Xiao datar.
"Lalu apakah kakak ketiga merindukan orang tua." Tanya Denas lagi.
Tang Xiao mengangguk pelan. "Aku sudah ditinggalkan oleh mereka sejak lima tahun. Aku masih ingat kenangan hangat bersama mereka tahun-tahun itu. Saat itu andaikan aku sudah kuat tentu saja mereka akan menemaniku di setiap langkahku." Ucap Tang Xiao menahan emosi yang bergetar oleh kerinduan. Walaupun dia sudah membasmi seluruh bandit yang membunuh orang tuanya, namun kerinduan itu tidak bisa terobati begitu saja. Sebagai seorang remaja yang pernah hidup kesengsaraan, dia tentu juga memiliki hati yang rapuh meskipun mempunyai kekuatan tak terbayangkan.
"Bukankah sekarang kakak ketiga memiliki kami yang akan menemanimu menaklukan dunia?" Ucap Denas dari samping.
Tang Xiao tersenyum kecil. "Itu adalah dua hal berbeda. Sekarang bagaimana denganmu? Apa tidak merindukan mereka atau sebaliknya?" Tanya Tang Xiao mengalihkan pembicaraan.
Denas melihat ke depan kemudian diam sejenak. "Aku baru beberapa bulan kabur dari mereka dan akan aneh jika aku langsung merasa kangen, bahkan aku merasa ingin jauh dari mereka untuk beberapa lama lagi." Jawab Denas santai.
"Apa ada orang yang tidak kamu sukai dalam keluargamu?" Tanya Tang Xiao penasaran.
"Selain dari ayah, ibu, beberapa orang guru, serta beberapa orang tetua di keluarga, aku membenci yang lainnya." Jawab Denas santai.
"Yah setiap dari kita pasti memiliki seseorang yang dibenci hingga ingin mati saja orang itu. Namun satu hal, jangan sampai kebencian itu menghilangkan rasa kemanusiaan kita terhadap mereka. Kita mungkin boleh membenci sifatnya, tapi jangan orangnya." Ucap Tang Xiao bijak menasehati Denas sambil memukul-mukul pelan pundaknya.
"Kenapa aku merasa kakak ketiga lebih cerewet ya?" Ucap Denas tanpa menoleh ke arah Tang Xiao.
"Itu wajar karena aku kakakmu." Jawab Tang Xiao enteng.
"Hemm... Sepertinya setiap manusia bisa berubah ya." Gumam Denas setelah diam sesaat.
"Manusia memang bisa berubah, tapi perasaan tetap akan sama tidak berkurang maupun berlebih." Balas Tang Xiao.
"Bagaimana jika suatu hari nanti aku berubah kak? Apakah aku akan tetap diterima olehmu atau atau tidak? Ataukah kakak mungkin akan membenciku."
Tang Xiao melirik Denas di sampingnya mendengar pernyataan tidak biasa ini.
"Kenapa aku harus membencimu, kamu adalah adikku dan akan tetap menjadi adikku hingga nanti."
Denas menggeleng.
"Perubahan yang berbeda kak. Karena keluarga aku harus berubah, karena beban aku harus berubah, karena tanggung jawab aku harus berubah. Bahkan mungkin akan mengubah persaudaraan ini."
Tang Xiao kembali melirik Denas. Ada sesuatu yang berbeda di mata Denas saat Tang Xiao meliriknya.
"Aku bisa memahami maksudmu. Sebagai kakak aku selalu menginginkan seorang adik dalam hidupku, dan hadir mu telah mengabulkannya. Sebagai kakak pula sudah sepatutnya menjaga adik kecilnya dari apapun yang mencoba menyakitinya. Jika suatu hari kamu menceritakan masalahmu sebenarnya, kakak siap menjadi pendengar setia tanpa lelah. Persaudaraan ini seperti apapun, akan tetap bersaudara meskipun langit runtuh dan bumi meletus. Tidak akan ada yang bisa mengambil adikku dari kakaknya tanpa seizinnya." Ucap Tang Xiao sambil menggaet leher Denas ke ketiaknya.
