
Khhaakk...
Trang..
Crasshh...
"Huf huf... Sialan kenapa mereka ada begitu banyak. Walaupun hanya Mythical Beast tingkat tiga dan empat namun jumlah mereka yang membuat repot." Ucap seorang gadis muda mengenakan seragam biru laut dengan sepasang sayap indah di kedua punggungnya. Sementara teman-temannya bertempur cukup jauh dari tempatnya. Awalnya dia menjadi umpan menarik perhatian para Mythical Beast ini namun dia tidak menyangka jika dia terjebak di wilayah Mythical Beast yang saat ini dilawannya. Gadis cantik itu tampak gesit mengayunkan pedangnya menebas Mythical Beast yang mendekat. Sesekali dia terbang di udara dan sesekali dia bertarung di tanah berpasir.
"Jika begini terus aku bisa kelelahan. Mana lagi mereka seperti air bah seperti tak pernah berkurang sebanyak apapun aku membunuhnya. Ah dasar tua bangka itu menyuru-nyuruh orang sesukanya." Gerutu gadis cantik itu sambil terus mengayunkan pedangnya. Sekali tebas dua atau tiga Mythical Beast terbunuh. Baginya Mythical Beast tingkat seperti ini bisa dibunuhnya hanya dengan menutup matanya. Gadis ini benar-benar kuat.
Ketika dia sedang melawan para Mythical Beast, tiba-tiba saja dia merasakan hawa kehadiran yang sangat kuat sampai-sampai membuat dia merinding. Dia segera melompat mundur. Para Mythical Beast yang juga merasakan hawa kehadiran yang menakutkan mereka segera berhamburan dan lari kocar kacir. Ada yang bersembunyi di dalam pasir. Ada yang bersembunyi di balik batu-batu besar. Ada yang bersembunyi di balik pohon-pohon raksasa yang hanya hidup di gurun. Mereka tidak lagi mempedulikan gadis yang telah mundur jauh. Saat ini yang terpikir di kepala para Mythical Beast itu bagaimana menyelamatkan diri dari sesuatu yang dapat membunuh mereka hanya dengan hawa kehadirannya.
Gadis itu juga bingung melihat para Mythical Beast yang lari ketakutan.
"Aku kira hawa keberadaan itu berasal dari bos kalian. Ternyata aku salah. Tapi ini lebih mengerikan dari sebelumnya. Sebaiknya aku segera pergi dan melaporkan hal ini." Gumam gadis itu.
Namun dia mengurungkan niatnya saat melihat dari balik pasir yang bergumpalan, berjalan keluar para teman-temannya yang datang ke sini bersamanya. Diantara kerumunan itu ada tiga orang pemuda dengan wajah yang belum dikenalnya yang memakai jubah hitam dengan hoodi menutup kepalanya.
"Nona... Nona." Seru beberapa orang wanita muda yang berlari kecil-kecil dan memeluknya.
"Nona tidak apa-apa kan?" Tanya mereka.
"Aku tidak apa-apa. Bagaimana dengan kalian? Semuanya selamat kan?" Tanya gadis cantik itu balik. Sayapnya sudah tidak ada lagi.
"Ya semuanya baik-baik saja berkat tetua melindungi kami." Balas seorang pemuda yang segera memberi hormat padanya.
Gadis itu mengangguk pelan kemudian melihat tiga orang pemuda yang datang bersama kelompoknya.
"Siapa mereka?" Tanya gadis itu pada perempuan muda yang paling dekat dengannya.
"Oh iya hampir lupa. Ketiga pemuda itu yang entah datang dari mana dan mengusir semua Mythical Beast yang menyerang kami." Jawab perempuan muda itu sambi melambaikan tangan pada ketiga pemuda yang hanya berdiri diam dan sedikit minggir dari kelompok mereka.
"Kakak kesini. Ini kuperkenalkan kalian dengan nona kami." Ucap perempuan muda itu.
Ketiga pemuda itu tersenyum di balik hoodi mereka dan berjalan mendekat.
"Oh terima kasih telah menyelamatkan teman-teman saya. Nama saya Jessika." Ucap gadis cantik itu sambil menangkupkan tangannya ke depan dada. Gadis itu mencoba mengetahui kekuatan tiga pemuda di depannya. Dia cukup kaget saat mengetahui yang paling rendah di antara mereka Grand Master ranah sembilan.
