
Lembah Dawai yang selama ini menjadi salah satu tempat paling menakutkan di dunia bahkan oleh Kultivator ranah Saint-Expert, telah terjadi kegemparan. Dua hari ini terjadi pembicaraan panas mengenai kekalahan Lembah Dawai. Bukti kekalahan Lembah Dawai terlihat jelas dari bekas pertarungan yang menewaskan ratusan Vampir Darah dengan tertebangnya pohon-pohon seluas satu kilo meter. Bahkan masih tersisa sedikit sisa energi yang dapat dirasakan oleh kultivator tingkat tinggi.
Pada siang hari banyak kultivator yang datang melihat langsung bekas pertarungan itu. Lembah Dawai menjadi misteri menakutkan hanya pada malam hari. Sedangkan pada siang hari Lembah Dawai menjadi tempat teraman untuk dilewati.
Konon katanya, dulu sekali pernah ada seorang dari penghuni Lembah Dawai menculik seorang gadis cantik untuk dibuat tumbal kekuatan. Memang dulunya para penghuni Lembah Dawai sering menggunkan korban untuk meningkatkan kekuatan mereka. Sudah tak terhitung banyaknya gadis perawan yang menjadi korban mereka. Namun saat itu mereka menangkap orang yang salah. Mereka menangkap seorang gadis yang ternyata murid langsung dari kultivator terkuat di ranah Half-God. Begitu mengetahui muridnya di culik orang dari Lembah Dawai, Kultivator ranah Half-God tersebut menyegel tempat itu dan orang-orangnya serta mengutuk mereka selalu berada dalam kegelapan tiada akhir dan tidak akan pernah lepas dari kutukan itu. Semua makhluk di Lembah Dawai termasuk hewan-hewannya tidak luput dari kutukan itu. Bahkan para penghuni Lembah Dawai yang berada di luar, ikut terkena kutukan mengerikan itu. Bahkan Kastil besar yang selalu dibangga-banggakan oleh mereka juga terkena kutukan. Mereka tidak bisa keluar dari Lembah Dawai dan hanya bisa mengganggu orang-orang pada malam hari. Jika mereka melanggar kutukan itu, mereka akan terbakar selama-lamanya oleh api abadi dan tidak bisa mati sekalipun mereka ingin mati. Setelah memasang kutukan dan segel itu, Kultivator tersebut yang pernah mengguncang dunia karena menembus ranah Half-God di masanya hingga kini tidak ada yang bisa melakukannya, menghilang entah kemana dan tidak ada yang tahu kemana orang itu pergi.
Kini para penghuni asli dari Lembah Dawai hanya bisa menyesali perbuatan mereka. Namun Kultivator itu memberi sedikit harapan pada mereka, sesiapa saja yang mampu membuka segel dan kutukan itu maka mereka akan lepas darinya. Namun itu mustahil karena yang bisa membuka segel itu hanyalah kultivator ranah Demi God yang bahkan dia sendiri yang berada di ranah Half-God tidak mampu melepas segelnya. Kutukan itu adalah kutukan paling mengerikan yang pernah ada di dunia hingga kini. Dan satu-satunya kutukan yang bahkan si pembuat kutukan itu tidak bisa melepasnya.
Para penghuni asli Lembah Dawai sampai sekarang masih berharap ada seseorang yang mampu melepas kutukan mereka walaupun mustahil. Karena harapan itulah hingga sekarang mereka masih mampu bertahan sebab mereka yang telah berada di Lembah Dawai tidak mengalami kematian kecuali telah terbakar oleh api abadi selama setahun. Memikirkan betapa menyakitkannya tersiksa dalam api selama setahun tidak mati, mereka lebih memilih tidak menyia-nyiakan nyawa mereka walaupun harus hidup dengan harapan yang mungkin tidak akan pernah mereka dapatkan walaupun seribu tahun mereka mendambakan.
Rasa sakit, sedih, jauh dari manusia dan kadang sering pupus harapan harus mereka alami adalah sebab kesalah yang mereka lakukan telah begitu besar dan menakutkan. Mereka hanya bisa mengganggu manusia pada malam hari yang lewat Lembah mereka untuk melepaskan kekesalan mereka. Namun tidak ada satupun yang tahu bahwa setelah mereka mengganggu atau membunuh manusia, kutukan akan aktif menyegel mereka. Semakin besar mereka mengganggu manusia semakin besar pula segel kutukan yang mereka terima. Namun pada malam hari kemarin mereka tidak mengalami segel kutukan itu. Bahkan mereka berharap lebih baik dirinyalah yang mati pada malam hari itu.
