The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 73. IDENTITAS DENAS



Malam kembali menyelimuti siang dan siang kembali berlabuh di peraduannya. Gemintang kembali hadir memenuhi angkasa seantro mayapada, berkerlap kerlip memandang kehidupan para manusia. Angin malam berhembus mesra menyapa para pecinta membisikkan kerinduan.


Denas kembali duduk di atas atap sendiri menikmati pemandangan yang disuguhkan malam. Tidak seperti malam sebelumnya, Denas menjauh dari keramaian kota. Denas memilih atap sebuah gedung tinggi namun terletak paling ujung kota Paviliun Bintang. Di situlah Denas mengibas-ngibaskan kipasnya mengusir gundah yang mengusik hatinya.


Sesekali Denas bergumam dengan dirinya sendiri kadang sesekali Denas bergumam menatap bintang seakan hendak mengajak bintang itu berbicara. Denas mendongak menatap bintang di angkasa, namun kali ini dia dibuat terkejut saat menatap bintang di angkasa yang awalnya jauh semakin lama semakin dekat ke langit dunia.


Bintang itu turun secara perlahan dengan cahaya yang tidak menyilaukan dan ukuran yang sebesar buah semangka. Denas menoleh kesana kemari namun tidak melihat siapa-siapa lalu mendongak ke langit dan melihat bintang itu semakin dekat dan dekat.


Bintang dengan cahaya putih temaram itu turun ke pangkuan Denas. Bintang itu memiliki mata dan mulut yang lucu seperti balita. Denas memegang bintang itu dengan kedua tangannya dengan hati yang campur aduk antara takut dan bahagia.


"Hai kak..." Bintang itu berbicara dengan lancar namun suaranya seperti bayi perempuan berumur dua tahun.


"Kamu siapa dan bagaimana kamu bisa ada di sini?" Tanya Denas pelan sambil memandang bintang di pangkuannya itu dengan mata berbinar.


"Aku merupakan bintang dari konstelasi Auriga, orang-orang menyebutku bintang kedamaian karena aku tercipta dari kedamaian dan kasih sayang. Hanya bagi mereka yang sangat tulus menyayangi seseorang yang bisa melihatku, seperti keadaan kak Denas saat ini." Jawab bintang itu membuat kaget Denas.


"Dari mana kamu tahu namaku?" Tanya Denas penasaran.


"Tahu gak kak, sesungguhnya langit penuh dengan misteri. Langit bukan cuma menjadi atap bagi bumi, tetapi juga sebagai catatan kehidupan yang sudah tertulis miliaran tahun lalu sebelum segala sesuatu tercipta. Langit ibarat buku yang terbuka lebar yang siap untuk dibaca dan difahami. Aku merupakan makhluk langit yang kebetulan menjadi salah satu takdir di buku langit untuk bertemu dengan kakak Denas. Aku sudah menantikan pertemuan ini selama ribuan tahun lalu dan baru saat ini kita bisa bertemu." Jawab bintang kedamaian tenang.


Denas terdiam memahami ucapan bintang kedamaian di pangkuannya ini. Terlihat seperti bualan namun dia tidak bisa membantahnya. Denas mendongak menatap langit. Terlihat baik-baik saja tanpa kekurangan bintang sama sekali. Dia kembali melihat bintang di pangkuannya yang tersenyum lucu dan menggemaskan itu. Denas menoel-noel pipi bintang yang hangat itu.


"Sudah berapa lamu kamu hidup?" Tanya Denas sambil memainkan hidung bintang mungil itu.


"Hemm.. Entahlah kak. Sudah cukup lama hingga membuatku tidak mampu lagi menghitung usiaku." Jawab bintang kecil itu.


Denas kembali diam. Dia tidak tahu ingin bertanya apa saja kepada bintang ini takut bintang itu akan enggan kepadanya dan pergi meninggalkannya.


"Kak Denas, maaf aku harus segera pergi waktuku di dunia ini sangat terbatas." Bintang itu terbang perlahan dari pangkuan Denas. Meskipun enggan, dengan terpaksa dia harus melepaskan bintang. Mereka berdua memiliki alam yang berbeda.


Denas hendak meraih bintang itu dengan kedua tangannya ketika satu cahaya merah entah datang dari mana menghantam bintang yang sedang terbang ke langit.


Wuushh....


Boomm....


Denas terbangun dari tidurnya dalam keadaan kaget dan basah dengan peluh. Denas melihat sekeliling. Dia berada di kamar penginapannya dan Tang Xiao duduk di kursi menatapnya dengan pandangan aneh.


"Kakak ketiga kenapa kamu di sini?" Denas kembali sadar dari mimpi anehnya yang baru saja dialaminya yang seolah nyata. Namun dia merasa lebih aneh bagaimana kakak ketiganya itu bisa masuk ke kamarnya.


"Jangan salah paham dulu. Aku sebenarnya mau mengajakmu makan di restoran paling enak di kota ini. Eh aku tak menyangka kamu sudah tidur duluan." Jawab Tang Xiao meletakkan buku di tangannya yang telah selesai dibacanya.


Denas terbelalak melihat buku yang diletakkan Tang Xiao. Dengan cepat, Denas meraih buku itu dan memasukkannya ke cincin ruangnya.


