
Paviliun Bintang, salah satu kota terbaik di Benua Land Of Soul saat ini dipenuhi dengan berbagai kultivator dari penjuru dunia. Dengan berbagai macam tujuan salah satunya mengikuti turnamen paling bergengsi di dunia yaitu Turnamen Kultivator Antar Benua. Kebanyakan dari orang yang datang ke kota ini adalah para peserta turnamen, meskipun ada diantara kultivator ataupun orang biasa yang datang hanya untuk menyaksikan jalannya turnamen.
Pendaftara turnamen di kota ini telah dimulai sejak malam hari dan mungkin akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Bukan main-main, para petugas pendaftaran yang paling rendah berada di ranah Ancestor bintang sembilan. Tempat pendaftara peserta ada dua tempat sesuai dengan arena besar yang telah disediakan. Para Kultivator yang ingin ikut turnamen harus mendaftar terlebih dahulu agar tidak ada peserta ilegal yang tidak jelas. Meskipun orang yang mendaftar sangat padat, namun pengkoordinasian dari para petugas membuat pendaftaran berjalan cukup lancar dan cepat. Yah kecuali orang gila, tidak ada yang berani bebuat macam-macam dihadapa para kultivator tingkat tinggi yang sangat kuat.
Tang Xiao, Denas, Arya, Andri dan Jessika setelah istirahat semalaman ikut mendaftarkan diri. Pagi-pagi buta, mereka telah menuju tempat pendaftaran yang tidak pernah beristirahat sejak pendaftara dibuka. Meskipun masih sangat pagi, di sana telah banyak kultivator yang telah mengantri.
Tang Xiao, Denas, Arya, Andri dan Jessika segera mengantri di tempat pendaftaran yang kedua yang mana jumlah orang mendaftar lebih sedikit dari tempat yang pertama. Dan tidak menunggu lama, giliran mereka mendaftar.
Tampak, petugas pendaftaran yang sedang memegang sebatang pena tutul itu berada di ranah Holy Ancestor bintang satu. Sebilah pedang putih bergagang kuning tersarung di belakangnya. Pria itu mendongakkan kepalanya saat giliran Tang Xiao yang mendaftar sementara Andri dan Arya yang mendaftar pertama, pria itu mengabaikan mereka. Pria itu menatap Tang Xiao sambil mengangkat sebelah alisnya kemudian mengangguk pelan.
"Dari mana anda berasal?" Tanya pria itu ramah dan sopan. Beberapa kultivator yang berdiri di belakangnya yang bertugas mengawasi jalannya pendaftaran terlihat terkejut.
"Saya dari benua Land Of Death." Jawab Tang Xiao tak kalah ramah dan sopan.
"Hem... Sejak kapan Benua Land Of Death memiliki kultivator pedang selevel dengan orang tua itu?" Gumam pelan pria itu yang hanya mampu didengar oleh Tang Xiao dan empat orang dibelakangnya.
"Oh maaf saya lupa, nama anda siapa?" Tanya pria itu tersenyum mengulurkan tangannya.
" Nama saya Tang Xiao tuan." Jawab Tang Xiao membalas uluran tangan pria di depannya.
'Usia anak muda ini belum ada enam belas tahun, namun sudah menguasai Penyucian Tubuh Jiwa Pedang? Benar-benar memiliki masa depan yang tak terbatas.' Batin pria itu sambil menulis nama Tang Xiao di daftar yang berbeda yang hanya ada nama Tang Xiao di daftar itu.
"Terima kasih tuan Tang, anda sudah boleh pergi." Ucap pria itu sambil tersenyum ke arah Tang Xiao. Tang Xiao tersenyum dan mengangguk pelan. Pria itu kembali menatap kertas di depannya dan kembali ke kondisi yang sebelumnya.
Namun pria itu kembali mendongakkan kepalanya begitu giliran Denas yang mendaftar. Pria itu juga mengangkat sebelah alis matanya.
"Dari mana anda berasal?" Tanya pria itu. Lagi-lagi, empat orang kultivator di belakangnya di buat terkejut.
"Saya seorang pendekar pengelana tuan." Jawab Denas mengimbangi kesopanan pria itu.
"Nama anda siapa tuan?" Tanya pria itu mengulurkan tangannya.
"Nama saya Denas." Jawab Denas sambil membalas uluran tangan pria itu.
'Pemuda ini lebih muda dari pemuda sebelumnya, namun mereka memiliki tubuh yang mirip meskipun tingkat kultivasi yang berbeda. Yang jelas, kondisi tubuh dua pemuda ini begitu mengerikan dan tidak biasa. Aku harus melihat catatan di perpustakaan itu lagi.' Batin pria itu sambil menulis nama Denas di daftar yang sama dengan nama Tang Xiao. Kini daftar itu sudah terisi dua nama sejak pendaftaran di buka beberapa hari yang lalu.
