
Di sebuah tanah lapang gersang dan berdebu sedang berlangsung pertempuran sengit antara pasukan kerajaan melawan pasukan pemberontak. Pasukan kerajaan kelihatan tidak berdaya dalam menghadapi kekuatan pasukan pemberontak, terlebih lagi pasukan pemberontak membawa puluhan Mythical Beast tingkat 3 sampai 6. Ada Lipan Neraka, Kalajengking Sura, Gorila Mata Enam, Singa Api Ekor Ular, Elang Es Bercakar Tiga. Semua Mythical Beast itu adalah yang terkuat diantara sesama tingkatnya. Jadi bisa dibayangkan betapa kesusahannya para Pasukan Kerajaan melawan pasuka pemberontak. Pasukan Kerajaan dipimpin langsung oleh Raja Park didampiri Pangeran dan Jenderal Kim. Mereka bertiga sedang bertarung dengan beberapa petinggi pasukan pemberontak. Masing-masing dari mereka menghadapi lawan masing-masing dengan sengit.
Pasukan Kerajaan sepertinya telah sedikit salah dalam informasi mengenai kekuatan pasukan pemberontak. Tidak tetua yang berada di ranah Legend bintang enam. Yang ada seseorang yang berada di ranah Legend bintang yang saat ini sedang bertarung melawan Raja Park.
"Sial, bagaimana mungkin orang dari Aula Jiwa bisa bekerja sama dengan pasukan pemberontak yang terlihat lemah?" Tanya Raja Park kepada lawannya yang bernama Hundai.
"Haha.. Awalnya kami memang tidak ingin membantu kelompok kecil seperti mereka, namun sayangnya mereka memberikan penawaran yang menarik yang tidak bisa ditolak oleh Ketua." Jawab Hundai sambil menangkis beberapa serangan dari Raja Park.
Raja Park melompat ke belakang setelah mendengar jawaban tetua Hundai. Dia tidak mengerti hal apa yang bisa membuat Ketua Aula Jiwa tertarik hingga membantu pasukan pemberontak walaupun hanya mengirim seorang tetua ranah Legend bintang enam.
"Tidak mungkin pasukan kecil itu mempunyai hal yang bisa membuat Ketua kalian tertarik. Pasti kalian hanya membual dan dengan sengaja melawan Kekaisaran Wu ini." Ucap Raja Park sambil melancarkan beberapa serangan.
"Hahaha... Katamu sengaja melawan Kekaisaran Wu ini? Apa untungnya kami melawan Kekaisaran kecil ini. Bahkan di benua ini Kekaisaran kalian termasuk lemah di mata kami. Asalakan kamu tahu diantara tetua di Aula Jiwa aku adalah tetua terlemah dan terendah dari semua tetua yang ada. Aula Jiwa kami mempunyai tetua berjumlah seratus orang lebih. Bayangkan kekuatan yang kami miliki saat ini cukup untuk menguasai seluruh Kekaisaran Wu ini hanya dengan dua orang tetua saja." Balas Tetua Hundai sambil menangkis serangan Raja Park dan melancarkan beberapa serangan balik.
Raja Park merinding membayangkan kekuatan yang dimiliki aula jiwa saat ini. Pantas saja mereka menjadi salah satu kelompok terkuat di seluruh benua.
Pertarungan antara Raja Park dan tetua Hundai terlihat biasa saja namun kekuatan destruktif yang diakibatkan oleh mereka cukup besar. Para prajurit yang ada di sekitar mereka yang berada di bawah ranah Expert bintang satu terhempas ke udara akibat terkena fluktuasi tenaga dalam yang saling menyerang. Tanah tempat mereka sedikit pora-poranda tak berbentuk.
