
Setelah mengambil cincin dimensi dari gabungan Dewa Iblis, Xiao Long menjentikkan jarinya. Seketika tubuh Dewa Iblis terbakar sedikit demi sedikit. Api itu bukan api biasa. Tapi api itu adalah api sembilan rengkarnasi milik Tang Xiao yang dipelajarinya. Ya seperti namanya api itu bisa membuat reingkarnasi apapun yang dibakarnya, namun bisa juga mengutuk jiwa apapun yang dibakarnya dan tak akan pernah bisa bereingkarnasi selamanya. Jiwa yang terbakar Api Sembilan Reingkarnasi itu akan dikirim ke Neraka Petrhabawana. Untuk mendapat balasan dari setiap perbuatan. Api itu juga dulu yang digunakan Tang Xiao ketika menghadapi puluhan juta makhluk Ilahi kuno beberapa ratus tahun yang lalu.
Xiao Long kemudian terbang ke ruangan tempat penyimpanan harta yang diceritakan Monica. Lalu menyedot habis tumpukan harta itu. Kemudian dia terbang menuju ruang bawah tanah tempat manusia disandera sebelum dijadikan ritual kekuatan. Dia melihat puluhan manusia terkekang dengan tubuh kurus. Anak-anak kecil menangis menahan lapar. Tangisan mereka tidak terdengar keluar karena dipasang aray kedap suara. Melihat kedatangan Xiao Long yang memakai topeng, kesemua tahanan itu segera bangkit berlutut di depannya. Mereka berbicara tanpa suara karena masih dalam penjara, namun hal itu tidak menghalangi pendengaran Xiao Long.
"Tuan... Tolong beri sedikit makan. Kasihan anak-anak kecil yang belum makan berhari-hari. Kami sudah tak kuat menahan lapar lagi, apalagi menahan tangisan anak kecil yang kelaparan." Ratap semua tahanan dewasa.
Xiao Long menghembus nafa pelan. Hatinya begitu sakit melihat pemandangan menyedihkan di depan matanya. Walaupun dia adalah eksistensi Seekor Naga, namun dia tetap mempunyai perasaan. Apalagi perasaannya telah menyatu dengan Tuannya. Tanpa banyak bicara, dia memegang jeruji yang terbuat dari baja hitam itu lalu meremukannya bagai kerupuk. Kemudian dia segera mengeluarkan berbagai macam makanan dari dapur Istana ruang jiwa Tang Xiao. Xiao Long bebas memasukan dan mengeluarkan apapun yang ada di ruang jiwa tuannya itu, begitu juga dengan Xiao Yang dan Xiao Ying.
Melihat hal itu, para tawanan terdiam dan tak bergerak. Mereka takut jika makanan itu berisi racun mematikan. Walaupun makanan itu mengeluarkan aroma lezat menggiurkan air ludah. Xiao Long tersenyum melihat hal itu.
"Tenang saja Paman, Bibi ini makanan baik-baik. Sebaiknya segera dimakan." Xiao Long menenangkan para tawanan itu. Dia memahami, telah banyak kejadian menakutkan yang mereka terima. Terlihat pun baju mereka robek disana-sini. Para tawanan segera mengerumuni makanan banyak itu. Kebanyakan dari mereka menangis bahagia. Anak-anak kecil tak henti-hentinya tertawa riang. Orang-orang tua memakan dengan tangan bergetar. Mereka tahu makanan yang mereka makan adalah makanan mahal semua. Dan rasanya yang lezat belum pernah mereka rasakan. Beberapa bahkan menangis tersedu-sedu begitu makanan itu lumer dimulut mereka. Kemudian Xiao Long ikut duduk bersama mereka dan menceritakan rencananya menyelamatkan mereka serta mengembalikan mereka ke keluarga mereka. Kini para tahan tak bisa menahan tangisnya lagi. Mereka segera bersujud di hadapan Xiao Long yang duduk bersila.
"Sudah--sudah paman, bibi, Sekarang paman dan bibi semua serta yang lain segera bangkit karena saya akan mengirim kalian ke satu tempat. Di tempat itu kalian semua bisa membersihkan diri dan makan sebanyak-banyaknya makanan yang kalian semua inginkan." Setelah berkata demikian, Xiao Long melambaikan tangannya dan seluruh tawanan lenyap dari penjara itu. Xiao Long mengirim mereka ke dunia jiwa tuannya. Di sana banyak pelayan yang bisa mengurus keperluan para tawanan itu.
