The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 23. PERTEMPURAN



Daerah utara Kekaisaran Yan sedang ternadi peperangan. Antara pemberontak melawan Pasukan Kekaisaran. Pertarungan berlangsung sengit. Seratus ribu pasukan Kaisar tidak gentar menghadapi lima ratus ribu pasukan pemberontak. Sebuah pertempuran yang sengit.


Tring... Tring... Tring...


Tak... Tak... Tak...


Tang.. Tang... Tang...


Hiat... Hiat... Akhh...


Suara senjata beradu, suara teriakan semangat dan suara teriakan kematian memenuhi angkasa. Para penduduk telah mengungsi terlebih dahulu. Mereka dibawa ke tenda-tenda pengungsian yang dijaga oleh beberapa Komandan Kaisar Yan dan tentu saja bayangan Tang Xiao bersembunyi di balik bayangan Komandan.


Kaisar Yan, Yan Zhou dan Tang Xiao juga ikut turun ke medan perang. Tentu saja Tang Xiao ikut berperang hanya untuk bermain-main. Jika dia mau, seluruh pasukan pemberontak habis hanya dalam satu kedipan mata. Namun dia memahami, peperangan adalah sebuah seni, dari zaman dulu hingga sekarang seni ini akan tetap ada dan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari suatu Negara. Dimana ada negara disitu juga terdapat seni peperangan.


Pasukan pemberontak yang berjumlah lima ratus ribu orang tak menyangka akan kewalahan menghadapi pasukan Kaisar yang tidak lebih dari seratus ribu orang. Kini yang tersisa dari pasukan pemberontak kurang dari separuh. Sedangkan dari pasukan Kaisar yang mati hanya sekitar dua ratus orang, padahal pertempuran telah berlangsung selama hampir setengah hari. Mereka tidak tahu bahwa separuh dari pasukan Kaisar adalah bayangan Tang Xiao yang menjelma menjadi Pasukan. Dan yang mengetahui itu hanya Kaisar Yan dan Yan Zhou.


"Semuanya mundur ke belakang ke base pertahanan." Teriakan Kepala Pasukan Pemberontak menggema di angkasa. Seluruh pasukan pemberontak yang tersisa segera bergerak perlahan. Kepala Pasukan begitu miris melihat anak buahnya dibantai oleh Pasukan Kaisar tanpa bisa melawan.


"Sial... Mereka menyembunyikan kekuatan mereka... Sial, sial....." Dia mengumpat keras. Kejadian ini diluar perkiraan mereka dan tentu saja membuat dia frustrasi.


Sebelumnya mereka telah membuat formasi penyerangan dan penyergapan yang terdiri dari beberapa pendekar tahap emas. Mereka ini adalah pasukan keluarga Lin yang dilatih oleh Kekaisaran. Komandan pasukan ini sangat percaya diri mampu menyergap pasukan Kaisar serta menghabisi separuhnya. Mereka juga begitu yakin akan dapat memenggal kepala Kaisar sehingga mereka telah membawa alat musik dan wanita di tenda mereka untuk merayakan kemenangan yang akan segera diraih.


Namun pada kenyataannya, Komandan Pasukan Penyergapan malah mati di tangan Tang Xiao hanya dalam sekali tebas dan membantai seluruh pasukannya tanpa sisa. Tentu saja mereka tidak menyangka kejadian ini. Padahal pasukan penyergapan adalah yang terbaik dalam generasinya dan paling mahir dalam seni membunuh. Rata-rata dari setiap anggota pasukan penyergapan mampu menghabisi lima orang musuh di tingkat yang sama. Di hadapan pemuda bertopeng dan beberapa perajurit yang mengikutinya mereka semua tak berkutik.


"Lapor Kaisar, Pasukan pemberontak telah mundur ke belakang. Apakah kita akan mengejarnya" Seorang Komandan berdiri berlutut satu kaki melapor kepada Kaisar Yan yang duduk di atas kuda.


"Ya kita akan mengejarnya namun secara perlahan. Aku yang akan memimpin pengejaran. Suruh seluruh pasukan mu bergerak di belakang ku."


"Tapi Yang Mulia, keselamatan anda adalah yang utama. Saya dan Komandan lain yang akan bergerak di depan." Kaisar Yan tersenyum mendengar ucapan Komandannya itu.


"Jika aku mati di sini, itu berarti aku memang tak pantas menjadi Kaisar. Bagaimana mungkin aku bisa melihat pasukanku dibantai sedangkan aku bersembunyi dari pedang musuh. Lambat laun kematian juga akan menghampiriku. Tak ada bedanya mati di medan perang dan mati di tempat lain. Bahkan jika aku mati di sini, adalah suatu kehormatan gugur demi mempertahankan kebenaran dan kedamaian negeri ini." Kaisar Yan berbicara sambil melihat Tang Xiao dan Yan Zhi yang naik kuda di hadapannya.