"Ah sama-sama nona. Kami hanya kebetulan lewat dan tidak sengaja bertemu dengan mereka yang tampak kesulitan. Nama saya Andri dan ini kedua adik saya adik kedua Tang Xiao dan adik ketiga Denas." Balas Andri tersenyum ramah sambil membuka hoodinya diikuti Tang Xiao dan Denas.
Jessika tampak tertegun sesaat memandang wajah tampan ketiga pemuda di depannya ini. Baru kali ini dia melihat tiga pemuda tampan berkumpul bekumpul dan bahkan bersaudara.
Gadis itu menyisir satu-satu pemuda di depannya ini sambil masih mengukur kekuatan yang mereka miliki. Yang paling rendah di antara mereka adalah pemuda bernama Tang Xiao namun di saat yang bersamaan dia juga merasa yang paling berbahaya dianatara mereka adalah dia. Pemuda tampan dengan burung pipit bertengger di atas kepalanya.
Sedangkan yang paling tinggi kultivasinya adalah pemuda tampan yang cukup ramping yang bernama Denas. Walaupun masih sangat muda namun dia yang paling kuat diantara mereka. Sementara itu pemuda tampan yang memperkenalkan dirinya sebagai Andri adalah yang paling tinggi kultivasinya sebenarnya namun, dia tidak tahu kenapa kultivasi pemuda di depannya seperti tertahan sesuatu hingga menyebakan dia menjadi nomor dua diantara adik-adiknya.
"Lalu hendak kemana tuan muda ini pergi? Apakah juga untuk mengikuti perburuan harta karun di gurun ini?" Tanya Jessika lembut. Lalu dia memberi isyarat kepada para bawahannya untuk mendirikan tenda tempat mereka berlindung dari sengatan panas mata hari yang mulai meninggi.
"Awalnya kami kesini bukan untuk mengikuti perburuan itu. Hanya saja sebuah kejadian tak terduga membuat kami terpaksa terdampar di tempat mengerikan ini." Jawab Andri sambil melirik Tang Xiao di sampingnya. Orang yang dilirik pura-pura tidak tidak tahu dan memasang wajah polos. Sedangkan Denas berbicara santai dengan gadis muda yang berada terus menerus di sampingnya. Tampak gadis itu bicara malu-malu sedangkan Denas hanya biasa saja tidak terlalu meminati percakapan diantara mereka.
"Tetua, tenda sudah selesai dan sudah bisa digunakan." Seorang pria yang lebih tua dari Jessika mendekat dan berbicara sopan.
"Tuan-tuan sekalian mari kita beristirahat dalam tenda. Di sana juga sudah ada suguhan sebagai rasa terima kasih saya kepada kalian." Ucap Jessika sopan.
Andri, Tang Xiao dan Denas mengangguk. Mereka dibuat kagum dengan kesopanan gadis di depan mereka. Walaupun kultivasinya lebih tinggi dari mereka bertiga, namun dia masih memperlakukan mereka dengan hormat.
"Sepertinya dia mendapat pendidikan yang bagus dan memiliki etika yang tinggi." Batin Andri.
"Hayo.. Kakak pertama terpesona kan dengan Jessika." Ucap Tang Xiao lewat pikiran.
"Heh.. Normal lah menyukai gadis secantik itu. Kalian aja yang aneh bila tidak menyukainya." Balas Andri. Dia nampak malu di depan adik-adiknya.
"Heh kakak pertama gak usah malu-malu. Sepertinya dia cukup layak menjadi pendamping kakak." Goda Denas.
"Eh adik ketiga gak sadar ya dari tadi gadis itu ngelihatin kamu terus." Balas Tang Xiao menggoda adik ketiganya itu.
"Uh aku sih orangnya cukup setia. Aku sudah memiliki seseorang di hatiku." Ucap Denas santai sambil memainkan kipasnya.
"Woow.. Adik ketiga diam-diam ternyata sudah ada orang yang disukai? Wah cepat kasih tahu siapa perempuan beruntung yang bisa menarik perhatian adik yang paling tampan ini?" Tanya Andri dan Tang Xiao bersamaan. Walaupun cuman lewat pikiran tapi percakapan mereka saling terhubung.