Walaupun selama ini mereka mengganggu manusia agar ada manusia kuat yang melawan mereka serta membantai mereka, tapi selama ini hanya ada beberapa saja yang berhasil mereka temukan. Terlebih lagi kemarin malam jumlah penghuni asli Lembah Dawai yang mati lebih banyak dari sebelumnya, mereka sangat berterima kasih dan bersyukur masih ada manusia kuat yang membantu mereka terlepas dari kutukan walaupun kematian sebagai bayaran, itu lebih baik dari pada selama-lamanya hidup dalam kegelapan. Sedangkan mereka yang kabur dari pertempuran lebih memilih nyawa mereka dan percaya pada harapan mustahil.
Sementara itu para kafilah dagang yang pergi bersama tetua Lan dan tetua Yan telah sampai di Kerajaan Air lebih cepat dari biasanya. Selama perjalanan itu, Hanzho baru mengetahui misi kedua orang ini adalah untuk mencari nona ketua muda mereka.
"Nona Yan dan nona Lan saya akan berusaha membantu anda berdua mencari orang yang anda sebutkan. Walaupun dunia ini sangat luas namun kafilah dagang kami berada di seluruh dunia memungkinkan kami mempermudah orang yang anda cari." Ucap Hanzho. Dia masih belum tahu kalo kedua orang perempuan bercadar di depannya ini adalah tetua sekte terbesar di Heaven Land. Dia selama ini hanya sering mendengarkan pembicaraan dari pada bertanya asal usul mereka berdua.
"Kakak berdua terima kasih telah mengawal perjalanan kami sampai sini dengan aman." Ucap Della gadis muda yang dikawal oleh para kafilah dagang.
"Ya sama-sama dek Della." Balas tetua Yan dan tetua Lan. Mereka masih belum mengetahui identitas asli dari gadis muda di depan mereka.
"Ngomong-ngomong kenapa kalian membawa gadis sebelia ini untuk berdagang. Bukankah sangat rawan dengan keselamatannya?" Tanya tetua Lan penasaran.
Hanzho tediam sejenak. Dia lalu melihat ke Della yang duduk di sampingnya. Della melihat kesekeliling baru kemudian mengangguk memahami maksud tatapan Hanzho.
"Sebenarnya kami bukan kafilah dagang biasa." Ucap Hanzho. "Terutama saya adalah seorang Jenderal di Gold Imperium. Dan nona adalah tuan putri pewaris tahta Kekaisaran. Beberapa minggu yang lalu, Gold Emperor mendengar rencana pemberontakan yang didalangi oleh adik kandungnya sendiri karena tidak puas terhadap jabatan yang didapatnya dan tidak puasnya karena pewaris tahta selanjutnya adalah tuan putri yang seharusnya menjadi Kaisar adalah seorang Putra. Kaisar juga menolak untuk menikah atau memiliki selir lain selain ratu yang saat ini menjadi Istri Kaisar. Kaisar juga menolak pengangkatan anak karena baginya anak putri satu-satunya sudah cukup baginya membahagiakannya.
Adik Kaisar adalah orang salah satu orang hebat dalam negosiasi dan merupakan seorang yang ulung dalam taktik. Dia telah berhasil merayu separuh menteri dan berpihak kepadanya walaupun secara tersembunyi namun semua orang sudah tahu. Dia juga telah berhasil menarik satu pasukan besar yang berada di bawah salah satu sepuluh Jenderal terhebat Kekaisaran Emas. Adik Kaisar masih belum puas atas hasil yang telah dicapainya karena masih sangat banyak orang yang setia pada Kaisar Emas terutama Para Jenderal Besar. Walaupun adik Kaisar telah merebut salah satu Jenderal besar, masih ada sembilan Jenderal besar lainnya yang loyal kepada Kaisar. Bahkan Adik Kaisar juga telah menghasut para masyarakat agar memberontak secara besar-besaran namun sayanganya mereka lebih setia dan lebih percaya pada Kaisar Emas yang telah menampakan hasil kerjanya dan membuat rakyat sangat puas terhadap kepemimpinan Kaisar.