Jawaban itu membuat seluruh pasukan yang mendengarnya bergetar hebat. Semangat, Kebanggaan, dan rasa tanggung jawab begitu menggebu di hati mereka. Mereka begitu mencintai Kaisar mereka ini yang tak segan-segan membela kebenaran dengan mempertarukan nyawanya. Tang Xiao yang mendengat itu juga begitu Kagum.


Seluruh pasukan segera berlutut.


"Baiklah... Sekarang seluruh pasukan beristirahat dan mengumpulkan pasukan yang telah gugur dan segera antar mereka kembali ke Istana." Kaisar Yan memerintah beberapa Komandan dan pasukannya membawa jasad yang gugur sambil menyuruh beberapa menteri agar memberi dispensasi yang sesuai ke keluarga yang ditinggal mati.


Tang Xiao hanya diam saja. Dia sedang menerima laporan Xiao Long mengenai apa yang didapat dari perjalanannya di Samudra Pantai Selatan.


"Tuan... Apakah sebaiknya membawa mereka ke dunia jiwa atau membiarkan mereka di sini namun membuat aray formasi pelindung?" Xiao Long bertanya apa yang harus dilakukannya. Tang Xiao nampak berpikir sesat.


"Jika mereka mau maka pindahkan mereka semua ke dunia jiwa dan jangan memaksa. Jika mereka tidak mau maka tinggalkan mereka dan buatlah aray perlindungan untuk menjaga mereka hingga beberapa milenium." Ucap Tang Xiao sambil melihat sekelilingnya.


"Baik Tuan laksanakan."


Pembicaraan jiwa itu pun selesai. Tang Xiao yang masih duduk di atas kuda, menuntun kudanya menuju base camp bersama Kaisar Yan dan Yan Zhou.


"Saudara Xiao, aku lihat dari tadi kamu diam saja. Apa gerangan yang kamu pikirkan.?" Di perjalanan Yan Zhou sempat bertanya melihat Tang Xiao diam saja.


"Ah tidak apa-apa saudara Zhou. Aku hanya sedang berpikir bagaimana langkah selanjutnya menyerang pasukan pemberontak."Ucap Tang Xiao berbohong.


"Saudara Xiao, kamu jangan membohongi ku. Aku dapat melihat dari sinar matamu ada sesuatu yang besar yang kamu pikirkan" Ucap Yan Zhou. Pernyataan itu membuat Tang Xiao diam.


"Saudara Zhou... Aku sedang berpikir bagaimana nasib dunia ini jika pemberontak seperti keluarga Lin ini masih terus ada. Namun membunuh para pemberontak ini juga bukan lah susuatu yang membuat ku puas"Ucap Tang Xiao sambil menghela napas. Yan Zhou menghentika kudanya diikuti oleh Tang Xiao. Sedangkan Kaisar Yan dan para prajurit sudah maju duluan. Mereka berdua sengaja pergi terlambat kalau-kalau ada sesuatu yang tak boleh dilewatkan di belakang.


"Saudara Xiao, di dunia ini memang tidak ada keputusan mudah. Setiap keputusan selalu ada konsekuensi. Keluarga Lin mengambil keputusan memberontak, konsekuensinya adalah diburu. Kekaisaran mengambil keputusan memburu mereka maka konsekuensinya kita harus bisa kehilangan. Namun jika pemberontakan itu dibiarkan bisa jadi akan terjadi kerusakan yang lebih parah dari pertempuran. Bisa jadi rakyat yang tidak bersalah mendapat efek pemberontakan. Kita hanya bisa melawan sebisa mungkin. Kematian memang sudah menjadi alur dari hidup kita." Yan Zhou menghentikan ucapannya karena mengambil nafas. Tang Xiao terdiam mendengar ucapan itu. Seperti yang diharapkan dari penerus Kekaisaran mempunyai pandangan luas. Tang Xiao merasa puas atas sikap Yan Zhou.


"Tapi aku tahu saudara Xiao bukan hal itu yang kamu pikirkan. Aku bisa memahami setiap manusia memiliki rahasianya sendiri. Aku faham bahwa kamu merahasiakan sesuatu. Namun jika rahasia itu mengenai masalah rakyat berbagilah padaku. Biar kita bersama yang memikirkannya. Dan begitulah sikap sebagai seorang Kaisar dan sekaligus Keluarga." Mendengar ucapan itu Tang Xiao tersenyum lebar. Ada banyak hal yang tidak bisa disembunyikan dari saudara angkatnya ini.


"Tenang saja saudara Zhou. Ini bukanlah sesuatu yang berhubungan dengan rakyat dan juga bukan berhubungan dengan Kekaisaran ini. Masalah ini hanya masalah pribadi dan ini adalah rahasia ku." Ucap Tang Xiao tersenyum sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih masih setia dengan novel ini.


Jangan lupa beri jejak 🐾 ok...