The Romance Of The Thousand Loves

The Romance Of The Thousand Loves
CH. 28. ADAM, ANDREW DAN VICTORIYA



"Hah, Apa? Benarkah Tuan Muda?" Para tetua yang mendengar akan diberi tehnik kultivasi keabadian melonjak dari tempat duduk mereka.


"Iya Paman. Walaupun tidak mudah, namun saya yakin paman sekalian mampu menjadi seorang kultivator. Saya akan memaksa paman jika paman menolak" Tang Xiao tersenyum kepada para tetua. Namun juga dia serius.


Lima tetua itu tertegun sejenak. Menjadi kultivator adalah impian mereka seumur hidup walaupun mustahil karena tidak adanya tehnik dan sumberdaya yang mencukupi. Namun kini mereka ditawari bahkan dipaksa menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Hanya saja jika sudah menjadi kultivator tentu akan menurunkan tingkat mereka saat ini yang sudah pada tingkat Permata. Apalagi jika sumber daya kurang, maka bisa jadi mereka tidak akan naik tingkat sama sekali. Tang Xiao memahami apa yang dirasakan para tetua dihadapannya.


"Paman tenang saja. Masalah sumber daya adalah masalah kecil. Bahkan sumber daya yang akan saya berikan mampu membawa paman semua pada tingkat Kaisar Surga." Ucap Tang Xiao datar.


Para tetua tambah kaget. Jika mampu membawa mereka pada tingkat Kaisar Surga lalu pada tingkat apa Tuan Muda mereka ini?


"Baiklah Tuan Muda, kami berlima bersedia menjadi kultivator dan akan mengikuti perkataan Tuan Muda. Selama kami bertambah kuat dan mampu menjaga sekte ini serta kedamaian, kami akan melakukan apapun walau nyawa kami taruhannya." Ucap Tetua pertama setelah berdiskusi dengan tetua yang lain.


Keputusan yang tepat. Tang Xiao tersenyum. Lalu dia berjalan mendekati para tetua yang langsung berdiri.


"Duduklah paman. Karena saya akan mengirimkan tehnik kultivasi lewat pikiran paman dan menanamkan akar roh di dantian paman sebagai langkah awal kultivasi. Ini mungkin akan terasa sakit. Jadi paman harus bertahan"


Para tetua segera duduk bercampur kebahagiaan. Hati mereka tak henti-hentinya tersenyum riang gembira.


Tang Xiao segera menempelkan jari telunjuknya di kening tetua satu persatu. Para tetua merapatkan rahangnya menahan sakit di dantian mereka.


Setelah selesai, Tang Xiao segera mengeluarkan Kristal Iblis tingkat legenda sejumlah 1000 kristal yang mengandung energi qi yang sangat melimpah dan menaburkannya di sekitar 5 tetua yang sudah mulai berkultivasi. Lalu dia membuat formasi penyegel aura agar aura yang dikeluarkan para tetua tidak menarik perhatian siapapun supaya fokus mereka tidak terganggu.


Selesai melakukan pekerjaannya, Tang Xiao berjalan keluar ruangan dan menemui ayahnya untuk membahas beberapa hal, dan meminta izin untuk melakukan perjalan jauh.


"Baiklah Xiao'er berhati-hatilah. Ingatlah bahwa di sini kamu masih memiliki keluarga. Sejauh manapun kamu melangkah jangan pernah ragu untuk kembali." Han Shan akhirnya setuju kepergian Tang Xiao setelah berdiskusi sedikit alot.


Tang Xiao tersenyum lebar. Dia lalu mengambil sesuatu dari kantongnya dan mengeluarkan 6 buah cincin mutiara. Sebenarnya dia mengeluarkan cincin itu dari ruang jiwanya.


"Ayah. Ini ada cincin ruang. Di dalam sana sudah ada berbagai macam sumber daya kultivasi dan berbagai tehnik tingkat dewa serta berbagai macam senjata dan armor tingkat dewa. 6 cincin ini yang 1 untuk ayah dan yang 5 untuk tetua." Tang Xiao memberikan 6 cincin permata. 5 cincin sama rupa dan 1 berbeda. Cincin yang berbeda berwarna biru, sedangkan yang lima berwarna putih.


