
Tetua Lan, tetua Yan, Della dan Hanzho serta para Kafilah Dagang berhenti di depan gerbang perbatasan. Di atas gerbang terdapat tulisan 'Kerajaan Funisia.' Di depan mereka telah terdapat antrian yang cukup panjang. Gate Keeper terlihat tampak sibuk melayani dan mengecek barang-barang para Kultivator dan manusia biasa lainnya.
Hanzho membuka peta dan sekali lagi mengecek rute di petanya apakah sudah sesuai jalur atau belum.
"Kita saat ini memasuki Tunisia Imperium. Dan di depan sana adalah Batas Kerajaan sekaligus batas Kekaisaran. Kerajaan Funisia merupakan kerajaan yang menjadi perbatasan antara Diamond Imperium dan Tunisia Imperium. Jadi pengecekkan di sini menjadi lebih rumit dari biasanya." Jelas Hanzho sambil melipat kembali peta dan menyimpannya di cincin ruang.
Tetua Yan, Lan dan Della mengangguk paham. Mereka berempat sudah sangat akrab. Selama perjalanan, mereka saling menceritakan masa lalu masing-masing. Selama perjalanan mereka saling membantu melawan beberapa Muthical Beast. Tetua Lan dan dan Yan juga mengangkat Della menjadi murid sementara mereka selama perjalanan ini. Della yang sangat senang memiliki dua orang sekaligus guru yang sangat kuat, sangat senang dan tak henti-hentinya berlatih. Bahkan dia kerap kali melawan Mythical Beast tingkat empat sendirian demi kemajuannya.
Tetua Lan dan Yan juga tidak sia-sia mengangkat Della menjadi murid, pemahamannya terhadap ajaran mereka berdua sangat cepat dan bakat kultivasinya sungguh luar biasa. Selain itu Della ternyata memiliki Akar Roh Surgawi yang sangat jarang di dunia. Dengan tehnik yang tepat, beberapa minggu ini kultivasinya telah berada di ranah Master bintang satu yang sebelumnya masih berada di ranah Warrior bintang dua. Sebuah bakat yang mengejutkan.
"Walaupun tidak bisa dibandingkan dengan nona, namun bakat Della sudah termasuk mengerikan." Batin tetua Lan suatu hari saat menyaksikan Della berkultivasi.
"Guru Yan sebelum memasuki Kerajaan Funisia aku ingin berlatih sebentar di dalam tandu. Rasa-rasanya Akar Rohku sudah penuh dan sedang berguncang." Ucap Della pada tetua Yan yang berada di dekatnya.
Tetua Lan melihat dantian Della memang seperti yang dikatakannya. Tetua Yan mengangguk pelan kemudian tersenyum.
Della turun dari kudanya dan masuk ke dalam tenda kosong yang sengaja disiapkan untuknya. Namun semenjak dia diangkat menjadi murid, dia lebih senang naik kuda bersama dua gurunya dan bertanya banyak hal kepada mereka berdua. Namun ada satu yang tidak pernah ditanyakannya yaitu asal usul mereka.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya tiba juga giliran mereka untuk diperiksa.
"Keluarkan tanda pengenal kalian." Salah seorang dari mereka mencegat.
Dengan tenang Hanzho mengeluarkan tanda pengenalnya sebagai kafilah dagang. Dia berkata. "Aku adalah pemimpin kafilah dagang. Mereka berdua adalah para pengawal kami." Tunjuk Hanzho kepada tetau Lan dan tetua Yan yang mengenakan cadar.
Penjaga itu menerima tanda milik Hanzho lalu mengalirkan tenaga dalamnya ke token. Setelah disalurkan tenaga dalam, token itu bersinar sedikit dan mengeluarkan tulisan 'Utusan Kafilah Dagang.' Penjaga itu mengangguk pelan lalu mengembalikan token milik Hanzho.
"Selamat datang di Kerajaan kami tuan." Ucap para penjaga setelah mengetahui identitas kelompok Hanzho. Para penjaga itu membuka gerbang dengan lebar dan mempersilahkan kelompok Hanzho untuk masuk. Mereka tidak memeriksa barang-barang Hanzho dan kelompoknya tidak seperti yang lain.