"Uh... Sudah sudah.. Ini kehidupan pribadiku." Ucap Denas mengalihkan perhatian.
"Hemm sepertinya adik ketiga belum mau mengenalkannya pada kita. Tapi tenang saja kami berdua sebagai kakak akan membantu mu mendapatkannya." Ucap Andri dan Tang Xiao bersamaan.
Percakapan mereka terhenti saat sudah memasuki tenda yang paling besar diantara semua tenda yang didirikan. Di dalam tenda juga cukup luas. Di tengah-tengah tenda terdapat macam-macam makanan yang tersajikan di atas meja buncar yang cukup besar. Jessika menyuruh ketiga tamu di depannya itu untuk duduk.
"Silahkan dinikmati tuan-tuan." Ucap Jessika mempersilahkan ketiga tamunya mencicipi hidangan di atas meja.
Melihat Jessika memulai duluan, Andri dengan sigap mengikuti Jessika. Pemuda itu menuangkan sedikit anggur di gelasnya lalu menegaknya dengan anggun. Layaknya seorang bangsawan, Andri cukup elegan meminum anggur tersebut.
"Oh hebat sekali tuan muda Andri bisa mengenal anggur ini hanya dengan sekali teguk. Benar anggur ini dari Benua Land Of Soul yang bernama Anggur Bulan Perindu. Konon katanya anggur ini terbuat dari Anggur yang hanya tumbuh sekali selama satu bulan. Yaitu pas bulan purnama." Ucap Jessika sambil menegak anggur dari gelasnya. Tak kalah elegannya dari Andri.
"Hemm Anggur ini mempunyai nama yang menarik. Mungkinkah ada cerita di baliknya?" Tanya Denas setelah menegak Anggur di gelasnya dengan gaya yang tak kalah elegan dari Jessika dan Andri.
"Sayangnya kita minum anggur sebagus ini di tengah gurun yang dipenuhi Mythical Beast dan monster lainnya." Balas Tang Xiao tak mau kalah sambil meminum anggurnya dengan gaya yang lebih elegan dari tiga orang sebelumnya.
"Mungkin anggur ini akan benar-benar terasa kerinduannya jika dihidangkan di bawah temaram cahaya bulan purnama." Lanjut Tang Xiao setelah meminum anggurnya.
"Saudara Tang Xiao memang hebat bisa mengetahui waktu meminum anggur ini dengan tepat. Memang benar jika anggur ini diminum di malam hari di tengah cahaya bulan purnama, maka yang meminumnya tidak peduli siapapun itu akan memproleh satu kesempatan untuk bertemu dengan orang yang paling dirinduinya. Dimanapun orang yang dirindui itu berada, orang yang memohon akan bertemu meskipun orang itu telah mati. Hanya saja orang yang telah mati tidak akan bisa bersama karena mereka telah berbeda alam." Jawab singkat Jessika.
"Siapa orang yang memenuhi permohonan itu?" Tanya Denas penasaran.
"Tentu saja Sang Dewi Bulan yaitu Chang'e. Beliaulah yang memenuhi permohonan itu. Konon katanya Dewi Bulan sendirilah yang memberi kehidupan kepada anggur merah yang dipilihnya untuk tumbuh setiap satu bulan sekali." Jawab Jessika.
"Kenapa dengan Dewi Bulan bisa berhubungan dengan anggur ini?" Tanya Andri penasaran. Dia memang pernah mendengar cerita yang persis diceritakan Jessika namun dia juga tidak tahu bagaimana cerita hubungan Dewi Bulan dengan Anggur Bulan Perindu.
"Saya juga tidak tahu apa hubungannya. Mungkin cerita ini hanya orang-orang dari Benua Land Of Soul saja yang mengetahuinya." Jawab Jessika tersenyum simpul.
"Berarti Kakak pertama seharusnya tau dong cerita ini?" Ujar Denas yang membuat Jessika mengernyutkan dahinya.
"Iya memang tahu namun hanya sebatas dengan yang diceritakan nona Jessika tadi." Jawab Andri.
Jessika semakin terkejut dengan jawaban Andri.