"Ugh... Kakak ketiga masih aja bercanda dalam suasana seperti ini. Berapa hari gak mandi sih kok bau kali." Balas Denas yang lehernya dalam ketiak Tang Xiao.
"Hahaha jujur saja adik kedua. Kamu belum pernah mencium aroma wangi seperti ini kan? Inilah salah satu spesialnya dari Divine Emperor Body." Balas Tang Xiao tanpa melepas kepala Denas dari lengannya.
Denas hanya diam saja. Dia memang belum pernah mencium wangi yang keluar dari tubuh Tang Xiao. Bahkan wangi tubuhnya mengalahkan semua wewangian yang pernah dicium oleh Denas selama ini. Denas sendiri adalah orang yang sangat menyukai wewangian. Dan baru kali ini wangi yang keluar dari tubuh Tang Xiao membuat pipinya memerah.
Kelakuan konyol Denas dan Tang Xiao hanya diperhatikan dalam diam oleh anggota mereka yang ada di belakang. Mereka hanya senyum-senyum melihat dua pemuda tampan itu begitu akrab.
"Oh iya kakak ketiga, kamu mendapat kekuatan seperti itu dari mana di usia yang masih muda ini?" Tanya Denas yang selama ini selalu penasaran dari mana kakak ketiganya ini mendapat kekuatan yang begitu besar di usia yang masih belia, tentu saja di balik murid yang hebat ada guru yang luar biasa.
"Kurasa kekuatan ini adalah salah satu rahasiaku. Tapi yang pasti semua kekuatan ini nyata adanya." Jawab Tang Xiao melepaskan leher Denas dari lengannya.
Denas meregangkan lehernya yang terasa kaku setelah dilepas Tang Xiao.
"Ok lah jika itu rahasia. Tapi aku juga punya rahasia besar. Bagaimana kalo kita bertaruh kak." Ucap Denas dari samping.
"Ok siapa takut." Balas Tang Xiao.
"Jika nanti aku mengatakan rahasia ku, kakak juga harus mengatakan rahasia kakak ketiga kepadaku. Adil kan?" Ucap Denas.
"Udah segitu aja?" Tanya Tang Xiao.
Denas mengangguk.
"Baiklah setuju. Tapi rahasia apa yang kamu miliki sehingga mau bertukar dengan rahasiaku yang berharga?" Tanya Tang Xiao.
"Ya rahasialah. Tapi yang pasti rahasiaku jauh lebih besar dari Kaka ketiga." Jawab Denas.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka menelusuri lorong yang lebih dalam. Tidak seperti sebelumnya, lorong-lorong itu dipenuhi dengan kristal cahaya berwarna warni. Setiap beberapa kali cahaya yang menerangi lorong-lorong itu sangat indah dan memanjakan mata membuat semua yang melihatnya lupa bahwa lorong seindah ini berada di bawah Padang pasir yang mematikan.
"Kakak Tang, mungkinkah kita bisa membangun rumah seindah dan sebagus ini?" Tanya Denas tanpa sadar dari samping. Cahaya-cahaya yang menerangi lorong membuat dia lupa sesaat.
"Menurut mu lebih bagus mana lorong-lorong ini ataukah istana merah yang dulu pernah kamu lihat?" Jawab Tang Xiao dengan mengajukan pertanyaan.
"Itu dua hal berbeda kak. Tentu saja jauh lebih bagus dan lebih indah istana merah. Istana merah itu sudah tidak masuk dalam imajinasi ku. Namun lorong-lorong ini memberikan rasa keharmonisan dan kemanjaan yang tidak terdapat dalam Istana merah itu." Jawab Denas tanpa mengalihkan pandangannya dari lorong-lorong itu.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Tanya Tang Xiao lagi.