Pria itu mengangguk sopan dan mempersilahkan Denas pergi. Pria itu kembali ke kondisi awalnya; diam tidak peduli dan cuek hingga beberapa orang telah mendaftar.
Namun lagi-lagi pria itu mendongakkan kepalanya saat merasakan aura tak biasa di depannya telah berdiri seorang wanita bercadar biru memakai abaya dengan warna yang sama. Wanita itu terlihat anggun dengan dalam balutan pakaian itu.
"Dari mana anda berasal nona?" Tanya pria itu sopan.
"Saya dari Kerajaan Nusantara tuan." Jawab wanita santai. Jawabannya itu membuat kaget pria itu dan beberapa temannya yang berdiri di belakangnya.
Dengan cepat pria itu berdiri lalu mengepalkan tinjunya ke depan dada sambil membungkuk diikuti empat orang temannya di belakang.
"Maafkan kami tuan putri yang tidak mengenal anda." Ucap pria itu. Dia tahu sedikit identitas wanita bercadar di depannya ini. Tentu saja wanita itu adalah tuan putri Kerajaan Nusantara dan menjadi tamu kehormatan yang bahkan Sang Ketua Paviliun menghormati tuan putri ini.
"Tidak perlu seperti itu tuan, saya hanya mendaftar sebagai peserta atas perintah ayah saya." Jawab wanita bercadar itu sambil memberi isyarat agar mereka duduk. Pria itu pun kembali duduk dan empat orang di belakangnya tetap berdiri di tempat mereka seperti semula.
"Jika boleh tahu nama tuan putri?" Tanya pria itu sopan tanpa mengulurkan tangannya seperti sebelumnya.
"Nama saya Rina tuan." Jawab wanita itu tenang.
"Saya baru berumur lima belas tahun, anda tidak perlu susah-susah mencari tahu umur saya." Ucap Putri Rina lagi yang mengetahui apa yang sedang diinginkan petugas pria di depannya.
"Ah terima kasih tuan Putri. Saya sangat senang hari ini." Ucap Pria itu.
"Baiklah, karena sudah mendaftar, saya akan kembali." Ucap putri Rina sopan.
"Baik tuan putri silahkan." Ucap pria itu bangkit lalu membungkuk diikuti temannya di belakang. Orang-orang sekitar hanya diam menyaksikan kejadian yang jarang terjadi di depan mereka. Tidak ada yang berani berbicara ataupun berbisik mengenai gadis itu. Mereka sudah diam sejak pertama kali putri Rina memperkenalkan dirinya.
Tang Xiao, Denas, Arya, Andri dan Jessika berdiri tak jauh dari tempat Putri mendaftar. Mereka telah memperhatikan gadis itu sejak pertama kali datang. Mereka merasa sangat tertarik dengan aura yang dikeluarkan gadis itu.
"Gadis itu sepertinya sekuat dengan Kakak pertama dan akan menjadi lawan yang cukup tangguh." Ucap Tang Xiao melalui telepati yang terhubung dengan tiga saudaranya yang lain.
"Tentu saja akan sangat cocok disandingkan dengan adik ketiga." Balas Andri melalui telepati juga.
"Haha kurasa gadis itu akan lari melihat penampilanku yang begini." Balas Tang Xiao.
"Tidak masalah... Biar aku yang berbicara untukmu dengan gadis itu." Ucap Jessika menggoda Tang Xiao.
"Kakak ketiga biarpun pakaianmu seperti ini, kurasa gadis itu tidak akan tahan melihat wajahmu." Timpal Denas yang dari tadi diam.
"Gadis itu jauh lebih kuat dariku." Gumam Arya yang tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Tang Xiao dan yang lainnya.
"Saudara Arya, tidak usah khawatir semoga saja kita tidak bertemu dengan gadis itu." Ucap Denas sambil menepuk-nepuk bahunya menenangkan Arya.
"Semoga saja." Balas Arya sambil mengangguk pelan.
Semakin matahari tinggi, semakin banyak orang yang mendaftar, semakin banyak juga orang yang memasuki kota Paviliun Bintang. Termasuk diantara mereka adalah orang-orang dari Kekaisaran Gama dan Kekaisaran Alpha. Kedua Kekaisaran ini pada dasarnya termasuk panitia penyelenggara turnamen sehingga tidak ada pemeriksaan dari para penjaga gerbang.
Andri yang melihat iring-iringan rombongan dari Kekaisaran Alpha mengepalkan tangannya. Saat melihat beberapa wajah yang dikenalnya membuat tubuhnya bergetar hebat. Hampir-hampir saja Andri melompat ke arah iring-iringan itu menghajar mereka satu persatu jika tidak dihentikan oleh Jessika dan Tang Xiao.