Di tempat lain, Tang Xiao yang sedang melihat pertempuran dari jauh tidak tahan lagi .elihat para prajurit yang sedang melawan Mythica Beast. Para prajurit itu sama saja bunuh diri saat melawan Mythical Beast yang tingkatannya jauh dari para prajurit Kerajaan Dong. Dia segera melompat ke arah para prajurit dan membantu mereka melawan Mythical Beast. Tabib Kim yang sedang mengobati prajurit yang terluka bersama Tang Xiao tadi menjadi kaget karena kecepatan Tang Xiao melompat tak dapat dilihatnya, tiba-tiba saja sudah berada di medan pertempuran.
Sementara itu para prajurit sudah mulai putus asa melawan Mythical Beast hanya dengan kekuatan mereka saja. Banyak kawan-kawan mereka yang terluka parah dan mati tidak sempat memberikan perlawanan. Sebagian tubuh kawan mereka yang mati tidak dapat diselamatkan karena telah menjadi santapan dari Mythical Beast. Saat pasukan itu sudah pasrah dengan kematian, tiba-tiba seorang pemuda telah berdiri di hadapan mereka dan membuka telapak tangan kanannya lalu mengarahkan ke Singa Api Ekor Ular tingkat tertinggi diantara tingkat enam lainnya yang sedang melompat hendak menerkam para pasukan yang putus asa.
BAM..
Singa Api Ekor Ular tingkat 6 tertinggi mati begitu saja saat telapak tangan Tang Xiao mengenai kepala singa itu. Debu bertebaran di udara. Para pasukan menjadi kaget saat membuka matanya melihat debu yang menggumpal di depan mereka. Seorang pemuda berdiri tegap di depan mereka serta seekor Singa Api Ekor Ular telah terkapar mati di depannya dengan kepala yang remuk.
Pasukan yang berada di area sekitar melihat dengan mata yang tak percaya. Seseorang yang lebih muda dari mereka membunuh Mythical Beast tingkat enam tertinggi dengan mudahnya yang mana Kultivator di ranah Legend akan kesulitan melawan Singa Api Ekor Ular itu.
"Bagaimana mungkin anak itu membunuh dengan mudahnya?"
"Apa dia ahli tingkat tinggi yang menyamar menjadi muda?"
"Ya mungkin seperti itu. Mustahil seorang pemuda di ranah Grand Master mampu membunuh Singa Api dengan mudahnya. Tidak salah lagi dia adalah senior yang menyamar."
"Ya betul kita harus menghormatinya."
Tang Xiao tidak mempedulikan apa kata pasukan tentangnya. Dia segera melompat dan menghabisi Mythical Beast yang lain. Para pasukan yang mendapat bantuan tidak disangka-sangka menjadi sangat bersemangat. Bahkan prajurit yang luka-luka segera menghubus pedangnya dan merengsek ke medan pertempuran penuh gairah. Mereka tidak lagi melawan Mythical Beast karena pemuda miaterius itu sedang melawan mereka, pasukan Kerajaan kembali melawan pasukan pemberontak yang sempat bersembunyi di belakang Mythical Beast sebelumnya. Kini pasukan pemberontak itu mau tak mau harus kembali berperang melawan pasukan kerajaan.
Tang Xiao terlihat begitu asik menikmati pertarungannya melawan puluhan Mythical Beast yang menyerangnya secara bersamaan. Dia juga sengaja membiarkan dirinya terhempas kesana kemari saat terkena serangan kombinasi puluhan Mythical Beast itu. Dilihat sekilas Tang Xiao sedang dikeroyok dan jadi bahan mainan para Mythical Beast itu. Namun jika dilihat lebih seksama Tang Xiao tampak tersenyum seolah sedang dipijat punggungnya serta dia juga tidak mendapat luka apapun setelah menerima berbagai macam serangan dengan kekuatan destruktif yang sangat besar yang bahkan seseorang yang berada di bawah ranah Legend bintang dua akan hancur tubuhnya tidak berbentuk.
Para Mythical Beast yang mengetahui lawan mereka tidak mendapat luka apapun bahkan tidak menggores Zirah tempur yang dimilikinya, menghentikan serangan mereka dan tanpa pikir panjang segera berlari menjauhi Tang Xiao karena merasakan ancaman yang membahayakan nyawa mereka.