"Itu bukan tentang pikiranku kak, itu adalah perasaanku. Perasaanku mengatakan bahwa pemilik istana itu menjalani hidupnya tanpa seorang kekasih. Seisi istana memang megah dan indah tiada tara, tapi tidak ada kesan kehangatan dan keharmonisan yang benar-benar hidup. Seolah istana itu menunjukan sifat sang pemilik yang dingin, tidak berperasaan dan juga tidak peka serta kaku." Jawab Denas enteng tanpa memperdulikan sikap Tang Xiao yang menatapnya aneh.
"Kenapa aku merasa adik keempat sedang mengolok-ngolokku." Gumam Tang Xiao dari samping.
"Cih tenang saja, kakak ketiga bukan orang yang seperti itu kok." Balas Denas menutup mulutnya menahan tawa.
Langkah mereka terhenti ketika sebuah pintu besar dengan ornamen emas menghiasi sepanjang pintu itu. Pintu yang kokoh dan besar.
Tang Xiao maju melihat pintu itu. Dia tertarik dengan ornamen-ornamen emas yang menghiasi daun pintu itu. Dia meraba-raba daun pintu itu untuk merasakan aura yang menghiasi ornamen itu.
"Hem... Aku kira ada sesuatu yang spesial di pintu ini ternyata semua hanyalah ornamen biasa. Lebih baik aku tendang aja ini pintu." Gumam Tang Xiao yang sudah mengangkat kaki kanannya.
"Tunggu anak muda tolong jangan rusak pintu kami ini." Ucap seseorang dari balik pintu. Suara seorang manusia normal.
Tang Xiao mengurungkan niatnya dan menaruh kembali kaki kanannya ke lantai. Kemudian secara perlahan daun pintu terbuka lalu keluarlah seorang nenek-nenek keluar dari balik pintu itu. Nenek itu membawa tongkat untuk menopang tubuhnya yang bisa tumbang kapan saja, hanya menunggu waktu.
"Selamat datang... Anak muda." Ucap nenek tua itu membungkuk.
"Sama-sama nenek. Tolong jangan diulang kembali, seharusnya anak mudalah yang membungkuk." Balas Denas yang juga membungkuk diikuti Tang Xiao.
"Selamat, kalian telah berhasil hingga ke tahap ini. Kalian telah menjadi pewaris yang selama ini kami cari-cari selama puluhan abad silam ini." Ucap nenek tua itu dengan suara serak dan bergetar-getar karena sudah tua.
"Maksud nenek?" Tanya Denas yang tak mengerti.
Nenek itu menoleh ke arah Tang Xiao lalu mengangguk pelan.
"Sebaiknya kalian berdua mengikuti saya ke dalam. Sedangkan yang lainnya silahkan beristirahat di tempat itu." Jawab nenek itu sambil menunjuk-nunjuk ke arah kelompok Tang Xiao lalu menghentak kan tongkatnya ke lantai.
Tuk..
Wush....
Anggota sekte Azure Dragon lenyap dari pandangan mereka semua, menyisakan nenek tua itu, Tang Xiao dan Denas yang kebingungan.
"Tidak usah bingung anak muda mereka baik-baik aja. Lihatlah kakakmu ini aja terlihat santai." Ucap nenek itu lalu berbalik dan melangkah memasuki ruangan di belakangnya diikuti oleh Tang Xiao dan Denas. Walaupun orang tua itu berjalan memakai tongkat, tapi kecepatan jalannya seperti anak muda yang berjalan normal.
Setelah berjalan cukup lama dan melewati beberapa ruangan serta portal, akhirnya mereka tiba di sebuah aula sangat luas. Di tengah aula terdapat sebuah meja bundar dengan orang-orang tua yang duduk mengelilinginya. Sekolompok orang tua itu lebih mirip dengan makhluk transeden.
Begitu nenek tua, Tang Xiao dan Denas memasuki aula itu, semua pandangan mata dari orang-orang tua yang duduk di meja bundar itu menoleh ke arah mereka.
Tang Xiao dan Denas tampak terkejut melihat aula yang besar itu. Mereka juga tidak percaya bahwa ada manusia yang menghuni ruangan itu. Semakin mengarah ke dalam ruangan, semakin Tang Xiao merasakan sesuatu yang sangat akrab dengan dirinya. Dia tidak tahu itu apa, namun seolah-olah itu adalah dirinya yang lain.
