
Malam menyelimuti dunia. Rembulan tak tampak di angkasa, entah dimana malam ini dia bersinar. Hanya gemintang bertaburan yang menemani malam Tang Xiao duduk di atap istana Kekaisaran Yan. Dia memainkan kecapi dengan nada yang merdu.
Tang Xiao memetik setiap senar kecapi penuh penghayatan. Suaranya mengalun di seluruh Kekaisaran Yan. Masyarakat yang mendengar suara itu semua terdiam. Mereka bertanya-tanya dari mana suara kecapi yang mengalun indah. Mereka belum pernah mendengar suara kecapi seperti ini. Bahkan para musisi dari asosiasi sastra Kekaisaran Yan dibuat terkagum-kagum. Seumur-umur mereka menekuni bidang musik, belum pernah mereka mendengar petikan nada seperti ini.
Seluruh lapisan masyarakat begitu menikmati alunan musik ini. Seperti sihir yang mengendalikan mereka, terdiam mendengarkan tanpa tahu dari mana asalnya. Bahkan orang-orang aliran hitam tak luput kagum.
Seperti sihir yang mengendalikan mereka, masyarakat yang sakit, sembuh dengan sendirinya mendengar musik yang mengalun. Seperti sihir yang mengendalikan mereka, para aliran hitam yang hendak melakukan kejahatan, bergegas kembali ke tempat masing-masing tanpa tahu alasan kembali. Seperti sihir yang mengendalikan mereka, seluruh masyarakat Kekaisaran Yan terlelap dalam alunan kecapi. Malam itu malam yang hening, hanya terdengar suara kecapi dan sesekali suara hewan yang mencoba mengiri nada alunan kecapi.
Xiao Long, Xiao Yang dan Xiao Ying, begitu merindukan alunan nada kecapi seperti ini. Sudah beberapa ratus tahun lamanya mereka tidak mendengar suara ini. Nada yang mereka sendiri tidak tahu kenapa tuan mereka memetik nada seperti ini.
Monica sendiri tak pernah percaya bahwa ada nada kecapi seperti ini yang belum pernah didengarnya. Di kehidupan lalunya, dia telah melihat dan mengetahui berbagai seni musik di dunianya. Mulai seni tiup, seni petik, sampai seni pukul telah didengarnya. Dia juga salah satu maniak musik di dunianya. Namun malam ini dia dibuat terpukau dengan permainan musik Tuannya ini. Permainan yang begitu menggetarkan jiwa, mengusik bilik kerinduan di hatinya. Kerinduan kehangatan keluarga.
Sesaat musik berubah menjadi ceria, namun masih dalam petikan yang sama hanya alunan nada yang berbeda. Suasana berubah riang, langit semakin cerah, hanya malam yang semakin sepi.
Entah apa yang dipikirkan Tang Xiao hingga membuat nada ceria dan bisa saja mengganggu orang lain. Begitu lah yang ada dibenak Monica. Namun berkat itu juga, suasana hatinya langsung berubah. Dia langsung sadar keadaannya saat ini. Dia mempunyai sahabat yang sangat peduli padanya, dan juga mempunyai Tuan aneh, misterius, tak terduga, namun sangat peduli. Walaupun terkadang sedikit dingin, bahkan terkadang sangat menakutkan.
Tang Xiao menjentikkan jarinya di setiap senar kecapi sambil membayangkan dua masa hidupnya. Di hidupnya yang dulu dia tidak punya kekasih, sedangkan delapan temannya saling berkasih menajalin hubungan sah. Di hidup ini dia tidak ingin sendiri, dia harus mendapat pasangan yang bisa mengertinya. Walaupun saat ini baru berumur 15 tahun namun dia mempunyai jiwa berumur tak terhingga.
Setelah puas memainkan kecapinya, Tang Xiao memasukan kecapinya ke dunia jiwanya, lalu duduk menatap langit.
Malam menyelimuti siang. Siang berselimut malam.
Beberapa hari lalu Tang Xiao membantai habis satu keluarga besar di Kekaisaran Yan. Ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya. Dia tidak sendirian namun tetap saja dia yang paling banyak membunuh. 'Mungkin dimana saja aku berada tangan ini selalu berlumur darah pertempuran. Apakah ada cara lain selain menumpahkan darah untuk menegakkan perdamaian? Untuk menegakkan keadilan ?'
