
Di sebuah rumah kecil yang di kelilingi bunga-bung mekar sepanjang tahun, seorang kakek tua membuka matanya. Dia melihat cucu perempuannya sedang berlatih di padang yang dipenuhi hamparan bunga-bunga dengan berbagai warna. Dilihat dari atas, bunga-bunga itu seperti pelangi yang mengelilingi dunia dengan cahaya tujuh warnanya.
Perempuan muda yang berlatih di tengah padang itu tampak lihai memainkan pedang putihnya dengan gagang pegangan warna merah maroon dari permata delima. Di ujung pedang itu terdapat untaian yang terpahatkan nama gadis itu, Silvie. Di bawah sinar matahari pagi dan hembusan angin utara serta aroma bunga yang tersebar di sekitar, gadis manis itu sesekali mengeluarkan tenaga dalam dari pedangnya menghancurkan bebatuan yang cukup jauh darinya.
"Bagus-bagus... Jurus Pedang Bunga Perak telah hampir sempurna. Hanya saja pengontrolan tenaga dalam masih sangat kurang dan terkadang sering bocor. Jika kamu bertemu lawan yang lebih kuat darimu, mereka akan segera mengetahui kekurangan dan kelemahanmu. Terutama ketika kamu mengayunkan pedang, celah yang terlihat sangat besar." Ujar laki-laki tua yang sedari tadi memperhatikan cucunya itu berlatih.
"Tapi kan ada kakek yang nanti melindungiku." Balas gadis itu.
Ctuk...
"Aduh sakit kek."
Laki-laki tua yang tadi masih duduk di rumah kecil, kini tiba-tiba telah berada di depan gadis itu dan menyentil pelan jidat cucunya.
"Berapa kali kakek bilang, untuk tidak mengharapkan pertolongan dari siapapun termasuk kakek. Memang kakek ini kuat, namun bukan berarti tidak ada orang yang lebih kuat dari kakek kuat di luar sana. Dunia ini sangat luas dan masih banyak misteri tak terhitung jumlahnya di luar sana menunggu untuk dipecahkan." Ujar laki-laki tua itu sambil melihat langit biru di atasnya.
"Iya kek aku ingat kok. Tenang aja muridmu ini tidak akan mengecewakan kakek. Tapi kek, seperti apa sih dunia di luar sana?" Tanya gadis itu sambil menyarungkan pedangnya lalu menyimpannya di cincin ruang miliknya.
"Nanti kamu akan tahu sendiri setelah keluar dari sini. Lebih baik sekarang beres-beres, besok atau lusa kita akan keluar." Jawab kakek.
"Oh benarkah kek? Bukannya turnamen antar benua itu masih dua bulan lagi?" Tanya gadis itu kegirangan.
"Iya. Namun kakek merubah rencana lebih awal agar kamu mengetahui dunia ini seperti apa supaya kamu mempunyai persiapan lebih matang di turnamen nanti." Jawab kakek tua itu.
"Wahh asiikk.. Akhirnya bisa keluar." Ucap gadis itu kegirangan. Dia lalu berlari-lari menuju rumah kecil tak jauh dari mereka.
Melihat tingkah cucunya, laki-laki tua itu hanya mendesah pelan. "Dia sudah berumur tujuh belas tahun namun dia masih bertingkah seperti anak kecil. Tapi cepat atau lambat dunia akan mengubah sikapnya itu." Gumam laki-laki tua itu lalu menghilang dari tempatnya.
Swoosshh...
Laki-laki itu muncul di sebuah kuburan dekat dengan air terjun tujuh warna. Laki-laki tua itu mengeluarkan seguci kecil arak dari kekosongan kemudian menuangkan arak itu di atas kuburan di depannya kemudian meminum arak yang tersisa di guci.