Setelah semua dirasa selesai, tiba-tiba dia merasa aura yang cukup kuat dari arah selatan istana. Aura itu sangat jauh dari tempatnya saat ini dan sangat kuat. Bahkan lebih kuat dari gabungan Dewa Iblis. Namun dia tau aura itu bukan untuk mengancam namun hanya aura tertarik pada dirinya agar dia bisa mendekati aura itu. Xiao Long yang tau dia ditunggu Xiao Yang dan Xiao Ying di luar segera mengeluarkan api hitam dari tangannya. Lalu api yang sebesar genggaman tangannya itu segera dilempar ke arah Kastil. Ledakan dahsyat terjadi ketika api itu mengenai Kastil Dewa Iblis. Aray pelindung hancur seketika. Ombak bergejolak dahsyat. Dia lalu membelah dirinya. Belahan diri Xiao Long segera tebang menemui dua saudaranya di pantai. Sedangkan tubuh aslinya segera lenyap dari tempatnya berdiri dan terbang mendekati aura yang dirasakannya.
Sementara itu di dunia jiwa, Tang Xiao dan Monica segera melakukan persiapan membentuk tubuhnya. Monica senang bukan kepalang. Dengan mendapatkan tubuh aslinya, berarti dia terbebas dari kutukan yang dideritanya ratusan tahun ini. Tang Xiao membawanya ke sebuah lautan berwarna warni layaknya pelangi.
"Tuan Dewa, tempat apa ini? Kenapa aneh sekali?" Monica tak dapat menahan rasa pemasarannya.
"Ini adalah Lautan Energi ku." Jawab Tang Xiao santai. Namun Monica merasa sangat kaget. Mana mungkin ada lautan energi seluas ini dan sangat kental serta berwarna warni bagai pelangi.
Monica telah membaca berbagai macam literatur mengenai kekuatan di dunianya dulu. Namun dia belum pernah menemukan hal seperti ini. Dia semakin kagum terhadap tuanya itu.
"Lalu tuan, bagaimana bisa membentuk tubuhku dengan lautan energi ini.?" Monica sudah tak sabar.
"Dengar baik-baik. Dalam lautan energi menyimpan kekuatan pemusnah dan penciptaan. Dengan petir yang terkandung di dalamnya mampu membentuk atau menciptakan apa saja. Bahkan jika pada kondisi tertentu, lautan energi ini mampu menciptakan sekaligus menghancurkan seluruh semesta ini." Tang Xiao menghentikan penjelasannya saat melihat Monica melongo dan melotot tak percaya.
"Sekarang persiapkan dirimu petir-petir itu akan segera terbentuk. Cobaan membentuk tubuh mu adalah sesuatu yang tidak pernah kamu bayangkan. Berhasil atau tidak tubuhmu terbentuk, tergantung dari ketahanan dan tekad yang kamu miliki." Tang Xiao tidak peduli dengan kekagetan Monica. Dia menjelaskan hingga membuat Monica menelan ludah.
"Tuan Dewa, jika aku gagal bagaimana nasibku?" Tanya Monica membayangkan kengerian yang akan diterimanya.
"Kalo kamu gagal maka kamu akan musnah selamanya. Jiwamu tidak akan pernah bisa ditemui dimanapun. Bahkan aku sendiri tidak tahu kemana jiwamu pergi." Jawab Tang Xiao serius. Monica menelan ludah lebih keras.
"Lalu bagaimana jika aku berhasil Tuan Dewa.? Tanya Monica yang sebenarnya untuk menghibur dirinya sendiri.
"Jika kamu berhasil, maka kamu akan mendapatkan tubuh mu yang dulu bahkan menjadi lebih baik dari sebelumnya." Jawab Tang Xiao santai.
"Baiklah Tuan saya sudah siap apapun yang terjadi. Kalau pun saya gagal saya memang sudah bosan hidup seperti ini." Jawab Monica tegas. Dia memang tak punya pilihan lain.