"Sepertinya kafilah dagang cukup dihormati." Gumam tetua Lan.
"Ya saudari Lan. Kafilah dagang merupakan kelompok terbesar di dunia. Kami berada dimana-mana dan kami membawa setiap kebutuhan yang diinginkan setiap negara yang kami lewati. Kafilah dagang bukan cuma isapan jempol belaka meskipun kami tidak terlalu kuat, namun jarang sekali yang berani mengusik kami. Itu dikarenakan, kami dilindungi oleh setiap Kekaisaran atau Kerajaan dimana kami berada." Jelas Hanzho dengan bangga.
"Hemm.. Sepertinya saudara Hanzho cukup menikmati perannya sebagai kafilah dagang." Celoteh tetua Lan dari samping.
"Hehe saudari Lan memang benar. Aku harus bisa berperan dengan baik agar misi ini tidak gagal dan supaya nona Della bisa merasa tenang." Balas Hanzho.
Tetua Lan dan Yan mengangguk mendengar jawaban diplomatis Hanzho. Seperti apapun misinya, yang penting adalah bagaiamana misi bisa dijalankan dengan baik dan tidak boleh ada cacat dalam misi. Boleh jadi kesalahan kecil yang diabaikan bisa menjadi penentu taruhan nyawa di masa depan. Dan Hanzho sudah menjalankan misinya dengan cukup baik seolah Hanzho adalah salah satu dari tetua Kafilah Dagang yang telah bergabung sejak adanya organisasi ini.
Ketika sedang menikmati pemandangan di dalam kota, tiba-tiba semua orang di kota merasakan hawa kehadiran yang sangat kuat. Para penjaga dan pengawal yang ada di kota segera berlarian menuju kota. Beberapa orang kuat berterbangan di udara menuju gerbang kota.
Kelompok Hanzho menghentikan kudanya melihat apa yang terjadi dan siapa yang datang. Jalanan yang awalnya cukup ramai mendadak sepi, toko-toko ditutup dengan cepat. Orang-orang berlarian ke dalam rumah. Di jalanan yang lengang itu hanya menyisakan kelompok Hanzho.
Hawa kehadiran yang kuat tadi semakin mendekat. Tetua Lan dan tetua Yan dapat merasakan dengan jelas apa yang akan terjadi. Mereka memutar haluan kuda dan dengan cepat memacunya mendekati gerbanf kota. Hanzho dan kelompoknya yang hendak menyusul, segera berhenti saat prisai energi tembus pandang melindungi mereka. Sebuah prisai yang sangat kuat. Sepertiny tetua Lan dan Yan cukup serius kali ini.
Di gerbang kota telah berkumpul puluhan penjaga. Rata-rata mereka berada di ranah Grand Master. Tiga orang kultivator ranah Saint Expert melayang di atas gerbang tembok kota. Mereka terlihat bersiaga. Tetua Lan dan tetua Yan menghentikan laju kudanya tepat di depan gerbang. Para penjaga tidak merasakan hawa keberadaan mereka. Para penjaga terlalu fokus dengan hawa keberadaan kuat yang melaju dengan santai dari arah selatan.
Swwoosshh...
Dua orang kultivator di ranah Holy Ancestor tiba dengan tenang. Mereka berdua melihat kerumunan yang menyambut mereka dengan tersenyum.
"Apa begini cara kalian menyambut kedatangan kami?" Tanya salah seorang dari mereka dengan tekanan yang sangat kuat. Para pemjaga yang berada di ranah Ancestor ke bawah menjadi tak bisa bergerak.
"Mohon maaf senior yang terhormat kami hanya berjaga-jaga." Salah seorang dari tiga orang yang berada di ranah Saint Expert maju dan menghormat penuh sopan.
"Oh apa aku mengizinkanmu berbicara?" Tanya penuh tekanan seorang dari ranah Holy Ancestor.
Orang yang meminta maaf terdiam sebentar. Melihat hal itu, dua temannya yang lain maju dan menghormat.
