
Di sebuah tempat yang jauh dari kerajaan Dong, tampak seorang laki-laki sedang duduk berkultivasi. Auranya terlihat tenang namun mencekam. Laki-laki itu membuka matanya dan seketika muntah darah.
UHUK...
"Sial... Siapa yang mampu menghilangkan Racun Hatiku? Tidak mungkin tabib tua itu mampu melakukannya. Tidak mungkin ada yang mampu mengobati Racun Hati di Kekaisaran ini. Sekalipun ada mereka ada di ranah Saint-Expert ke atas. Tapi tidak mungkin mereka mau membantu kerajaan Dong yang kecil itu. Tidak, pasti ada sesuatu yang lain. Uhuk.. Sial" Umpat laki-laki itu sambil mengeluarkan aura membunuhnya yang kuat.
"Lapor Tuan." Beberapa orang berjubah hitam memasuki ruang laki-laki itu dan berlutut.
"Pasukan utama telah dikerahkan dan sekarang sedang menuju perbatasan dan berhasil merebut kamp perbatasan di sana dengan mudah."
Laki-laki itu berdiri dan berjalan ke dekat pintu. "Bagus, bagus. Apakah orang-orang dari Aula Jiwa ada yang datang?" Tanya orang itu.
"Ada seorang yang datang tuan. Berkatnya kami dengan mudah memasuki perbatasan."
"Ada di ranah apa orang itu?"
"Dia ada di ranah Legend bintang enam."
"Hahaha... Bagus bagus. Kini tinggal selangkah lagi kita bisa menguasai Kerajaan Dong. Jika kita bisa menguasainya akan mudah bagi kita menguasai tiga Kerajaan lainnya lalu akan mudah merebut Kekaisaran yang lemah ini. Haha" Laki-laki itu tertawa jumawa membayangkan kekuasaannya yang akan membesar nantinya.
"Sekarang kalian boleh pergi" Ucap laki-laki itu sambil mengibaskan tangannya menuyuruh dua orang berpakaian hitam yang melapor untuk segera keluar.
"Baik tuan kami pamit dulu." Kedua orang itu segera menghilang dari tempat itu.
Swoshh..
Seorang laki-laki tua berjubah hitam bertudung tiba-tiba datang dan berdiri dibelakang laki-laki yang lebih muda.
"Tetua Hu ada gerangan apa anda ke sini?" Tanya laki-laki muda sambil membungkuk hormat.
"Hahaha... Kenapa aku tidak datang ke sini?" Jawab laki-laki itu sambil mencengkram leher laki-laki muda dan mengangkatnya ke atas.
"Jangan naif bocah. Ingat bagianmu hanyalah sepersepuluh. Jangan serakah. Kamu hanyalah budak yang tidak berguna. Hidup dan matimu berada di tangan kami" Ucap laki-laki tua itu sambil melemparkan laki-laki muda itu dan menghantam tembok.
UHUK UHUK....
"Ba..baik tetua.. Maafkan saya" Ucap laki-laki muda sambil meringis menahan sakit di dadanya dan lehernya.
Swossh
Laki-laki tua itu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Baginya, laki-laki muda itu hanyalah kecoak yang tidak dianggap.
"Sial sial... Dasar monster bajingan. Tunggu saja saat pamanku telah kembali kamulah yang akan kubunuh pertama kali." Umpat laki-laki muda itu berdiri dan memegang dadanya.
"Sial... Luka yang pertama aja belum sembuh ditambah luka barusan. Dasar bangsat. Tunggu saja penghinaan kali ini akan kubalas. Monster tua, Raja Park, kalian harus bertanggung jawab suatu hari nanti." Gumam laki-laki muda itu sambil berjalan tertatih mengambil obat di lemari kayu di sampingnya.
......................
Raja Park, Pangeran Park, Jenderal Kim dan Tabib Kim sangat terkejut mendengar pernyataan Tang Xiao yang mengatakan akan menghadapi musuh yang berada di ranah Legend bintang enam dan Mythical Beast seorang diri.
Bagaimana tidak, orang yang berada di ranah Legend di Kekaisaran Wu bisa dihitung dengam jari salah satunya adalah Raja Park. Walaupun dia berada di ranah Legend namun dia masih berada di bintang dua. Empat bintang lebih rendah dari kekuatan musuh. Ada perbedaan besar pada selisih empat bintang walaupun di ranah yang sama. Jenderal Kim sendiri berada di ranah Expert bintang satu. Tabib Kim berada di ranah Expert bintang 5 sedangkan Pangeran Kim masih berada di ranah Grand Master bintang 5. Hal itulah yang membuat Raja Park dan ketiga orang lainnya sedikit frustasi mendengar kekuatan pasukan musuh. Ditambah lagi dengan adanya Mythical Beast tingkat tiga hingga enam.