Berbagai macam cara telah dilakukan adik Kaisar untuk melemahkan posisi Kaisar, salah satunya adalah dengan percobaan pembunuhan terhadap Putri Della. Walaupun pembunuhan itu gagal total dan didalangi oleh adik Kaisar, tapi Kaisar sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena kurangnya bukti percobaan pembunuhan yang mengarah kepada adik Kaisar. Kaisar hanya bisa menyuruh Putri Della meninggalkan Kekaisaran secara diam-diam bersama beberapa para prajurit kepercayaan beliau dan saya disuruh untuk mengawal beliau. Beliau juga menyuruh kami bergabung dengan kafilah dagang agar identitas kami tidak ketahuan. Saat ini kami menuju Kekaisaran Gama karena Kaisar mengatakan di Kekaisaran itu ada seorang sahabat yang akan menjaga kami selama masa pemberontakan Adik Kaisar belum berhasil ditumpas.
Jadi saat kami bertemu dengan nona berdua kami telah berhasil kabur dan berhasil bergabung bersama para kafilah dagang ini." Ucap Hanzho panjang lebar.
Kedua tetua itu mengangguk paham. Dia juga baru mengerti kenapa ada beberapa orang kuat berada di dalam Kafilah. Terutama Hanzho yang sebentar lagi akan menembus ranah Sait-Expert. Bakat yang seperti ini juga termasuk hebat di Benua Heaven Land.
"Sepertinya saudara Hanzho adalah orang pertama dari sepuluh Jenderal besar Kekaisaran Emas, benar kan?" Tanya tetua Lan.
Hanzho terdiam sebentar. "Jika dibandingkan dengan nona berdua saya merasa malu mendapat gelar itu" Jawab Hanzho kemudian.
Minggir semua, Pasukan Kekaisaran Balam akan lewat.
Sebuah teriakan dari luar mengalihkan pembicaraan Hanzho dan kedua orang wanita bercadar di depannya. Della yang mendengar itu menutup wajah dan kepalanya dengan selendang. Hanzho menutup kepalanya dan menyembunyikan token Jenderalnya. Tetua Lan dan tetua Yan menyembunyikan hawa keberadaan mereka yang terlalu besar. Mereka berdua juga dapat merasakan satu hawa keberadaan yang kuat diantara pasukan yang masuk restoran tempat mereka saat ini berbincang-bincang.
Pasukan berjumlah sekitar tiga puluh orang itu memasuki restoran dengan sombong. Mereka langsung naik ke lantai lima dari restoran yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang berasal dari keluarga atau pasukan Kekaisaran.
Diantara para pasukan itu terdapat seorang pemuda mengenakan zirah dan membawa token identitas Jenderal. Sedangkan di depan pemuda itu terdapat seorang tua memegang tongkat yang berjalan santai. Pemuda itu sangat menghormati pria tua di depannya. Tepatnya bukan menghormati tapi lebih ke arah menjilat.
Pria tua itu berhenti di lantai empat dan menoleh ke arah kelompok Hanzho berdiri. Hanzho yang tahu dirinya ditatap orang tua bertongkat itu menjadi panas dingin. Della yang merasakan sesak nafas dan tertekan kuat saat ditatap orang tua itu langsung merasa lega saat tangan tetua Lan menyentuh pundak Della. Sedangkan tetua Yan hanya diam saja.
Orang tua itu naik ke lantai lima setelab beberapa saat bersitatap dengan kelompok Hanzho. Semua orang di lantai empat merasa lega ketika orang tua itu pergi dan tidak melakukan apa-apa. Namun semua orang berbisik-bisik mengenai tadi sambil melihat kelompok Hanzho.
"Gila orang tua itu hampir saja aku mati kehabisan nafas." Ucap seseorang.
"Shuutt.. Pelankan suaramu. Jika orang tua itu dengar kepalamu bisa melayang." Temannya yang lain menimpali.
"Benar. Kenapa pula dengan orang-orang itu sampai bisa berurusan dengan orang tua sekuat dia." Yang lain ikut berbicara.
"Untung saja orang tua itu langsung pergi. Kekuatannya benar-benar mengerikan. Kurasa dia seorang Saint-Expert bintang lima ke atas." Yang lain ikut berbicara.
"Gila... Kenapa orang sekuat dia bisa berada di Kekaisaran kecil ini ya." Ucap yang lain.
Kelompok Hanzho hanya diam saja mendengar ucapan yang seperti berbisik itu. Mereka melanjutkan makan yang sempat tertunda. Namun berbeda dengan tetua Lan.
"Dasar tua bangka bau tanah. Berani sekali meremehkan kami dan mengganggu orang-orang ku. Sekali lagi bertemu, kepalamu akan melayang." Batin geram tetua Lan. Beberapa minggu perjalanan bersama kelompok Hanzho, mereka sudah akrab dan sudah seperti kelompok sendiri. Saling berbagi dan saling membantu. Jadi ketika teman seperjalanannya ada yang ditindas, dia merasa bertanggung jawab melindungi mereka.