"Ampun senior yang terhormat. Kami bertiga adalah penjaga Kekaisaran Tunisia ini. Kami tidak tahu ada keperluan apa tuan berdua mendatangi Kekaisaran kecil kami ini." Ucap seorang yang paling tua diantara para penjaga Kekaisaran itu.
"Perlukah alasan bagi kami datang berkunjung ke sini?" Tanya seorang dari dua orang yang dari tadi hanya diam. Tatapan orang itu terlihat merendahkan. Namun dia tidak tahu bahwa nyawanya sedang berada dalam bahaya jika berbuat lebih jauh.
Orang dari Kekaisaran Tunisia itu menelan ludah. Di dunia ini, kultivator yang berada sudah berada di ranah Saint Expert ke atas telah berada di tingkat yang berbeda dari ranah lainnya. Kultivator ranah Saint Expert ke atas telah melalui Petir Kesengsaraan Surgawi. Semakin tinggi kultivasi seseorang, semakin besar Petir Kesengsaraan Surgawi yang diterima.
Oleh sebab itu Kultivator ranah Saint Expert ke atas terdapat perbedaan satu bintang saja sudah bisa menjadi penentu kemenangan apalagi perbedaan ranah. Saat ini di hadapan para Kultivator Penjaga Kekaisaran yang berada di ranah Saint Expert bintang enam sedangkan dua orang yang berada di depan mereka adalah kultivator ranah Holy Ancestor bintang dua. Sebuah perbedaan yang cukup signifikan.
Orang yang lebih tua dari dua orang kultivator ranah Holy Ancestor terlihat bosan. Dia mulai tidak tertarik dengan percakapan yang berlangsung.
"Begini saja. Jika ada sesuatu yang menarik di Kerajaan ini kami akan segera pergi dari sini. Jika tidak lebih baik Kerajaan ini ditimbun bersama dengan seluruh penghuninya." Ucap tegas laki-laki yang lebih tua diantara dua kultivator ranah Holy Ancestor.
Ketiga orang yang berada di ranah Saint Expert saling bertatapan. Mereka berbicara melalui pikiran. Membahas persyaratan dari dua orang kuat di depan mereka. Ketiga orang tua itu maju bersama.
"Senior terhormat. Kerajaan ini hanyalah kerajaan kecil dan tidak ada barang berharga di dalamnya. Hanya ini yang dapat kami berikan." Ucap orang yang paling tua diantara tiga kultivator Kekaisaran. Dia membuka telapak tangannya lalu muncullah satu kotak kayu usang yang tersegel. Kotak kayu usang itu terlihat biasa saja namun memiliki nilai yang sangat tinggi bagi orang yang mengetahuinya.
Dua orang ranah Holy Ancestor itu terlihat biasa saja. Mereka tidak mengetahui nilai kotak kayu usang itu. Mereka berdua lebih tertarik dengan segel yang melindungi kotak itu. Segel itu memancarkan aura mengintimidasi yang kuat. Tentu saja segel itu bukan segel sembarangan. Jika berhasil memecah kode segel itu mungkin mereka bisa mempelajarinya.
Orang yang lebih tua maju dan memeriksa kotak kayu usang yang masih di tangan kultivator Kekaisaran.
"Siapa namamu orang tua?" Tanya orang yang maju tadi dengan nada dingin. Tidak ada ketertarikan dalam pertanyaan itu.
"Nama saya Lindong senior." Jawab orang tua yang memegang kotak kayu dengan gugup.
"Ingat ini namaku Liang dan dari mana kalian mendapat kotak ini serta siapa yang menyegelnya?" Tanya Liang dengan datar.
"Saya juga tidak tahu asal kotak ini senior. Saya menemukannya saat berada di Gurun Fajar Merah beberapa tahun lalu. Kotak kayu ini satu-satunya yang saya dapat dari reruntuhan itu." Jawab Lindong gugup. Orang yang bernama Liang itu mengerutkan keningnya.
"Gurun Fajar Merah di benua Land Of Death?" Tanya Liang penasaran.
"Betul senior." Jawab Lindong mengangguk.