Tang Xiao menghebuskan nafas berat. Jika memang ada mungkin tidak akan bertahan lama. Mungkin hanya dengan kematian, seseorang bisa sadar siapa dirinya. Membunuh itu ibarat penyakit gatal yang jika digaruk semakin lama semakin nikmat namun berdampak buruk bagi diri sendiri. Di masa lalunya pun entah berapa banyak makhluk yang telah dibinasakan olehnya. Jika seandainya dia mengeluarkan aura pembunuhnya, maka satu semesta akan meledak karena tidak kuat menahan aura pembunuh yang telah dikumpulkan semala ini.
Ya memang dia dapat merasakan ketenangan alam ilahi karena dia menegakkan hukum keras bagi para pelanggar. Hukuman kematian.
Namun saat ini dia sedang berpikir untuk mengembalikan kekuatannya dan mengambil pecahan energinya yang terlempar ke seluruh semesta. Mungkin dia tidak akan lama lagi berada di dunia ini. Walaupun itu tidak mudah baginya karena harus merobek beberapa dimensi dan mengeluarkan energi yang tidak sedikit. Dengan kekuatannya saat ini, dia akan kesulitan membuat portal dimensi yang nyaman dan aman. Jika mengoyak dimensi, belum tentu Tang Xiao akan ke tempat sesuai dengan yang dituju. Karena ada banyak dimensi dan ruang yang harus dikoyak.
Sedang berpikit demikian, Xiao Long berbicara dari dalam dunia jiwanya.
"Tuan, apa yang sedang tuan pikirkan? Sepertinya ada sesuatu yang ingin tuan katakan. Kami di sini siap mendengarkan Tuan" Kata-kata Xiao Long tersebut membuat Tang Xiao terhentak. Dia lupa kalo memiliki abdi Xiao Long yang kekuatannya saat ini mampu membuat portal dimensi raksasa. Dia tersenyum lebar.
"Ah iya Long'er, aku memang akan membutuhkan kalian, terutama kamu"
"Apa yang bisa kami bantu tuan? Kami selalu bersama tuan dimanapun dan kapanpun" Xiao Long mengucapkan kata-kata itu penuh penghayatan.
Selama hidupnya dia memang sudah bersama Tuannya itu. Dia masih ingat sejak kecil sering diajari oleh Tang Xiao hingga menjadi seekor Naga Ilahi Sembilan Kepala. Bersama teman-teman Tuannya, mereka hidup harmoni bersama tanpa pernah saling bertingkah. Xiao Long sendiri sudah tidak ingat umur berapa sekarang.
Dia sudah tidak menghitung umurnya sejak berumur satu milenium.
Tang Xiao tersenyum mendengar ucapan Xiao Long.
"Ya nanti akan aku beritahu. Sekarang ini ada yang harus kulakukan." Ucap Tang Xiao sambil melihat langit malam. Dia menyipitkan matanya lalu memandang lurus ke satu bintang yang bersinar paling redup.
"Ah ternyata Mahkota ku ada di sana. Pantas saja dari tadi aku merasakan hawa yang familiar. Cukup jauh sih. Namun pantas lah untuk diriku." Tang Xiao terbang dari tempat duduknya. Saat dia melihat Mahkota yang ada di planet lain, dia hanya bisa melihat Mahkotanya tidak bisa melihat hal lain. Dia tidak mengetahui bahwa sedang ada keributan di planet itu karena memperebutkan Mahkotanya.
Tang Xiao yang melayang-layang, segera turun ke halaman Istana. Suasana sangat sepi. Hanya terdengar hewan malam seperti jangkrik, kodok dan laungan serigala dari kejauhan. Para penjaga yang berjaga sudah tertidur pulas. Melihat suasana sekitar, hatinya begitu damai. "Mungkin dalam hidupku kali ini, aku akan tinggal di dunia Manusia. Tapi tentu saja akan berlawanan dengan tujuan hidupku. Jika memang tidak bisa tinggal di dunia manusia, setidaknya aku telah siap meninggalkan manusia dalam keadaan baik dan benar. Hanya saja berapa lama aku harus mendapatkan kekuatanku kembali. Ah iya aku masih belum membalaskan dendam orang tuaku. Setidaknya sebelum aku pergi jauh, dendam harus sudah terbalaskan agar aku bisa tenang. Tunggu saja kematian kalian orang yang telah membunuh orang tuaku." Tang Xiao bergumam sambil berjalan ke kamarnya. Ada rasa sedih dan bersalah di hatinya saat ini karena belum sempat membalaskan dendam yang sudah menumpuk beberapa tahun terakhir. Dengan kekuatannya sekarang akan sangat mudah meratakan aliran hitam semudah membalikkan telapak tangan.