"Kakak pertama, dendammu adalah dendam kami juga. Tidak baik kita melampiaskan dendam di sini. Ada banyak orang hebat yang tidak mampu kita lawan saat ini. Tunggu di atas arena, maka satu persatu hutang yang selama ini terlupakan akan bisa lunas total. Yang perlu kita lakukan saat ini adalah mempersiapkan diri menghadapi turnamen nanti." Ucap Tang Xiao menepuk-nepuk pundak Andri agar bisa tenang.
Jessika yang mengetahui kisah kekasih nya itu, menggenggam erat tangan Andri penuh kasih sayang.
"Kak Andri, benar apa yang dikatakan adik ketiga. Saat ini kita memang belum bisa melunasi hutang ini, namun suatu hari kita akan mampu membayarnya dua kali lipat meskipun tidak di sini." Ucap Jessika.
"Seperti apapun kak Andri, itu hanya masa lalu. Saat ini ada aku di sisi kakak, tidak usah takut, aku akan selalu menemani dan mendukung kakak hingga mata ini tertutup selamanya." Ucap Jessika lagi tersenyum manis.
Andri terdiam. Hatinya tersentuh mendengar ucapan orang-orang yang dicintai dan mencintainya. Dia tersenyum lebar dan mengangguk.
"Terima kasih adik ketiga, terima kasih putri kecil, terima kasih semuanya." Ucap Andri membalas genggaman tangan Jessika.
Arya yang tidak tahu masalah apa yang telah terjadi, hanya diam saja dan berdiri di samping Denas berharap pemuda disampingnya itu akan menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Dia memang melihat iring-iringan besar dengan bendera yang bertuliskan Kekaisaran Alpha namun dia tidak tahu kenapa temannya, Andri, bisa terlihat begitu membenci rombongan itu.
Denas yang juga diam saja, sesekali mengangguk-angguk membenarkan ucapan Tang Xiao dan Jessika. Dia dapat merasakan apa yang sedang dirasakan kakak pertamanya itu, dendam yang membuat kakak pertamanya itu terhina dan terabaikan oleh keluarga sendiri, seolah dendam itu telah menjadi dendamnya hingga membuat hatinya ikut panas. Namun dia masih mampu mengendalikan dirinya.
Sementara itu, rombangan Kekaisaran Alpha sempat melihat ke arah kelompok Tang Xiao yang berdiri menonton tak jauh dari pinggir jalan, menonton iring-iringan yang megah itu. Mereka tidak menganali Andri yang memakai topeng sejak keluar dari kamar pagi-pagi buta, begitu juga dengan Tang Xiao, Denas, Jessika dan Arya.
Awalnya yang mengusulakn memakai topeng adalah Denas dan ternyata usulnya itu disetujui oleh yang lain.
"Aku setuju. Aku juga harus mencari orang-orang yang telah membuangku dari kendaraan dan meminta penjelasan mereka." Ucap Arya saat dimintai mengenai pendapatnya.
"Aku juga setuju. Sebelum dendam ini terbayarkan, aku tidak akan membuka topengku di halayak ramai." Ucap Andri menyetujui pendapat Denas.
Rombongan dari Kekaisaran Alpha mengira bahwa sekelompok anak muda yang sedang memandang mereka dari sudut yang tidak terlalu mencolok adalah sekelompok pemuda biasa yang mengagumi Kekaisaran Alpha sehingga rombongan Kekaisaran Alpha tidak ambil pusing. Mereka melanjutkan perjalan mereka menuju pusat kota tanpa menghiraukan kelompok Tang Xiao dan menganggap mereka sebagai angin lalu.
Tak lama berselang, rombongan dari Kekaisaran Gama lewat di depan kelompok Tang Xiao. Rombongan Kekaisaran Gama tak kalah mewah dan meriahnya dari Kekaisaran Alpha. Jejeran terompet, jejeran pembawa bendera, jejeran pengawal Kaisar, jejeran Putra-Putri Kaisar, semua terlihat memesona menunjukan kebesaran Kekaisaran Gama.
Rombongan Kekaisaran Gama sama seperti Kekaisaran Alpha sebelumnya, tidak menganggap orang-orang yang mengeluk-ngelukan mereka, menganggap semua itu adalah angin lalu tidak berguna.
Jessika tahu bahwa rombongan yang lewat itu adalah para keluarganya termasuk ayahandanya. Ayahnya tidak tahu bahwa Jessika telah berada di Kota Paviliun dan menjadi salah satu peserta yang ikut bertanding. Yang ayahnya tahu, Jessika masih berada di Sekte Azure Dragon dan belum tentu apakah akan ikut turnamen atau tidak.