"Besok aku akan membawa Silvie kecil keluar dari sini. Kamu bisa tenang di sana ada aku yang melindunginya. Mungkin perjalanan ini terakhir kali aku menampakan diri pada dunia. Aku merasa ajalku sudah hampir tiba sedangkan kutivasiku masih di ranah yang sama dua abad terakhir ini. Sepertinya kali ini Raja Akhirat lah yang menang. Entah aku harus bersedih atau tertawa tapi sebelum itu tiba, Silvie harus sudah mampu melindungi dirinya sendiri dan mengerti tentang kehidupannya. Oh iya tenang saja wasiatmu sudah aku laksanakan hanya tinggal menunggu orang yang tepat saja untuk menjadi pendamping Silvie. Tapi entah kenapa aku mempunyai firasat aneh mengenai hal itu, entah buruk atau tidak akupun tidak tahu. Namun selama aku berada di sisinya tidak ada satupun yang mampu melukainya sekalipun itu Mythical Holy Beast tingkat sepuluh akhir." Ucap laki-laki tua kepada kuburan di depannya. Lalu laki-laki tua itu duduk di samping kuburan dan menghadap air terjun tujuh warna di depannya.
Setelah beberapa lama duduk dalam diam sambil menegak beberapa gelas arak, laki-laki tua itu bangkit lalu menepuk-nepuk batu nisan kuburan kemudian menghilang dari situ. Di batu nisa itu tertulis nama Silvie.
......................
GURUN FAJAR MERAH
"Kenapa tuan Andri menceritakan hal seperti itu kepada saya yang baru saja anda kenal? Tidakkah anda khawatir saya akan menceritakannya kepada orang lain dan dapat membahayakan anda. Atau mungkin saya akan merebut apa yang anda miliki?" Tanya Jessika setelah mendengar cerita Andri yang cukup panjang sempat membuat sedikit mengantuk. Dia merasa heran kenapa pemuda tampan di depannya menceritakan hal yang harusnya hanya bisa diceritakan kepada orang-orang terdekatnya.
"Itu sederhana karena anda sangat cantik nona Jessika." Jawab Denas cepat tanpa memikirkan apa yang diucapkannya.
Jessika memerah kedua pipinya. Untung saja tidak ada anggotanya yang berada di tenda selain mereka berempat.
Uhuk Uhuk Uhuk
Andri tampak batuk-batuk dan salah tingkah. Sedangkan Tang Xiao menutup mulut Denas yang hendak berbicara lagi mengatakan hal ngawur yang dapat membuat kakak pertama mereka malu.
"Shhtt diamlah. Biarkan kakak pertama memdapatkan cinta pertamanya. Sudah jangan diganggu." Bisik Tang Xiao ditelinga Denas. Mulut Tang Xiao hampir saja menggigit telinga adiknya itu.
"Hemp hemp...." Denas tidak bisa bicara saat mulutnya dibekap Tang Xiao. Wajahnya memerah menahan nafas. "Akh iya ya. Lepaskan dulu aku tidak bisa nafas." Balas Denas melalui pikirannya.
Tang Xiao yang baru mengetahui Denas tidak bisa bernafas, buru-buru melepaskan tangannya dari muka Denas. Dia melihat wajah Denas yang putih bersih dan mulus telah memerah. Denas buru-buru berlari keluar mencari udara segar.
Kejadian kecil antara Tang Xiao dan Denas berhasil mengalihkan pembicaraan mereka.
"Ada apa dengan adik ketiga?" Ucap Andri pura-pura tidak tahu karena ingin mengalihkan percakapan yang sempat canggung.
"Entahlah. Mungkin dia keluar mencari udara segar setelah merasakan telapak tanganku yang wangi ini." Jawab Tang Xiao sekenannya. Dia mencium telapak tangannya yang wangi. Dia tidak tahu dari mana datangnya wangi itu.
"Pfftt.. Tuan Tang mungkin tangan anda terlalu kuat mencengkram wajah dan mulutnya. Lihatlah tadi wajahnya memerah bekas telapak tangan." Ujar Jessika cekikikan melihat tingkah tiga bersaudara di depannya.