"Terima Kasih nona Yan sudah membantu saya tadi." Ucap Della gadis belia itu kepada tetua Yan.
"Sama-sama nona kecil. Sudah seharusnya seperti itu." Jawab tetua Yan tersenyum di balim cadarnya.
Selesai makan, Hanzho mengeluarkan peta dunia dari cincin ruanganya dan menggelarkannya di atas meja makan yang telah dibersihkan. Kemudian mereka berdiskusi mencari rute ke Imperium Gama sambil mencari keberadaan nona dari tetua Lan dan tetua Yan.
"Jika lewat jalur ini bukankah akan lebih lama menuju Kekaisaran Gama?" Tanya tetua Lan saat Hanzho menentukan rute perjalanan mereka.
"Memang begitu. Tapi rute-rute ini terdapat tempat-tempat yang dikunjungi orang dari berbagai Kekaisaran di dunia. Mungkin dengan melewati jalur-jalur ini kita bisa menemukan orang yang nona Yan dan nona Lan cari." Jawab Hanzho santai sambil menandai jalur-jalur di peta.
Tetua Lan dan tetua Yan terdiam. Mereka berdua tersentuh dengan pemikiran Hanzho. Mereka tak menyangka laki-laki lugu di depan mereka ini begitu perhatian.
"Baikalah terima kasih saudara Hanzho." Ucap tetua Lan dan Yan bersamaan.
"Tidak perlu berterima kasih nona. Sudah kewajiban kami membantu." Ucap Hanzho. Della pun tersenyum senang kepada Jenderal pelindungnya ini.
"Baiklah sebaiknya kita berangkat sekarang. Dari pada berurusan dengan orang tua tadi." Ucap Della berdiri dan membetulkan letak pakaiannya diikuti Hanzho dan yang lainnya.
Mereka semua turun ke bawah lalu keluar dari restoran melanjutkan perjalanan setelah rehat sebentar.
......................
Makan malam pun selesai. Hawa ditemani Maria membereskan mangkuk-mangkuk dan piring lalu membawanya kembali ke dapur.
"Memang sesuai aromanyan, rasanya jauh lebih lezat dari restoran kecil tadi siang." Ucap Denas memuji masakan Maria.
"Kenapa tidak membuka restoran aja tuan Adam?" Tanya Tang Xiao begitu selesai makan.
Adam terdiam sejenak. "Sebenarnya kami berdua di masa muda adalah kepala Koki di Kerajaan Kushan dari benua Land Of Soul. Tapi karena beberapa keadaan yang tak menguntungkan kami terpaksa diusir dari Kerajaan dan tidak mendapat apa-apa setelag empat puluh tahun bekerja di situ. Kami hanya berhasil membawa kedua orang tua Maria dan hidup di sini." Jawab singkat Adam. Matanya memancarkan perasaan terhianati.
Andri, Tang Xiao dan Denas terdiam mendengar cerita Adam. Mereka tak menyangka laki-laki tua di depan mereka ini memiliki cerita hidup yang tak kalah menyedihkannya dengan mereka.
"Tenang saja tuan Adam. Kami bertiga akan memperhitungkan apa yang telah mereka perbuat pada tuan sekeluarga." Ucap Denas. Diantara mereka bertiga Denaslah yang paling terbawa perasaan (Baper).
"Sudahlah anak muda. Membalaskan dendam yang tak perlu tidak akan mengembalikan umur kami sebanyak yang telah kami habiskan. Hanya akan menambah perpecahan dan kehancuran sesama manusia jika dendam terus dilanjutkan." Ucap Adam melambaikan tangannya. Dia sudah sangat nyaman dengan kehidupannya yang sekarang meski serba kurang. Setidaknya mereka masih memiliki Maria yang menjadi tanggung jawabnya. Terlebih lagi saat ini dirinya telah menjadi lebih muda dan lebih bertenaga dari sebelumnya bahkan saat di umur yang sama dengan wajahnya saat ini.
Pranggg..
Aaa apa itu
Teriakan Maria dari dapur mengagetkan Adam ketiga lawan bicaranya. Mereka menghampiri maria yang terduduk di lantai sedang dibantu Hawa berdiri dan membersihkan pecahan mangkuk yang berserakan di lantai.