Tang Xiao, Andri, Arya, Denas dan Jessika kembali ke penginapan mereka setelah menyaksikan rombongan Kekaisaran Gama memasuki ibu kota Paviliun Bintang. Di dalam penginapan yang memiliki restoran itu, mereka mencari sarapan pagi sebelum kembali melihat-lihat suasana kota yang semakin ramai.
"Kakak pertama, bagaimana sih sejarah pertama kali turnamen antar benua ini diadakan?" Tanya Denas membuka percakapan. Dia mengambil sepotong daging lalu menaruh di piring Tang Xiao dan sepotong daging lagi ditaruh di piringnya sendiri.
"Loh di piring kakak pertamamu gak ditaruh sekalian?" Tanya Andri yang melihat tingkah Denas yang terlihat pilih kasih.
Denas tersenyum lebar lalu mrngambil sepotong daging kemudian menaruh di piring kakak pertamanya itu.
"Nah gitu dong." Ucap Andri tersenyum lebar. Sambil makan, Andri mulai menceritakan sejarah dimulainya turnamen antar benua yang diketahuinya.
"Sejarah yang pernah aku baca dan sebatas pemahamanku, beberapa ratus yang lalu, para kultivator yang telah berhasil menumpas Iblis beserta pengikutnya dari dunia ini, merayakan kemenangan mereka dengan berkumpul bersama. Para kultivator kuat yang telah menang itu, ternyata berasal dari berbagai dunia. Untuk menguatkan persaudaraan antar para kultivator dunia, mereka membentuk Organisasi Kultivator Dunia yang diketuai oleh kultivator terkuat di dunia yang berada di ranah Semi God. Pada saat itu sang ketua, demi menambah keeratan hubungan mengusulkan untuk mengadakan turnamen antar benua untuk generasi muda.
Usul ketua itu disetujui dengan senang hati dan suka cita. Satu tahun kemudian, turnamen antar benua berhasil diselenggarakan dengan tenang dan aman tanpa memikirkan penyerangan diam-diam dari Iblis dan pengikutnya. Turnamen itu secara langsung dipimpin oleh Sang Ketua serta mendapat hadiah yang luar biasa. Turnamen itu dimenangkan seorang pria dan seorang wanita yang diangkat secara langsung menjadi murid Sang Ketua. Tentu saja hadiah itu menjadi hadiah terbesar sepanjang sejarah turnamen itu sejak dimulainya hingga kini karena tidak lama kemudian, Ketua Organisasi Kuktivator Dunia menghilang secara misterius bersama dua orang muridnya itu hingga sekarang tidak tahu bagaimana kabarnya.
Seiring berjalannya waktu dari generasi ke generasi, beberapa aturan mengenai turnamen antar benua banyak perubahan dan penambahan. Salah satunya adalah usia dan faktor kultivasi. Usia minimal untuk mengikuti turnamen adalah lima belas tahun dengan tingkat kuktivasi minimal ranah Grand Master. Dan maksimal usia sekitar lima puluh tahun dengan tingkat kultivasi Saint Expert. Yang pasti, peraturan setiap turnamen akan ada penambahan atau pengurangan setiap akan diselenggarakan mengingat turnamen ini diadakan dua puluh tahun sekali.
Jadi ini adalah kesempatan terbaik untuk semua orang mengeluarkan kemampuannya di arena. Siapa yang tidak ingin menjadi murid di salah satu Sekte Tersembunyi di dunia ini? Terlebih tahun ini ada beredar informasi bahwa Kerajaan Nusantara juga akan merekrut para pemenang tahun ini untuk dijadikan adipati di kerajaan tersebut. Tentu saja hal itu akan menjadi persaingan yang ketat dan menegangkan di turnamen kali ini."
Sambil bercerita, sesekali Andri menyuapkan makanan ke mulutnya. Hanya mata, mulut dan lubang hidung yang tidak tertutup oleh masker yang kenakan oleh kelompok Tang Xiao.
Cerita Andri itu menarik minat beberapa kultivator yang tak jauh dari mereka. Beberapa dari kultivator ada yang terang-terangan mendengarkan dan mendekat dan ada juga yang menggunakan indranya untuk mendengar cerita Andri.
Diantara kultivator itu, masih banyak dari mereka yang belum mengetahui informasi yang diceritakan Andri. Seorang gadis muda mendekati meja makan kelompok Tang Xiao.
"Bolehkah saya ikut bergabung dengan tuan-tuan sekalian?" Ucap gadis muda itu sopan setelah memberi hormat.