Tang Xiao menjentikkan jarinya dan kemudian lautan energinya bergemuruh. Petir-petir kecil saling menyambar. Mulai dari seukuran rambut hingga sebesar pohon randu. Monica dapat merasakan kekuatan penghancur yang sangat dahsyat dari petir-petir itu. Bahkan kekuatan penghancur dari petir paling kecil lebih kuat jika dibandingkan kekuatan petir yang pernah dialaminya ketika mendapat kutukan. Dengan tekad bulat, Monica berdiri di pinggir lautan energi. Tang Xiao segera menjauh dari tempat Monica. Dia membiarkan Monica berusaha sendiri namun tidak meninggalkannya.
CTAARR....
Satu petir menyambar ruh Monica, ruh itu segera hangus menjadi debu berterbangan. Dalam lautan kesadarannya, Monica dibawa ke satu daerah yang sangat dikenalnya. Daerah masa keciln yang dirinduinya. Dia menatap sekeliling, rumah-rumah sekitar tinggal puing-puing. Daerah itu kosong mlompong seperti desa yang dahulu ditinggalnya. Bayang-bayang masa kecilnya melekat di ingatannya. Dia menangis tersedu teringat orang tuanya yang mati dibunuh sejak kecil hanya karena dikira penghianat. Lalu kemudian daerah sekitar berubah menjadi tanah lapang luas yang dipinggirannya tertanam pohon-pohon cemara. Di tengah lapangan ada dua orang yang sedang latihan. Dirinya waktu kecil dan seorang laki-laki paruh baya yang sangat dihormatinya. Lalu tiba-tiba saja suasana berubah menjadi suara ramai peperangan. Hiruk pikuk dentingan pedang dan sorak-sorak yang berubah menjadi jeritan kematian menggema dari segala penjuru. Dia melihat dirinya yang masih kecil sedang dilindungi pria paruh baya yang mana di badannya telah menancap sebilah pedang dan beberapa buah anak panah. Pria paruh baya itu masih berdiri tegak bertumbuh di pedangnya yang ditancapkan ke tanah.
Melihat kejadian itu darahnya begitu mendidih, kemarahan menumpuk di ubun-ubun. Namun dia tahu bahwa semua itu hanyalah kenangan pedih masa kecilnya. Dia ingat bahwa yang menyerangnya adalah sekte besar aliran putih. Sedangkan Sektenya sendiri hanyalah sekte kecil yang tidak pernah berulah berbuat kerusuhan. Walaupun termasuk sekte aliran hitam, namun Sektenya tak pernah melakukan pembunuhan ataupun penculikan seperti sekte aliran hitam lainnya. Dia mengetahui alasan penyerangan itu setelah dia menjadi dewasa dan menjadi seorang yang sangat ditakuti oleh lawan maupun kawan. Semua penyerangan itu hanya bentuk konspirasi pemerintah mendapatkan keuntungan semata.
Monica kecil yang masih berada di medan perang, dia yang sedang dalam kepungan musuh itu, tiba-tiba saja ditangkap sekelabat bayangan hitam yang langsung membawanya pergi tanpa dapat dikejar oleh orang yang mengepungnya. Bayangan hitam itulah yang menjadi gurunya sekaligus orang ketiga yang dihormatinya. Orang itu bukanlah dari aliran hitam maupun putih dan bukan juga aliran netral. Orang itu adalah Kultivator pengelana yang kebetulan lewat dan melihat situasi lalu menyelamatkan Monica.
Monica kembali dibuat meringis menangis, orang tua yang sudah menjadi ayah sekaligus gurunya mati dalam pertarungan melawan beberapa Kultivator tertinggi di benua itu.