"Ada apa Maria kenapa teriak?" Tanya Adam menghampiri. Maria menunjuk ke depan di luar pintu dapur yang menghadap langsung ke luar malam yang gelap.
Tang Xiao segera menutup pintu dapur. Andri membantu Adam berdiri dan Denas membantu Hawa berdiri. Mereka menuntun dua orang itu ke kamar dan mendudukan di ranjang. Tang Xiao mengambil dua gelas air putih dan menyerahkannya pada Andri dan Denas untuk diminumkan pada Adam dan Hawa. Sedangkan Tang Xiao mengambil segelas lagi dan menyerahkannya ke Maria.
"Tuan Adam sekeluarga tidak usah takut. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selama kami bertiga di sini. Sekelompok orang itu adalah orang-orang dari organisasi Bandit Gunung yang anggotanya kami provokasi di restoran tadi siang. Mereka ke sini untuk balas dendam namun sepertinya mereka menemukan lawan yang salah." Ucap Andri sambil melirik Tang Xiao yang sedang menenangkan Maria.
"Benar yang dikatakan Kakak pertama. Tenang saja tuan. Sebaiknya istirahat dulu saja. Kalian berdua telah mengalami dua hal besar yang belum pernah kalian alami. Jadi sebaiknya segera istirahat. Dan orang yang ada di luar sana biar menjadi tanggung jawab kami. Kami jamin semua akan selamat." Ucap Denas sambil membaringkan Hawa diikuti oleh Adam. Kedua orang itu menuruti sugesti Denas yang sepertinya mereka berdua terasa sangat mengantuk dan tidak sempat membalas ucapan Denas langsung tertidur pulas.
Maria yang juga ikut tertidur karena sugesti dari Denas, digendong Tang Xiao ke kamar kecil di sebelah lalu membaringkan tubuhnya perlahan di ranjang kecil. Namun sebelum Tang Xiao membaringkan tubuhnya, Tang Xiao terlebih dahulu mengganti ranjang kecil tak layak pakai itu dengan ranjang kecil yang cantik dan indah yang sesuai dengan karakter Maria untuk anak kecil seusiannya. Barulah kemudian Tang Xiao membaringkan Maria di atas ranjang yang telah diganti. Tang Xiao mengusap kepala kecil Maria dengan lembut takut membangukan Maria.
"Semoga gadis kecil ini ke depannya bisa hidup bahagia bersama orang-orang yang dicintainya." Gumam Tang Xiao sambil memasang selimut ke dada maria hingga menutupi seluruh badanya dan hanya menyisakan kepalanya saja.
"Sepertinya kakak kedua sangat perhatian ya." Ucap Denas yang bersandar di pintu kamar Maria sambil memain-mainkan kipasnya.
"Ah adik ketiga mengagetkanku saja. Sejak kaoan berdiri disitu?" Tanya Tang Xiao karena dia memang tidak merasakan kehadiran adik ketiganya itu.
"Ya sejak kakak kedua membawa Maria. Sepertinya kakak kedua orang yang terlalu perhatian sampai-sampai tidak peduli lagi padaku." Jawab Denas memasang muka kesal.
"Pfftt.. Haduh adik ketiga bisa cemberut karena anak kecil ini. Bagaiaman kalo Kakak pertama tahu bisa diledekin habis-habisan." Balas Tang Xiao. Denas hanya memasang muka cemberut.
"Sudahlah tidak usah cemberut." Ucap Tang Xiao keluar dan menutup pintu diikuti Denas menuju meja tempat mereka makan tadi. Di sana sudah ada Andri menunggu.
"Dari pada begitu mending kakak pertama dan Adik ketiga istirahat dulu." Ucap Tang Xiao lalu melambaikan tangannya.
Swooshh..
Swooshh..
Muncullah dua buah ranjang mewah yang elegan lengkap dengan selimut tebalnya. Denas dan Andri sudah terbiasa dengan hal-hal yang dilakukan saudara tengah mereka ini. Denas segera melompat ke ranjang itu dan melompat-lompat kegirangan.
"Ahh... Sudah lama tidak tidur di kasur seempuk ini." Ucap Denas senang.
"Ah... Benar juga. Bahkan aku sudah lupa rasanya. Setahun lebih tidak tidur di ranjang seperti ini." Ucap Andri yang juga berjalan menuju ranjangnya. Dia melepaskan jubah hitam dan meletakan pedangnya di atas kasur. Melihat ranjang empuk begini, Andri dan Denas mulai merasa mengantuk. Namun Denas teringat sesuatu.