"Hemm.. Ternyata kalian punya kecerdasan juga ya. Kalian langsung lari begitu saja setelah main keroyokan? Tidak semudah itu ferguso. Rasakan ini." Gumam Tang Xiao sambil mengacungkan dua jari tangan kanannya dan menebas udara di depannya.
SRING...
satu suara seperti suara padang yang diayunkan terdengar lembut. Cahaya keemasan yang keluar dari jarinya membentuk bulan sabit dan bergerak secara horisontal ke arah para Mythical Beast yang berlarian. Cahaya emas itu memotong apapun yang ada di depannya sejauh lima ratus meter tidak peduli itu Mythical Beast atau pasukan pemberontak, mereka semua terpotong menjadi dua. Darah bercucuran di mana-mana. Para pasukan pemberontak yang masih berada di belakang Mythical Beast juga ikut terbunuh dan tubuh mereka terpotong begitu saja tanpa mereka sadari.
Pasukan kerajaan dan pasukan pemberontak yang bertarung di belakang Tang Xiao menghentikan pertarungan mereka. Semua mata menatap tak percaya. Mulut mereka terbuka tapi tak mengeluarkan suara.
"I..itu.. Energi Jiwa Pedang. Pemuda itu telah menguasai Energi Jiwa Pedang. Tidak mungkin!!"
"Bukan cuma Energi Jiwa Pedang tapi juga Niat Pedang. Pemuda itu telah bersatu dengan pedang secara sempurna. Mustahil! Bukankah dia masih di ranah Grand Master bintang sembilan?"
Raja Park dan tetua Hundai juga menghentikan pertarungan mereka saat merasakan Niat Pedang yang begitu kuat yang bahkan mampu menekan mereka sesaat. Raja Park melebarkan matanya melihat keajaiban di depan matanya. 'seorang remaja berumur lima belas tahun telah menyatu dengan pedang dan mampu mengeluarkan Energi Jiwa Pedang yang sangat dahsyat? Dunia akan menggila jika tahu hal ini. Aku benar-benar telah meremehkannya. Tidak kusangka hanya dengan sekali tebas mampu membunuh Mythical Beast tingkat enam.' Gumam Raja Park terkagum. Dia sepenuhnya telah lupa bahwa musuhnya sangat marah melihat hal itu.
Tetua Hundai atau biasa disebut tetua Hu sangat marah melihat kejadian itu. Dia marah karena tidak mengetahui ada seseorang yang sangat hebat bersama mereka. Dia berpikir bahwa semua ini adalah jebakan yang sengaja disiapkan kepadanya. 'Tidak mungkin. Apa aku mimpi barusan. Sial. Tidak, aku harus membunuh anak itu lebih dulu. Walaupun dia sudah menguasai jiwa pedang namun dia masihlah berada di ranah Grand Master. Ada jarak yang cukup jauh diantara kami. Jika dibiarkan dia akan sangat membahayakan ke depannya.' Batin tetua Hu segera melompat dengan cepat menuju Tang Xiao berdiri.
Raja Park terlambat menyadari saat tetua Hu sudah berada di dekat Tang Xiao. "Tuan Tang awas." Teriak Raja Park sambil melompat menyusul tetua Hu. Tetua Hu yang sudah mengeluarkan jurus andalannya segera menyerang Tang Xiao dari belakang.
TEBASAN DARAH
SWOSHH
Raja Park terhempas tiga meter ke belakang akibat terkena fluktuasi udara yang dihasilkan serangan tetua Hu. Debu bertebaran di sekitar. Raja Park telah bersiap dengan segala kemungkinan yang ada. Tabib Kim, Jenderal Kim, dan Putra Mahkota juga telah berdiri di samping raja Park bersiap dengan segala kemungkinan yang terjadi.