"Ah iya tuan Andri, anda belum menjawab pertanyaan saya." Lanjut Jessika membuka percakapan yang tadi tertunda. Andri menegak lagi segelas anggur di gelasnya lalu berdehem beberapa kali.
"Non ingin mendengar jawab jujur atau tidak."
"Tentu saja yang jujur."
Baik. Pertama karena anda salah satu tetua dari Sekte Azure Dragon. Sekter terbesar dan terkuat di dunia ini. Serta anda memiliki etika dan karakter yang kuat. Jadi tidak mungkin wanita seperti anda melakukan hal-hal yang tidak seharusnya anda lakukan. Dan yang kedua, sama dengan jawaban adik ketiga saya, wanita cantik dan berparas lembut seperti anda tidak mungkin berbuat seburuk yang anda tanyakan tadi."
Jessila terdiam mendengar jawaban Andri yang cukup diplomatis. Dia juga kaget pemuda tampan di depannya ini tahu mengenai identitasnya sebagai seorang tetua. Padahal di benual Land Of Soul hanya sedikit orang yang mengetahuinya identitasnya sebagai tetua termuda di Sekte Azure Dragon. Dia merasa pemuda tampan sebaya dengannya ini bukanlah pemuda sembarangan dan tentu saja memiliki layar belakang yang tidak biasa. Dia merasa pemuda di depannya semakin menarik. Wajahnya bersemu merah memikirkan jawaban kedua Andri.
Jessika menata dirinya agar tidak goyah di depan dua pemuda tampan yang saat ini melihatnya dengan aneh.
"Ehem... Di dunia yang kejam ini tidak ada yang mustahil tuan Andri. Hanya demi mendapatkan kekuatan, hal-hal yang tidak manusiawi dan tidak masuk akal akan dilakukan dengan segala cara. Apalagi dengan kultivasi anda saat ini yang bisa menjadi sasaran empuk para kultivator kuat seluruh dunia." Ujar Jessika mengusir rasa malu yang tiba-tiba mengusik dirinya.
Andri mengangguk. "Memang benar dengan apa yang anda katakan. Tapi anda bukan orang seperti nona Jessika. Saya tahu sedikit seperti apa Sekte Azure Dragon itu secara garis besar. Kedamaian dunia hingga saat ini menjadi salah satu sebab campur tangan Sekte Azure Dragon. Begitu juga dengan peperangan melawan Iblis lima ratus tahun lalu yang langsung dipimpin oleh Ketua Sekte Azure Dragon di garis depan dan menjadi sekte yang paling banyak berkorban. Hingga saat ini kepahlawanan Sekte Azure Dragon mencorong di dunia. Dan yang paling menarik dari Sekte Azure Dragon adalah apabila sekte itu semakin besar reputasinya, semakin menutup dirinya dan menjadi misteri. Sehingga identitas anda sebagai tetua termuda Sekte Azure Dragon hanya diketahui oleh sedikit orang bahkan di dalam sekte tersebut. Dan mungkin menurut analisis saya, anda telah dicalonkan menjadi ketua sekte berikutnya ketika telah waktunya tiba. Menurut analisis saya, misi anda dikirim kesini menjadi salah satu ujian kelayakan anda atas kepemimpinan sekte tersebut. Betulkan nona Jessika Meisi Daros?" Ujar Andri sambil menegak anggur yang tersisa di gelasnya.
Jessika seperti disambar petir siang bolong mendengar penuturan pemuda di depannya. Dia terkaget hingga berdiri dan menghunuskan pedangnya ke leher Andri.
"Katakan siapa sebenarnya anda?" Tanya Jessika penuh tekanan. Dia menjadi sangat waspada dan mengeluarkan energi kultivasinya untuk menekan kedua pemuda di depannya.
"Kakak perta...." Denas yang masuk dan hendak berbicara menjadi terdiam melihat pemandangan di depannya. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi setelah keluar sesaat.