"Kenapa tidak membangunkanku, alih-alih membangunkan malah baca buku." Ucap Denas sedikit sebal. Dia bangkit dari ranjangnya.


"Hihi.. Tenang saja adik ketiga. Baru sebentar aku baca diarimu itu dan aku tidak tahu maksudmu menulis itu namun sepertinya kamu berbakat dalam menulis cerita." Balas Tang Xiao tetap duduk di tempatnya.


"Ah sudahlah, katanya mau ngajak makan, kakak ketiga keluar dulu biar aku persiapan." Ucap Denas sambil menarik Tang Xiao dari kursinya dan mendorong pemuda itu keluar dari kamar.


"Loh kan bisa aku menunggu di sini. Tenang saja kakakmu ini tidak akan mengganggumu." Ucap Tang Xiao menahan tubuhnya didorong Denas.


"Tidak boleh." Denas mengacungkan jari telunjuknya dan menggoyang-goyangkan di depan Tang Xiao.


"Walaupun sesama laki-laki tidak boleh berduaan di dalam kamar apalagi yang satunya hendak mandi. Tidak boleh." Denas mendorong punggung Tang Xiao lebih keras.


"Hah??! Argumen dari mana itu? Baru kali ini aku mendengar sesuatu yang sedikit tidak masuk akal dijadikan alasan. Ayolah kakak mu ini malas menunggu di luar diperhatikan orang-orang yang lewat dikira pencuri. Ah jangan-jangan ada cewe yang kamu sembunyikan di kamar ini dan kamu tidak memberi tahu kakakmu ini."


Denas tidak membalas ucapan Tang Xiao melainkan mengambil handuk dan langsung berjalan ke kamar mandi. Dia tidak berniat meladeni kakak ketiganya itu berargumen. Denas berjalan ke kamar mandi sambil tersenyum lebar.


Tang Xiao kembali duduk dikursinya menyilangkan kaki kanan di atas kaki kiri seperti posisi sebelumnya. Matanya mencari-cari sesuatu yang dapat dibaca di rak lemari buku yang sepertinya telah diisi oleh Denas dengan buku miliknya sendiri.


Tang Xiao mengambil satu buku bersampul biru yang cukup tebal tanpa menyentuhnya. Buku itu melayang dari rak buku ke tangan Tang Xiao. Tang Xiao memperhatikan cover buku tercetak tulisan tebal berwarna coklat yang berjudul Peradaban-peradaban Peri Langit.


Lembar pertama buku itu terbuka tanpa disentuh Tang Xiao. Di halaman pertama tertulis sebuah tulisan yang sepertinya ditulis oleh pemilik buku ini. Tertulis di sana: Sesiapa saja yang bisa membuka buku ini selain dari keturunanku akan mendapat salah satu dari dua takdir. Takdir buruk yang berujung pada kutukan atau takdir baik dan mendapat sebuah keberkahan.


Tang Xiao terkekeh membaca tulisan yang bernada ancaman itu.


"Peradaban peri langit tidak akan pernah menanamkan kutukan pada apapun yang berhubungan dengan mereka. Jelas-jelas tulisan ini merupakan pembodohan yang ditulis oleh yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan pribadi." Umpat Tang Xiao dalam hati.


Dia mulai membaca buku Peradaban-peradaban Peri Langit. Tang Xiao membolak-balikan halaman dengan cepat. Setiap halaman yang dibuka selesai dibaca hanya dalam waktu beberapa saat saja. Sangat cepat, secepat kehendak satu kedipan mata.


"Hemm.. Kakak ketiga kamu lagi ngapain?" Tegur Denas yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia sedikit merasa ganjil melihat sikap kakak ketiganya yang aneh.


"Eh sejak kapan kamu selesai mandi?" Tanya Tang Xiao yang tak merasakan kehadiran Denas. Tang Xiao menutup bukunya dan mengembalikan ke raknya semula.


"Baru saja kak. Agak lama sih di kamar mandi sekalian dandan biar ganteng." Jawab Denas yang sudah memakai pakaian bagus.


"Hemm... Baru kali ini aku bertemu dengan cowok berwajah cantik seperti dirimu. Kurasa gadis-gadis di luar sana akan iri dengan wajahmu." Ucap Tang Xiao merangkul leher Denas lalu mengajaknya keluar.


"Sebagai adik terakhir tidak mungkin aku mendahului kakaknya untuk memiliki pasangan dan menikah. Tenang saja kak, aku ini orang yang bisa dipercaya." Balas Denas sambil melepas lengan Tang Xiao yang merangkul lehernya.


Mereka berdua berjalan menyusuri koridor penginapan dan berpapasan dengan orang-orang. Tentu saja mereka tidak mengenakan topeng mereka di saat santai begini sehingga membuat beberapa wanita yang mereka jumpai gagal fokus.


"Sepertinya kakak ketiga sangat menyukai ekpreksi para gadis saat melihat kita dengan tatapan menggoda." Gumam Denas ketika telah berada di luar. Suasana malam yang tenang sangat cocok untuk jalan-jalan dan makan bersama.


"Kita harus santai di saat-saat seperti ini. Terlebih kita ke sini bukan cuma untuk bertanding melainkan untuk menikmati masa-masa muda kita sebagai kultivator."