Han Shan menerima cincin itu dengan tangan bergetar. Bagaimana tidak, didalamnya sudah ada berbagai macam alat tingkat dewa yang bahkan belum pernah ada di benua ini.


"Cincin ayah, terdapat sedikit harta untuk ayah dan sekte. Silahkan ayah membagi-bagikan senjata dan armor kepada orang-orang yang ayah percayai saja. Dan juga di dalam cincin ayah itu terdapat beberapa tanaman herbal agar ayah dapat membudidayakan tanaman itu. Agar sumber daya sekte kita tidak habis dan akan terus ada." Ucap Tang Xiao yang segera berdiri meninggalkan ayahnya yang masih dalam keterkejutannya.


Tang Xiao segera menghilang dari tempat itu dan telah berdiri melayang di atas sekte Bambu Emas. Tang Xiao membuat segel tangan dan melemparkan satu aray pengutuk yang menyelimuti seluruh Sekte itu. Aray tersebut berfungsi apabila ada penghianat yang memasuki atau berada di sekte akan segera mati menjadi kabut darah. Segera setelah memastikan araynya tidak terlihat oleh siapapun, dia langsung menghilang dari tempat segera tiba di Kekaisaran Yan.


......................


SEBUAH TEMPAT NUN JAUH DI ANGKASA


Adam yang sedang duduk di ruangan dan membaca beberapa buku mengisi waktu luangnya dikejutkan oleh 2 orang komandannya yang datang. Terlihat dari wajah dua komandan itu sedikit gusar.


"Andrew, Victoria, kenapa wajah kalian seperti itu. Apa kalian habis bertengkar?" Adam segera bertanya ketika dua kamandannya itu duduk.


Mendengar itu wajah dua kamandannya itu tambah kesal.


"Bukan pemimpin. Ini masalah yang cukup serius." Andrew segera membantah.


"Ya pemimpin. Apalah pemimpin ni. Disaat serius malah bercanda" Victoria menimpali dengan cepat.


"Hihihi..... Ya sudah, kalian macam tidak ada buat hari esok saja melihat wajah tegang kalian." Adam menutup mulutnya.


"Apakah ada kejadian lain lagi? Bukankah kalian berdua sedang mengawasi Planet Sabuk Orion?" Adam bertanya lagi.


"Ya pemimpin. Tadi malam satu portal dimensi yang cukup besar terbuka di langit. Portal yang paling besar yang pernah saya lihat. Dari portal itu muncul sebuah kapal yang cukup indah. Dalam kapal itu terdapat sekitar 11 pria dan 10 wanita." Victoria berhenti bicara dan melirik Andrew. Andrew mengangguk dan melirik Adam.


"Lalu..... Tidak mungkin kalian ke sini hanya meceritakan masalah itu, ya kan?" Adam yang tidak sabar mendengar ceritanya segera bertanya.


"Ya pemimpin. Masalahnya adalah kami tidak merasakan kedatangan mereka. Dan mereka tidak terlihat di radar pengintai ketika sebelum keluar dari portal dimensi."


"Apa? Tidak terlihat di radar. Lalu bagaimana mereka bisa melewati kalian?"


"Begitulah Pemimpin. Kami juga penasaran hingga menguping pembicaraan Pemimpin rombongan di kapal itu dengan seorang warga setempat."


"Lalu apa yang kalian temukan?"


"Kami menemukan bahwa pria yang menjadi pemimpin mereka memperkenalkan dirinya bernama Paijo, Sang Kaisar Surga"


"Apa? Kaisar Surga? Tidak mungkin ini tidak mungkin" Adam berdiri dari tempatnya dan terduduk lagi. Seolah-olah ada beban berton-ton di pundaknya yang memaksanya duduk.


Adam memijit keningnya yang tidak pusing. Kaisar Surga baginya hanyalah rumor belaka. Orang-orang dari dunianya pernah mengatakan Kaisar Surga memang ada. Hanya cerita nenek moyangnya dulu pernah menyebut tentang Kaisar Surga.