"Heem.. Apa mungkin kakak pertama membuat masalah, ataukah nona Jessika benar-benar serius dengan ucapannya?" Batin Denas yang tidak tahu sebab kejadian di depannya ini. Dia menjadi serba salah. Apakah menghentikan mereka ataukah cuma diam berdiri dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia melihat Tang Xiao tersenyum mengejek kepada Jessika. Namun gadis itu tidak menyadarinya.
"Huh.. Kakak kedua sepertinya bisa menyelesaikannya dengan mudah.
"Heh nona Jessika, sebaiknya anda tenang dulu. Sikap seperti itu tidaklah seperti yang diajarkan Sekte Azure Dragon, betul?" Ucap Tang Xiao yang sedari tadi diam. Dia juga tidak percaya kakak pertamanya begitu mengetahui gadis cantik di depan mereka. Dia juga baru mengetahui kakak pertamanya sedikit tidak suka dengan gadis ini.
Praakk
Jessika terduduk di kursinya dengan lemas. Kini dia tahu siapa yang telah menolongnya. Walaupun dia tidak yakin hawa kehadiran tadi berasal dari dua pemuda di depannya, setidaknya ada hubungannya dengan mereka berdua.
"Maaf, mohon maaf atas kelancangan saya tuan Andri." Jessika yang telah mampu menguasai dirinya dengan cepat segera meminta maaf atas kelancangannya.
"Nona Jessika tidak perlu meminta maaf. Saya juga mungkin akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi nona." Balas Andri santai. Dia tidak ambil pusing atas sikap Jessika tadi. Dia sudah bisa menebak hal yang akan terjadi jika saja adik keduanya tidak menengahi mereka.
"Saya berterima kasih pada tuan Tang telah menghentikan saya dari kebodohan tadi. Saya harap tuan berdua mau memaafkan saya." Ucap Jessika sambil membungku.
"Saya tidak melakukan apa-apa nona. Saya pikir ada sedikit kesalah pahaman antara anda dan kakak saya." Balas Tang Xiao melambaikan tangan. Dia juga kagum pada watak gadis di depannya. Tempramen yang cepat sadar tentu saja melalui pendidikan yang berkualitas.
Jessika tersenyum." Sepertinya tuan Andri sangat beruntung memiliki saudara-saudara seperti tuan Tang dan tuan Denas." Gumam Jessika sedikit iri. Dia segera menyarungkan pedangnya lalu mengembalikan ke cincing ruangnya.
Denas yang dari tadi diam dan hanya memperhatikan dari tempatnya berdiri, kembali duduk di samping Tang Xiao. Namun dia terlihat waspada jika tiba-tiba Tang Xiao melakukan hal seperti tadi lagi.
"Nona Jessika kenapa tidak bersaudara dengan kami saja. Anda bisa kami panggil kakak kedua." Ucap Denas dengan santainya. Baginya mengangkat orang lain menjadi saudara sehidup semati adalah hal mudah.
Jessika tampak terkejut mendengar ucapan ringan pemuda tampan di depannya. Dia tidak menyangka akan mendengar sesuatu seperti itu.
Ctuk...
Tang Xiao menyentil jidat Denas saat mendengar ucapan itu. "Apa-apaan yang kamu bicarakan adik ketiga. Mengangkat saudara tidak semudah membeli sayuran di pasar." Bisik Tang Xiao. Bisikan itu cukup keras sehingga dapat didengar oleh Jessika.
"Apaan sih kak, kakak itu bicara apa berbisik sih. Tadi pun aku cuman bercanda agar suasana tidak canggung." Balas Denas tak mau kalah.
"Haish.. Adik apa sih yang kamu pikirkan. Lihat tu akibat ucapanmu suasana malah jadi canggung dan garing seperti ini." Bisik Tang Xiao lagi. Sama kerasnya dengan bisikannya yang pertama. Lalu Tang Xiao melirik Jessika yang tampak diam. Dia juga melirik kakak pertamanya yang sedang diam-diam mengamati Jessika.
