The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 62. TWO DRAGON



Kakek Lao dan Silvie berjalan memasuki Kekaisaran Maurya. Mereka berdua mempersingkat perjalanan mereka menggunakan portal yang dibuat oleh kakek Lao. Silvie, walaupun dia baru pertama kali ini melihat dunia namun dia sudah mengetahui berbagai macam sifat serta watak manusia, tentu saja semua itu atas ajaran kakek Lao yang menjaganya selama ini.


Di gerbang kota mereka masuk dengan tenang. Kakek Lao memberi para penjaga kristal energi tingkat lima yang tentu saja akan menjilat siapa saja yang membayar mereka lebih.


PO saat pp


Saat ini Silvie dan Kakek Lao sedang di hadang oleh sekelompok orang. Kelompok itu tidak tahan dengan wajah cantik Silvie. Sekelompok itu hanya tahu bahwa mangsa mereka ini yang satu berada di ranah Grand Master dan yang satu mereka berada di ranah master. Sebuah mangsa empuk yang penuh kenikmatan.


"Woii orang tua, minggir atau kau kupenggal leher." Bentak salah seorang dari mereka mengeluarkan niat membunuhnya mengarahkannya ke kakek Lao.


"Kami ini hanya orang kecil yang kebetulan lewat. Tolong jangan ganggu kami." Balas Kakek Lao dengan suara seperti orang tua yang ketakutan.


"Aku akan membiarkan orang tua seperti kau lewat asalkan kau membiarkan cucumu ini bersama kami beberapa hari saja." Balas orang itu sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya dan menjulurkan lidahnya. Sepertinya orang yang berbicara tadi adalah ketua dari kelompok itu.


"Tuan-tuan sekalian, cucu saya ini hanyalah gadis kecil yang belum tahu apa-apa dan masih butuh didikan." Balas kakek Lao takut.


"Biarkan saya saja yang mengajari cucu kau ini. Kami akan mengajarinya dengan baik dan lemah lembut." Balas ketua kelompok itu tidak sabaran.


Kakek Lao pura-pura sedang memikirkan ucapan ketua itu.


"Maaf anak muda, cucu saya ini orang yang ganas. Saya takut dia akan melukai tuan-tuan sekalian." Ucap Kakek Lao mengiba.


"Tenang saja kakek tua. Kami tidak akan terluka sedikitpun. Kami ini para pemuda kultivator ranah Legend terkuat dari kerajaan Assiria." Balas ketua kelompok itu sudah tidak sabaran. Dia sudah melangkah mendekati Silvie dan begitu tangannya hendak menyentuh payudara Silvie, Silvie menghantamkan telapak tangannya yang mengandung energi yang besar ke dada orang itu.


Bomm...


Orang itu terpental ke pintu sebuah bangunan besar di depan mereka. Pintu bangunan itu hancur terkena tubuh orang itu.


Semua orang kaget melihat hal itu. Awalnya mereka cuek-cuek aja melihat sekelompok pemuda yang mengganggu Silvie dan Kakek Lao. Mereka menutup mata melihat kejahatan di depan mereka dan bahkan kebanyakan dari mereka langsung menjauh. Namun kini mereka terkejut melihat kejadian itu.


Yang lebih terkejut tentu saja adalah orang-orang dari kerajaan Assiria itu. Ketua mereka berada di ranah Legend puncak mampu diterbangkan oleh gadis muda yang berada di ranah Grand Master bintang satu. Orang-orang dari kerajaan Assiria segera berlari mendekati ketua mereka yang tergeletak di pintu masuk bangunan yang ternyata adalah restoran.


Orang dari kerajaan Assiria terkejut melihat dada ketua mereka yang bolong dan sudah tidak bernyawa lagi. Tubuh mereka bergetar penuh amarah sekaligus ketakutan. Amarah melihat ketua mereka mati begitu saja dan ketakutan karena mereka akan merasakan akibatnya jika pihak kerajaan Assiria mengetahui hal ini.


Mereka berbisik-bisik di dekat mayat pemuda itu untuk mendiskusikan apa yang harus terjadi selanjutnya tanpa mempedulikan tatapan orang-orang dari dalam restoran yang melihat mereka dengan ngeri.


Setelah mendapat keputusan apa yang akan mereka lakukan, orang-orang itu berdiri dan mengangkat jenazah ketua mereka lalu berjalan mendekati Silvie yang masih berdiri di tempatnya bersama kakek Lao.


"Dasar orang bodoh, kalian berani membunuh pangeran kerajaan Assiria, kalian akan segera mati." Ucap salah seorang dari mereka dengan tubuh bergetar. Lalu orang itu mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya dan menembakkannya ke atas.


Wunnngg.... Taaaarrrr.....