Tang Xiao berhenti di depan kamarnya tanpa membuka pintu, dia masuk begitu saja. Seandainya ada orang yang melihat kelakuan Tang Xiao, orang itu akan langsung jantungan dan seketika mati di tempat.
Di dalam kamar, dia segera mengeluarkan kotak Pandora. Kotak Pandora di tangannya langsung berubah warna biru keemasan. Sebuah tanda bahwa kotak itu telah berada di tangan pemiliknya. Kotak yang diberikan Xiao Long setelah keluar dari Samudra Pantai Selatan. Xiao Long juga membawa seluruh penghuni Samudra ke dalam dunia jiwanya. Saat ini Dunia Jiwa Tang Xiao terlihat ramai dari sebelumnya. Dia juga merasa senang karena makhluk yang eksistensinya dicari diseluruh semesta kini berada di jiwanya. Berbagai macam ras Naga itu telah tunduk padanya tanpa harus melukai mereka dan tanpa memaksa mereka.
"Tak ku sangka di dunia ini ada kotak Pandora Kehancuran. Ternyata rumor itu memang benar. Ah andaikan teman-teman tahu kotak ini ada di tangan ku, entah apa reaksi mereka. Mungkin akan merengek-rengek memintanya. Hihihi... Hufffttt entah bagaimana kabar kalian di sana kawan. Suatu hari kita akan berkumpul kembali dan menjaga seluruh semesta dari tempat yang tidak pernah diketahui siapapun." Tang Xiao mengamati Kotak yang saat ini di tangannya. Dilihat dari mana pun, dia tetap tidak bisa melihat isi kotak Pandora itu. 'Sungguh misterius, dengan mata Ilahi, aku tidak bisa melihat apa yang ada dalam kotak. Apa mungkin karena saat ini kekuatan ku tidak mencukupi untuk melihatnya.' Tang Xiao mengira-ngira kenapa dia tidak mampu melihat isi kotak tersebut. Padahal mata Ilahinya mampu menembus 10 dimensi maha besar. Saat ini dia malah tidak mampu melihat isi kotak Pandora.
Setelah cukup lama berpikir, Tang Xiao menggigit jari telunjuknya dan mengeluarkan darah warna biru keemasan. Warna darah yang sama dengan warna yang keluar dari Kotak Pandora. Darah Tang Xiao mengalir dan membasahi seluruh permukaan Kotak. Setelah dirasa sudah cukup darah yang dikeluarkan, Tang Xiao menutup luka dan beregenarasi kembali.
Kotak yang telah berlumuran darah warna biru keemasan kini mulai menyerap darah itu. Sedikit demi sedikit terlihat perubahan di kotak itu. Mantra-mantra suci dan simbol-simbol kuno muncul mengelilingi Kotak itu.
Tang Xiao yang melihat kejadian itu dibuat takjub. Dia belum pernah melihat simbol-simbol dan mantra suci yang mengelilingi kotak Pandora yang melayang-layang di depannya.
Tanpa pikir panjang, Tang Xiao segera menutup mata dan perlahan mencoba menyerap simbol dan mantra suci yang mengelilingi tubuhnya. Simbol-simbol kuno dan mantra suci yang awalnya berwarna putih kini menjadi warna keemasan. Semakin lama gerakan simbol dan mantra itu semakin cepat dan semakin mengecil seolah hendak menutupi seluruh tubuh Tang Xiao.
Simbol-simbol dan mantra suci keemasan yang mengelilingi tubuh Tang Xiao sedikit demi sedikit memasuki kepalanya. Tang Xiao mengerutkan kening menahan sakit dikepalanya karena dimasuki simbol dan mantra suci.
Simbol-simbol kuno dan mantra suci itu terus memasuki kepala Tang Xiao. Begitu simbol dan mantra suci terakhir memasuki kepalanya, tubuh Tang Xiao yang sedang melayang-layang dalam kondisi duduk itu seketika menghilang bersamaan dengan hilangnya Kotak Pandora. Kedua benda yang berbeda itu menghilang tanpa menyisakan jejak seolah-olah tak pernah ada siapapun di ruangan itu.
...****************...
Han Shan, setelah selesai berkultivasi dikamarnya setelah seminggu, telah kembali ke Sekte Bambu Emasnya. Walaupun dia sedikit mengambek karena tidak diajak ikut memerangi Keluarga Penghianat Lin, namun dia tetap merasa puas karena dia yang sekarang bukanlah dia yang dulu.