Tang Xiao tersenyum mengejek saat melihat wajah tetua Hu yang ketakutan. Tetua Hu mencoba meronta agar terlepas dari tangan Tang Xiao yang mencengkram lehernya. Namun semakin kuat tetua Hu memberontak semakin, semakin keras cengkraman tangan Tang Xiao hingga akhirnya tetua Hu mengalah.
"Anak muda jika kamu melepasku, hari ini aku tidak akan mempermasalahkan masalah ini. Namun jika kami membunuhku Aula Jiwa kami akan memburumu walaupun ke ujung dunia." Ucap tetua Hu mengancam. Tang Xiao tersenyum mengejek.
"Heh... Seekor tikus hendak menerkam Singa? Lelucon dari mana ini. Aku tidak peduli siapa kalian, namun selama kalian mengusikku jangan harap kalian masih bernafas dalam sehari." Balas Tang Xiao santai.
"Ho.. Jadi di mata kalian aku adalah semut lemah? Lalu kamu ini sampah karena bisa kalah di tanganku dengan mudahnya. Begitu juga orang-orang tua di Aula Jiwa mu semuanya tak lebih dari sampah." Balas Tang Xiao sambil menguatkan cengkraman lehernya. Tetua Hu seperti ikan di daratan megap-megap mencoba mencari udara di sekitarnya. Tetua Hu merogoh sakunya dan memecahkan token kecil sebagai sinyal meminta bantuan.
KREK
Suara leher yang patah terdengar cukup kuat membuat orang ngilu yang mendengarnya. Raja Park, Tabib Kim dan yang lainnya mematung menyaksikan kejadian yang belum pernah mereka lihat. Hal mustahil yang belum pernah terbayangkan dalam pikiran mereka, yang belum pernah disaksikan oleh mata mereka, kini terlihat nyata seolah semua hanya mimpi. Seorang tetua Aula Jiwa di ranah Legend bintang dua mati begitu saja di tangan seorang remaja di ranah Grand Master bintang sembilan. Jika tidak menyaksikannya sendiri mereka tidak akan pernah percaya.
Para pasukan pemberontak segera berlutut dan membuang senjata mereka. Mereka tidak lagi memiliki nafsu melanjutkan perlawanan mereka. Mereka sudah putus asa melihat orang yang mereka banggakan mati begitu saja tanpa bisa menggores musuh sedikitpun. Lebih baik menyerah asalakan dapat hidup dari pada lari dengan tubuh yang terpotong dua.
Pasukan Kerajaan tersadar dari lamunan mereka dan segera menangkap para pasukan pemberontak dan menyeret semuanya ke hadapan Raja Park.
Raja Park segera melangkah mendekati Tang Xiao dengan perasaan campur aduk diikuti tiga orang lainnya. Perasaan senang karena bisa menang dengan mudah dan malu karena sebelumnya telah meremehkan Tang Xiao. Namun sebelum Raja Park dan yang lainnya berbicara, tiba-tiba muncul portal dari samping mereka yang mengeluarkan aura cukup mengerikan. Dari portal itu keluar seorang lelaki tua yang usianya sebaya dengan tetua Hu.
Lelaki tua itu melihat sekitar dan menemukan mayat tetua Hu tergeletak tak bernyawa di dekat kaki Tang Xiao. Laki-laki tua itu mengeluarkan aura membunuh yang sangat besar yang membuat semua orang tidak bisa bergerak.
"Katakan siapa yang membunuh orang Aula Jiwa kami. Jika tidak ada yang mengaku akan kubunuh semua orang di sini?" Ucap laki-laki itu santai namun suaranya dapat memekakkan telinga semua orang.
Melihat tetua yang keluar dari portal dan berkata dengan tidak jelas, Tang Xiao tersenyum mengejek dan bergumam "Hemm satu lagi sampah tidak berguna datang menyetorkan nyawanya"
......................