Cahaya berwarna-warni yang biasa digunakan sebagai sinyal meminta pertolongan, membentuk sebuah lambang bunga teratai yang cukup indah. Semua orang yang mengetahui sinyal apa itu segera berlari dan menjauh dari Silvie yang bersama kakeknya serta orang-orang dari kerajaan Assiria.


Tak lama kemudian beberapa aura kuat datang dengan cepat dari arah selatan. Orang-orang dari kerajaan Assiria itu tersenyum lebar merasakan aura itu. Meskipun mereka senang, mereka juga merasa takut jika dituntut akan kematian pangeran mereka karena lalai menjaganya. Namun mereka telah merencanakan membuat sandiwara untuk menjebak Silvie dan Kakek Lao.


Wusshh ....


Tiga orang tua datang melayang. Pandangan mereka tertuju pada pangeran yang telah mati dengan dada bolong sebesar telapak tangan. Ketiga orang tua itu turun mendekati Pangeran.


"Siapa yang berani membunuh pangeran?" Tanya orang yang paling tua.


"Mereka tetua." Tunjuk salah seorang dari kerjaan Assiria itu kepada Silvie yang masih santai.


"Bodoh... Hanya dengan satu orang di ranah Grand Master kalian sudah takut. Untuk apa kalian jadi pengawal pangeran?" Ucap orang tua itu dingin.


Wusshh.....


Orang tua itu mengayunkan dua jarinya ke arah sepuluh orang di depannya yang berdiri ketakutan. Dua jari orang tua itu mengandung aura pedang yang cukup besar.


Crasshh....


Pengawal pangeran berjumlah sepuluh itu mati dengan kepala terputus dari lehernya dan darah muncrat keluar kemana-mana.


"Dasar tidak berguna." Gumam orang tua itu. Dia lalu menghadap ke arah Silvie yang telah terlihat pucat.


"Katakan, kematian seperti apa yang akan kamu inginkan gadis kecil." Gumam orang tua itu mengeluarkan niat membunuhnya.


Silvie yang memang belum terbiasa melihat kejadian seperti itu menjadi bergetar. Dia merasa mual melihat sepuluh kepala yang menggelinding di tanah dengan mudahnya dan darah muncrat dari leher tanpa kepala itu. Hampir saja Silvie terduduk jika tidak menguatkan dirinya.


"Sebaiknya kalian pergi sini orang tua bangka sebelum kalian mengalami nasib yang dengan anggota kalian sendiri." Ucap seseorang dengan suara dingin dari belakangnya.


Orang tua itu menoleh ke belakangnya dan dia mendapati lima orang telah berdiri di belakangnya. Dua orang wanita bercadar, seorang laki-laki berumur sekitar tiga puluhan tahun, seorang perempuan kecil dan seorang pengemis gembel yang wajahnya dipenuhi rambut. Dia merasa aneh karena tidak merasakan kehadiran sekelompok orang itu, namun dia tidak mempermasalahkan hal itu.


"Aku tidak punya urusan dengan kalian lebih baik segera pergi dari sini." Ucap pria tua itu meremehkan.


"Aku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Gadis itu hanya membela diri." Ucap seorang wanita bercadar dingin.


"Sekalipun gadis itu benar, jika aku menginginkannya tidak ada satupun di kekaisaran ini bisa menahannya." Balas orang tua itu jumawa.


"Oh benarkah?" Ucap pria gembel yang tiba-tiba telah berada di depan laki-laki tua.


Pria gembel itu mencengkram leher laki-laki tua itu dan mengangkatnya ke atas.


"Katakan sekali lagi, di Kekaisaran ini tidak ada yang mampu menahannya? Lelucon macam apa itu?"


Laki-laki tua itu tidak dapat bergerak sama sekali. Seluruh tubuhnya terkunci dengan tehnik yang tidak diketahui nya. Bahkan berbicarapun tidak bisa. Dia melirik dua orang temannya mencoba meminta tolong kepada mereka. Dia begitu kaget melihat dua temannya yang telah terbaring di tanah dalam keadaan susah payah seperti sedang di tekan oleh kekuatan raksasa. Laki-laki tua itu melirik ke arah kakek Lao yang sedang tersenyum mengejek ke arah dua temannya.


"Kalian bertiga orang tua tidak tahu malu hanya berani menindas yang lemah. Biarkan aku menghukum kalian mengganti orang tua kalian." Gumam pria gembel itu memutuskan kedua tangan pria itu.


Crash... Crash...


Aghhh....


Orang tua itu berteriak kesakitan. Dia meringis melihat kedua tangannya mengucurkan darah segar yang cukup deras. Pria itu segera menghentikan pendarahan dengan energinya. Mukanya telah memucat kehabisan darah.