"Bagaimana dengan orang-orang diluar, apa dibiarkan saja?" Tanya Denas.
"Tidaklah. Aku ingin bermain dengan mereka sesaat dan menanyakan sesuatu yang penting." Ucap Tang Xiao.
"Ah sudahlah. Karena sudah ada adik medua yang mengurus mereka aku jadi tenang." Ucap Andri.
"Tapi kak aku tidak terbiasa tidur di tempat terbuka seperti ini. Harus ada ruangan khusus untukku. Kalo tidak aku tidak bisa tidur." Ucap Denas memelas.
Swossh..
Tang Xiao melambaikan tangannya dan muncullah dua tenda keci yang telah berdiri tegak.
"Masukalah dalam tenda itu. Walaupun tenda itu terlihag kecil dari luar tapu di dalamnya muat untuk seratus orang. Tenda ini dinamakan Tenda Ruang." Ucap Tang Xiao menyadarkan lamunan Denas dan Andri yang berpikiran macam-macam dengan dua tenda kecil di depan mereka.
Denas Andri yang penasaran mencoba masuk tenda dan mereka dibuat terkejut dengan luasnya ruangan tenda di dalam.
"Gila.. Ini sih lebih luas dari rumah ini." Gumam Andri dari dalam tenda.
"Dan sudah ada kamar mandinya sekalian. Tenda apaan ini?" Teriak Denas kegirangan dari dalam tendanya. Untung saja teriakan itu tidak keras.
"Kalo sudah nyaman sebaiknya segera istirahat. Aku akan menyusul istirahat setelah selesai dengan mereka." Ucap Tang Xiao sambil melangkah ke depan pintu utama.
"Tunggu adik kedua." Cegah Andri. Tang berhenti dan menoleh.
"Jangan bunuh mereka. Kita perlu untuk membawa mereka ke pengadilan." Ucap Andri sambil memasukan ranjangnya ke cincin ruang miliknya. Begitu juga dengan Denas setelah memasukan ranjangnya lalu segera memasuki tendanya dan menguncinya dari dalam.
"Iya kak tenang saja. Sudahlah kakak istiraha aja dulu kayaknya sudah ngantuk tu." Ucap Tang Xiao sambil menunjuk kedua mata Andri yang telah memerah.
"Ppfftt... Haha iya Kakak segera istirahat. Tapi sebelumnya terima kasih atas semua hari ini." Ucap Andri. Tang Xiao menghampiri Andri dan memukul pelan kedua pundak kakak pertamanya itu.
"Kita ini sudah bersaudara. Tidak seharusnya kakak mengucapkan hal-hal seperti itu. Aku tidak ingin mendengar ucapan terima kasih lagi dari saudaraku. Aku tidak ingin ada rasa sungkan diantara persaudaraan kita." Ucap Tang Xiao meyakinkan Andri.
"Ah... Baiklah adik kedua aku mengerti. Aku mengerti." Ucap Andri sambil mengusap tetesan air hangat yang mengambang di pelupuk matanya. Dia lalu berjalan ke tendanya dan menguncinya dari dalam. Di dalam tenda, Andri menangis haru tanpa suara.
Tang Xiao berjalan ke pintu utama dan keluar setelah menutup daun pintu. Dia berjalan menuju kelompok Bandit Gunung yang masih melayang-layang dan kehabisan tenaga. Dia mengeluarkan hawa membunuh yang membuat mereka semua menggigil ketakutan.
Swwoosshh...
Tang Xiao membuat dimensi kecil untuk mengunci agar tidak ada orang yang dapat melihat atau mendengar pembicaraan mereka.
Ctak...
Tang Xiao menjentikan jarinya.
Gdebuk..
Gdebuk..
Gdebuk..
Kiikkkk
Kiikkkk
Suara jatuh dan suara ringkikan kuda terdengar bersamaan.
Ctak...
Sekali lagi Tang Xiao menjentikan jarinya. Seluruh kuda yang ada menghilang dari situ dan meninggalkan para penunggangnya yang ketakutan juga terasa lemas.
"Ammpuunn tuan.. Tolong jangan bunuh kami... Ampunnn tuan..." Sekelompok Bandit gunung itu segera bersujud dan memohon-mohon pada Tang Xiao ketakutan. Mereka telah melihat kehebatan anak muda di depannya ini.
"Gagak kecil keluarlah." Ucap Tang Xiao.
Wuusshh..
Khhaaakkk...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kemarin gak update.
Mungkin hari ini dua kali up nya....
Ditunggu aja...