Orang yang bernama Liang tampak berpikir sejenak.
"Baiklah akan aku ambil kotak kayu ini sebagai ganti Kerajaan ini." Ucap Liang mengambil kotak kayu usang dari tangan Lindong. Liang menimbang-nimbang kotak itu dan mengamatinya sesaat.
"Senior Liang apa anda membiarkan mereka begitu saja?" Tanya teman Liang yang lebih muda darinya.
"Junior Lahat, aku tidak tertarik dengan nyawa mereka yang tak lebih tinggi dari kotak kayu usang tadi. Nyawa satu kerajaan kecil ini hanya seharga kotak kayu usang ini. Benar-benar rendah." Jawab Liang santai.
"Lalu kemana tujuan kita selanjutnya Junior Liang?" Tanya Lahat.
"Kita akan menuju Gurun Fajar Merah di benua Land Of Death dan merampok harta di sana. Dengar-dengar di sana sedang terjadi perburuan harta karun di gurun itu. Tentu saja akan lebih menarik dari di sini." Jawab Liang terbang cepat meninggalkan orang-orang Kerajaan Funisia yang marah mendengar ucapan Liang tentang harga nyawa mereka. Sayangnya mereka marah sama saja tidak ada gunanya di hadapan kekuatan yang lebih besar.
Mereka merasa lega saat kedua ancaman yang membahayakan diri mereka telah tidak ada dan pergi tanpa membuat masalah. Para kultivator yang berada di bawah bersorak riang gembira dan berterima kasih kepada kultivator yang berada di ranah Saint Expert yang melayang-layang di atas mereka.
Kemudian mereka semua kembali ke kota dan merayakan kemenangan ini.
Tetua Lan dan dan tetua Yan juga memacu kudanya kembali ke tempat Hanzho dan kelompoknya. Mereka terlihat cemas namun langsung merasa lega begitu melihat tetua Lan dan Yan kembali dengan selamat dan tidak kekuarangan satu apapun.
Tetua Yan mengibaskan tangannya. Prisai energi yang menghalangi Hanzho dan kelompoknya hilang.
"Apa yang terjadi Saudari Yan?" Tanya Hanzho penasaran.
" Nanti saja kita bicarakan di perjalanan saudara Hanzho." Jawab tetua Yan.
"Sekarang yang penting ceritakan sedikit tentang kota ini dan mengapa kita harus berada di sini." Ucap tetua Lan santai.
"Baik dengan senang hati saudari Lan."
Lalu mereka melanjutkan perjalanan mereka berkeliling kota ini sambil menjelaskan mengenai kota ini.
Sementara itu orang yang bernama Lahat melihat seniornya hari ini tampak berbeda dari sebelumnya. Tidak biasanya dia melepaskan orang yang ditargetkan hidup-hidup. Namun hari ini dia membiarkan target mereka hidup-hidup bahkan tanpa melukainya sedikitpun.
"Senior Liang apa yang sebenarnya terjadi pada anda hari ini?" Tanya Lahat penasaran. Dia menambah kecapatan terbangnya demi mengimbangi kecepatan seniornya.
Orang yang bernama Liang itu menghentikan terbangnya dan melihat kesana kemari seperti mencari-cari keberadaan orang. Setelah dirasanya tidak ada siapa-siapa, tiba-tiba raut wajah Liang berubah kesakitan.
Uhuk.....
Liang batuk kemudian muntah darah segar yang lumayan banyak. Lahat yang melihat hal itu terkaget setengah mati dan langsung memapah turun seniornya. Dia menyandarkan punggung Liang di sebuah pohon yang cukup besar lalu memgalirkan energinya membantu Liang menyembuhkan luka dalamnya.
"Kamu mungkin tidak percaya yang aku alami." Ucap Liang di sela-sela penyembuhannya. Lahat diam sambil mengobati seniornya.
"Junior Lahat, saat kamu mulai berbicara dengan tiga orang tua penjaga Kekaisaran Tunisia, tiba-tiba satu suara masuk ke kepalaku dan mengancam akan membunuh kita jika kita melukai orang-orang yang menghalangi kita. Aku tidak tahu dari mana suara itu namun yang pastinya suara itu suara wanita muda yang berasal dari orang-orang yang berada di bawah.