"Apakah betul-betul ada Dewa di semesta ini?" Adam bergumam seperti orang linglung. Dia seperti orang kehabisan pikiran dan buntu akan suatu masalah. Sikapnya yang selama ini selalu tenang terlihat gelisah.


Victoriya dan Andrew hanya diam melihat pemimpin mereka seperti itu. Mereka sudah memahami, jika sudah sudah seperti itu jangan pernah diganggu.


"Apa yang dialakukan Kaisar Surga setelah itu?" Adam bertanya setelah mampu menguasai dirinya.


"Seperti pendatang lain. Dia memesan kamar dan istirahat. Begitu juga dengan pengikutnya." Victoriya menjelaskan.


"Apakah kalian mengetahui tingkatan mereka?"


"Tidak pemimpin. Ketika kami hendak menganalisa lewat radar sihir, alat radar tertulis eror." Andrew menjelaskan dengan wajah pucat.


Kali ini Adam memijit lagi keningnya yang terasa berat sebelah. Jika kekuatannya tidak dapat dilihat dan dideteksi dengan alat sihir maka hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama orang itu tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Dan yang kedua kekuatan orang itu mampu menghancurkan galaksi. Padahal selama ink tidak pernah ada yang lolos dari detektor sihir milik mereka. Sekalipun orang-orang kuat dari beberapa galaksi.


"Lalu apakah kalian tahu tujuan Kaisar ke sini?" Adam bertanya lagi. Kini wajahnya sedikit pucat.


"Tidak tuan. Tapi menurut perkiraan dia kesini karena Mahkota itu."


Huft.... Adam menghembuskan nafas berat. 'Jika orang-orang dari surga datang ke sini siapakah yang sanggup menahan mereka. Semoga saja mereka tidak membuat ulah'. Adam mencoba menenangkan dirinya.


"Pemimpin, apa yang harus kita lakukan?" Andrew bertanya dengan cemas. Dia juga berpikiran yang sama dengan Adam.


"Aku akan ikut pergi ke sana." Jawab adam tegas.


'Huf, sepertinya mereka setuju aku kesana. Ini akan lebih gampang' Adam berbicara dalam hatinya.


Victoriya dan Andrew berdiri lalu mendekati Adam mereka berlutut di depannya.


"Pemimpin, jika anda pergi maka bawalah beberapa pengawal atau pun pasukan Bayangan Neraka. Jika Pemimpin tidak membawa mereka maka pemimpin tidak boleh pergi" Andrew dan Victoriya berkata berbarengan dan tegas.


Adam terdiam di tempat. Dia tidak mampu menolak permintaan dua orang kepercayaannya ini.


"Huft.... Ya, ya, ya.... Baiklah aku akan menuruti kemauan kalian. Namun sebagian besar pasukan Bayangan Neraka telah aku kirim ke Planet Orion. Dan kami akan bertemu di sana."


Adam berdiri dari tempat duduknya diikuti Andrew dan Victoriya. Mereka lalu berpisah di ujung lorong dan menyiapkan bekal pemimpin mereka.


Malamnya Adam berangkat seorang diri tanpa membawa satupun pasukan. Andrew dan Victoriya menunggu dengan harap-harap cemas.


Adam yang termasuk daftar terkuat di alam semesta dan menempati urutan pertama, tidak takut apapun, bahkan pernah membantai habis seorang diri satu pasukan luar angkasa penuh persenjataan yang hendak menyerang galaksinya. Tak ada satupun dari pasukan itu yang kembali hidup-hidup bahkan pemimpin mereka mati di tangan Adam. Namun saat itu juga dia kehilangan keluarganya karena telat mengetahui penyerangan tersebut.


Karena pengalaman seperti itu, dia lebih memilih turun tangan dan menemui Sang Kaisar dan jika bisa, dia ingin belajar dari Kaisar Paijo bagaimana bisa menjadi makhluk surga.


......................


Sementara itu di Planet Orion, pasukan aliansi yang dibentuk oleh penduduk pribumi telah diberangkatkan. Saat ini mereka hampir memasuki daerah Gunung Tanpa Nama. Alat radar sihir telah diaktifkan. Dan sesuai dengan yang dibicarakan, ras Golem berjalan di depan sebagai antisipasi jika ada musuh. Dan Ras dwarf berada di tengah. Ras Raksasa berada di belakang. Ras Manusia berada di sebelah kanan dan kiri. Serta ras peri terbang di atas mereka.