Tang Xiao, Denas, Jessika, dan Arya menoleh ke arah Andri. Mereka meminta persetujuan orang yang lebih tua dari mereka.
"Tentu saja nona. Silahkan tidak masalah." Ucap Andri santai memberi isyarat mempersilahkan gadis itu duduk di kursi kosong dekat Tang Xiao.
Gadis itu tersenyum lebar dari balik cadarnya. "Terima kasih tuan." Ucap gadis itu lalu duduk di samping Tang Xiao.
"Saya baru masuk ke restoran ini dan ternyata tempatnya telah penuh. Saat melihat kursi kosong ini saya memberanikan diri bergabung dengan tuan-tuan yang sepertinya sebaya dengan saya." Ucap gadis itu sopan dan formal. Dilihat dari pakaian yang dikenakannya, gadis ini bukan berasal dari benua ini.
"Ya restoran ini telah penuh dengan pengunjung. Banyak yang datang namun pergi dengan kecewa karena tidak mendapat kursi kosong lagi. Saya memuji keberanian anda mau bergabung dengan kami yang terlihat lusuh ini." Ucap Denas senyum ramah.
"Kami hanyalah sekumpulan pemuda yang mencari jati diri dan tidak menghiraukan pendapat orang lain. Apakah anda terlalu mempercayai firasat bahwa kami ini adalah orang baik-baik dan bukan buronan yang sedang dicari-cari?" Ucap Tang yang meskipun sopan namun terdengar blak-blakkan.
"Hihi... Bagaimana saya bisa mempercayai orang lain tanpa mempercayai firasat saya sendiri? Mempercayai orang lain berasal dari mempercayai diri sendiri dengan apa yang dilakukan. Dan tentu saja saya salah satu kultivator dengan kekuatan firasat yang ditinggi di atas rata-rata kultivator lainnya." Ucap gadis muda santai dan sopan tidak terpengaruh dengan ucapan Tang Xiao.
Tang Xiao diam dan mengangguk pelan membenarkan ucapan wanita bercadar di sebelahnya ini. Wanita bercadar menoleh ke arah pelayan lalu memanggilnya.
"Tuan, tolong hidangkan menu terbaik di restoran ini sejumlah orang di sini. Ini bayarannya sekalian dengan yang sudah lebih dulu dihidangkan." Ucap wanita bercadar itu memberi sekantung koin emas kepada wanita pelayan itu. Wanita itu menerima dengan rasa gembira dan wajah tersenyum lebar.
"Baik nona." Ucap pelayan itu membungkuk lalu bergegas memesan makanan pesanan wanita bercadar.
"Sebagai rasa terima kasih karena mengizinkan saya bergabung dengan kelompok tuan, saya akan membayar makanan ini dan makanan yang akan disajikan." Ucap wanita bercadar itu ramah agar orang-orang di depannya ini tidak tersinggung dengan tindakannya.
"Nama saya Ririn, dari benua Land of Sword. Saya kesini dengan rombongan namun di tengah jalan kita berpisah karena di serang Mythical Beast tingkat sembilan sewaktu melewati Ocean Samudera. Sampai sekarang saya belum mengetahui kabar teman-teman lain yang terpisah." Ucap Ririn memperkenalkan dirinya ramah. Terlihat dia sedikit sedih.
"Saya Arya dari benua Land Of Sword, jika boleh tahu dari Kerajaan mana nona Ririn berasal?" Tanya Arya semangat yang bertemu dengan orang dari benua yang sama di benua orang lain.
Sebenarnya bertemu dengan orang dari benua yang sama adalah hal biasa jika ada turnamen seperti ini. Namun beda halnya jika terpisah dari rombongam dan hidup sendirian beberapa hari tak tahu arah, tentu akan berbeda rasanya seperti yang dialami Arya saat ini.
"Oh benarkah tuan Arya? Saya dari Kerajaan Arita tepatnya dari Sekte Pedang Sembilan Bulan." Ucap Ririn yang juga bersemangat. Dia mungkin merasa bahagia ada yang satu benua dengannya saat pertama kali berkenalan dengan orang lain.
"Oh Kerajaan Arita, Sekte Pedang Sembilan Bulan." Gumam Arya pelan.
"Eh tunggu." Seru Arya kaget hampir terjatuh dari kursinya jika punggungnya tidak ditahan oleh Denas.
"Saya berasal dari Kerajaan Arita, dari Sekte Pedang Musim Semi." Ucap Arya tambah semangat sambil mengepalkan tangannya.
"Oh benarkah? Sekte Pedang Musim Semi yang menerima murid laki-laki tanpa perempuan itu kan?" Tanya Ririn yang juga ikut semangat.