Mythical Beast mempunyai tingkat kultivasi yang sama. Kultivator ranah Warrior sama dengan Mythical Beast tingkat 1, Kultivator ranah Elite sama dengan Mythical Beast tingkat 2 dan seterusnya. Namun Mythical Beast memiliki tingkat kekuatan yang berbeda dengan Kultivator serta Mythical Beast memiliki fondasi yang lebih padat dan kuat dari para Kultivator. Mythical Beast yang berada di tingkat 1 memiliki kekuatan serangan dan pertahanan Kultivator ranah Elite. Mythical Beast tingkat 2 memiliki kekuatan tempur dan daya tahan yang sama dengan Kultivator ranah Master. Namun ada juga beberapa Kultivator yang memiliki tehnik kultivasi yang kuat sehingga memungkinkan mereka membunuh Mytichal Beast di tingkat yang sama dan bahkan kadang juga mampu mengalahkan Mythical Beast yang satu tingkat lebih tinggi dari mereka. Namun sangat sulit menemukan Kultivator yang seperti itu. Perbandingannya sama dengan 10.000:1 yang artinya setiap kelahiran sepuluh ribu orang ada seorang yang memiliki kekuatan dan kejeniusan yang sangat tinggi.
Pernyataan Tang Xiao barusan membuat empat kultivator di depannya saling pandang seakan tak percaya dengan yang mereka dengar. Mereka sendiri dapat melihat kultivasi Tang Xiao yang berada di ranah Grand Master bintang sembilan. Walaupun awalnya keempat orang ini sangat terkejut dengan tingkat kultivasi Tang Xiao yang begitu tinggi di usia yang baru menginjak lima belas tahun. Bagi mereka Tang Xiao sudah termasuk anak super jenius yang hanya lahir setiap seribu tahun sekali. Bahkan mereka belum pernah mendengar di Kekaisaran Wu ini ada seorang remaja lima belas tahun dengan tingkat kultivasi Grand Master bintang sembilan. Jika dunia mengetahui ini, para Kultivator kuat dari berbagai sekte besar akan berebutan untuk mengambilnya sebagai murid.
Pernyataan Tang Xiao barusan sama saja dengan menyerahkan diri untuk dibunuh musuh. Mereka tentu saja tidak bisa membiarkan hal sekonyol itu terjadi. Seorang remaja ranah Grand Master bintang sembilan ingin melawan Kultivator tua ranah Legend bintang enam yang sudah banyak makan asam garam kehidupan. Hanya satu tangan saja dari kultivator ranah Legend sudah mampu membunuh Tang Xiao yang masih Ranah Grand Master meskipun ia tergolong super jenius. Namun tidak ada gunanya kejeniusan itu di hadapan kekuatan absolut. Membayangkan hal ini, mereka berempat tak sanggup menerimanya.
Namun karena Tang Xiao memaksa dan meyakinkan mereka berempat, dengan terpaksapun mereka menerima permintaan Tang Xiao yang terdengar gila itu.
"Percayalah saya bisa menangani orang-orang tua itu dan beberapa hewan kecil. Saya juga sudah lama tidak menggerakan tubuh ini dan sedikit kaku." Ujar Tang Xiao santai sambil menyeruput teh. Keempat orang di depannya melongo tak percaya. Ini bukan tentang meregangkan otot ataupun olah raga tubuh tapi pertempuran hidup mati. Pertempuran hidup mati yang menentukan masa depan Kerajaan Dong dan rakyat di dalamnya serta Kerajaan-kerajaan lainnya di Kekaisaran Wu.
"Saya tahu kekhawatiran kalian mengenai keselamatan saya. Saya bukan orang yang bertindak sembarangan tanpa perhitungan yang matang. Saya punya strategi dalam mengahadapi orang-orang kuat yang saya dapat dari kehidupan sebelumnya." Ucap Tang Xiao lagi.
"Hemm. Sepertinya para tikus itu sudah tidak sabaran dan sebagian ada yang sudah datang tapi tidak berani menampakkan diri." Gumam Tang Xiao sambil meletakkan cangkir tehnya di meja seolah tanpa beban sama sekali padahal musuh sudah bergerak dengam cepat.
Saat sedang berbincang seorang komandan dengan terburu masuk dan berlutut. Wajahnya pucat dan terlihat ketakutan.