"Saudara Peri, bagaimana keadaan dari atas sana." Seorang Elf berteriak memanggil Peri yang terbang lumayan tinggi di atas mereka.


Salah seorang Peri terbang merendah. Pering yang cukup tampan.


"Saat ini kita masih bisa lanjut. Sesuai dengan radar yang dibawa tidak ada apa-apa di sana selain hutan besar. Dan sepertinya gunung ini aman tidak ada hewan buas sama sekali." Setelah selesai berbicara Peri tampan itu segera terbang ke atas. Para pasukan itu pun melanjutkan perjalanan mereka.


Setelah sekitar satu jam berjalan, mereka tiba di kaki gunung Tanpa Nama. Sebenarnya ini lebih mirip seperti bukit. Namun karena hutannya yang lebat dan jalannya yang curam bukit ini lebih mirip gunung. Para warga pun menamai gunung Tanpa Nama terhadap bukit ini.


"Saudara Elf, kalian bisa melompat dari pohon ke pohon. Dan saudara Golem kalian bisa berpindah dengan saudara Raksasa. Saudara Peri tetap terbang di atas namun sedikit lebih tinggi." Ras Manusia yang segera memberi arahan posisi mengambil komando memimpin pasukan.


"Tunggu dulu" Seorang Dwarf yang di tengah mengehentikan langkah mereka. Dwarf tersebut mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


"Pakai ini agar kita tidak kehilangan komunikasi." Dwarf itu mengeluarkan alat komunikasi mikro sejumlah orang yang ada.


"Beberapa hari yang lalu, tetua ras Manusia datang kepada kami dan beliau meminta dibuatkan alat komunikasi agar kita tidak susah dalam masalah komunikasi. Tetua itu datang bersama dengan cetak birunya. Jadi kami tinggal membuatnya." Salah seorang Dwarf berbicara menjawab kebingungan Ras yang lain.


"Saudara Dwarf, kalian memberi nama apa alat kalian ini?" Seorang Ras Raksasa mendekat dan bertanya.


"Kami menamai Voice Micro Techno Camera. Karena di alat ini juga kami menanam Kamera micro yang dapat diakses oleh para tetua dari markas. Jadi apapun yang terjadi akan terekam secara live ke markas." Jawab Dwarf tersebut dan langsung mengenakannya di telinga. Hal yang serupa juga dilakukan oleh Ras lain termasuk ras Peri.


"Test, test. Rapor, D Dwarf laporan aman." Dwarf yang lebih tinggi dari Dwarf lainnya segera malapor. Para pemimpin ras lainnya juga segera melapor. Selesai laporan satu suara terdengar di telinga mereka.


["Laporan diterima, lanjutkan perjalan."]


Aliansi itu pun segera melanjutkan perjalanan mereka. Mereka beristirahat ketika malam menjelang. Saat ini baru sepertiga dari gunung itu yang mereka tempuh. Perjalanan masih panjang.


Ras Manusia segera mengeluarkan tenda-tenda. Dengan bantuan teknologi Planet Orion, tenda yang berbentuk tas gendong itu segera dilemparkan dan berubah menjadi tenda besar. Lebih cocok disebut sebuah rumah.


Di malam yang tenang dan indah itu tiba-tiba muncul lubang portal yang cukup besar. Para pasukan aliansi segera berhamburan keluar melihat apa yang terjadi. Para aliansi dapat melihat sebuah kapal warna putih keluar dari portal besar itu. Namun mereka tidak dapat melihat orang yang ada dalam kapal itu karena jaraknya yang jauh. Aliansi itu belum pernah melihat portal seperti itu. Namun mereka segera masuk tenda ras masing-masing dan melanjutkan istirahat mereka.