"Husst.. Diamlah kalian. Biarkan nona Jessika berpikir." Ucal Denas lewat pikiran menghentikan kerusuhan yang sengaja dibuat oleh dua adiknya ini. Andri tampak berpikir, memiliki dua adik saja sudah cukup membahagiakannya dengan tingkah konyol mereka apalagi ditambah lagi seorang adik. Tidak buruk juga sih memiliki adik perempuan. Dia bisa menjadi penengah untuk mereka bertiga.
Jessika yang tampak berpikir, tiba-tiba tersenyum lebar. Sepertinya dia telah memiliki keputusannya. Dia mengambil seceret anggur lalu menuangkannya dalam tiga gelas pemuda di depannya lalu ke gelasnya sendiri.
"Seperti ucapan tuan Tang, jika mengangkat saudara itu tidak semudah membeli sayuran di pasar, maka biarkan aku, Jessika Meisi Daros menjadi saudara termahal dan tidak pernah akan kalian termukan di pasar manapun di dunia ini." Ucap Jessika berdiri lalu meminum anggurnya kemudian memecahkan gelasnya ke lantai.
Andri, Tang Xiao dan Denas tersenyum lebar. Mereka mengikuti apa yang dilakukan Jessika.
"Selamat datang adik kedua di keluarga ini. Sehidup semati tetap bersama sampai ajal menjemput kita masing-masing." Ucap Andri diikuti Tang Xiao dan Denas.
Sementara itu dari luar tiba-tiba saja seorang pria tua berlari masuk dan memberi hormat pada Jessika dengan wajah panik.
"Tetua muda gawat. Dalam radius lima kilo meter dari sini, sedang terjadi badai gurun pasir dengan tinggi seratus meter dan lebar lebih dari tiga kilo dari arah selatan." Ucap pria tua itu. Lalu dengan cepat Jessika membuat keputusan.
"Perintahkan seluruh pasukan masuk ke tenda-tenda dan lapisi tenda dengan energi kalian untuk melindungi dari badai yang akan datang." Perintah Jeesika tanpa berpikir banyak. Sepertinya dia telah memprediksi hal ini sebelumny.
"Kakak kedua kenapa dengan tenda-tenda dilapisi energi qi? Apa kurang cukup kuat menghadapi badai nanti?" Tanya Denas yang sepertinya kurang mengerti tentang badai gurun.
Jessika mengangguk. "Memang kurang cukup kuat bukan karena badainya tapi karena sesuatu yang datang bersama badai. Badai pasir di Gurun Fajar Merah ini mengandung pasir neraka yang dapat melelehkan apa saja. Badai pasir di gurun ini bahkan ditakuti oleh Mythical Beast tingkat delapan ke bawah, Sesuatu yang seperti kita tidak dapat menahannya." Jawab Jessika. Ketika Denas memanggilnya kakak kedua, ada sesuatu di hatinya yang membuat dia begitu bahagia. Mungkin karena selama ini dia dipersiapkan menjadi ketua sekte sehingga tidak ada waktu baginya mengurus hal remeh temeh seperti itu. Namun setelah dia bertemu dengan ketiga pemuda di depannya, pandangan hidupnya menjadi lebih luas dan lebih dalam. Sesuatu yang tidak diajarkan di dalam sekte. Mungkin inilah tujuan Sekte Azure Dragon memerintahkannya ke sini.
"Oh semengerikan itu kah? Pantaslah Gurun Fajar Merah menjadi salah satu tempat paling ditakuti di dunia." Gumam Denas.
"Adik keempat, julukan itu akan menjadi lebih nyata ketika kita akan melangkah jauh lebih ke tengah gurun. Saat ini mungkin kita baru berada di stage dua dan badai gurun hanya berada di stage dua ini. Sesuatu yang lebih mengerikan dari badai gurun telah menanti kita di depan." Balas Andri yang sedikit mengetahui informasi mengenai Gurun Fajar Merah.
"Kakak kedua, sudah berapa hari di gurun ini? Dan sudah berpapasan dengan berapa kelompok?" Tanya Tang Xiao yang sedari tadi hanya diam.