"Iya ya ya.... Sekte Pedang Sembilan Bulan yang hanya menerima murid wanita itu kan?" Ucap Arya yang juga penuh semangat membuat orang-orang sekitar menoleh ke arah kelompok Tang Xiao dengan pandangan aneh.
"Iya ya ya.. Tidak disangka akan bertemu dengan Perguruan Saudara di sini." Ucap Ririn semangat. Dia hampir saja berdiri jika tidak di tarik kembali oleh Tang Xiao.
"Ah salam Saudari Perguruan. Dunia memang sangat kecil ya." Ucap Arya sambil mengepalakan kedua tangannya di depan dada. Dia mulai menguasai dirinya dari keterkejutan.
"Salam juga Saudara Perguruan. Tidak disangka saya bertemu dengan orang hebat dari Sekte Pedang Musim Semi yang memenangi pertandingan persaudaraan antara dua sekte kita." Ucap Ririn juga mengepalkan tangannya ke depan dada membalas salam Arya.
Arya dibuat kaget mendengar ucapan Ririn. Dia mengangkat alisnya mencoba mencari tahu siapa wanita di depannya ini.
"Saudari Ririn mengenal saya, tapi bagaiamana saya tidak mungkin mengenal anda?" Gumam Arya memegang dagunya.
"Saya memang tidak menganal saudara Arya, hanya saja saya pernah mendengar nama anda di sebut-sebut di sekte kami. Anda telah menjadi idola saudari-saudari seperguruan di Sekte Pedang Sembilan Bulan jika saudari yang lain mengetahui saudara Arya ada di sini mungkin mereka akan mengikuti kemanapun saudara pergi." Ucap Ririn sambil tersenyum di balik cadarnya.
"Lalu, bagaimana ceritanya saudari Ririn tidak mengenal saya tapi tahu nama saya?" Tanya Arya penasaran. Dia tidak terlalu peduli dengan ketenarannya di Sekte Pedang Sembilan Bulan.
"Saat pertandingan antara dua sekte diadakan, saya sedang dalam kultivasi tertutup. Ketika saya selesai kultivasi, saudari-saudari seperguruan sedang membincang-bincangkan nama saudara Arya sampai beberapa waktu lamanya. Saya hanya mendengarkan mereka menyebut nama anda dan mengatakan saya kurang beruntung karena tidak ikut pertandingan itu." Jawab Ririn.
Arya mengangguk-angguk pelan sambil meletakkan tangannya di atas meja yang tanpa disengaja malah terjadi hal yang tidak diinginkan.
Gebrukk...
Meja makan terbalik dan seluruh makanan tumpah mengarah ke Arya yang tidak sigap menghindari makanan yang tumpah berhamburan ke arahnya. Jadilah tubuh dan pakaian Arya dipenuhi makanan, baik basah maupun kering.
Ruang makan yang awalnya biasa-biasa saja tiba-tiba dipenuhi dengan tawa yang membahana dari setiap sudut ruangan. Bahkan para pegawai tak kuasa menahan tawanya melihat beberapa potong tulang kering menjuntai di atas kepala Arya.
Dari rambut Arya menetes dengan deras kuah-kuah gulai sayur dan gulai daging, menambah kesengsaraan pemuda itu atas kecerobohannya sendiri.
Denas yang duduk di sampingnya tidak luput dari terkena makanan yang berhamburan ke atas. Untungnya, Tang Xiao yang duduk di samping Denas segera menarik Denas da Ririn ke arahnya dan melompat sehingga Denas dan Ririn masih bisa selamat dari kuah-kuah dan sayuran yang berhamburan.
Jessika dan Andri yang duduk berlawan dengan Andri terlambat menyadari dan menahan agar meja makan mereka tidak terbalik. Dengan reflek, Andri segera menarik Jessika dan melompat mundur ke belakang.
Ririn yang tidak pernah berpegangan tangan dengan lelaki sebelumnya, jantungnya berdebar dan wajahnya panas saat Tang Xiao menarik tangannya ke arahnya lalu sambil melompat ke belakang, dan dengan mata tanpa berkedip, Ririn menatap Tang Xiao dari samping. Ada sesuatu yang tidak dimengertinya saat menatap pemuda bertopeng itu dari samping yang tiba-tiba masuk ke hatinya.
"Maaf nona Ririn menarik anda tanpa sopan, sungguh saya tidak sengaja hanya refleks tubuh saya yang lebih cepat dari pikiran saya. Saya minta maaf nona Ririn." Ucap Tang Xiao begitu menyadari yang dengan apa yang dilakukannya begitu kakinya mendarat di lantai.