Malam itu berlalu dengan cepat. Pagi menjelang dan mereka melanjutkan perjalan setelah sarapan. Menjelang siang, mereka telah sampai di pertengahan bukit. Semakin tinggi tekanan udara juga semakin kuat. Countur jalan semakin terjal. Semakin tinggi hutan semakin lebat dan gelap. Cahaya matahari semakin sedikit memasuki hutan.


Mereka berhenti sejenak melepas lelah serta makan siang. Selesai makan radar sihir yang dibawa ras Dwarf berbunyi kencang. Di layar radar terdapat beberapa titi warna biru mendekati mereka secara perlahan. Luas radar itu sekitar 1 km. Dengan kecepatan seperti itu, titik biru akan mendekati Pasukan aliansi sekitar 20-an menit.


"Kita masih bisa beres-beres menyambut tamu-tamu itu" Komandan aliansi dari ras manusia berkata santai. Ras Dwarf segera mempersiapkan alat-alat yang mereka bawa. Para Elf segera diarahkan menunggu di pohon-pohon dan menghilangkan hawa keberadaan mereka. Para Peri diarahkan terbang di atas dan sembunyi di balik dedaunan pohon yang rimbun. Raksasa, Golem, Manusia dan Dwarf yang akan menyambut tamu itu. Ras Golem berada paling depan. Ras Raksasa dari belakang. Ras Manusia dari arah kiri kanan dan Dwarf di tengah.


20 menit berlalu. Dari arah gunung terlihat 5 makhluk berkepala Gorila berbadan manusia dan berkaki kuda. Tekanan udara yang dikeluarkan sangat mengerikan. Pasukan aliansi menelan ludah kasar


Glup...


'Bagaimana mungkin tekanan yang dikeluarkan begitu mengerikan'


'Sejak kapan ada makhluk mengerikan seperti ini di gunung ini?'


'Apakah ini penyebab kematian para pendatang itu'


'Jika seperti ini tamatlah riwayat kita'


Para pasukan aliansi bergumam masing-masing. Mereka berbicara sepelan mungkin agar tidak diketahui oleh 5 makhluk mengerikan di depan mereka ini. 5 makhluk itu terus berjalan mendekat. Para pasukan aliansi segera bersiap-siap memegang senjata mereka masing.


"Hei penduduk pribumi" Satu suara serak, berat dan bergema keluar dari sesossok makhluk yang paling besar diantara 5 makhluk membuat para pasukan bergidik ngeri. Seolah-olah ada hembusan angin kencang dan menghantam pasukan hingga membuat rambut dan pakaian mereka berkibar-kibar dihembus udara. Belum keterkejutan mereka, suara itu keluar lagi.


"Kalian ditunggu oleh Tuan untuk segera menghadap beliau. Ada yang akan dibicarakan dengan kalian."


Ucapan makhluk itu membuat mereka tersentak. Ragu dan takut menyelimuti mereka.


"Kalian tidak usah takut. Kami tidak akan membunuh kalian. Malah akan berbicara demi keselamatan kalian dan seluruh penduduk planet ini." Suara yang lebih kecil keluar dari salah satu makhluk yang mempunyai dada yang menonjol. Sepertinya dia perempuan. Suara itu cukup menenangkan hati pasukan aliansi menjadi sedikit tenang.


"Tu, tuan..... Boleh kah beri kami waktu sebentar saja. Ada yang harus kami lakukan." Komandan pasukan dari Ras Manusia maju dan membungkuk di hadapan makhluk aneh itu.


"Maaf tidak bisa. Tuan mengatakan jika kalian tidak mau, maka lebih baik bunuh saja." Ucap makhluk perempuan itu dingin namun tersenyum menambah kengerian yang dirasakan. Sang Komandan melirik teman-temanya. Suara teman-temanya yang setuju terdengar di kuping Sang Komandan. Dia pun mengangguk.


"Ba.....Baiklah tu...tuan... Kami akan mengikuti tuan." Ucap Komandan mengikuti 5 makhluk itu bersama seluruh anggotanya. Pari dan Elf juga ikut berjalan bersama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kan aku dah kata, kalo lapang bisa upload sehari 2 ch.☺️☺️


Tapi sayangnya mulai besok ndak bisa gini lagi, karena besok rutinitas mulai padat seperti biasa.