The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 44. PENGUTUK JIWA



"Wahh.. Enak sekali Kak.. Lebih enak dari masakan nenek." Ucap Maria disaat sarapan pagi. Tang Xiao, Denas, Andri, Adam dan Hawa tertawa geli mendengar celoteh Maria.


"Ah anak nakal. Berpihak kalo lagi enaknya aja." Ucap Denas membalas celoteh Maria sambil mengelus-elus kepala anak itu. Maria hanya tersenyum dan melanjutkan makannya.


"Ini daging apa kak? Kenapa empuk dan gurih. Siapa yang masak?" Tanya Maria sambil terus mengunyah makanan terenak yang pernah dia makan.


"Pelan-pelan aja Maria. Gak ada yang merebutnya dari Maria kok. Yang masak ini Kakak Denas sama Kakak Tang. Gimana rasanya, enak kan?" Jawab Andri tersenyum lucu melihat tingkah gadis kecil itu.


"Enak kak. Benar-benar enak. Jauh lebih enak dari masakan nenek." Ucap Maria lagi. Semua yang ada di ruangan itu hanya tersenyum lucu.


"Ini daging ayam hutan yang tadi malam ditangkap Kakak Tang. Hebatkan." Ucap Denas menjawab pertanyaan yang sebelumnya ditanya Maria.


Gadis kecil itu hanya mengangguk kecil dan melanjutkan menggigit daging di tangan kanan dan kirinya.


Rumah kecil itu hari ini terlihat sangat penuh orang dan meja. Bahkam ada puluhan orang yang sarapan di halaman rumah. Bandit Gunung yang selama ini brutal dan bengis terlihat seperti para penduduk kampung yang hidup dalam damai tidak terlihat di wajah mereka kebengisan yang selama ini mereka banggakan. Mereka juga baru kali ini makan makanan enak seperti pagi ini. Bahkan rasa dari daging yang mereka makan ini mampu mengisi qi mereka yang kurang dan memenuhi dantian mereka dengan energi yang berasal dari daging ayam besar yang saat ini mereka makan. Setiap orang duduk empat-empat dalam satu meja. Dan di setiap meja terdapat satu ekor ayam hutan sebesar satu meter dengan rasa yang sangat lezat yang bahkan belum pernah mereka makan selama ini. Senyum kepuasan terlihat di wajah semua orang.


Tang Xiao dan Denas puas melihat orang-orang sekitarnya makan masakan mereka dengan lahap. Adam dan Hawa puas dengan apa yang ada di sekitar mereka. Andri puas dengan kedua adiknya itu. Maria puas makan sampai perutnya yang kecil tak kuan menampung makanan lagi.


"Heeaakkeemm. Enak..." Ucap Maria bersendawa. Dia memegangi perutnya yang telah buncit kekenyangan.


"Ahh...Cape." Ucap Maria. Dia bangkit perlahan dan berjalan keluar rumah menuju halaman membiarkan tubuh kecilnya ditimpa sinar matahari pagi membantunya mempercepat proses membakar kalori ditubuhnya.


Tang Xiao, Adam dan Denas saling pandang. Selesai berbicara melalui pikiran, mereka bertiga saling mengangguk. Sebagai kakak pertama, Andri berdehem memulai pembicaraan.


"Ehem ehem... Tuan Adam ada yang kami bicarakan." Ucap Andri membuat Adam dan Hawa menoleh padanya.


"Kami akan melanjutkan perjalanan seperti yang kami cita-cita kan dan kami harapkan. Saya sebagai Kakak pertama mewakili saudara-saudara yang lain meminta maaf tidak bisa berlama-lama di sini dan berterima kasih karena telah menerima kami dengan baik." Ucap Andri membungkuk diikuti Tang Xiao dan Denas.


Tindakan mereka itu segera dicegah oleh Adam dan Hawa. Mereka berdua merasa tidak pantas menerima rasa hormat dari tiga pemuda jenius luar biasa seperti mereka. Adam dan Hawa, di pelupuk mata mereka mulai menggenang air hangat.