"Selamat kepada kalian anak muda telah berhasil sampai ke sini." Ucap para orang tua yang duduk mengelilingi meja bundar saat Tang Xiao dan Denas telah duduk di kursi mereka mengeliling meja bundar.
"Sebenarnya tempat apa ini?" Tanya Tang Xiao penasaran sambil melihat-lihat aula besar itu namun tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Tempat ini tidak sesederhana yang terlihat." Ucap salah seorang tua yang duduk di ujung meja bundar yang terlihat seperti pemimpin kelompok orang tua itu.
"Semula tempat ini adalah sebuah Istana terbesar di dunia. Seluruh orang di dunia berkiblat ke istana ini dan mengagungkannya. Barang siapa yang tidak mengikuti peraturan di dunia ini yang dibuat oleh istana ini, maka akan binasa dirinya dan seluruh keluarganya. Begitulah kerajaan ini ratusan abad silam." Ucap orang tua itu.
Tang Xiao dan Denas masih diam menunggu cerita dari orang tua itu.
Tuk tuk tuk...
Orang tua itu mengetuk meja tiga kali maka muncullah satu cahaya berwarna putih yang kemudian berubah menjadi sebuah dunia yang lengkap dengan kehidupannya.
"Ini adalah bentuk dunia di zaman itu. Dunia ini dikenal dengan sebutan dunia atas. Sebuah dunia yang membawahi beberapa dunia dan beberapa kehidupan dan dunia ini termasuk salah satu dunia yang masuk dalam Immortal Realm. Kerajaan ini adalah pusat dunia ini dan beberapa dunia bawahan. Selama ratusan ribu tahun dunia ini hidup dalam kejayaan karena adanya istana ini. Sayangnya, dunia ini pada akhirnya menemui karmanya yang membuat dunia ini ditendang dari Immortal Realm. Sebentar anak muda biarkan aku mengambil nafasku dulu." Ucap orang tua itu yang terlihat seperti sedang menarik nafas dalam.
"Anak muda jangan menertawai ku. Walaupun aku sudah tua begini, aku mampu membunuh orang terkuat di dunia ini saat ini hanya dengan tatapan saja." Ucap orang tua itu melihat Denas menutupi mulutnya menahan tawa.
"Sekuat itukah?" Tanya Denas tidak percaya.
"Tentu saja. Dulu, seseorang yang berada di ranah Holy Ancestor bintang sembilan adalah babu di istana ini yang tidak dianggap. Dulu semasa dunia ini bagian dari Immortal Realm, dunia kami berhasil mempunyai beberapa orang kuat yang berada di ranah Supreme God dan menjadi salah satu dunia penguasa Immortal Realm." Jawab orang tua itu.
Jawaban itu membuat Denas terbelalak tidak percaya.
"Supreme God? Ada orang yang berada di ranah itu?" Gumam Denas tidak percaya.
"Ya tentu saja ada. Bahkan ada ratusan orang yang berada di ranah Almighty God dan menjadi penguasa Immortal Realm." Jawab orang tua itu santai.
"Wow... Hebat, sangat hebat. Aku yakin suatu hari aku akan melampaui Immortal Realm dan masuk ke Divine Realm." Gumam Denas bersemangat.
"Pffttt... Anak muda hayalanmu terlalu tinggi. Dulu, Sang Penguasa Immortal Realm yang berada di ranah Almighty God tahap puncak tidak pernah bisa memasukinya meskipun sudah berulang kali mencobanya. Terlebih dirimu yang tidak memiliki kualifikasi apa-apa " Balas orang tua itu menggelengkan kepala.
"Kakek tua, tentu aku memiliki syarat memasukinya tapi kalian tidak perlu tahu apa itu." Balas Denas sambil melihat Tang Xiao yang duduk di sampingnya dalam keadaan diam.
"Lalu kenapa dunia ini ditendeng dari Immortal Realm, tidak mungkin tanpa sebab ya kan?" Tanya Tang Xiao penasaran.