"Nah disitulah aku heran sama kakak ketiga yang terlalu santai dan tidak terpikirkan sama sekali mengenai lawan kita besok. Apa kakak ketiga terlalu yakin bahwa kita akan menang dan mampu mendapat tempat pertama dalam turnamen nanti?"


"Dengar, kunci pertama kemenangan itu adalah yakin bahwa kita bisa menang dan selanjutnya hanya butuh usaha terbaik yang kita bisa untuk mencapai kemenangan itu. Sekalipun kita gagal setidaknya kita telah menjadi pemenang untuk diri kita sendiri. Para pemenang itu tidak akan pernah bisa menang tanpa ada keyakinan dalam dirinya bahwa dia akan menang."


"Ya ya... Kalo begitu aku serahkan semuanya pada kakak ketiga."


"Tenang saja, bahkan jika kamu meminta untuk mengambilkan bintang di langit, kakak mu ini akan memenuhinya."


Denas terdiam mendengar ucapan Tang Xiao yang terakhir. Dia kembali teringat mimpinya bertemu bintang kecil seakan semua itu adalah nyata. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang dilakukannya sebelum tidur hingga bermimpi hal yang aneh.


"Kenapa diam aja, biasanya kamu paling suka ngobrol di saat seperti ini?" Tanya Tang Xiao dari samping. Mereka terus berjalan tidak terlalu peduli dengan suasana sekitar mereka.


"Aku menanti ucapan kakak ketiga untuk mengambilkan aku bintang." Jawab Denas tersenyum manis.


"Ah iya kan... Aku sebagai laki-laki saja terasa kepincut dengan senyummu. Jangan tersenyum seperti itu lagi." Ucap Tang Xiao menutup mulutnya. Dia menertawakan adik keempatnya itu yang mempunyai wajah cantik.


"Enak aja kakak katiga bilang begitu. Walaupun aku cantik setidaknya aku masih normal." Balas Denas yang tidak terima dengan ucapan kakak ketiganya.


"Ya ya baiklah. Sepertinya kita telah sampai di restoran terbesar di kota ini. Tenang saja walaupun makanan di sini sangat mahal-mahal, kakak ketigamu ini yang akan membayar." Ucap Tang Xiao sambil berdiri di depan restoran lima tingkat di depan mereka. Dilihat dari eksteriornya saja sudah bisa ditebak bahwa orang-orang yang datang ke sini bukan sembarang orang dan tentu saja mereka yang beruang.


"Oh ok lah kalo begitu. Nanti kakak ketiga jangan nangis jika aku pesan yang paling mahal di restoran ini." Celutuk Denas yang dirinya seakan orang yang kekurangan uang.


Mereka berdua memasuki restoran yang bernama FOOD GATHERING itu. Tang Xiao dan Denas dicegat oleh penjaga pintu.


"Tuan yang terhormat, Anda hendak makan di lantai berapa?" Tanya penjaga restoran itu yang berada di ranah Saint Expert dengan sopan.


"Yang paling bergengsi kira-kira di lantai berapa ya?" Tanya Tang Xiao juga sopan.


Penjaga itu tersenyum. "Di lantai lima tuan. Namun anda harus membayar seratus keping koin emas agar bisa mendapat tempat di sana." Jawab pelayan itu ramah.


"Baiklah ini dia." Ucap Tang Xiao mengeluarkan satu kantung kecil yang berisi seratus keping koin emas.


"Silahkan tuan." Pria itu mempersilahkan Tang Xiao dan Denas untuk naik ke atas sambil memberikan nomor meja mereka di lantai lima.


Tang Xiao dan Denas naik ke atas dengan tenang. Mereka menjadi pusat perhatian orang-orang di setiap lantai yang mereka lewati. Terutama para gadis-gadis yang meleleh saat Tang Xiao tersenyum menawan kepada gadis-gadis itu. Denas hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Tang Xiao yang terlalu percaya diri.


"Wow.. Lantai lima memang sangat tenang dan mewah. Lihatlah lampu kristalnya aja tingkat sembilan. Terlihat seperti pemborosan." Gumam Denas sambil melihat seisi ruangan lantai lima. Dia tampak terkejut saat melihat beberapa pengunjung yang sedang makan di lantai itu.


"Ayo kita duduk di situ." Ajak Tang Xiao sambil menunjuk dua kursi kosong yang terletak dekat jendela yang sesuai dengan nomor meja dari penjaga di bawah.


"Ah... i..iya..." Balas Denas gelagapan gara-gara terkejut melihat beberapa orang yang sedang memperhatikan mereka berdua.


Seorang gadis pelayan menghampiri dan memberi hormat lalu memberi daftar menu kepada Tang Xiao dan Denas. Mata pelayan itu tidak beralih dari wajah Tang Xiao.


"Ehem... Adik keempat katanya mau pesan yang mahal-mahal, kalo begitu kami ingin memesan makanan terenak dan termewah di sini." Ucap Tang Xiao sambil tersenyum kepada pelayan di depannya.


"Ba..Baik.. Tuan, kami akan berikan yang terbaik." Balas pelayan itu tersipu malu.


"Adik keempat kamu kenapa sih? Sejak kita naik ke lantai ini sepertinya kamu sedikit gelisah tidak seperti biasanya."