"Tidak... Kalian tidak seharusnya berterima kasih. Kamilah... Kami yang harus berterima kasih. Entah bagaimana cara kami menebus segala hutang budi dan semua pemberian kalian bertiga Nak." Ucap Hawa yang paling emosional. Dia yang tampak cantik dan muda ini tetaplah berjiwa nenek-nenek dan tidak bisa dipungkuri semuda apapun dia kelihatan tetaplah dia seorang nenek-nenek. Kemarin dia dan suaminya tergeletak di atas ranjang tidak bisa berkata dan berbuat apa-apa bahkan berbicara pun tidak bisa dengan kondisi yang sama dengan orang mati bahkan penduduk kampung menjauhi mereka. Namun hanya dengan kedatang tiga orang pemuda yang dibawa cucunya mampu memutar balikkan hidup mereka hanya dalam waktu satu malam


Sangat mudah, semudah membalikkan telapak tangan, semudah membalikkan sebuah koin, semudah menarik dan mengeluarkan nafas, semudah itulah hidup mereka berubah di tangan ketiga anak muda di depannya ini.


Walaupun Hawa terlihat muda, namun jiwa tuanya yang membuat dia menangis tersedu saat ini. Dia sudah menganggap ketiga pemuda ini sebagai cucu-cucu yang sangat disayanginya.


Lama. Cukup lama Hawa menangis setelah mendengar ucapan Andri. Adam matanya berkaca-kaca dan masih mampu mengontrol dirinya. Sedangkan para mantan anggota Bandit Gunung hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka, namun dalam hati mereka juga ikut sedih. Setelah beberapa saat bersama ketiga pemuda yang belum mereka kenal, mereka sudah mengerti bagaiamana arti dihargai dan menghargai. Terutama menghargai hidup orang lain dan hidup sendiri. Biarpun terlihat menyedihkan, setidaknya tetap lah hidup dengan hati nurani dan menjalaninya dengan tenang.


"Apa kalian akan kembali ke sini setelah kalian berhasil nanti?" Tanya Hawa di sela sendu sedannya.


"Hidup ini harus terus berjalan. Ketika kami telah mencapai tujuan apakah kita bisa bertemu kembali atau tidak hanya takdir yang tahu. Semuanya mungkin berubah ketika kita bisa bertemu kembali. Namun kami tidak akan pernah melupakan Tuan Adam sekeluarga." Balas Andri.


"Mungkin jika takdir mempertemukan kita, kami harap kalian hidup dalam keadaan lebih baik dari ini. Kami hanyalah anak-anak yang ingin tahu luasnya dunia. Ingin mengetahui jati diri kami sebagai kultivator. Meskipun jalan kami berduri dan penuh tanjakan, setidaknya suatu hari kami pasti akan berdiri tegak di puncak." Ucap Tang Xiao menguatkan argumen Andri.


"Jika berdiri di puncak, sesekali lihatlah kami di bawah yang mungkin sudah sangat tua bahkan mungkin tidak lagi bisa berbicara. Dan ketika masa itu tiba, mari sekali lagi kita minum teh di bawah sinar mentari pagi ditemani anak-anak dan istri kalian. Bila masa itu tiba, setidaknya kami masih ada untuk menyaksikan kalian menyebarkan kebaikan dan rasa kasih sayang yang mungkin ada jutaan orang di luar sana yang tidak cukup beruntung akan hal itu." Ucap Hawa sambil memeluk ketiga pemuda di depannya. Saat memeluk Tang Xiao, Hawa kembali berlinang air matanya.


"Nak Tang, jika suatu hari kamu berkeluarga, setidaknya cintailah pasanganmu yang rela memberikan hidup dan matinya untukmu." Ucap Hawa singkat yang membuat Tang Xiao bingung tidak memahami maksud dari Hawa. Namun dia hanya diam dan tidak bertanya.


Saat Hawa memeluk Denas ada rasa yang sulit di tebak pada pandangan Hawa.


"Nak Denas, jadilah diri sendiri dan jangan malu untuk mengungkapnya. Biarlah dunia tahu meskipun harus mengorbankan segala milikmu." Ucap Hawa yang juga membuat Denas bingung. Terakhir Hawa memeluk Andri dan tersenyum.


"Nak Andri, sebagai Kakak tertua diantara saudaramu, jadilah bijak dan penengah. Selesaikan semuanya dengan tenang. Namun bila perlu, sesekali pakai tinju atau tamparan juga tidak masalah." Ucap Hawa yang juga membuat pemuda itu terdiam.