Sementara itu di sebuah wilayah yang sangat jauh dari empat benua lainnya, terlihat satu kelompok besar sedang mengadakan upacara kedewasaan. Upacara yang diadakan disebuah ruangan mewah dan megah yang dipenuhi ukiran ukiran serta lukisan yang sangat indah. Upacara itu dihadiri langsung oleh pemimpin setengah baya di wilayah itu dengan senyum lebar. Dia terlihat sangat senang dan sangat menantikan acara itu. Seorang laki-laki yang sebaya dengannya duduk di sebelahnya yang didampingi oleh anak laki-laki dan istrinya. Anak laki-laki itu tersenyum bahagia.
"Baiklah tanpa menunda waktu kita segera memasuki acara yang sangat dinanti-nantikan. Langsung saja kita sambut Putri Dewi Nawangsari" Ucap seorang laki-laki yang berlagak sebagai pembawa acara.
Plok
Plok
Plok
Plok
Suara tepuk tangan bergemuruh. Semua orang bahagia dan memantikan Putri yang mereka panggil. Namun orang yang di panggil barusan tak menampakkan diri.
"Sekali lagi mari kita sambut Putri Dewi Nawangsari." Panggil pembawa acara itu dengan lantang. Semua mata tertuju ke ruangan yang telah disiapkan sebagai tempat Putri Dewi Nawangsari. Sekali lagi orang yang dipanggil tidak kunjung datang. Sang pembawa acara mulai salah tingkah. Para tamu mulai kasak kusuk berbisik-bisik tak jelas.
Kriet..
Pintu ruangan terbuka seorang pelayan wanita berlari-lari kecil mendekati laki-laki setengah baya yang wajahnya mulai terlihat gusar. Perempuan pelayan itu bersujud.
"Ma...maaf Yang Mulia. Tuan Putri tidak ada di kamarnya?" Ucap pelayan itu terbata-bata sambil memberikan sebuah surat yang ditulis tangan.
"APA??" Laki-laki setengah baya itu sangat murka dan hampir tidak bisa menguasai dirinya. Laki-laki itu membaca surat pemberian pelayan dengan wajah memerah. Selesai membaca surat itu dimasukan ke dalam sakunya dengan hati-hati.
"Bagaimana kerja kalian hingga menjaga anakku saja tidak becus." Bentak orang yang dipanggil Yang Mulia. Semua orang di ruangan terdiam membisu. Pelayan yang bersujud itu menggigil ketakutan.
"Am..mpun Yang Mu...mulia... Ka..kami di ti..tipu Tuan Putri." Jawab pelayan itu hampir menangis saking takutnya.
"Dasar pelayan tak berguna." Geram Yang Mulia dan melayangkan tangannya kearah pelayan itu. Begitu energi yang sangat besar keluar, sepasang tangan lembut dan putih menghentikan Yang Mulia.
"Suamiku sudahlah. Mereka tidak bersalah. Percuma saja membunuhnya juga tidak bisa mendatangkan Nawang." Ucap istri laki-laki itu lemah lembut dan tersenyum hangat sambil menggenggam tangan suaminya. Sang suami yang terpana dengan senyum istrinya itu segera reda seluruh amarahnya. Yang Mulia itu kembali tersenyum kembali ke sikapnya yang sebelumnya.
"Huuff.. Terima kasih istriku." Laki-laki itu kembali duduk di kursi. "Tetua Yan tetua Lan kemarilah." Ucap laki-laki itu.
Swoshh..
Muncul dua orang wanita muda entah datang dari mana berlutu di depan laki-laki itu.
"Kami menghadap Yang Mulia Kaisar."
"Pergilah ke empat benua lainnya dan jagalah Putriku sampai dia kembali ke sini dengan sendirinya." Ucap laki-laki memberi perintah sambil melemparkan dua token emas kepada mereka berdua.
Kedua wanita itu mengernyitkan dahi mendengar perintah Kaisar mereka namun sangat senang begitu menerima token emas pemberian Kaisar.
"Sendiko Dawuh Yang Mulia. Kami pergi sekarang." Ucap kedua orang itu lalu menghilang dari ruangan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon krisannya guys