"Berarti tuan Andri asli dari Benua Soul Of Land?" Tanya Jessika penasaran.
Andri mengangguk dan tersenyum simpul. "Tapi sudah satu tahun lebih saya belum kembali sama sekali." Ucap Andri singkat untuk memenuhi rasa penasaran gadis cantik di depannya.
"Lalu dari Kekaisaran mana anda berasal? Saya belum pernah bertemu dengan orang seperti anda sebelumnya di Benua Soul Of Land." Tanya Jessika. Dia menjadi lebih antusias dari sebelumnya.
"Maksudnya belum pernah bertemu dengan orang seperti saya?" Tanya Andri yang merasa aneh dengan pertanyaan gadis cantik di depannya.
"Di umuran tuan segini rata-rata orang di benua Soul Of Land telah berada di ranah Expert bintang lima. Maaf bukannya saya mencemooh atau menjudge tuan. Hanya saja saya merasa kultivasi anda terhalang oleh sesuatu." Jawab Jessika.
"Oh Kakak pertama saya ini andaikan kultivasinya tidak tertahan mungkin saat ini dia sudah berada di ranah Saint jauh lebih tinggi dari nona Jessika yang baru berada di ranah Legend." Ujar Tang Xiao mengambil pembicaraan setelah dari tadi diam saja.
"Woow... Sehebat itukah. Di usia yang masih sangat muda bisa memiliki kekuatan seperti itu, rencana masa depannya sangat cemerlang. Bisa jadi tuan Andri mungkin akan membuat sejarah baru lagi di dunia ini." Tutur Jessika dengan kagum. Dia mulai tertarik dengan pemuda tampan di depannya.
"Yah namun saat ini saya tidak ada bedanya dengan sampah. Jika saya kembali ke keluarga mungkin hanya akan kembali menerima cacian dan makian yang tiada habisnya. Maaf sebelumnya saya tidak bisa memberi tahu dari Kekaisaran mana saya berasal." Balas Andri pelan. Ada sedikit guratan kepahitan di matanya namun dia mencoba menutupinya dengan sebuah senyum manis.
Jessika tertegun. Pemuda tampan di depannya benar-benar berasal dari Benua Land Of Soul dan termasuk super jenius. Dia juga tidak bisa menyangkal apabila seorang kultivator menurun kultivasinya maka dia akan dianggap sampah di dunia kultivasi dan tentu saja dia hanya akan dianggap aib oleh sekte atau keluarganya. Nasib yang diderita Andri membuat Jessika simpati padanya.
"Saya minta maaf jika telah menaburkan garam di luka anda tuan Andri. Saya tidak tahu anda memiliki nasib seperti itu." Ucap tulus Jessika meminta maaf. Ada rasa bersalah di hatinya karena tadi berbicara sedikit memaksa. Sebagai seorang perempuan tidak seharusnya dia bersikap seperti itu. Gadis itu menyadari kesalahannya barusan yang harusnya lebih menghormati privasi tamunya yang telah menyelamatkan anggotanya.
"Tidak usah sungkan nona Jessika. Saya sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Bagi saya hal seperti itu seperti barometer yang terbaik bagi saya untuk menuju puncak seni bela diri di dunia ini. Buktinya saat ini saya masih bisa menaikkan kutivasi saya hingga ke tahap ini. Tidak ada yang mustahil di dunia ini jika diusahakan dengan kerja keras dan sedikit keberuntungan." Ujar Andri santai tidak mengungkit ucapan Jessika.
"Oh iya kakak pertama saya masih penasaran bagaimana kultivasi kakak bisa seperti ini setelah mengalami kerusakan yang cukup parah." Tanya Denas blak-blakan.
Mendengar pertanyaan adik ketiganya itu, Andri menghembuskan nafas pelan. "Kalian mungkin tidak percaya jika aku mengatakan kekuatanku bisa seperti ini karena sebuah peruntungan yang tidak kusengaja menemukannya." Ujar Andri sambil menegak anggur di gelasnya.
"Ceritakan aja kak. Di dunia ini tidak ada yang mustahil." Ujar Denas.