"Inilah titik balik kejatuhan dunia ini. Saat itu pada siang hari dari atas langit kerajaan ini, tiba-tiba muncul satu retakan dimensi yang sangat besar. Besarnya retakan itu mampu menutup seluruh kerajaan yang luas ini. Orang-orang kuat yang berada di ranah Supreme God terbang mengelilingi retakan itu dan bersiap-siap jika ada musuh kuat yang keluar dari sana.
Tidak ada yang keluar dari retakan itu kecuali sebuah cahaya emas yang turun dengan cepat dan menghantam istana ini. Cahaya emas itu tidak menghancurkan apa-apa, hanya saja cahaya emas seukuran orang dewasa itu terletak di singgasana Kaisar kerajaan ini.
Semua orang tidak tahu cahaya apa itu dan tidak mampu mendekatinya kecuali yang diinginkan cahaya itu. Hingga akhirnya salah seorang tetua yang berada di ranah Supreme God mengundang seorang yang berada di ranah Almighty God untuk menanyakan cahaya apa itu.
Saat Almighty God mendekati cahaya emas itu, tiba-tiba dia terlempar hingga menabrak dinding. Lalu keluar suara dari cahaya itu yang mengatakan begini "Makhluk rendahan seperti kalian berani mendekatiku yang berasal dari Divine Realm. Jangan ada yang menggangguku, meskipun aku hanya kepingan jiwa kekuatanku mampu mampu membunuh ribuan orang terkuat di Immortal Realm." Begitulah cahaya emas itu mengatakan bahwa dirinya adalah kepingan jiwa.
Sejak saat itu dunia ini ditendang dari Immortal Realm dan masuk ke Mortal Realm. Kehidupan dunia ini menjadi kacau balau karena banyak makhluk Immortal Realm masih berada di dunia ini dan menuntut atas kejadian ini. Akhirnya para makhluk Immortal itu bersekutu melawan kepingan cahaya emas itu. Namun sayangnya, hanya dengan satu kekuatannya kerajaan ini hampir musnah dan akhirnya terpendam di bawah tanah dalam waktu jutaan tahun hingga kalian memasuki istana ini." Ucap orang tua itu panjang lebar sambil mengenang kejadian masa lalu itu.
Tang Xiao terperanjat mendengar cerita orang tua renta itu. Kini dia tahu kenapa ada rasa yang sangat familiar di istana ini.
"Lalu kemana kepingan cahaya itu?" Tanya Tang Xiao tidak sabaran.
"Ada denganmu anak muda? Apa kamu mencoba ingin memilikinya?" Ucap orang tua itu lalu melanjutkan ucapannya.
"Setelah istana ini terkutuk untuk tidak dapat melihat cahaya matahari, dia menjanjikan bahwa akan ada seseorang yang akan datang kesini dan mengambil dirinya. Dia menjanjikan bahwa orang itu yang akan membebaskan kami dari kutukan ini serta mengembalikan kejayaan kami. Dia memberikan kami kekuatan kehidupan sehingga kami mampu bertahan beberapa juta tahun untuk menunggu orang yang mengambil kepingan cahaya itu."
Orang tua itu mengambil nafas beberapa kali lalu melanjutkan ceritanya.
"Kemudian cahaya itu tertidur di atas singgasana yang sejak pertama kali datang ke sini tidak pernah beranjak. Agar tidak terjadi masalah, aku membuat satu dimensi lalu menaruh cahaya emas itu dalam dimensi yang aku buat. Aku tidak menyangka bahwa dia menyukai dimensi itu bahkan memperkuatnya agar tidak ada seorangpun yang mengetahuinya atau membukanya selain aku. Bahkan para teman-temanku ini tidak ada yang tahu dimana cahaya itu. Sejak saat itu cahaya itu tidak pernah muncul atau keluar padahal waktu telah berlalu lebih dari satu juta tahun yang lalu." Ucap orang tua bungkuk itu.
Tang Xiao dan Denas terdiam mendengar cerita orang tua itu. Denas tidak mengerti sama sekali cerita orang tua itu dan walaupun dia dari mendengar dengan cermat.