"Yang Mulia Raja, pihak musuh sudah berada satu kilo dari kamp. Sudah banyak prajurit kita yang mati di sana. Beberapa Mythical Beast berjenis burung sudah mulai menyerang pos-pos pengintain. Sekitar ssratus korban jiwa yang berjatuhan dari pihak kita sedangkan musuh belum satupun." Lapor Komdan itu dengan wajah pucat. Dia takut akan dihukum dan dibunuh karena berita buruk yang disampaikannya. Tapi dia tidak punya pilihan lain disaat rekan-rekannya dibunuh tanpa bisa melawan balik. Sebagai seorang Komandan pasukan pengintai, tentu saja dia akan menerima hukuman apapun itu atas kesalahan yang dilakukannya.
Jenderal Kim berdiri dengan murka. Dia mendekati Komandan yang melapor itu dan menarik kerah leherny "Katakan kenapa kalian tidak melapor sebelumnya. Sebagai Komanda pasukan pengintai kamu sudah melalaikan tugasmu. Untuk saat ini aku akan memaafkan kesalahan ini namun tidak ada yang kedua kalinya. Pergi dan siapkan prajurit. Aku akan menyusul sesegera mungkin" Jenderal Kim melepas Komdannya yang telah bergetar hebat itu. Komandan itu berada si ranah Grand Master bintang 4. Termasuk jenius di Kerajaan Dong. Jenderal Kim segera pamit kepada Raja Kim dan mengatakan akan segera ke medan pertempuran. Jenderal besar itu mempertaruhkan segalanya, nyawanya dan kehormatannya sebagai Jenderal besar Kerajaan Don dan termasuk sepuluh Jenderal Besar Kekaisaran Wu. Raja mengizinkan Jenderal Kim pergi dan menebus kesalah yang dilakukan bawahannya dengan mempertarushkan nyawanya.
Raja Park, Pangeran, segera mempersiapkan diri. Tabib tua pun mempersiapkan diri namun dicegah oleh Raja Park. "Tabib Kim mohon maaf sebaiknya anda di sinip0. Bukan saya meragukan kekuatan tuan, namun anda termasuk salah satu pilar dunia kedokteran Kekaisaran Wu. Jika anda terlibat peetempuran ini, bukankah akan mempermalukan Kerajaan Dong kami? Mohon maaf tuan tabib, jasa anda lebih dibutuhkan untuk mengobati para pasukan yang terluka." Ucap Raja Park menunduk. Tabib Kim tampak berpikir kemudian manggut-manggut sambil memegang jenggot putihnya. Setidaknya usia tabib ini mendekati umur 70-an tahun namun masih sangat bertenaga layaknya Kulyivator muda.
"Baiklah Raja Park. Saya mengikuti saran anda. Tapi biarkan saya ke medan pertempuran agar bisa menyembuhkan pasukan yang terluka dengan lebih cepat. Jika mereka dibawa ke kamp terlebih dahulu belum tentu nyawa mereka akan selamat." Balas Tabib Kim. Raja Park mengangguk senang menyetujui permintaaan Raja Park.
"Baiklah saatnya berangkat." Ucap Tang Xiao santai yang otomatis membuat ketiga orang lainnya menoleh ke arahnya. Merek terbelalak melihat penampilan Tang Xiao bak seorang Jenderal Langit. Baju Zirah tempur lengkap dan elegan yang dikenakan Tang Xiao tidak ada di dunia ini. Begitu juga dengan pedang di tangannya yang mengeluarkan aura membunuh yang kuat. Bahkan Panheran Park merasa menggigil saat merasakan aura kematian yang tanpa sengaja terpancarkan dari pedang yang berada di pinggang Tang Xiao. Tang Xiao tersenyum kepada mereka dengan penuh kepercayaan diri.
"Tak kusangka anak ini punya sesuatu yang seperti ini. Sepertinya aku terlalu meremehkamnya." Batin Raja Park. Dia tahu baju Zirah tempur yang dikenakannya bukanlah Baju Zirah sembarangan. Kualitas baju Zirah itu melebihi kualitas pedang tingkat Langit miliknya. Jika dibandingkan dengan pedangnya seperti mainan saja di mata Tang Xiao.
Tang Xiao sengaja mengenakan Baju Zirah tempur seperti itu untuk meyakinkan Raja Park. Tanpa baju ini pun dia bisa menang dengan mudah tapa terluka sedikitpun. Tang Xiao tersenyum untung saja baju Zirah tempur yang dipakainya adalah yang terendah dan terlemah kualitasnya diantara seluruh tumpukan baju zirah di ruang jiwanya yang menggunung. "Akhirnya baju zirah ini ada gunanya juga. Hem kalo sudah selesai perang ini lebih baik kubuang saja." Batin Tang Xiao sambil melihat sekelilingnya dan merasakan sesuatu lalu dia tersenyum lebar. Tidak, lebih tepatnya dia menyeringai.