"Eh.. Oh.. I.. Iya... Ti... tidak... ma..sal...lah..." Balas Ririn gagap sambil memalingkan wajahnya yang telah memerah. Untung saja Ririn mengenakan cadar sehingga wajahnya yang bersemu merah tidak ada yang mengetahuinya. Dia mencoba menngendalikan detak jantungnya yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Arya yang telah membersihkan tubuhnya dari beberapa jenis makanan, segera melompat tinggi hingga sampai ke lantai atas ruangan dimana kamarnya berada. Dia tidak peduli dengan suasana sekitar yang masih cukup ramai menertawakan dan membincangkannya.
"Aku tidak tahu kalo saudara Arya sedikit ceroboh." Gumam Andri sambil geleng-geleng kepala melihat Arya yang telah naik ke lantai atas tanpa menggunakan tangga.
"Bagaimana mungkin kultivator selevel saudara Arya bisa bertingkah seperti itu?" Gumam Jessika ikut tersenyum lucu.
"Yah tidak mengapa dia bertingkah seperti apa, tapi lihatlah kita barus membereskan kekacauan yang dibuatnya." Tambah Denas sambil melihat sekitar. Dia merasa merinding saat tatapan para kultivator di ruang makan mengarah ke mereka. Membereskan kekacauan yang dimaksudnya adalah menanggung malu akibat ulah Arya yang tidak sengaja.
Tang Xiao yang hanya diam dari tadi melangkah menuju tangga lantai selanjutnya. Dia sudah tidak tahan dengan pandangan semua orang yang melihat ke arahnya. Disusul Denas, Andri dan Jessika. Namun ketika Jessika hendak melangkah mengikuti Andri, tiba-tiba saja tangannya di tarik oleh Ririn.
Ririn mendekati Jessika yang sudah berhenti kemudian berbisik sesuatu. Jessika mendengar dengan antusias kemudian mengangguk pelan lalu tersenyum.
"Saudari Ririn bisa mengikutiku ke kamar. Di sana hanya aku sendiri. Bagaimana?" Tanya Jessika setelah mengetahui keinginan Ririn.
Ririn tanpa berpikir panjang segera mengangguk menyetujui tawaran Jessika. Jessika berjalan ke tangga naik ke kamarnya setelah berbicara dengan dengan Denas melalui pikirannya. Ririn mengikuti Jessika dari samping tanpa banyak berbicara.
Setelah sampai di kamar, Ririn menutup pintu kemudian melepas cadarnya dan bernafas lega.
"Terima kasih saudari Jessika telah memberi izin masuk ke kamar anda dan bersedia mendengar cerita saya. Memang tidak salah insting saya mengatakan bahwa anda termasuk orang-orang baik." Ucap Ririn setelah membuka cadarnya.
"Saudari Ririn, seperti yang saya duga memang berparas jelita. Tidak usah sungkan sama saya dan jangan terlalu formal begitu. Kita sudah berteman, jadi kita bersikap bagaimana seseorang berteman." Balas Jessika sambil melepas topeng dan kemudian jubahnya lalu menaruhnya di centelan baju.
"Di balik topeng yang seram, ternyata tersembunyi wajah jelita. Saya tidak menduganya. Sepertinya saudara Andri sangat beruntung bisa memiliki anda saudari Jessika." Balas Ririn sambil duduk di kursi yang telah disediakan oleh Jessika.
Jessika menghidangkan beberapa makanan ringan dan seteko Anggur Bulan Perindu beserta dua gelas cantiknya. Melihat itu Ririn tersenyum lebar.
"Maaf membuat saudari Jessika kerepotan." Ucap Ririn terharu. Dia hendak menolak tawaran Jessika, namun gadis itu seolah tidak mendengar penolakan Ririn.
"Ini adalah Anggur Bulan Perindu dari benua ini. Anggur spesial yang hanya ada di benua ini. Saya hanya sedikit beruntung bisa memiliki anggur seperti ini." Ucap Jessika sambil menuangkan anggur merah ke gelas Ririn.
Anggur Bulan Perindu mengucur dengan tenang ke gelas Ririn dan mengeluarkan aroma khas yang belum pernah tercium oleh Ririn. Dengan rasa penasaran, Ririn mencicipi sedikit Anggur merah di gelasnya yang langsung membuat mata Ririn terbelalak. Dia kembali menaruh gelas di meja dengan tenang.
"Saudari, anggur apa ini? kenapa begitu meminumnya saya tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak saya mengerti di hati saya?" Ucap Ririn sambil menekan dadanya yang terasa aneh menurutnya.
Jessika tersenyum. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan ekspreksi Ririn setelah mencicipi Anggur Bulan Merah untuk pertama kalinya. Dia mencicipi anggur di gelasnya lalu tersenyum kembali.