"Entah kenapa perasaanku tidak enak saja. Seperti ada sesuatu yang kulakukan namun aku tidak ingat apa itu. Bukankah itu sangat tidak nyaman?" Jawab Denas sedikit berbohong. Pemuda itu tampak menyembunyikan sesuatu.


"Iya sih rasanya sangat tidak nyaman. Seolah-seolah semua itu hanya de javu." Balas Tang Xiao yang mempercayai ucapan Denas. Tampak Denas menghembuskan nafas pelan.


Tak lama kemudian tiga orang pelayan datang sambil membawa beberapa nampan berisi hidangan pesanan Tang Xiao. Dari jauh saja sudah tercium aroma lezat menggugah selera. Para tamu yang ada di lantai lima juga tampak berselera melihat hidangan Tang Xiao dan Denas.


Tiga pelayan itu meletakkan nampan di atas meja Tang Xiao dengan hati-hati. Mereka menata hidangan itu sedemikian rupa hingga tertata rapi di meja.


Setelah menata hidangan, salah seorang pelayan memberikan struk pembayaran kepada Tang Xiao yang diterima dengan senyum lebar.


"Hemm.. Lumayan mahal untuk makanan di sini." Gumam Tang Xiao setelab melihat struk pembayaran pemberian pelayan.


Tang Xiao merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan satu kantong yang cukup besar lalu memberikan kepada pelayan itu.


"Di dalam ada dua ratus lima puluh ribu koin emas. Yang lima puluh ribunya sebagai tip untuk kalian bertiga." Ucap Tang Xiao santai.


Ketiga pelayan itu terbelalak mendengar tip yang sangat besar dari tamu mereka. Belum pernah ada tamu yang begitu dermawan mau memberi tip sebanyak itu. Lima puluh ribu koin emas bila dibagi tiga mereka mendapat tip yang jauh lebih besar dari gaji tahunan mereka.


"Terima kasih tuan muda, terima kasih." Ucap ketiga pelayan itu menunduk sopan. Mereka bertiga pergi dengan hati gembira.


"Kakak ketiga ternyata kamu cukup dermawan. Aku tidak menyangka kamu sangat kaya. Harga makanan terbaik di sini memang benar-benar fantastis." Gumam Denas sambil membuka penutup nampan. Dia sudah tidak tahan untuk makan semua yang ada di hadapannya. Dia sudah melupakan apa yang sedang dipikirkannya tadi.


"Hemm... Tidak usah terlalu memuji kakak ketigamu. Ayo segera makan sebelum dingin." Balas Tang Xiao mengambil sumpit dan sendok kemudian mulai mengambil makanan di depannya dan meletakkannya di piring miliknya.


Denas juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua makan dengan lahap dan tenang tidak terlalu peduli dengan pandangan orang-orang di sekitarnya.


"Kurasa pemuda itu memamerkan kekayaannya di dipan kita." Salah seorang tamu mulai bergosip.


"Yah mau gimana lagi. Sepertinya mereka berasal dari Kekaisaran besar. Sebaiknya kita tidak usah menyinggung mereka meskipun mereka terlihat lemah. Namun aku yakin orang dibelakang mereka pasti sangat kuat." Timpal yang lain tanpa meneruskan gosipan teman di depannya.


Namun berbeda dengan sekelompok orang yang berjumlah tujuh orang. Tiga orang wanita, dua pria, satu kakek-kakek dan satu lagi anak kecil. Kelompok orang itu sudah mulai curiga dengan Tang Xiao dan Denas sejak mereka berdua naik ke lantai lima.


Tang Xiao dan Denas tidak menggubris omongan orang tentang mereka. Selama orang-orang itu tidak menganggu Tang Xiao dan Denas yang lagi makan, mereka hanya akan diam saja dan menganggap sebagai angin lalu.


"Adik keempat, sepertinya sekelompok orang yang duduk di meja nomor lima hendak berbicara dengan kita." Ucap Tang Xiao tenang.


"Dan diantara mereka ada dua orang yang sangat kuat yang baru kali ini aku menemukan orang sekuat mereka di dunia ini." Lanjut Tang Xiao.


Denas terkekeh. "Kakak ketiga berkata seperti itu seolah-olah orang yang berasal dari dunia lain." Balas Denas sambil menyembunyikan keraguannya.


"Tapi tenang saja. Selama kakak ketigamu berada di sini, mereka tidak akan bisa menganggu kita." Ucap Tang Xiao percaya diri.


"Ugh.. Kurasa kakak ketiga terlalu percaya diri. Sebaiknya jangan cari masalah dengan mereka." Balas Denas sambil melanjutkan makannya.


Tak lama kemudian Tang Xiao dan Denas menghabiskan makanan yang dihidangkan kepada mereka. Orang-orang sekitar tampak terkejut kedua pemuda tampan mampu menghabiskan makanan sebanyak itu. Dan benar saja ucapan Tang Xiao, dua orang yang duduk di kursi nomor lima datang menghampiri Tang Xiao dan Denas sesaat setelah makan. Seorang wanita cantik berumur dua puluhan tahun dan seorang pria tampan berumur tiga puluhan tahun.