Andri tampak memikirkan dari mana mulai ceritanya. "Suatu hari saat aku dalam perjalanan kabur dari rumah di sebuah hutan yang aku tidak tahu namanya, beberapa orang datang mencegatku. Mereka adalah para Bandit Gunung yang biasanya merampok orang lewat di hutan itu. Karena kultivasiku sudah menurun dan musuhku sangat kuat saat itu, aku berlari menghindari mereka yang berjumlah lebih dari tiga puluh. Kejar-kejaran pun terjadi. Saat aku masuk ke dalam hutan lebih jauh, tiba-tiba saja aku terjatuh dalam lubang yang sangat dalam.
Begitu aku berada di dasarnya, ternyata adalah sebuah gua yang cukup besar. Dalam gua itu ada tengkorak manusia yang tergeletak. Tengkorak itu memegang sebuah gulungan dan sebuah cincin yang saat ini kupakai. Karena rasa penasaran yang besar, aku mengambil gulungan di tangan tengkorak itu setelah terlebih dahulu aku menguburkan tengkorang itu. Aku membuka gulungan itu namun tidak menemukan apa-apa. Namun tiba-tiba aku mendengar suara di kepalaku yang berkata 'anak muda teteskan darahmu di gulungan itu, jika berjodoh kamu akan mendapat gulungan itu.'
Awalnya aku dibuat kaget dan ketakutan mendengar suara tanpa rupa yang terdengar sedang mengejekku. Aku mencari-cari suara itu namun tidak menemukannya. Aku berpikir sejenak lalu mengikuti arahan dari suara tadi. Aku meneteskan sedikit darahku di gulungan dan tiba-tiba saja gulungan itu bercahaya. Cahayanya sangat terang dan berlangsung cukup lama. Begitu cahaya itu padam, di sekitarku telah berubah menjadi alam semesta yang di penuhi bintang-bintang tak terhitung jumlahnya. Di depanku telah berdiri seorang pria berumur lima puluhan tahun. Dia memiliki tinggi yang sama dengan tingginya tengkorak yang aku kuburkan sebelumnya. Aku mencoba mencari tahu tingkat kultivasi pria itu namun aku tidak menemukan apa-apa seolah dia hanyalah manusia biasa tanpa ada gejolak energi di dalam tubuhnya walau sedikitpun.
Pria itu memandangiku dengan seulas senyum hangat lalu dia berkata kepadaku 'Selamat datang anak muda. Selama ribuan tahun aku menunggu akhirnya aku bisa terbebas dari tempat ini dan menerima warisanku. Anak muda aku melihatmu sangat lemah dan begitu kasihan. Aku mengetahui masa lalumu hanya dengan melihat matamu yang penuh dendam itu. Sekarang kutanyakan, maukah kamu menjadi muridku dan membalaskan semua dendammu?' Aku berpikir sejenak mengenai tawaran pria di depanku. Aku belum mengenal dia bagaimana dia bisa menjadi guruku. Terlebih selama ini aku berkultivasi mengandalkan diri ssndiri tanpa bantuan seorang gurupun.
Lalu aku bertanya siapa dia dan berasal dari mana? Kenapa bisa berada di sini. Laki-laki itu menjawab 'Aku akan memberitahumu siapa aku jika kamu telah menjadi muridku. Namun aku bukan orang yang berasal dari dunia ini. Karena suatu kejadian aku terdampar di dunia ini dan perlahan mati di tempat ini dengan menyedihkan. Namun percayalah tidak ada satupun yang bisa mengalahkanku di dunia ini bahkan jika itu seseorang yang berada pada puncak kekuatan di dunia ini termasuk si tua yang saat ini sedang mencari tahu apa yang terjadi. Kamu tahu anak muda walaupun si tua bangka itu berada di puncak kekuatannya, dia masihlah semut di mataku termasuk beberapa orang yang terus sembunyi dari dunia kalian ini. Walaupun aku tidak tahu kenapa mereka bersembunyi tapi aku tahu mereka orang yang diam-diam melindungi dunia kalian ini. Aku sempat berurusan dengan beberapa orang dari mereka, namun mereka tidak bisa apa-apa dan berjanji tidak akan ikut campur lagi.' Aku bingung mendengar ucapan pria yang sangat aneh itu.