Aku mencari keberadaan suara itu dan melihat dua orang wanita bercadar diantara para prajurit penjaga gerbang. Kedua wanita bercadar itu menatap kita dengan pandangan menghinakan. Awalnya aku tidak merespon suara di kepalaku dan mengabaikan dua wanita. Namun tiba-tiba saja aku mendapat serangan mental yang sangat kuat. Aku mencoba melawan namun sayangnya perlawananku sia-sia. Serangan mental itu melukai jiwaku dengan keras lalu suara wanita muda tadi kembali masuk kepikiranku. 'Jika kalian ingin melihat matahari besok pagi, sebaiknya cepat pergi dari sini tanpa melukai siapapun. Jika tidak bukan cuma kalian berdua yang mendapat akibatnya namun seluruh sekte dan keluarga kalian akan dikuburkan bersama jasad kalian. Paham!!'
Suara itu begitu mengerikan. Aku bertahan dari serangan mental wanita tadi dan ssperti yang kamu lihat aku berhasil mendapatkan kotak kayu usang dari orang tua itu." Jelas Liang sambil memejamkan mata memeriksa jiwanya yang terluka. Dia baru kali ini mendapat luka jiwa tanpa bertarung fisik.
"Aku baru tahu ternyata luka jiwa lebih menyakitkan dari luka fisik." Gumam Lahat dalam diamnya.
................
"Adik ketiga, bagaimana kalian bisa selamat dari badai pasir?" Tanya Andri saat sedang makan siang di dalam tenda. Dia sendiri tahu bagaimana dahsyatnya badai itu bahkan tenda mereka yang sudah dilindungi dengan energi masih bisa bergetar hebat sedangkan dua adiknya yang berada di luar tidak terlihat terkena badai. Bahkan sebutir pasir yang melekat di tubuh mereka tidak ada sama sekali.
"Ah aku juga tidak tahu. Saat badai mulai menerjang aku bersembunyi di belakang kakak ketiga. Lalu aku mendengar suara-suara menyeramkan dari depan namun aku tidak tahu itu apa karena aku memejamkan mata. Entah tiba-tiba suara menyeramkan itu hilang berganti dengan sebuah taman yang sangat indah. Di ujung taman terdapat bukit kecil yang sangat luas. Di atas bukit itu terdapat satu istana yang sangat megah. Benar-benar megah yang menjulang tinggi. Istana itu berwarna merah yang aku tidak tahu terbuat dari apa. Aku tidak tahu apakah itu ilusi atau bukan namun aku merasa semua itu sangat nyata. Bahkan aku membawa beberapa roti yang sangat enak yang belum pernah kulihat di dunia ini yang disuguhkan kepadaku oleh para pelayan diistana itu." Jawab Denas yang kemudian mengeluarkan roti yang dikatakannya dari cincing ruang miliknya.
Andri dan Jessika sangat terkejut. Roti di depan mereka benar-benar nyata dan bukan ilusi semata. Aromanya yang lezat menggugah selera memaksa mereka mencicipi roti dari Denas.
Andri dan Jessika semakin terkejut saat roti itu masuk ke mulut mereka. Rasa yang luar biasa lezat dan coklat yang lumer langsung di mulut membuat mereka tidak bisa berkata-kata. Mereka berdua mengabiskan sebungkus roti seukuran kelapa dalam beberapa gigitan saja. Mereka benar-benar dibuat puas setelah merasakan kenikmatan roti itu.
"Benar-benar aneh. Roti dengan kelezatan seperti ini bahkan di seluruh dunia tidak ada yang mampu mendekati rasa lezat ini. Adik keempat bagi lagi dong rotinya." Ucap Jessika berbinar-binar meminta kepada Denas.
"Tenang saja kak aku membawa cukup banyak kok. Bisa buat bekal perjalanan selama di gurun ini." Jawab Denas santai lalu mengeluarkan setumpuk roti yang sama di lantai dekat mereka makan.