"permisi tuan maaf menganggu, bolehkah kami duduk bersama tuan? Ada beberapa hal yang ingin kami pastikan." Ucap pria dengan sopan setelah memberi salam.


"Oh tentu saja silahkan duduk tuan, nona." Balas Tang Xiao sambil memberi dua kursi kepada dua orang itu. Kedua orang itu tersenyum lalu duduk dengan tenang.


"Perkenalkan nama saya Rangga ini istri saya Lan Xuxu." Ucap pria yang bernama Rangga sambil mengulurkan tangannya. Tang Xiao menyambut uluran tangan itu dengan senyum.


"Nama saya Tang Xiao dan ini adik keempat saya Denas." Balas Tang Xiao. Denas juga mengulurkan tangannya menyambut tangan Rangga. Begitu Rangga menyentuh tangan Denas, pria itu sedikit mengernyitkan dahinya dan kemudian mengangguk tenang.


"Ah adik keempat saya ini memang sedikit malu dengan orang asing. Jadi maafkan dia jika kurang bersahabat." Ucap Tang Xiao sambil menepuk pundak Denas yang terasa kaku. Tang Xiao sedikit heran namun dia diam saja.


"Maaf sebelumnya kami kesini hanya untuk memastikan seseorang saja." Ucap Rangga memulai percakapan.


"Maaf jika lancang, kami berdua terasa sangat familiar dengan adik keempat anda ini tuan Tang. Kami ingin bertanya sesuatu dengan adik keempat anda jika diizinkan."


"Kalo saya tidak masalah namun bagaiamana dengan adik keempat saya? Saya tidak memaksa." Balas Tang Xiao tenang. Dia merasa ada keanehan dengan kedua orang yang baru saja datang.


"Adik keempat bagaimana menurutmu? Apa kamu mau berbicara dengan mereka?" Tanya Tang Xiao kepada Denas.


Denas mengangguk pelan. "Tapi kakak ketiga tetap harus di sini."


"Terima kasih atas pengetiannya anak muda. Langsung saja, bolehkah kami tahu nama anda?" Tanya Rangga sopan dan tenang.


"Nama saya Denas Satryo Wicaksono." Jawab Denas tenang.


"Dari mana anda berasal?" Tanya tetua Lan cepat.


"Hem.. Saya berasal dari Benua Land Of Death. Tentu saja saya adalah adik dari kakak ketiga." Jawab Denas tenang.


"Pernahkah kita bertemu sebelumnya? Aura yang keluar dari diri anda terasa begitu familiar." Tanya Rangga.


"Mungkin kita pernah berpapasan saat turnamen kemarin jadi membuat tuan Rangga terasa familiar dengan saya." Balas Denas berdiplomasi.


"Kami tidak pintar namun kami juga tidak mudah dibodohi. Saya tahu anda penah bertemu dengan saya namun anda tidak mau mengakuinya." Ucap Rangga tenang. Meskipun tenang, nada bicaranya sedikit meninggi.


"Untuk apa saya membohongi anda berdua. Mungkin karena anda terlalu kuat sehingga anda mampu merasakan beberapa aura yang sama namun ternyata berbeda orang. Seperti saya saat ini yang anda kira pernah bertemu dengan saya hanya karena aura saya terasa familiar bagi anda." Balas Denas tenang tanpa terprovokasi.


"Sebaiknya kita minum dahulu." Sela Tang Xiao sambil memberikan gelas yang telah diisi dengan anggur.


"Terima kasih tuan Tang." Ucap Rangga dan Lan bersamaan.


"Maaf jika saya menyela." Tang Xiao membuka suara.


"Sejak awal kami telah bersama dan tidak pernah berpisah. Jadi tidak mungkin adik keempat saya bertemu dengan anda tanpa bertemu dengan saya." Lanjut Tang Xiao mencoba mencairkan suasana.


Rangga dan tetua Lan mengangguk pelan membenarkan ucapan Tang Xiao yang masuk akal.


"Lalu anda ada berapa bersaudara?" Tanya tetua Lan.


"Kami ada empat bersaudara. Kakak pertama dan kakak kedua tidak bisa ikut karena beberapa hal. Jadi malam ini hanya kami berdua yang datang ke sini." Jawab Tang Xiao sambil menuangkan anggur ke gelas tetua Lan yang telah kosong.


"Terima kasih anggurnya tuan Tang. Terasa sangat enak, sepertinya anggur ini bukan berasal dari reestoran ini." Ucap Rangga kembali menikmati anggur di gelasnya. Pria itu tampak begitu nikmat dengan anggur dari Tang Xiao.


"Ya benar ucapan anda. Kami berempat mempunyai ladang anggur di kampung yang menjadi penghasil terbaik anggur di dunia. Anggur kami bernama Anggur Bulan Perindu yang sangat terkenal di daratan Land Of Death" Jawab Tang Xiao sekenannya. Denas mengernyitkan dahinya mendengar Tang Xiao mengucapkan hal itu. Dalam hatinya dia memuji kakak ketiganya itu yang pandai berbohong.


"Lalu tujuan anda berempat bersaudara datang ke benua ini adalah untuk mengikuti turnamen?" Tanya Rangga.