Berbeda dengan Tang Xiao, dia sudah tidak sabar hendak bertemu dengan cahaya itu. Dia teringat pertempuran melawan Ancient Divine Beings selama seratus tahun tanpa henti hingga membuat dia mengorbankan dirinya sendiri. Lalu sejak saat itu dia hanya mengetahui bahwa kepingan jiwanya jatuh ke berbagai dunia dalam dimensi Delapan Semesta. Dia tidak pernah menyangka kedatangannya ke dunia ini yang tanpa disengaja malah membuat dia mendapatkan kembali kepingan jiwanya. Tang Xiao sendiri tidak tahu dimana kepingan jiwanya yang lain meskipun telah mencari dengan Soul Power.
"Karena kalian telah berhasil masuk ke istana ini maka aku akan membuka dimensi itu. Semoga saja salah satu dari kalian yang dimaksud cahaya emas itu." Ucap orang tua itu lalu mengeluarkan sebuah kunci kemudian memasukkan ke lubang kunci di meja bundar.
Wusshh...
Perlahan-lahan, di belakang orang tua itu muncul satu retakan dimensi dan dalam dimensi terdapat satu singgasana megah yang di atas singgasana itu satu cahaya emas yang mengeluarkan aura penindasan yang luar biasa. Cahaya itu tampak sedang tertidur namun seluruh orang dalam ruangan itu selain Tang Xiao merasa sedang tertindas.
"Silahkan siapa yang duluan ingin mencobanya." Ucap laki-laki tua itu kepada Tang Xiao dan Denas sambil membuat gestur mempersilahkan.
"Kak, mending kakak ketiga ajalah. Dari tadi aku sudah tidak sanggup melangkah begitu cahaya itu keluar." Ucap Denas berbisik. Terlihat Denas telah berkeringat, keningnya yang putih telah basah oleh keringat.
"Gunakanlah sapu tangan yang aku berikan itu." Ucap Tang Xiao yang merasa kasihan melihat kondisi Denas yang kesulitan. Entah kenapa dia merasa sakit melihat adiknya seperti itu.
Tap...
Tang Xiao menyentuh bahu Denas agar dia terbebas dari tekanan yang keluar begitu saja.
Wusshh.....
Cahaya keemasan mengelilingi tubuh Denas dan membuat Denas dapat bernafas lega. Dia mengusap keringat di keningnya dengan lengan bajunya.
"Terima kasih kak." Ucap Denas tersenyum manis. Semua orang di ruangan itu menahan nafas melihat senyuman manis Denas termasuk Tang Xiao.
Tang Xiao hanya mengangguk kecil kemudian berjalan mendekati cahaya itu. Cahaya emas yang semula acuh tak acuh itu tiba-tiba bergerak naik turun dan langsung melesat ke dalam tubuh Tang Xiao dengan cepat.
Wusshhhhh.....
Seluruh ruangan bergetar hebat, bahkan permukaan Padang pasir Gurun Fajar Merona beriak seperti gelombang air laut.
Cahaya emas yang agung terpancar dari seluruh tubuh Tang Xiao yang sedang melayang menyilaukan apa saja. Saat ini kultivasi Tang Xiao meningkat secara cepat. Seluruh ruangan dipenuhi cahaya berwarna emas yang keluar dari tubuh Tang Xiao. Cahaya emas itu mengenai apa saja.
Orang-orang tua yang duduk mengelilingi meja bundar yang awalnya terlihat tua, begitu cahaya emas itu mengenai mereka seketika mereka terlihat muda berumuran antara tiga puluh sampai empat puluh tahun. Mereka terlihat tampan dan cantik.
Berbeda dengan Denas. Begitu cahaya emas itu mengenainya sesuatu yang tersembunyi dalam tubuhnya merespon dan mengeluarkan cahaya berwarna biru yang sebanding terangnya dengan cahaya emas yang keluar dari tubuh Tang Xiao. Kedua cahaya itu saling bertaut membentuk cahaya agung lalu menembus langit.