Dengan kekuatannya yang sekarang dia sudah berada pada tingkat Dewa Bumi sebagai seorang Kultivator. Bisa dikatakan sebagai Kultivator terkuat. Karena tekhnik yang dipelajarinya memang tekhnik terkuat di dunia ini. Bahkan Han Shan tidak tahu bahwa tekhniknya itu adalah sesuatu yang sangat diincar oleh Kaisar Surga sendiri.
Setelah kembali dari Kekaisaran, ada begitu banyak pertanyaan dari anggota Sektenya mengenai keluarga Lin yang berkhianat, dan tentu saja juga tentang seorang pria bertopeng yang bisa menyembuhkan penyakit Putra Mahkota.
Dengan sabar Han Shan menjawab pertanyaan mereka. Satu persatu. Dia juga menceritakan aksi Pria bertopeng yang menyembuhkan penyakit Pangeran Mahkota hanya dalam pembakaran satu batang dupa lamanya dia menyembuhkan. Berbagai macam komentar keluar dari anggota sektenya.
"Hebat.... Padahal tabib istana sudah putus asa"
"Lebih hebat lagi dia dari aliran putih. Coba bayangkan orang itu berasal dari Aliran Hitam."
"Ya betul. Jika dari aliran hitam mungkin kesempatan menang hanya sedikit."
Beberapa celoteh murid-muridnya terdengar jelas. Saat ini pendengaran Han Shan begitu tajam. Hingga dia mampu mendengar seluruh celoteh Murid-muridnya yang jauh darinya. Beberapa orang dari muridnya ada juga komen negatif.
"Aku sedikit curiga dengan orang bertopeng itu."
"Ya aku juga curiga. Sepertinya orang bertopeng itu telah merencanakan semua.
"Ya. Aku juga berpikir demikian. Mana mungkin dia bisa menyembuhkan Penyakit yang bahkan Kaisar sebelumnya tidak mampu sama sekali."
"Ya sepertinya ada konspirasi di sini. Aku yakin dia telah merencanakan semua ini agar bisa masuk ke Kekaisaran kita."
Han Shan hanya geleng-geleng kepala mendengar celoteh murid-muridnya itu. Han Shan merasa perlu menjelaskan sesuatu.
"Kalian tau apa tingkatan orang bertopeng itu?" Tanya Han Shan mengeraskan suaranya.
Pertanyaan itu membuat semua orang terdiam. Mereka melupakan hal yang paling penting diketahui seorang pendekar.
Melihat semua murid dan tetua yang berkerumun itu terdiam, Han Shan tersenyum tipis dan menarik nafas dalam lalu mulai berbicara.
"Tingkatan orang itu adalah Nirwana, dan dia seorang Kultivator" Han Shan mengucapkan sambil berbangga diri.
"Aappaa?" Semua orang kaget tak percaya. Seorang Kultivator di tingkat Nirwana adalah sudah dianggap sebagai Dewa. Semua orang terdiam dalam pikirannya masing-masing.
Beberapa dari murid yang berbicara tidak enak tadi terlihat pucat dan bergetar. Mereka telah salah menilai seorang pahlawan penyelamat Putra Mahkota. Apalagi pahlawan itu telah membantu Kaisar dalam memerangi para penghianat keluarga Lin.
Han Shan tampak menikmati kekaguman para murid dan tetua Sekte Bambu Emas. 'Andai mereka tahu orang bertopeng itu ada Xiao'er akan seperti apa reaksi mereka'. Batin Han Shan dalam hati
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih kepada para readers SPDS.
Terutama rasa terima kasih kepada NovelToon yang telah mensupport saya.
Mungkin ada sekitar seminggu lebih saya tidak up. Memang saya sedang sibuk-sibuknya. Pertama karena saat itu saya mengurusi uas anak-anak di asrama. Yang kedua saya mengerjakan beberapa laporan sekolahan dan laporan Yayasan setiap satu semester. Dan yang ketiga adalah saya jatuh sakit beberapa hari ini. Karena kesibukan yang padat dan dikejar deadline serta tubuh yang ngedrop membuat saya menghentikan sementara menulis novel. Saya fokus pada laporan yang dikejar deadline.
Ya sekali lagi saya ucapkan tkepada semua pihak yg masih setia membaca SPDS dari awal.
****Salam**** sehat selalu dan jangan lupa selalu patuhi prokes sebagai jalan usaha yang bisa kita lakukan.