"Ya tentu saja tuan kami harus ikut bertanding demi membahagiakan orang tua di kampung. Kami juga telah bercita-cita akan mendapat tempat pertama dengan usaha kerja keras kami." Jawab Tang Xiao senyum lebar.


"Ah saya rasa orang tua kalian sangat bangga dengan tekad anak-anaknya. Saya berharap anda memang benar-benar mampu mendapat tempat pertama dengan selamat." Ucap tetua Lan santai.


Tang Xiao terkekeh. Dia tahu bahwa wanita di depannya ini sedang meremehkan mereka karena kuktivasi mereka yang terlihat rendah.


"Saya juga berharap begitu nona Lan." Balas Tang Xiao santai.


"Kalo begitu kami pergi dulu tuan Tang, tuan Denas. Maaf telah salah orang dan terima kasih telah memberi anggur yang sangat lezat ini." Ucap Rangga bangkit dari duduknya.


"Sama-sama tuan Rangga, saya juga meminta maaf atas nama adek saya jika ucapannya kurang sopan terhadap orang tua." Ucap Tang Xiao tersenyum lebar.


Rangga berhenti saat mendengar ucapan Tang Xiao. Dia menjadi penasaran.


"Kita tidak terpau terlalu jauh tuan Tang, jangan memanggil saya orang tua." Ucap Rangga.


"Ah maaf tuan Rangga jika ucapan saya menyinggung anda. Namun kenyataan yang tampak tidak sama dengan yang tersembunyi." Balas Tang Xiao tersenyum lebar.


Rangga ikut tersenyum lebar memahami ucapan Tang Xiao. Rangga dan Lan Xuxu kembali duduk di kursi mereka. Tak lama kemudian ketujuh orang itu keluar dari lantai lima.


"Huff.. Hampir saja." Batin Denas setelah melihat Rangga dan kelompoknya keluar dari lantai lima.


"Aku lega mereka mau mempercayai ucapan kita." Gumam Tang Xiao.


"Sekarang kakak ketiga ingin bertanya, siapa mereka dan bagaimana bisa mereka mengenalmu." Tanya Tang Xiao penuh selidik.


Denas menarik nafas pelan menenangkan hatinya. Menghadapi kakak ketiganya tidak terlalu sulit dibandingkan orang-orang tadi.


"Saat aku pergi dari rumah, aku berpapasan dengan kelompok orang itu. Saat itu aku memakai topeng agar tidak ada yang mengenaliku dan memberi tahu keluarga. Aku sempat tinggal bersama mereka satu atau dua hari tanpa melepaskan topeng. Aku sempat merasa mereka adalah mata-mata yang diutus keluarga untuk mencariku sehingga dengan cepat aku kabur dari mereka tanpa memberitahu mereka." Ucap Denas yang terlihat serius dengan pembicaraannya.


"Ah jadi begitu ceritanya. Pantas mereka tampak begitu ngotot ingin memgetahui siapa kamu. Untunglah kita tidak memakai topeng yang bisa saja membuat mereka curiga." Gumam Tang Xiao sambil menganggukkan kepalanya seolah mengerti apa telah terjadi.


Setelah berbincang beberapa saat, mereka berdua pergi meninggalkan restoran dan mungkin kembali ke kamar mereka masing-masing.


......................


Sementara itu di sebuah dunia, ratusan orang sedang mengelilingi kotak hitam yang tiba-tiba bercahaya. Orang-orang itu tampak waspada terhadap kotak hitam sehingga mereka terlihat sedang menunggu sesuatu yang datang.


"Semenjak kotak pandora datang ke dunia ini, tidak pernah sekalipun bercahaya seperti ini. Apa ini ada hubungannya dengan ramalan kehancuran dunia?" Gumam salah seorang dari mereka yang terlihat seperti pemimpin.


"Siapapun yang datang mengambil kotak ini, mereka harus berhadapan dengan kita terlebih dahulu. Mereka kira di bumi tidak ada pahlawan?" Balas yang lain sambil mempersiapkan senjatanya.


"Jika hari ini kita kalah, mungkin dunia benar-benar akan hancur." Balas yang lain.


Semakin lama cahaya yang ada di kotak pandora semakin terang menandakan bahwa orang yang datang mengambil semakin dekat. Ratusan orang yang mengeliling kotak itu semakin bersiaga dengan senjata mereka masing-masing.


Wuushh...


Kotak pandora mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan ke langit. Tak lama kemudian bermunculan makhluk hitam dan bersayap dari cahaya yang menembus ke langit itu. Puluhan makhluk hitam itu mengelilingi cahaya yang keluar dari kotak pandora seperti ngengat yang mengelilingi api.


Tiga makhluk hitam bertanduk dengan tinggi sekitar dua meter tanpa sayap muncul dengan tenang. Tiga makhluk hitam bertanduk itu tampak mengenakan zirah pelindung di tubuh mereka. Setelah kemunculan tiga makhluk hitam bertanduk, muncul lagi seorang makhluk hitam bersayap dengan asap hitam mengelilingi tubuhnya seperti baru saja bangkit dari kematian.


Cahaya itu pun lenyap menyisakan dua dua ras makhluk yang saling berhadap-hadapan yang mempunyai misi masing-masing.