Tidak ada yang tahu cahaya itu termasuk Tang Xiao maupun Denas. Selain Tang Xiao yang masih melayang, seluruh orang yang ada di ruangan itu seperti beku dan tidak mampu bergerak sama sekali. Bahkan berkedip pun mereka tidak bisa. Jangankan berkedip, bahkan berpikir pun mereka tidak bisa dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di hadapan mereka.
Tap...
Kaki Tang Xiao menyentuh lantai. Dia sudah selesai menyerap seluruh Divine Energy dari cahaya itu. Saat ini penampilannya terlihat berbeda dari sebelumnya. Rambut birunya sepanjang bahu, mata birunya mengeluarkan cahaya emas yang agung. Pakaiannya berubah menjadi jubah emas dengan ukiran yang sangat indah.
Tang Xiao melihat sekeliling dan mendapati seluruh orang di ruangan itu sedang berhenti bergerak. Bukan cuman mereka yang tidak dapat bergerak, ruang dan waktu pun tidak bergerak sama sekali.
"Hem.. Ini lebih baik daripada membuat diri terekspos." Gumam Tang Xiao lalu.
....................
Sementara itu di sebuah dunia yang sangat jauh dengan jarak dua ratus juta tahun cahaya, terdapat sepuluh orang yang sedang duduk mengelilingi sebuah meja bundar. Mereka mengenakan stelan tuksedo lengkap dengan sepatu fantovelnya. Mereka sedang memperhatikan seorang wanita jelita mempresentasikan karya kerjanya.
Diantara sepuluh orang itu terdapat seorang pemuda tampan dengan rambut biru dan mata biru mengenakan kaca mata hitam dengan wajah serius memperhatikan presentasi wanita itu. Di belakang pemuda berbaju biru itu berdiri dua orang pemuda tampan layaknya layaknya body Guard mengenakan kaca mata hitam.
Pemuda berambut biru itu tiba-tiba merasa terkejut membuat semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arahnya. Begitu mengetahui ada sesuatu yang tidak beres, pemuda itu menjentikkan jarinya.
Ctak...
Seluruh orang dalam ruangan itu seolah berubah menjadi patung. Mereka terhenti dari segala pikiran dan aktivitas mereka. Semua orang berhenti kecuali dua pemuda yang berdiri di belakang pemuda berambut putih itu serta wanita cantik yang sedang mempresentasikan karyanya.
Wuushh....
Pemuda berambut biru itu tiba-tiba melayang. Seluruh tubuhnya mengeluarkan cahaya keemasan yang agung yang mampu menindas siapa saja. Seluruh ruangan bergetar hebat, bukan cuma ruangan tapi dunia yang ditinggali pemuda itu ikut bergetar.
Andaikan ketiga orang yang tidak kaku itu tidak membuat lapisan dimensi, tentu saja gedung pencakar langit tempat mereka sekarang ini berdiri telah hancur lebur beserta seluruh isinya dan menyisakan debu yang berterbangan.
Tap...
Pemuda berambut itu kembali menginjakan kakinya di lantai keramik. Cahaya emas yang terpancar dari tubuhnya perlahan redup.
"Selamat tuan, telah berhasil menemukan salah satu kepingan jiwa tuan." Ucap ketiga orang itu dengan semangat dan wajah bahagia.
"Hemm... Tidak sia-sia rasanya meninggalkan diriku yang lain di luar sana." Balas pemuda berambut biru itu senang.
"Baiklah kembali ke tempat masing-masing dan berbuat seperti tidak terjadi apa-apa." Lanjut pemuda berambut biru itu kembali ke kursi besarnya dan mengenakan kaca mata hitamnya. Kemudian pria berambut biru itu menjentikkan jarinya dan keadaan kembali seperti semula.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kondisi author masih belum fit..
Jadi Up-nya tidak tentu.
Penasaran cahaya apa yang keluar dari tubuh Denas??
Ikuti terus novel ini, okeh....
Di langit yang kamu tatap
Ada rindu yang aku titip...😉😉