"Tentu saja nyonya. Sebagai Kakak tertua, jika adik-adikku melanggar aturan dan cita-cita kami sebagai saudara, tentu saja aku akan menjewer mereka bahkan bila perlu akan aku pukul mereka hingga tidak bernyawa." Ucap Andri semangat. Hawa tersenyum.


"Bagus nak Andri. Camkanlah kata-kata itu dan semoga tidak ada penyesalan diantara kalian." Ucap Hawa sambil menepuk-nepuk pundak Andri.


"Baiklah tuan, nyonya kami akan pergi sekarang. Dan biarkan orang-orang ini menjadi bawahan anda, mereka tidak akan pergi meski anda mengusir mereka. Hidup dan mati mereka telah jadi milik anda. Di dunia yang kejam ini mereka akan selalu melindungi kalian terutama Maria yang masih kecil dan belum paham kejamnya dunia. Dia yang paling membutuhkan penjagaan mereka yang tidak didapatnya dari tuan dan nyonya." Ucap Tang Xiao sambil memanggil Paul untuk mendekatinya.


Hawa yang awalnya keberatan dan hendak menolak mempunyai penjaga segera mengurungkan niatnya ketika pemuda di depannya ini mengatakan demi keselamatan Maria. Memang dia dan suaminya tidak bisa menjaga Maria selama ini dan yang ada malah membuat gadis kecil tak berdosa itu hidup dalam kemelaratan dan kesengsaraan. Dia harus bekerja membantu mereka di usianya yang seharusnya bermain dan belajar. Cucu satu-satunya itu harus memeras keringat dan menggigit jari saat melihat teman-teman sebayanya bermain dan belajar bersama keluarga dalam kehangatan rumah tangga. Memikirkan hal ini Hawa menjadi serba salah dan merasa berdosa kepada Maria atas perlakuannya selama ini telah membebani pundak kecil Maria dengan beban yang lebih dari seharusnya.


Hawa melihat keluar rumah, di sana Maria sedang bermain-main bersama beberapa orang penjaga di luar. Senyumnya yang ramah, tawanya yang renyah, Hawa tidak ingin cucu satu-satunya itu bernasib sama seperti mereka berdua. Masa depan cucunya lebih penting dari hidup mereka saat ini.


Hawa kembali kepada Tang Xiao yang saat ini sedang berbicara dengan Paul dan menyerahkan satu cincin perak kepada Paul.


"Nak Tang Xiao terima kasih. Mungkin Maria memang membutuhkan para penjaga ini dari pada kami. Hanya terima kasih yang kami bisa berikan kepadamu." Ucap Hawa membungkuk. Ada setetes embun mengalir dari pelupuknya.


Tang Xiao, Andri dan Denas tersenyum lega karena berhasil membujuk Hawa menerima bantuan penjaga. Dengan adanya bantuan para bandit penjaga, mereka bertiga bisa pergi dengan tenang tanpa memikirkan masalah apapun lagi. Terlebih kekuatan para penjaga baru ini sudah termasuk sebuah Pasukan Elite Imperium. Hanya saja mantan anggota Bandit Gunung bertemu dengan Tang Xiao sehingga mereka berakhir menjadi pasukan penjaga sebuah keluarga kecil.


"Tolong sampaikan permintaan maaf kami tidak bisa pamit sama Maria. Takutnya dia tidak akan membiarkan kami pergi jika pamit nanti." Ucap Tang Xiao memberi salam diikuti Andri dan Denas.


Swooshh....


Ketiga pemuda itu hilang tanpa jejak dari hadapan semua orang yang ada di ruangan itu. Paul yang sudah berada di ranah Saint tidak merasakan pergerakan apapun dan tiba-tiba sudah tidak ada di hadapannya. Namun satu suara terdengar di kepala Paul.


"Ingat! Harta itu harus kalian gunakan sebaik mungkin. Jika kalian berkhianat jangan salahkan aku berbuat sesuatu. Ingat kalian telah kukutuk dengan Pengutuk Jiwa."


"Baik tuan." Jawab Paul setelah itu dia segera berbicara kepada Adam dan Hawa mengenai rencana Tang Xiai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hadu... Dua hari gk up sekali up cuman segini. Repot banget sih...