Jessika dan Ririn larut dalam perbincangan mereka. Kedua gadis itu tampak akrab dan cocok satu sama lain. Perbincangan mereka semakin intens saat Ririn mulai menceritakan maksudnya mengajak Jessika ingin berbicara empat mata saja tanpa ada orang lain yang mengganggu.
......................
Sementara itu di tempat lain namun masih di Kekaisaran Gama, tampak dua wanita sedang berbicara serius dengan seorang pria. Pria itu tampak seperti sedang memutuskan sesuatu, sementara dua wanita itu hanya diam mendengarkan.
"Anak kita bisa memilih pasangan untuk dirinya sendiri tanpa perlu perjodohan. Sebagai ibu, aku tidak setujuh dengan usul Yang Mulia Raja." Ucap Wanita yang terlihat seperti ibu dari wanita yang satunya.
"Jika puteri kita tidak mendapat apa yang diingikannya di turnamen ini, maka dia harus mengikutiku kembali apapun yang terjadi." Ucap tegas laki-laki itu sambil melihat ke arah lain.
"Bahkan demi puteri kita, aku harus membujuk tetua Agung agar mengizinkan kita ke sini dan menunjukan diri sekali lagi pada dunia." Lanjut laki-laki itu sambil duduk di samping istrinya. Istri dan anak puterinya terdiam mendengar ucapan laki-laki itu.
"Nak, apapun yang terjadi bunda akan selalu mendukungmu. Yang dikatakan ayahmu memang demi suku dan kerajaan kita. Kamu harus kuat ya nak. Tenang bunda selalu berada di sampingmu." Ucap wanita menghibur anaknya sambil membaringkan kepala anaknya di pangkuannya.
"Iya bunda, terima kasih selalu ada buat Rina." Ucap puteri itu tersenyum lebar kepada ibunya.
......................
Sementara itu di tempat lain, rombongan Hanzho telah sampai di Kota Paviliun Bintang. Mereka tiba sebelum rombongan Tang Xiao masuk Kota Paviliun Bintang sehari sebelumnya.
Pagi itu tetua Lan atau yang biasa dipanggil Ana merasakan aura familiar yang sangat dikenalnya namun hanya sesaat. Begitu juga dengan tetua Yan yang sempat menoleh ke kanan dan ke kiri mencari tahu aura siapa yang baru dirasakannya.
Namun aura yang mereka rasakan hanyalah sesaat kamudian menghilang. Mereka melihat ke setiap sudut ruang makan tapi tidak menemukan hal mencurigakan dan aneh. Namun tiba-tiba mereka dibuat terkejut dengan tawa yang membahana dari setiap sudut ruangan. Tetua Lan dan tetua Yan berdiri mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Mereka dapat melihat sekumpulan anak muda yang menjadi pusat perhatian dan membuat orang-orang sekitar tertawa. Tetua Lan dan tetua Yan melihat kelompok anak muda bertopeng itu dengan tajam. Sebab dari merekalah tetua Lan dan tetua Yan merasakan aura familiar yang tadi mereka rasakan.
Satu persatu, tetua Yan dan tetua Lan menatap kelompok anak muda bertopeng itu yang kemudian tatapan mereka berhenti di salah satu gadis bercadar biru yang mengenakan abaya yang sama dengan warna cadarnya yang tampak berbeda dengan pemuda lain sekelompoknya. Tetua Lan dan tetua Yan saling bertatapan baru kemudian mengangguk. Mereka berjalan mencoba mendekati kelompok pemuda itu namun berhenti saat melihat wanita bercadar itu telah naik ke lantai atas bersama teman-temannya.
Tetua Lan dan tetua Yan mengurungkan niatnya dan duduk kembali ke meja makan mereka meneruskan sarapan yang sempat terhenti.
"Apa kalian melihat orang yang kalian cari?" Tanya Rangga begitu tetua Lan dan tetua Yan telah duduk dengan tenang. Dari tadi Rangga telah memperhatikan tingkah mereka berdua.
Tetua Lan mengangguk. "Kurang yakin apakah itu memang tuan Puteri atau bukan. Sesaat kami dapat merasakan aura yang familiar dari kelompok anak muda bertopeng tadi namun dengan cepat menghilang entah kemana." Ucap tetua Lan.
"Dik Ana, mungkin orang kalian cari sudah berada di kota ini, hanya menunggu waktu yang tepat untuk bisa bertemu kembali." Ucap Rangga menghibur kekasihnya itu.
Tetua Lan mengangguk pelan dan kemudian melanjutkan sarapannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Masih misteri siapa yang sedang dicari oleh tetua Lan dan tetua Yan dan dimana nanti ketemunya. Apakah di turnamen ini atau di tempat lain?
#Ada yang enggan kehilangan,
Namun dengan terpaksa harus melepaskan.
Jum'at Mubarok🤗🤗