Andri dan Jessika terperanjat terbelalak. Benar seperti yang dikatakan Denas, tumpukan roti di dekat mereka ini setinggi manusia normal.
"Adik keempat kamu ini merampas atau meminta kenapa bisa sebanyak ini?" Tanya Jessika tak mengalihkan pandangannya dari tumpukan roti.
"Sebenarnya aku memintanya cuman beberapa bungkus namun aku diberi setumpuk ini. Tentu saja aku tidak segan mengambil semuanya. Awalnya aku kira cuman ilusi belaka. Namun rasa lezat yang sampai sekarang masih kurasakan memungkiri semua ilusi itu. Terlebih saat aku mengecek cincin ruang, tumpukan roti ini benar-benar ada di sana." Jawab Denas sambil mengingat-ingat kejadian yang tadi dialaminya dalam Istana Merah.
"Oh iya ada sesuatu yang ganjal di istana itu." Lanjut Denas. Ucapan itu menarik perhatian Jessika dan Andri. Mereka menunggu lanjutan ucapan Denas.
"Pertama para pelayannya. Mereka berusia sekitar dua puluhan tahun serta wajah yang rupawan dan jelita. Kecantikan dan ketampanan itu belum pernah kulihat di dunia ini. Mereka seolah para Dewa Dewi yang menjaga istana itu. Dan yang kedua adalah kekuatan para pelayan itu. Kekuaran mereka sudah jauh melebihi kultivator ranah Immortal. Mereka memiliki aura yang benar-benar mengerikan. Aku dapat merasa hanya dengan tatapan mereka bisa membunuhku kapan saja. Dan yang ketiha ketika mereka memberiku roti ini mereka mengatakan bahwa aku adalah kawan dari tuan mereka. Sedangkan tuan mereka adalah pemilik dari istana dan seluruh isinya serta seluruh yang ada di dunia tempat istana itu berada. Mereka juga mengatakan, hanya tuan merekalah yang mengizinkan seseorang masuk ke Istana dan memasuki dunia itu. Kata mereka, aku sebagai kawan dari tuan mereka bisa sering-sering masuk ke Istana. Aku sempat bertanya nama tuan mereka, namun mereka hanya mengatakan aku akan tau sendiri jika sudah waktunya." Tutur Denas panjang lebar sambil meletakkan dagunya di atas meja makan. Dia kebingungan memikirkan ucapan para pelayam istana merah itu.
Jessika dan Andri tampak bingung mendengar cerita Denas. Mereka berdua mengira-ngira cerita Denas itu ada hubungannya dengan kerajaan kuno yang terkubur dalam gurun pasir ini. Namun hal yang paling membuat mereka buntu adalah ucapan para pelayan yang mengatakan Adik keempat mereka adalah kawan dari tuan pemilik dunia itu.
"Adik keempat, coba diingat-ingat apakah pernah bertemu dan berkawan dengan seseorang selama ini?" Tanya Andri penasaran.
Denas menggeleng. "Setelah kabur dari rumah, aku tidak berteman dengan siapapun sebelum kakak pertama dan kakak ketiga. Di rumahpun aku tidak terlalu akrab dengan tetangga. Aku sibuk berlatih dan berlatih serta mempelajari hal-hal yang membosankan. Entahlah aku juga tidak tahu maksud dari ucapan para pelayan itu." Jawab Denas yang putus asa.
Jawaban itu membuat Jessika dan Andri ikut putus asa.
"Eh kakak ketiga bagaimana denganmu? Apa yang terjadi ketika badai berlangsung?" Tanya Denas saat melihat kakak ketiganya itu dari tadi diam saja dan tidak terkejut dengan cerita Denas.
"Aku menemukan sesuatu yang cukup menarik juga walaupun masih kalah menarik dari cerita adik keempat." Ucap Tang Xiao tersenyum lebar.
Dia lalu membuka telapak tangannya dan muncullah api kecil berwarna hitam di tangan Tang Xiao.
"Apa..? Inti Api Sembilan Surgawi?" Andri, Jessika dan Denas terlonjak dari tempat duduknya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yo Readers...
Terima kasih telah mampir.