Dendam, kebencian, rasa sakit berkepanjangan, sedih, kecewa, membuatnya haus akan kekuatan, hingga akhirnya dia bertemu sosok makhluk bertanduk dan berbulu hitam legam yang menawarinya kekuatan tak terhingga untuk membalas dendam asalkan bersedia mengikutinya. Tanpa pikir panjang Monica menyetujui dan menjadi bawahan makhluk itu. Dia belajar beberapa tahun tanpa lelah tanpa henti dan tanpa sedikit pun bersenang-senang. Semua waktunya digunakan untuk berlatih dan berlatih hingga tak sadar menjadikannya haus darah dan haus pembunuhan. Itu karena ilmu terlarang yang dilatihnya yang membutuhkan darah segar untuk menjadi kuat. Monica berubah menjadi monster pembunuh berdarah dingin tanpa ampun. Semua sekte yang dulu pernah merenggut keluarganya dimusnahkannya satu persatu seorang diri. Dia tidak peduli baik itu aliran hitam, putih dan netral. Siapapun yang menghalangi jalannya akan dibunuhnya. Hanya dalam waktu beberapa tahun dia sudah mebalaskan dendamnya. Walaupun ada sedikit perasaan lega, namun rasa haus darahnya tak hilang dan terus semakin menjadi. Semakin bertambah kekuatannya rasa haus darahnya semakin besar. Bahkan ketika ilmu terlarang yang dipelajarinya telah mencapai puncak, rasa haus darah itu semakin menggila dan membuat dia kehilangan akal sehat. Hingga akhirnya benua yang dulu ditempatinya, menjadi ajang akan kehausan darahnya. Benua itu hancur lebur tak tersisa satu makhluk pun di dalamnya.
Barulah Monica sadar akan kesalahan yang diperbuatnya ketika dia melihat petir raksasa yang hendak menyambarnya. Sebenarnya bisa saja dia menghindari petir itu dengan kekuatan yang saat ini dimilikinya, namun itu tak dilakukannya. Monica sadar telah melakukan kesalahan yang tak pernah dibayangkan dan melesat jauh dari cita-citanya selama ini. Dia yang telah membalaskan dendamnya, kini rela menerima hukuman langit atas kesalahan yang dilakukannya. Dia membiarkan pertir Itu menyambarnya.
"Selamat Monica, kini kamu berhasil membentuk tubuhmu seperti semula."
Monica membuka matanya yang terpejam. Dia melihat tubuhnya telah memiliki kaki dan menapak di tanah. Dia memeriksa seluruh tubuhnya. Dia senang bukan kepalang. Dia meloncat-loncat bak anak kecil mendapat oleh-oleh kesukaan dari orang tuanya. Dia tidak memperdulikan kehadiran Tang Xiao yang menatapnya sambil geleng-geleng.
Monica yang telah menguasai dirinya kini bersujud di depan Tang Xiao. Dia menangis bahagia tak percaya. Bahwa Pemuda yang usianya jauh dibawahnya adalah benar-benar Dewa yang tak pernah ditemuinya.
"Terima kasih Dewa. Mulai saat ini saya akan mengikuti Dewa selamanya. Dan saya bersumpah tidak akan pernah menghianati Dewa. Terima lah sembah sujud saya."
"ah sudahlah. Kamu sudah bersumpah yang keberapa kali ini. Apa kamu lupa. Udah sekarang bangun."
"Eh iya... Hehehe maaf Dewa saya terlalu senang." Monica bangkit sambil menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.
"Dan satu lagi, jangan memanggilku Dewa terserah memanggil ku apa adanya dan jangan bersujud di depanku ataupun di depan makhluk di seluruh semesta ini." Tang Xiao berkata tegas. Dia tahu bahwa ada yang tak pernah diketahuinya akan keberadaan sesuatu yang dia sendiri tidak mengetahui itu apa.
"Baiklah sekarang kita akan kembali ke dunia jiwa." Tang Xiao menjentikkan jarinya dan telah berada di aula yang beberapa orang telah duduk menunggu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
#RINDU
Di gelap malam
Gemintang penghias temaram
Sosok manis terbayang buram
Menyayat ruang kerinduan
Menyisakan bayang kehadiran
Terlena senyum menawan
Kini berlalu hanya dalam angan
Relung qalbu tergetarkan
Yang tak harusnya datang
Bak pungguk rindu bulan
Terdiam sepi dibalut kenangan
By: El-Khan
Kendal, 29 Nov 2020
Puisi-puisi yang lalu tidak mewakilkan cerita. Hanya suara hati penulis saja.
El-Khan adalah nama pena saya. Bukan orang lain.
So..... Krisannya mengenai puisi-puisi yang lalu juga tak tunggu.
Salam sejahtera dan sehat selalu😊😊