"Sudah tiga hari kami di sini. Memang ada beberapa kelompok lain yang sempat bertemu namun mereka mengambil jalur dari sisi selatan. Sedangkan kami dari sisi timur. Tujuan akhirnya sisi barat. Jadi jalur ini lebih panjang dari yang lain dan lebih berbahaya. Seperti itulah yang diperintahkan Tetua Agung Sekte Azure Dragon." Jawab Jessika.
"Kenapa lama sekali. Sudah tiga hari di sini namun masih berada di sini. Apa saja yang terjadi adik kedua?" Tanya Andri penasaran.
"Hehe.. Itu karena awalnya kami berdebat mengenai jalur yang akan kami ambil. Kami terpecah menjadi dua kelompok, satu kelompok memilih mengambil jalur yang lain dan satu kelompok memilih mengambil jalur sesuai yang diperintahkan Tetua Agung. Perdebatan itu cukup sengit hingga hampir saja terjadi pertikaian saudara. Untung saja saat kami hendak bertikai beberapa Mythical Beast tingkat tujuh dan tingkat tiga sampai empat menyerang kami sehingga kami harus saling membantu mengatasinya." Jawab Jessika sekadarnya.
Trrrttt trrttt trrrrttt
Tiba-tiba tenda yang mereka tempati bergetar pertanda badai gurun telah datang mendekat.
Ctak..
Tang Xiao menjentikkan jariinya. Sesuatu yang transparan melapisi tenda mereka. Tang Xiao bangkiy.
"Kakak pertama, kakak kedua aku hendak keluar dan melihat apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Tang Xiao.
"Jangan.. Di luar sangat berbahaya. Jangan ke sana." Seru Jessika menghentikan langkah Tang Xiao.
"Adik kedua tidak perlu ragu. Adik ketiga bukan seseorang yang bertindak ceroboh dan tanpa pikir panjang." Ucap Andri menghentikan langkah Jessika.
"Kakak kedua tenang saja. Adikmu ini akan baik-baik saja. Percayalah kakak kedua." Ucap Tang Xiao santai sambil tersenyum lembut.
Jessika terperangah melihat senyum Tang Xiao. Jessika memang belum terbiasa dengan persaudaraan mereka hingga senyum Tang Xiao membuat rona wajah Jessika sedikit bersemu merah. Dia kembali duduk dan meminum segelas anggur untuk menenangkan hatinya yang tidak menentu.
"Kakak ketiga aku ikut." Seru Denas berlari-lari kecil mengikuti Tang Xiao yang sudah berada di pintu tenda.
"Hah.. Ada apa sih dengan mereka berdua. Apa mereka menganggap badai pasir di gurun ini sebagai mainan. Lihat saja nanti aku akan mendisiplinkan mereka." Ucap Jessika kesal. Dia sangat khawatir dengan dua orang saudara angkatnya itu. Baru saja menjadi saudara, tidak bisa dia kehilangan saudaranya begitu saja. Bukankah mereka telah berjanji sehidup semati.
"Adik kedua aku tahu yang kamu pikirkan. Memang benar ucapanmu mengenai badai pasir ini sebagai mainan. Namun ucapan itu hanya berlaku untuk adik ketiga saja. Sedangkan adik keempat hanya mengikuti karena rasa penasaran." Ucap Andri mencoba menenangkan Jessika.
"Hah? Katamu 'hanya penasaran saja?' Kalian pikir badai pasir di gurun ini sebuah lelucon dan isapan jempol belaka? Terus kenapa kakak pertama begitu percaya dengan Tang Xiao yang bahkan kultivasinya lebih rendah dari kakak? Apa kalian sudah sinting" Tanya Jessika tidak tenang.
"Pfftt.. Sudahlah adik kedua. Lebih baik tenangkan dirimu dengan segelas anggur ini. Jangan ganggu kesenangan adik ketiga. Untuk adik keempat ada adik ketiga yang selalu melindunginya." Ucap Andri menuangkan anggur di gelas Jessika lalu memberikannya kepada Jessika.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Telat up sesekali...