Pria itu sepertinya mengetahui kebingunganku lalu dia menjentikkan jarinya. Tiba-tiba saja muncul satu cahaya berwarna emas di depan kami. Cahaya itu menampakan seorang lelaki yang berumur sekitar enam puluhan tahun dengan rambut acak-acakan. Dia terlihat sedang memejamkan matanya. Namun tiba-tiba laki tua itu membuka matanya dan melihat kesana kemari seperti orang kebingungan dan mencari-cari sesuatu. Setelah laki-laki itu tidak menemukan apa-apa, dia menutup matanya dan cahaya emas yang menampilkan laki-laki itu perlahan padam.
Aku ternganga tak percaya dengan apa yang kulihat tadi. Setidaknya laki-laki tua tadi telah melebihi seseorang yang berada di ranah Holy Ancestor bintang sembilan namun pria di depanku itu bisa melihat laki-laki tua tadi tanpa ketahuan sedikitpun Aku benar-benar kagum dengan pria di depanku. Pria itu tersenyum lebar seperti sedang mempertanyakan keputusanku. Dia berkata padaku 'Bagaimana anak muda, kamu sudah membuat keputusanmu?' Tanya pria di depanku.
Tentu saja dengan senang hati aku menerima tawarannya itu aku bersujud dan berkata 'Guru terimalah sujud sembah muridmu ini.' Aku bersujud tiga kali dan memberi hormat padanya.
Lalu guru baruku itu berjalan mendekatiku dan mendirikanku dan berkata 'Bangkitlah muridku. Waktuku tidak banyak lagi dan mungkin akan segera menghilang dari dunia ini. Ada beberapa yang ingin guru katakan dengan singkat. Pertama, saat ini kita berada dalam gulungan yang kamu pegang. Gulungan ini bernama Gulungan Semesta Surgawi. Karena gulungan ini juga guru menjadi seperti ini, kekasih dan murid guru satu-satunya menghianati karena gulungan ini. Kedua, meridianmu yang telah hancur akan bisa pulih sedikit demi sedikit dengan penuh proses. Meridian adalah hadiah surgawai, jika sudah hancur sangat mustahil untuk diperbaiki, namun tidak ada masalah selama aku menjadi gurumu. Ketiga, cincin ini sebagai identitas muridku. Di dalamnya terdapat harta milik guru yang saat ini telah menjadi milikmu. Jadi guru harap jangan menyia-nyiakannya dan gunakan demi kepentingan umat manusia. Keempat, jika kamu sudah menjadi kuat, guru mohon untuk membalaskan dendam guru dan saat ini juga telah menjadi dendammu. Cincin ini nanti akan memberitahumu lokasi dunia guru jika sudah tiba waktunya. Kelima, jagalah baik-baik gulungan ini dan kuasailah sepenuhnya. Jika sudah menguasainya kamu akan sekuat Kaisar Surgawi dan bahkan bisa mampu mengalahkannya namun hal itu adalah sebuah proses yang panjang dan guru harap kamu mampu tabah menjalaninya. Dan yang terakhir tetaplah menjadi seorang pria sejati yang menepati kata-katanya dan selalu tebarkanlah kebaikan di dunia dimanapun kamu berada. Di masa depan musuhmu sangat banyak jadi carilah orang-orang yang benar-benar kamu percayai dan mereka mempercayaimu. Cintailah mereka yang benar-benar mencintaimu. Ingat muridku, jalan hidupmu yang sebelumnya telah memberi tahumu dunia ini sangat kejam dan tidak peduli dengan orang lemah. Namun kita berbeda dari mereka, dan dengan ini aku Long Nua mewariskan posisiku dan seluruh kekuatanku pada muridku yang bernama Andri dengan senang hati.' Guru memelukku dengan erat. Aku merasakan kehangatan yang sudah lama tidak kurasakan. Perlahan air mataku merembes keluar.
Guru yang berada dalam pelukanku perlahan menghilang dan hanya menyisakanku yang tertunduk sendirian. Aku merasa kehilangan seorang guru untuk pertama kalinya dan hatiku terasa sakit. Entah mungkin karena kesedihan guru dapat kurasakan atau mungkin akau menangisi diriku sendiri yang selalu kehilangan orang-orang yang berada di sekitarku." Andri mengakhiri cerita panjangnya sambil memegan cincin permata di jari kirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Capek juga nulis segini banyak.