Tang Xiao, Raja Park, Pangeran, dan Tabib Kim segera keluar dan menaiki kuda yang telah disiapkan. Mereka memacu kuda dengan kencang dan bergabung dengan pasukan yang sedang bertempur. Pertempuran sengit pun dimulai.
......................
Suatu tempat di sebuah benua. Tempat yang begitu indah nan mempesona. Terdapat berbagai bunga-bunga mekar mewangi sepanjang waktu memberikan kesegaran bagi siapa yang melihat dan menghirupnya tertata rapi di sepanjang jalan menuju sebuah gubuk sederhana namun cukup bersahaja. Seorang lelaki tua dengan rambut acak-acakan sedang terduduk santai menikmati pijitan dari seorang gadis muda. Gadis itu sesekali berbicara namun lebih banya diamnya.
"Guru, ini sudah hampir lima belas tahun dan kapan kita akan keluar dari tempat ini. Aku sudah bosan di sini." Tutur gadis itu. Si kakek tua yang bersantai itu membuka sebelah matanya memandang gadis muda yang sedang memijitnya.
"Tenang saja tidak lama lagi." Jawab singkat orang yang dipanggil guru itu.
"Dari dulu selalu begitu jawabannya. Pasti "tidak lama lagi" atau "sabar aja sebentar lagi" Guru aku bukan lagi anak kecil seperti dulu." Ucap gadis muda itu berhenti memijat bahu gurunya. Laki-laki tua itu terkekeh.
"Keke.. Ternyata murid kakek sudah besar ya. Tenang aja kali ini kita benar-benar akan keluar. Kakek janji." Ucap pria tua itu.
"Benarkah kek? Janji ya Kek." Ucap gadis muda itu kembali memijat bahu kakeknya dan mengubah cara memanggilnya.
"Hemm dasar bocah memanggil Kakek kalo ada maunya saja." Balas orang tua itu.
"Hehehe Kakek sih selalu bertindak seolah-olah aku ini benar-benar seperti murid dan bukan keluarga." Balas gadis muda itu. Orang tua itu terkekeh lalu melanjutkan menutup kelopak matanya menikmati pijetan cucu kesayangannya itu.
"Kapan kita kelaur kek?" Tanya gadis itu tidak sabaran.
"Hemm saat turnamen antar benua di mulai." Jawab laki-laki tua itu.
"Hemm bukankah masih dua bulan lagi kek?"
"Iya saat akan dimulai baru kita keluar. Namun sebelum itu kamu harus belajar satu jurus lagi dan harus bisa menguasainya dalam waktu dua bulan ini."
"Loh kek bukankah sudah lebih dari cukup untuk aku memenangkan turnamen itu nanti. Kenapa harus belajar jurus lagi."
"Hem.. Kakek tidak yakin sih. Tapi kamu ingat saat kakek mengatakan ada satu anomali yang muncul di dunia ini beberapa hari yang lalu?" Tanya laki-laki tua itu sambil melihat muridnya dengan serius.
"Iya kek. Tapi apa hubungannya dengan anomali itu. Kan masih belum jelas apa itu." Jawab gadis itu mengangkat bahunya.
"Bukan seperti itu. Bukannya kakek tidak bisa melihat anomali apa itu, tapi anomali itu seperti tertutup sesuatu yang sangat kuat dan keras hingga kesadaran sepiritual kakek tidak mampu menebusnya." Jawab laki-laki tua. Gadis muda itu terkejut mendengar ucapan kakeknya.
"Apa? Bahkan kesadaran spritual kakek tidak mampu menebusnya." Gumam gadis itu terperanjat.
"Kakek ingin memastikan sesuatu setelah keluar dari sini dan mengunjungi teman lama. Mungkin dunia sudah melupakan Kakek. Sesekali menampakkan diri ke dunia tidak masalah hehe." Ucap laki-laki tua itu terkekeh.
Gadis muda itu hanya terdiam, dia tau betul karakter kakeknya ini. Dia melihat sekitar gubuknya. Sebuah dunia yang luas dengan keindahan yang memanjakan mata. Namun tidak ada yang menyadari dimana dunia ini berada. Gadis itu tersenyum lebar membayangkan petualang seru bersama kakeknya ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Guys sampai di sini dulu ya ngantuk banget.😪😪