Pria gembel itu melempar orang tua itu seperti kain usang yang tidak terpakai. Dia berjalan ke arah dua orang lagi lalu memutuskan tangan mereka satu-satu. Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Orang-orang sekitar menutup mata anak-anak mereka agar tidak melihat kekejaman yang terjadi.


Silvie mendekati kakeknya yang berdiri sambil menaruh tangan di punggungnya.


"Kakek haruskah kita berterima kasih?" Tanya Silvie sambil berbisik.


"Tentu saja harus. Ayo kesana." Jawab kakek Lao santai.


Kakek Lao dan Silvie mendekati kelompok pria gembel itu.


"Terima kasih tuan telah membantu kami." Ucap Silvie polos.


"Tidak perlu sungkan begitu nona kecil. Jika bukan karena permintaan istri saya ini, saya tidak perlu repot-repot mengusir orang-orang tua bodoh itu." Balas pria gembel itu santai.


"Sebenarnya saya tidak membantu nona kecil, hanya sedang menyelamatkan nyawa ketiga orang tua itu dari kakek anda." Lanjut pria gembel itu lalu berjalan mendekati kakek Lao lalu mengulurkan tangan kanannya yang disambut kakek Lao dengan senyuman hangat.


"Aku tidak menyangka ada anak muda yang berbakat luar biasa di dunia ini." Ucap Kakek Lao senang.


"Saya tidak menyangka ternyata ada naga tua tersembunyi di dunia ini." Balas Pria gembel itu.


"Saya naga tua dan anda naga muda. Kedua naga telah berkumpul apakah ini takdir?" Balas kakek Lao.


"Haha... Anda orang yang menarik tuan." Balas pria gembel itu tertawa.


"Apakah ini reuni orang-orang kuat di dunia." Gumam Hanzho dari jauh.


....................


"Apa yang barusan terjadi?" Tanya Denas melihat sekeliling yang telah berubah total. Orang-orang tua yang bersama mereka dalam ruangan telah tiada dan berganti menjadi orang-orang berumur tiga puluhan tahun dengan wajah cantik-cantik dan tampan-tampan. Orang-orang itu tampak sangat senang dengan perubahan yang terjadi pada mereka.


Denas melihat ke arah Tang Xiao yang berjalan santai mendekat ke arahnya. Denas tidak melihat perubahan apa-apa selain kultivasi Tang Xiao yang lebih tinggi dari sebelumnya.


"Kakak ketiga, kamu berhasil menyatu dengan cahaya emas tadi?" Tanya Denas yang masih bingung dengan keadaan sekelilingnya.


Tang Xiao mengangguk. "Ya berhasil dong. Adik keempat bisa lihat kan tingkat kultivasi ku saat ini."


"Gila, sudah berada di ranah Ancestor bintang satu?? Energi macam apa yang berhasil masuk ke dantian kakak dan membuat kakak menjadi monster mengerikan seperti ini?" Gumam Denas.


"Cahaya emas itu adalah Divine Energy yang tidak ada di dunia manapun. Divine Energy berasal dari Divine Realm yang agung. Mungkin karena sesuatu energi itu terdampar di dunia ini. Karena kakak mu ini memiliki Divine Emperor Body baru bisa menyatu dengan energi itu." Jawab Tang Xiao sedikit berbohong.


Denas mengangguk-angguk mengerti. Kemudian dia melihat orang-orang sekitarnya yang telah berubah.


"Lalu bagaimana dengan mereka?" Tanya Denas sambil menunjuk ke orang sekitarnya yang masih heboh dengan penampilan mereka.


"Ya sesuai janji cahaya emas dahulu kala, dia akan mengembalikan kejayaan mereka sesuai keinginan mereka. Aku tidak menyangka jika keinginan mereka adalah kembali muda." Jawab Tang Xiao santai duduk di samping Denas ikut memperhatikan orang-orang tua di depan mereka yang sedikit narsis.


"Hem... Sepertinya dunia ini akan berubah total." Gumam Denas pelan.


Tang Xiao menoleh. "Tidak usah sesusah itu, lebih baik kita segera pergi dari sini. Orang-orang tua itu tidak akan sadar kita pergi. Sebentar lagi kakak pertama dan kedua keluar dari kultivasi mereka. Setelah itu kita segera berangkat menuju Paviliun Bintang dan mendaftarkan diri di turnamen Antar benua." Ucap Tang Xiao bangkit dan berjalan ke arah pintu. Denas mengangguk pelan kemudian mengikuti Tang Xiao dari belakang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kupejamkan mata ini.


Ah, gulita memang menenangkan


Terkadang keheningan adalah yang terbaik


Setidaknya untuk kalut ku saat ini.


Jangan jadi nada dering bagi orang yang suka mode hening.


#Doakan ya semoga author cepat sehat biar bisa up sehari sekali seperti biasa.🤗🤗