"Serang.... Jangan kasih ampun kepada musuh yang hendak mengambil milik kita." Ucap pemimpin dari ras manusia. Dia sendiri mulai menyerang salah seorang dari tiga makhluk hitam bertanduk. Begitu pun dengan yang lain, mereka segera menyerang musuh yang tidak mereka kenali siapa maupun kekuatannya.


Pertempuran besar terjadi. Kedua ras makhluk berbeda itu bertempur dengan habis-habisan. Para makhluk hitam itu sedikit tidak menyangka bahwa lawan mereka cukup tangguh untuk seukuran makhluk mortal.


Begitu juga dengan para pahlawan penjaga kotak pandora, mereka tidak pernah menduga lawan yang datang kali ini benar-benar sangat kuat tidak seperti lawan-lawan mereka sebelumnya.


Makhluk hitam bersayap dengan tiggi dua meter, hanya diam saja melihat pertempuran di depannya. Dia tidak membantu anak buahnya, hanya mengambil kotak pandora dari tempatnya dan memegangnya dengan erat. Makhluk hitam itu tersenyum lebar.


"Kini aku bisa membuktikan diriku di hadapan yang mulia tuan dan nona bahwa aku layak menjadi salah seorang jenderal terkuat mereka." Ucap makhluk itu dengan suara berat.


"Sayangnya orang-orang tolol ini tidak mengerti sedang berhadapan dengan siapa. Mereka pikir sama berhadapan antara makhluk immortal dan makhluk mortal." Gumam makhluk hitam itu menyeringai lebar.


"Sudah cukup bermain-mainnya. Segera habisi mereka dan hancurkan tempat ini. Beri tahu kepada dunia lain bahwa kita sudah mulai bergerak." Teriak makhluk hitam itu kepada para anak buahnya.


Wuushhh...


Boomm..


Boomm...


Tiga orang makhluk bertanduk itu mengeluarkan jurus andalan mereka sehingga terjadi ledakan besar berturut-turut hingga menggoncang sisi lain dari bumi. Akibat goncangan itu, banyak manusia di bumi yang mati akibat tertimpa gedung-gedung raksasa yang roboh. Air samudera naik pasang hingga setinggi dua ratus meter meluluh lantakkan apapun yang dilewatinya. Gunung-gunung berapi yang aktif maupun tidak aktif meletus mngeluarkan magma menghabiskan apapun yang dilewatinya. Es di kutup utara dan selatan mencair hingga membuat debit air laut bertambah banyak dan meluap membanjiri kota-kota di sekitarnya.


Saat ini orang-orang di seluruh dunia sedang berusaha menyelamatkan diri sendiri tidak peduli dengan sekitar mereka. Ada juga diantara mereka yang pasrah dengan kematiannya sehingga mereka hanya berdiri menyaksikan kematian mereka dengan mata terpejam seolah sedang menikmati kematian yang datang kepada mereka.


Ada juga orang-orang yang naik pesawat yang telah dirancang untuk hari ini. Orang-orang yang naik pesawat itu tidak sadar bahwa satu makhluk hitam bersayap yang membawa kotak pandora di tangannya sedang mengincar mereka.


"Hahaha... Manusia lemah sudah waktunya kehidupan ini diperbaharui lagi. Berbahagialah kalian yang menjadi salah satu kehidupan yang berakhir dengan sia-sia demi kehidupan selanjutnya." Ucap makhluk hitam itu terbang di langit. Suara makhluk itu memenuhi seluruh dunia sehingga siapapun yang mendengar suara itu telinganya pecah matanya keluar dan mati dalam keadaan yang mengenaskan.


Suara makhluk hitam itu adalah pertanda bahwa kehidupan di bumi sudah tidak ada lagi. Para manusia di bumi mati dengan berbagai macam keadaan menyedihkan.


Para makhluk hitam lainnya yang telah membantai habis para pahlawan segera terbang mendekati pemimpin mereka. Mereka tampak memandang bangga kehidupan yang telah mereka hancurkan.


"Hahaha.... Ternyata menyenangkan melihat kehancuran makhluk lemah tidak berdaya yang tidak mampu melindungi diri mereka dari kematian." Makluk hitam bersayap itu tertawa terbahak-bahak diikuti para anak buahnya.


Setelah tertawa puas, makhluk hitam itu mengangkat tangannya ke atas lalu muncul portal hitam yang cukup besar. Makhluk hitam memasuki portal diikuti yang lainnya meninggalkan bumi yang sudah porak-poranda tidak berbentuk tanpa satupun kehidupan yang tersisa. Semuanya mati bahkan sekalipun itu seekor nyamuk yang baru saja lahir.


......................


"Sial... Siapa makhluk-makhluk itu dan kenapa kita tidak bisa mendekati mereka sama sekali." Seorang pria paruh baya tampak menghentakkan tangannya di atas meja depannya. Dia tampak sangat marah saat melihat kehidupan di bumi sudah tidak ada lagi.


"Baru beberapa tahun yang lalu kejadian hampir serupa terjadi di plaet orion jika tidak ada pemuda berambut biru yang membantu mungkin akan bernasib sama dengan planet bumi 090 ini." Gumam pria itu marah-marah.


"Tuan Adam tolong tenangkan diri anda, kami takut penyakit anda kambuh lagi." Ucap seorang wanita menenangkan pemimpinnya sambil memberikan segelas air putih.


Adam meminum air pemberian gadis itu yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Hatinya sedikit tenang.


"Aku heran, sebenarnya kotak pandora itu seberapa pentingnya bagi mereka hingga dengan berani memusnahkan seluruh kehidupan dalam satu planet." Gumam pria itu sambil menatap layar di depannya yang menunjukan keadaan bumi yang sudah hancur. Adam tampak miris melihat pemandangan menyedihkan di depannya.


"Apa setimpal kotak pandora itu dengan kehidupan makhluk yang sangat berarti? Aggh.." Adam kembali berteriak marah membanting meja dengan keras. Dia marah kepada dirinya sendiri yang tidak mampu membantu orang-orang menghadapi kematian mereka.


Orang-orang sekitar terdiam tidak berani menyela. Mereka juga sangat geram melihat manusia dibantai tanpa mampu melawan balik. Mereka marah namun tidak mampu berbuat apa-apa.


"Tuan Adam tolong tenang dulu. Kami mohon tuan untuk tetap tenang. Mari bicarakan hal ini baik-baik." Ucap Gadis mencoba menenangkan ayah angkatnya itu. Dia memijat-mijat pundak Adam agar pria itu bisa lebih tenang. Gadis itu tampak khawatir dengan kesehatan ayah angkatnya ini jika terus marah-marah.


"Hemm... Di antara orang-orang di sini hanya kamu yang berani memperlakukan ayah angkatmu seperti ini." Gumam Adam tersenyum lebar menikmati pijitan anak angkatnya. Gadis itu juga tersenyum lebar.


"Bukankah kalian mempunyai kontak dengan pemuda berambut biru yang dulu menyelamatakan planet orion beberapa tahun yang lalu?" Tanya ada kepada orang-orang sekitarnya.


"Iya tuan ada. Namun saya masih tidak percaya bagaimana token seperti ini bisa menghubungi pemuda itu yang kita sendiri tidak tahu dimana dia." Ucap seorang pemuda yang seusia dengan anak angkat Adam. Pemuda itu menampilkan wajah tampan seorang pemuda berambut dan bermata biru yang sedang tersenyum ramah menyalami orang-orang yang sedang berterima kasih kepadanya.


"Tidak apa-apa, sebaiknya kita mempunyai orang dengan kekuatan serupa yang berada di pihak kita. Kita hanya perlu mempercayai pemuda itu." Ucap Adam tenang. Dia mengambil token diamond dari tangan pemuda lalu mulai mengaktifkannya.


"Halo tuan, maaf menganggu bisakah saya berbicara dengan tuan Tang Xiao." Ucap Adam sambil mendekatkan mulutnya ke token diamond di tangannya.


"Baiklah silahkan tunggu sebentar kami akan memanggil tuan muda Tang." Balas orang di seberang yang terdengar seperti suara seorang wanita.


Adam sangat senang dengan balasan itu. Awalnya dia terlihat ragu apakah berhasil atau tidak kini dia merasa sangat senang. Sejak pertama kali mendapat token dari Tang Xiao, Adam tidak pernah menggunakannya sama sekali karena selama ini tidak terjadi apa-apa. Orang-orang di sekitar Adam juga tampak bersemangat setelah mendengar balasan dari dalam token diamond. Mereka tidak menyangka bahwa pemuda berambut biru itu benar-benar dapat dipercaya.


"Ya saya di sini Tang Xiao, ada yang ingin anda katakan tuan Adam?"


Adam begitu senang saat dirinya tidak dilupakan oleh orang pernah menyelamatkan kehidupan di satu planet. Tampak Adam menggenggam erat token Diamond di tangannya.


"Mohon maaf tuan Tang menganggu anda, dan terima kasih tuan Tang masih mengingat saya." Balas Adam terharu.


"Hahaha tuan Adam saya tidak melupakan orang-orang baik seperti anda. Jadi tidak usah berterima kasih." Balas orang di seberang.


"Mohon maaf tuan Tang kami sedikit lancang, namun bisakah kita bertemu sebentar. Ada hal yang ingin kami sampaikan dengan anda." Ucap Adam sopan.


"Tentu bisa, saya juga sedang tidak ada pekerjaan pekan ini. Jadi ada banyak waktu luang."


"Baiklah tuan Tang, tolong beri titik koordinat anda agar kami dapat menemui tuan Tang."


"Ah tidak perlu, saya saja yang akan datang ke tempat tuan Adam."


"Bagaimana caranya anda datang ke sini?"


"Gampang saja, selama anda menghidupakn token di tangan anda, saya dapat mengetahui posisi anda."


"Baiklah tuan kami percaya."


Suara di seberang sudah tidak ada lagi. Adam dan yang lainnya masih tampak bingung dengan ucapan Tang Xiao. Tak lama kemudian sebuah portal emas seukuran manusia muncul di dekat Adam lalu keluar dari portal pemuda tampan berambut dan bermata biru tersenyum ramah.


"Tuan Tang Xiao!!??" Gumam orang-orang di ruangan itu dengan tak percaya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Guyss.. 🗿🗿


Upnya telat karena kondisi author yang kurang baik. Maaf ni para raeders telah menunggu.